Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (JST dan Cycling Track)

Published

on

Penulis terbang ke Jakarta lagi pada tanggal 10 Mei 2018 untuk mengikuti Job Specification Training (JST). Bagi yang penasaran bagaimana penulis bisa mengingat tanggal-tanggal penting tersebut, akan penulis bahas pada lain tulisan.

Sebelum berangkat, telah diberitahukan bahwa penulis masuk ke deputi Kesekjenan departemen Media & Public Relations (M & PR). Departemen tersebut sesuai keinginan penulis, bahkan penulis hanya memilih itu ketika melakukan pendaftaran karena tidak tahu pelamar bisa memilih lebih dari satu.

JST Dua Hari

Departemen M & PR akan mengadakan JST selama dua hari di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta Pusat. Beruntung, hotel tersebut dekat dengan tempat tante penulis di daerah Grogol.

Seperti judulnya, JST menjelaskan berbagai tugas kami nantinya ketika sudah ditempatkan di venue. Penulis tidak terlalu ingat secara detail isi pelatihannya, yang jelas kami diharuskan membantu dan memfasilitasi kebutuhan wartawan dari seluruh penjuru dunia.

Pada hari kedua JST, terdapat pembagian venue di mana kami akan ditempatkan. MC dari JST memberitahukan bahwa nanti kami akan di WA oleh koordinator. Penulis sempat khawatir karena tidak segera mendapatkan WA, untunglah ternyata koordinator penulis hanya salah mencatat nomer.

Berdiri (Dari kiri: Penulis, Sasa, Kiki, Nurul) Tengah (Dari kiri: Defina, Encik, Dyta) Bawah (Dari kiri: Chitra, Alia)

Penulis kebagian cabang olahraga Cycling Track yang diadakan di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur.  Selesai berbincang-bincang dengan teman-teman satu divisi, kami berkunjung ke venue equestrian yang dekat dengan velodrome. Sayangnya, ternyata kami tidak berkunjung ke venue kami sendiri.

Penulis tidak lama di Jakarta. Tanggal 16 Juli 2018 penulis memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sampai pelaksanaan Asian Games. Toh dijadwal, cycling track dilaksanakan akhir bulan walaupun kami diwajibkan untuk membantu venue lain ketika jadwal kami kosong hingga memenuhi target 18 hari kerja.

Oh iya, kami mendapatkan uang transport dari JST sebesar Rp. 560.000. Kami diwajibkan untuk membuat rekening BRI, di mana penulis sempat keliru membuat Britama yang biasa (seharusnya Britama Muda) sehingga penulis kehilangan Rp. 50.000 untuk penutupan rekening.

Pindah ke Patriot

Pada tanggal 29 Juli 2018, ada infomasi dari koordinator Cycling Track bernama Dyta bahwa akan ada revisi pembagian kelompok sehingga kemungkinan kami akan dipisah. Hal ini terjadi karena ada beberapa penyesuaian, termasuk merger antara volunteer Cycling Track dengan BMX.

Kepastian tersebut kami dapatkan keesokan harinya, di mana kami dipecah ke tiga venue yang berbeda. Dyta dan Devina tetap di Rawamangun, walaupun Devina pada akhirnya mengundurkan diri karena mendapat panggilan kerja. Sasa, Encik, Kiky dan Nurul dipindah ke badminton. Sedangkan penulis, Ayu, Chitra, dan Alia dipindah ke cabor sepakbola di Stadion Patriot, Bekasi.

Iya, sepakbola, sepakbola pria. Apalagi Indonesia main di sana, bisa dipastikan stadion tersebut, termasuk Media Centernya, pasti ramai. Volunteer yang ditempatkan di sana pun lebih banyak, sekitar 18 orang.

Siapa yang menyangka, perpindahan ini menjadi sebuah cerita yang panjang dan menarik.

 

 

Jelambar, 4 September 2018, terinspirasi dari pengalaman menjadi volunteer Asian Games 2018

Pengalaman

Artikel Ini Ditulis di Atas Kereta Api Sembrani

Published

on

By

Ketika sedang menulis artikel ini, Penulis sedang dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani. Ini adalah kali pertama Penulis menaiki kereta eksekutif, bukan Ekonomi seperti biasanya. Hitung-hitung buat tambah pengalaman.

Penulis berangkat dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya, dan akan berhenti di Stasiun Jatinegara, Jakarta. Berbeda dengan kelas Ekonomi yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam, perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam saja.

Perjalanan ke Jakarta kali ini dalam rangka mengikuti acara staycation dari kantor yang akan berlangsung besok (5/1) sampai Minggu (7/1). Berhubung semua anggota tim bisa mengikuti acara ini, tentu sayang jika Penulis sampai tidak ikut.

Nah, daripada bengong atau main HP, Penulis memutuskan untuk menulis sebuah artikel. Jujur saja, waktu membuka WordPress ini, Penulis belum terpikirkan akan menulis apa. Biar saja mengalir begitu saja, sehingga Penulis minta maaf jika pembahasannya ngalor-ngidul.

Mengapa Naik Kereta Api?

Dalam perjalanan ke Jakarta pada awal tahun 2023 silam, Penulis memutuskan untuk naik pesawat terbaik, baik perjalanan pergi maupun pulangnya. Alasannya sederhana, karena Penulis hanya sebentar di Jakarta, jadi biar lebih efisien waktunya.

Nah, kalau yang edisi kali ini, bisa dibilang Penulis lebih longgar waktunya karena akan menginap di kos adik (yang dulu merupakan kos Penulis juga sewaktu masih berdomisili di Jakarta). Jadi, waktu menumpangnya bisa dibilang tidak terbatas.

Harga tiket pesawat juga masih sangat mahal karena tembus satu juta rupiah lebih. Hal ini dimaklumi, mengingat sekarang masih momen pergantian tahun. Mau naik bus, Penulis malah ada sedikit trauma karena kisah yang dulu pernah Penulis bagikan.

Selain itu, pada dasarnya Penulis memang cenderung memilih kereta jika memiliki waktu yang cukup longgar. Entah mengapa Penulis sangat menikmati perjalanan di atas kereta api meskipun memakan waktu berjam-jam.

Jika dibandingkan dengan bus, “suguhan” pemandangan yang diberikan kereta api memang terkesan monoton karena didominasi oleh area persawahan dan sesekali perkampungan. Hanya beberapa kali ada view yang menarik, seperti pantai dan PLTU Batang.

Hal agak minus lainnya dari naik kereta api adalah tidak adanya makan gratis seperti ketika kita naik bus. Jika lapar, kita harus membeli makanan yang dijual oleh pihak kereta. Sejujurnya, makanan kereta api cukup mahal dan kurang enak!

Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Naik Kereta Api?

Berhubung perjalanan menggunakan kereta api cukup memakan waktu, tentu kita harus pandai mencari aktivitas agar tidak merasa bosan. Penulis ingin berbagi sedikit tentang aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan ketika naik kereta.

Pertama, menikmati pemandangan sembari melamun. Entah mengapa rasanya melamun di pinggir jendela kereta api itu feel-nya beda. Rasanya lebih khidmat begitu. Bagi Penulis, aktivitas ini bisa memberikan efek tenang yang lumayan.

Sesekali Penulis juga mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen menarik yang ditemukan di perjalanan. Hanya saja, karena laju kereta cukup kencang, maka terkadang akan terasa sulit untuk bisa menangkap momen tersebut, apalagi jika kamera ponselnya kentang.

Kedua, baca buku. Sudah menjadi kebiasaan Penulis untuk membawa buku ke mana-mana jika sedang menggunakan transportasi umum, termasuk kereta api. Apalagi, di atas kereta api guncangannya relatif kecil sehingga tidak akan membuat pusing kepala.

Pada perjalanan kali ini, Penulis membawa dua buku, yaitu Meditations dari Marcus Aurelius dan Namaku Alam dari Leila S. Chudori. Penulis memutuskan untuk membaca Meditations dulu, tetapi hanya sanggup beberapa halaman karena sedang sulit fokus untuk membaca.

Ketiga, menulis artikel atau mencatan isi pikiran. Ini adalah aktivitas yang sedang Penulis lakukan sekarang. Menulis dengan suasana yang benar-benar baru dari rutinitas memicu otak untuk bisa mengeluarkan ide-ide segar untuk dituangkan.

Tidak hanya itu, Penulis juga pernah memanfaatkan waktu perjalanannya di atas kereta api untuk mencatat apapun yang sedang ada di pikirannya. Jika sedang overthinking atau banyak hal yang sedang dipikirkan, Penulis menuliskannya semua untuk meredakannya.

Keempat, dan yang paling tidak direkomendasikan, adalah main HP. Aktivitas ini sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, sehingga rasanya tidak perlu dilakukan untuk momen-momen yang jarang seperti ketika kita naik transportasi umum.

Penutup

Yup, ternyata artikel ini jadi semacam artikel behind the story mengapa Penulis suka naik kereta api dan rekomendasi aktivitas yang bisa dilakukan. Itu semua benar-benar tidak direncanakan, mengalir begitu saja ketika jari Penulis menari-nari di atas keyboard tabletnya.

Hal ini juga menjadi bukti bahwa terkadang yang penting mulai aja dulu, tidak perlu menunggu semuanya matang dan sempurna. Terkadang inspirasi dan ide akan datang begitu kita sudah mengambil langkah pertama.

Yang jelas, Penulis merasa senang karena bisa berbagai tentang kereta api, salah satu transportasi umum yang digemari. Semoga saja tulisan ini bisa mendorong Pembaca yang belum pernah naik kereta api untuk mau mencoba menaikinya.


Di Atas Kereta Api Sembrani, 4 Januari 2024, terinspirasi karena ingin menulis sesuatu dalam perjalanannya menuju Jakarta

Continue Reading

Pengalaman

Ini adalah Tulisan Pertama Whathefan di Tahun 2024

Published

on

By

Setelah “menghilang” selama satu bulan, akhirnya Penulis bisa menyempatkan (dan membulatkan tekad) untuk kembali menulis di blog ini. Mumpung momennya pergantian tahun, biar menjadi awal yang baru juga.

Selama beberapa waktu terakhir, Penulis cukup disibukkan dengan pekerjaan dan bootcamp Digital Marketing yang diikuti selama dua bulan. Berhubung bootcamp tersebut sudah selesai pada tanggal 30 Desember kemarin, waktu Penulis pun menjadi lebih kosong sekarang.

Selain itu, tulisan ini akan menjadi tulisan pertama di tahun 2024, dan semoga bisa menjadi awal yang baik untuk bisa menulis secara lebih konsisten lagi. Melalui tulisan ini, Penulis akan sedikit melakukan refleksi apa saja yang sudah terjadi pada tahun 2023 kemarin.

Apa yang Sudah Terjadi di Tahun 2023?

Tahun 2023 Telah Berlalu (Hard Rock FM)

Sejujurnya tidak banyak hal menarik dalam hidup Penulis yang terjadi selama 2023 kemarin. Penulis hanya menjalani rutinitas harian seperti biasanya yang berkutat pada pekerjaan dan melakukan aktivitas-aktivitas yang disukainya.

Penulis juga tidak banyak berpergian, kecuali pada bulan Februari di mana Penulis ke Jakarta untuk bertemu dengan teman-teman lama setelah lebih dari dua tahun tidak bersua. Penulis juga mengunjungi beberapa tempat yang dulu sering dikunjungi.

Saat lebaran, Penulis juga pergi ke Yogyakarta untuk pertemuan keluarga tahunan. Namun karena sempitnya waktu, tidak banyak tempat yang Penulis eksplor. Padahal, masih banyak tempat di Yogyakarta yang belum sempat Penulis kunjungi.

Ketika bulan Agustus, seperti biasa Karang Taruna di tempat Penulis menggelar acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Pada edisi kali ini, rangkaian acara berlangsung begitu meriah dan warga yang datang di acara puncak begitu banyak.

Yang spesial tidak hanya itu, karena pembubarannya pun begitu spesial. Jika biasanya “hanya” berlibur ke pantai, maka kali ini pembubarannya adalah camping! Bisa jadi, ini akan menjadi agenda rutin untuk Karang Taruna ke depannya.

Mungkin, apa yang sedikit berbeda di 2023 adalah Penulis mengikuti bootcamp Digital Marketing yang diselenggarakan oleh BelajarLagi. Untuk detailnya, mungkin akan Penulis ceritakan di tulisan terpisah.

Berlangsung selama dua bulan dengan beragam kelas, Penulis merasa sedikit kewalahan dalam mengatur jadwal. Bukan karena kelasnya yang banyak, melainkan karena tugas-tugasnya yang cukup bikin kewalahan!

Bagi Penulis yang tidak pernah belajar marketing secara khusus, tugas-tugas yang diberikan cukup banyak dan cukup menguras otak dan tenaga. Walaupun sambil mengeluh, Penulis berhasil mengejarkan semua tugas yang diberikan, termasuk Final Project.

Apa yang Diharapkan di Tahun 2024?

Tahun 2024 Telah Tiba (The Cable)

Salah satu yang cukup Penulis merasa bersalah di tahun 2023 kemarin adalah sulitnya untuk menjaga konsistensi dari rutinitas-rutinitas yang ingin dibangun. Bahkan, rutinitas yang dulu jarang bolong seperti menulis agenda harian dan mencatat keuangan sering luput.

Menulis artikel blog pun jumlahnya berbeda jauh dibandingkan dengan tahun 2022. Jika di tahun 2022 Penulis menulis 91 artikel, maka di tahun 2023 kemarin Penulis menulis 98 artikel. Jauh dari target yang ingin mencapai setidaknya 200 artikel dalam satu tahun.

Nah, dua hal inilah yang menjadi target utama Penulis agar bisa diperbaiki di tahun 2024 ini. Meskipun rasanya hampir setiap tahun gagal , Penulis tidak akan berhenti berusaha untuk menjadi selalu lebih baik lagi.

Penulis juga ingin memiliki time management yang lebih baik di tahun ini, sehingga target di atas juga bisa lebih mudah untuk dicapai. Berhubung Penulis masih work from home sampai sekarang, tentu Penulis harus bisa bekerja seefisien mungkin secara bertanggung jawab.

Sejujurnya ada sedikit perasaan takut dalam menyongsong tahun 2024 ini karena Penulis akan menginjak kepala tiga. Ada perasaan inferior karena dirinya belum bisa mencapai achivement dalam hidupnya yang bisa membanggakan diri.

Namun, hanya menuruti perasaan takut pun tidak akan membawa apa-apa. Justru, dengan kesadaran bahwa dirinya akan menginjak kepala tiga, Penulis harus bisa terdorong untuk menjadi jauh lebih baik lagi dari hari kemarin.

Jadi, jika diminta untuk membuat resolusi tahun ini, Penulis tidak ingin hal yang muluk-muluk. Penulis hanya ingin bisa menjadi lebih baik lagi dari segala sisi. Perjalanan hidup selama tiga dekade seharusnya bisa menjadi modal yang baik untuk itu.


Lawang, 1 Januari 2024, terinspirasi setelah (akhirnya) bisa menulis blog lagi setelah vakum selama satu bulan

Continue Reading

Pengalaman

Saya Berlibur ke Jakarta Selama 5 Hari (Bagian 2)

Published

on

By

Sudah tiga bulan berlalu sejak Penulis menulis bagian pertama dari tulisan ini, jeda yang sangat panjang. Padahal, Penulis berlibur ke Jakartanya saja sudah mulai Februari. Entah mengapa seolah tidak ada niatan untuk menyelesaikan tulisan ini.

Namun, hari ini Penulis membulatkan tekad untuk menyelesaikan artikel ini, untuk mengurangi tanggungan tulisan yang belum selesai. Apalagi, ada kekhawatiran Penulis keburu lupa jika tidak segera menuliskannya.

Oleh karena itu, berikut adalah lanjutan dari cerita Penulis ketika berlibur ke Jakarta pada hari ketiga, keempat, dan kelima. Jika dibandingkan dengan hari pertama dan kedua, jadwal yang Penulis miliki tidaklah terlalu padat.

BACA JUGA: Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Merantau ke Jakarta

Hari Ketiga, Jumat, 17 Februari 2023

Suasana Bekerja di Kantor

Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya dalam dua tahun bekerja, akhirnya Penulis berkesempatan untuk ngantor. Penulis berangkat dari rumah Dika setelah Jumatan menggunakan GoJek, dan itu perjalanan yang lumayan panjang.

Tentu menyenangkan karena akhirnya Penulis bisa menjejakkan kakinya di kantor setelah dua tahun full WFH. Selain itu, Penulis juga bertemu dengan rekan-rekan kerja yang belum sempat bertemu di Central Park.

Selepas jam kantor, sebenarnya Penulis diajak untuk makan malam. Hanya saja, Penulis sudah janjian dengan mantan teman kantornya yang sudah lama tidak berjumpa, Daniel. Kebetulan, kantornya dekat dengan kantor Penulis.

Awalnya kami hanya janjian makan malam bersama, tapi pada akhirnya Penulis mengajaknya untuk ikut ke rumah Dika. Cukup lama kami ngobrol dan bermain PS bersama, sebelum akhirnya Daniel undur diri karena sudah terlalu malam.

Hari Keempat, Sabtu, 18 Februari 2023

Beberapa Barang yang Penulis Beli Selama di Jakarta

Pada hari Sabtu, sebenarnya Penulis tidak berniat untuk ke mana-mana dan ingin main PS sepuasnya bersama Dika. Namun, pada akhirnya Penulis justru pergi ke Kuningan City bersama Pandu.

Alasan utama mengapa kami berdua pergi ke sana adalah karena ada sebuah tempat yang menarik untuk penggemar board game, yakni Arkanum. Sebelumnya Penulis pernah ke sana karena pernah tes kerja untuk salah satu statiun TV, tapi waktu itu tidak membeli apa-apa.

Beda cerita dengan edisi kali ini. Niat hati hanya membeli board game King of the Dice, Penulis khilaf dan membeli cukup banyak mainan seperti action figure dan die-cast. Butuh waktu berjam-jam untuk menyeleksi mana yang akhirnya dibeli.

Sebelum balik ke tempat Dika, Penulis mampir ke kos adik yang terletak dekat dengan kos Penulis dulu. Setelah itu, Penulis juga mengunjungi apartemen Pandu untuk melihat-lihat. Barulah setelah itu kami pulang ke rumah Dika, di mana Pandu ikut menginap.

Hari Kelima, Minggu, 19 Februari 2023

Niat untuk main PS sepuasnya akhirnya dilakukan pada hari terakhir Penulis di Jakarta. Penulis juga berhasil membantai Dika di game FIFA 23 sebelum abang rentalnya mengambil PS tersebut. Setelah itu, Penulis pun bersiap untuk packing.

Kebetulan, jam keberangkatan Penulis berdekatan dengan jam kedatangan istri Dika dari Bali, sehingga Penulis mendapatkan tumpangan gratis. Dengan begitu, berakhirlah liburan Penulis ke Jakarta selama lima hari.

Penutup

Jakarta selalu memiliki tempat istimewa di hati Penulis, karena di kota inilah Penulis pertama kali merantau cukup jauh dari rumah, sekaligus menjadi tempat bekerja pertama. Maka dari itu, setiap ada kesempatan, Penulis pasti akan mampir ke Jakarta.

Mungkin akan ada peluang kalau pada akhirnya tempat kerja Penulis memutuskan untuk Work from Office (WFO), sehingga Penulis harus kembali ke Jakarta. Namun, sampai hal tersebut benar-benar terjadi, Penulis akan menikmati waktunya di rumah.


Lawang, 3 Oktober 2023, terinsirasi karena terdorong ingin segera menyelesaikan artikel liburan ini

Foto Featured Image: X

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan