Permainan
Koleksi Board Game Saya (Bagian 3)
Pada dua tulisan sebelumnya (Bagian 1 dan Bagian 2), Penulis telah bercerita mengenai “perjalanannya” dalam mengoleksi board game. Bahkan hingga sekarang, Penulis masih sering merasa heran mengapa dirinya rela mengeluarkan uang yang cukup banyak.
Hanya saja jika dipikir-pikir kembali, alokasi dana untuk membeli board game sebenarnya berasal dari alokasi belanja buku bulanan, di mana akhir-akhir ini Penulis cukup banyak mengurangi pembelian buku (yang juga sudah dirasa cukup banyak).
Melalui bagian terakhir dari tulisan Koleksi Board Game Saya, Penulis ingin berbagi sedikit mengenai board game mana yang jadi favoritnya, mengapa pada akhrinya memutuskan untuk mengoleksi board game, dan apa saja board game selanjutnya yang ingin dibeli.
Board Game Favorit Saya
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hingga kini total Penulis sudah memiliki 16 board game yang menjadi koleksinya. Jika dirangkum, berikut adalah daftar lengkapnya:
- Othello Set
- UNO! Flip
- Monopoly
- Ticket to Ride: London
- Catan
- Carcassone
- 7 Wonders 1st Edition
- King of New York
- Survive
- Wingspan
- Bang! Dice Game
- Machi Koro 2
- Dungeon Mayhem
- Saboteur
- Coup
- Sekata
Di antara itu semua, mana yang jadi favorit Penulis? Setidaknya ada tiga board game yang Penulis pilih, yaitu Catan, Machi Koro 2, dan Wingspan. Penulis akan jelaskan alasannya di bawah.

Catan merupakan salah satu board game pertama yang Penulis mainkan dan langsung jatuh cinta. Gameplay yang dimiliki cukup sederhana, tetapi membutuhkan strategi dan keberuntungan yang cukup besar.
Ada kalanya kita begitu beruntung karena mampu menempatkan Settlement kita di tempat yang angkanya sering muncul. Namun, terkadang angka yang sering muncul tiba-tiba tidak pernah muncul, sehingga kita merasa menyesal telah menempatkannya di sana.
Kita juga bisa menyenggol pemain lain, entah dengan mencuri kartunya ketika menggerakkan bandit atau memotong jalannya lebih dulu untuk mencapai titik tertentu. Selain itu, replaybility dari board game ini cukup tinggi sehingga jarang membuat pemain merasa bosan.
Machi Koro 2 menggunakan mekanik yang sama dengan Catan, di mana kemenangan pemain sangat ditentukan oleh strategi dan keberuntungan. Bahkan, cara untuk mendapatkan resource berupa koin yang dibutuhkan pun mirip.
Pada board game ini, kita diharuskan untuk mengumpulkan koin sebanyak mungkin. Salah satu caranya adalah dengan membeli kartu-kartu Establishment yang bisa mempercepat income kita untuk bisa membeli Landmark.
Selain itu, adanya kartu yang memungkinkan kita merebut koin yang dimiliki oleh pemain lain membuat pemain akan senggol-senggolan secara intens. Teman Penulis sempat menemukan META “Dadu Satu” untuk menghindari koinnya direbut oleh pemain lain.
Wingspan merupakan board game Penulis yang paling kompleks. Namun, justru itu yang membuat Penulis menyukainya. Dibutuhkan strategi yang benar-benar matang dan, berbeda dari dua board game sebelulmnya, faktor keberuntungan jadi tidak terlalu berdampak.
Ketika mengetahui art dari kartunya untuk pertama kali, Penulis langsung jatuh cinta. Oleh karena itulah Penulis rela untuk menonton banyak video tutorial dan membeli gimnya di Steam agar bisa memahami cara bermain board game ini.
Meskipun sampai sekarang teman-teman Penulis agak enggan bermain Wingspan karena “sangat mikir”, Penulis tetap memasukkan Wingspan ke dalam salah satu board game favoritnya.
Mengapa Akhirnya Jadi Koleksi Board Game?
Karena board game bisa ngilangin bosen, apalagi kalo mati gaya pas lagi bareng-bareng ama temen. Board game itu memfokuskan minat dan kebahagiaan banyak orang dalam satu waktu.โ
-Mas Pandu-
Quote di atas merupakan jawaban dari Mas Pandu ketika ditanya apa alasannya menjadi seorang kolektor board game. Penulis setuju dengan jawaban tersebut, dan memiliki alasan lain mengapa akhirnya memutuskan untuk mengoleksi board game.
Pertama, Penulis pada dasarnya menyukai mainan. Selain board game, Penulis juga memiliki action figure, model kit, dan Hotwheels. Penulis juga ingin menambah koleksi mainannya dengan membeli LEGO dan tamiya.
Alasannya sederhana. Ketika kecil, Penulis berlangganan majalah XY Kids yang memiliki rubrik khusus membahas mainan (toys). Waktu itu, tentu Penulis belum punya uang untuk membelinya, sehingga keinginan tersebut baru bisa disalurkan sekarang.
Lalu, Penulis juga merasa kalau board game yang dibeli bisa memberikan rasa senang kepada teman-temannya yang ikut memainkannya. Walau tidak semua mereka suka, setidaknya ada beberapa yang membuat mereka cukup ketagihan.
Melihat wajah bahagia dan mendengar tawa (kadang ekspresi pusing karena kalah) mereka ketika bermain board game menjadi sesuatu yang memuaskan batin. Bagi Penulis, bisa membahagiakan orang lain adalah sumber kebahagiaan.
Selain itu, bermain board game fisik jelas bisa mendistraksi kita dari ponsel. Di era yang serba digital, bermain sesuatu yang nyata akan memberikan jeda yang sehat untuk diri kita sendiri. Apalagi, selalu ada interaksi yang menarik ketika bermain board game.
Apa Masih Ingin Menambah Koleksi?

Jika ditanya apakah dirinya masih ingin menambah koleksi board game, maka Penulis akan menjawab iya. Sejujurnya masih ada banyak board game yang Penulis inginkan, tetapi saat ini sedang menahan dirinya untuk bisa menghemat pengeluaran.
Dua board game yang sangat ingin Penulis miliki adalah Splendor: Marvel dan Bahamas. Penulis sering main Splendor melalui situs BGA, tetapi masih ingin membeli versi Marvel-nya. Penulis belum pernah bermain Bahamas secara langsung, tapi sering melihat gameplay-nya.
Setelah dua board game tersebut, sebenarnya masih ada beberapa board game lain seperti Cascadia, Dominion, Kingdomino, Pandemic, Codename Pictures, Ratland, Waroong Wars, dan masih banyak lagi. Semoga saja rezeki Penulis lancar agar bisa membelinya.
Bahkan setelah menulis artikel ini, Penulis memutuskan untuk membuat satu rubrik baru di blog ini: Board Game. Semua board game yang pernah dimainkannya akan Penulis buat ulasannya dan gameplay yang dimiliki.
Ini merupakan bagian terakhir dari tulisan Koleksi Board Game Saya
Lawang, 6 November 2022, terinspirasi setelah memandangi koleksi board game-nya yang sudah lumayan banyak
Permainan
Koleksi Board Game #32: Splendor Duel
Dalam memilih board game, biasanya salah satu pertimbangan Penulis adalah seberapa banyak pemain yang bisa bermain dalam satu waktu. Jumlah ideal adalah antara tiga sampai enam pemain, karena biasanya sebanyak itu teman bermain Penulis.
Nah, tapi ada beberapa momen di mana Penulis merasa membutuhkan board game yang spesifik untuk dimainkan dua orang, seperti ketika menunggu giliran bermain EA Sports FC 26 misalnya atau memang lagi ingin main berdua dengan adik.
Oleh karena itu, Penulis jadi ingin mencoba untuk memiliki board game seperti itu, dan Splendor Duel jadi pilihan pertamanya. Kebetulan, waktu jalan-jalan ke Grand Indonesia, board game ini ada!
Detail Board Game Splendor Duel
- Judul: Splendor Duel
- Desainer: Marc Andrรฉ, Bruno Cathala
- Publisher: Space Cowboys
- Tahun Rilis: 2022
- Jumlah Pemain: 2 pemain
- Waktu Bermain: 30 menit
- Rating BGG: 7,9
- Tingkat Kesulitan: 2,01/5
- Harga: Rp390.000
Cara Bermain Splendor Duel
Sama seperti Splendor orisinal, Splendor Duel juga masih berkutat tentang pengumpulan “batu akik” alias Gem untuk meraih poin dalam jumlah tertentu. Batu akik ini akan digunakan untuk membeli kartu Jewel, yang bisa jadi resource tetap sekaligus sumber poin.
Di awal permainan, kita akan membuka tiga kartu level 3, empat kartu level 2, dan lima kartu level 1 (bukan semua lima kartu seperti Splendor orisinal). Setelah itu, letakkan papan permainan yang terdiri dari 25 kota, lalu isi dengan 25 batu akik secara acak mengikuti alur yang tertera di papan.
Sebagai pelengkap, letakkan 3 Privilege Scroll di dekat papan, lalu jejerkan 4 kartu Royal. Privilege Scroll digunakan untuk mengambil salah satu batu akik atau Pearl yang ada di papan. Artinya, kita mendapatkan satu token dalam satu giliran kita.
Bicara tentang Pearl, ini adalah jenis batu akik yang tidak ada di permainan aslinya. Fungsinya sama, karena beberapa kartu membutuhkannya. Hanya saja, jumlahnya terbatas (hanya ada dua), sehingga sering jadi rebutan.
Kita bisa menggunakan Privilege Scroll sebagai Optional Action di awal giliran kita. Selain itu, kita juga bisa mengisi ulang papan selama kantong batu akiknya tidak kosong. Jika pemain melakukan ini, maka lawan akan mendapatkan satu Privilege Scroll.
Nah, untuk Mandatory Action-nya, pemain harus melakukan satu dari ketiga aksi ini, yang sebenarnya masih sama seperti versi aslinya:
- Ambil 3 token Gem (batu akik)
- Ambil 1 token Gold dan 1 kartu Jewel untuk di-reserve
- Beli 1 kartu Jewel
Bedanya, kita tidak bisa sembarangan mengambil tokennya. Karena batu-batunya terpampang di papan berukuran 5×5, maka kita harus mengambil sesuai dengan posisinya.
Pemain hanya bisa mengambil tiga token yang terletak bersisian, entah itu horizontal, vertikal, bahkan diagonal. Pemain tidak boleh mengambil token Gold jika mengambil aksi ini. Selain itu, kalau yang bisa diambil hanya dua (atau bahkan satu), ya sudah, hanya itu yang bisa diambil.
Jumlah token maksimal yang bisa dimiliki pemain juga sama, yakni 10 token. Jika setelah mengambil token jumlah yang kita miliki lebih dari 10, maka kita harus mengembalikan kelebihannya ke kantong.
Peraturan tambahan adalah apabila ada pemain yang mengambil tiga token dengan warna yang sama atau mengambil dua Pearl sekaligus, maka lawan akan mendapatkan satu Privilege Scroll.
Untuk aturan pengambilan Gold dan kartu Jewel masih sama, di mana pemain maksimal memiliki tiga kartu Jewel yang bisa di-reserve. Token Gold bisa digunakan untuk menggantikan token lain dalam warna apa pun, termasuk Pearl.
Untuk pembelian kartu Jewel juga sama. Bedanya, ada beberapa kartu yang memiliki efek tambahan, yakni:
- Ambil satu putaran lagi
- Kartu Wild Card yang bisa jadi kartu Jewel mana pun (selama sudah punya satu kartu Jewel dari Gem tersebut)
- Mengambil 1 token Gem sesuai dengan yang dihasilkan kartu tersebut
- Ambil 1 Privilege atau curi punya lawan jika tidak ada yang tersisa
- Curi 1 Gem atan Pearl milik lawan, tidak boleh digunakan untuk mencuri Gold
Hal baru lain yang ada di Splendor Duel adalan Crowns. Beberapa kartu Jewel memiliki lambang Crown, di mana pemain yang bisa mendapatkan 3 dan 6 Crown akan mendapatkan satu Royal Card.
Untuk penentuan menangnya sendiri, ada tiga cara untuk bisa memenangkan Splendor Duel, yakni:
- Punya 20 poin atau lebih
- Punya 10 Crown atau lebih
- Punya 10 poin di kartu Gem dengan warna yang sama
Adanya variasi untuk menang ini membuat permainan lebih seru dan tidak tertebak, karena masing-masing pemain punya strategi sendiri untuk mengejar kemenangan.
Setelah Bermain Splendor Duel

Penulis pernah bermain Splendor, bahkan membeli versi digitalnya di Steam. Meskipun bisa dibilang minim unsur senggol-senggolan, Penulis menyukai beberapa unsur yang dimiliki oleh board game ini.
Pertama, manajemen sumber daya yang membuat kita harus berhitung bagaimana cara menggunakannya seefisien mungkin. Karena semakin tinggi nilai kartu semakin mahal, kita harus farming kartu murah dulu untuk mendapatkan infinity resource.
Kedua, meskipun Penulis bilang unsur senggol-senggolannya tipis, tetap saja rasanya kesal ketika kartu yang kita incar (dan sudah mengumpulkan resource-nya) ternyata malah diambil oleh orang lain.
Nah, kedua hal terebut berhasil dipertahankan oleh Splendor Duel. Meskipun mekanisme farming resource-nya berbeda, secara konsep masih sama. Apalagi, opsi pengambilan resource-nya lebih terbatas dan tidak sebebas Splendor orisinal.
Konsep untuk farming kartu murah juga masih sama, bahkan beberapa kartu memiliki efek tambahan yang membuat permainan menjadi lebih seru. Apalagi, ada beberapa cara untuk menang, tidak seperti Splendor orisinal yang hanya melalui 15 poin pertama.
Dari sisi batunya, adanya Pearl membuat permainan menjadi lebih sulit karena jumlahnya yang terbatas. Sepanjang Penulis bermain, keberadaan Pearl ini ternyata sangat krusial dan bisa menghambat permainan kita jika tidak memilikinya.
Hanya saja, Splendor Duel memiliki ukuran kartu yang lebih mungil dibandingkan versi orisinalnya. Hal ini menimbulkan perasaan kurang nyaman, walaupun memang jadi lebih hemat tempat.
Walau begitu, secara overall Penulis menikmati Splendor Duel sebagai board game yang santai, tapi tetap menguras otak. Board game ini juga sangat cocok untuk dimainkan dengan pasangan karena tidak terlalu rumit, meskipun bisa menimbulkan cekcok karena persaingan yang ketat.
Hanya saja dalam beberapa kali main, Penulis jarang menang dari lawan-lawannya entah apa alasannya.
Skor: 8/10
Sewaktu menemukan board game ini di Grand Indonesia, Penulis juga menemukan board game lain yang bertema “duel”. Setelah mempertimbangkan berkali-kali, Penulis memutuskan untuk sekalian membeli King of Tokyo Duel!
Lawang, 10 Maret 2026, terinpirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
Ketika mengoleksi sesuatu, kita tidak hanya mengincar barang-barang baru yang menarik perhatian. Terkadang, kita berburu barang-barang lama yang melekat pada memori kita, entah untuk nostalgia ataupun memenuhi inner child yang belum terpenuhi.
Begitu pun dalam mengoleksi board game. Penulis memulai koleksi ini dari membeli Monopoly, yang sejak kecil Penulis mainkan. Setelah itu, Penulis lebih sering membeli board game–board game baru yang lebih modern.
Nah, salah satu board game jadul yang telah lama Penulis incar adalah Scrabble, karena ketika kecil Penulis beberapa kali memainkannya. Untungnya ketika mampir ke Toys Kingdom, board game ini sedang diskon!
Detail Board Game Scrabble/Scrabble Together
- Judul: Scrabble/Scrabble Together
- Desainer: Alfred Mosher Butts
- Publisher: Mattel, Inc.
- Tahun Rilis: 2024
- Jumlah Pemain: 2-4 pemain
- Waktu Bermain: –
- Rating BGG: 7,1
- Tingkat Kesulitan: 2,00/5
- Harga: Rp339.900
Cara Bermain Scrabble/Scrabble Together
Rasanya Penulis tidak perlu terlalu banyak menjelaskan bagaimana cara bermain Scrabble, karena sepertinya sudah banyak yang tahu. Intinya adalah kita mendapatkan beberapa balok huruf (masing-masing pemain tujuh huruf) untuk dijadikan kata di papan permainan.
Permainan akan dimulai dengan meletakkan kata pertama di tengah papan permainan. Setelah itu, pemain harus merangkai kata dengan menggunakan huruf-huruf yang sudah ada di papan dan ditambah dengan huruf yang kita miliki.
Huruf-huruf hanya bisa diletakkan secara vertikal atau horizontal, tidak boleh secara diagonal. Di papan, ada beberapa multiplier apabila ada pemain yang bisa meletakkan huruf di atasnya. Ada tambahan 50 poin apabila berhasil menggunakan semua tujuh huruf yang dimiliki.
Permainan akan berakhir apabila sudah tidak ada pemain yang bisa meletakkan huruf di papan permainan. Proses scoring pun dilakukan dengan menjumlahkan semua poin kata berdasarkan angka yang ada di hurufnya beserta multiplier di bawahnya jika ada.
Varian Scrabble Together
Untuk versi Scrabble Together, perbedaannya ada di Goal Card, di mana ada quest yang harus diselesaikan oleh pemain. Karena ada kata “Together”, maka di versi ini semua pemain harus bekerja sama untuk menyelesaikan semua quest yang ada (total tiap permainan ada 20 Goal).
Dalam satu waktu, akan ada tiga Goal Card yang terpampang di sebelah papan permainan. Ketika ada satu atau lebih Goal Card yang telah selesai, maka akan di-refill dengan kartu selanjutnya. Untuk pemula, ada 20 kartu yang “ramah pemula” dengan quest yang lebih manusiawi mudah.
Selain itu, sistem scoring dari varian klasik dihilangkan dari versi ini. Fokus semua pemain adalah menyelesaikan semua quest yang terdapat pada Goal Card. Karena terlihat sulit, ada enam kartu bantuan yang bisa digunakan satu kali oleh siapapun.
Keenam kartu bantuan tersebut adalah Menyelesaikan Sebuah Kartu Bantuan, Menukar Huruf, Huruf Bantuan, Menggunakan Huruf Kosong, Mengulang Kartu Target, dan Menukar Huruf. Permainan berakhir apabila Goal Card berhasil diselesaikan semua atau sudah tidak ada kata lagi yang bisa diletakkan di permainan.
Setelah Bermain Scrabble/Scrabble Together

Yah, apa yang bisa dikomentar dari sebuah board game klasik yang hampir diketahui oleh banyak orang? Scrabble/Scrabble Together bisa dianggap sebagai cara Penulis untuk bernostalgia karena pernah memainkannya sewaktu masih kecil.
Tentu saja sebagai board game bahasa Inggris, pengetahuan vocabulary kita sangat penting, terutama ketika dihadapkan dengan huruf-huruf yang terbatas di hadapan kita. Selalu ada ambisi untuk membuat kata sepanjang mungkin dan menghindari kata pendek yang mainstream.
Tidak ada unsur senggol-senggolan, yang ada hanya adu vocabulary dan strategi penempatan huruf di papan agar bisa mendapatkan multiplier yang menggandakan skor kita. Jangan kaget kalau otak kita sampai ngebul karena dipakai berpikir terlalu keras.
Sayangnya, Penulis belum pernah mencoba bermain versi Scrabble Together-nya. Penulis hanya pernah bermain versi klasiknya bersama teman-teman, sehingga tidak bisa berkomentar banyak. Mungkin nanti tulisan ini akan Penulis update jika sudah mencobanya.
Dari sisi komponen, bisa dibilang biasa saja. Papannya termasuk tipis jika dibandingkan dengan Monopoly ataupun Chinatown. Tempat untuk menaruh balok hurufnya juga lumayan tipis. Kualitas kartu-kartu untuk Scrabble Together pun tergolong tipis.
Untuk replaybility-nya sendiri ya oke-oke saja jika sedang ingin bermain board game bahasa Inggris. Namun, tentu jangan berharap board game ini akan mampu memecahkan suasana, karena ini bukan tipe party game (kecuali party-nya di perpustakaan).
Skor: 6/10
Setelah membeli board game ini, ada jeda yang cukup panjang hingga Penulis membeli board game selanjutnya. Itu pun karena Penulis sedang berjalan-jalan di Grand Indonesia dan menemukan dua board game untuk dua pemain. Salah satunya adalah Splendor Duel!
Lawang, 4 Desember 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
Werewolf bisa dibilang tetap menjadi salah satu board game favorit yang paling sering dimainkan, apalagi waktu dulu anak-anak Karang Taruna atau teman-teman kuliah masih sering kumpul.
Penulis lebih sering menjadi moderator daripada ikut bermain, karena bagi Penulis memang lebih enak menjadi orang yang “mengendalikan” permainan. Namun, apa jadinya jika kita bermain Werewolf tanpa moderator?
Itulah yang akan kita temukan dalam Deception: Murder in Hong Kong. Semua bisa ikut bermain dan kebagian peran masing-masing tanpa perlu ada moderator yang mengarahkan permainan. Kok bisa?

Detail Board Game Deception: Murder in Hong Kong
- Judul: Deception: Murder in Hong Kong
- Desainer: Tobey Ho
- Publisher: Jolly Thinkers
- Tahun Rilis: 2014
- Jumlah Pemain: 4-12 pemain
- Waktu Bermain: 20 menit
- Rating BGG: 7,4
- Tingkat Kesulitan: 1,58/5
- Harga: Rp700.000
Cara Bermain Deception: Murder in Hong Kong
Ada satu perbedaan besar antara Werewolf dan Deception: Murder in Hong Kong, yaitu tidak adanya pemain yang tewas di tengah jalan. Jadi, orang yang tewas di permainan ini bersifat fiktif, dan semua pemain berkesempatan untuk menangkap pelakunya.
Sama seperti Werewolf, hal pertama yang dilakukan dalam permainan ini adalah membagikan role untuk masing-masing pemain. Nantinya, pemain yang kebagian Forensic Scientist akan membuka identitas dirinya, karena selanjutnya ia akan menjadi kunci untuk menemukan siapa Murderer-nya.
Nah, akurasi petunjuk dari Forensic Scientist menjadi kunci permainan ini. Jika sampai tiga babak para Investigator gagal menemukan siapa Murderer-nya, maka Murderer akan memenangkan permainan.
Selain Forensic Scientist yang role-nya langsung terungkap di awal permainan, role yang dimiliki oleh board game ini ada:
- Murderer (x1): Tersangka utama yang harus ditemukan agar Investigator menang.
- Investigator (x8): Detektif yang harus bisa menemukan siapa Murderer di antara para pemain berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.
- Accomplice (x1): Rekan pembunuh Murderer, harus bisa membantu melindungi Murderer secara diam-diam tanpa ketahuan.
- Witness (x1): Saksi pembunuhan yang tahu siapa Murderer-nya, tapi harus hati-hati karena ia tidak boleh berhasil ditebak oleh Murderer. Jika Murderer siapa Witness, maka dia tetap menang.
Setelah masing-masing peman mendapatkan role-nya, maka mereka akan mendapatkan empat Clue Card (berwarna merah) dan Means Card (berwarna biru). Clue Card merupakan petunjuk yang tertinggal di TKP, sedangkan Means Card adalah cara membunuh korban.
Nah, Clue Card dan Means Card ini ada banyak sekali macamnya, mulai dari barang umum sampai absurd ada semua. Cara membunuhnya pun macam-macam, mulai dari yang sederhana sampai rumit kayak di Detective Conan ada semua..
Di awal permainan, Murderer akan memilih satu Clue Card dan satu Means Card, yang diketahui oleh Forensic Scientist. Berdasarkan kartu yang dipilih oleh Murderer, Forensic Scientist harus bisa memberikan petunjuk melalui Scene Tiles yang ada.
Setiap permainan, akan ada enam Scene Tiles yang akan membantu Investigator menebak siapa Murderer-nya. Scene Tiles ini macam-macam, mulai dari kondisi mayat, waktu pembunuhan, lokasi pembunuhan, dan masih banyak lagi lainnya.
Total akan ada tiga ronde sampai permainan berhasil. Di setiap awal ronde, pemain bisa mengganti satu Scene Tiles yang dianggap paling tidak membantu. Masing-masing pemain selain Forensic Scientist punya satu kali kesempatan menebak siapa Murderer.
Nah, ini yang agak sulit. Untuk bisa menangkap Murderer, pemain harus bisa menebak dengan tepat apa Clue Card dan Means Card yang dipilih. Kalau hanya benar satu, Murderer tidak akan bisa ditangkap.
Kurang lebih seperti itu jalannya permainan Deception: Murder in Hong Kong. Pemain bisa melakukan beberapa variasi agar lebih menantang, seperti menambah jumlah Clue Card dan Means Card untuk masing-masing pemain.
Selain itu, ada juga Event Tiles yang akan memberikan keuntungan tambahan bagi pemain. Event Tiles ini sifatnya opsional, sehingga tidak wajib digunakan. Komponen lainnya di board game ini ada:
- Badge Token (x11): Digunakan ketika pemain ingin menebak siapa Murderer beserta Clue Card dan Means Card-nya.
- Wooden Bullet Marker (x6): Digunakan oleh Forensic Scientist untuk menandai petunjuk di Scene Tiles.
Setelah Bermain Deception: Murder in Hong Kong

Sebagai orang yang menyukai Werewolf, tentu Deception: Murder in Hong Kong menjadi board game yang sangat menarik untuk dimainkan. Mengingat Penulis lebih sering moderator ketika bermain Werewolf, board game ini menjadi cara Penulis ikut bermain secara aktif.
Cara bermainnya yang sederhana juga membuat board game ini bisa dimainkan dengan siapa saja. Kita benar-benar dituntut untuk memiliki imajinasi ala detektif untuk bisa memecahkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.
Nah, Forensic Scientist adalah kunci permainan. Apabila ia pintar memberikan petunjuk, maka Murderer akan lebih mudah ditemukan. Kalau memberi petunjuknya ngaco, maka Murderer akan tertawa dalam hati karena merasa aman.
Banyaknya opsi Clue Card dan Means Card juga membuat replaybility permainan ini cukup tinggi. Tidak ada permainan yang benar-benar sama, apalagi role pemain juga akan terus berubah-ubah. Kalau tidak puas, bahkan masih ada kartu ekpansinya.
Mungkin kekurangan terbesar board game ini sama seperti Werewolf, yakni membutuhkan banyak pemain agar terasa lebih seru. akan memiliki banyak celah untuk mengamankan dirinya dengan menggiring opini pemain.
Apalagi, role Accomplice dan Witness baru bisa digunakan kalau jumlah pemain lebih dari lima. Jika yang bermain hanya empat-lima orang, maka permainan cenerung akan terasa hambar. Makin banyak pemain, maka adu bacotnya pun akan semakin chaos.
Untuk komponen board game-nya sendiri bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Namun, perlu dicatat bahwa kotaknya sudah memiliki sekat-sekat sehingga kita bisa menyimpan semua komponennya dengan rapi.
Yang jelas, Deception: Murder in Hong Kong adalah sebuah board game yang sangat cocok untuk dimainkan ketika ada banyak orang. Sebagai board game yang membutuhkan adu bacot, Deception: Murder in Hong Kong jelas bisa menimbulkan kegaduhan!
Skor: 8/10
Setelah membeli Deception: Murder in Hong Kong, Penulis membeli sebuah board game klasik di Toys Kingdom karena sedang diskon. Board game yang pernah Penulis mainkan waktu kecil ini membuat kita mempertanyakan seberapa banyak sebenarnya vocabulary yang kita miliki?
Yups, board game selanjutnya yang akan Penulis bahas tidak lain tidak bukan adalah Scrabble!
Lawang, 14 September 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutnkan seri board game ini
-
Musik10 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara10 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman11 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
-
Sosial Budaya10 bulan agoBeda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu
-
Sosial Budaya11 bulan agoBelajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?
-
Permainan7 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara7 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…



You must be logged in to post a comment Login