Tentang Rasa
Menepi Sejenak
Aku menyukai hubungan kita. Terasa dekat dan saling mengisi. Saling berbagi cerita dan melempar canda.
Namun, kisah perjalanan kita berdua tidak semulus dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after.
Kadang kita berselisih paham, kadang kita hanya mengedepankan ego masing-masing, kadang kita (tanpa sengaja) saling menyakiti.
Kadang karena hal yang sepele, kadang karena hal yang serius, lebih sering hanya karena kesalahpahaman.
Percikan pertengkaran mewarnai hidup kita dan kadang membuat kita berpikir untuk pergi. Berpisah.
Tapi di dalam lubuk hati yang terdalam, kita sama-sama merasa bukan itu yang benar-benar kita inginkan.
Kita hanya bertikai untuk satu waktu. Kenapa itu harus membuat kita melupakan semua kenangan yang pernah kita ukir bersama?
Kita hanya butuh jeda, butuh waktu untuk sendiri. Memilih untuk menepi sejenak dan menenangkan diri.
Nikmati waktu kesendirian, merenungkan bagaimana kita bisa memulai pertengkaran.
Tak perlu mencari siapa yang salah, coba kita lihat ke dalam diri sendiri. Melakukan interopeksi diri.
Saat kita berpisah untuk sementara, coba rasakan betapa bedanya kehidupan yang kita lalui.
Jika dirasa cukup, kita akan kembali menjalani hari bersama seperti sedia kala.
Karena pada dasarnya, kita tidak ingin kehilangan satu sama lain.
***
Dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya, pasti ada momen di mana kita bertikai dan membuat hubungan merenggang.
Bagi Penulis, hal ini sangat wajar. Semakin dekat dan erat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar potensi munculnya konflik.
Yang penting adalah bagaimana kita berusaha menyelesaikan konflik tersebut. Terkadang, kita butuh untuk menepi sejenak agar bisa berpikir lebih jernih.
Ketika menepi, dalam artian menjaga jarak dengan orang tersebut untuk jangka waktu tertentu, sebaiknya kita melakukan interopeksi diri
Tanyakan pada diri kenapa pertikaian tersebut bisa terjadi. Jangan fokus pada siapa yang salah, tapi pada bagaimana hal tersebut jangan sampai terulang.
Jika perasaan sudah kembali tenang, coba bicarakan hal tersebut baik-baik dengannya. Curahkan isi hati agar tidak ada yang mengganjal dan menjadi benalu diri.
***
Perpisahan memang menjadi hal yang tak terelakkan dalam sebuah hubungan. Inevitable kalau kata Thanos.
Ada yang karena perbedaan visi, ada yang karena sakit hati, ada yang karena kematian, banyak penyebab hubungan harus berakhir.
Walaupun begitu, Penulis tidak ingin hubungan dengan orang-orang terdekatnya putus karena hal yang kurang baik.
Jika memang harus berpisah, terlepas apapun alasannya, setidaknya kita bisa berpisah secara baik-baik.
Memang menyedihkan, kadang menyakitkan, tapi itu lebih baik daripada harus berpisah secara buruk dengan perasaan saling membenci.
***
Jika memungkinkan, Penulis ingin terus menjalin hubungan baik dengan semua orang yang dikenalnya dalam hidup.
Entah keluarga, teman mulai kecil, teman kuliah, teman kantor di Jakarta, anak-anak Karang Taruna, semuanya.
Sayangnya, Penulis hidup di dunia nyata yang tidak semulus jalan cerita drama Korea. Pasti ada banyak lika-liku yang akan membuat Penulis memutuskan untuk menepi sejenak.
Ketika menepi, pikiran Penulis akan terasa begitu riuh dengan pemikirannya sendiri. Penulis bukan tipe orang yang bisa masa bodo dengan kejadian yang sedang dialami.
Memang jika waktunya telah tiba, Penulis akan berpisah satu per satu dengan mereka semua. Kesedihan, merasa kehilangan, semua perasaan itu akan Penulis rasakan.
Hanya saja, sampai waktunya tiba, Penulis ingin menikmati momen-momen bersama mereka selama mungkin.
Lawang, 8 Maret 2021, terinspirasi dari pertikaian kecil yang baru terjadi dengan seseorang
Foto: Redwood Family Therapy
Tentang Rasa
Tom Telah Memberikan Segalanya dan Tetap Gagal
Serial kartun Tom and Jerry sering kali berhasil membuat kita, baik ketika kecil maupun telah tumbuh dewasa, tertawa. Sebagai salah satu kartun legend yang tetap populer hingga saat ini, selalu ada saja aksi mereka yang tak masuk akal, tapi berhasil mengundang tawa.
Penulis pun menjadi salah satu anak yang tumbuh besar lewat kartun ini. Penulis bahkan dengan percaya diri bisa mengatakan bahwa dirinya telah menonton semua episode Tom and Jerry dari era Fred Quimby hingga Hanna-Barbara.
Walau begitu, belakangan ini Penulis baru menyadari ada beberapa episode di Tom and Jerry yang terasa cukup dark sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah Blue Cat Blues, yang tayang sebagai episode ke-103.

Alur Cerita Episode Blue Cat Blues

Seperti kebanyakan episode Tom and Jerry, masalah kerap muncul ketika Tom bertemu dengan kucing betina dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Di serial ini, kucing betina kerap dinamai Toodles Galore, tapi di seri ini ia sering disebut sebagai “Gal Cat”.
Berbeda dengan Toodles, Gal Cat di episode Blue Cat Blues terlihat tidak pernah menggerakkan mulutnya dan ekspresinya cenderung dingin sekaligus tempting. Ia tidak banyak menunjukkan emosi, apalagi terang-terangan menolak Tom.
Episode ini sendiri menggunakan alur mundur, di mana Jerry sebagai sahabat (bukan musuh) Tom menjadi naratornya. Ia menceritakan bagaimana Tom bertemu dengan Gal hingga akhirnya duduk terpuruk di rel kereta.
Jadi, Tom langsung jatuh cinta dengan Gal pada pandangan pertama. Awalnya, Gal tampak mau menerima Tom, sebelum ia bertemu dengan Butch yang jauh lebih kaya raya. Jerry menyadari hal ini dan berusaha menghentikan Tom, tapi peringatan tersebut tidak digubris.
Meskipun kondisi ekonominya pas-pasan, Tom tetap berusaha merebut Gal dari Butch. Namun, setiap ia berusaha membelikan sesuatu untuk Gak, Butch pasti telah memberikan hadiah yang jauh lebih besar dan mewah.
Ketika Tom membawa setangkai bunga, Butch memberikan karangan bunga raksasa. Ketika Tom membawa sebotol parfum, Butch mengirimkan truk tangki berisi parfum. Tom bahkan menguras habis tabungannya demi membeli cicin dengan berlian mini, tapi Butch telah memberikan berlian jumbo.
Upaya atau hadiah terakhir yang berusaha Tom berikan adalah sebuah mobil, di mana ia sampai menjual dirinya sebagai “budak” selama 20 tahun untuk bisa menutupi cicilan selama 312 bulan dengan tingkat bunga tahunan hingga 112%. Bahkan, ia hingga rela menggadaikan satu lengan dan kakinya!
Setelah semua pengorbanan itu, ia hanya mendapatkan mobil tua yang bobrok dan tak layak guna. Mobil itu pun dengan mudah diratakan oleh Butch yang membawa sebuah coupe yang sangat panjang dan mewah.
Depresi dengan keadaan, Tom pun menenggelamkan dirinya dengan meminum susu hingga mabuk. Ia bahkan sempat terlihat hanyut di air sebelum diselamatkan oleh Jerry. Pada akhirnya, Gal memutuskan untuk menikah dengan Butch dan meninggalkan Tom begitu saja.
Rentetan keadaan itulah yang membuat Tom benar-benar terpuruk dan duduk termenung di rel kereta. Jerry yang awalnya yakin pasangannya tidak seperti itu justru harus menerima takdir yang sama dengan Tom.
Jerry pun bergabung dengan Tom untuk duduk di rel kereta, dengan suara peluit kereta terdengar dari arah belakang mereka, yang makin lama makin terdengar kencang…
Tom Telah Memberikan Segalanya, dan Mungkin Itu Kesalahan Terbesarnya

Sangat gelap bukan cerita Blue Cat Blues? Butch mungkin memberikan semua yang Gal inginkan, tapi Tom telah memberikan segala yang ia miliki. Walaupun begitu, tetap saja ia gagal mendapatkan cinta Gal.
Apakah ini berarti Gal adalah kucing materialistis yang hanya melihat harta dalam memilih pasangan? Setidaknya di mata Jerry memang seperti itu, walau di era sekarang keputusan Gal bisa dianggap sebagai realistis, karena Tom memang hampir tidak punya apa-apa.
Penulis ingin lebih menyoroti dari sudut pandang Tom sebagai pihak “pengejar” sekaligus yang kalah. Perasaan jatuh cinta yang ia rasakan itu wajar, karena Gal memang seekor kucing yang terlihat menarik. Apa yang tidak wajar adalah semua upaya yang ia keluarkan.
Tom tidak memiliki kemampuan untuk mengukur batas dirinya. Ia terlalu fokus untuk bisa membuat Gal kagum hingga mengabaikan dirinya sendiri. Tak peduli tabungannya habis, tak peduli harus mengorbankan tangan dan kakinya, yang penting ia bisa memberikan sesuatu untuk Gal.
Dengan adanya saingan yang super kaya, Tom melakukan itu semua agar dirinya dipilih oleh Gal. Mungkin di dalam hatinya, ia berharap kalau Gal bisa merasakan cintanya lebih besar dari semua hadiah yang diberikan oleh Butch. Ia gagal mengelola ekspektasinya.
Sayangnya, harapan tersebut pupus karena pada akhirnya Gal memilih Butch. Gal tidak peduli kalau Tom telah memberikan segala yang ia miliki, karena ternyata hal tersebut tidak cukup untuk dirinya. Kesalahan terbesar Gal di sini adalah tidak pernah benar-benar menutup pintu untuk Tom, sehingga Tom terus berharap.
Tom juga tidak mengindahkan nasehat dari sahabatnya, Jerry. Sudah berkali-kali Jerry berusaha untuk menghentikan niat Tom karena tahu perempuan seperti apa sebenarnya Gal. Namun, namanya juga cinta buta, niat baik Jerry tersebut sama sekali diabaikan oleh Tom.
Karena sudah merasa telah memberikan segalanya dan tetap gagal, Tom pun menjadi depresi. Ia telah meletakkan kehidupannya pada Gal, bahkan menjadikannya sebagai pusat semestanya. Itulah yang telah menghancurkan dirinya.
Bisa dibilang, Tom juga telah terjebak pada sunk cost fallacy, di mana ia merasa memberikan (bahkan terlalu) banyak hal untuk Gal. Ia merasa sudah “berinvestasi” sedemikian besarnya, hingga merasa putus asa ketika tahu hasilnya malah “bodong”.
Kalau dibawa ke dunia nyata, alih-alih melakukan apa yang seperti dilakukan oleh Tom, kita seharusnya fokus kepada diri sendiri dan terus meningkatkan value diri, karena siapa juga yang mau sama seseorang yang tidak punya apa-apa.
Sebagai seorang manusia, kita harus belajar untuk memahami batas diri dan meletakkan kehidupan kita pada diri kita sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri demi mendapatkan seseorang yang tidak memilih kita.
Penutup
Penulis tidak tahu apa motivasi dari kreatornya hingga bisa membuat episode yang sekelam itu untuk pasar anak-anak. Memang, waktu kecil Penulis menganggap episode tersebut lucu-lucu saja. Namun, ketika telah dewasa, Penulis jadi bisa lebih memahami makna di baliknya.
Yang jelas, dari episode kartun ini kita belajar jangan mencintai orang lain secara membabi buta. Jangan memberikan segalanya untuk seseorang yang tidak benar-benar menerima kita. Jangan berkorban sebanyak itu untuk orang yang akan mematahkan hati kita.
Selain itu, kita harus bisa belajar menerima bahwa tidak semua upaya akan memberikan hasil yang kita inginkan. Walau begitu, pasti ada hal lain yang kita dapatkan dari upaya tersebut, pengalaman dan pelajaran hidup misalnya.
Semoga saja kartun masa kecil kita yang hanya berdurasi beberapa menit ini bisa membuat kita belajar tentang hal tersebut.
Lawang, 22 September 2026, terinspirasi setelah menonton Tom and Jerry episode Blues Cat Blues
Tentang Rasa
Ketika Mencari Pasangan Menggunakan Standar TikTok
Penulis sudah lama tidak membuka TikTok karena berbagai alasan. Namun, ada satu hal yang mendorong Penulis untuk melakukan riset ke TikTok karena ada satu komentar yang kerap muncul di berbagai media sosial lainnya: “cewek pakai standar TikTok.”
Karena sudah lama tidak membukanya, tentu Penulis sedikit kebingungan apa maksudnya, walau ada asumsi-asumsi. Penulis pun memutuskan untuk kembali membuka TikTok untuk melakukan riset dan melakukan wawancara dengan pengguna TikTok.
Ternyata, jika disimpulkan, di TikTok sering ada konten yang membahas mengenai standar-standar yang harus dipenuhi oleh pasangan. Semua konten yang Penulis temukan memiliki point of view (POV) dari sisi wanita yang menetapkan standar tertentu untuk lelakinya.
Bagaimana TikTok Berubah Menjadi Standar Pasangan

Berdasarkan hasil riset dan wawancara, Penulis menemukan fakta bahwa banyak standar yang dipasang oleh orang-orang TikTok kadang tidak masuk akal, bahkan terkesan mengada-ada. Bahayanya, standar-standar tersebut ditelan mentah-mentah oleh banyak pengguna.
Penulis menemukan satu contoh standar yang menurut Penulis sangat tidak masuk akal, yakni tentang typing atau mengetik di chat. Bayangkan, ada standar yang menyebutkan ciri-ciri typing ganteng. Masalah typing saja bisa dibilang ganteng atau tidak, bahkan bisa jadi red flag kalau tidak cocok!
Jika boleh berandai-andai, mungkin standar lain yang dianggap tidak masuk akal itu seperti berharap punya pasangan dengan sifat sesempurna mungkin, bisa memberikan uang bulanan dengan nominal fantastis, atau bahkan memiliki fisik seperit idol K-Pop. Mungkin lho, ya.
Standar ini bisa digunakan baik ketika sedang mencari atau bahkan telah memiliki pasangan. Jika belum punya, mungkin standar ini membuat mereka kesulitan menemukan pasangan. Jika sudah punya, kemungkinan besar pasangan mereka akan dituntut menjadi seperti apa yang muncul di TikTok.
Memiliki standar tertentu untuk pasangan sebenarnya adalah hal yang normal-normal saja. Penulis pun tentu memiliki standarnya sendiri. Namun, hal tersebut menjadi kurang pas apabila kita menggunakan standar orang lain yang belum tentu cocok dengan kita.
Ketika memasang standar yang begitu tinggi dalam mencari pasangan, terkadang kita lupa untuk menengok ke diri sendiri: apakah aku sudah pantas mendapatkan pasangan yang seperti yang aku standarkan tersebut?
Terlalu Demanding sampai Lupa Sadar Diri

Terkadang kita ini terlalu demanding dalam menentukan standar pasangan, sampai lupa kalau diri kita sendiri juga butuh terus meningkatkan value diri agar layak mendapatkan pasangan yang baik. Kita terlalu fokus meminta, sampai lupa kalau ada yang harus diberikan.
Berharap dapat pasangan milyader, tapi dirinya sendiri cuma hobi rebahan, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan pekerja keras, tapi dirinya pemalas, ya enggak layak. Berharap dapat pasangan baik hati, tapi dirinya sendiri sifatnya kayak setan, ya enggak layak.
Mungkin akan ada yang berpendapat kalau selama orangnya memiliki paras rupawan, mau pemalas pun pasti bisa mendapatkan pasangan kaya. Namun, perlu diingat kalau orang kaya pasti memiliki standar yang tinggi juga.
Buat apa punya paras yang menarik, kalau value yang lain minus. Pasti ada banyak orang-orang cantik/tampan lain yang value-nya memenuhi standar. Persaingan untuk mendapatkan pasangan di dunia ini keras, jika kita tidak berusaha untuk terus meningkatkan value diri.
Jangan lupa kalau media sosial, termasuk TikTok, adalah platform yang penuh dengan “kosmetik.” Jangan langsung percaya apapun yang dilihat di sana, termasuk para kreator konten yang membuat konten tentang standar pasangan.
Jika kita menelan mentah semua apa kata orang TikTok tentang standar pasangan, alhasil standar kita pun akan menjadi tidak realistis. Ingin pasangan seperti ini itu, sampai lupa kalau setiap manusia itu memiliki plus dan minusnya masing-masing, Kok, enak mau plusnya doang?
Laki-Laki Jarang Mendapatkan Unconditional Love

Karena semua konten yang Penulis temukan membahas tentang bagaimana wanita menggunakan standar TikTok untuk menentukan kriteria pasangan, Penulis jadi ingat quote terkenal dari Chris Rock:
“Only women, children, and dogs are loved unconditionally. A man is only loved under the condition that he provide something.”
“Hanya wanita, anak-anak, dan anjing yang dicintai tanpa syarat. Seorang pria hanya dicintai dengan syarat dia memberikan sesuatu.”
Berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing yang dilakukan orang-orang di media sosial, seringnya memang seperti itu. Seorang pria bisa mencintai seorang wanita tanpa alasan, tapi sulit terjadi sebaliknya. Mungkin ada beberapa anomali, tapi seringnya memang seperti itu.
Contohnya seperti ini. Pria bisa mencintai seorang wanita yang miskin dan menganggur, tapi hal sebaliknya jarang sekali terjadi. Wanita miskin dan nganggur pun mungkin berharap dapat suami mapan untuk mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.
Penulis paham kalau sebenarnya tidak bisa digeneralisir seperti itu. Pria mokondo yang tanpa malu meminta uang ke pihak wanita pun banyak. Namun, di sini fokus Penulis adalah bagaimana “cewek pakai standar TikTok” memiliki begitu banyak persyaratan untuk pasangannya.
Dari dulu, pria memang seolah selalu dituntut untuk memberikan effort lebih untuk wanita. Hal tersebut tampaknya memang sudah menjadi standar sehingga diwajarkan. Penulis sendiri tidak merasa keberatan karena memang itu salah satu “risiko” menjadi seorang pria.
Namun, jika tuntutannya berlebihan, tentu hal tersebut akan memberatkan pihak prianya. Kalau sudah cinta, pria akan seolah rela melakukan apapun untuk wanitanya. Namun, kalau yang dituntut terlalu banyak, lama-lama sang pria pun akan merasa tak mampu untuk memenuhi semuanya.
Penutup
Daripada terus memasang standar yang tidak masuk akal dan mudah memberi red flag untuk hal sepele, ada baiknya kita melakukan interopeksi diri. Daripada cuma menuntut, ada baiknya kita meningkatkan value diri agar sesuai dengan standar yang kita ciptakan sendiri.
Kalau jadi sekadar referensi bagaimana menentukan standar pasangan, TikTok oke, kok. Hanya saja, kalau sampai jadi patokan yang bersifat mutlak, kok, rasanya kurang bijak, ya. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan sang pembuat standar, jadi lebih baik kita buat standar kita sendiri saja.
Kalaupun ada orang yang berlandaskan TikTok dalam menentukan kriteria pasangan, ya sudah biarkan saja. Penulis yakin ada lebih banyak orang yang tidak menggunakan TikTok semata untuk menentukan standarnya.
Lawang, 5 Juni 2024, terinspirasi setelah menemukan banyak sekali komentar mengenai “cewek pakai standar TikTok”
Foto Featured Image: WIRED
Tentang Rasa
Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita
Ketika sedang merasa jatuh cinta ke orang lain, kita seolah memiliki kemampuan untuk melakukan apapun untuknya. Kita rela berkorban banyak hal, dengan harapan semua pemberian dan pengorbanan tersebut akan membuatnya mencintai kita juga.
Sayangnya, dalam hidup tak semuanya selalu bisa seperti itu. Terkadang dalam hidup, kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali tidak memberikan hatinya untuk kita, meskipun sudah banyak hal yang kita lakukan untuk meluluhkan hatinya.
Tentu rasanya menyedihkan sekaligus menyakitkan untuk mengalami hal tersebut. Rasanya tidak ada manusia yang ingin mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, inilah hidup. Inilah kenyataan yang harus kita terima dan hadapi.

Padahal Sudah Banyak Berkorban

Ketika kita sedang mendekati seseorang, tentu ada banyak hal yang harus dikorbankan. Mungkin uang untuk mentraktir makan atau membelikan hadiah, tenaga untuk mengantarnya ke mana-mana, pikiran untuk membantu mengerjakan pekerjaannya, dan lain sebagainya.
Jika pikiran kita transaksional, tentu kita berharap imbalan dari semua yang sudah dilakukan tersebut. Tentu saja yang diharapkan adalah dia mau menerima perasaan kita. Sayangnya, masalah cinta sangat berbeda dengan matematika.
Meskipun kita sudah melakukan banyak hal untuknya, sebenarnya sama sekali tidak ada kewajiban untuk membalas baginya, dalam bentuk apapun. Jika dia memutuskan untuk tidak membalas, ya itu keputusan mereka yang tidak bisa diganggu gugat.
Mungkin kadang kita akan merasa tidak terima, bahkan menganggap dia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih dan hanya memanfaatkan kebaikan kita. Lho, ya salah sendiri, kan keputusan untuk melakukan banyak hal untuknya kan keputusan kita sendiri.
Apa yang kita lakukan untuknya dilakukan dengan kesadaran diri, walau kadang memang “dibodohi” oleh perasaan cinta. Cinta memang bisa membuat orang tolol luar biasa, sehingga tak heran kita jadi punya celah untuk dimanfaatkan oleh orang lain.
Seperti kata alm. Meggy Z melalui lagu “Takut Sengsara”, percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara. Kalau takut cinta kita tidak berbalas meskipun sudah banyak berkorban, ya jangan jatuh cinta dulu.
Apalagi, kalau kita memang sayang ke orang lain, seharusnya kita tidak merasa berkorban seperti kata Sujiwo Tejo. Ketika kita sudah merasa berkorban, mungkin itu artinya kita tidak benar-benar sayang ke orang tersebut.
Perasaan Orang Lain Itu Ada di Luar Kendali Kita

Sebenarnya sangat manusiawi jika kita ingin perasaan kita berbalas. Bahkan, rasanya tidak ada orang yang melakukan PDKT tanpa berharap upayanya berhasil. Namun, perlu diingat kalau hasilnya nanti memang ada di luar kendali kita.
Hasil dari PDKT tentu saja bergantung kepada perasaan orang lain, yang tentu saja juga tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa melakukan apapun untuk berusaha mengubah perasaan tersebut, tetapi hasil akhirnya tetap di luar kendali kita.
Dengan memahami hal ini, kita pun bisa meminimalisir perasaan kecewa ketika perasaan tidak berbalas. Kita jadi menyadari kalau terlepas dari semua hal yang sudah kita lakukan, orang lain berhak untuk menentukan ingin menaruh perasaannya ke siapapun.
Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri, menentukan ingin sampai sejauh apa melakukan sesuatu untuk orang lain yang disayang. Hanya diri kita sendiri yang mampu menentukan sampai sejauh apa batasan ketika sedang memperjuangkan orang lain.
Jika masih mau berjuang mati-matian meskipun sudah mendapatkan respons yang negatif, ya silakan saja. Penulis tidak punya hak untuk melarang siapapun. Hanya saja, melalui tulisan ini Penulis ingin mengingatkan kalau perasaan orang lain itu ada di luar kendali kita.
Lawang, 8 Agustus 2023, terinspirasi setelah menyadari kalau perasaan orang lain itu memang ada di luar kendali kita
Foto Featured Image: Andrea Piacquadio
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga11 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik9 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga9 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
-
Nonfiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless


You must be logged in to post a comment Login