Tokoh & Sejarah
Revolusi karena Pajak
Jika mendengar kata pajak, apa yang akan terbesit pertama kali di pikiran kita? Jawabannya bisa yang standar seperti kewajiban hingga yang anti mainstream seperti dikorupsi.
Sebagai orang awam, kita diberi tahu kalau pajak merupakan salah satu pemasukan negara agar memiliki anggaran.
Pajak juga banyak sekali macamnya, setidaknya di negara kita. Pajak penghasilan, pajak makan, pajak mendirikan bangunan, dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini, pemerintah kerap disorot karena terlihat memungut pajak hampir di segala sektor yang dulunya tidak tersentuh pajak.
Pemerintah pasti punya pertimbangannya sendiri. Hanya saja, jika dilakukan berlebihan juga akan membuat masyarakat merasa gerah.
Di dalam sejarah, setidaknya ada dua revolusi yang dimulai akibat adanya pajak yang menyengsarakan rakyat.
Revolusi Prancis, 1789-1799

Revolusi Prancis (Time Magazine)
Selama berabad-abad, Prancis telah dipimpin oleh Monarki absolut. Sesuatu yang berlangsung secara absolut biasanya akan runtuh, apalagi jika pemimpinnya tidak bisa mengatasi krisis yang sedang melanda negerinya.
Itulah yang terjadi pada Prancis ketika Louis XVI naik takhta. Dari komik biografi Napoleon Bonaparte yang pernah Penulis baca, ia adalah raja yang gemar menggelar pesta dan hidup bermewah-mewahan.
Istrinya, Ratu Marie Antoinette yang terkenal karena kecantikannya, juga merupakan tipe orang yang pemboros dan sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.
Perang melawan Inggris dan upaya membantu Amerika Serikat meraih kemerderkaan sangat merugikan Prancis dari sisi finansial. Apalagi, gaya hidup istana sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rakyatnya yang begitu sengsara.
Solusi apa yang ditawarkan? Menaikkan pajak masyarakat kelas bawah.
Padahal, penerapan pajak di Prancis sudah begitu timpang di mana tekanan terbesar justru diberikan kepada masyarakat miskin. Kaum bangsawan justru mendapatkan banyak keringanan.
Revolusi pun akhirnya dimulai, ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille. Rakyat yang sudah muak dengan monarki yang memimpin mereka mulai bertindak, termasuk memenggal kepala orang-orang istana. Louis XVI dan istrinya yang cantik pun berakhir di guillotine.
Tentu ada banyak penyebab lain yang membuat revolusi ini terjadi, tapi penerapan pajak ke masyarakat kelas bawah menjadi salah satu yang paling utama.
Revolusi Kemerdekaan Amerika Serikat, 1775-1783

Revolusi Amerika Serikat (History)
Tanah Amerika terlihat begitu menjanjikan semenjak Christopher Colombus mendaratkan kakinya di benua ini. Upaya untuk menemukan jalan ke Asia lewat Barat justru membuat bangsa Eropa menemukan dunia baru.
Sayangnya, dampaknya begitu destruktif terhadap penduduk asli Amerika. Perlahan tapi pasti, mereka mulai tergusur oleh bangsa kulit putih yang membawa persenjataan lengkap dan pasukan yang terlatih.
Benua Amerika yang begitu luas menjadi rebutan negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, hingga Spanyol. Mereka mengklaim berbagai wilayah sebagai milik mereka, merebut dari pemilik aslinya dengan berbagai macam cara.
Inggris adalah salah satu negara yang menguasai benua Amerika bagian utara. Mereka kerap berebutan dengan Prancis. Biaya ekspedisi dan perang membuat Inggris mengeluarkan banyak uang dan otomatis membuat mereka mengalami krisis keuangan.
Solusi apa yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris? Menarik pajak rakyat mereka sendiri yang hidup di daerah koloni. Orang Inggris yang berada di Amerika pun tidak menyukai keputusan ini dan mengganggapnya inkonstitusional.
Perlawanan dimulai dari peristiwa Boston Tea Party yang terjadi pada tahun 1773. Peristiwa ini dipicu adanya pajak terhadap teh Britania dan membuat orang-orang koloni membuang semua muatan teh pada kapal Inggris.
Ketegangan semakin berlanjut hingga akhirnya muncul deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang terjadi pada tanggal 4 Juli 1776. Setelah itu, perang pun ters berkecamuk hingga akhirnya Inggris mengakui kedaulatan Amerika Serikat.
Penutup
Penulis jelas tidak berharap kalau di Indonesia akan muncul semacam revolusi karena pemerintah menerapkan kebijakan pajak yang berlebihan. Sampai sekarang semua regulasi masih terlihat masuk akal dan dapat diterima.
Tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita semua kalau kebijakan pajak yang kurang bijak bisa memicu pergolakan di masyarakat. Mungkin tidak seekstrem Revolusi Prancis dan Amerika Serikat, tapi bisa saja terjadi dalam skala yang lebih kecil.
Sejauh kita merdeka, upaya rakyat terbesar untuk menumbangkan rezim otoriter terjadi pada tahun 1998. Setelah itu, kita memasuki era demokrasi yang cenderung lebih aman dan tidak dipimpin oleh pemerintah yang sewenang-wenang.
Atau, benarkah seperti itu?
Lawang, 10 Maret 2021, terinspirasi dari berita-berita seputar pajak
Foto: Culture Trip
Sumber Artikel:
Revolusi Prancis – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Revolusi Amerika Serikat – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tokoh & Sejarah
Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain
Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.
Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!

Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes

Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.
Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.
Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:
- Manusia berlagak seperti anjing pemburu
- Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
- Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya
Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.
“Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.
Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.
Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes

“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!
Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.
Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.
Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”
Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.
Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.
Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.
Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.
***
Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!
Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.
Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.
Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes
Tokoh & Sejarah
Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat
Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi Amerika Serikat (AS) sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni Venezuela dan Iran.
Dengan berbagai dalih, Presiden Donald Trump membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang tahu kalau di balik itu ada kepentingan mereka sendiri.
Oh, jangan lupa dengan gebrakannya yang ingin mengambil alih Greenland dari Denmark, meskipun mereka sama-sama sekutu di bawah bendera NATO. Mungkin wacana tersebut batal, tapi kita bisa melihat “serakus” apa AS di bawah Trump.

Terbaru, Trump juga berencana untuk menyerang Kuba yang berada tepat di selatan wilayah negaranya. United Nations (UN) pun tak terlihat batang hidungnya belakangan ini. Sekadar mengecam pun tidak.
Mungkin kita terkejut dengan keputusan Trump yang terkesan arogan tersebut. Namun, jika menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Trump tersebut memang sudah menjadi semacam “kebiasaan” AS.
Kebiasaan AS Mengurusi Urusan Negara Lain

Jangankan wilayah yang berdaulat, bahkan pulau kecil yang dipenuhi kotoran burung pun sempat menjadi target AS di masa lalu. Ini bukan mengada-ada, karena di tahun 1800-an, mereka berusaha memonopoli pulau-pulau kecil yang merupakan milik Peru.
Penulis mengetahui fakta ini dari video-video dari Johnny Harris. Nantinya, banyak contoh yang Penulis sebutkan di sini bersumber dari videonya. Intinya, mereka bahkan sampai mengancam Peru jika menghalangi bisnis kotoran burung untuk pupuk tersebut.
Menariknya, perkara menguasai pulau penuh kotoran burung tersebut adalah langkah awal AS menuju imperialisme. Namun, di artikel ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Fokus kita adalah melihat intervensi AS ke negara lain di masa lalu.
Guatemala dan Pisang

Di Guatemala misalnya, di mana mereka intervensi karena satu alasan: pisang! Yup, demi mengamankan bisnis pisang mereka di sana (karena buah tersebut sangat populer di AS), mereka terlibat dalam penggulingan kekuasaan pemerintah yang ingin AS tidak memonopoli bisnis pisang di sana.
Mengapa AS sampai melangkah sejauh itu? Karena United Fruit Company, salah satu perusahaan buah terbesar, memiliki seperlima lahan pertanian di negara tersebut! Mereka juga punya infrastruktur lengkap seperti negara di dalam negara dan dukungan militer AS.
Pencaplokan Hawaii dan Gula

Tahu Hawaii, bukan? Negara bagian AS berupa kepulauan di Samudra Pasifik tersebut dulunya merupakan sebuah kerajaan berdaulat yang tiba-tiba dianeksasi seenak udel oleh AS. Penyebabnya? Bisnis gula!
Awalnya, orang-orang kulit putih di sana datang sebagai misionaris untuk menyebarkan agama kristen. Lantas, mereka justru berbisnis dan salah satunya adalah dengan mendirikan industri gula.
Agar lancar, mereka pun membuat gerakan sistematis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (waktu itu dipimpin oleh Ratu Liliuokalani) dan digantikan oleh Sanford Dole yang punya bisnis gula.
Terusan Panama dan Kemerdekaan Panama

Tahu Terusan Panama, bukan? Pada saat pembuatannya di awal 1900-an, Panama masih merupakan wilayah dari Kolombia. Nah, Kolombia menolak pembuatan kanal yang awalnya dikerjakan oleh arsitektur Prancis (walau berakhir gagal).
Sudah ketebak bukan apa yang terjadi selanjutnya? AS memberi dukungan kepada orang-orang Panama (Panamian) untuk merdeka dari Kolombia (termasuk senjata dan tentara), dengan syarat mereka boleh meneruskan pengerjaan Terusan Panama.
Singkat cerita, revolusi tersebut berhasil dan Panama pun menjadi negara merdeka. AS secara sigap menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan mereka. Terusan Panama pun jadi milik mereka hingga akhirnya dikembalikan ke Panama pada tahun 1999.
Contoh-Contoh Lainnya
Di Indonesia sendiri, AS disebut menjadi dalang di balik lengsernya Sukarno yang sudah semakin ke kiri. Di Korea, hari ini ada dua negara (Utara dan Selatan) juga karena andil mereka bersama Uni Soviet.
Mungkin kalau yang lebih baru, adalah ketika mereka meluluhlantakkan Irak dan Libya, yang waktu itu dipimpin oleh Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Mereka dicap persis seperti pemimpin Venezuela dan Iran, yakni tiran yang harus disingkirkan demi “kebaikan rakyatnya”.
Percayalah, contoh-contoh di atas baru sebagian kecil saja. Negara yang satu ini memang hobi intervensi urusan negara orang lain, bahkan semakin parah di bawah kepresidenan Trump.
***
Intervensi AS di Iran disebut bisa memicu Perang Dunia III, yang sudah kerap disebut sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu banyak orang berharap hal tersebut tidak pernah terjadi, mayoritas dari kita hanya ingin hidup dengan damai.
Namun, memang ada pihak-pihak yang rasanya membenarkan peperangan dengan alasan “damai”. Secara ironis, hal ini membuat kita teringat dengan Pain dari serial Naruto Shippuden, yang tujuannya akhirnya memang perdamaian dengan cara kekerasan.
Logika yang digunakan Trump juga sesat. Dengan menggunakan logikanya, negara lain juga berhak menyerang AS dengan alasan Trump telah membuat rakyatnya menderita. Lihat saja kelakuan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang beberapa kali membunuh warga sipil.
Mau sampai kapan ia memutuskan untuk menjadi polisi dunia tanpa dilandasi hukum yang jelas? Penulis benar-benar tidak paham lagi jika sampai ada pemimpin dunia yang memutuskan berada di pihaknya.
Lawang, 11 Maret 2026, terinspirasi setelah teringat bagaimana aksi ikut campur Amerika Serikat sudah dilakukan sejak dahulu kala
Sumber Artikel:
Tokoh & Sejarah
Bagaimana Xbox Beradaptasi Melawan PlayStation dan Nintendo
Kalau berbicara tentang konsol, Penulis pernah memiliki beberapa. Waktu kecil, Penulis memiliki konsol-konsol “murah” yang bisa memainkan banyak game jadul seperti Duck Hunt dan Super Mario Bros.
Saat kelas 5 SD, Penulis tiba-tiba dibelikan PlayStation 1 oleh ayah. Lalu saat lulus dari SD, Penulis membeli PlayStation 2 menggunakan uang sunat. Semenjak itu, Penulis tidak pernah lagi membeli konsol hingga saat ini.
Walau begitu, Penulis tetap mengikuti perkembangan konsol karena memang menyukai sejarah teknologi. Kabar terbaru yang cukup hangat dibicarakan adalah bagaimana menyerahnya Xbox dalam perang konsol dan memutuskan untuk fokus di konten.
Xbox yang Tertinggal Jauh dari PlayStation dan Nintendo
Jika berbicara tentang penguasa pasar konsol di era sekarang, pemain besarnya hanya tinggal tiga perusahaan, yakni Sony melalui PlayStation, Nintendo, dan Microsoft melalui Xbox. Dibandingkan para kompetitornya, umur Xbox memang paling muda.
Karena Nintendo seolah punya “dunianya” sendiri, maka di sini Penulis hanya akan membandingkan Xbox dengan PlayStation. Mari kita bahas dari segi penjualan konsolnya dulu, karena ini berpengaruh pada keputusan yang dibuat Xbox sekarang.

Di pertengahan 90-an, Sony mendobrak pasar yang saat itu diisi oleh Nintendo, Sega, dan beberapa merek lainnya. Melalui PlayStation, Sony dianggap merevolusi industri game modern berkat berbagai terobosannya seperti penggunaan CD, bukan cartridge.
Lantas, di awal 2000-an, Sony merilis penerusnya, PlayStation 2, yang hingga saat ini masih memegang rekor sebagai konsol dengan penjualan tertinggi sepanjang masa. Di saat inilah Microsoft masuk ke industri game dengan merilis Xbox perdana.
Tentu, penjualan Xbox tidak ada apa-apanya dibandingkan PlayStation 2. Seumur hidup, Penulis hanya satu kali melihat Xbox punya teman di Tangerang. Beda dengan konsol PlayStation yang bisa ditemukan di banyak tempat rental.
Nasib Xbox membaik ketika merilis Xbox 360, saat PlayStation meluncurkan PlayStation 3. Jumlah penjualannya hanya selisih tipis. Namun, banyak yang menganggap kalau ini terjadi karena harga PS3 yang terlampau mahal, bukan karena Xbox 360 bagus.
Penulis juga hanya sekali melihat ada orang punya Xbox 360, yakni punya tetangga Penulis yang sesekali membawa konsolnya ke rumah untuk dimainkan bersama. Kalau secara fisik, konsol ini memang memiliki bentuk yang menarik.
Di generasi selanjutnya, Sony meluncurkan PlayStation 4 dan Xbox meluncurkan Xbox One. Pola penamaan Xbox memang sedikit membingungkan, berbeda dengan PlayStation yang berurutan. Sekali lagi, Xbox harus menelan pahitnya kekalahan yang cukup telak.
Seumur-umur, Penulis belum pernah melihat konsol Xbox One. Kalau PS4, teman Penulis ada yang memilikinya, apalagi sudah banyak rental yang menyediakan PS4. Mungkin memang sejarang itu orang memutuskan untuk membeli konsol Xbox, setidaknya di Indonesia.
Untuk konsol generasi terbaru, PlayStation 5 dan Xbox Series X|S, mungkin bisa dibilang menjadi endgame bagi Xbox di perang konsol. Meskipun menggunakan strategi “konsol murah untuk teknologi terbaru” melalui Series S, mereka tetap tak mampu mengalahkan Sony.
Penulis sering main di rental untuk menyewa PS5, teman Penulis ada yang punya Xbox Series S, tapi Penulis belum pernah melihat Xbox Series X secara langsung. Bisa jadi, ini adalah seri Xbox terakhir yang pernah dikeluarkan oleh Microsoft.
Strategi Microsoft Bertahan di Industri Game

Berdasarkan ulasan di atas, bisa dilihat kalau Xbox benar-benar bukan lawan yang sepadan untuk PlayStation. Bahkan, jika dibandingkan dengan Nintendo pun mereka masih kalah, mengingat penjualan Wii dan Switch begitu laris manis di pasaran.
Menyadari kekurangan ini, Xbox pun memfokuskan diri pada konten game. Hal ini bisa dilihat dari betapa agresifnya Microsoft mengakuisisi berbagai developer game, di mana yang paling besar tentu saja ketika mereka mengakusisi Activision Blizzard.
Strategi ini masuk akal, mengingat Sony dan Nintendo juga kerap menggunakan konten yang disajikan untuk menarik minat pemain. Seperti yang kita tahu, ada banyak judul game yang hanya tersedia di platform tertentu.
Contohnya di PlayStation, ada beberapa judul seperti seri Final Fantasy, Spider-Man, God of War, Horizon, hingga The Last of Us. Memang biasanya judul-judul dari seri tersebut akan hadir di PC, tapi biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Nintendo malah lebih unik lagi dengan dunianya sendiri. Sebagai pemilik waralaba Mario, Zelda, hingga Pokemon, mereka secara eksklusif menghadirkan judul-judul tersebut hanya di konsol buatan mereka.
Xbox sendiri sebenarnya dari dulu juga memiliki beberapa waralaba khas mereka, seperti seri Halo dan Forza Horizon. Namun, rasanya mereka merasa kalau itu belum cukup sehingga secara masif mengakuisisi developer game lain.
Selain itu, strategi ini juga dilakukan untuk memperluas perpustakaan konten Xbox Game Pass, layanan subscription yang mereka miliki. Strategi ini juga digunakan oleh PlayStation, tapi tidak dilakukan oleh Nintendo.
Lantas, apakah Xbox jadi akan mengeksklusifkan game-game yang dibuat oleh anak-anak perusahaannya? Rasanya tidak. Contohnya dari seri Call of Duty, pihak Xbox telah menegaskan kalau mereka akan tetap merilis game-game tersebut di PlayStation.
Namun, yang jelas tampaknya laju Microsoft untuk mengakuisisi banyak developer game belum akan berakhir, bahkan akan lebih masif lagi. Jangan heran apabila PlayStation pun berupaya untuk meniru strategi yang diambil oleh Microsoft untuk bertahan di industri game.
Untuk ulasan yang lebih mendalam tentang topik ini, Pembaca bisa membaca tulisan Penulis di tautan yang ada di bawah.
Lawang, 20 September 2024, terinspirasi setelah menonton video ulasan yang membahas tentang strategi Xbox ke depannya
Foto Featured Image: WIRED
Sumber Artikel:
- Xbox Lost the Console War. Now It’s Redefining Gaming. | WSJ The Economics Of – YouTube
- Masa Depan Dunia Game: Perang Konten antar Platform – UP Station
- Kalah Perang Konsol, Xbox Bakal Akuisisi Banyak Perusahaan Game – UP Station
- PlayStation and Xbox: A Report Highlights the Lifetime Global Hardware Sales Data for Both Gaming Consoles – IGN
-
Permainan9 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara10 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga9 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri9 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri9 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Olahraga8 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Sosial Budaya10 bulan agoPolemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi


You must be logged in to post a comment Login