Tokoh & Sejarah
Sejarah Singkat Rasisme di Amerika Serikat
Beberapa hari terakhir ini, media dan publik heboh dengan kasus yang menimpa George Floyd, warga Amerika Serikat berkulit hitam yang kehilangan nyawa akibat perbuatan sewenang-wenang dari aparat kepolisian.
Floyd mendapatkan tuduhan menggunakan uang palsu sehingga dibekap oleh petugas. Hanya saja, caranya keterlaluan hingga yang bersangkutan tidak bisa bernapas dan akhirnya meninggal dunia.
Akibatnya, gelombang protes membara di seluruh Amerika Serikat. Kerusuhan terjadi di mana-mana hingga tak terasa kita sedang menghadapi virus Corona.
Tapi jika menengok sejarah ke belakang, kasus rasisme kepada orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bukanlah hal baru. Ada banyak sekali kejadian yang akan melukai nilai-nilai kemanusiaan.
Masa Perbudakan

Perang Saudara (WBEZ Interactive)
Seperti yang kita ketahui dari banyak referensi sejarah, orang-orang Afro-Americans dibawa ke Amerika sebagai budak. Benua yang baru itu butuh banyak pekerja kasar agar bisa berkembang.
Hal ini telah berlangsung sebelum Amerika Serikat mendeklarasikan kemerdekaannya. Lantas, muncul wacana penghapusan perbudakan di era Abraham Lincoln yang memicu perang saudara.
Pihak Utara adalah yang pro penghapusan perbudakan, sedangkan Selatan ingin mempertahankannya. Setelah perang, pihak Selatan kalah dan perbudakan pun dihapuskan. Lincoln sendiri harus kehilangan nyawa karenanya.
Meski perbudakan telah dihapuskan, kasus rasisme di Amerika tidak hilang sepenuhnya.
Martin Luther King Jr. dan Rosa Parks

Rosa Parks dan Martin Luther King Jr. (Twitter)
Tingginya kasus rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam memunculkan banyak nama tenar yang membela hak -hak sipil mereka. Salah satu yang paling terkenal adalah Martin Luther King Jr.
Pidatonya yang paling terkenal I Have a Dream yang ia bacakan pada tahun 1963. Sayang, pada akhirnya peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut harus mengakhiri hidupnya karena ditembak.
Selain King, salah satu yang paling berbekas di benak Penulis adalah Rosa Parks. Penulis mengetahui kisahnya dari salah satu buku yang Penulis baca, yang sayangnya lupa buku yang mana.
Pada tahun 1955, ia menolak untuk pindah dari kursi busnya yang diklaim sebagai milik orang berkulit putih. Tindakan pembangkangan yang dilakukan oleh Parks menjadi simbol penting dalam pergerakan dalam melawan rasisme.
Sayangnya, bertahun-tahun setelah kematian King dan tindakan heroik Parks, terjadi kasus rasisme yang kurang lebih sama dengan kasus yang menimpa Floyd.
Kerusuhan Los Angeles, 1992

Los Angeles Riots (Britannica)
Rodney King merupakan seorang pria Afrika-Amerika yang sedang menjalani masa percobaan hukuman karena beberapa kasus. Suatu ketika, ia dikejar pihak kepolisian karena melanggar batas kecepatan di jalan tol.
Oleh empat orang dari kepolisian yang menangkapnya, King diserang dengan pistol TASER (semacam senjata stun) dan dipukuli dengan begitu kejamnya.
Kejadian tersebut sempat direkam dan disiarkan ke seluruh dunia. Alhasil, kejadian tersebu memicu kemarahan orang-orang African American yang telah lama mengutuk tindakan rasial yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Mereka menuntut para polisi yang melakukan penganiayaan diadili.
Kasusnya pun dibawa ke pengadilan. Hasilnya? Tidak ada satupun petugas kepolisian yang didakwa bersalah. Hal ini memicu kerusuhan empat hari di Los Angeles. Sebanyak 55 orang tewas, 2.300 terluka, dan lebih dari 1.000 bangunan terbakar. Total kerusakan diprediksi mencapai $1 miliar.
Tahun berikutnya, pengadilan kembali dilakukan di pengadilan federal dan diputuskan dua dari empat petugas yang terlibat dinyatakan bersalah. Sayang, hampir tiga dekade kemudian, kejadian serupa kembali terjadi lagi.
Penutup
Bahkan setelah kematian Floyd, masih banyak tindakan berbau rasial yang dilakukan oleh kepolisian Amerika Serikat. Di Twitter, banyak sekali rekaman video yang menunjukkan hal tersebut. Tidak hanya ke kaum kulit hitam, kekejaman juga dilakukan ke pendemo berkulit lainnya.
Penulis benar-benar tidak menyangka ada manusia yang bisa sesadis dan sekejam itu. Memang tidak semua polisi di sana melakukan tindakan brutal ke para aksi demo. Ada yang bisa menjalankan tugasnya dengan benar dan berhasil mengayomi masyarakat.
Kasus-kasus di Amerika Serikat membuat kita harus berkaca pada diri sendiri, apakah kita tidak seperti mereka? Apakah kita sudah berlaku adil dengan, misalnya, saudara-saudara kita di Papua? Apakah saudara-saudara kita di sana sudah mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya?
Rasanya belum. Kasus terbaru adalah mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih yang dituntut sepuluh tahun penjara dengan tuduhan makar. Mereka dianggap sebagai provokator dalam aksi demo yang berujung ricuh pada tahun kemarin.
Penulis berharap, kita semua bisa memetik pelajaran dari semua kejadian yang memilukan ini.
Sumber Artikel: History, Tempo
Kebayoran Lama, 7 Juni 2020, terinspirasi dari kerusuhan di Amerika Serikat akibat kematian George Floyd
Foto: The New Yorker
Tokoh & Sejarah
Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya
Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.
Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang.
Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.
Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna

Bambang Ekalaya, dikenal juga sebagai Palgunadi, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun.
Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan Resi Dorna, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.
Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.
Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.
Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.
Arjuna pun rewel dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. Ia meminta jempol kanan Ekalaya!
Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.
Pemujaan yang Berujung ke Kematian

Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, Dewi Anggraeni, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.
Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.
Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami.
Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.
Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.
Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!
Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun meminta Cincin Mustika Ampal yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.
Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja. Di mata Ekalaya, ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini.
Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.
“Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat”

Dalam salah satu episode SpongeBob SquarePants yang berjudul “I’m Your Biggest Fanatic”, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau “pemujaan yang berlebihan tidak sehat.” Quote tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.
Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan mindset bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.
Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah karena kemampuannya sendiri, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki privilege seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.
Namun, tampaknya mindset Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.
Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari tokoh politik, pacar, idol K-Pop, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.
Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.
Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa photocard idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.
Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.
Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kฤฑsah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber
Tokoh & Sejarah
Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan
Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.
Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektalย pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.
Penulis memang baru “berkenalan” dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.
Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca

Ketika melihat novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.
Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa “dipeluk” oleh buku ini karena ceritanya yang heartwarming dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).
Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih The Devotion of Suspect X. Penulis benar-benar terkejut dengan plot twist yang ada di buku ini.
Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah A Midsummer’s Equation. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.
Malice menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya reverse psychology di sini.
Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan review-nya di blog ini, yakni Salvation of a Saint (Dosa Malaikat) dan The Newcomer (Pembunuhan di Nihonbashi). Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.
Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo
Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi mengapa pelaku melakukannya. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.
Trik yang digunakan tidak akan se-njelimet cerita-cerita di Detective Conan maupun Sherlock Holmes. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya.
Seringnya, yang menjadi plot twist bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan mengapa hal tersebut dilakukan. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan.
Kritik Penulis hampir di semua artikel review novelnya sama, yakni terkadang proses investigasinya berbelit-belit. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.
Pengecualian jelas terdapat pada Keajaiban Toko Kelontong Namiya, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre slice of life seperti novel ini?
***
Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.
Karya terakhir Keigo yang berjudul Eternal Memory akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.
Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.
Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino
Sumber Artikel:
Tokoh & Sejarah
Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain
Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.
Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.
Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!

Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes

Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.
Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.
Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:
- Manusia berlagak seperti anjing pemburu
- Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
- Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya
Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.
“Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.
Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.
Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes

“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!
Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.
Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.
Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”
Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.
Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.
Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.
Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.
***
Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!
Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.
Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.
Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara11 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga11 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri11 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri11 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Non-Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana



You must be logged in to post a comment Login