Sosial Budaya
Polemik Larangan Berjualan di TikTok Shop
Minggu kemarin, publik dibuat heboh dengan keputusan pemerintah yang melarang adanya kegiatan jual-beli di aplikasi TikTok. Aturan tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang melarang media sosial menjadi social commerce.
Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, seharusnya media sosial sebaiknya hanya berfungsi sebagai media sosial saja, jangan dicampur dengan fungsi lain seperti berjualan. Fungsi media sosial dalam berjualan hanya sebagai sarana promosi semata.
Dengan munculnya peraturan tersebut, tentu timbul pro kontra di masyrakat dan pelaku usaha. Walau kebanyakan bernada sumbang dan tidak setuju dengan keputusan tersebut, tidak sedikit yang mendukung upaya pemerintah tersebut.
BACA JUGA: Ketika Berinvestasi dengan Uang Panas
Ditutup karena Tanah Abang Sepi?

Salah satu dasar mengapa keputusan melarang TikTok Shop melakukan transaksi jual-beli adalah sepinya pasar offline, terutama Tanah Abang. Dilansir dari berbagai sumber, banyak pedagang yang mengeluh kalau dagangannya tidak laku semenjak adanya TikTok Shop.
Hal ini kemungkinan dipicu karena adanya pandemi COVID-19 yang membuat segala aktivitas offline menjadi terbatas, termasuk aktivitas jual-beli. Lantas, muncul platform yang ternyata digandrungi oleh masyarakat berupa TikTok Shop.
Alhasil, meskipun pandemi telah berakhir, masyarakat sudah terlanjur nyaman dengan TikTok Shop karena berbagai alasan, termasuk alasan kepraktisan karena tidak perlu keluar rumah dan harganya yang jauh lebih murah.
Masalahnya, harga yang ditawarkan oleh TikTok Shop memang sering terlampau murah hingga rasanya tidak masuk akal. Sebuah hijab di Tanah Abang dengan harga Rp75 ribu harus bersaing dengan hijab impor di TikTok Shop dengan harga Rp5 ribu saja.
Ada Kaitannya dengan Project S?
TikTok juga mendapatkan tudingan kalau mereka berusaha memonopoli perdagangan di Indonesia dan merusak harga pasar dengan predatory pricing, praktik ilegal untuk merendahkan harga barang untuk menghilangkan persaingan.
Yang paling santer terdengar adalah Project S, di mana TikTok dituduh mengumpulkan data produk yang laris di Indonesia, lantas memproduksinya di China lantas menjualnya di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah.
Pihak TikTok sudah membantah hal tersebut dengan menyebutkan bahwa Project S tidak pernah ditargetkan di Indonesia. Selain itu, mereka juga tidak merasa melakukan monopoli karena tidak memiliki sistem pembayaran dan logistik sendiri.
TikTok juga mengungkapkan kalau mereka tidak bisa menentukan harga pasar yang bisa menyulut predatory pricing. Semua harga yang ada di aplikasi TikTok Shop yang menentukan adalah pihak penjual.
Apakah TikTok Shop Sudah Memiliki Izin?

Alasan lain mengapa akhirnya TikTok Shop dilarang adalah karena masalah izin. Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, TikTok hanya terdaftar sebagai media sosial di Indonesia dan tidak memiliki izin untuk menjalankan toko online.
Wakil Kementerian Perdagangan Jerry Sambuaga juga menegaskan kalau TikTok belum memiliki izin e-commerce. Izin yang sudah dimiliki oleh TikTok adalah izin mendirikan usaha agar bisa beroperasi di Indonesia.
TikTok sendiri telah memberikan pernyataannya dan menyebutkan bahwa mereka telah mengantongi Surat Izin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan Asing Bidang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (SIUP3A Bidang PMSE) dari Kementerian Perdagangan.
Pihak pemerintah sendiri melalui Bahlil secara tegas mengatakan jika TikTok tidak mau ikut aturan, maka mereka harus hengkang dari Indonesia dan izinnya terancam dicabut.
Siapa Saja yang Terdampak?
Pihak TikTok melalui juru bicaranya mengatakan kalau setidaknya akan ada 13 juta pihak yang akan terkena dampak dari pelarangan TikTok Shop ini, yang dibagi menjadi 6 juta penjual lokal dan 7 juta affiliate creator.
Dengan dalih melindungi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), keputusan melarang TikTok Shop untuk berjualan justru dikeluhkan oleh sebagian pelaku. Contohnya adalah pelaku UMKM di Jawa Tengah, yang menuding kalau keputusan ini hanya akal-akalan pemerintah untuk mendapatkan pajak dari TikTok Shop.
Padahal, TikTok Shop bisa digunakan sebagai platform untuk menyalurkan produk mereka secara online. Apalagi, pemerintah belum memberikan alternatif atau solusi setelah mengeluarkan larangan berjualan di TikTok Shop yang sedang ramai.
Mirip dengan Kasus Ojek dan Taksi Online?

Fenomena ini tentu mengingatkan kita atas “duel” antara ojek/taksi online melawan ojek/taksi offline. Transportasi online yang sedang booming dan menjadi pilihan masyarakat membuat transportasi perlahan ditinggalkan, sehingga para driver pun tidak mendapatkan penghasilan.
Setelah ada demo besar-besaran, akhirnya pemerintah mengeluarkan beberapa regulasi untuk mengatur transportasi online, seperti menentukan tarif dasar agar harga transportasi offline bisa bersaing.
Kasus TikTok Shop ini pun memiliki pola yang sama, di mana ada suatu sistem yang mampu mendisrupsi sistem yang lama. Offline digantikan online, yang mampu memberikan kenyamanan ekstra dan harga yang jauh lebih terjangkau.
Bagaimana dengan Negara Lain?
Sebenarnya bukan hal baru jika ada yang melarang TikTok Shop beroperasi di negaranya. Dilansir dari akun Instagram @ngomonginuang, India dan Pakistan bahkan melarang TikTok secara keseluruhan. Selain itu, Uni Eropa juga memberlakukan pelarangan penggabungan data media sosial dan e-commerce.
Ada beberapa negara yang mengizinkan TikTok Shop beroperasi di dalam aplikasi TikTok, seperti Amerika Serikat yang baru diresmikan pada tanggal 12 September 2023 kemarin. Inggris pun juga memberikan izin yang sama.
Sebagai perbandingan, aplkasi Instagram pun memiliki fitur Shop di dalam aplikasinya. Bedanya, fitur tersebut hanya mengarahkan pengguna ke laman penjualannya seperti website atau marketplace, sehingga di dalam aplikasi tidak ada transaksi apapun.
Apakah Ini Keputusan yang Tepat?

Meski Peraturan Kementerian Perdagangan telah resmi berjalan, pada praktekknya masih banyak masyarakat Indonesia yang masih berjualan di TikTok Shop. Platform tersebut masih bisa berfungsi seperti biasa.
Kalau menurut pendapat Penulis sendiri, ada banyak sudut pandang untuk menilai fenomena ini. Jika berasumsi bahwa pemerintah benar dan TikTok memang belum punya izin sebagai e-commerce, maka keputusan untuk melarang pun jadi tepat.
Namun, tentu pemerintah juga harus mampu menghadirkan solusi untuk pihak-pihak yang terdampak. Total 13 juta orang jelas bukan jumlah yang sedikit, dan mereka tentu harus menanggung kerugian karena tidak bisa menjual produk mereka di TikTok Shop lagi.
Pemerintah juga harus lebih tegas dalam membatasi produk impor yang masuk ke dalam Indonesia. Rendahnya harga barang di TikTok Shop tentu perlu dicurigai, jangan-jangan masuknya secara ilegal sehingga tidak membayar bea cukai.
Masyarakat pada umumnya jelas memilih produk yang lebih murah, tak peduli itu barang impor maupun buatan dalam negeri. Ini juga menjadi tantangan untuk UMKM agar bisa menghadirkan barang berkualitas dengan harga yang bersaing.
Jika melihat tujuannya untuk melindungi UMKM, rasanya penutupan TikTok Shop kurang tepat (dengan asumsi mereka telah memiliki izin) karena platform tersebut justru bisa dimanfaatkan untuk memasarkan produk mereka.
Logikanya, dengan berjualan online di TikTok Shop, maka para pelaku usaha tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa lapak untuk menampilkan produk-produk mereka. Mereka bisa berjualan dari rumah dan memasarkan produknya langsung ke calon-calon pembeli.
Para pelaku UMKM pun harus menyadari kalau disrupsi itu bisa terjadi di segala bidang, termasuk berdagang. Sama seperti taksi konvensional yang perlahan digantikan taksi online, toko konvensional pun sangat mungkin tergusur oleh toko online.
Dengan adanya perubahan yang begitu masif di era digital ini, kita yang harus mampu beradaptasi dengan keadaan. Jika tren belanja masyarakat telah bergeser, maka para pelaku usaha pun harus menyesuaikan diri dengan tren tersebut agar bisa bertahan.
Lawang, 2 Oktober 2023, terinspirasi setelah mendengar kabar mengenai ditutupnya TikTok Shop oleh pemerintah karena beberapa alasan
Foto Featured Image: Search Engine Land
Sumber Artikel:
- Tiktok Shop Masih Bisa Dipakai Jualan atau Tidak? Ini Batas Waktunya – Bisnis Tempo.co
- Ngomongin Uang (@ngomonginuang) • Instagram photos and videos
- Pelaku UMKM Keluhkan Larangan Berjualan di Tiktok Shop, Tuding Akal-akalan Pemerintah Pungut Pajak – Tribunbanyumas.com (tribunnews.com)
- Pasar Tanah Abang Makin Sepi, Konsumen Curhat Soal Parkir Liar di Sana: Ada Oknum yang Narikin… – Suara Merdeka
- Kritik Bahlil dan Luhut ke TikTok Shop usai Larangan Jualan-Transaksi (cnnindonesia.com)
- Akui Punya Izin E-Commerce, Ini Bantahan TikTok Sebelum Dilarang Jokowi Berjualan – Bisnis Tempo.co
- Kemendag Bantah TikTok Punya Izin E-commerce (kompas.com)
Sosial Budaya
Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain
Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.
Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.
Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.
Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.
Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.
Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.
Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.
Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.
Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.
Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.
Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.
Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”
Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.
Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.
Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.
Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan
Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.
Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.
Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.
Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.
Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?
Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini
Sosial Budaya
Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang
Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.
Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.
Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.
Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.
Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.
Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.
Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.
Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.
Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.
Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.
Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.
Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.
Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.
Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.
Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.
Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.
Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.
Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!
Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum
Sosial Budaya
Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)
Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.
Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.
Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.
Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.
Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.
Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.
Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.
Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.
Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.
Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.
Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.
Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.
Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,
Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”
Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.
Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”
Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?
Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.
Padahal ya Belum Tentu Benar

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.
Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.
Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.
Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.
Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).
Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?
Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?
Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?
Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?
Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.
***
Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.
Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.
Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.
Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo
-
Produktivitas11 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik11 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga11 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Nonfiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory


You must be logged in to post a comment Login