Permainan
Koleksi Board Game #14: Kakartu Se-kata
Sampai koleksi board game yang ke-13 (Coup), semua merupakan produksi luar semua. Padahal, di Indonesia sendiri sudah banyak board game lokal yang sebenarnya tidak kalah menarik untuk dimainkan bersama-sama.
Penulis pernah memainkan beberapa yang kebetulan Pandu punya, seperti Waroeng Wars dan Laga Jakarta. Namun, bukan board game lokal tersebut yang Penulis miliki duluan, melainkan Sekata yang relatif lebih baru.
Dengan harga yang sangat ekonomis, board game ini cukup menantang pemain dalam jumlah kosa kata yang dimilikinya. Lantas, apakah board game ini bisa membantah kalau bahasa Indonesia itu miskin kosa kata?
Detail Board Game
- Judul: Kakartu Se-kata
- Desainer: Abraham Putra
- Publisher: Ennoia Games
- Tahun Rilis: 2021
- Jumlah Pemain: 3-10 pemain
- Waktu Bermain: 5-15 menit
- Rating BGG: –
- Tingkat Kesulitan: –
- Harga: Rp100.000
Cara Bermain Kakartu Se-kata
Dilihat dari kotaknya yang mungil, bisa ditebak kalau komponen yang dimiliki oleh Sekata sangat sederhana karena memang hanya terdiri dari kartu-kartu. Ada 102 kartu berwarna merah muda, 13 kartu berwarna kuning, 10 kartu berwarna hijau, dan 3 kartu kosong.
Setiap kartu yang berwarna merah muda berisi satu suku kata (bisa vokal saja, bisa gabungan konsonan dan vokal) seperti Ka dan Ta. Untuk kartu kuning/hijau, yang merupakan kartu bantu, seringnya berisi satu konsonan yang bisa digunakan oleh semua pemain.
Di awal permainan, masing-masing akan mendapatkan 10 kartu berwarna merah muda secara acak. Lalu, jejerkan tiga kartu kuning di tengah arena. Kartu kuning ini bisa digunakan oleh semua pemain kapan saja ketika mereka membutuhkan bantuan huruf yang tertera di sana.
Untuk kartu hijau sendiri sebenarnya memiliki efek yang sama dengan kartu kuning. Bedanya, kartu hijau dipegang oleh masing-masing pemain. Jujur, Penulis baru menyadari aturan ini ketika menulis artikel ini. Sebelumnya, Penulis mencampurnya dengan kartu kuning.
Permainan akan dimulai ketika satu kartu merah muda dari deck akan muncul ke arena. Pemain harus bisa membuat kata menggunakan kartu yang ada di tangannya (boleh di depan ataupun di belakang) dan boleh menggunakan bantuan kartu kuning jika diperlukan.
Nah, kartu yang diturunkan oleh pemain tersebut akan menjadi suku kata selanjutnya dalam permainan. Jika tidak ada pemain yang bisa membuat kata, maka boleh mengeluarkan satu kartu dari deck.
Secara aturan resmi, sebenarnya pemain yang sudah berhasil menyusun kata tidak boleh mengeluarkan kartu lagi hingga ada pemain lain yang berhasil menyusun kata. Namun, aturan ini sebenarnya fleksibel saja, jadi kalau mau cepat-cepatan habis juga tidak masalah.
Permainan akan berakhir jika ada satu pemain yang berhasil menghabiskan kartu tangannya. Namun, seperti dalam permainan UNO!, jika mau mengubah aturannya hingga ada satu orang terakhir yang kalah agar mendapatkan hukuman juga sah-sah saja, kok.
Setelah Bermain Kakartu Se-kata

Meskipun Kakartu Se-kata terdengar memiliki gameplay yang sangat sederhana, sejujurnya permainan ini benar-benar menarik dan kompetitif. Ketika membawa board game ini ke acara outing kantor, rekan-rekan Penulis seperti kecanduan memainkannya.
Tentu pemain dengan kosa kata yang luas akan memiliki keunggulan dalam permainan. Namun, itu saja tidak cukup karena kita juga membutuhkan kecepatan agar bisa mendahului pemain lain.
Yang lucu adalah ketika mengalami kebuntuan, beberapa pemain akan mencoba “mengarang bebas” dan membuat kosa kata yang terdengar asing. Kalau sudah begitu, KBBI pun akan keluar untuk membuktikan apakah kata tersebut benar-benar ada atau tidak.
Biasanya, jika ternyata kata tersebut tidak ada dalam KBBI, maka hukuman yang akan didapatkan oleh pemain adalah mereka harus menarik satu tambahan kartu dari deck, yang tentunya akan memperbanyak jumlah kartu tangan mereka.
Jika disuruh menyebutkan kekurangannya, mungkin replaybility-nya yang kurang karena gameplay-nya yang sederhana memang membuatnya menjadi cukup monoton. Bagi pemain board game veteran, jelas tidak akan merasakan keseruan dari board game ini.
Lantas, apakah board game ini bisa mematahkan pendapat mengenai kosa kata bahasa Indonesia yang sedikit? Sayangnya tidak bisa, karena ada keterbatasan di mana kata yang dibuat hanya bisa terdiri dari dua suku kata. Kata seperti Ko-Rup-Si saja tidak bisa dibuat.
Sampai artikel ini ditulis, Kakartu Se-kata masih menjadi satu-satunya board game lokal yang Penulis miliki. Penulis masih belum menemukan board game lokal lain yang berhasil mendorong Penulis untuk membelinya. Semoga suatu saat nanti ada, aamiin.
***
Setelah ini, Penulis akan membahas mengenai board game yang bertemakan heist dan bisa dimainkan untuk mengajak ribut pemain lain. Board game ini bisa dibilang cukup jarang yang menjual, sehingga Penulis harus membelinya dari Jakarta. Board game tersebut adalah Bahamas.
Lawang, 20 April 2024, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri artikel board game
Permainan
Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game
Dulu waktu masih kerja di tempat lama, teman Penulis yang bernama Pandu berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia board game. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli board game karena harganya yang lumayan mahal.
Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor board game. Meskipun work from home (WFH) hingga hari ini, Penulis pernah beberapa kali datang ke kantor yang terletak di daerah Tangerang.
Nah, atasan Penulis ini sering membawa board game-nya untuk dimainkan ketika waktu istirahat kerja. Salah satu yang pernah dibawa dan berhasil membuat Penulis tertarik untuk memilikinya adalah Camel Up: The Card Game, yang akan Penulis bahas kali ini.
Detail Board Game Camel Up: The Card Game
- Judul: Camel Up: The Card Game
- Desainer: Steffen Bogen
- Publisher: Pretzel Games
- Tahun Rilis: 2023
- Jumlah Pemain: 2 – 6 pemain
- Waktu Bermain: 30 – 45 menit
- Rating BGG: 6,8
- Tingkat Kesulitan: 2,06/5
- Harga: Rp250.000
Cara Bermain Camel Up: The Card Game

Di antara board game Penulis lain yang berukuran serupa, Camel Up: The Card Game bisa dianggap yang persiapannya paling ribet karena komponennya lumayan banyak. Yang jelas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menata kartu arena balapannya secara berurutan, yang tergantung jumlah pemain.
Setiap pemain akan mendapatkan 3 Egyptian Pound, 1 token Fennec, dan 1 token Shortcut. Setelah itu, jejerkan kartu bidding di dekat semua pemain. Ada beberapa jenis kartu bidding yang bisa diambil pemain setiap putaran, yakni:
- Final Betting Overall Winner Card: Memilih unta yang akan finis pertama ketika Race berakhir
- Final Betting Overall Loser Card: Memilih unta yang akan finis terakhir ketika Race berakhir
- Leg Betting Winner Card: Memilih unta yang unggul di tiap Leg dengan jumlah koin yang berbeda-beda, termasuk juga Leg Betting Midfield Cards yang memilih unta yang berada di posisi ke-3
Akan ada 5 unta yang turut serta dalam balapan dan akan mulai dari belakang garis Start (kartu arena nomor 1), serta 1 unta gila yang berwarna hitam yang akan diletakkan pada kartu arena nomor 7. Di awal balapan, buka lima kartu untuk menentukan posisi awal unta.
Setiap pemain nanti akan mendapatkan kartu unta secara acak (baik warna maupun berapa langkah ia akan melangkah), lantas memilih beberapa untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck dan satu kartu untuk diletakkan di depan.
Tergantung jumlah pemain, ada juga beberapa kartu tambahan secara acak yang akan ditambahkan ke Racing Deck. Tak hanya itu, kita juga akan memilih dua kartu unta yang berwarna hitam untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck.
Setelah itu, permainan pun bisa dimulai. Dimulai dari pemain pertama, ia bisa memilih beberapa aksi untuk dilakukan, yakni:
- Memainkan token Fennec atau Shortcut
- Membuka kartu teratas dari Racing Deck
- Memainkan kartu yang ada di depan kita atau membeli kartu pemain lain seharga 1 koin
Setelah memilih salah satu aksi di atas, pemain bisa mengambil satu kartu Betting, baik Leg Betting Card maupun Final Betting Card. Untuk kartu Final Betting, baik Winner maupun Loser, pemain hanya bisa mengambil satu per jenisnya. Jadi, kita tidak boleh menjagokan dua unta untuk menjadi juaranya.
Leg akan berakhir ketika Racing Deck habis. Jika Leg berakhir, maka setup akan diulang lagi dari awal dan Leg berikutnya pun dimulai. Permainan pun akan terus berlangsung hingga salah satu unta berhasil melintasi garis finis.
Ada beberapa detail peraturan lain yang belum Penulis sebutkan, tapi secara garis besar seperti itulah cara bermain Camel Up: The Card Game. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki koin terbanyak di akhir permainan.
Setelah Bermain Camel Up: The Card Game

Camel Up adalah salah satu board game yang menarik perhatian Penulis karena konsep “taruhan” yang diusung. Penulis bahkan pernah memainkan versi aslinya yang seharga Rp700 ribu-an dan memang seseru itu.
Nah, Camel Up: The Card Game adalah versi budget yang lebih ramah kantong. Meskipun mekanismenya jauh berbeda, inti dari permainannya berhasil dipertahankan dengan baik, sama-sama push your luck.
Namun, tingkat ke-random-an versi kartunya bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan aslinya yang menggunakan dadu. Pasalnya, pemain bisa memilih kartu apa yang akan muncul di racing deck, sehingga setidaknya bisa menebak beberapa unta yang akan keluar.
Dengan demikian, kita bisa memilih strategi apa untuk bisa mendapatkan uang terbanyak. Misal, kita ingin unta ungu kalah, maka kita tidak akan memainkan kartu unta ungu. Contoh lain, kita tidak ingin unta kuning menang, maka kita akan membuang kartu unta ungu.
Strategi ini terasa makin deep karena kartu bidding-nya sangat bervariasi. Kita tidak hanya memilih mana unta yang akan menang, tapi juga bisa memilih unta yang akan kalah maupun berada di urutan 2 hingga 4, walau uang yang didapat relatif lebih sedikit.
Hanya saja, Penulis merasa dua token Fennec dan Shortcut terasa kurang berguna. Selain karena pemain terlalu fokus dengan unta yang sedang balapan, token yang sudah dipasang justru jarang kena ke untanya. Setidaknya, itu yang Penulis rasakan selama bermain board game ini.
Tidak hanya itu, peran unta gila di sini juga terasa kurang signifikan. Mungkin, karena ia naik ke atas unta (bukan ke bawahnya), jadinya jarang ada unta yang berada di atasnya. Ini berbeda dengan versi aslinya yang entah mengapa lebih mudah berada di atas unta hitam.
Untuk kualitas komponennya, unta-untanya terasa sangat solid dan begitu enak ketika digerakkan. Koinnya juga terasa cukup solid, mirip dengan kualitas koin dari Machi Koro 2. Kartunya standar saja, tapi cukup tebal agar tidak mudah tertekuk.
Yang jelas, Camel Up: The Card Game adalah versi singkat dari Camel Up yang cocok untuk dibawa ke tongkrongan karena ukurannya yang mungil. Hanya saja, board game ini butuh meja yang cukup luas karena arena balapannya cukup memakan ruang.
SKOR: 7/10
Seingat Penulis, ada jeda cukup panjang untuk membeli board game lagi setelah Penulis membeli Camel UP: The Card Game. Pilihan Penulis jatuh kepada board game lokal yang sebelumnya telah Penulis pernah mainkan: Waroong Wars!
Lawang, 7 September 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seriย board gameย ini
Permainan
Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game
Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia.
Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama Flying Tiger Copenhagen. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis menyukai benda-benda yang unik.
Di sanalah Penulis menemukan sebuah board game kecil bernama Vendespil Memory Game. Ukurannya mini, hanya segenggaman tangan. Harganya pun murah, kalau tidak salah waktu itu Rp60 ribu atau Rp80 ribu. Untuk itu, Penulis pun membelinya.
Detail Board Game Vendespil Memory Game
- Judul: Vendespil Memory Game
- Desainer: ?
- Publisher: ?
- Tahun Rilis: ?
- Jumlah Pemain: Berapa aja boleh
- Waktu Bermain: Tergantung yang main
- Rating BGG: –
- Tingkat Kesulitan: –
- Harga: Rp60.000-Rp80.000
Cara Bermain Vendespil Memory Game

Sesuai namanya, ini adalah permainan daya ingat di mana kita harus mencocokkan gambar yang sama. Kebetulan, yang satu ini temanya adalah bendera negara. Total ada 68 kartu, yang artinya ada 34 bendera berbeda di mana mayoritasnya adalah negara Eropa.
Di awal permainan, kocok semua kartu dan letakkan secara tertutup semua kartunya. Secara bergiliran, setiap pemain akan membuka dua kartu pilihannya. Apabila kartu yang dibuka berbeda, kembalikan ke posisi menghadap bawah. Jika sama, ambil dan letakkan di dekat pemain untuk scoring nanti.
Peraturannya bisa berbeda-beda tergantung bermain dengan siapa, karena permainan ini bebas menggunakan house rule seperti apa pun. Kalau Penulis, pemain akan berkesempatan untuk memilih lagi apabila berhasil mendapatkan pasangan kartu yang sama.
Peletakkan kartu pun bebas, tidak ada aturan baku yang menentukan seperti apa posisi kartunya. Mau dibaris rapi biar gampang ingatnya, boleh. Mau diacak biar lebih menantang, juga boleh.
Pemain dengan jumlah pasangan kartu terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya. Kalau seri, anggap saja menang bersama. Kurang lebih seperti itulah cara bermain Vendespil Memory Game yang sangat sederhana.
Setelah Bermain Vendespil Memory Game

Awalnya, Penulis ragu-ragu mau memasukkan board game ini ke dalam daftar koleksi yang ingin dibuat tulisannya. Rasanya sama seperti memasukkan catur ke dalam daftar. Hanya saja, setelah melalui berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap menuliskannya.
Sewaktu kecil, Penulis memiliki permainan serupa. Ukuran kartunya pun mirip, kotak dengan sudut yang sedikit melengkung. Kartu ini memiliki warna belakang biru dan di depannya dominan putih dengan berbagai gambar.
Nah, gambar-gambarnya inilah yang sangat Penulis ingat. Salah satu alasannya adalah adanya gambar Lucky Luke. Bisa dibilang, inilah pertemuan Penulis pertama dengan koboi tersebut.
Gambar lainnya adalah astronot dan berbagai macam hewan, dengan dominasi warna karakternya adalah kuning, biru, merah, dan hijau. Intinya, permainan ini sangat memorable bagi Penulis, sehingga permainan memori seperti ini tetap Penulis gemari hingga sekarang.
Oleh karena alasan sentimental tersebut, Penulis memutuskan untuk menulis tulisan ini. Memang tidak banyak yang bisa dibahas dari permainan sejuta umat seperti ini, tapi Penulis tetap menginginkannya.
Case dari permainan ini terbuat dari bahan semacam kaleng yang solid, walau minusnya mudah meninggalkan bekas gores terutama di bagian bawah. Kualitas kartunya sendiri bagus, berbahan kertas yang tebal dan licin. Gambar benderanya jelas, yang dilengkapi dengan informasi nama negara dan ibukotanya.
Vendespil Memory Game seru untuk dimainkan ramai-ramai, tapi juga bisa dimainkan sendirian di kala sedang tidak ada kegiatan lain. Ukurannya yang kecil membuat mobilitasnya sangat tinggi dan mudah dibawa ke tongkrongan.
Skor: 7/10
Setelah ini, Penulis akan membahas sebuah board game dengan tema perjudian. Tentu, bukan uang sungguhan yang digunakan di sini. Kita akan melihat pacuan unta (bukan kuda) dan bertaruh unta mana yang akan keluar sebagai juara. Board game tersebut adalah Camel Up The Card Game.
Lawang, 20 Juli 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game
Permainan
Koleksi Board Game #33: King of Tokyo: Duel
Selain membeli Splendor Duel sewaktu jalan-jalan ke Grand Indonesia (GI), Penulis juga membeli satu lagi board game bertema “duel” untuk dimainkan dua orang, yakni King of Tokyo: Duel. Sebenarnya, Penulis tidak berencana membelinya. Namun, karena terlihat menarik, Penulis memutuskan untuk membelinya sekalian.
Penulis tidak punya King of Tokyo versi besarnya, tapi punya King of New York yang Penulis beli second. Jadi, mekanisme dasarnya pun Penulis sudah mengerti, meskipun di sini ada sedikit perbedaan yang mudah untuk dipelajari.
Jika dibandingkan dengan Splendor Duel yang lebih “damai” karena hanya rebutan resource, King of Tokyo: Duel jelas lebih rusuh dan memang harus saling senggol antarpemain. Apalagi, cara untuk menangnya ada beberapa cara!
Detail Board Game King of Tokyo: Duel
- Judul: King of Tokyo Duel
- Desainer: Richard Garfield
- Publisher: IELLO
- Tahun Rilis: 2024
- Jumlah Pemain: 2 pemain
- Waktu Bermain: 20 menit
- Rating BGG: 7,1
- Tingkat Kesulitan: 2,08/5
- Harga: Rp350.000
Cara Bermain King of Tokyo: Duel

Mengingat King of Tokyo: Duel memiliki cukup banyak komponen permainan, Penulis akan coba bahas satu per satu secara umum. Tidak terlalu mendetail, tapi cukup untuk mendapatkan gambaran bagaimana permainannya berjalan.
Karakter-Karakter di King of Tokyo: Duel
Permainan dimulai dengan memilih karakter yang akan digunakan. Tidak ada cara tertentu untuk menentukan siapa yang memilih karakter duluan. Total, ada 6 karakter yang bisa dipilih oleh pemain, dengan masing-masing memiliki kemampuan yang unik.
Nah, ini salah satu hal yang membedakan King of Tokyo: Duel dengan versi orisinalnya, di mana karakternya tidak memiliki kemampuan spesial. Nyawa tiap karakter pun berbeda-beda. Keenam karakter yang bisa dipilih oleh pemain adalah:
- Gigazaur (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menarik marker Fame maupun Destruction dengan menggunakan setidaknya dua dadu [!]
- Alienoid (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menggunakan 2-3 dadu [!] untuk menjadi simbol dadu apa pun
- Space Penguin (Nyawa 13 | Kesulitan 2): Bisa menghasilkan token dadu untuk mendapatkan dadu tambahan untuk setiap dadu [!]
- Meka Dragon (Nyawa 12 | Kesulitan 2): Bisa mengalikan dadu Smash sebanyak jumlah dadu [!] yang muncul
- Cyber Kitty (Nyawa 13 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dadu [!] untuk mendapatkan cube untuk membeli kartu Power
- The King (Nyawa 15 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dua dadu [!] untuk meletakkan token Buzz yang akan menghambat pergerakan marker Fame maupun Destruction ke area lawan
Penjelasan Dadu King of Tokyo: Duel
Nah, mungkin Pembaca akan kebingungan membaca deskripsi kemampuan di atas, karena Penulis belum menjelaskan dadu yang digunakan di board game ini. Sama seperti versi orisinalnya, ada enam dadu utama yang digunakan tiap ronde, tapi mata dadunya sedikit berbeda.
Berikut penjelasan untuk setiap mata dadunya:
- Smash (bergambar cakar): Mengurangi nyawa lawan (satu serangan per dadu Smash)
- Heal (bergambar hati): Menambah nyawa kita sendiri (satu heal per dadu Heal)
- Energy (bergambar petir): Memberi kita satu cube Power yang bisa digunakan untuk membeli kartu Power (satu cube per dadu Energy)
- Fame (bergambar bintang): Untuk setiap tiga dadu Fame, gerakkan marker Fame di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
- Destruction (bergambar gedung hancur): Untuk setiap tiga dadu Destruction, gerakkan marker Destruction di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
- Special Power (bergambar tanda seru [!]_: Mengaktifkan kemampuan spesial karakter, seperti yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya
Peraturan mengocok dadu pun sama seperti versi orisinalnya, di mana pemain memiliki kesempatan untuk melakukan reroll hingga dua kali untuk mengganti mata dadu yang tidak diinginkan. Ada dua dadu tambahan, yang bisa digunakan jika mengaktifkan efek kartu atau karakter tertentu.
Penjelasan Kartu Power King of Tokyo: Duel
Sekarang Penulis akan membahas tentang kartu Power. Di King of New York yang Penulis miliki, salah satu kesulitan dalam membeli kartu adalah harganya yang mahal. Apalagi kalau mau membuang semua pilihan kartu yang ada, harus membuang dua cube Power.
Mekanik tersebut sedikit diperbaiki di King of Tokyo: Duel. Pertama, jika tidak melakukan pembelian, kita otomatis mendapatkan satu tambahan cube. Kedua, kartu yang terletak di sebelah paling kanan (total 3 kartu yang bisa dibeli pemain) selalu lebih murah 1 cube.
Jenis kartunya pun masih sama, di mana dibagi menjadi Keep (aktif terus selama permainan berlangsung) dan Discard (hanya aktif sekali). Beberapa kartu memiliki simbol tertentu, yang akan mengaktifkan token untuk ditempatkan di papan permainan.
Cara Menang di King of Tokyo: Duel
Di King of New York, cara memenangkan permainan adalah dengan mengurangi semua nyawa pemain lain atau mencetak skor Fame hingga 20. Nah, kalau di King of Tokyo: Duel, ada tiga cara untuk menang, yakni:
- Nyawa lawan mencapai angka 0
- Kedua marker Fame maupun Destruction berada di Spotlight Zone kita (di papan akan ada bagian yang terlihat seperti disorot lampu)
- Salah satu antara marker Fame maupun Destruction berada di space Victory kita (space paling dekat dengan kita)
Jadi, pemain akan memulai permainan dengan memilih karakter, lalu mengocok dadu setiap giliran mereka, dengan kesempatan reroll hingga dua kali. Setelah itu, masing-masing akan mengandalkan strategi (dan tentunya keberuntungan) untuk bisa meraih kemenangan dengan salah satu cara di atas.
Setelah Bermain King of Tokyo: Duel

Bisa dibilang, King of Tokyo: Duel adalah board game yang mengusung mekanisme tug-of-war alias tarik tambang. Kedua pemain akan saling berusaha menarik marker untuk berada di wilayahnya, baik Fame maupun Destruction.
Tentu, ada sentuhan keberuntungan lemparan dadu yang sudah jadi ciri khas waralaba ini. Meskipun ada kesempatan reroll hingga dua kali, tetap saja kita tidak selalu berhasil mendapatkan mata dadu yang kita butuhkan.
Jika dibandingkan dengan King of New York maupun King of Tokyo versi aslinya, jelas King of Tokyo: Duel memiliki durasi bermain yang relatif cepat. Satu kali duel mungkin hanya butuh waktu 15 hingga 20 menit, sehingga pas dimainkan sembari menanti giliran main EA Sports FC 26.
Adanya cube Power gratisan dan pengurangan cost membuat pembelian kartu Power lebih terjangkau. Walau begitu, bisa dibilang kartu-kartu ini tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan. Masalah serupa juga Penulis temukan di King of New York.
Satu hal yang sangat Penulis sukai dari King of Tokyo: Duel adalah karakternya yang masing-masing memiliki kemampuan unik. Apalagi, skill mereka juga cukup overpowered sehingga pemilihan karakter bisa menentukan pemenang permainan.
Untuk harganya yang 300 ribuan, komponen-komponen yang dimiliki oleh board game ini terbilang solid. Baik papan permainan, token, papan karakter, piringan yang mengindikasikan nyawa kita, hingga dadu memiliki kualitas yang sepadan dengan harganya. Mungkin ketebalan kartunya saja yang menurut Penulis terlalu tipis.
Desain kartu, papan permainan, dan karakter-karakter yang bisa kita gunakan juga mempertahankan ciri khas dari waralaba ini. Penulis sendiri menyukai desain rulebook-nya yang mirip desain cover majalah.
Sepanjang permainan, Penulis merasakan tekanan dalam menentukan jalur strategi mana yang harus diambil untuk meraih kemenangan. Menarik marker ke wilayah kita tak semudah yang terlihat. Mau menghabisi nyawa lawan juga ada dadu Heal.
Namun, itulah salah satu faktor yang membuat board game ini terasa seru dan intens seperti bermain catur. Langkah demi langkah harus dipikirkan secara matang, sembari memantau strategi yang dipilih oleh lawan.
Sama seperti Splendor Duel, entah mengapa Penulis justru jarang menang ketika bermain King of Tokyo: Duel. Padahal, kan Penulis yang menjelaskan peraturannya kepada teman-teman Penulis.
Skor: 8/10
Setelah ini, rasanya board game yang satu ini akan jadi tulisan terpendek dalam seri Koleksi Board Game. Pasalnya, ini adalah permainan yang paling gampang penjelasannya dan semua orang bisa memainkannya dengan mudah. Kebetulan, Penulis juga membelinya di GI. Board game tersebut adalah Vendespil Memory Game.
Lawang, 2 Juni 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
-
Permainan12 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Pengembangan Diri12 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Nonfiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Olahraga12 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri12 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Produktivitas9 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga11 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana




You must be logged in to post a comment Login