Connect with us

Tokoh & Sejarah

Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya

Published

on

Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.

Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang.

Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.

Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna

Bambang Ekalaya dan Patung Dorna (Wikipedia)

Bambang Ekalaya, dikenal juga sebagai Palgunadi, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun.

Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan Resi Dorna, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.

Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.

Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.

Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.

Arjuna pun rewel dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. Ia meminta jempol kanan Ekalaya!

Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.

Pemujaan yang Berujung ke Kematian

Bambang Ekalaya (Salam Yogyakarta)

Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, Dewi Anggraeni, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.

Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.

Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami.

Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.

Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.

Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!

Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun meminta Cincin Mustika Ampal yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.

Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja. Di mata Ekalaya, ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini.

Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.

“Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat”

Patrick Sedang Menasehati SpongeBob (YouTube)

Dalam salah satu episode SpongeBob SquarePants yang berjudul “I’m Your Biggest Fanatic”, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau “pemujaan yang berlebihan tidak sehat.” Quote tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.

Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan mindset bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.

Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah karena kemampuannya sendiri, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki privilege seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.

Namun, tampaknya mindset Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.

Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari tokoh politik, pacar, idol K-Pop, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.

Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.

Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa photocard idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.

Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.


Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kฤฑsah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber

Tokoh & Sejarah

Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan

Published

on

By

Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.

Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektalย pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.

Penulis memang baru “berkenalan” dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.

Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca

Koleksi Higashino Penulis

Ketika melihat novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.

Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa “dipeluk” oleh buku ini karena ceritanya yang heartwarming dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).

Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih The Devotion of Suspect X. Penulis benar-benar terkejut dengan plot twist yang ada di buku ini.

Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah A Midsummer’s Equation. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.

Malice menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya reverse psychology di sini.

Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan review-nya di blog ini, yakni Salvation of a Saint (Dosa Malaikat) dan The Newcomer (Pembunuhan di Nihonbashi). Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.

Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo

Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi mengapa pelaku melakukannya. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.

Trik yang digunakan tidak akan se-njelimet cerita-cerita di Detective Conan maupun Sherlock Holmes. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya.

Seringnya, yang menjadi plot twist bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan mengapa hal tersebut dilakukan. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan.

Kritik Penulis hampir di semua artikel review novelnya sama, yakni terkadang proses investigasinya berbelit-belit. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.

Pengecualian jelas terdapat pada Keajaiban Toko Kelontong Namiya, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre slice of life seperti novel ini?

***

Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.

Karya terakhir Keigo yang berjudul Eternal Memory akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.

Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.


Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino

Sumber Artikel:

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain

Published

on

By

Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini.

Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel The Big Four (Empat Besar), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!

Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes

Hercule Poirot dalam Sebuah Adaptasi The Big Four (GREAT OLD MOVIES)

Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, The Big Four adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.

Di novel ini, Hercule Poirot adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, Arthur Hastings (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus “mini” di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia.

Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti “menyindir” metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:

  • Manusia berlagak seperti anjing pemburu
  • Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat
  • Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya

Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.

Teratur, bermetode, ditambah dengan ‘sel-sel kecil kelabu’. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,” ungkap Poirot di novel ini.

Ironisnya, The Big Four adalah novel Hercule Poirot yang paling “Sherlock Holmes” menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan “kurang gerak”, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.

Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes

Novel The Tokyo Zodiac Murders (Gramedia)

“Serangan” Poirot kepada Holmes di novel The Big Four masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel The Tokyo Zodiac Murders yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!

Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata Kazumi Ishioma, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog sekaligus detektif.

Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.

Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah “pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.”

Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus “Lilitan Bintik-Bintik” dari buku The Adventure of Sherlock Holmes.

Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.

Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.

Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis.

***

Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!

Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.

Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat memorable dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca cerita-cerita detektif dari penulis Jepang (termasuk The Tokyo Zodiac Murders), Sherlock akan selalu di hati.


Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama “mengolok-olok” metode Sherlock Holmes

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat

Published

on

By

Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi Amerika Serikat (AS) sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni Venezuela dan Iran.

Dengan berbagai dalih, Presiden Donald Trump membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang tahu kalau di balik itu ada kepentingan mereka sendiri.

Oh, jangan lupa dengan gebrakannya yang ingin mengambil alih Greenland dari Denmark, meskipun mereka sama-sama sekutu di bawah bendera NATO. Mungkin wacana tersebut batal, tapi kita bisa melihat “serakus” apa AS di bawah Trump.

Terbaru, Trump juga berencana untuk menyerang Kuba yang berada tepat di selatan wilayah negaranya. United Nations (UN) pun tak terlihat batang hidungnya belakangan ini. Sekadar mengecam pun tidak.

Mungkin kita terkejut dengan keputusan Trump yang terkesan arogan tersebut. Namun, jika menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Trump tersebut memang sudah menjadi semacam “kebiasaan” AS.

Kebiasaan AS Mengurusi Urusan Negara Lain

Pulau Penuh Kotoran Burung (Atlas Obscura)

Jangankan wilayah yang berdaulat, bahkan pulau kecil yang dipenuhi kotoran burung pun sempat menjadi target AS di masa lalu. Ini bukan mengada-ada, karena di tahun 1800-an, mereka berusaha memonopoli pulau-pulau kecil yang merupakan milik Peru.

Penulis mengetahui fakta ini dari video-video dari Johnny Harris. Nantinya, banyak contoh yang Penulis sebutkan di sini bersumber dari videonya. Intinya, mereka bahkan sampai mengancam Peru jika menghalangi bisnis kotoran burung untuk pupuk tersebut.

Menariknya, perkara menguasai pulau penuh kotoran burung tersebut adalah langkah awal AS menuju imperialisme. Namun, di artikel ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Fokus kita adalah melihat intervensi AS ke negara lain di masa lalu.

Guatemala dan Pisang

United Fruit Company di Guatemala (The Real News)

Di Guatemala misalnya, di mana mereka intervensi karena satu alasan: pisang! Yup, demi mengamankan bisnis pisang mereka di sana (karena buah tersebut sangat populer di AS), mereka terlibat dalam penggulingan kekuasaan pemerintah yang ingin AS tidak memonopoli bisnis pisang di sana.

Mengapa AS sampai melangkah sejauh itu? Karena United Fruit Company, salah satu perusahaan buah terbesar, memiliki seperlima lahan pertanian di negara tersebut! Mereka juga punya infrastruktur lengkap seperti negara di dalam negara dan dukungan militer AS.

Pencaplokan Hawaii dan Gula

Ratu Liliuokalani (Biography)

Tahu Hawaii, bukan? Negara bagian AS berupa kepulauan di Samudra Pasifik tersebut dulunya merupakan sebuah kerajaan berdaulat yang tiba-tiba dianeksasi seenak udel oleh AS. Penyebabnya? Bisnis gula!

Awalnya, orang-orang kulit putih di sana datang sebagai misionaris untuk menyebarkan agama kristen. Lantas, mereka justru berbisnis dan salah satunya adalah dengan mendirikan industri gula.

Agar lancar, mereka pun membuat gerakan sistematis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (waktu itu dipimpin oleh Ratu Liliuokalani) dan digantikan oleh Sanford Dole yang punya bisnis gula.

Terusan Panama dan Kemerdekaan Panama

Pembuatan Terusan Panama (Chimu Adventure)

Tahu Terusan Panama, bukan? Pada saat pembuatannya di awal 1900-an, Panama masih merupakan wilayah dari Kolombia. Nah, Kolombia menolak pembuatan kanal yang awalnya dikerjakan oleh arsitektur Prancis (walau berakhir gagal).

Sudah ketebak bukan apa yang terjadi selanjutnya? AS memberi dukungan kepada orang-orang Panama (Panamian) untuk merdeka dari Kolombia (termasuk senjata dan tentara), dengan syarat mereka boleh meneruskan pengerjaan Terusan Panama.

Singkat cerita, revolusi tersebut berhasil dan Panama pun menjadi negara merdeka. AS secara sigap menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan mereka. Terusan Panama pun jadi milik mereka hingga akhirnya dikembalikan ke Panama pada tahun 1999.

Contoh-Contoh Lainnya

Di Indonesia sendiri, AS disebut menjadi dalang di balik lengsernya Sukarno yang sudah semakin ke kiri. Di Korea, hari ini ada dua negara (Utara dan Selatan) juga karena andil mereka bersama Uni Soviet.

Mungkin kalau yang lebih baru, adalah ketika mereka meluluhlantakkan Irak dan Libya, yang waktu itu dipimpin oleh Saddam Hussein dan Muammar Khadafi. Mereka dicap persis seperti pemimpin Venezuela dan Iran, yakni tiran yang harus disingkirkan demi “kebaikan rakyatnya”.

Percayalah, contoh-contoh di atas baru sebagian kecil saja. Negara yang satu ini memang hobi intervensi urusan negara orang lain, bahkan semakin parah di bawah kepresidenan Trump.

***

Intervensi AS di Iran disebut bisa memicu Perang Dunia III, yang sudah kerap disebut sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu banyak orang berharap hal tersebut tidak pernah terjadi, mayoritas dari kita hanya ingin hidup dengan damai.

Namun, memang ada pihak-pihak yang rasanya membenarkan peperangan dengan alasan “damai”. Secara ironis, hal ini membuat kita teringat dengan Pain dari serial Naruto Shippuden, yang tujuannya akhirnya memang perdamaian dengan cara kekerasan.

Logika yang digunakan Trump juga sesat. Dengan menggunakan logikanya, negara lain juga berhak menyerang AS dengan alasan Trump telah membuat rakyatnya menderita. Lihat saja kelakuan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang beberapa kali membunuh warga sipil.

Mau sampai kapan ia memutuskan untuk menjadi polisi dunia tanpa dilandasi hukum yang jelas? Penulis benar-benar tidak paham lagi jika sampai ada pemimpin dunia yang memutuskan berada di pihaknya.


Lawang, 11 Maret 2026, terinspirasi setelah teringat bagaimana aksi ikut campur Amerika Serikat sudah dilakukan sejak dahulu kala

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018