Ada Lovelace dan Pemikirannya Tentang Komputer

Mungkin namanya terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, ia memiliki peran yang cukup berarti dalam perkembangan dunia teknologi, khususnya komputer.

Augusta Ada King atau lebih dikenal sebagai Ada Lovelace adalah seorang putri dari seorang penyair terkenal. Hal tersebut tidak membuatnya terjun ke dunia seni, melainkan mendalami ilmu matematika.

Meskipun begitu, Ada juga suka menulis puisi untuk mengungkapkan perasaannya yang tak bisa dideskripsikan dengan angka dan simbol.

Kisah Hidup Ada

Penulis pertama kali mengetahui sosok Ada adalah ketika membaca buku The Innovators karya Walter Isaacson. Buku tersebut membahas sejarah komputer secara rinci, termasuk ketika masih berupa konsep pemikiran Ada.

Lahir di Inggris pada tahun 1815, Ada termasuk anak yang kurang mendapatkan kasih sayang. Orang tuanya bercerai semenjak ia kecil. Ditambah lagi kondisi fisiknya yang lemah membuat ia sering sakit-sakitan.

Sama seperti kisah motivasi umum lainnya, Ada berhasil melewati itu semua. Gurunya menganggap Ada memiliki bakat di bidang matematika, sehingga ia didorong untuk terus mengasah kemampuannya.

Charles Babbage (The Telegraph)

Lalu ia bertemu dengan Charles Babbage, salah seorang matematikawan yang sering dianggap sebagai bapak komputer berkat program Difference Engine yang dapat menyelesaikan permasalahan matematika.

Ada banyak membantu Charles dalam menyelesaikan mesinnya yang lain, yakni Analytical Engine. Banyak yang menobatkan Ada sebagai programmer pertama di dunia berkat program yang ia rancang untuk mesin tersebut.

Konsep yang Ada buat ini telah ia tulis kurang lebih 100 tahun sebelum era komputer modern dimulai, jauh sebelum Alan Turing berhasil membuat mesin untuk memecahkan kode rahasia Nazi.

Sayang, Ada hanya berusia pendek. Pada usia 36 tahun ia harus menghembuskan nafas terakhir karena kanker rahim. Semua pemikirannya di bidang komputer baru ditemukan pada tahun 1950an.

Pemikiran Ada yang Revolusioner

Salah satu konstribusi Ada adalah menerjemahkan artikel karya insinyur Italia, Luigi Federico Menabrea. Pada tahun 1843, hasil terjemahan tersebut dipublikasikan, lengkap dengan beberapa pemikiran Ada sendiri.

Ia mendeskripsikan beberapa hal, seperti bagaimana huruf dan simbol bisa diproses bersamaan dengan angka. Ada juga proses iterasi sebuah instruksi pada mesin yang kini sering disebut sebagai loop. Selain itu, Ada juga membuat sebuah konsep berpikir di mana:

. . . mesin yang dapat berpikir selayaknya manusia . . .

Ada juga orang pertama yang menyadari bahwa seharusnya mesin dapat melakukan apapun selama diberi data dan instruksi yang benar.

Bisa dibayangkan betapa revolusionernya pemikiran Ada pada saat itu. Padahal di era ia hidup, sekadar radio maupun telepon masih belum ditemukan.

Ia bisa mengimajinasikan bagaimana peranan mesin di masa depan, masa di mana kita tinggal sekarang. Hampir semua gawai yang ada di sekitar kita memiliki kemampuan untuk berpikir sendiri dan hampir bisa melakukan apapun yang kita inginkan.

Sayangnya, namanya tidak terlalu populer jika dibandingkan dengan Bill Gates ataupun Steve Jobs. Oleh karena itu, penulis merasa memiliki kewajiban untuk berbagi pengetahuan tentang sosok bernama Ada Lovelace ini.

 

 

Kebayoran Lama, 24 Maret 2019, terinspirasi setelah melihat nama Ada Lovelace muncul di linimasa Twitter

Foto: Wikipedia