Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Anak-Anak Semar
Cerita pewayangan selalu menarik bagi Penulis. Walau bukan tipe orang yang hafal semua lore dalam pewayangan, setidaknya kalau diajak ngobrol tentang topik ini bisa nyambung. Oleh karena itu, Penulis punya beberapa judul novel yang bertemakan pewayangan.
Beberapa contoh novel pewayangan yang pernah Penulis ulas di blog ini adalah Kitab Omong Kosong dari Seno Gumira Ajidarma dan Anak Bajang Menggiring Angin dari Sindhunata. Dua-duanya menarik, sehingga jika salah satu merilis novel wayang baru, Penulis akan membelinya.
Nah, oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli novel berjudul Anak-Anak Semar yang ditulis oleh Sindhunata. Apalagi, mayoritas cerita wayang yang Penulis baca selama ini jarang mengulas tentang salah satu anggota Punakawan tersebut.
Detail Buku Ngomongin Uang
- Judul: Anak-Anak Semar
- Penulis: Sindhunata
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Pertama
- Tanggal Terbit: Juni 2022
- Tebal: 204 halaman
- ISBN: 9786020662084
- Harga: Rp128.000
Sinopsis Buku Ngomongin Uang
Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan.
Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat. Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.
Isi Buku Anak-Anak Semar
Tidak seperti judulnya, Anak-Anak Semar tidak bercerita tentang Bagong, Petruk, dan Gareng. Jujur, Penulis tidak benar-benar paham apa maksud dari judul tersebut karena novel ini justru bercerita tentang perjalanan dan perenungan Semar.
Yang Penulis tangkap, “anak-anak” di sini sebenarnya ditujukan kepada masyarakat yang ada di dalam novel ini sekaligus kita sebagai pembaca novel ini. Kita ini anak-anak yang masih membutuhkan keberadaan Semar, yang diceritakan sempat menghilang tanpa sebab.
Novel ini terdiri dari enam bab utama, yakni:
- Semar Mencari Raga
- Semar Hilang
- Semar Mati
- Semar Mbangun Khayangan
- Semar Boyong
- Semar Minggat
Dari keenam judul tersebut, kita sudah mendapatkan gambaran kasar mengenai perjalanan yang akan dihadapi oleh Semar di novel ini: bagaimana ia “melepaskan” rohnya dari jasadnya, lalu bagaimana hilangnya Semar menimbulkan kegemparan, hingga anggapan bahwa Semar telah mati.
Setelah itu, setelah melalui perenungan dalam di alam khayangan (karena sejatinya Semar adalah dewa), ia berkeinginan untuk membuat “khayangannya” sendiri di dunia, lalu kembali ke bumi. Lantas, mengapa di akhir justru ia “minggat”? Temukan jawabannya di novel ini.
Setelah Membaca Anak-Anak Semar
Sejujurnya, jika dibandingkan dengan novel Anak Bajang Menggiring Angin, Anak-Anak Semar lebih berat untuk dicerna. Alasannya, novel ini lebih banyak berisikan kalimat-kalimat monolog untuk menggambarkan situasi yang terjadi, baik ketika ada Semar maupun tidak.
Dialog yang ada lebih sering digunakan untuk mendukung situasi yang sedang terjadi. Misal, kegemparan ketika Semar menghilang, banyak dialog dari masyarakat yang menunjukkan keresahan. Selain itu, dialog juga terjadi ketika dalang sedang menceritakan kisah wayang.
Oleh karena itu, meskipun novelnya tipis, Penulis cukup lama menamatkannya. Ada banyak sekali bagian yang membuat Penulis harus berpikir keras untuk bisa memahaminya. Terkadang, sudah pelan-pelan membacanya pun Penulis masih kesulitan.
Tipisnya novel ini (hanya sekitar 200 halaman) juga menjadi kekurangan buku ini, karena harganya cukup mahal! Penulis tidak memahami apa alasan novel ini dilabeli harga Rp128 ribu, ketika buku lain yang memiliki ketebalan mirip biasanya dilabeli sekitar 70-80 ribu.
Namun, masih banyak hal positif dari novel ini. Keindahan pemilihan kata oleh Sindhunata jelas tak perlu diragukan lagi. Meskipun memang tak mudah dipahami, setidaknya kita akan dibuai dengan keindahan bahasa yang beliau tuliskan.
Sama seperti novel Anak Bajang Menggiring Angin, ada banyak filsafat jawa yang disisipkan dalam novel setipis ini. Salah satu yang paling sering dibahas adalah bagaimana pentingnya untuk merenungi diri sendiri, seperti yang sering Semar lakukan pada novel ini.
Selain itu, ada banyak ilustrasi menarik yang dibuat oleh Nasirun. Ilustrasi tersebut menggambarkan Semar dalam berbagai wujud. Cukup banyak ilustrasi yang terdapat di novel ini, setidaknya satu di setiap babnya.
Dengan berbagai penilaian tersebut, Penulis kurang merekomendasikan novel ini untuk orang yang masih awam dengan dunia perwayangan karena pasti akan terasa berat. Namun, jika memang sudah mengetahui banyak tentang dunia wayang, buku ini akan menjadi bacaan yang menarik.
Skor: 6/10
Lawang, 19 Juli 2024, terinspirasi setelah membaca buku Anak-Anak Semar karya Sindhunata
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.
Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.
Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.
Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!
SPOILER ALERT!!!
Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
- Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
- Penulis: Keigo Higashino
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-14
- Tanggal Terbit: Mei 2025
- Tebal: 224 halaman
- ISBN: 9786020639321
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.
Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.
Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.
Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.
Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.
Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.
Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).
Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.
Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.
Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.
Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!
Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.
Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.
Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.
Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.
SKOR: 8/10
Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.
Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh
Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.
Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.
Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?
SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh
- Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
- Penulis: Uketsu
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-14
- Tanggal Terbit: Mei 2025
- Tebal: 224 halaman
- ISBN: 9786020669960
- Harga: Rp79.000
Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?
Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.
Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.
Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.
Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.
Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.
Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.
Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.
Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.
Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!
Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh
Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.
Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.
Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh
Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.
Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.
Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.
Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.
Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.
Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh
Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.
Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.
Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.
Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.
Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!
SKOR: 7/10
Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.
Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang “toko buku” (atau kadang hanya “buku” saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.
Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.
Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, “oh, ternyata jadinya begini jika genre slice of life menjadi sebuah cerita.” Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!
[SPOILER ALERT!!!]
Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
- Judul: Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)
- Penulis: Hwang Bo-reum
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
- Cetakan: Ke-5
- Tanggal Terbit: Januari 2025
- Tebal: 408 halaman
- ISBN: 9786020530444
- Harga: Rp119.000
Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
“Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”
Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.
Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah Yeong-ju, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.
Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada Min-joon, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada Jimmy (ini karakter cewek!) yang menjadi supplier biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.
Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama Min-Cheol beserta ibunya (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku), Jung-seo yang hobi merajut, Seong-cheol, dan lain sebagainya.
Meskipun berkesan “santai”, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami burnout karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.
Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam “oasis” bagi mereka dan pengunjung.
Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti Seung-woo yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.
Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.
Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah slice-of-life. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.
Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan.
Apalagi, gaya bahasanya juga terasa lembut dan cozy, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti lullaby pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan menimbulkan kesan membosankan.
Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan.
Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan dragging. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.
Cerita antarbabnya tidak nyambung, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.
Oleh karena itu, bisa dibilang novel ini tidak memiliki konflik utama. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.
Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke pergulatan batin dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.
Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.
Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik
Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa related dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.
Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.
Skor: 6/10
Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum
-
Musik10 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara10 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman11 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
-
Sosial Budaya10 bulan agoBeda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu
-
Sosial Budaya11 bulan agoBelajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?
-
Permainan7 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara7 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…




You must be logged in to post a comment Login