Connect with us

Buku

Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali

Published

on

Mungkin untuk pertama kalinya, Penulis merasa kurang bersemangat membaca ketika mendapatkan novel terbaru dari Dee Lestari, Rapijali 3: Kembali. Padahal, Penulis ikut pre-order-nya, seperti seri Rapijali lainnya (dan seperti biasa, di Markas Buku).

Bukan karena novel tersebut jelek, jelas tidak, melainkan karena sedang kurang bergairah saja untuk membaca novel. Mungkin Pembaca juga pernah mengalaminya, ketika kita sama sekali tidak ingin melakukan hobi yang biasanya menyenangkan.

Lantas suatu ketika, Penulis sedang ingin membaca novel dan memutuskan untuk memulai membaca novel ini. Alhasil, hanya dalam waktu dua hari (bahkan nyaris dalam semalam) saja, Penulis berhasil menandaskan novel yang cukup tebal ini.

Ada banyak hal yang ingin Penulis sampaikan setelah selesai membaca novel ini. Bisa dibilang, pendapat Penulis tentang novel ini cukup campur aduk, walau secara keseluruhan Penulis masih menikmati novel ini. SPOILER ALERT!!!

Detail Buku

  • Judul: Rapijali 3: Kembali
  • Penulis: Dee Lestari
  • Penerbit: Bentang
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: Desember 2021
  • Tebal: 776 halaman

Apa Isi Buku Ini?

Awalnya, Penulis mengira kalau novel ini akan membahas masa-masa kuliah dari para anggota band Rapijali. Ternyata, kita akan langsung dibawa lompat 8 tahun setelah peristiwa terakhir yang terjadi di Rapijali 2: Menjadi.

Meskipun karakternya telah beranjak dewasa, core dari novel ini tetap berkutat tentang masalah musik dan percintaan. Tentu ada konflik lain seperti masalah keluarga dan berdamai dengan masa lalu.

Setelah 8 tahun berlalu, Ping telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Namun, ia kerap beberapa kali terkena serangan panik ketika konser, yang ternyata memiliki keterkaitan dengan masalah dengan dirinya sendiri dan masa lalunya.

Band Rapijali sendiri telah tercerai-berai, di mana para anggotanya telah memiliki kesibukan masing-masing. Namun, undangan untuk tampil bersama di acara Reuni Akbar Sekolah Pradipa Bangsa membuat mereka harus bertemu kembali di satu titik.

Karena antaranggotanya ada konflik masing-masing, tentu menarik bagaimana mereka semua, terutama Ping, bisa berdamai. Jangan lupakan Oding yang juga begitu dirindukan oleh Ping di dalam sanubari hatinya yang paling dalam.

Sesuai dengan sinopsis buku yang ada di bagian belakang buku ini, Rapijali 3: Kembali akan memberikan semua jawaban yang muncul dari dua judul sebelumnya. Mampukah para karakter yang ada di dalamnnya berdamai dengan berbagai luka di masa lalu?

Setelah Membaca Rapijali 3: Kembali

Seperti biasa, kita selalu bisa mengharapkan cerita yang mengalir ala Dee Lestari. Dialog yang dimiliki oleh para karakternya pun terasa natural dan berhasil membawa pembacanya Plot ceritanya sendiri ringan ringan berat, cocok untuk remaja.

Ada tiga poin utama yang ingin Penulis singgung dari novel ini, yakni:

Berdamai dengan Diri Sendiri

Fokus utama dari novel ini bagaimana para karakternya, terutama para anggota band Rapijali, berdamai dengan konflik-konflik masa lalu sekaligus berdamai dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi ada banyak quote yang related dengan kehidupan kita.

(Mohon maaf karena Penulis sudah cukup lama menamatkan novel ini, Penulis lupa ada di halaman berapa quote yang Penulis sukai)

Hanya saja, konflik batin yang terjadi memiliki kesan agak terlalu berputar-putar. Mungkin, itu memang dilakukan oleh Dee untuk menegaskan betapa sulitnya karakter yang ada di ceritanya untuk berdamai dengan diri sendiri.

Novel yang Dinamis, namun Perubahan Karakter Kurang Terasa

Karena masing-masing karakter sedang berada di tempat yang berbeda-beda, perubahan sudut pandang karakternya cukup dinamis sehingga dibutuhkan fokus yang cukup tinggi. Apalagi, ada lompatan waktu hingga 8 tahun,

Adanya lompatan waktu membuat kita sering dibawa ke masa lalu (flashback) untuk memahami apa yang membawa karakter-karakter tersebut berada di posisi saat ini. Jadi, apa yang terjadi sekarang selalu memiliki keterkaitan dengan masa lalu.

Untuk perkembangan karakternya sendiri, Penulis merasa perubahan kedewasaan yang dialami para karakternya tidak terlalu terasa. Ping dan kawan-kawan masih terasa sebagai remaja yang sering mengalami konflik terkait percintaan.

Mungkin perubahan yang paling mengejutkan adalah yang dialami oleh Ardi, saudara tiri dari Ping. Ia yang di dua novel terlihat sebagai anak manja dan egosentris bertransformasi menjadi orang yang bijaksana dan telah berdamai dengan diri.

Ending yang Terlalu Sempurna

Jika disuruh menyebutkan kekurangannya, mungkin Penulis merasa ending yang dimiliki oleh novel ini terlalu sempurna. Konklusinya memang menyenangkan, tapi terlalu panjang, serta terkesan klise dan too good to be true.

Selain itu, banyak adegan atau drama percintaan yang bagi Penulis terasa berlebihan, terutama Rakai dan Jemi. Ping dan Oding sebenarnya juga, tapi masih bisa ditolerir. Bahkan, hubungan Rakai-Ines dan Oding-Dayu juga sedikit terasa berlebihan.

Dee berusaha menyelipkan humor melalui interaksi Buto dan Inggil. Mereka seolah dihadirkan sebagai oase dari peliknya masalah percintaan yang ada di novel ini. Hanya saja, terkadang jokes yang ada agak kurang masuk di Penulis.

***

Dengan rilisnya novel ini, maka berakhirnya seri Rapijali yang disebut Dee sebagai karya yang telah tertidur selama bertahun-tahun. Novel ini akan Penulis rekomendasikan bagi Pembaca yang sedang mencari novel percintaan ringan.


Lawang, 4 September 2022, terinspirasi setelah membaca novel Rapijali 3: Kembali karya Dee Lestari

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Published

on

By

Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.

Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.

Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:

Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.

Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-100
  • Tanggal Terbit: April 2026 
  • Tebal: 216 halaman
  • ISBN: 9786020531328
  • Harga: Rp93.000

Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.

Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.

Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!

Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.

Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.

Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.

Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.

Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.

Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.

Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.

Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.

Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:

Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.

Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.

Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.

Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.

“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.

Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.

Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.

Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.

Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Skor: 6/10


Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why

Published

on

By

Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.

Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.

Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?

Detail Buku Start with Why

  • Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
  • Penulis: Simon Sinek
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Oktober 2025
  • Tebal: 366 halaman
  • ISBN: 9786020628837
  • Harga: Rp100.000

Apa Isi Buku Start with Why

Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:

  • Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
  • Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
  • Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
  • Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
  • Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses

Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.

Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.

Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).

Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.

Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.

Setelah Membaca Buku Start with Why

Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!

Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!

Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?

Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.

Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.

Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.

Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.

Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.

Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.

Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.

Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.

Skor: 5/10

Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.


Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018