Chapter 69 Mereka Tetap Orangtuaku

Dengan nyeri di sekujur tubuh, aku terbangun. Aku melihat langit-langit yang asing, tapi setidaknya aku sudah tidak berada di tempat yang serba putih itu. Ini bukan kamarku, aku berada di ruangan lain. Saat penglihatanku mulai normal, aku melihat ada sebuah infus terpasang di tangan kananku. Berarti aku sedang berada di rumah sakit? Aku mulai memperhatikan sekelilingku dan menyadari bahwa aku berada di ruangan yang sama dengan ruangan tempat Sica dirawat dulu.

Di sebelah kiriku, aku melihat Rika sedang tertidur dengan menggenggam tangan kiriku. Kenapa ia ada di sini? Karena ia mengkhawatirkanku? Ke mana Kenji? Apakah Gisel baik-baik saja? Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri dan terbaring di sini?

Mungkin karena merasakan ada pergerakan dari tangan kiriku, Rika terbangun dan mendapati diriku sudah sadar. Ia menahan teriakannya yang hampir keluar dari mulutnya. Sebagai gantinya, ia memeluk tubuh lemahku diiringi air mata yang membasahi kedua pipinya.

“Akhirnya kamu sadar Leon setelah dua hari enggak sadar. Dokter bilang kamu cuma dehidrasi dan kekurangan nutrisi aja, tapi aku benar-benar khawatir.”

Melihat wajah sedih Rika, aku jadi menyesali perbuatanku selama beberapa hari terakhir ini. Aku menyesal karena sudah berkata kasar kepada Rika yang begitu peduli denganku. Aku yakin, Kenji dan Gisel juga mengalami kesedihan yang sama. Mereka semua orang yang berharga untukku, aku tak ingin mereka sedih karena perbuatanku.

“Maaf Rika, sudah buat kau khawatir.”

“Enggak apa-apa Leon, yang penting aku tahu kamu baik-baik aja,” Rika masih terus berurai air mata. Pasti ia telah menahan emosi sedemikian lama sehingga malam ini tumpah ruah semua.

“Mana Kenji dan Gisel?”

“Mereka di rumah. Kalau siang kamu enggak ada yang jaga karena semua sekolah, tapi Gisel selalu ke sini pulang sekolah. Kenji juga. Hari pertama dan kedua kamu di sini, Kenji yang menjagamu di malam hari dan aku tidur di rumahmu buat jaga Gisel. Tapi malam ini aku nyuruh Kenji untuk istirahat di rumah, gantian aku yang jaga kamu di sini.”

“Terima kasih Rika.”

Setelah mengucapkan terima kasih, tiba-tiba aku menangis. Rika terkejut dan berusaha menenangkan diriku semampunya. Butuh sepuluh menit agar aku bisa menghentikannya.

“Aku sama sepertimu Rika, selama ini aku tidak hidup bersama orangtua kandungku. Aku cuma anak angkat yang orangtuanya hilang.”

Aku pun menceritakan semua yang aku dengar dari ayah. Biarlah aku tetap memanggilnya ayah karena tak menemukan padanan kata lain yang bisa kugunakan. Semua kuceritakan dengan runtut dan detail, sesekali dengan sedikit emosi. Rika mendengarkan semuanya dengan baik, meskipun matanya kembali berkaca-kaca mendengar kisah pedihku.

“Itulah yang membuatku mengurung diri di kamar selama berhari-hari tanpa keluar sekalipun. Aku merasa hampa, merasa kosong. Aku tak tahu kenapa aku ada di dunia ini.”

“Aku paham Leon, karena aku pun mengalami hal yang serupa denganmu. Makanya sekarang aku ada di sini untukmu, untuk meyakinkan kalau kamu enggak sendirian. Aku akan berusaha untuk selalu ada buat kamu. Kamu juga masih punya Gisel dan Kenji. Percaya sama aku, kamu bisa melewati ujian ini. Kalau aku bisa, pasti kamu juga bisa.”

“Aku bertemu dengan ibu di alam mimpi. Bukan ibu kandungku, tapi ibu angkatku yang selama ini telah mengasuhku.”

Kalimat tersebut membuat Rika tercekat. Aku pun kembali bercerita tentang pengalamanku bertemu dengan ibu meskipun hanya di alam mimpi. Bahkan, aku tak tahu apakah aku benar-benar bertemu dengan ibu. Bisa jadi, itu hanya merupakan buah imajinasi karena kerinduanku terhadap sosok ibu.

“Ia juga berkata kalau aku bisa melewati ujian ini, sama seperti yang kau ucapkan.”

“Iya, aku yakin kamu bisa Leon. Aku janji bakal bantu kamu melewatinya.” ujar Rika dengan senyum yang sangat manis, senyum yang membuatku berjanji dalam hati untuk selalu menjaganya.

***

Gisel dan Kenji datang paginya sebelum mereka berangkat ke sekolah. Mengetahui aku sudah sadar, Gisel menangis dengan kencang hingga mengganggu pasien yang lain. Aku berusaha menenangkannya karena merasa tidak enak. Kenji hanya tersenyum seperti biasa meskipun wajahnya menunjukkan kelegaan. Hanya ada kata-kata formalitas yang terucap darinya, walau aku yakin ketika pulang nanti ia akan berbicara banyak hal kepadaku.

“Nanti sepulang sekolah, aku akan ajak teman-teman kelas untuk menjengukmu. Semakin banyak dukungan yang kamu dapatkan, semakin baik dampaknya ke kesehatanmu, Le,” ucap Kenji sebelum ia, Gisel, dan Rika meninggalkan aku untuk pergi ke sekolah.

Sekitar pukul tujuh, dokter masuk ke dalam ruangan dan melakukan sedikit pemeriksaan. Katanya, kondisi tubuhku sudah membaik jika dibandingkan ketika aku masuk untuk pertama kali dan sudah boleh pulang keesokan harinya. Ia tak lupa menceramahiku panjang lebar tentang pentingnya menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan dan minum. Aku merahasiakan fakta bahwa aku memang tidak makan dan minum selama tiga hari berturut-turut, jadi aku hanya mengiyakan nasihat-nasihat tersebut.

Setelah dokter tersebut keluar, aku merenungkan semua yang telah terjadi beberapa hari ini. Aku mengetahui kisah ayah dan ibu hingga mereka harus membuat kedua anaknya menderita. Aku juga mengetahui bahwa kedua orangtua itu ternyata bukan orangtua kandungku. Aku diangkat oleh ibu sebagai anak karena teman baiknya yang merupakan ibu kandungku menghilang entah ke mana, menyusul jejak suaminya. Mendengar ini, aku langsung menjadi murka, gelap mata dan membiarkan diriku dikendalikan oleh emosi. Untunglah, aku masih punya Kenji, Gisel, dan Rika yang berhasil menyadarkanku. Apalagi, aku sudah bertemu dengan ibu di alam mimpi.

Fakta menyedihkan ini membuatku bertekad untuk mengungkap semua misteri yang ada di sekitarku. Aku akan mencari di mana orangtua kandungku dan apakah mereka benar-benar hilang. Jika mereka sudah mati, akau akan mencari makamnya. Bagaimana dengan keluarga besar kandungku? Apakah mereka pernah mencariku? Itu urusan nanti. Yang lebih penting adalah mengetahui kegiatan-kegiatan apa saja yang pernah dilakukan oleh kedua ibuku, ibu kandung dan ibu angkat, sehingga nyawa mereka seolah selalu diintai oleh mata yang ketakutan.

***

Teman-teman kelas datang menjenguk pada Sabtu sore. Mereka semua bertanya penyakit apa yang kuderita hingga bisa masuk rumah sakit. Karena belum menyiapkan jawaban, Kenji membantuku dengan jawaban yang formal tanpa perlu berbohong. Sama sekali tidak disinggung masalah diriku yang sudah mengurung diri berhari-hari di kamar tanpa mengonsumsi apapun. Aku merasa senang dengan kunjungan mereka, membuatku merasa tidak sendirian di dunia ini setelah mengetahui semua fakta itu.

Kata dokter, aku sudah bisa pulang besok Minggu. Tubuhku mampu pulih secara cepat. Dokter yang merawatku tak jemu-jemunya mengingatkan aku untuk menjaga pola makan. Ia juga menyarankan aku untuk mengonsumsi vitamin untuk daya tahan tubuh. Aku hanya mengiyakan kata-kata dokter tersebut, mengingat selama ini aku hampir jarang sakit. Mungkin sakit yang kuderita ini merupakan peringatan dari Tuhan kalau aku tidak boleh menyombongkan diri.

Ketika waktunya pulang ke rumah telah tiba, Rika menyuruhku untuk naik taksi. Aku sempat protes karena merasa itu terlalu berlebihan, mengingat jarak antara rumah sakit dan rumah cukup dekat. Namun Rika tak menghiraukan protesku dan tetap memaksaku naik taksi. Kenji dan Gisel terkikih melihat aku tak berkutik melawan Rika.

Sesampainya di rumah, hal pertama yang aku lakukan adalah mengecek kamarku yang kutinggalkan dalam keadaan hancur berantakan. Aku jadi teringat tentang lemari kamar yang menghalangi pintu masuk. Lantas, bagaimana cara Kenji dan Rika mengeluarkan aku dari kamar?

“Oh, waktu itu Rika sempat panik karena kamu tiba-tiba tidak merespon pertanyaannya. Akhirnya kami memutuskan nekat untuk masuk melewati jendela kamarmu. Aku terpaksa memecahkan kacanya menggunakan kapak yang dibawakan Gisel dari gudang. Tubuhmu sudah tergeletak di antara barang-barangmu. Aku pun masuk ke dalam kamar dan segera menghubungi rumah sakit,” jawab Kenji mendengar pertanyaanku.

“Jadi, pihak dari rumah sakit yang membawaku keluar kamar?”

“Sebenarnya cuma aku dan Rika. Aku tahu kamu pasti tidak mau kejadian ini menyebar keluar, sehingga kami berdua memutuskan untuk menyingkirkan lemari yang menghalangi pintumu. Untunglah lemarimu tak terlalu berat, sehingga kami berdua kuat mengangkatnya.”

“Yang telepon pihak rumah sakit Gisel loh, kak,” ujar Gisel bergabung ke dalam percakapan.

“Maaf sudah merepotkan kalian,” kataku lirih, tak berani memandang ke arah mereka.

“Hahaha, tenang saja Le. Kami semua sama sekali enggak keberatan, kok,” Kenji menepuk pundakku seolah ingin menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku pun berjalan ke kamarku untuk melihat kondisinya. Firasatku benar, kamarku sudah terlihat rapi seperti semula. Hanya saja, meja belajarku telah hilang dari tempatnya. Mungkin kerusakannya sudah parah sehingga tidak bisa digunakan lagi. Kaca jendelaku juga masih pecah, di mana Kenji berusaha menghalangi angin yang masuk dengan menempelkan kain gorden ke bingkai jendela.

“Mejamu sudah tak terselamatkan Leon, jadinya kubuang. Kalau kamu mau mencari meja belajar, aku bisa menemanimu. Aku juga belum sempat mengganti kacanya, butuh tukang untuk memperbaikinya,” Kenji menjelaskan keadaan sebelum aku menanyakannya.

“Tidak perlu merasa bersalah Kenji. Dari awal ini salahku. Justru aku berterima kasih karena sudah mengembalikan kamarku menjadi seperti ini.”

“Rika juga banyak membantu, loh. Ia sampai rela tidur di sini untuk menemani Gisel selama kamu di rumah sakit,” Kenji menambahkan.

Aku melirik ke arah Rika yang dari tadi hanya diam. Ia tersenyum ke arahku dan aku membalas senyumnya sebagai ungkapan terima kasih. Entah sudah berapa kali aku berkata seperti ini, tapi aku benar-benar beruntung memiliki mereka dalam hidupku. Aku memutuskan untuk mengajak mereka duduk di ruang tengah. Ada sesuatu yang ingin kudiskusikan dengan mereka.

“Kenji, aku ingin mengetahui masa lalu orangtua kita lebih dalam,” kataku membuka percakapan.

“Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu Leon. Aku pun tertarik untuk menguliknya lebih dalam.”

“Yang harus kita lakukan pertama adalah mengumpulkan semua data yang kita miliki, lalu memutuskan langkah apa yang harus kita lakukan. Dari pertemuan kemarin, kita tahu bahwa…”

“Leon,” Rika memotong perkataanku dengan cukup lantang. Ia melanjutkan, “kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Jangan bebani pikiranmu dulu.”

“Tapi Rika, masalah ini penting buat aku. Aku harus tahu siapa…”

“Iya aku tahu Leon. Tapi kamu juga harus peduli sama kondisi tubuh dan mentalmu. Aku sudah mendapatkan gambaran tentang masalahmu ini dari ceritamu, aku tahu seberapa penting dan berharganya masalah ini untukmu. Tapi aku minta Leon, lakukanlah nanti setelah kondisimu sudah pulih total.”

“Rika benar, Le. Ada baiknya kita membicarakan masalah ini lain waktu. Aku janji, kita akan mengupasnya dalam-dalam. Aku juga akan mencari informasi lain yang sekiranya bisa membantu,” tambah Kenji, sorot matanya menunjukkan kepedulian yang tulus. Kalah debat, aku memutuskan untuk menuruti permintaan mereka.

“Oh iya, untuk sementara kamu tidur di kamar, eh, orangtuamu aja Le. Kamarmu akan terasa dingin ketika malam karena angin tetap bisa masuk walau sudah terhalang kain.”

Aku menganggukkan kepala, menuruti permintaan Kenji. Keraguannya sebelum menyebutkan kata orangtua terlihat disengaja. Tapi aku tidak ingin memperpanjang masalah tersebut. Mau bagaimanapun, mereka berdua telah mengasuhku sejak kecil, sejak aku memiliki ingatan. Mungkin mereka hanya teman orangtua kandungku, tapi bukan berarti aku tidak bisa menganggap mereka orangtuaku. Ibu angkatku adalah ibuku juga yang sudah menyayangiku dengan sepenuh hati. Ayah angkatku, dengan segala perlakuan buruknya kepadaku, juga telah memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidupku. Mereka berdua tetap orangtuaku, yang dulu kubenci setengah mati. Namun, aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu dan mencoba untuk menyayangi mereka, sesulit apapun.