Chapter 70 Berdamai dengan Masa Lalu

Setelah memastikan aku bisa ditinggal, Kenji dan Rika memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Aku pun tinggal berdua bersama Gisel. Dari kemarin, ada hal yang mengganjal di dalam hatiku. Cerita ayah menunjukkan bahwa aku dan Gisel bukanlah saudara kandung. Aku hanyalah kakak angkat bagi Gisel. Aku ingin membicarakan masalah ini dengan Gisel, namun merasa tidak enak jika ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan ini. Maka dari itu setelah mereka berdua telah pulang, aku mencoba berbicara dengan Gisel.

“Gisel…”

“Apapun yang terjadi, kakak tetap kakaknya Gisel. Enggak ada hal yang bisa ngubah itu,” jawab Gisel dengan sedikit ketus. Aku pun sedikit terkejut karena Gisel mampu menebak jalan pikiranku dengan tepat.

“Tapi Gisel, kamu…”

“Kakak enggak mau punya adik kayak Gisel?” adikku ini mulai memasang wajah cemberut pada wajahnya.

“Tentu saja mau, tapi Gisel…”

“Enggak ada tapi-tapi. Gisel akan tetap tinggal sama kakak di sini, sekolah seperti biasa, tanya banyak hal ke Kak Kenji, cerita sama Kak Rika, titik.”

Aku menyadari bahwa Gisel sama sekali tidak memberikan celah untukku, sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan. Aku bahagia bisa menjadi seorang kakak untuk anak secerdas dan sebaik Gisel. Fakta bahwa aku bukan kakak kandungnya memang membuatku sedih. Padahal, aku sudah menyayanginya sedemikian rupa setelah dulu sering memperlakukannya secara buruk. Aku khawatir diriku akan merasa canggung kalau berhadapan dengannya setelah ini.

“Gisel, kakak boleh tanya masalah ibu? Pertanyaan ini mungkin terlalu berat untuk kamu.”

“Apa kak?”

“Kamu ingat enggak, apa yang terjadi di hari kematian ibu?”

Gisel sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut, lantas berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Aku tidak berharap banyak, mengingat waktu itu Gisel masih kecil.

“Gisel enggak inget apa-apa, kak. Gisel cuma inget pas ayah pergi, habis itu lupa. Emangnya kenapam kak?”

“Enggak apa-apa kok. Waktu kemarin koma, kakak mimpi ketemu dengan ibu. Katanya, ibu tidak pernah, tidak pernah bunuh diri.”

“Wah, ketemu ibu? Gisel belum pernah kak mimpi ketemu ibu. Tapi kan itu cuma mimpi, bisa aja salah, kak.”

“Iya, itu cuma mimpi Gisel.”

Di dalam hati, aku merasa itu bukan sekadar mimpi.

***

Keesokan harinya, aku kembali masuk sekolah seperti biasa. Kenji datang menjemputku. Katanya, ia khawatir kalau tubuhku belum terlalu kuat untuk memulai aktivitas seperti biasa. Aku menertawakan pernyataan tersebut dan berkata bahwa ia terlalu meremehkan diriku. Tentu saja aku baik-baik saja walaupun sempat tak sadarkan diri selama dua hari. Ia pun hanya tertawa ringan mendengar bantahanku.

“Daripada itu, aku mulai mempertimbangkan untuk berbagi cerita dengan teman-teman kelas Kenji, bagaimana menurutmu?” tanyaku sewaktu kami berdua memasuki gerbang sekolah.

“Kamu yakin sudah siap, Le?” ia malah bertanya balik.

“Entahlah, aku tak tahu.”

“Kalau menurutku, tidak usah terlalu terburu-buru. Toh, teman-teman juga tidak ada yang mempermasalahkan.”

Saat kami melintasi kelas lama kami, aku melihat Rachel terlihat sedang berada di ambang pintu. Ia terlihat ingin keluar kelas, namun langkahnya terhenti sewaktu melihat kami berdua. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung sebelum Kenji segera mengendalikan situasi.

“Pagi Rachel, hari ini tetap semangat, ya!”

Rachel mengangguk dengan sedikit kikuk dan terlihat bingung harus berbuat apa. Mulutnya terlihat bergetar seolah ada yang ingin diucapkannya, tapi ia memutuskan untuk menahannya. Bukan hanya aku, Kenji pun merasakan hal yang sama.

“Kenapa Rachel? Ada yang salah?” tanya Kenji dengan ramah.

Setelah diam sesaat, akhirnya Rachel bersuara. Rasanya cukup lama semenjak aku terakhir kali mendengarnya berbicara.

“A…aku dengar Kak Leon baru masuk rumah sakit?”

“Oh, iya bener kok. Tapi sekarang udah sehat bugar kok. Iya kan, Leon?” kata Kenji sembari menyenggol diriku dengan menggunakan sikunya. Aku pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Syukurlah kalau begitu, maaf belum sempat menjenguk.”

Sesudah mengucapkan hal tersebut, Rachel kembali masuk ke kelasnya dan mengurungkan niatnya untuk keluar kelas. Secara mendadak, aku memanggil namanya cukup lantang. Rachel menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.

“Pulang sekolah nanti, ada yang mau aku ceritakan ke teman-teman kelas. Mungkin permintaan ini terdengar aneh dan egois, tapi jika bisa datanglah ke kelas. Aku ingin kau tahu kisah hidupku yang selama ini selalu aku sembunyikan.”

Rachel tidak memberikan respon apa-apa, ia kembali melanjutkan langkahnya ke dalam kelas. Aku tahu dari tadi ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kami, tapi aku tak terlalu memedulikannya. Aku sudah memutuskan untuk menceritakannya semua sekarang. Aku merasa, dengan cara inilah aku bisa segera berdamai dengan masa laluku. Rachel orang yang kesepian, semoga dengan mengetahui ceritaku ia bisa kembali semangat menjalani hidup. Itulah alasan mengapa aku ingin ia ikut mendengarkan ceritaku.

***

Untuk permasalahan seperti ini, aku meminta bantuan Kenji seperti biasa. Ia meminta semua teman kelas tidak pulang terlebih dahulu. Kalau ada yang les, dipersilakan untuk meninggalkan kelas. Beberapa ada yang memiliki jadwal les, namun memutuskan untuk tinggal. Mungkin karena mereka penasaran dengan apa yang ingin aku bagikan ke mereka. Tidak hanya teman-teman kelas, aku juga meminta si kembar Andra dan Dea serta Yuri untuk turut bergabung melalui Kenji juga. Ketika kami semua sudah berkumpul, datanglah Rachel di ambang pintu. Ia sempat terlihat canggung sebelum Rika mengambil inisiatif untuk menjemput dan menyuruh Rachel duduk di dekatnya. Yang lain nampak tidak terlalu mempersalahkan kehadirannya.

“Baiklah karena semuanya udah kumpul, langsung aku mulai aja acaranya. Jadi seperti yang sudah aku sedikit singgung tadi pagi, kawan kita Leon ingin berbagi kisah hidupnya. Mungkin ada di antara kalian ada yang merasa penasaran dengan kehidupan pribadi Leon, walau aku tahu kalian sangat menghargai privasinya. Akan tetapi, Leon memutuskan untuk berbagi ke kalian karena ia menganggap kalian spesial,” kata Kenji membuka acara ini dan jujur membuatku sedikit merasa tegang. Setelah itu, ia mempersilakan aku untuk maju ke depan. Aku memandangi temanku satu persatu. Mata mereka terlihat antusias sekaligus penasaran. Apalagi, aku baru menghilang selama satu minggu. Baiklah, aku mulai.

Aku memutuskan untuk bercerita dari awal masuk ke sekolah ini. Kenapa aku bisa membuat masalah di hari MOS dan seolah memancarkan aura permusuhan ke seluruh sekolah. Aku menjelaskan bahwa alasannya adalah kondisi keluargaku yang berantakan, di mana ayahku kabur dan ibuku bunuh diri. Aku bercerita bagaimana hidup berdua dengan adikku bermodalkan uang kiriman paman. Aku jadi membenci semua orang yang ada di sekitarku, termasuk kepada mereka yang tak pernah melakukan apapun ke diriku.

“Untunglah aku bertemu dengan Kenji dan kalian semua. Kalian berhasil mengubah sudut pandangku yang selama ini seolah berkabut pekat. Aku jadi sadar bahwa hidup ini terlalu sia-sia jika aku hanya memiliki kebencian dalam hidupku. Akhirnya aku mulai berusaha membuka diri ke orang lain dan berusaha memulai lembaran hidup yang baru.”

Lalu aku melanjutkan ke kejadian di mana ayahku tiba-tiba datang ke rumah. Hal tersebut membuatku menjadi berang hingga menghajarnya sampai terluka. Berkat kejadian ini, aku jadi dekat dengan Rika karena ia pun jadi banyak bercerita tentang kehidupannya. Ketika aku sampai di bagian ini, terbit senyum dan suara siulan dari teman-teman. Padahal, dari tadi mereka tenggelam dengan ceritaku dan tak berani mengeluarkan sedikit pun suara.

“Setelah Leon selesai bercerita, aku juga punya cerita untuk kalian,” kata Rika tiba-tiba sambil menatapku dengan tersenyum. Aku hanya meresponnya dengan anggukan kecil.

Aku melanjutkan ceritaku dengan kejadian yang belum lama berlangsung ini, ketika aku mengetahui bahwa diriku bukanlah anak kandung dari orangtuaku. Aku hanyalah anak angkat yang orangtua kandungnya menghilang karena terlalu vokal menentang rezim. Gisel, gadis kecil yang tinggal bersamaku, bukanlah adik kandungku. Gisel merupakan anak kandung dari orang yang selama ini aku panggil sebagai orangtua. Ketika sampai di bagian ini, teman-teman memasang ekspresi terkejut yang tidak dibuat-buat. Beberapa anak perempuan terlihat berkaca-kaca, termasuk Rachel.

“Karena itulah aku mengurung diri di kamar selama berhari-hari hingga berakhir di rumah sakit. Maaf sudah membuat kalian khawatir, tapi itulah kurang lebih rangkuman kehidupanku selama ini. Aku berharap dengan cerita ini, kalian bisa menerimaku apa adanya.”

Setelah aku selesai bercerita, entah mengapa Kenji bertepuk tangan yang segera diikuti oleh teman-teman lainnya. Semua seolah berusaha menyemangati diriku dengan caranya masing-masing. Melihat semua kejadian ini, entah mengapa air mataku tiba-tiba jatuh. Untuk pertama kalinya, aku menangis di hadapan orang lain. Aku benar-benar bersyukur memiliki mereka semua sebagai teman kelasku. Mereka semua sudah menjadi bagian penting dari kehidupanku.

Seperti katanya tadi, Rika memutuskan untuk bercerita tentang keluarganya sendiri setelah aku selesai bercerita. Teman-teman mendengarkannya dengan serius dan berusaha menunjukkan simpati yang tulus. Rahasia yang selama ini kami simpan rapat untuk diri sendiri akhinya terkuak ke orang lain. Mungkin ini sebagai upaya kami berdua untuk berdamai dengan masa lalu dan berusaha menjalani hidup dengan lebih baik lagi di masa depan.

Rika mengakhiri ceritanya dengan berkata ia juga sangat bersyukur diterima di kelas ini dan memiliki teman-teman yang ada di sini. Sekali lagi, kelas dinaungi suasana haru yang luar biasa. Semua anak perempuan berebut memeluk Rika satu persatu. Ia pun terlihat senang mendapatkan pelukan-pelukan tersebut. Mata kami berdua bertemu di tengah keriuhan tersebut, seolah ingin mengirimkan telepati.

“Jadi seperti itulah teman-teman kisah kehidupan yang dialami oleh Leon dan Rika. Aku sudah menganggap kalian sebagai saudaraku sendiri, sehingga kita harus bisa saling mendukung jika ada yang sedang kesusahan. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk berbagi seperti ini,” tutup Kenji mengakhiri pertemuan ini. Kami pun bersiap-siap pulang. Beberapa menghampiriku dan memberikan komentar terhadap ceritaku tadi.

Setelah semua teman kelasku keluar, aku melihat Rachel masih ada di dalam kelas. Aku menoleh ke arah pintu karena Rika masih berada di sana. Ia hanya menganggukkan kepala, lalu pergi meninggalkan kami. Aku paham apa maksudnya. Rachel memiliki sesuatu untuk dibicarakan denganku. Rika memberi kami kesempatan untuk itu.

“Ada apa Rachel?” tanyaku berusaha memulai percakapan.

“Eh, enggak kak, aku cuma mau minta maaf karena selama ini sudah jadi orang yang menyebalkan. Aku benar-benar terenyuh dengan cerita Kak Leon tadi, karena aku besar di lingkungan keluarga yang relatif harmonis. Aku jadi menyesal karena udah berbuat kekanakan seperti kemarin-kemarin.”

“Enggak apa-apa Rachel, aku rasa semua manusia pernah mengalami fase tersebut. Aku juga minta maaf kalau pernah menyakiti perasaanmu.”

“Enggak, dari awal aku yang salah. Aku memang ingin kenal dengan Kak Leon, tapi enggak harus jadi seorang kekasih. Jadi…”

“Jadi?”

“Bo…boleh aku menganggap Kak Leon sebagai kakakku sendiri?” tanya Rachel dengan pandangan malu-malu. Aku belum pernah disodori pertanyaan semacam ini sehingga sempat bingung sebelum menjawab. Setelah menimbang-nimbang, aku pun mengiyakan permintaannya. Ia terlihat sangat senang dan berjalan ke arahku untuk menggenggam tanganku. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan kelas. Aku memutuskan untuk tinggal sejenak di kelas untuk menenangkan diriku. Jelas bercerita tentang kehidupan kelam menguras emosi dan tenagaku. Tapi di sisi lain, aku merasa lega karena teman-teman terlihat tetap menerimaku dengan latar belakang yang seperti itu. Aku benar-benar bersyukur telah bertemu dengan mereka semua dan bisa berdamai dengan masa laluku sendiri.