Olahraga
Sebuah Pengingat Kalau Kita Tidak Boleh Jumawa Saat Sedang di Atas
Sebuah kekalahan yang benar-benar memalukan terjadi ketika Manchester United (MU) bertandang ke Anfield, markas Liverpool. Bukan sekadar kekalahan, melainkan pembantaian dengan skor 7-0.
Penulis sendiri tidak utuh menonton pertandingan tersebut karena awal pertandingannya berlangsung bersamaan dengan akhir dari balapan Bahrain GP. Saat jeda babak pertama, Penulis sempat tertidur.
Sebelum tertidur, MU sedang dalam kondisi tertinggal 0-1. Ketika terbangun, tiba-tiba skor sudah berubah menjadi 0-5, sehingga Penulis untuk memutuskan mematikan televisi. Ternyata, masih ada tambahan dua gol lagi sehingga skor akhirnya menjadi 0-7.
Hasil yang Rasanya Tidak Diprediksi Siapa Pun
Bagi penggemar kedua tim, rasanya tidak ada yang memprediksi kalau MU akan dihajar habis-habisan seperti ini. Liverpool menang, pasti ada yang memprediksi, tapi tidak dengan skor 7-0 juga. MU benar-benar diubah menjadi meme berjalan.
Padahal, performa kedua tim di musim ini bisa dibilang kebalikan. MU sedang bagus-bagusnya, sedangkan Liverpool agak terpuruk. MU berhasil juara Carabao Cup, Liverpool kena comeback dari Real Madrid dengan skor 2-5.
Berhubung mainnya di Anfield dan skuad MU juga kemungkinan besar kelelahan karena padatnya jadwal, Penulis sebenarnya tidak terlalu berharap banyak. Bisa menahan imbang saja sudah cukup.
Namun, yang terjadi ternyata adalah sebuah pembantaian yang memalukan hingga memecahkan rekor. Jika tidak salah ingat, ini adalah kekalahan telah MU yang ketiga musim ini, setelah melawan Brenford (0-4) dan Manchester City (3-6).
Bedanya, saat itu memang performa MU masih belum cukup bagus. Kekalahan kali ini terjadi justru ketika tim sedang berada di tren positif. Berhasil menang atas Barcelona, mengangkat piala pertama kali setelah enam tahun, hingga comeback saat melawan West Ham di FA Cup.
Kenapa MU Bisa Kalah Separah Ini?
Karena tidak menonton full pertandingannya, Penulis tidak benar-benar tahu mengapa MU bisa tampil seburuk ini. Namun, jika melihat analisis Ruang Taktik melalui video di atas, ada beberapa alasannya.
Pertama, strategi pressing Liverpool yang sempat hilang selama beberapa pertandingan kembali muncul. Lini depan dan tengah Liverpool berhasil melakukan press sehingga pemain belakang MU kesulitan untuk melakukan build up serangan.
Jika melihat highlight-nya, kemampuan individu pemain-pemain Liverpool di pertandingan ini juga terlihat kesetanan. Kita bisa melihat bagaimana Gakpo, Salah, dan lainnya mampu memporak-porandakan pertahanan MU. Bahkan Martinez pun terjungkal karena Salah.
Saat MU ketinggalan 0-1 di babak pertama, tentu mereka mengejar gol untuk menyamakan kedudukan. Masalahnya, Liverpool mampu melakukan counter dengan efektif dan mampu menyelesaikan peluang yang didapatkan dengan baik.
Setelah tertinggal 0-3, permainan MU buyar. Tidak ada lagi permainan kolektif, hanya ada 11 individu yang bermain bola. Ditambah mental yang mungkin down, MU pun harus pulang dengan malu karena skor akhir menunjukkan 0-7 untuk kemenangan Liverpool.
Sebuah Pengingat Kalau Kita Tidak Boleh Jumawa Saat Sedang di Atas
Penulis akui berkat kemenangan-kemenangan yang diraih oleh MU belakangan ini, fans (dan mungkin pemain) merasa jumawa dan di atas angin. Setelah berhasil meraih Carabao Cup, istilah tsunami trofi pun kembali digaungkan.
Bukannya tsunami trofi, nyatanya MU malah mendapatkan tsunami gol yang mengejutkan. Kanal YouTube Suara Chinoll benar-benar terdengar bahagia ketika membuat video kekalahan MU atas Liverpool ini. Harus diakui, MU kembali melawak malam itu.
Walaupun harus menahan malu (apalagi ada banyak teman Penulis yang langsung mem-bully Penulis), Penulis ada perasaan bersyukur atas kekalahan ini. Penulis menganggap kalau ini adalah pengingat agar kita tidak merasa jumawa ketika sedang berada di atas.
Terkadang rentetan kebahagiaan yang didapatkan (dalam hal ini, dari kemenangan MU) membuat kita lupa daratan. Kita seolah merasa kalau kebahagiaan itu akan berlangsung selamanya, tanpa mengetahui kalau akan ada waktunya kita akan jatuh lagi.
Semoga dengan kekalahan memalukan ini, Penulis, para penggemar MU, dan para pemain MU sendiri bisa memetik hikmah untuk tidak sombong ketika sedang di atas. Ketika saat jatuh tiba, malunya bukan main. Serius.
Lawang, 7 Maret 2023, terinspirasi setelah kekalahan memalukan Manchester United atas Liverpool dengan skor 0-7
Foto: 90min
Olahraga
Anomali Antonelli
Ketika menonton GP Monako, ekspektasi Penulis selalu diturunkan mengingat balapan di sana relatif membosankan. Seringnya, urutan posisi pembalap akan tetap sama dengan posisi ketika start, kecuali ada insiden yang sebenarnya juga jarang terjadi.
Untunglah ekspektasi tersebut telah Penulis turunkan, karena kita justru mendapatkan tontonan yang menarik dan chaos di Monako tahun ini! Kita seolah mendapatkan segalanya, kecuali balapan itu sendiri!
Terlepas dari semua yang terjadi pada balapan pada hari Minggu (7/6) kemarin, Penulis ingin fokus ke satu “anomali” pada sosok Kimi Andrea Antonelli, yang kini berhasil mencatatkan lima kemenangan beruntun di musim 2026!

Menjawab Segala Keraguan

Kimi Andrea Antonelli merupakan pembalap asal Italia kelahiran tahun 2006, jadi seumuran dengan Carmen dan Jiwoo dari Hearts2Hearts. Ia menjalani musim debutnya bersama Mercedes pada tahun 2025 kemarin, menggantikan posisi Sir Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari.
Waktu itu, keputusan Toto Wolff selaku CEO dan Team Principal untuk mendebutkan Antonelli di Mercedes banyak dipertanyakan, mengingat usianya yang masih muda. Sebagai perbandingan, George Russell yang merupakan rekan setimnya “disekolahkan” dulu di William selama tiga tahun sebelum akhirnya menjadi pembalap Mercedes.
Ada yang menyebut kalau keputusan ini didasarkan adanya kekhawatiran kalau potensi Antonelli akan “menguap” jika harus bermain untuk tim lain dulu, seperti yang terjadi pada Russell yang terlalu lama menghabiskan waktu untuk William.
Di musim debutnya, performa Antonelli bisa dibilang cukup solid, meskipun tidak langsung luar biasa. Di akhir musim, ia bertengger di posisi ke-7 dengan raihan 150 poin dan tiga kali podium. Tidak ada kemenangan di musim perdananya.
Ketika musim ini akan dimulai, Mercedes langsung menunjukkan kalau mereka menjadi tim yang berpotensi mendominasi musim 2026. Hal ini langsung terbukti dari balapan pertama GP Australia, di mana George Russell berhasil meraih kemenangan.
Namun, setelah itu, angin seolah mengarah ke Antonelli karena ia terus memecahkan rekor baru di usianya yang belum genap 20 tahun! Kemenangan di GP Monako kemarin merupakan kemenangan lima kali beruntunnya di musim ini!
Daftar Rekor yang Dipecahkan Antonelli

Di GP China, ia berhasil mencatatkan kemenangan perdananya di F1 dan menjadi yang termuda kedua sepanjang sejarah setelah Max Verstappen. Ia juga menjadi pembalap asal Italia termuda yang meraih Pole Position dan kemenangan di F1.
Selanjutnya, ia kembali menang di GP Jepang. Kemenangan tersebut juga membawanya menjadi pemimpin klasemen termuda di F1, mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Hamilton.
Anomali berlanjut di GP Miami, ketika ia menjadi pembalap termuda yang meraih tiga pole position dan kemenangan secara berturut-turut. Ia juga menjadi pembalap pertama yang berhasil mengonversi tiga pole position pertamanya menjadi kemenangan.
Rekor selanjutnya yang dipecahkan terjadi di GP Kanada, setelah ia menjadi pembalap termuda dengan memenangkan empat balapan F1 dan mengalahkan rekor Verstappen. Rentetan kemenangan ini pun tetap berlanjut di GP Monako.
Ada beberapa rekor yang ia raih di GP Monako. Selain menjadi peraih Grand Slam termuda (dan pembalap kelima yang meraihnya), ia juga menjadi pembalap termuda yang berhasil menang di sana (sebelumnya dipegang oleh Hamilton).
Tidak banyak pembalap yang berhasil mencatatkan lima kemenangan beruntun, apalagi berurutan sejak kemenangan perdananya. Kemenangan ini pun membuatnya semakin kokoh di puncak klasemen, meninggalkan rekan setimnya yang justru turun ke peringkat 3.
Sekarang Mari Kita Bicarakan GP Monako

Selain berbagai rekor “termuda” yang berhasil dipecahkan oleh Antonelli, masih banyak hal menarik yang terjadi sepanjang balapan GP Monako kemarin. Dari lap pertama saja, langsung ada insiden yang membuat Verstappen harus DNF sejak start.
Selain Verstappen, total ada enam pembalap lain yang juga gagal finis. Mereka adalah Valteri Bottas (Cadillac), Oliver Bearman (Haas), Lando Norris (McLaren), Lance Stroll (Aston Martin), Charles Leclerc (Ferrari), dan Carlos Sainz (William).
Mungkin yang paling nyesek adalah Leclerc, mengingat sepanjang balapan ia berhasil mempertahankan posisi 3-nya. Sayangnya, masalah rem dan aspal di tikungan terakhir membuat akamsi yang satu ini harus gagal finis.
Setelah insiden yang dialami Leclerc, Red Flag pun dikibarkan untuk dilakukan investigasi dan artinya balapan pun mengalami restart. Sebelum Red Flag, sudah dua kali Yellow Flag dikibarkan. Ini menggambarkan betapa chaos balapan kemarin.
Hal lain yang disorot adalah “hujan” penalti yang diberikan kepada para pembalap. Mayoritas penyebabnya adalah speeding in the pit lane. Salah satu yang paling nyesek terjadi pada Pierre Gasly dari Alpine, yang sempat merayakan ketika tahu ia finis di peringkat 3.
Russell juga bisa dibilang mengalami balapan yang menyebalkan. Keputusan tim yang kurang tepat ditambah penalti yang ia dapatkan membuat posisinya di klasemen disalip oleh Hamilton. Kini, ia tertinggal 68 poin dari Antonelli di puncak klasemen.
Isack Hadjar juga patut diapresiasi di balapan kemarin. Meskipun mengalami berbagai masalah pada mobilnya, ia menolak menyerah dan berhasil meraih podium perdananya bersama Red Bull.
Menarik untuk menanti seperti apa akhir dari musim ini. Apakah Antonelli mampu melanjutkan anomalinya? Apakah Russell mampu bangkit dan merebut gelar dari “juniornya” tersebut? Atau ada pembalap lain yang bisa memanfaatkan persaingan antarpembalap Mercedes?
Lawang, 8 Juni 2026, setelah menonton “anomali: yang dilakukan oleh Antonelli di musim 2026
Olahraga
Menatap Keseruan Musim F1 2026 Setelah GP Australia
Setelah lama dinanti, akhirnya Formula 1 (F1) musim 2026 resmi dimulai. Seperti biasa, tahun ini pun juga dibuka di GP Australia, tepatnya di sirkuit Albert Park, Melbourne.
Salah satu alasan utama mengapa musim ini banyak dinanti adalah karena adanya perubahan regulasi besar-besaran yang membuat peta persaingan menjadi sedikit berubah. Walau sudah sedikit terlihat ketika pra-musim, tentu hasil balapan menjadi hal yang lebih ditunggu.
Lantas, setelah GP Australia resmi berakhir beberapa menit lalu, apakah sudah terlihat tim mana yang akan dominan dan siapa yang akan menjadi juara dunia? Yup, sudah sedikit terlihat walau tentu potensi kejutan masih ada.
Dominasi Mercedes, Ferrari Kembali Lawak

Regulasi 2026 menjanjikan akan menyajikan lebih banyak aksi overtake dan hal tersebut memang langsung terlihat, setidaknya di 1/3 awal balapan. Duel antara George Russell vs Charles Leclerc benar-benar seru.
Leclerc memang berhasil langsung tancap gas merebut posisi satu dengan menyalip tiga pembalap sekaligus (termasuk Kimi Antonelli dan Isack Hadjar), tapi Russell juga tidak mau menyerahkan kemenangannya begitu saja.
Di awal-awal balapan, terlihat mereka berduel sengit dan saling gantian menyalip. Hal semacam ini rasanya sudah lama tidak terlihat di beberapa musim terakhir F1. Sayangnya, hal seru tersebut berhenti setelah Virtual Safety Car (VSC) pertama keluar.
VSC keluar setelah Hadjar yang mengalami trouble pada mesinnya, yang membuatnya harus DNF. Mercedes membuat keputusan untuk pit, sedangkan Ferrari memutuskan untuk stay out untuk kedua pembalapnya.
Keputusan ini memang agak gambling karena tampaknya Ferrari mengincar satu kali pit stop. Apalagi, tak lama berselang, VSC kembali keluar setelah Valterri Bottas dari Cadillac juga mengalami permasalahan pada mobilnya.
Nah, harusnya begitu VSC keluar lagi, Ferrari harusnya pit, bukan? Apalagi beberapa pembalap juga memanfaatkan VSC kedua ini. Hanya saja, ini kan Ferrari, jadi ya kadang suka melawak.
Alih-alih langsung pit, mereka justru tidak langsung masuk ke dalam pit. Saat mau masuk ke pit, pintu masuknya malah ditutup karena digunakan untuk mengevakuasi Bottas. Alhasil, Leclerc dan Lewis Hamilton pun harus pit saat VSC telah usai.
Hal ini pun berhasil dimanfaatkan oleh Mercedes dengan baik dan mereka mampu mengunci podium 1-2. Sementara itu, Leclerc harus puas berada di podium ketiga. Walau apes, setidaknya Ferrari berhasil mengunci posisi 3-4 dan menunjukkan mereka adalah salah satu kandidat juara.
Verstappen Kembali Unjuk Kebolehan, McLaren agak Was-was

Selain duel seru antara Mercedes vs Ferrari, hal menarik lainnya dari balapan kemarin adalah Max Verstappen yang mampu bangkit. Start dari posisi 20 karena insiden saat kualifikasi, ia berhasil merangkak naik hingga finis di peringkat ke-6.
Red Bull memang disebut sebagai mobil tercepat ketiga di musim ini setelah Mercedes dan Ferrari. Bahkan seandainya Hadjar tidak mengalami kerusakan pada mobilnya, bisa jadi ia berhasil meraih podium perdana bersama tim barunya.
Verstappen tampaknya akan kembali menunjukkan anomalinya seperti tahun kemarin. Meskipun tidak berada di mobil tercepat, ia tetap merupakan salah satu kandidat juara musim ini.
Sementara itu, McLaren tampaknya agak kewalahan di musim ini. Setelah dominasi dua musim terakhir, tampaknya mereka bukan lagi kandidat juara di musim ini. Lando Norris memang hebat karena mampu menahan Verstappen, tapi tak cukup cepat untuk menjadi penantang juara.
Nasib apes juga kembali menghampiri pembalap tuan rumah, Oscar Piastri. Setelah musim kemarin terpelintir di akhir balapan dan hanya finis di peringkat 9, musim ini ia malah gagal start setelah mobilnya mengalami insiden bahkan sebelum balapan dimulai.
(Sebagai tambahan, Hadjar juga lagi-lagi gagal finis di GP Australia seperti tahun kemarin)
Regulasi Baru: Makin Oke atau Makin Payah?

Sejak pra-musim, sudah banyak pembalap yang komplain tentang regulasi baru. Penulis tidak akan menjabarkan detail teknisnya, tapi intinya mobil yang sekarang bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling cerdik melakukan manajemen.
Jika di regulasi sebelumnya manajemen ban menjadi kunci, maka musim ini kita diperlihatkan bagaimana pembalap juga harus semakin pandai dan perhitungan dalam melakukan manajemen baterai.
Mengingat misi FIA yang ingin semakin go green, maka mobil F1 pun dibuat semakin ramah lingkungan. Bahkan, tak sedikit yang menyebut kalau F1 sekarang adalah Formula E versi premium.
Kecepatan mobil pun menjadi hal yang paling sorot. Dari hasil lap tercepat kualifikasi misalnya, fastest lap musim ini ternyata lebih lambat sekitar 3 detik dibandingkan dengan musim kemarin.
Di balapan tadi, top speed-nya sendiri menyentuh angka 344 km/jam yang berhasil diraih oleh Franco Colapinto dari Alpine. Sebagai perbandingan, rekor di tahun kemarin adalah 360 km/jam.
Meskipun lebih lambat, janji FIA tentang lebih banyak aksi overtake memang terbukti. Selain duel antara Russell vs Leclerc, di belakang pun ada banyak aksi overtake walau memang 1/3 akhir balapan sudah seperti Sunmori.
Dari sisi suara mesin, jujur saja suaranya memang semakin lama semakin tidak enak didengar. Karena Penulis besar dengan suara mesin V10, suara mobil saat ini seperti (mengutip F1 Speed Indonesia) suara mesin fogging.
Memang terlalu dini untuk menilai apakah F1 musim 2026 akan membosankan dengan regulasi baru. Namun, dari GP Australia hari ini, tampaknya kita memang diberi harapan kalau balapan akan jadi lebih seru.
Siapa yang Berpeluang Juara?
Lantas, siapa yang berpeluang juara? Seperti hasil di pra-musim, Mercedes memang menjadi tim yang paling kompetitif dan itu terbukti dari hasil GP Australia. Russell juga menjadi kandidat terkuat karena dirinya juga semakin matang.
Sementara itu, Ferrari juga tidak boleh dicoret dari daftar kandidat juara. Selama mereka tidak sering melawak seperti biasanya, bisa jadi tahun ini benar-benar akan menjadi tahun mereka setelah juara terakhir kali pada tahun 2007 silam (nyaris 20 tahun lalu).
Tentu saja jangan lupakan Verstappen, yang tetap menjadi anomali bersama Red Bull. Rasanya ia (bersama Leclerc) akan tetap jadi penantang paling serius dari Russell. Sayang, sang juara bertahan tampaknya tak akan mampu mempertahankan gelar juaranya.
Lawang, 8 Maret 2026, terinspirasi setelah menonton GP Australia
Olahraga
Menatap Masa Depan Manchester United Bersama Michael Carrick
Penggemar Manchester United (MU) di seluruh dunia tampaknya sedang menjalani pekan-pekan yang selalu berbahagia belakangan ini. Semenjak Michael Carrick menggantikan Ruben Amorim, MU masih tak terkalahkan!
Dalam enam pertandingan terakhir bersama Carrick, MU berhasil mencatatkan lima kemenangan dan satu kali imbang. Memang fans yang itu gagal potong rambut, tapi setidaknya trennya sudah semakin positif.
Catatan ini semakin impresif karena di periode pertama Carrick menjadi pelatih interim, ia juga tak terkalahkan dalam tiga laga (dua kali menang dan satu kali imbang). Artinya, selama melatih MU, ia belum pernah kalah.
Tentu catatan ini membuat banyak penggemar merasa optimis MU akan kembali ke masa jayanya bersama Carrick, walau ada isu kalau ia tak akan diperpanjang setelah musim ini berakhir.
Terlepas dari ketidakpastian itu, mari kita menatap masa depan Manchester United bersama Michael Carrick.
Formasi 4-2-3-1 yang Fluid dan Transisi Cepat

Salah satu alasan mengapa banyak fans MU yang jengkel ke Amorim adalah betapa ngotot dan keras kepalanya ia dalam memaksakan filosofinya ke dalam tim. Seperti yang kita tahu, sejak bergabung ia menggunakan formasi 3-4-2-1 seperti di Sporting Lisbon.
Masalahnya, dalam beberapa pertandingan kita bisa melihat kalau formasi ini kurang sesuai dengan komposisi pemain yang dimiliki oleh MU. Dalam beberapa pertandingan yang Penulis lihat, para pemain terlihat kesulitan menerapkan strategi yang diinstruksikan Amorim.
Memang pembelian di awal musim ini untuk melengkapi strategi yang ia miliki, tapi tetap saja kurang. Menjelang lengser, memang ia terlihat mulai fleksibel dan tidak memaksakan skemanya lagi, tapi ternyata sudah terlalu terlambat.
Carrick pun datang dan menerapkan formasi tradisional 4-2-3-1, yang sebelumnya juga digunakan oleh Ole Gunnar Solkjaer dan Erik Ten Hag. Nah, Penulis melihat kalau Carrick seolah memadukan strategi dari kedua pelatih tersebut.
Di bawah Ole, empat pemain depan bermain dengan cukup fluid dan kerap bertukar posisi. Posisi mereka bisa bergeser-geser sehingga pertahanan lawan pun tampak kesulitan untuk mengantisipasi serangan MU.
Sementara itu di bawah Ten Hag, ia memiliki ambisi untuk menjadikan MU sebagai tim transisi terbaik alias mampu mengonversi counter attack dengan baik. Nah, dua hal tersebut kembali dimunculkan oleh Carrick.
Gol ke Gawang Everton, Rangkuman Strategi Carrick

Dalam enam pertandingan ini, Carrick selalu memasang Bryan Mbuemo di ujung tombak dan ditopang oleh Patrick Dorgu/Matheus Cunha, Bruno Fernandes, dan Amad Diallo. Keempat pemain ini sangat sering terlihat bertukar posisi di lapangan secara fleksibel.
Benjamin Sesko memang belum pernah menjadi starting line-up, tapi ia kerap berhasil menjadi super-sub dan mencetak gol penentu. Terakhir, tentu saja ketika laga melawan Everton kemarin yang merupakan hasil dari counter-attack cepat.
Nah, bicara tentang gol melawan Everton kemarin, bisa dibilang gol tersebut merangkum strategi MU di bawah Carrick. Selain lini depan yang fluid dan counter attack yang cepat, kunci MU adalah di long pass.
Gol tersebut bisa tercipta dari umpan panjang Cunha ke Mbuemo, sebelum akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Sesko. MU di bawah Carrick memang terlihat cukup sering mengirim umpan panjang ke depan maupun untuk switch play.
Oleh karena itu, kehilangan lagi Lisandro Martinez merupakan kehilangan besar bagi MU. Pasalnya, bek tersebut memiliki akurasi umpan panjang yang cukup akurat dan tidak ada bek MU lain yang memiliki kemampuan seperti itu.
Sesko Sebagai Super-Sub

Kembali ke Sesko. Dalam pertandingan di bulan Februari saja, ia sudah berhasil mencetak tiga gol krusial, di mana dua menjadi penentu kemenangan dan menyelamatkan MU dari kekalahan ketika melawan West Ham.
Kekurangan MU di bawah Carrick adalah melawan tim yang menerapkan low block. MU sering terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan yang rapat, apalagi Mbuemo sejatinya bukanlah tipe target man.
Nah, Sesko adalah jawaban dari kekurangan tersebut. Penulis tidak tahu apa alasan Carrick tidak memasang Sesko sejak awal ketika berhadapan dengan tim low block, tapi ketika ia masuk, perubahan bisa langsung terlihat.
Sesko sudah mencetak 3 gol sepanjang bulan Februari ini. Sebagai perbandingan, total golnya dari awal musim hingga Januari 2026 hanya 4 gol. Sesko rasanya cocok dengan skema yang dimiliki oleh Carrick.
Perubahan Peran Pemain Lainnya

Berbicara tentang improvement, kita juga harus melihat Kobbie Mainoo yang sempat “disia-siakan” oleh Amorim karena jarang mendapatkan jam bermain. Di bawah Carrick, ia selalu menjadi langganan lineup.
Karena Carrick menggunakan formasi 4-2-3-1, tentu dibutuhkan double pivot untuk menemani Casemiro. Mengingat Manuel Ugarte kurang sip, tentu Mainoo adalah opsi tersisa dan untungnya ia bisa menjawab tantangan tersebut.
Fernandes juga akhirnya dikembalikan ke posisi aslinya sebagai pemain nomor 10. Di bawah Amorim, ia kerap bermain lebih mundur atau sedikit ke kiri, sehingga terlihat kurang mampu berperan sebagai playmaker.
Jangan lupakan juga performa luar biasa Senne Lammens yang kerap melakukan penyelamatan krusial. Penulis awalnya sempat meragukannya, tapi ia menunjukkan kapabilitasnya sebagai kiper top yang jauh lebih baik dari Andre Onana.
Pemain lain yang berubah posisi adalah Luke Shaw, yang sebelumnya sering dijadikan sebagai CB oleh Amorim. Ia kembali ke posisinya semula sebagai LB, sedangkan Dorgu yang juga berposisi sama dimajukan menjadi LM.
Nah, seandainya Dorgu sudah kembali fit, tentu Carrick akan pusing dalam menentukan pemain utamanya karena Cunha juga menunjukkan performa yang oke. Hanya saja, itu juga patut disyukuri karena artinya MU mulai punya kedalaman skuad yang baik.
***
Jika MU mampu bermain baik terus seperti ini, maka slot Liga Champions seharusnya bisa diamankan setelah musim ini tidak berlaga di turnamen Eropa mana pun.
Tentu masih PR yang harus dikerjakan Carrick apabila ia diperpanjang oleh manajemen MU, terutama mencari pengganti Casemiro yang kontraknya habis. Setidaknya, untuk saat ini, Penulis ingin menikmat masa “bulan madu” MU bersama Carrick.
Lawang, 25 Februari 2026, terinspirasi setelah menonton Manchester United tak terkalahkan selama 10 pertandingan terakhir
-
Musik12 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Permainan9 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi9 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara9 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga9 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri9 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri9 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Olahraga7 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana



You must be logged in to post a comment Login