Connect with us

Olahraga

Ya Udah Sana Pergi

Published

on

Bagi penggemar Manchester United (MU), Senin minggu ini terasa sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, Cristiano Ronaldo baru saja menjalani sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu jurnalis ternama Inggris, Piers Morgan, dan isinya sama sekali tidak menyenangkan.

Dalam wawancara tersebut, ada beberapa poin utama yang menjadi sorotan. Salah satunya adalah bagaimana ia mengganggap MU telah mengkhianatinya. Secara khusus, ia menunjuk sang pelatih Erik ten Hag yang juga dianggapnya tidak menghormati dirinya.

“Saya tidak menghormati dia karena dia tidak menghormati saya,” kata Ronaldo, “Beberapa orang, mereka tidak menginginkan saya di sini. Tidak hanya pelatih, tetapi dua atau tiga orang lainnya. Bukan hanya tahun ini, tapi tahun lalu juga.”

Pada tulisan kali ini, Penulis akan mengungkapkan kekecewaannya kepada Ronaldo atas apa yang ia ungkapkan pada wawancara tersebut, dengan segala hormat atas kontribusinya untuk tim selama ini.

Si Paling Gila Hormat

Erik ten Hag dan Ronaldo (Sky News)

Bagi penggemar MU, jelas ucapan sang megabintang di atas sangat menyakitkan, apalagi jika mengingat bagaimana ia di awal musim menolak untuk ikut pramusim dan tampak ngotot untuk pindah tim karena ingin bermain Liga Champion.

Tidak hanya itu, ia juga sempat bertindak secara tidak profesional dengan meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir ketika MU berhadapan dengan Tottenham Hotspurs. Akibatnya, ia diberi hukuman selama satu minggu.

Pihak klub, ten Hag, dan suporter pun merasa kalau masalah tersebut telah usai, karena pada pertandingan selanjutnya ketika berhadapan dengan West Han. Ia bahkan ditunjuk untuk menjadi kapten ketika melawan Aston Villa.

Sayangnya, tampaknya Ronaldo masih merasa sakit hati atas semua perlakuan yang ia terima dari klub akhir-akhir ini. Serangannya secara langsung ke ten Hag ketika statusnya masih aktif sebagai pemain klub jelas menjadi bukti nyatanya.

Sebagai seorang pelatih, ten Hag maupun pelatih lainnya pasti akan berusaha untuk fair dan tidak memiliki “anak emas” yang selalu diistimewakan. Semua harus mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang sama tanpa ada diskriminasi tertentu.

Ronaldo pun jadi terlihat sebagai sosok yang gila hormat karena menganggap ten Hag dan beberapa orang lain tidak menghargainya. Penulis sendiri tidak bisa membayangkan hormat seperti apa yang ia harapkan.

Apakah pelatih harus memainkannya di setiap pertandingan walaupun performanya kacau, baru bisa dianggap menghargainya? Jika iya, tampaknya Ronaldo akan kesulitan menemukan orang yang bisa menghargainya.

Si Paling Paham Tim

Garnacho dan Ronaldo (CNN)

Serangan Ronaldo tidak berakhir sampai di sana. Ia menyebutkan bahwa kemajuan dari klub semenjak kepergian Sir Alex Ferguson adalah nol. Selain itu, menurutnya banyak fasilitas di MU yang seharusnya ada justru tidak ada, seperti kolam renang, jacuzzi, dan gym.

Hal ini memang ada benarnya, karena prestasi MU cenderung stagnan dan mengalami penurunan yang drastis. Untuk masalah fasilitas klub, Penulis belum pernah ke markas MU sehingga tidak bisa mengonfirmasinya

Namun, seharusnya jika ia menyadari hal tersebut, jika ia memang peduli dengan klub, ia akan melakukan sesuatu untuk membantu klub, apapun perannya. Ketika performa di dalam lapangan buruk, mungkin ia masih bisa membantu di luar lapangan.

Dengan segudang prestasi yang telah diraih, Ronaldo bisa menjadi mentor dan contoh yang baik untuk pemain-pemain muda MU seperti Alejandro Garnacho. Sayangnya, ia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan peran tersebut.

Ronaldo masih bernafsu untuk menjadi pusat permainan, memecahkan berbagai rekor, dan memenangkan sesuatu. Jika ingin berpikiran buruk, ia memang terkesan hanya peduli kepada dirinya sendiri.

Si Paling Antikritik

Rooney dan Ronaldo (talkSPORT)

Siapa lagi yang kena “semprot” Ronaldo? Ternyata Wayne Rooney, mantan rekannya di klub belasan tahun yang lalu. Kedua pemain memang pernah berseteru di masa mudanya, dan tampaknya hingga saat ini hal tersebut masih membekas.

Sebelumnya, Rooney sempat memberikan kritik kepada Ronaldo akan sikapnya yang tidak bisa diterima ketika MU melawan Tottenham dan menganggapnya sebagai “gangguan” yang tidak diinginkan klub.

Selain gila hormat, ternyata Ronaldo juga antikritik. Bahkan, ia membalas kritikan tersebut dengan merendahkan Rooney, sebuah sikap yang kekanak-kanakan dan tidak menghormati Rooney sebagai seorang pemain.

“Saya tidak tahu mengapa dia mengkritik saya dengan sangat buruk, mungkin karena dia (telah) mengakhiri karirnya dan saya bermain di level tinggi. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku terlihat lebih baik darinya, itu benar,” ungkap Ronaldo.

Ironi memang, ketika seorang yang berharap dihargai tidak menghargai orang lain. Mungkin Ronaldo butuh belajar interopeksi diri, menerima kenyataan, dan bisa menghargai orang lain lebih baik lagi.

Penutup

Di media sosial, sedang ramai perang antara penggemar Ronaldo melawan penggemar MU. Penggemar MU menyerang kalau tim tidak bisa menghargai Ronaldo, sedangkan penggemar MU menyerang kalau Ronaldo sama sekali tidak profesional.

Sesungguhnya Penulis bersimpati kepadanya, bagaimana Ronaldo di penghujung karirnya harus mengalami hal seperti ini. Sebagai seorang legenda hidup, Penulis berharap kalau ia mendapatkan perlakuan yang lebih baik lagi.

Hanya saja, Ronaldonya sendiri terlihat tidak bisa menerima kenyataan kalau performanya memang sedang jelek. Setiap melihat ia bermain, Penulis benar-benar melihat penurunan kualitas.

Dengan wawancara ini, tampaknya Ronaldo telah membulatkan tekad untuk pindah pada bulan Januari nanti. Penulis sendiri sudah tidak peduli, buat apa berharap ke pemain yang lebih mementingkan egonya sendiri. Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub.

Terima kasih Ronaldo, jasamu tidak akan kami lupakan. Namun, mungkin saat ini memang waktumu untuk pergi dari klub. Semoga sukses dengan klub barumu nanti, kalau memang masih ada yang mau menerimamu.


Lawang, 14 November 2022, terinspirasi setelah membaca tentang wawancara Cristiano Ronaldo bersama Piers Morgan

Foto: YouTube

Sumber Artikel:

Olahraga

“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”

Published

on

By

Bulan Desember ini rasanya tidak ramah bagi pendukung Manchester United (MU). Pasalnya, banyak sekali pertandingan MU yang dimainkan pukul 3 pagi waktu Indonesia Barat. Iya kalau menang, kalau seri atau kalah jadi terasa sia-sia bangun sepagi itu.

Salah satu pertandingan yang baru saja usai adalah saat menjamu Bournemouth, yang berlangsung pada hari Selasa (16/12) kemarin. Pertandingan yang berlangsung dramatis tersebut harus berakhir imbang dengan skor fantastis, 4-4.

Mungkin banyak pendukung (termasuk Penulis) MU yang merasa bahwa situasi tim saat ini sudah membaik. Setelah mengalami musim neraka sebelumnya, kondisi yang ada sekarang jelas terasa sudah cukup, setidaknya untuk menghindari bully dari pendukung tim lain.

Evaluasi Singkat Pertandingan Melawan Bournemouth

Pertahanan Masih Banyak PR (via Metro Daily)

Mengingat MU sekarang sering dianggap sebagai klub papan tengah, Bournemouth adalah salah satu lawan yang membuat kami sering merasa deg-degan. Pasalnya, klub tersebut cukup rajin membobol gawang MU, bahkan pernah dua kali menang 3-0 di Old Trafford di musim 23/24 dan 24/25.

Musim ini, Bournemouth berhasil menjebol empat gol di Old Trafford, yang untungnya MU juga bisa mencetak jumlah gol yang sama. Pertandingan tersebut memang bagaikan sebuah roller coaster, dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 2-3, 3-3, 4-3, hingga akhirnya 4-4.

Terlepas dari hasilnya, sebenarnya Penulis melihat kalau MU memiliki progres yang terlihat. Dalam pertandingan kemarin contohnya, lini penyerangan MU terlihat lebih berbahaya dan berhasil mencatatkan banyak peluang hingga 25 tembakan (17 di antaranya di babak pertama).

Namun, serangan yang banyak tersebut nyatanya jadi sia-sia karena banyak finisihing yang kurang klinis. Mbuemo yang biasanya moncer terlihat agar kurang kemarin, karena beberapa kali membuang peluang emas di depan gawang. MU sejatinya bisa mencetak lebih dari empat gol.

Setidaknya, pola serangan MU jadi lebih jelas dan enak untuk ditonton, beda dengan musim lalu yang kayak enggak jelas mau bermain seperti apa. Set piece MU juga makin tajam, di mana musim ini telah mencetak 11 gol dari kondisi ini.

Sisi pertahanan pun patut disorot. Kebobolan 10 dalam tiga laga terakhir ketika menjamu Bournemouth di kandang jelas bukan raihan yang impresif. Memang, ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kebobolan empat, asal bisa mencetak lima. Masalahnya MU hanya bisa mencetak empat.

Dari sisi kiper, Lammens yang menggantikan Onana berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial terutama di menit-menit akhir. Hanya saja, ia juga melakukan kesalahan ketika telat melompat saat Bournemouth mendapatkan tendangan bebas di depan gawang.

Amorim menurunkan dua bek muda pada pertandingan kemarin, yakni Yoro dan Heaven, karena Maguire dan De Light masih berhalangan untuk tampil. Mereka berdua tampil cukup solid, bahkan mungkin lebih baik dari Shaw yang kemarin sempat kehilangan bola dan berujung kebobolan.

Jika disimpulkan, musim ini para pemain MU tampak sudah mulai nyetel dengan formasi 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim. Tak hanya itu, sang pelatih juga tampaknya mendengarkan masukan dan mulai mengubah sedikit strateginya.

Perubahan Strategi Amorim

Jadi Lebih Menyerang (via Bola)

Sejak menangani MU, Ruben Amorim dan strateginya kerap disorot. Dengan status sebagai manajer terburuk setelah era Sir Alex Ferguson, banyak yang menganggap formasi 3-4-2-1 yang ia usung tak cocok untuk MU.

Amorim tak menyerah begitu saja pada filosofinya, lantas ia mendatangkan tiga pemain baru agar strateginya bisa lebih jalan. Hal tersebut memang terlihat karena MU jelas lebih moncer dibandingkan setengah musim lalu.

Satu hal yang paling terlihat dari pertandingan kemarin adalah perubahan strategi dari Amorim. Melansir dari tulisan analis Alex Keble, Amorim mencoba bereksperimen dengan empat bek “palsu”, dengan Yoro main di sisi kanan.

Dengan demikian, posisi Diallo yang di atas kertas merupakan bek sayap kanan bisa lebih maju untuk membantu lini penyerangan. Ia bersama Mbuemo, Mount, dan Fernandes menjadi pemain yang menyokong Cunha yang kemarin dipasang sebagai false 9.

Sementara itu, Casemiro diplot sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, alias menjadi penyeimbang. Jadi, walau di atas kertas posisi MU 3-4-2-1, di lapangan bisa berubah seperti 4-1-4-1.

Jika Dalot ikut menyerang, maka formasinya akan bisa berubah menjadi 3-1-1-5, di mana Fernandes yang akan menjadi pengatur serangan dengan memanfaatkan overload pemain di depan. Namun, tentu pola ini sangat rentan terkena serangan balik.

Ketika tertinggal, MU berubah formasi menjadi 4-2-4 di mana Sesko dimasukkan. Strategi ini sempat berhasil karena berhasil membuat MU berbalik unggul. Sayangnya, Amorim tidak segera mengubah formasi menjadi lebih defensif sehingga MU kembali kebobolan.

Perubahan strategi ini memang terlihat berhasil karena MU bisa mencetak gol banyak. Meskipun Sesko masih sering terlihat enggak ngapain-ngapain dan Mount inkonsisten, setidaknya permainan Cunha, Mbuemo, dan Diallo bisa memberikan harapan.

Satu hal lain yang perlu dicatat adalah bagaimana pemain MU tidak terlalu terpatok pada posisinya, sehingga alur serangan terlihat sangat fluid. Dalot tiba-tiba bisa di tengah, Cunha sering turun ke dalam untuk jemput bola, Mount kerap melebar, dan seterusnya.

Di sisi lain, strategi tersebut menimbulkan celah yang cukup lebar di belakang. Selain Casemiro yang harus cover banyak area, jarak antarbek pun cukup lebar dan celah tersebut kerap dimanfaatkan.

Dalam pertandingan kemarin, bisa dilihat ketika situasi bola berhasil direbut ketika sedang build up serangan, pemain MU terlihat kewalahan dalam menjaga pemain lawan sekaligus menutup area agar tidak dieksploitasi. Casemiro bahkan sampai melakukan pelanggaran yang berujung gol.

Memang ada faktor pengalaman, mengingat Yoro dan Heaven bahkan belum berusia 20 tahun. Jika De Ligt dan Maguire telah kembali (dan Martinez telah menemukan kembali performa terbaiknya), strategi ini terlihat sangat menjanjikan.

***

Jika melihat sekarang, memang situasinya terlihat lebih baik. Bertengger di peringkat enam setelah musim lalu finis di peringkat 15 jelas membuat kami merasa senang. Padahal, dalam tujuh pertandingan terakhir, MU hanya bisa menang dua kali. Sungguh keajaiban.

Namun, bukan berarti kondisi tim sudah membaik secara menyeluruh. Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar tim setan merah ini bisa segera kembali ke jajaran tim top Eropa dan agar Frank Ilett segera memotong rambutnya.


Lawang, 18 Desember 2025, terinspirasi setelah menonton pertandingan antara MU vs Bournemouth

Foto Featured Image: Kompas Bola

Sumber Artikel:

Continue Reading

Olahraga

Lando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025

Published

on

By

Ketika baru dimulai, banyak yang merasa kalau musim Formula 1 (F1) 2025 akan terasa membosankan. Dominasi McLaren dari akhir 2024 berhasil dipertahankan, sehingga siapa yang akan menjadi juara sudah bisa ditebak.

Apalagi, musim ini akan menjadi musim terakhir sebelum tahun depan akan berganti regulasi yang benar-benar baru. Belum ada yang bisa menebak siapa yang akan dominan di musim depan, apalagi dengan jumlah tim yang bertambah menjadi 11.

Namun, siapa sangka kalau ternyata musim ini masih bisa terasa seru bahkan hingga balapan terakhir di Abu Dhabi. Memang, prediksi banyak orang terbukti dengan McLaren dan Lando Norris berhasil menjadi juara. Namun, perjalanan menuju juara tak semulus yang terlihat.

Dominasi McLaren Sejak Awal Musim

Verstappen vs McLaren (via Planet F1)

Sejak awal musim, kita bisa melihat kalau McLaren tampaknya akan berhasil mempertahankan gelar juara konstruktornya. Dari pra-musim di Bahrain saja, pace mereka sudah terlihat sangat kencang hingga banyak yang menyebut mereka menggunakan mesin roket. Tinggal melihat, siapakah di antara Lando Norris dan Oscar Piastri yang akan menjadi juara.

Di sisi lain, Max Verstappen bersama Red Bull terlihat cukup kesulitan mengimbangi performa duo Mclaren. Julukan “mobil traktor” pun sampai muncul. Bahkan, Liam Lawson yang menjadi pengganti Sergio Perez hanya bertahan dua balapan sebelum turun ke Racing Bulls dan digantikan oleh Yuki Tsunoda.

Buruknya performa Red Bull juga diperparah dengan masalah internal tim. Seperti yang kita tahu, di pertengahan musim, Christian Horner selaku Team Principal Red Bull selama 20 tahun terakhir didepak pada tanggal 9 Juli 2025 dan digantikan oleh Laurent Mekies.

Sementara itu, tim-tim lain juga tampak biasa saja. Mercedes harus kehilangan Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari dan mendebutkan Kimi Antonelli . Ferrari ya begitu-begitu saja, susah untuk diharapkan, walau sudah kedatangan juara dunia tujuh kali.

Pada balapan pertama di Australia, Norris berhasil mengunci kemenangan. Verstappen secara mengejutkan berhasil mengunci posisi kedua, sedangkan Piastri harus kehilangan banyak posisi akibat kesalahan yang ia lakukan.

Walau begitu, Piastri berhasil bangkit dengan meraih kemenangan di China. Bahkan, setelah kemenangan Verstappen di Jepang, ia berhasil mencetak tiga kemenangan beruntun di Bahrain, Arab Saudi, dan Miami. Ia pun berhasil mengudeta Norris di puncak klasemen dan berhasil bertahan selama beberapa bulan.

Setelah itu, praktis Norris dan Piastri bergantian menang hingga Belanda, dengan George Russel berhasil mencuri satu kemenangan di Kanada. Norris berhasil menang di Monaco, Austria, Inggris, dan Hungaria. Sementara itu, Piastri menambah kemenangan di Spanyol, Belgia, dan Belanda.

Bagaimana dengan Verstappen? Bisa dibilang ini adalah fase tersuramnya di musim 2025. Setelah kemenangan di Italia, ia hanya dua kali naik ke podium, yakni di Kanada dan Belanda. Keduanya sama-sama juara dua, tidak ada satu pun kemenangan yang ia raih.

Comeback Epik Verstappen dan Menurunnya Performa Piastri

Verstappen dan Piastri (via F1)

Dipecatnya Horner terbukti ampuh dalam memperbaiki performa tim. Di bawah arah Mekies, perlahan Verstappen dan Red Bull kembali menunjukkan raihan impresif. Sejak di Belanda, ia berhasil selalu raih podium!

Di pertengahan musim, ketika Piastri sedang menjadi pemuncak klasemen, jarak Verstappen mencapai 104 poin. Oleh karena itu, sebuah raihan yang luar biasa ia berhasil mengejar ketertinggalan tersebut hingga hanya dua poin saja di akhir musim!

Dari 10 balapan terakhir di musim ini, Verstappen juga berhasil meraih enam kemenangan. Bahkan, jumlah kemenangannya di musim ini (8) berhasil mengungguli Norris dan Piastri yang sama-sama mengoleksi 7 kemenangan.

Lantas, apa yang terjadi dengan Piastri? Itu menjadi banyak pertanyaan orang. Sejak juara di Belanda, Piastri gagal meraih satu pun kemenangan. Ia hanya berhasil tiga kali podium di Italia, Qatar, dan Abu Dhabi. Selebihnya, ia hanya finis di peringkat 4-5 saja.

Hal ini makin diperparah dengan kegagalan finisnya di Azerbaijan dan diskualifikasi di Las Vegas. Meskipun ia di paruh awal musim konsisten naik podium, menurunnya performa di musim kedua jelas menjadi alasan utama mengapa ia kehilangan gelar juara dunia.

Banyak yang menganggap penurunan performa Piastri disebabkan oleh adanya kecenderungan tim yang lebih memprioritaskan Norris. Ada juga yang menganggap Piastri belum memiliki mental juara, mengingat ini baru musim ketiganya di F1.

Walau begitu, kita harus bersyukur karena kedua pembalap tersebut telah membuat musim ini menjadi lebih seru. Sudah lama tidak ada penentuan juara hingga balapan terakhir (terakhir musim 2021, Verstappen vs Hamilton), lebih lama lagi tidak ada gelar juara yang direbutkan oleh lebih dari dua pembalap (terakhir 2010, Alonso vs Webber vs Vettel vs Hamilton).

Konsistensi Jadi Kunci Lando Norris Juara Dunia

Memang Layak untuk Juara (via The Independent)

Bisa dilihat kalau Piastri bagus di paruh musim pertama, sedangkan Verstappen “ngamuk” di paruh musim kedua. Di saat saingan-saingan terdekatnya inkonsisten, Norris berhasil menunjukkan performa konsisten yang membuatnya layak menjadi juara dunia.

Sejatinya, Norris bukan tanpa celah di musim ini. Bahkan, ia gagal finis hingga tiga kali, yakni di Kanada karena kesalahannya, di Belanda karena masalah dengan mobilnya, dan di Las Vegas karena diskualifikasi setelah balapan.

Sebagai perbandingan, Piastri gagal finis dua kali di musim ini, sedangkan Verstappen hanya gagal finis di Austria. Secara matematis, harusnya Norris menjadi pembalap yang paling sering kehilangan poin. Namun, bukan hal itu yang terjadi.

Dari 21 balapan ketika ia berhasil finis, hanya sekali ia terlempar dari empat besar, yakni ketika di Azerbaijan ketika ia hanya finis di posisi 7. Selebihnya, ia selalu konsisten masuk minimal 4 besar, dengan rincian sebagai berikut:

  • Juara 1: 7 kali
  • Juara 2: 8 kali
  • Juara 3: 3 kali
  • Juara 4: 2 kali

Bisa dilihat, total ia berhasil naik ke podium hingga 18 kali dari 24 balapan yang ada di musim ini. Piastri hanya 16 kali, sedangkan Verstappen berhasil naih podium 15 kali. Jangan lupa, kedua pembalap juga cukup sering terlempar dari 5 besar.

Oleh karena itu, Penulis tidak sepakat dengan argumen penggemar yang mengatakan kalau Norris tidak layak untuk menjadi juara dunia. Dengan data di atas, berhasil dibuktikan kalau Norris memang menjadi pembalap paling konsisten di tahun 2025 ini.

Sekarang tinggal menantikan, apakah konsistensi ini berhasil ia lanjutkan di musim 2026 mendatang, di mana semua pembalap akan memulai dari nol berkat regulasi baru. Apakah ia berhasil mempertahankan nomor 1 di mobilnya, atau justru direbut oleh pembalap lain?

Enaknya jadi penonton F1 tanpa ada tim atau pembalap yang didukung ternyata seperti ini, mau mengomentari apa pun terasa ringan tanpa beban…


Lawang, 8 Desember 2025, terinspirasi setelah menyaksikan momen ketika Lando Norris menjadi juara dunia

Foto Featured Image: MSN

Continue Reading

Olahraga

Kita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana

Published

on

By

GP Meksiko yang berlangsung pada hari Minggu (26/10) kemarin berlangsung cukup seru dan penuh drama. Lando Norris memang berhasil menjadi juara sekaligus menyalip Oscar Piastri di klasemen, tapi di belakangnya ada banyak hal yang terjadi.

Penulis tidak akan membahas satu-satu, tapi hanya ingin mengutarakan perasaan “aduh sedikit lagi” kepada Oliver Bearman, pembalap rookie dari Haas yang nyaris saja meraih podium perdananya (sekaligus podium perdana Haas sebagai tim).

Sepanjang balapan, ia yang start dari peringkat 10 berhasil berada di posisi empat cukup lama. Banyak yang sudah berharap ia akan podium, karena Lewis Hamilton terkena penalti 10 detik. Sayangnya, ia kalah strategi dari Max Verstappen yang berhasil merebut podium.

Seandainya saja Bearman berhasil podium, maka ia akan menjadi pembalap “baru” selanjutnya yang akan merasakan bagaimana berdiri di atas podium F1 untuk pertama kalinya. Musim 2025 ini memang seolah menjadi ajang para rookie (dan satu veteran) untuk merasakan nikmatnya podium.

Siapa Saja Pembalap Baru yang Naik Podium?

Kimi Antonelli (Straits Times)

Di awal musim, persaingan seolah mengerucut antara duo McLaren melawan Verstappen saja. Hal itu terbukti dengan persaingan gelar juara pembalap saat ini, di mana mereka bertiga masih saling mengejar. Apalagi, McLaren telah mengunci gelar juara konstruktor.

Selain mereka, hanya ada dua pembalap yang bisa rutin naik ke podium, yakni George Russel (Mercedes) dan Charles Leclerc (Ferrari). Mantan juara dunia 7 kali, Lewis Hamilton, masih berusaha untuk meraih podium perdana bersama tim barunya, Ferrari.

Walaupun peserta podium terkesan monoton, setidaknya ada beberapa nama baru yang berhasil meraih podium perdananya. Ada juga pembalap yang berhasil meraih podium perdana bersama tim barunya (bukan, bukan Hamilton), dan kebetulan podium ketiga semua.

Yang pertama ada Kimi Antonelli dari Mercedes, yang juga merupakan pembalap paling muda di grid (kelahiran 2006, seumuran sama Carmen H2H). Ia berhasil meraih podium perdananya di GP Kanada, ketika rekan setimnya berhasil menjadi juara.

Selanjutnya ada pembalap veteran Niko Hulkenberg dari Kick Sauber. Setelah 239 balapan tanpa pernah sekalipun podium, ia berhail meraihnya di GP Inggris secara spektakuler. Bahkan, ada banyak momen lucu karena itu adalah pengalaman pertamanya!

Rookie selanjutnya yang berhasil meraih podium adalah Isack Hadjar dari Racing Bull. Ia berhasil meraih podium perdananya di GP Belanda setelah menjalani balapan yang spektakuler. Bisa dibilang, rookie tahun ini memang banyak yang menjanjikan.

Nah, nama terakhir yang “baru” mencicipi podium bersama tim barunya adalah Carlos Sainz Jr. bersama William. Tentu Sainz sudah cukup kenyang meraih podium, bahkan memenangkan balapan, tapi meraihnya bersama tim baru tentu tetap terasa istimewa.

Berhubung juara satunya berputar antara Norris, Piastri, dan Verstappen (juga Russel yang raih dua kemenangan), menantikan apakah akan ada pembalap baru lain yang akan naik podium menjadi keseruan tersendiri bagi penggemar F1, atau setidaknya bagi Penulis.

Mengapa Kita Suka Jika Ada Pembalap Baru yang Raih Podium Perdana?

Niko Hulkenberg (ESPN Phillipines)

Jika mengamati kolom komentar di konten F1 ketika ada pembalap baru yang raih podium perdana, mayoritas isinya positif dan sangat mengapresiasi. Meskipun pendukung pembalap lain, pujian tak akan sungkan untuk dilemparkan ke mereka.

Cinderella story seperti ini sebenarnya memang menjadi favorit banyak orang, termasuk Penulis. Berapa banyak penggemar Liga Inggris yang girang ketika Leicester City menjadi juara secara mengejutkan di musim 2015/2015? Hampir semua!

Hal yang sama juga terjadi di F1. Mungkin kita masih ingat bagaimana Cinderella Story di tahun 2009, ketika tim baru Brawn GP secara mengejutkan berhasil mendominasi musim, dengan Jenson Button keluar sebagai juara dunia. Brawn GP pun akhirnya menjadi Mercedes.

Mungkin kalau sekarang, keajaiban seperti itu sudah sulit untuk terulang. Yang ada, justru dominasi tim-tim tertentu yang seolah sulit untuk dikejar oleh tim lain. Lihat saja 7 tahun dominasi Mercedes (2014-2021), dominasi Verstappen, dan kini dominasi McLaren.

Oleh karena itu, wajar jika banyak penggemar F1 menyukai kejutan-kejutan kecil ketika ada pembalap baru yang berhasil meraih podium perdananya. Siapapun yang mendapatkannya, semua akan ikut senang. Kok kita, sesama pembalap aja ikut senang.

Penampilan para rookie yang menjanjikan jelas menjadi tontonan yang menyenangkan, karena mereka adalah produk regenerasi pembalap-pembalap senior yang (mungkin) masa depannya cerah.

Raihan podium di Hulkenberg di GP Inggris yang diguyur hujan juga menjadi sorotan yang sangat menarik. Ia mengendarai salah satu mobil terburuk di grid, mungkin hanya lebih baik dari Alpine di musim ini. Hebatnya lagi, ia start dari peringkat 19!

Mungkin karena ada hal-hal tak terduga seperti inilah Penulis menjadi penggemar F1, tentu selain keseruan ketika balapan. Penulis tak akan pernah bosan menanti akan ada nama baru yang berhasil naik ke podium dengan tersenyum penuh.


Lawang, 29 Oktober 2025, terinspirasi setelah Oliver Bearman nyaris podium di GP Meksiko kemarin

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan