Chapter 76 Petunjuk Pertama

Kenji menepati janjinya. Satu hari setelah Ujian Nasional berakhir, kami mulai mengumpulkan semua fakta yang sudah kami ketahui. Sepulang sekolah yang sebenarnya tidak ada aktivitas apapun, kami mulai menjelajahi rumahku untuk mencari apapun yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Kami memulai aktivitas ini dengan membongkar kamar orangtuaku. Nihil, kami tidak menemukan apapun di sini.

“Seharusnya kamar menjadi ruang yang paling rahasia, bukan? Sudah sewajarnya ibu menyembunyikan sesuatu di sini,” keluhku setelah mengeluarkan seluruh isi lemari dan rak yang ada di dalam kamar.

“Bisa jadi ibumu merasa tidak aman dari ayahmu, Le. Kamu tahu sendiri ayahmu tak pernah merestui kegiatan ibumu,” kata Kenji berusaha memberikan penjelasan yang logis.

“Benar juga. Gisel, bisa minta tolong kembalikan baju-baju ini? Kakak mau pindah lokasi, nanti yang berat-berat biat kakak yang pindahkan.”

“Siap laksanakan, kak!” sahut Gisel dengan semangat. Maklum, dari tadi ia menanti momen di mana ia bisa membantu.

“Selanjutnya mau cari di mana?” tanya Kenji.

“Ke gudang, di sana kita menemukan brankas rahasia itu.”

Maka aku dan Kenji pergi ke gudang dan mulai menyusuri sudut-sudutnya. Bahkan aku memeriksa lagi tempat rahasia di mana aku menemukan brankas tersebut dan berharap ada sesuatu yang tertinggal. Sayang, di tempat kecil tersebut benar-benar tidak tersisa apa-apa. Kebanyakan barang di gudang pun sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa tentang ibu. Hal ini benar-benar membuatku sedikit frustasi.

“Bisa jadi ibumu mengumpulkan semuanya di kotak brankas tersebut, Le.”

“Iya, tapi kita masih belum tahu kunci kombinasinya.”

“Yah, kita bisa membukanya secara paksa, tapi kamu menolak ide tersebut, kan?”

Kenji benar, kami bisa saja membongkar paksa brankas tersebut. Hanya saja, aku merasa tidak tega merusak barang peninggalan ibu. Selain itu, membongkar paksa brankas tersebut berpotensi untuk merusak isi yang ada di dalamnya.

“Setelah ini sebaiknya kita istirahat dulu, Le. Setelah makan, kita lanjutkan lagi.”

Kuakui aku memang merasa cukup lelah setelah membongkar ini itu, sehingga usulan Kenji kuterima. Kenji mengajukan diri untuk membuat makanan. Tentu saja aku menerima usulan tersebut, mengingat masakan Kenji selama ini tidak pernah mengecewakan lidahku.

Aku kembali ke ruang tengah dan memeriksa ponsel yang kugeletakkan begitu saja di meja makan. Ada satu pesan masuk dari Rika. Ia bertanya apakah aku sedang sibuk. Aku segera membalas pesannya dengan mengatakan tidak. Beberapa menit kemudian, ponselku berdering karena Rika menelepon.

“Halo? Iya Rika?”

“Halo Leon, maaf ya tiba-tiba telepon kamu.”

“Enggak apa-apa kok, ada apa emangnya?”

“Enggak ada apa-apa sih sebenarnya. Aku cuma kepikiran aja. Kan kamu bilang, setelah Ujian Nasional kamu bakal fokus untuk memecahkan berbagai misteri yang berkaitan sama orangtuamu. Tadi aku lihat kamu di kelas juga ngobrol terus sama Kenji.”

“Ah iya, maaf sudah membuatmu kepikiran. Sekarang ini aku dan Kenji sedang mengumpulkan sebanyak mungkin fakta yang bisa kami kumpulkan di rumah. Sayangnya, kami belum menemukan apapun sampai saat ini.”

“Begitu. Aku boleh bantu? Aku memang enggak terlalu tahu apa yang sedang kalian cari, tapi seenggaknya ada yang bisa aku lakuin gitu.”

“Boleh saja Rika.”

“Mungkin, besok aku bisa ke rumahmu? Aku bisa bantu cari-cari apa gitu.”

“Boleh Rika, besok sepulang sekolah, ya? Mumpung hari Sabtu juga.”

“Iya Leon, aku juga mau denger lebih banyak lagi tentang masalahmu ini. Oke deh, sampai ketemu besok, ya.”

Aku menutup telepon dari Rika. Wanita ini benar-benar perhatian kepadaku. Aku memang belum bercerita banyak mengenai masalah keluargaku ini kepadanya, sehingga wajar ia merasa khawatir. Sebisa mungkin, aku akan menceritakan detailnya kepadanya. Rika termasuk anak yang cerdas sebagaimana anak kelas akselerasi lainnya. Mendapatkan sudut pandang baru bisa jadi akan sangat membantu.

***

Hasil pencarian kami kemarin benar-benar tidak menghasilkan apapun. Tidak ada secuil pun petunjuk tentang kegiatan ibuku, teman-temannya, ataupun kasus hukum yang sedang mereka tuntut. Aku dan Kenji memang menemukan beberapa foto ibuku bersama teman-teman sesama aktivisnya, tapi barang tersebut sama sekali tidak memiliki pesan tersembunyi. Semua sudut rumah rasanya sudah kami jelajahi hingga badan kami terasa rontok. Kenji bahkan izin pulang ketika hari sudah sore karena merasa tidak enak badan. Aku jadi merasa sedikit sungkan. Untunglah, di kelas hari ini ia sudah terlihat kembali bugar.

Sesuai dengan janjinya kemarin, Rika mampir ke rumahku untuk membantu menemukan apapun yang bisa menjadi petunjuk. Aku menjelaskan kepadanya tentang apa saja yang sudah kami lakukan kemarin. Ia mendengarkan secara saksama dan penuh perhatian. Setelah aku menutup penjelasanku, Rika mulai mengutarakan pendapatnya.

“Ketika sedang melakukan pencarian itu, ada benda spesifik yang kalian cari?”

“Tidak ada Rika, kami mencari apapun. Kami menemukan beberapa lembar foto yang sayangnya tidak memberikan petunjuk apapun,” jawab Kenji yang juga turut serta hadir di rumahku.

“Nah, coba sekarang kita fokus mencari sesuatu yang lebih spesifik.”

“Hmm, seperti berkas dokumen, mungkin?” tanya Kenji.

“Bisa jadi, Ken. Dari cerita Leon, kayaknya itu deh peninggalan yang paling mungkin ditinggalkan oleh ibunya.”

“Berkas mudah hilang dan rusak, sehingga kemungkinan besar disimpan di tempat yang aman seperti brankas,” timpal Kenji melirik ke arahku.

“Kalau mudah rusak, artinya kita tidak bisa membukanya secara sembarangan,” balasku singkat.

“Gimana kalau kita mulai fokus dari mencari kunci kombinasi tersebut?”

“Iya, tapi bahkan kita tidak tahu dari mana harus memulainya,” kataku dengan nada yang terdengar putus asa.

“Kamu harus benar-benar memahami ibumu, Le. Sebagai anaknya, kamu pasti menyadari sesuatu. Coba ingat-ingat, apa ibumu pernah melakukan sesuatu yang membuatmu penasaran?”

Aku pun berusaha menggeledah ingatan masa laluku dengan ibu. Tidak ada sesuatu yang menurutku aneh ataupun mencurigakan. Setelah beberapa menit berlalu, aku menggelengkan kepala.

“Kunci kombinasi itu angka, mungkin ada angka yang pernah kamu lihat di barang-barang ibumu seperti di…” kalimat Kenji terhenti dan matanya terbelalak seolah menemukan sebuah gagasan cerdas.

“Koleksi novel Agatha Christie ibumu, Le. Bukankah kamu mengatakan pernah melihat angka-angka di sana?” tanya Kenji menyambung kalimatnya sendiri.

Aku segera bereaksi dengan membuka lemari dan mengeluarkan buku-buku milik ibu. Meskipun kami sudah memeriksa isi lemari ini, bisa jadi ada petunjuk yang tertinggal. Aku selalu memisahkan tumpukan favorit buku Ibu menjadi tumpukan tersendiri sehingga mudah untuk mengambilnya. Kami pun mulai membuka-buka halaman tiap halaman, berusaha mencari petunjuk yang ada. Sayang, hasilnya nihil.

“Selain angka satu sampai sepuluh, tidak ada angka lain di buku-buku ini,” kata Kenji setelah kami selesai memeriksa novel-novel ibuku.

“Di buku-buku yang tidak ditandai pun enggak ada petunjuk apa-apa,” Rika ikut menimpali, “omong-omong, ibumu sangat sayang sama bukunya ya, Le. Ini usianya udah puluhan tahun tapi kondisinya masih bagus, cuma agak jamuran aja.”

Aku hanya mengangguk singkat, sembari mengurutkan kembali buku favorit ibuku sesuai dengan nomornya. Salah satu kebiasaanku adalah selalu berusaha mengurutkan apapun, dari kecil ke besar, dari satu ke sepuluh. Sikap perfeksionis seperti ini rasanya sudah kumiliki sejak kecil.

“Kak, teman ibu yang aktivis itu ada yang namanya Awan, kan?” tanya Gisel tiba-tiba ketika ia sedang memperhatikan novel-novel yang selesai kutumpuk.

“Iya, kenapa memangnya?”

“Coba deh kakak baca judulnya bukunya dari atas ke bawah.”

Aku, Kenji, dan Rika pun langsung mengamati apa yang dilihat oleh Gisel dan mulai membaca judulnya satu persatu.

  • And Then There Were None
  • Why Didn’t They Ask Evans
  • After the Funeral
  • Nemesis
  • Murder on the Orient Express
  • Sad Cypress
  • Hercule Poirot’s Christmas
  • Halloween’s Party
  • Death Comes at the End
  • Poirot Investigates

“Apa yang aneh?” tanyaku karena merasa tidak paham.

“Ih, coba baca huruf depannya aja.”

Kami pun mengurutkannya, A W A N M S H H D P. Ah, ternyata Gisel menemukan nama Awan di sana. Tapi huruf-huruf dibelakangnya terlihat hanya sebagai kumpulan acak tanpa makna. Mungkin hanya sebuah kebetulan nama Awan bisa muncul di sana.

“Le, nampaknya ini menjadi pesan yang sangat penting,” kata Kenji dengan raut muka yang sangat serius

“Kenapa?”

Kenji menjawab pertanyaanku dengan mengambil buku dan alat tulis dari tasnya. Ia pun mulai menuliskan huruf-huruf yang baru kami temukan.

“Pisahkan menjadi tiga bagian. AWAN MSH HDP. Bisa jadi, maksud ibumu adalah ingin mengatakan kalau kawannya yang bernama Awan masih hidup, Le. Mungkin Ibumu menyingkatnya agar tidak terlalu panjang.” terang Kenji dengan mata yang berbinar-binar.

Aku dan Rika tertegun mendengarkan penjelasan dari Kenji. Penjelasannya masuk akal, walaupun belum ada bukti yang menguatkannya. Hanya saja, semangatku yang mulai kembali tadi segera surut dengan singkat.

“Walaupun dia masih hidup, pesan ini ditulis beberapa tahun yang lalu. Kita tidak tahu apakah ia sekarang masih hidup atau tidak. Kita bahkan tidak tahu di mana harus menemukannya.”

“Setidaknya, kita tahun kalau Awan selamat dari kejaran orang-orang yang menganggapnya ancaman. Ayahmu waktu itu kan berkata kalau Awan menjadi salah satu aktivis yang hilang. Setidaknya ada secercah harapan kalau kita memiliki saksi hidup yang bisa membantu kita.”

“Berarti untuk sementara, fokus kita berganti menjadi mencari orang bernama Awan ini?” tanyaku tetap dengan nada skeptis.

“Mungkin kalian bisa ganti metode dulu,” kata Rika tiba-tiba, “kalian kan selama ini mencari benda mati, kenapa enggak coba tanya saksi yang masih hidup? Kita bisa mulai dari saksi-saksi yang melihat hari, maaf Le, hari ibunya Leon dan Gisel meninggal.”

“Apa hubungannya?” tanyaku karena tidak melihat korelasi antara misteri ini dengan hari kematian ibuku.

“Leon pernah cerita mimpi kalau ibunya bukan meninggal karena bunuh diri, kan? Bagaimana kalau ternyata memang beliau tidak pernah bunuh diri? Bagaimana kalau ada rekayasa yang membuatnya seolah-olah bunuh diri untuk membungkamnya?”

Asumsi dari Rika membuatku tersentak. Gisel pun terlihat terkejut karena tidak menyadari adanya kemungkinan seperti itu. Bagaimana jika memang ada orang-orang yang memanipulasi kami sehingga ibu terlihat bunuh diri?

“Rika bisa jadi benar, Le. Aku setuju kalau kita melakukan pendekatan lain dengan mencari saksi hidup,” kata Kenji menyetujui usul Rika.

“Siapa yang bisa menjadi saksi?”

“Mbok Sum, mungkin? Seingat Gisel waktu hari itu ada beliau,” usul Gisel tiba-tiba.

“Benar juga, Gisel punya alamatnya?”

“Ada, dulu waktu pamitan Gisel ditinggali alamatnya. Sebentar, Gisel ambilkan di kamar dulu.”

“Mungkin kita juga perlu menanyai tetangga sekitar, Le,” usul Kenji lagi yang membuatku teringat seseorang.

“Omong-omong soal tetangga, ada satu orang di sekolah kita yang pernah menjadi tetanggaku.”

“Siapa?” tanya Kenji dan Rika hampir bersamaan.

“Malik.”