Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Closing Ceremony)

Published

on

Tulisan ini menjadi penutup dari total tujuh tulisan tentang pengalaman penulis menjadi seorang volunter pada even Asian Games 2018. Sebuah penutup yang benar-benar tak terlupakan, dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

Bagaimana penulis bisa ikut acara closing ceremony?

Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) memutuskan untuk membuat semacam tribute to volunteer pada acara penutupan Asian Games. Dari setiap cabang olahraga, diwajibkan untuk mengirimkan tiga orang perwakilan, yakni koordinator, wakil koordinator dan volunteer terbaik.

Pemilihan volunteer terbaik seharusnya menjadi hak prerogatif koor, namun karena beberapa pertimbangan koor memutuskan untuk melakukan vote. Selain itu, karena di tim kami tidak memiliki wakil koordinator (walaupun ada yang merasa menjadi wakil), maka kami diharuskan memilih dua orang sebagai perwakilan.

Alhamdulillah, penulis menjadi salah satu yang terpilih tersebut bersama Icha.

Bagaimana ceritanya sebelum bisa masuk stadion?

Oleh Tiara selaku koor kami, kami diwajibkan untuk datang pukul 15.30. Penulis memutuskan untuk berangkat menggunakan Grab menuju kawasan Gelora Bung Karno (GBK) agar lebih cepat sampai, meskipun sempat diputar-putar oleh driver-nya untuk “menghindari macet”.

Penulis tiba tepat waktu dan menunggu sekitar setengah jam untuk menunggu Tiara tiba. Kami berdua langsung menuju gedung Media Press Center (MPC) untuk mengambil stiker bertuliskan PV sebagai bukti kami berhak untuk masuk ke dalam stadion. Selain itu, kami juga menitipkan tas kami.

Sewaktu perjalanan, Tiara mengatakan bahwa kami sebenarnya akan mengikuti semacam parade bersama atlet. Di pikiran penulis langsung terbesit, waduh berarti masuk televisi dong. Muncul kekhawatiran bahwa kami hanya akan mengikuti parade tanpa menyaksikan closing ceremony-nya

Setelah mendapatkan stiker, kami berdua langsung berjalan menuju venue lomba akuatik yang terletak di seberang gedung MPC. Drama sempat terjadi ketika tiba-tiba saja hujan mengguyur dengan derasnya. Kami berlindung di balik tenda-tenda yang ada di sekitar sana. Untunglah kami mendapatkan jas hujan bening dari panitia.

Mendapat Jas Hujan

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya divisi kami, Media & Public Relations, dipanggil untuk masuk ke dalam arena. Dengan membawa Pocari Sweat dan Soyjoy gratisan, kami duduk sembari menunggu waktunya masuk ke dalam stadion.

Tunggu, lalu di mana Icha? 

Karena macet, ia harus terlambat hingga satu jam lamanya. Penulis dan Tiara yang sudah berada di dalam tentu khawatir ia tidak bisa masuk. Apalagi sinyal milik ponsel Icha bermasalah sehingga susah untuk menghubungi. Akhirnya penulis memutuskan turun untuk menjemput Icha dan untunglah semua berakhir dengan baik.

Tunggu lagi, bukankah justru ini awalnya?

Kami menunggu sampai sekitar pukul 18.30 di arena akuatik tanpa mendapatkan petunjuk apa yang akan kami lakukan. Berdasarkan informasi yang diterima Tiara, seharusnya kami akan dijelaskan tentang apa saja yang harus kami lakukan ketika sudah mengikuti parade.

Tiba-tiba kami diarahkan untuk keluar dari arena akuatik. Departemen kami tercecer begitu saja, sehingga kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Setelah mondar-mandir tanpa arah dan mendapatkan gelang bertuliskan closing ceremony, akhirnya kami menemukan rombongan kami.

Segala keruwetan yang terjadi membuat departemen kami berada di belakang sendiri. Jam sudah mendekati jam tujuh, yang artinya closing ceremony akan segera dimulai dan benar saja, kami tidak jadi mengikuti parade.

Kami yang sudah saling berdesakan di antara lautan manusia pun langsung merasa down. Sudah hujan, berdesak-desakan, kami pun tidak tahu akan diarahkan ke mana. Bahkan kami sempat berpikiran bahwa kami hanya diarahkan untuk memutar stadion.

Rasa penasaran mengapa kami tertahan begitu lama adalah adanya pemeriksaan gelang. Apabila terdapat volunteer yang tidak mengenakan gelang maka ia tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam stadion. Asa itu pun muncul kembali.

Kami terus berjalan -atau lebih tepatnya terdorong-dorong begitu saja- hingga mencapai salah satu gerbang menuju stadion. Waktu berada di ambang gerbang, kami mendengar beberapa penyanyi mulai mengisi acara.

Dan pada akhirnya, setelah berbagai perjuangan dan keputusasaan, kami berhasil masuk ke dalam stadion untuk menyaksikan closing ceremony Asian Games 2018.

 

 

Jelambar, 11 September 2018, terinspirasi setelah mengikuti closing ceremony Asian Games 2018

 

 

 

 

 

Oh iya, belum cerita tentang bagaimana suasana ketika berada di dalam stadion ya, hehehe.

Penulis ingat sekali ketika berhasil masuk, band Gigi sedang mengisi acara. Penulis sempat terkesima dengan sekeliling penulis di mana banyak sekali penonton yang menikmati pertunjukan ini. Belum lagi volunteer-volunteer yang tersebar di sana-sini.

Penulis baru menyadari bahwa terdapat tiga panggung di stadion ini. Untuk memudahkan, penulis akan sebut dengan istilah panggung kiri, panggung tengah dan panggung kanan.

Setelah penampilan Gigi di panggung kiri, muncul penyanyi India di panggung tengah. Untunglah karena ada Icha, kami bisa menyelinap dengan lincahnya agar dapat berada dekat di depan panggung. Mungkin hanya sekitar 10 meter.

Setelah itu, kami bepindah ke panggung kiri karena ada boyband iKon yang tampil. Sebenarnya tidak ada satu pun dari kami bertiga yang merupakan penggemar dari boyband Korea. Bahkan penulis baru tahu ada boyband bernama iKon setelah diberitahu oleh Evelyne. Hanya saja, seperti yang disebutkan Icha, kami ingin merasakan hype-nya.

Beberapa penyanyi lokal mengisi setelah penampilan iKon, seperti kolaborasi antara Siti Badriah, Wingky Wiryawan dan Jevin Julian. Lalu ada RAN, Bunga Citra Lestari, Afgan hingga JFlow dan Dira Sugandi. Tentu saja sesekali kembang api menyala di tengah-tentah pertunjukan.

Sebenarnya agak susah menyaksikan penampilan para pengisi acara secara langsung. Bagaimana tidak, semua tangan diangkat untuk merekam berbagai aksi panggung yang dilakukan oleh penyanyi-penyanyi di atas panggung. Penulis harus menemukan celah yang tidak terhalangi oleh tangan-tangan yang sedang merekam.

Menurut penulis, puncak acara adalah ketika tampilnya boyband senior, Super Junior. Di antara semua penampilan, rasanya ini yang paling pecah. Karena suatu alasan, penulis cukup mengetahui beberapa hal tentang boyband yang sering disingkat SuJu ini, termasuk nama personil dan lagu-lagunya.

Untunglah ada Icha, sehingga kami bisa berada 10 meter dari panggung, karena penulis dan Tiara bukan tipe yang rela berdesak-desakan demi mendapatkan spot yang strategis. Celah sekecil apapun seolah terlihat oleh mata Icha, dan ia gunakan kesempatan itu untuk maju hingga tingkat kerapatan penonton tidak bisa ditembus lagi.

Ketika penulis amati, ada tujuh anggota yang hadir pada malam itu. Mereka adalah Leeteuk, Donghae, Eunhyuk, Shindong, Siwon, Yesung, dan Ryewook. Mereka membawakan tiga buah lagu, yakni Sorry Sorry, Mr. Simple dan Bonamana. Story penulis yang merekam penampilan mereka cukup membuat ramai notifikasi ponsel penulis.

Oh iya, sebenarnya penulis tidak ikut merekam karena harus membawakan satu tas yang berisikan minuman untuk kami bertiga. Alhasil penulis meminta video hasil rekaman Tiara.

Acara ditutup dengan penampilan idola penulis, Isyana Sarasvati, bersama RAN dan segenap artis-artis pengisi acara lainnya. Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan penulis tentang pengalaman sekali seumur hidup ini.

Dari Kiri: Icha, Tiara, Penulis

Selesai acara, penulis dan Tiara berjalan menuju MPC untuk mengambil tas, sedangkan Icha suda ciao duluan karena sudah dijemput. Di sana kami bertemu dengan rekan-rekan volunteer Stadion Patriot yang ternyata juga sedang closing ceremony sendiri bersama rekan-rekan volunteer dari departemen Media & Public Relations.

Pengabdian kami selama kurang lebih 18 hari, ditutup dengan gegap gempita yang akan terukir di memori kami untuk selamanya.

Pengalaman

whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini

Published

on

By

Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.

Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.

Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.

Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN

Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.

Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.

Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.

Apa yang terpikir, apa yang tertuang

Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.

Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.

Makna Pergantian Logo whathefan

Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.

Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.

Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.

Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.

Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Logo Baru yang Batal Digunakan

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.

Logo Baru, Harapan Baru

Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.

Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.

Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.

Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.

Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.


Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini

Continue Reading

Pengalaman

Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban

Published

on

By

Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.

Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.

Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.

Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)

Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.

Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.

Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.

Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.

Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.

Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.

Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.

Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.

Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.

Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.

Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.

Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.

Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.

Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)

Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.

Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.

Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.

Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.

Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.

Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.

Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.

Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.

Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.

Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.

Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.

Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.

Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…


Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban

Foto Featured Image: Ivan Samkov

Continue Reading

Pengalaman

Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan

Published

on

By

Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.

Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan tulisan pertama di tahun 2025. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.

Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi, justru belakangan terasa menjadi beban. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.

Berhenti Menulis karena Rasa Malas?

Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.

Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu rasa malas? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.

Ketika pikiran suntuk dan dengan “liarnya” mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi mood. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.

Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.

Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.

Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.

Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.

Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan

Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.

Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.

Mungkin, karena pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, gronjalan, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.

Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.

Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh.

Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.

Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.


Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya

Foto Featured Image: Tobi via Pexels

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018