Connect with us

Produktivitas

Productivity Hacks #3: Time Blocking

Published

on

Kurang lebih sudah hampir 2 tahun Penulis full bekerja dari rumah alias Work from Home. Di saat tempat lain sudah mulai bekerja dari kantor, kebijakan di tempat Penulis masih mempersilakan karyawannya untuk tetap kerja dari rumah.

Tantangan dari bekerja di rumah adalah harus pintar mengelola waktu. Meskipun sama-sama memiliki jam masuk dan pulang, kita harus bisa menjadi “bos” untuk diri sendiri dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

Selama dua tahun tersebut, tidak jarang Penulis menemukan kesulitan dalam hal tersebut karena berbagai alasan, termasuk rasa malas yang sangat menggoda. Untuk itu, Penulis perlu menemukan sebuah metode yang bisa membantunya mengatur waktu.

Dari berbagai metode yang pernah dicoba, membuat to-do list harian sangat membantu Penulis untuk menentukan skala prioritas dan daftar pekerjaan apa yang harus diselesaikan. Selain itu, time blocking juga sangat membantu. Apa itu?

Apa Itu Time Blocking?

Visual Ketika Melakukan Time Blocking (Todoist)

Secara sederhana, time blocking adalah sebuah metode manajemen waktu yang membagi hari menjadi beberapa blok tertentu. Seringnya, blok waktu tersebut akan bersifat “umum” dan selama periode tersebut tidak boleh melakukan pekerjaan lain.

Contoh, ada blok waktu “Kerja” antara pukul 9 sampai 6. Nah, di dalam blok waktu tersebut kita tidak boleh melakukan aktivitas lain yang berpotensi mengalihkan pikiran kita ke hal lain yang mampu mendistraksi fokus kita.

Jadi selama blok waktu “Kerja”, aktivitas seperti bermain game, nonton YouTube, bahkan menulis artikel blog tidak boleh dilakukan. Harus benar-benar berusaha mengendalikan fokus, kalau perlu singkirkan semua distraksi seperti ponsel.

Time blocking merupakan metode yang akan menyederhanakan daftar pekerjaan atau aktivitas yang akan dilakukan pada hari tersebut. Dengan lebih fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu (bye bye multitasking), pekerjaan pun akan selesai lebih cepat.

Bagi Penulis, adanya time blocking seperti ini sangat membantu untuk mengetahui akan melakukan apa hari ini dan mana yang perlu diprioritaskan, apalagi jika dibantu dengan to-do list harian.

Dengan begitu, Penulis akan bisa memiliki hari yang lebih produktif karena di dalam mindset-nya ada target-target yang harus diselesaikan.

Contoh Time Blocking di Tempat Kerja

Contoh Time Blocking (NotePlan)

Kalau Penulis pribadi, biasanya akan membagi waktunya secara umum dulu, baru di-breakdown menjadi lebih rinci lagi melalui to-do list harian. Penulis akan memberikan contoh dalam dalam blok kerja.

Jika hanya diblok kerja selama 8-9 jam, ada potensi di sela-sela waktu tersebut akan melakukan hal-hal lain karena kurang spesifiknya pekerjaan yang akan dikerjakan. Untuk itu, Penulis akan memisahnya menjadi beberapa bagian.

Misal, blok kerja pertama antara jam 9 hingga jam 11/12 digunakan untuk rapat, cari topik, brainstorm, cek surel, dan beberapa pekerjaan non-edit lainnya. Dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan “remeh” dan tidak membutuhkan waktu lama dikerjakan di sini.

Setelah jam istirahat siang, biasanya Penulis akan lebih fokus untuk melakukan edit tulisan karena di jam itulah para writer sudah menyelesaikan beberapa tulisannya. Jika sedang tidak ada artikel yang diedit, maka Penulis biasanya mencari berita-berita baru.

Sore menjelang jam pulang kantor, Penulis melakukan pekerjaan seputar cek ulang dari pekerjaan-pekerjaan yang sudah dilakukan pada hari tersebut, seperti memeriksa apakah semua artikel yang dijadwalkan tayang sudah selesai atau belum.

Selain itu, jika ada pekerjaan-pekerjaan baru yang di luar rutinitasnya, Penulis akan memasukkannya ke dalam slot yang paling kosong. Misal, jika ada artikel yang perlu ditulis, Penulis akan menulisnya di pagi hari atau menjelang jam pulang.

Mungkin orang lain yang tidak terikat jam kantor seperti content creator akan memiliki metode waktu yang berbeda, seperti melakukan blok tergantung harinya (Senin fokus brainstorm ide, Selasa pengambilan konten, dst). Namun, konsepnya tetap sama.

Bagaimana Time Blocking untuk Waktu-Waktu Lainnya?

Bisa Diterapkan di Luar Kerja? (Glintz)

Itu untuk waktu kerja, bagaimana dengan waktu di luar itu? Penulis pun berusaha untuk tetap menerapkan time blocking, walau untuk bisa merealisasikannya lebih berat dibandingkan time blocking di waktu kerja (terutama karena disiplin diri yang kurang).

Idealnya, Penulis ingin memiliki blok waktu antara jam 5 hingga 7 pagi untuk melakukan rutinitas pagi harian. Setelah itu, ada blok waktu untuk belajar sesuatu yang baru seperti tentang kepenulisan maupun SEO.

Selepas jam kantor antara jam 7-8 adalah blok waktu untuk makan malam dan istirahat. Jam 8-9 adalah blok waktu untuk menulis artikel di blog ini. Setelah itu, jam 9 ke atas adalah blok waktu untuk rutinitas malam dan aktivitas santai lainnya.

Jadi jika disimpulkan, blok waktu harian yang Penulis idamkan (karena belum terlaksana semua) adalah sebagai berikut:

  • 05:00 – 07:00 Rutinitas Pagi Harian (Membersihkan Kamar, Olahraga Pagi, Mencatat To-Do List dll)
  • 07:00 – 08:00 Belajar Hal Baru (Ikut Kelas Online, Belajar Lewat Aplikasi, Baca Buku, dll)
  • 08:00 – 08:30 Persiapan Kerja (Sarapan, Mandi)
  • 08:30 – 12:00 Kerja (Riset Topik Artikel, Morning Concall, Brainstorm, Cek Email, Menulis Artikel, dll)
  • 12:00 – 13:00 Istirahat, Sholat, Makan Siang
  • 13:00 – 15:30 Kerja (Edit Artikel)
  • 15:30 – 16:00 Istirahat, Sholat
  • 16:00 – 18:30 Kerja (Edit Artikel, Menulis Artikel, Cek Pekerjaan Harian, dll)
  • 18:30 – 20:00 Istirahat, Sholat, Makan Malam
  • 20:00 – 21:00 Menulis Artikel Blog
  • 21:00 – 22:00 Waktu Santai
  • 22:00 – 23:00 Rutinitas Malam Harian (Minum Vitamin, Mencatat Jurnal Harian, Cuci Muka, dll)
  • 23:00 – 05:00 Tidur

Salah satu tujuan dari Penulis membuat artikel ini memang untuk memotivasi lagi dirinya agar bisa melakukan time blocking seperti yang sudah disusun di atas. Ah, alangkah indahnya jika Penulis bisa melakukannya secara konsisten.

Beneran Seproduktif Itu?

Percaya deh, Time Blocking Itu Susah! (NotePlan)

Terdengar sangat produktif? Iya, tapi pada kenyataannya Penulis merasa sangat sulit bisa mendisiplinkan diri untuk memenuhi blok-blok waktu yang sudah dibuatnya. Blok di waktu kerja saja kadang meleset, apalagi blok waktu lain yang relatif tidak terlalu mengikat.

Hal sederhana seperti tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh pun masih Penulis lakukan, sehingga kehilangan waktu untuk belajar. Malam hari, Penulis lebih suka leyeh-leyeh sambil nonton TV di kamar atau main gim daripada menulis artikel blog.

Hanya saja, Penulis merasa bahwa time blocking ini sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai keteraturan. Oleh karena itu, meskipun sudah gagal berkali-kali, Penulis akan terus mencobanya karena merasa yakin ini akan berdampak positif untuk dirinya sendiri.

Selain itu, biasanya Penulis akan sedikit melonggarkan diri pada weekend dengan tidak membuat time blocking. Hidup terlalu tertata juga tidak enak, perlu ada waktu yang longgar. Nanti kalau sudah masuk hari Senin, baru kita time blocking kembali.

Perlu diingat bahwa memang baik jika kita mampu melakukan time blocking dengat tepat. Hanya saja, jangan terlalu kaku juga. Jika dirasa tidak cocok, tata ulang saja blok waktunya. Selain itu, blok yang terlalu padat juga tidak baik untuk yang baru memulainya.

Penutup

Penulis pernah mencoba untuk hidup tanpa berbagai rencana dan penjadwalan seperti ini, dan hasilnya kacau balau. Hidup Penulis benar-benar berantakan dan tidak teratur. Banyak sekali pekerjaan yang tidak selesai dan terabaikan, serta pola hidup yang jauh dari kata sehat.

Time blocking, ditambah dengan to-do list harian, Penulis akui sangat membantu dirinya untuk mengatur waktu ketika bekerja dari rumah. Penulis jadi tahu apa yang akan dilakukan hari ini dan terpacu untuk menyelesaikannya.

PR utamanya adalah bagaimana kita bisa menjaga konsistensi, sesuatu yang harus diakui sangat sulit untuk dilakukan. Namun, resistansi kita ketika gagal dan mencoba lagi bisa menjadi amunisi utama untuk itu.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi para Pembaca sekalian yang tertarik untuk mencoba time bloking dalam kesehariannya.


Lawang, 6 Oktober 2022, terinspirasi setelah dirinya merasa perlu untuk kembali mengelola waktunya dengan lebih baik lagi

Foto: NotePlan

Sumber Artikel:

Produktivitas

Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang

Published

on

By

Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).

Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.

Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.

Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by cottonbro studio)

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:

  • Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
  • Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
  • Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
  • Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)

Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.

“Tidak ada nanti”

Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.

Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.

Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.

Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.

Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.

Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Kuncinya FOCUS (via YouTube)

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.

Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.

Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.

Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).

Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.

Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.

Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.


Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda

Featured Image Photo by Moose Photos

Continue Reading

Produktivitas

Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar

Published

on

By

Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi?

Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.

Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan blue light.

Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar

Hari-Hari Lihat Layar (St. Luke’s)

Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh “rutinitas yang ideal,” melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.

Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan kembali rebahan dan mengecek ponsel. Terkadang Penulis membaca buku dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.

Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang morning concall dan brainstorm yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop.

Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.

Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC. Karena memasang larangan untuk mengecek media sosial atau bermain game di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.

Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan cek media sosial ataupun menonton YouTube di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.

Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan mulai menulis artikel blog di depan laptop. Setelah selesai, Penulis bisa kembali cek media sosial atau bermain game di tablet. Tak jarang juga Penulis menonton YouTube di televisi kamar sebelum akhirnya tidur.

Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar

Buku Menjadi “Pelarian” yang Baik (Rahul Shah)

Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.

Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika sholat, membaca buku, bermain kucing, mandi, dan tidur. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.

Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.

Membaca buku jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, “daya” baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.

Selain itu, olahraga outdoor seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.

Mencari hobi offline yang tidak membutuhkan layar juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain board game seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama circle-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.

Hobi offline lain yang bisa menyita waktu kita adalah merakit model kit seperti Gundam, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi offline lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya.

Penulis juga ingin mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube. Walau kesannya multitasking, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.

Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif.

***

Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih work from home sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak related kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.

Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.


Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk

Sumber Featured Image: Ron Lach

Continue Reading

Produktivitas

Pentingnya Catatan yang Selalu Terlihat oleh Mata

Published

on

By

Penulis merasa kalau dirinya adalah orang yang pelupa. Bukan tipe yang lupa tanggal ulang tahun seseorang, lebih ke pelupa untuk task apa yang harus diselesaikan. Jika task tersebut tidak dicatat, biasanya akan mudah terlupa begitu saja.

Untuk mengatasi hal ini, Penulis berupaya untuk mengatasinya dengan memanfaatkan aplikasi Microsoft To-Do List yang ter-install di PC maupun ponselnya. Namun, sudah menggunakan ini pun terkadang Penulis lupa untuk mengeceknya!

Penulis berusaha untuk mencari solusi lain. Lantas, Penulis teringat akan isi buku Atomic Habit di mana salah satu cara untuk membuat kebiasaan bisa terbentuk adalah dengan membuatnya mudah terlihat.

Oleh karena itu, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis catatan yang selalu terlihat di depan mata. Bukan di gawai yang Penulis miliki, tapi benar-benar di buku catatan fisik dan ditulis secara manual pula.

Mengapa Masih Perlu Catatan Fisik?

Penulis sudah menyinggung kalau dirinya telah mencoba menggunakan aplikasi Microsoft To-Do List untuk mencatat berbagai task agar tidak lupa dikerjakan. Apalagi, aplikasi tersebut dilengkapi dengan fitur reminder untuk membantu mengingatkan kita.

Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, hal ini memang sangat membantu. Namun, ada yang tidak bisa di-cover oleh aplikasi ini setidaknya untuk Penulis: hal-hal yang muncul secara spontan dan tidak terencana.

Contohnya di sini adalah mencatat apa yang perlu dibahas untuk rapat besok. Mungkin task rapat di pagi hari bisa dimasukkan ke dalam aplikasi To-Do List, tapi isinya terkadang muncul secara tiba-tiba saat sedang mengerjakan task lain.

Lalu, mengapa tidak ditambahkan saja catatannya ke dalam aplikasi To-Do List? Jawabannya adalah kembali lagi karena Penulis pelupa, Penulis kemungkinan besar akan lupa untuk mengeceknya! Akibatnya, hal tersebut pun jadi lupa untuk dibahas ketika rapat.

Penulis juga sempat berusaha menggunakan aplikasi Google Keep. Namun, masalahnya tetap sama, aplikasi ini tidak selalu langsung terlihat sehingga Penulis sering lupa untuk mengeceknya, bahkan ketika sudah memasang reminder.

Oleh karena itu, Penulis membutuhkan sebuah media yang akan 24 jam terlihat oleh mata. Buku catatan fisik, yang mungkin sudah terasa old school, akhirnya menjadi pilihan utama. Buku catatan ini akan terus berada di atas meja kerja Penulis dan selalu terbuka saat jam kerja.

Berhubung Penulis punya hobi menulis manual, kegiatan mencatat ini Penulis buat semenarik mungkin dengan menambahkan batas dengan berbagai warna beserta tanggal yang ditulis menggunakan huruf latin. Hobi yang aneh memang untuk seorang laki-laki.

Memang ada kekurangannya mencatat secara manual seperti ini, seperti catatan yang telah dituliskan akan sulit untuk ditelusuri dan diarsipkan. Namun, buku catatan ini memang Penulis gunakan untuk sesuatu yang bersifat spontan dan berjangka pendek.

Setiap pagi, Penulis akan membaca buku catatan ini untuk memastikan tidak ada task atau poin yang harus diselesaikan. Meskipun terkadang masih miss, Penulis merasa metode ini berhasil meminimalisirnya.

Mengapa Tidak Menggunakan Medium Lain?

Sebenarnya, Penulis memiliki tablet yang telah dilengkapi dengan stylus karena pada dasarnya Penulis memang masih suka menulis secara manual, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa Penulis membeli tablet tersebut.

Namun, makin ke sini, stylus tersebut makin jarang digunakan. Seandainya menulis di tablet pun, pada akhirnya catatan tersebut akan tenggelam begitu saja dan kerap lupa untuk mengeceknya kembali.

Selain itu, layar tablet akan mengunci secara otomatis jika lama tidak digunakan, sama seperti ponsel. Jika menyalakannya terus seharian dan menonaktifkan mode auto-lock-nya, tentu akan membuat baterainya cepat habis.

Dengan demikian, seandainya Penulis membuat catatan di tablet sebagai pengingat, tentu tidak efektif karena harus berkali-kali menyalakan tablet. Apalagi, tablet ini juga kerap Penulis gunakan sebagai layar kedua

Penulis sempat mengandalkan Sticky Notes sebagai pengingat. Selain bisa ditempel di mana-mana, Sticky Notes kerap berwarna cerah sehingga akan mencuri perhatian kita saat akan bekerja. Tentu ini jadi pengingat yang mudah kita notice, bukan?

Sayangnya, Sticky Notes pun bagi Penulis kurang efektif. Pertama, Sticky Notes harus ditempel di suatu tempat. Kamar Penulis yang sudah penuh dengan barang jelas tidak memiliki tempat kosong untuk hal tersebut.

Kedua, Sticky Notes yang sudah dipasang sulit untuk di-edit. Padahal, Penulis suka menambahkan catatan tambahan menggunakan tinta merah yang biasanya berfungsi sebagai penanda kalau task tersebut sudah diselesaikan atau sudah dibahas dalam rapat.

Ketiga, Sticky Notes bisa berceceran ke mana-mana jika sudah terlalu banyak. Padahal, setiap hari ada cukup banyak hal yang perlu Penulis catat secara manual. Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana rupa kamarnya jika menempel terlalu banyak Sticky Notes.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis memutuskan untuk memanfaatkan buku catatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Penulis menganggap kalau buku catatan ini adalah otak kedua Penulis dalam bentuk fisik.


Lawang, 26 Agustus 2024, terinspirasi setelah menyadari betapa pentingnya catatan yang harus selalu terlihat

Foto Featured Image: lil artsy

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan