Connect with us

Sosial Budaya

Pentingkah Keperawanan?

Published

on

Pertanyaan yang digunakan pada judul memang bisa dianggap kontroversial dan cukup sensitif. Pentingnya keperawanan adalah urusan masing-masing pribadi, tidak bisa digeneralisir.

Di sini, Penulis sebenarnya hanya ingin sharing tentang kegiatan diskusi terbuka yang sering dilaksanakan oleh Karang Taruna. Kebetulan, tema terakhir yang dibahas itu.

Catatan: Keperawanan di sini merujuk kepada kedua jenis gender (laki-laki dan perempuan)

Pentingkah Keperawanan?

Ketika pulang ke Malang pada akhir tahun 2019 kemarin, Penulis menggelar diskusi santai dengan ditemani kopi susu hangat. Tema yang diangkat adalah Pentingkah Keperawanan.

Mengapa tema itu yang diambil? Alasannya sederhana. Ketika sedang chat di grup seperti biasa, ide atau topik tersebut terlontar begitu saja.

Setelah itu, Penulis dengan beberapa anggota aktif yang sudah berusia 17 tahun ke atas berjanji untuk mendiskusikannya lebih lanjut ketika Penulis pulang. Ternyata, anggota yang berusia lebih muda pun tertarik untuk ikut terlibat dalam diskusi.

Suasana Diskusi

Lantas, bagaimana pendapat para pengurus Karang Taruna aktif yang rata-rata masih berusia belasan tahun? Jawabannya kurang lebih seragam, keperawanan itu penting dan sudah seharusnya dijaga dengan baik hingga pernikahan.

Masalahnya, sebagaimana dulu Penulis ketika masih seusia mereka, beberapa anggota menyampaikan pendapat betapa buruknya orang-orang yang gagal menjaga keperawanannya.

Jawaban tersebut sesuai dengan perkiraan Penulis. Teman Penulis yang seumuran menangkap maksud Penulis mengangkat topik ini, sehingga ia mulai memberikan sudut pandang baru kepada mereka semua.

Intinya, walaupun kita menganggap keperawanan itu penting, jangan sampai kita memandang rendah orang lain yang sudah tidak memilikinya.

Kita tidak pernah tahu apa alasan dibalik hilangnya keperawanan tersebut, sehingga kita tidak boleh judgemental seenaknya sendiri. Merasa suci dengan melihat kesalahan orang lain adalah hal yang kurang bijak.

Jadi, kalau kita menganggapnya penting ya dijaga dengan baik tanpa perlu menghakimi orang lain yang menganggapnya tidak terlalu penting.

Diskusi Karang Taruna

Di Karang Taruna tempat tinggal Penulis, ada sedikit jarak yang cukup lebar antara angkatan Penulis dengan angkatan di bawahnya. Selisihnya antara lima hingga sepuluh tahun.

Lebarnya jarak tersebut tidak membuat kami berkumpul dengan yang seumurannya saja. Semua bisa berbaur tanpa melupakan etika untuk menghormati yang lebih tua.

Nah, yang seangkatan dengan Penulis merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi. Tidak hanya akademik, tapi hal-hal yang bersentuhan dengan permasalahan sosial. Diskusi terbuka menjadi salah satu caranya.

Beberapa manfaat yang didapatkan dengan diskusi seperti ini antara lain mengasah daya kritis dan pemikiran logis, mengetahui permasalahan sosial yang sering terabaikan, meningkatkan keberanian untuk bersuara, dan lain sebagainya.

Alasan lain yang tak kalah penting, seperti contoh yang sudah Penulis sebutkan di atas, mereka mendapatkan sudut pandang baru dari sebuah permasalahan yang mungkin sebelumnya belum terpikirkan.

Kita mendapatkan banyak sudut pandang dengan bertemu banyak orang dari beragam latar belakang. Penulis mendapatkannya ketika ke Kampung Inggris, jadi volunteer Asian Games, hingga bekerja di Jakarta.

Ketika berada di lingkungan keluarga, sekolah, bahkan kampus, pergaulan Penulis kurang luas sehingga temannya ya itu-itu aja. Hal tersebut membuat sudut pandang Penulis kurang luas.

Agar para generasi muda di Karang Taruna tidak mengalami hal yang sama, kami pun berusaha memberikan beragam sudut pandang baru kepada mereka sedini mungkin. Harapannya, mereka akan menjadi generasi yang open-minded dan mampu menerima perbedaan.

 

 

Kebayoran Lama, 23 Februari 2020, terinspirasi dari diskusi Karang Taruna terakhir yang mengangkat tema Pentingkah Keperawanan

Foto: Medium

Sosial Budaya

Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang

Published

on

By

Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.

Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.

Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Harusnya Jadi Budaya Kita (Ludovic Delot)

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.

Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.

Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.

Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.

Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.

Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.

Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.

Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Membaca di Tempat Umum (Ahmet Kurt)

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.

Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.

Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.

Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.

Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.

Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.

Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.

Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!


Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum

Continue Reading

Sosial Budaya

Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)

Published

on

By

Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.

Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.

Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.

Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Hearts2Hearts (X)

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.

Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.

Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.

Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.

Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.

Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.

Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.

Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.

Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Wallpaper Jiwoo (TikTok)

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.

Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,

Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”

Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.

Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”

Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?

Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.

Padahal ya Belum Tentu Benar

Jiwoo dan Carmen (Instagram)

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.

Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.

Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.

Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.

Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).

Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?

Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?

Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?

Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?

Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.

***

Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.

Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.

Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo

Continue Reading

Sosial Budaya

Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut

Published

on

By

Sebagai orang yang bekerja secara remote, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman.

Nah, salah satu teman Penulis yang sering work from cafe (WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester satu kuliah yang sekarang menjadi dosen Binus Malang. Kami berdua sering bertukar pikiran di sela-sela menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Belum lama ini, kami berdua WFC di salah satu kafe Malang yang sudah menjadi langganan. Pada saat itu, Dio share bahwa dirinya baru menonton video dari Rumah Editor di YouTube tentang seorang matematikawan bernama Kurt Gödel.

Gödel terkenal karena berusaha membuktikan keberadaan Tuhan dengan menggunakan logika dan matematika. Namun, bukan pembahasan mengenai keberadaan Tuhan yang akan menjadi inti tulisan kali ini.

Yang ingin Penulis bahas adalah topik lain tentang Necessary Truth vs. Contingent Truth, yang juga dibahas dalam video tersebut. Jika penasaran, pembaca bisa menonton video selengkapnya melalui tautan berikut ini.

Kebenaran Absolut vs Kebenaran Relatif

Kurt Gödel Berada di Posisi Nomor Dua dari Kanan (Britannica)

Secara sederhana (oversimplified), Necessary Truth adalah kebenaran yang bersifat mutlak dan tidak mungkin salah. Contoh mudahnya adalah perhitungan 1 + 1 pasti 2, mau di multiverse mana pun pasti jawabannya 2.

Contoh lain, semua segitiga pasti memiliki tiga sisi. Tidak mungkin sebuah segitiga memiliki empat sisi, karena namanya akan berubah menjadi segiempat. Nah, keberadaan Tuhan menurut Gödel juga termasuk Neccesarry Truth.

Di sisi lain, Contingent Truth adalah kebenaran yang bisa saja berubah. Contoh, untuk saat ini ibu kota Indonesia masih Jakarta. Akan tetapi, bisa saja tahun 2029 nanti akan diresmikan kalau ibu kota Indonesia adalah IKN. Siapa yang tahu, kan?

Contoh lain, kita menganggap kalau tokoh A adalah orang jahat karena kita mengetahui rekam jejaknya di masa llau. Namun, bisa saja besok dia tobat dan benar-benar berubah menjadi lebih baik.

Nah, di tulisan ini, Penulis akan menerjemahkan secara bebas Necessary Truth menjadi Kebenaran Absolut dan Contingent Truth menjadi Kebenaran Relatif untuk memudahkan penulisan. Penulis hanya meminjam istilah di atas untuk membahas topik yang kemarin Penulis singgung: polarisasi.

Alasan Mengapa Kita Mudah Diadu Domba

Kita Mudah Diadu Domba (Outside Bozeman)

They’ll conquer us if we divide

Mereka akan menaklukkan kita kalau kita terpecah belah

Delusion:All by ONE OKE ROCK

Ketika kita masih di bangku sekolah, tentu kita familier dengan istilah devide at impera atau yang sering disebut juga sebagai politik adu domba. Intinya adalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa dibuat justru saling memusuhi satu sama lain, bukannya bersatu.

Seperti penggalan lirik lagu “Delusion:All” dari ONE OK ROCK di atas, ketika kita terpecah belah, maka “mereka” akan dengan mudah menakhlukkan kita. Musuh tahu, kita akan sulit untuk dikalahkan apabila bersatu.

Meskipun kita sudah merdeka selama 80 tahun, rasanya strategi politik zaman kolonial ini masih terasa hingga sekarang. Bukan oleh bangsa Belanda maupun bangsa lain, tapi oleh bangsa kita sendiri dan membuat kita terpolarisasi dengan mudahnya.

Contoh yang masih hangat tentu saja polemik Brave Pink Green Hero yang diributkan oleh netizen. Bukannya mempersatukan, simbol tersebut justru semakin memperparah polarisasi masyarakat yang semakin parah selama 10 tahun terakhir ini.

Nah, menurut Penuis, salah satu alasan mengapa kita begitu mudah terpolarisasi yang berujung mudah diadu domba adalah karena kita menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut.

Kita Gunakan Presiden Prabowo Sebagai Contoh (Gerindra)

Contohnya begini. Anggaplah Pihak A menganggap kinerja Presiden Prabowo Subianto sangat buruk dan banyak catatan negatif tentangnya. Ditambah dengan algoritma media sosial yang cenderung hanya menampilkan apa yang kita suka, kita semakin menganggap hal tersebut sebagai Kebenaran Absolut.

Karena menganggap apa yang ia yakini sebagai Kebenaran Absolut, maka ia tidak peduli jika ada data yang membantah kalau kinerja Prabowo 100% buruk. Mau ada data penangkapan para koruptor, mau ada data terbongkarnya kasus oplosan, Prabowo tetap jelek.

Sebaliknya juga begitu, ada Pihak B yang menganggap kalau presiden pilihannya 100% baik, tidak mungkin salah. Mau dikasih bukti beberapa hal buruk tentangnya pun, Prabowo tetap yang terbaik, titik.

Mau Prabowo memilih wakil presiden yang mengacak-acak konstitusi, mau Prabowo mengeluarkan pernyataan yang tone deaf, mau Prabowo mengeluarkan kebijakan yang dirasa banyak ahli kurang tepat, Prabowo tetap baik. Keyakinannya telah berubah menjadi Kebenaran Absolut.

Padahal, Prabowo itu baik maupun Prabowo itu buruk sama-sama merupakan Kebenaran Relatif. Prabowo bisa baik dan buruk secara bersamaan, mong namanya juga manusia, bukan nabi. Kebenaran tentang Prabowo bisa berubah, tergantung konteksnya.

Namun, kebencian dan fanatisme berlebih memang bisa membutakan manusia. Kalau sudah benci, benci sekali. Kalau sudah suka, suka sekali. Alhasil, kita pun jadi mudah terpolarisasi dan sering berdebat tak penting di media sosial tanpa ada yang mau merasa kalah.

***

Kalau kita sudah bersikeras menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut, ya susah. Semua yang bertentangan dengan apa yang kita yakini sebagai kebenaran dianggap salah. Alhasil, diskusi yang sehat pun mustahil tercipta karena kita jadi menutup persepsi lain.

Manusia memang cenderung hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengar. Jika terus begini, maka kita akan terus mudah terpolarisasi dan diadu domba. Pertanyaannya, mau sampai kapan seperti ini?


Lawang, 10 September 2025, terinspirasi setelah teringat dengan pembicaraan bersama seorang teman tentang teori yang dikemukakan oleh Kurt Gödel

Sumber Featured Image: Andrea Piacquadio

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018