Film & Serial
Setelah Menonton Moon Knight
Hingga kini, Marvel telah menelurkan 5 serial di layanan Disney+: WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier, Loki, What If…?, dan Hawkeye. Semua serial tersebut telah Penulis tonton dan sudah ada ulasannya masing-masing.
Hanya saja, kelima serial tersebut hanya menampilkan karakter-karakter yang telah muncul sebelumnya, sehingga seolah terlihat sebagai ajang untuk memamerkan side character yang selama ini kerap terabaikan.
Nah, serial pertama yang menampilkan karakter baru (belum pernah muncul di Marvel Cinematic Universe/MCU) adalah Moon Knight. Kalau tidak pernah membaca komiknya, superhero yang satu ini pasti terdengar asing.
Berhubung episode finale-nya telah rilis kemarin, Penulis pun segera menuliskan pendapatnya tentang serial yang satu ini agar hutang artikel tidak menumpuk. SPOILER ALERT!!!
Episode 1 – Masalah Ikan Mas

Jalan Cerita Moon Knight Episode 1
Cerita berawal kepada Steven Grant (Oscar Isaac) yang bekerja di British Museum, London, sebagai penjual suvenir yang ramah. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai Mesir Kuno.
Steven terlihat sebagai pribadi yang bermasalah dengan tidurnya, sehingga ia selalu mengikat kakinya, menyebar pasir di sekitar kasurnya, hingga menempelkan selotip di pintu.
Suatu saat, tiba-tiba ia terbangun di Pegunungan Alpen dan mendapatkan sebuah scarab. Ia juga bertemu dengan Arthur Harrow (Ethan Hawke) yang memiliki sejumlah pengikut, dan Steven harus berjibaku untuk kabur.
Steven lantas kembali ke rumahnya dan menyadari kalau telah dua hari berlalu semenjak ia merasa tidur. Ia menemukan sebuah ponsel dan mendapati kalau ada seseorang bernama Layla (May Calamawy) yang tengah mencarinya. Ketika mencoba meneleponnya, wanita tersebut memanggilnya “Marc”.
Ketika di tempat kerja, ia bertemu dengan Harrow yang ternyata merupakan pengikut dewi Mesir bernama Ammit. Malamnya, Harrow memanggil sesosok makhluk untuk menyerang Grant dan merebut scarab yang dimilikinya.
Di saat terdesak, sosok dirinya yang satu lagi, Marc Spector, meminta Steven untuk bertukar kepribadian. Steven setuju dan untuk pertama kalinya kita melihat sosok Moon Knight di semesta Marvel.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 1
Sebagai episode pembuka, Penulis sangat menyukai episode pertama. Tanpa perlu berpanjang lebar, kita langsung memahami mengenai kepribadian ganda yang dimiliki oleh Steven Grant.
Blackout yang dialami Steven bisa menggambarkan mengenai adanya sosok lain yang mengendalikan tubuh tersebut. Episode ini juga mampu membuat penontonnya merasa simpatik dan “jatuh cinta” kepada sosok Steven.
Episode 2 – Panggil Kostumnya

Jalan Cerita Moon Knight Episode 2
Berkat ulah Moon Knight yang bertarung melawan monster Harrow, Steven disalahkan atas kerusakan yang terjadi di museum dan dipecat. Ia mencoba menelusuri dirinya yang satu lagi menggunakan kunci yang ia temukan di rumahnya.
Di semacam tempat penyimpanan, Steven akhirnya mampu berbicara dengan Marc yang menjelaskan kalau dirinya adalah avatar dari dewa bulan Mesir, Khonsu. Steven pun melihat sosok Khonsu dan berlari ketakutan, sebelum akhirnya hampir ditabrak oleh Layla yang ternyata merupakan istri Marc.
Setelah membawa Layla ke rumahnya, anak buah Harrow berhasil membawa Steven ke tempat Harrow. Ternyata, Harrow mengincar scarab yang ia bawa karena ingin menemukan makam Ammit dan membangkitkannya.
Harrow juga menjelaskan kalau Ammit akan membuatnya memusnahkan manusia sebelum mereka melakukan kejahatannya di masa depan. Steven tidak setuju dengan cara tersebut dan kabur dengan bantuan Layla yang berhasil menyusul.
Di episode ini, Steven berhasil memunculkan kostum versinya sendiri dan berusaha melawan makhluk yang dimunculkan Harrow. Tidak mampu mengalahkannya, akhirnya Steven bertukar kepribadian lagi dengan Marc. Sayangnya, Harrow berhasil mendapatkan scarab dan langsung menuju Mesir.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 2
Episode dua lebih menjelaskan mengenai konflik yang terjadi antara Steven/Marc dan Harrow. Mereka berdua menjadi “pengikut” dari dewa-dewi Mesir yang berbeda. Meskipun mereka sama-sama ingin memusnahkan kejahatan di dunia, mereka memiliki cara yang berbeda.
Jika Khonshu membunuh orang setelah mereka melakukan kejahatan, Ammit justru ingin membunuh orang sebelum mereka melakukan kejahatannya melalui semacam neraca. Dengan kata lain, Ammit ingin melakukan genosida untuk menghindari hal buruk terjadi di masa depan.
Episode 3 – Tipe yang Ramah

Jalan Cerita Moon Knight Episode 3
Dari London, kita langsung beralih ke Mesir karena Harrow berhasil menemukan makam Ammit di gurun Mesir. Marc berusaha melacak keberadaan Harrow, tetapi sempat mengalami blackout bersamaan dengan Steven yang mengindikasikan adanya kepribadian ketiga.
Buntu, Khonshu pun melakukan sesuatu yang membuat para dewa Mesir lain untuk berkumpul dan memberitahukan rencana Harrow. Sayangnya, Harrow berhasil meyakinkan mereka kalau yang disampaikan oleh Khonshu tidak benar.
Salah satu avatar dari dewa Mesir memberitahu Marc untuk menemukan sarkofagus yang memberitahu lokasi makam Ammit. Marc pun bertemu dengan Layla dan membawanya untuk bertemu dengan Anton Mogart yang memiliki sarkofagus yang ditemukan.
Sayangnya, Harrow datang dan mengacau, sehingga Marc dan Layla harus melarikan diri ke gurun sembari membawa peta bintang yang menjadi petunjuk makam Ammit. Steven menggunakan keahliannya untuk merakit peta bintang, tetapi ternyata peta tersebut dibuat 2000 tahun lalu.
Khonshu pun memutuskan untuk mengubah langit kembali seperti 2000 tahun lalu, yang membuat para dewa Mesir lain memenjarakan Khonshu ke dalam sebuah ushhabti. Dengan kata lain, Steven dan Marc kehilangan kekuatan Moon Knight.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 3
Satu hal yang Penulis suka dari serial Moon Knight hingga episode 3 adalah pace-nya yang tidak terlalu bertele-tele. Misi pengejaran yang dilakukan oleh Marc dan Layla terasa padat, tapi berhasil tidak membuatnya terlihat terburu-buru.
Satu adegan yang dianggap epic dari episode ini adalah ketika Khonshu memutar langit malam dengan efek yang memanjakan mata. Penonton berhasil dibuat penasaran, apa yang akan terjadi dengan Marc dan Steven setelah kekuatan mereka hilang.
Episode 4 – Makam

Jalan Cerita Moon Knight Episode 4
Steven dan Layla berhasil menemukan lokasi makam Ammit berkat “pengorbanan” yang dilakukan oleh Khonshu. Dalam sebuah makam labirin yang berbentuk Mata Horus, mereka menemukan fakta beberapa orang Harrow dibunuh oleh semacam mayat hidup.
Sempat terpencar, Layla berhasil mengalahkan mayat hidup tersebut dan bertemu dengan Harrow, di mana ia memberi informasi bahwa yang membunuh ayah Layla adalah Marc.
Di tempat yang terpisah, Steven berhasil menemukan fakta bahwa avatar terakhir dari Ammit adalah Alexander the Great. Ushabti dari Ammit pun tersimpan di dalam tubuh mumi Alexander. Layla menemukan lokasi Marc dan marah karena menyembunyikan fakta yang ia ketahui dari Harrow.
Lantas, tiba-tiba Harrow datang dan Marc pun melakukan konfrontasi. Tanpa banyak babibu, Harrow menembah Marc tepat di dadanya. Marc terbangun di sebuah tempat yang terlihat sebagai rumah sakit jiwa. Ia lantas bertemu dengan Steven di tubuh yang berbeda, sebelum bertemu dengan seorang dewi dengan bentuk kuda nil, Tawaret.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 4
Episode 4 berhasil menyajikan petulangan perburuan harta karun ala Indiana Jones. Tanpa kekuatan super dari Khonshu, Marc dan Steven hanyalah manusia biasa yang rentan. Petualangan menegangkan di makam tempat Ammit disembunyikan berhasil membuat penonton terbawa suasana.
Penonton, termasuk Penulis, dibuat bingung ketika adegan rumah sakit jiwa dimulai. Kita seolah dibuat bimbang, manakah yang nyata dan manakah yang fana. Misteri ini berhasil membuat penonton merasa tidak sabar dengan episode selanjutnya.
Episode 5 – Rumah Sakit Jiwa

Jalan Cerita Moon Knight Episode 5
Taweret menjelaskan kalau Marc dan Steven sudah mati. Rumah sakit jiwa yang terlihat oleh mereka adalah sebuah “perahu” yang berlayar melalui Duat, alam baka Mesir. Taweret menimbang hati mereka apakah mereka bisa memasuki Field of Reeds, tapi ternyata hati mereka belum seimbang karena masih banyak hal yang disembunyikan Marc dari Steven.
Oleh karena itu, mereka pun menyusuri kenangan Marc satu per satu. Ternyata, ketika kecil Marc disalahkan oleh ibunya atas kematian adik Marc yang bernama Randall. Lantas, kehidupan Marc yang cukup tragis pun berlanjut hingga ia menjadi avatar Khonshu setelah hampir tewas.
Marc dan Steven pun berusaha meyakinkan Taweret untuk menghidupkan mereka kembali agar bisa menghentikan Harrow. Untuk itu, Marc pun akhirnya mengakui kalau dirinya membuat kepribadian Steven akibat perlakukan kejam yang ia terima dari ibunya.
Namun, tiba-tiba mereka diserang oleh musuh. Steven jatuh ke dalam gurun dan berubah menjadi pasir. Timbangan Marc tiba-tiba menjadi seimbang dan ia mendapati dirinya telah berada di Field of Reeds.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 5
Bisa dibilang, episode kelima dari Moon Knight memiliki vibe yang sama dengan episode delapan WandaVision, di mana kita diajak untuk menyusuri masa lalu tragis dari sang karakter utama.
Kebingungan yang terjadi di akhir episode 4 juga terjawab di sini, di mana Marc dan Steven sedang berada di alam setelah kehidupan. Kita juga mengetahui kalau di dunia Marvel, ada banyak macam tempat seperti ini.
Episode 6 – Dewa dan Monster

Jalan Cerita Moon Knight Episode 6
Setelah kematian Steven, Harrow berhasil membebaskan Ammit dan membunuh avatar dewa-dewa Mesir lainnya. Di sisi lain, Marc menolak untuk tinggal di Field of Reeds dan memilih untuk kembali ke Duat untuk menyelamatkan Steven.
Dengan bantuan Taweret, Marc berhasil mengembalikan Steven dan mereka pun kembali hidup setelah melewati Gerbang Osiris. Khonshu yang dibebaskan oleh Layla pun segera kembali membuat perjanjian dengan Marc/Steven. Di sisi lain, Layla juga setuju menjadi avatar sementara dari Taweret dan memperoleh kekuatan super.
Akhirnya pertarungan final pun terjadi, di mana Marc/Steven dan Layla melawan Harrow dan anak buahnya, sedangkan Khonshu melakukan pertarungan ala monster Kaiju melawan Ammit. Di saat darurat, Marc/Steven tiba-tiba mengalami blackout dan tiba-tiba Harrow sudah ia kalahkan.
Untuk menghentikan Ammit, Marc dan Layla menyegel tubuh Ammit di tubuh Harrow. Khonshu meminta Marc untuk membunuh Harrow, tetapi ditolak. Khonshu pun menepati janjinya dengan melepaskan Marc dan Steven.
Di adegan mid-credit, ternyata urusan Marc/Steven dengan Khonshu belum usai. Ternyata, ada kepribadian ketiga yang bersemayam di tubuh mereka, Jack Lockley. Bersama Khonshu, ia “menculik” Harrow dan membunuhnya di dalam limosin.
Setelah Menonton Moon Knight Episode 6
Sebagai penutup, Penulis kurang menyukai episode terakhir ini. Kemunculan Ammit terasa “cuma gitu aja?” karena dengan mudah disegel oleh Marc dan Layla. Selain itu, kematian avatar-avatar dewa Mesir juga terjadi dengan begitu mudahnya. Layla yang tiba-tiba jadi superhero Mesir juga terasa sebagai fans service.
Penyelamat dari episode ini adalah adegan mid-credit yang akhirnya menampilkan sosok Jack Lockley. Plot twist yang cukup menyenangkan meskipun sudah banyak ditebak ini membuat banyak penonton penasaran tentang masa depan Moon Knight di masa depan.
Penutup

Secara keseluruhan, serial Moon Knight cukup menyenangkan untuk ditonton karena tone yang cenderung gelap, berbeda dengan kebanyakan serial Marvel yang terkesan ceria dan ringan.
Akting yang ditampilkan oleh Oscar Isaac benar-benar juara. Hampir semua penonton sepakat kalau akting yang ia tampilkan membuat serial ini menjadi lebih menarik. Pemeran lain seperti May Calamawy sebagai Layla dan Ethan Hawke sebagai Harrow juga mampu mengimbangi Isaac.
Salah satu nilai plus dari serial ini adalah kita tidak perlu menonton semua film dan serial Marvel sebelumnya. Bisa dibilang, serial ini seperti berdiri sendiri, bahkan hampir tidak ada referensi ke film/serial Marvel lainnya, sesuatu yang lumrah terjadi di MCU.
Penulis cukup menyukai pace cepat antara episode satu sampai tiga, dan mulai bingung di episode empat dan lima. Meskipun ada penjelasan di episode enam, masih ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan cukup mengganjal.
Misalnya, bagaimana Marc/Steven bisa kembali hidup? Apakah hanya karena bantuan dewa-dewa Mesir atau karena di tubuhnya masih terikat oleh Khonshu? Bagaimana Harrow bisa membunuh avatar dewa-dewa Mesir lain dengan mudah, padahal Layla langsung mendapatkan kekuatan super dari Tawaret?
Penulis benar-benar menyayangkan kemunculan Ammit yang terkesan remeh dan kurang penting. Screentime-nya yang cukup sebentar seolah tidak selaras dengan gembar-gembor tentangnya yang sudah muncul sejak episode satu.
Kesimpulannya, Penulis cukup menikmati serial ini meskipun kurang puas dengan ending-nya. Di antara serial Marvel lainnya yang sudah tayang di Disney+, Penulis akan menempatkannya di posisi tiga, setelah WandaVision dan Loki.
Lawang, 5 Mei 2022, terinspirasi setelah menamatkan serial Moon Knight di Disney+
Foto Banner: CNET
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter
Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa.
Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul “Inception/Intro”, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan “Castle of Glass”, “In the End”, hingga “Numb”.
Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film Coyote vs. ACME yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.
Detail Film Linkin Park: Unshatter
- Judul: Linkin Park: Unshatter
- Sutradara: Joe Hahn
- Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain
- Durasi: 110 Menit
Apa Cerita Linkin Park: Unshatter

Linkin Park: Unshatter bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, Chester Bennington, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.
Masing-masing personel berusaha menghadapi grief yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. Mike Shinoda misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa single dan album.
Pada satu titik, Joe Hahn yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. Dave Farrel selaku bassist pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.
Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua member memiliki ide serupa. Gitaris Brad Delson awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur band. Rob Bourdon sebagai drummer bahkan tidak mau terlibat sama sekali.
Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan drummer. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.
Pada akhirnya, Linkin Park pun kembali pada tahun 2024 dengan vokalis baru, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil against all odds dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.
Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Jujur saja, ini adalah kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu “The Catalyst”.
Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi “The Catalyst” bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian lift me up, let me go, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.
Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.
Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar band favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.
Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.
Kita bisa melihat bagaimana dunia para anggota Linkin Park terasa shatter alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi.
Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa related dengan apa yang pernah mereka hadapi.
Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur band sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha “memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat”, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.
Walau begitu, mungkin karena passion mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali alias unshatter. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.
Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan.
Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari sub-part-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park. Contohnya adalah “The Hardest Part of Ending is Starting Again”, yang diambil dari lagu “Waiting for the End”.
Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.
SKOR: 11/10
Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film Linkin Park: Unshatter
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday.
Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari premiere-nya.
Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa deleted scenes yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.
Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film Avengers: Doomsday. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.

Detail Film Avengers: Endgame Encore
- Judul: Avengers: Endgame Encore
- Sutradara: Anthony dan Joe Russo
- Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin
- Durasi: 185 Menit
Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?

Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi ending bagi Endgame, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).
Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.
Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya.
Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi post-credit untuk film Spider-Man: Brand New Day. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.
Ia terlihat sedang membuat video footage mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam glitch yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).
Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk collect Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam rune yang menjadi ciri khas Doom di lantai.
Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke “kantor” Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan “Best Employee of All Time”.
Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.
Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti I love you 3.000 di film Endgame). OB pun mengatakan multiverse is collapsing.
Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat suit Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!
Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini.
Adegan Steve Rogers dan Loki

Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer Doomsday, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.
Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.
Namun, Rogers yang kita lihat di trailer brewokan, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film Endgame Encore dan trailer.
Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.
Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film Endgame juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?
Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di Doomsday mengenai hal ini.
Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom

Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.
Nah, hal ini lantas berubah di serial She-Hulk: Attorney at Law dan film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?
Di film Brand New Day, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.
Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya?
Adegan TVA dan Topeng Doom

Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film Doomsday. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.
Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.
Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan multiverse. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.
Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.
Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan multiverse dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh multiverse.
Kesimpulan
Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film Avengers: Doomsday. Pasalnya, build up film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film Fantastic Four: The First Step dan film ini.
Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi villain utama film Avengers: Infinity Wars (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film Guardians of the Galaxy Vol. 1.
Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film Endgame Encore ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.
Semoga saja Penulis salah dan Avengers: Doomsday tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.
Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton Avengers: Endgame Encore
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.
Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi villain utama di film ini.
Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?
Detail Film Spider-Man: Brand New Day
- Judul: Spider-Man: Brand New Day
- Sutradara: Destin Daniel Cretton
- Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo
- Durasi: 145 Menit
Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?

Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film Spider-Man: No Way Home (2021), ketika Peter Parker (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.
Walau begitu, ia tak benar-benar move-on dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.
Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).
Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah Jean Gray (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.
Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.
Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat Bruce Banner (Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh Frank Castle alias The Punisher (John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.
Namun, di sinilah plot twist terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan abusing kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.
Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May berhasil menenangkan Jean.
Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru sniper dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.
Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan.
Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan action seperti di film No Way Home. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.
Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya

Salah satu adegan paling emosional sekaligus “keterlaluan” di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!
Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.
Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar move on dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, “I don’t love you” secara terang-terangan
Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).
Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi

Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?
Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film No Way Home, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.
Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam shortcut untuk tidak meninggalkan plot holes di dalam film.
Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem

Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.
Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter telepath yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?
Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-No Way Home, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.
Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat badass terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om tsundere yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!
Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak

Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah villain yang sesungguhnya.
Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan overuse, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film Spider-Man: Far from Home (2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.
Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan “tekad” juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar struggling dengan kemampuan barunya tersebut.
Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?
Cameo Yelena yang Terasa Nanggung

Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi cameo yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa “asal tempel” karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.
Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan post-credit Thunderbolts* yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film Thunderbolts*?
Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang “small potato” versus “big potato“. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi street-villain level, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.
Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?
Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?
Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film Avengers: Doomsday. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.
Adegan post-credit di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari mulitverse lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film Doomsday.
Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film Avengers: Doomsday, karena build up-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.
Kesimpulan
Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada action-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.
Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental.
Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang related dengan kita!
SKOR: 7/10
Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: Brand New Day
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login