Connect with us

Film & Serial

Setelah Menonton Moon Knight

Published

on

Hingga kini, Marvel telah menelurkan 5 serial di layanan Disney+: WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier, Loki, What If…?, dan Hawkeye. Semua serial tersebut telah Penulis tonton dan sudah ada ulasannya masing-masing.

Hanya saja, kelima serial tersebut hanya menampilkan karakter-karakter yang telah muncul sebelumnya, sehingga seolah terlihat sebagai ajang untuk memamerkan side character yang selama ini kerap terabaikan.

Nah, serial pertama yang menampilkan karakter baru (belum pernah muncul di Marvel Cinematic Universe/MCU) adalah Moon Knight. Kalau tidak pernah membaca komiknya, superhero yang satu ini pasti terdengar asing.

Berhubung episode finale-nya telah rilis kemarin, Penulis pun segera menuliskan pendapatnya tentang serial yang satu ini agar hutang artikel tidak menumpuk. SPOILER ALERT!!!

Episode 1 – Masalah Ikan Mas

Oscar Isaac sebagai Marc Spector/Steven Grant dan Gus the goldfish (Marvel)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 1

Cerita berawal kepada Steven Grant (Oscar Isaac) yang bekerja di British Museum, London, sebagai penjual suvenir yang ramah. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai Mesir Kuno.

Steven terlihat sebagai pribadi yang bermasalah dengan tidurnya, sehingga ia selalu mengikat kakinya, menyebar pasir di sekitar kasurnya, hingga menempelkan selotip di pintu.

Suatu saat, tiba-tiba ia terbangun di Pegunungan Alpen dan mendapatkan sebuah scarab. Ia juga bertemu dengan Arthur Harrow (Ethan Hawke) yang memiliki sejumlah pengikut, dan Steven harus berjibaku untuk kabur.

Steven lantas kembali ke rumahnya dan menyadari kalau telah dua hari berlalu semenjak ia merasa tidur. Ia menemukan sebuah ponsel dan mendapati kalau ada seseorang bernama Layla (May Calamawy) yang tengah mencarinya. Ketika mencoba meneleponnya, wanita tersebut memanggilnya “Marc”.

Ketika di tempat kerja, ia bertemu dengan Harrow yang ternyata merupakan pengikut dewi Mesir bernama Ammit. Malamnya, Harrow memanggil sesosok makhluk untuk menyerang Grant dan merebut scarab yang dimilikinya.

Di saat terdesak, sosok dirinya yang satu lagi, Marc Spector, meminta Steven untuk bertukar kepribadian. Steven setuju dan untuk pertama kalinya kita melihat sosok Moon Knight di semesta Marvel.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 1

Sebagai episode pembuka, Penulis sangat menyukai episode pertama. Tanpa perlu berpanjang lebar, kita langsung memahami mengenai kepribadian ganda yang dimiliki oleh Steven Grant.

Blackout yang dialami Steven bisa menggambarkan mengenai adanya sosok lain yang mengendalikan tubuh tersebut. Episode ini juga mampu membuat penontonnya merasa simpatik dan “jatuh cinta” kepada sosok Steven.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Episode 2 – Panggil Kostumnya

Mr. Knight (Polygon)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 2

Berkat ulah Moon Knight yang bertarung melawan monster Harrow, Steven disalahkan atas kerusakan yang terjadi di museum dan dipecat. Ia mencoba menelusuri dirinya yang satu lagi menggunakan kunci yang ia temukan di rumahnya.

Di semacam tempat penyimpanan, Steven akhirnya mampu berbicara dengan Marc yang menjelaskan kalau dirinya adalah avatar dari dewa bulan Mesir, Khonsu. Steven pun melihat sosok Khonsu dan berlari ketakutan, sebelum akhirnya hampir ditabrak oleh Layla yang ternyata merupakan istri Marc.

Setelah membawa Layla ke rumahnya, anak buah Harrow berhasil membawa Steven ke tempat Harrow. Ternyata, Harrow mengincar scarab yang ia bawa karena ingin menemukan makam Ammit dan membangkitkannya.

Harrow juga menjelaskan kalau Ammit akan membuatnya memusnahkan manusia sebelum mereka melakukan kejahatannya di masa depan. Steven tidak setuju dengan cara tersebut dan kabur dengan bantuan Layla yang berhasil menyusul.

Di episode ini, Steven berhasil memunculkan kostum versinya sendiri dan berusaha melawan makhluk yang dimunculkan Harrow. Tidak mampu mengalahkannya, akhirnya Steven bertukar kepribadian lagi dengan Marc. Sayangnya, Harrow berhasil mendapatkan scarab dan langsung menuju Mesir.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 2

Episode dua lebih menjelaskan mengenai konflik yang terjadi antara Steven/Marc dan Harrow. Mereka berdua menjadi “pengikut” dari dewa-dewi Mesir yang berbeda. Meskipun mereka sama-sama ingin memusnahkan kejahatan di dunia, mereka memiliki cara yang berbeda.

Jika Khonshu membunuh orang setelah mereka melakukan kejahatan, Ammit justru ingin membunuh orang sebelum mereka melakukan kejahatannya melalui semacam neraca. Dengan kata lain, Ammit ingin melakukan genosida untuk menghindari hal buruk terjadi di masa depan.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Episode 3 – Tipe yang Ramah

Mr. Knight dan Khonshu (ComicBook)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 3

Dari London, kita langsung beralih ke Mesir karena Harrow berhasil menemukan makam Ammit di gurun Mesir. Marc berusaha melacak keberadaan Harrow, tetapi sempat mengalami blackout bersamaan dengan Steven yang mengindikasikan adanya kepribadian ketiga.

Buntu, Khonshu pun melakukan sesuatu yang membuat para dewa Mesir lain untuk berkumpul dan memberitahukan rencana Harrow. Sayangnya, Harrow berhasil meyakinkan mereka kalau yang disampaikan oleh Khonshu tidak benar.

Salah satu avatar dari dewa Mesir memberitahu Marc untuk menemukan sarkofagus yang memberitahu lokasi makam Ammit. Marc pun bertemu dengan Layla dan membawanya untuk bertemu dengan Anton Mogart yang memiliki sarkofagus yang ditemukan.

Sayangnya, Harrow datang dan mengacau, sehingga Marc dan Layla harus melarikan diri ke gurun sembari membawa peta bintang yang menjadi petunjuk makam Ammit. Steven menggunakan keahliannya untuk merakit peta bintang, tetapi ternyata peta tersebut dibuat 2000 tahun lalu.

Khonshu pun memutuskan untuk mengubah langit kembali seperti 2000 tahun lalu, yang membuat para dewa Mesir lain memenjarakan Khonshu ke dalam sebuah ushhabti. Dengan kata lain, Steven dan Marc kehilangan kekuatan Moon Knight.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 3

Satu hal yang Penulis suka dari serial Moon Knight hingga episode 3 adalah pace-nya yang tidak terlalu bertele-tele. Misi pengejaran yang dilakukan oleh Marc dan Layla terasa padat, tapi berhasil tidak membuatnya terlihat terburu-buru.

Satu adegan yang dianggap epic dari episode ini adalah ketika Khonshu memutar langit malam dengan efek yang memanjakan mata. Penonton berhasil dibuat penasaran, apa yang akan terjadi dengan Marc dan Steven setelah kekuatan mereka hilang.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Episode 4 – Makam

Marc dan Steven (We Got This Covered)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 4

Steven dan Layla berhasil menemukan lokasi makam Ammit berkat “pengorbanan” yang dilakukan oleh Khonshu. Dalam sebuah makam labirin yang berbentuk Mata Horus, mereka menemukan fakta beberapa orang Harrow dibunuh oleh semacam mayat hidup.

Sempat terpencar, Layla berhasil mengalahkan mayat hidup tersebut dan bertemu dengan Harrow, di mana ia memberi informasi bahwa yang membunuh ayah Layla adalah Marc.

Di tempat yang terpisah, Steven berhasil menemukan fakta bahwa avatar terakhir dari Ammit adalah Alexander the Great. Ushabti dari Ammit pun tersimpan di dalam tubuh mumi Alexander. Layla menemukan lokasi Marc dan marah karena menyembunyikan fakta yang ia ketahui dari Harrow.

Lantas, tiba-tiba Harrow datang dan Marc pun melakukan konfrontasi. Tanpa banyak babibu, Harrow menembah Marc tepat di dadanya. Marc terbangun di sebuah tempat yang terlihat sebagai rumah sakit jiwa. Ia lantas bertemu dengan Steven di tubuh yang berbeda, sebelum bertemu dengan seorang dewi dengan bentuk kuda nil, Tawaret.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 4

Episode 4 berhasil menyajikan petulangan perburuan harta karun ala Indiana Jones. Tanpa kekuatan super dari Khonshu, Marc dan Steven hanyalah manusia biasa yang rentan. Petualangan menegangkan di makam tempat Ammit disembunyikan berhasil membuat penonton terbawa suasana.

Penonton, termasuk Penulis, dibuat bingung ketika adegan rumah sakit jiwa dimulai. Kita seolah dibuat bimbang, manakah yang nyata dan manakah yang fana. Misteri ini berhasil membuat penonton merasa tidak sabar dengan episode selanjutnya.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Episode 5 – Rumah Sakit Jiwa

Kematian Steven (Jawwaby.club)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 5

Taweret menjelaskan kalau Marc dan Steven sudah mati. Rumah sakit jiwa yang terlihat oleh mereka adalah sebuah “perahu” yang berlayar melalui Duat, alam baka Mesir. Taweret menimbang hati mereka apakah mereka bisa memasuki Field of Reeds, tapi ternyata hati mereka belum seimbang karena masih banyak hal yang disembunyikan Marc dari Steven.

Oleh karena itu, mereka pun menyusuri kenangan Marc satu per satu. Ternyata, ketika kecil Marc disalahkan oleh ibunya atas kematian adik Marc yang bernama Randall. Lantas, kehidupan Marc yang cukup tragis pun berlanjut hingga ia menjadi avatar Khonshu setelah hampir tewas.

Marc dan Steven pun berusaha meyakinkan Taweret untuk menghidupkan mereka kembali agar bisa menghentikan Harrow. Untuk itu, Marc pun akhirnya mengakui kalau dirinya membuat kepribadian Steven akibat perlakukan kejam yang ia terima dari ibunya.

Namun, tiba-tiba mereka diserang oleh musuh. Steven jatuh ke dalam gurun dan berubah menjadi pasir. Timbangan Marc tiba-tiba menjadi seimbang dan ia mendapati dirinya telah berada di Field of Reeds.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 5

Bisa dibilang, episode kelima dari Moon Knight memiliki vibe yang sama dengan episode delapan WandaVision, di mana kita diajak untuk menyusuri masa lalu tragis dari sang karakter utama.

Kebingungan yang terjadi di akhir episode 4 juga terjawab di sini, di mana Marc dan Steven sedang berada di alam setelah kehidupan. Kita juga mengetahui kalau di dunia Marvel, ada banyak macam tempat seperti ini.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Episode 6 – Dewa dan Monster

Ammit (Tor)

Jalan Cerita Moon Knight Episode 6

Setelah kematian Steven, Harrow berhasil membebaskan Ammit dan membunuh avatar dewa-dewa Mesir lainnya. Di sisi lain, Marc menolak untuk tinggal di Field of Reeds dan memilih untuk kembali ke Duat untuk menyelamatkan Steven.

Dengan bantuan Taweret, Marc berhasil mengembalikan Steven dan mereka pun kembali hidup setelah melewati Gerbang Osiris. Khonshu yang dibebaskan oleh Layla pun segera kembali membuat perjanjian dengan Marc/Steven. Di sisi lain, Layla juga setuju menjadi avatar sementara dari Taweret dan memperoleh kekuatan super.

Akhirnya pertarungan final pun terjadi, di mana Marc/Steven dan Layla melawan Harrow dan anak buahnya, sedangkan Khonshu melakukan pertarungan ala monster Kaiju melawan Ammit. Di saat darurat, Marc/Steven tiba-tiba mengalami blackout dan tiba-tiba Harrow sudah ia kalahkan.

Untuk menghentikan Ammit, Marc dan Layla menyegel tubuh Ammit di tubuh Harrow. Khonshu meminta Marc untuk membunuh Harrow, tetapi ditolak. Khonshu pun menepati janjinya dengan melepaskan Marc dan Steven.

Di adegan mid-credit, ternyata urusan Marc/Steven dengan Khonshu belum usai. Ternyata, ada kepribadian ketiga yang bersemayam di tubuh mereka, Jack Lockley. Bersama Khonshu, ia “menculik” Harrow dan membunuhnya di dalam limosin.

Setelah Menonton Moon Knight Episode 6

Sebagai penutup, Penulis kurang menyukai episode terakhir ini. Kemunculan Ammit terasa “cuma gitu aja?” karena dengan mudah disegel oleh Marc dan Layla. Selain itu, kematian avatar-avatar dewa Mesir juga terjadi dengan begitu mudahnya. Layla yang tiba-tiba jadi superhero Mesir juga terasa sebagai fans service.

Penyelamat dari episode ini adalah adegan mid-credit yang akhirnya menampilkan sosok Jack Lockley. Plot twist yang cukup menyenangkan meskipun sudah banyak ditebak ini membuat banyak penonton penasaran tentang masa depan Moon Knight di masa depan.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Penutup

Jake Lockley (MARCA)

Secara keseluruhan, serial Moon Knight cukup menyenangkan untuk ditonton karena tone yang cenderung gelap, berbeda dengan kebanyakan serial Marvel yang terkesan ceria dan ringan.

Akting yang ditampilkan oleh Oscar Isaac benar-benar juara. Hampir semua penonton sepakat kalau akting yang ia tampilkan membuat serial ini menjadi lebih menarik. Pemeran lain seperti May Calamawy sebagai Layla dan Ethan Hawke sebagai Harrow juga mampu mengimbangi Isaac.

Salah satu nilai plus dari serial ini adalah kita tidak perlu menonton semua film dan serial Marvel sebelumnya. Bisa dibilang, serial ini seperti berdiri sendiri, bahkan hampir tidak ada referensi ke film/serial Marvel lainnya, sesuatu yang lumrah terjadi di MCU.

Penulis cukup menyukai pace cepat antara episode satu sampai tiga, dan mulai bingung di episode empat dan lima. Meskipun ada penjelasan di episode enam, masih ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan cukup mengganjal.

Misalnya, bagaimana Marc/Steven bisa kembali hidup? Apakah hanya karena bantuan dewa-dewa Mesir atau karena di tubuhnya masih terikat oleh Khonshu? Bagaimana Harrow bisa membunuh avatar dewa-dewa Mesir lain dengan mudah, padahal Layla langsung mendapatkan kekuatan super dari Tawaret?

Penulis benar-benar menyayangkan kemunculan Ammit yang terkesan remeh dan kurang penting. Screentime-nya yang cukup sebentar seolah tidak selaras dengan gembar-gembor tentangnya yang sudah muncul sejak episode satu.

Kesimpulannya, Penulis cukup menikmati serial ini meskipun kurang puas dengan ending-nya. Di antara serial Marvel lainnya yang sudah tayang di Disney+, Penulis akan menempatkannya di posisi tiga, setelah WandaVision dan Loki.


Lawang, 5 Mei 2022, terinspirasi setelah menamatkan serial Moon Knight di Disney+

Foto Banner: CNET

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

By

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hรผller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hรผller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Continue Reading

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Film & Serial

Langkah Frustasi Marvel dalam Menyelamatkan Semestanya

Published

on

By

Pada ajang San Diego Comic Con (SDCC) 2024 yang berlangsung pada akhir bulan Juli kemarin, Marvel berhasil membuat geger para penggemarnya di seluruh dunia gara-gara pengumuman yang mengejutkan.

Bagaimana tidak, Robert Downey Jr. atau RDJ, yang terkenal karena telah memerankan karakter Tony Stark alias Iron Man selama 11 tahun (dari film Iron Man hingga Avengers: Endgame), ia melakukan comeback dengan menjadi karakter fenomenal lainnya, Doctor Doom!

Pengumuman tersebut tentu membuat banyak penggemar Marvel merasa senang karena bisa melihat aktor favorit mereka kembali ke Marvel Cinematic Universe (MCU). Namun, tak sedikit yang justru menyesalkan keputusan tersebut, termasuk Penulis.

Semua Berawal dari Jonathan Majors

Para Kang yang Menjadi Sia-sia (YouTube)

Setelah Infinity Saga yang diakhiri dengan epic melalui film Avengers: Endgame, MCU membuka lembaran baru dengan Multiverse Saga. Tema ini digembar-gemborkan akan membuka “kemungkinan tak terbatas” di semesta Marvel

Awalnya, Kang the Conqueror dipilih menjadi next big bad villain selanjutnya menggantikan Thanos. Sayangnya, sang aktor Jonathan Majors terjerat kasus yang membuatnya dipecat. Ada opsi untuk melakukan recast, tapi Marvel memilih untuk mengganti villain utamanya.

Setelah berbagai spekulasi dan rumor, akhirnya melalui ajang SDCC 2024 Marvel resmi mengumumkan kalau Doctor Doom akan menjadi penggantinya. Hal ini terlihat dari perubahan judul film Avengers: Kang Dynasty menjadi Avengers: Doomsday.

Film ini akan disutradarai kembali oleh sutradara Russo Brothers, yang sebelumnya telah menyutradarai empat film Marvel, termasuk dua film Avengers. Sebagai tambahan, mereka juga akan menjadi sutradara film Avengers: Secret Wars.

Kembali ke Doctor Doom. Sebenarnya, Doctor Doom yang terkenal sebagai nemesis dari Fantastic 4 telah lama santer disebut akan menggantikan Kang. Apalagi, di komik ia juga memiliki sejarah panjang dan kerap bersentuhan dengan multiverse.

Nah, yang membuat terkejut adalah pemilihan RDJ yang menimbulkan polemik di antara penggemar. Sebelumnya, nama yang dianggap cocok untuk memerankan Victor von Doom adalah Cillian Murphy. RDJ, setidaknya bagi Penulis, tak pernah terpikirkan.

Marvel Sudah Frustasi?

Para Tokoh Lama yang Dibawa Kembali (IndieWire)

“You could not live with your own failure. Where did that bring you? Back to me.”

Quote terkenal dari Thanos tersebut tampaknya cocok untuk diucapkan oleh Russo Brothers dan RDJ ke direksi Marvel. Seperti yang kita tahu, MCU pasca-Endgame tampak berantakan dan kerap mendapatkan kritikan tajam.

Dari banyaknya film dan serial yang dirilis dalam rentang waktu 2020-2024, hanya sedikit yang bisa dibilang oke, sedangkan sisanya seolah mengundah hujatan. Banyak menganggap Marvel benar-benar mengalami penurunan kualitas dan berharap MCU cukup berakhir di Endgame.

Marvel pun bukannya tutup telinga atas kritikan-kritikan tersebut. Buktinya, mereka merombak roadmap yang telah disusun untuk meningkatkan kualitas film dan serial mereka. Tahun ini mereka hanya merilis satu film, Deadpool & Wolverine, walau film tersebut juga tidak bisa dibilang bagus.

Nah, untuk bisa membuat MCU tetap menarik minat penonton, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan formula lama. RDJ jelas menjadi salah satu aktor terfavorit penggemar, sedangkan Russo Brothers terbukti selama ini selalu menghasilkan film yang berkualitas.

Masalahnya, RDJ sudah terlalu melekat sebagai Iron Man. Apalagi, ia sudah mati dengan heroik di Endgame. Mengembalikannya ke MCU sebagai villain, bagi sebagian penggemar, menjadi hal yang sulit untuk diterima.

Untuk Russo Brothers sendiri, Penulis memiliki kekhawatiran kalau menggunakan mereka kembali justru akan membuat penonton berekspetasi terlalu tinggi ke film Avengers ke-5 dan ke-6. Padahal, sudah banyak kasus di Marvel sutradara yang sama tidak selalu bisa menghasilkan film yang sama bagusnya.

Siapa Doctor Doom Versi MCU?

Mari Kita Lihat Saja Bagaimana RDJ Memerankan Doctor Doom (The Hollywood Reporter)

Secara teori, ada kemungkinan kalau Doctor Doom versi MCU merupakan varian jahat dari Tony Stark. Karena berpotensi menjadi jahat itulah Doctor Strange “mengarahkan” Stark ke kematiannya, mengingat ia telah melihat banyak masa depan alternatif.

Hingga saat ini, sama sekali belum ada petunjuk mengenai Doctor Doom di semua film dan serial MCU di Phase 4 dan 5. Hal ini wajar mengingat pergantian villain utama juga baru dilakukan akhir-akhir ini. Kalau Kang, ia sudah di-tease sejak serial Loki.

Ini juga akan menjadi kelemahan Multiverse Saga. Seperti yang kita tahu, Thanos sudah di-tease sejak film The Avengers tahun 2012 atau enam tahun sebelum penampilannya di film Avengers: Infinity Wars. Doctor Doom hanya punya waktu dua tahun sebelum tampil sebagai musuh utama.

Kemungkinan besar, Doctor Doom baru diperkenalkan pada film Fantastic Four: First Step yang akan tayang pada tahun 2025 mendatang. Film ini akan berlatar di universe lain, bukan Earth-616 tempat di mana para superhero yang kita kenal selama ini tinggal.

Di film tersebut, harusnya yang menjadi musuh utama adalah Galactus. Doctor Doom mungkin akan muncul, tapi tidak menjadi musuh utama. Dari sana, Penulis memperkirakan kalau entah bagaimana pada akhirnya Doctor Doom akan memicu kejadian yang akan terjadi di film Avengers: Secret Wars.

Kita lihat saja nanti apakah langkah frustasi yang diambil oleh Marvel ini berhasil menyelamatkan semestanya atau justru memperburuk keadaan.


Lawang, 7 Agustus 2024, terinspirasi setelah diumumkannya Robert Downey Jr. sebagai Doctor Doom

Foto Featured Image: GQ

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018