Connect with us

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Across the Spider-Verse

Published

on

Salah satu film yang Penulis paling nantikan pada tahun 2023 ini adalah Spider-Man: Across the Spider-Verse, yang merupakan sekual dari Spider-Man: Into the Spider-Verse yang rilis pada tahun 2018 silam.

Waktu jeda hingga lima tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Untungnya, kesabaran dalam menantikan sekuel film ini bisa terbayarkan, walau belum tuntas mengingat film ini bersambung ke film Spider-Man: Beyond the Spider-Verse yang akan rilis pada tahun 2024.

Lantas, apakah sekuelnya ini mampu menampilkan animasi sekeren film pertamanya? Apakah tema multiverse yang dimiliki mampu terlihat lebih rapi dibandingkan dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) yang sedang tertatih-tatih? SPOILER ALERT!!!

Jalan Cerita Spider-Man: Across the Spider-Verse

Berbeda dengan film pertama di mana kita mendengarkan kisah hidup Peter Parker sebagai Spider-Man, Across the Spider-Verse diawali dari perspektif Gwen Stacy/Spider-Gwen (Hailee Steinfeld) di semestanya yang bernuansa pastel.

Kita jadi tahu kalau Gwen menjadi buronan karena dianggap sebagai pembunuh Peter Parker, sehingga kerap merasa kesepian. Gwen pada akhirnya bersinggungan lagi dengan multiverse ketika Vulture dari masa Renaissance datang ke universe-nya.

Ketika berupaya menghentikannya, ia mendapatkan bantuan dari Miguel O’hara/Spider-Man 2099 (Oscar Isaac) dan Jessica Drew/Spider-Woman (Issa Rae) dari Spider-Society. Gwen pun akhirnya bergabung dengan mereka, setelah membongkar identitasnya ke ayahnya.

Setelah itu, kita kembali ke semesta Miles Morales (Shameik Moore) yang sedang kesulitan menjalani kedua kehidupan, yakni sebagai seorang Miles dan sebagai seorang Spider-Man. Kali ini, ia berhadapan dengan musuh baru bernama The Spot (Jason Schwartzman).

Nah, kemunculan The Spot ini membuat Gwen datang ke semesta Miles, walaupun sebenarnya ia dilarang untuk melakukannya. Akibatnya, The Spot yang diburu Gwen pun berhasil kabur dan mulai menjelajahi multiverse untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi.

Miles yang melihat adanya portal multiverse pun menyusul Gwen dan pergi ke Mumbattan, destinasi The Spot selanjutnya. Namun, tubuh Miles mengalami glitch karena penyusupan tersebut. Di sana ia juga bertemu dengan Pavitr Prabhakar/Spider-Man India (Karan Soni).

Mereka bertiga kesulitan menangkap The Spot, hingga Hobie Brown/Spider-Punk (Daniel Kaluuya) datang untuk membantu. Namun, semua terlambat karena The Spot mendapatkan yang ia inginkan, apalagi Miles melakukan sesuatu yang mengancam multiverse.

Apa yang Miles lakukan adalah menyelamatkan pacar dari Spider-Man India, yang seharusnya tewas dalam serangan tersebut. Akibatnya, Mumbattan pun menjadi berantakan karena penyelamatan tersebut di luar “Canon Event”.

Hal tersebut, ditambah dengan makin berbahayanya The Spot, membuat Miles datang ke markas para Spider-People dan bertemu dengan Spider-Man 2099. Ia juga bertemu dengan mentornya, Peter B. Parker (Jake Johnson), yang kini memiliki anak bernama Mayday.

Miles yang ingin bergabung ternyata ditolak mentah-mentah, bahkan sempat dikurung karena dianggap berbahaya. Miles pun memberontak, apalagi ia sempat mendapatkan vision kalau The Spot mengincar ayahnya dan ingin membunuhnya.

Adegan seru Miles dikejar ratusan varian Spider-Man pun terjadi, hingga akhirnya terkuak fakta kalau Miles adalah anomali karena laba-laba yang menggigitnya bukan dari semestanya, melainkan dari Earth-42.

Bahkan, Spider-Man 2099 menyalahkan Miles karena berkat dirinya, timeline jadi berantakan. Jika ia tidak digigit oleh laba-laba tersebut, Peter Parker akan masih hidup dan mampu menghentikan Kingpin. Dengan begitu, The Spot tidak akan pernah muncul ke dunia.

Akhirnya Miles kabur dari tempat tersebut. Namun, ternyata ia tidak pulang ke semestanya, melainkan ke Earth-42. Di semesta tersebut, ayahnya telah mati, Paman Aaron masih hidup, dan ia pun bertemu dengan varian jahat dirinya yang menjadi Prowler.

Di sisi lain, Gwen yang juga diusir pun berupaya untuk menolong Miles dengan mengumpulkan beberapa temannya, termasuk mereka yang muncul di film pertama. Film pun bersambung, dengan Spider-Man: Beyond the Spider-Verse akan tayang tahun depan!

Setelah Menonton Spider-Man: Across the Spider-Verse

Durasi film yang mencapai 2 jam 20 menit benar-benar tidak terasa. Meskipun terkesan sebagai prolog untuk film Spider-Man: Beyond the Spider-Verse, intensitas dari film ini benar-benar terasa sehingga tidak menimbulkan rasa bosan.

Alih-alih hanya berfokus pada kehidupan Miles Morales, kita menjadi mendapatkan banyak perspektif baru, terutama dari Gwen yang perannya di film ini cukup kuat. Adegan action yang dimiliki juga berhasil membuat penonton terhanyut akan ceritanya.

Animasi keren ala komik juga berhasil dipertahankan dengan baik, bahkan Penulis menganggapnya naik level. Dengan banyaknya karakter baru di film ini, tema animasi yang dihadirkan pun semakin bervariasi dan menarik.

Para pengisi suaranya pun berhasil melakukan pekerjaan mereka dengan baik sekali. Tidak hanya para pemeran lama, pemeran baru seperti Oscar Isaac pun berhasil membawakan karakternya dengan sangat baik.

Ada beberapa poin menarik yang ingin Penulis ulas dari film ini, termasuk bagaimana semesta di film ini bisa tersambung dengan MCU dan banyaknya easter egg menarik yang membuat penonton merasa senang sekaligus terkejut.

Konsep Multiverse di Spider-Verse

Sejak awal, film-film Spider-Verse memang mengangkat tema multiverse. Bedanya, jika Into the Spider-Verse menghadirkan karakter dari semesta lain ke semesta Miles, kali ini Miles (dan kawan-kawan) yang bertualang menjelajah semesta lain.

Oleh karena itu, banyak konsep multiverse di film ini yang mirip dengan yang digunakan di MCU. Misalnya, Canon Event yang dijaga oleh Spider-Man 2099 mirip dengan Sacred Timeline yang digunakan oleh TVA pimpinan He Who Remains.

Selain itu, jika ada sesuatu yang berbeda dengan Canon Event, hal tersebut akan memicu peringatan bagi Spider-Society. Di MCU, hal ini disebut sebagai Nexus Event, di mana contohnya adalah Loki yang mengambil Tesseract untuk kabur.

Apa yang terjadi jika ada peristiwa yang melenceng dari Canon Event juga mirip dengan “Incursion” yang dijelaskan dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness dan episode 4 serial What If…? yang tayang di Disney+.

Selain itu, akhirnya kita juga mendapatkan penjelasan kalau laba-laba yang menggigit Miles berasal dari universe lain. Hal ini pun menjelaskan mengapa laba-laba tersebut terlihat mengalami glitch di film pertama.

Deretan Easter Egg Menarik

Salah satu hal yang membuat Spider-Man: Across the Spider-Verse memiliki hype yang cukup tinggi adalah banyaknya easter egg yang “dijanjikan”. Apalagi, ada sekitar 280 varian Spider-Man yang dihadirkan, sehingga menimbulkan rasa penasaran siapa saja yang akan muncul.

Beberapa easter egg menarik yang muncul adalah seperti disebutnya semesta MCU ketika Spider-Man 2099 menyebutkan adanya peristiwa yang diakibatkan oleh film Spider-Man: No Way Home. Artinya, film-film Spider-Verse memang memiliki keterkaitan dengan MCU.

Selain itu, muncul juga beberapa universe yang cukup mencuri perhatian, seperti kemunculan semesta Lego dan semesta film Venom yang diwakili oleh Ms. Chen. Penulis jadi sedikit berharap kalau di film ketiga nanti akan lebih banyak semesta yang dihadirkan.

Karakter-karakter yang muncul pun jelas menjadi perhatian apra penonton. Adanya Donald Glover sebagai Prowler mungkin menjadi kejutan paling menyenangkan. Penulis juga menyadari kehadiran Spider-Man dari game PlayStation dan Spider-Man dari kartun klasik.

Ada juga klip dari trilogi Spider-Man Sam Raimi dan Spider-Man versi Andrew Garfield. Suara Jonah J. Jameson versi J.K. Simmons juga terdengar beberapa kali. Untuk selengkapnya, Pembaca bisa menonton video-video yang melakukan breakdown secara rinci di YouTube.

***

Jika disuruh menyebutkan kekurangan dari film Spider-Man: Across the Spider-Verse, Penulis akan memilih keputusan Sony untuk membagi film ini menjadi dua bagian. Rasanya begitu nanggung, apalagi cliffhanger yang dimiliki juga sangat terasa.

Namun, Penulis bisa memahami keputusan ini, mengingat film ini bisa berdurasi sekitar 5 jam jika tidak dibagi menjadi dua bagian. Pada akhirnya, Penonton harus bersabar satu tahun lagi sebelum bisa mengetahui kelanjutan kisah Miles, Gwen, dan lainnya.

Yang jelas, Penulis akan menonton Spider-Man: Beyond the Spider-Verse di hari perdana penayangannya, yang Penulis perkirakan akan hadir pada tanggal 27 Maret 2024 di Indonesia.

โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…

Lawang, 4 Juni 2023, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: Across the Spider-Verse

Foto Featured Image: Screen Rant

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl

Published

on

By

Bulan Juni hingga Juli akan menjadi waktu-waktu di mana Penulis akan sering ke bioskop. Pasalnya, ada tiga film yang masuk ke dalam daftar tonton Penulis tahun ini, mulai dari Supergirl (24 Juni), The Odyssey (15 Juli), dan Spider-Man: Brand New Day (29 Juli).

Nah, meskipun agak telat menulis artikel ulasannya, Penulis sebenarnya telah menonton film Supergirl ketika premiere. Karakternya sendiri sudah sempat muncul sebentar di film Superman yang tayang pada tahun kemarin.

Lantas, apakah Supergirl berhasil menampilkan film minimal sebagus Superman, atau justru ini menjadi film flop pertama DC Studios di bawah arahan James Gunn? Menurut Penulis, singkatnya, this movie was not bad, but not good enough.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Supergirl

  • Judul:ย Supergirl
  • Sutradara: Craig Gillespie
  • Cast: Milly Alcock, Eve Ridley, Jason Momoa, Matthias Schoenaerts, David Corenswet
  • Tanggal Rilis: 24 Juni 2026 (Indonesia)
  • Durasi: 108 Menit

Apa Cerita Supergirl?

Supergirl (CGMagazine)

Sesuai dengan judulnya, Supergirl berfokus pada kehidupan Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock) yang berbeda dengan sepupunya, Kal-El alias Superman (David Corenswet). Jika Superman bisa melihat kebaikan di setiap orang, ia melihat manusia “apa adanya”.

Jika Superman hidupnya terkesan lurus, maka Supergirl terasa chaos dan berantakan. Bahkan, ia dengan sengaja pergi ke planet yang mataharinya merah agar dirinya bisa mabuk! Sebagai informasi, makhluk Kryptonian seperti mereka tidak bisa mabuk di planet dengan matahari kuning seperti Bumi.

Nantinya, di pertengahan film akan dijelaskan mengenai perbedaan ini. Berbeda dengan Superman yang dikirim ke Bumi sejak kecil, Supergirl sempat tinggal di Argo City, sebuah kota “sempalan” dari planet Krypton yang meledak.

Namun, masa hidup kota tersebut tidak bisa bertahan lama karena ternyata mengandung kelemahan mereka semua, yakni Kriptonite. Alhasil, Kara dan anjingnya yang bernama Krypto pun dikirim ke Bumi untuk dititipkan ke Superman.

Latar belakangnya yang seperti itulah yang membuat Supergirl terus mencari di mana “rumahnya” yang sebenarnya. Ia merasa Bumi tempat Superman tinggal bukan rumah sejatinya, sehingga ia pun kerap berkelana ke berbagai planet.

Nah, kebetulan ia sedang berada di sebuah planet saat perayaan ulang tahunnya yang ke-23. Di planet tersebut, kebetulan ada seorang penjahat bernama Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts) yang membantai keluarga Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley) karena alasan yang cukup konyol.

Ruthye pun punya misi balas dendam dan pergi ke bar untuk mencari orang yang bisa membantunya. Kebetulan (lagi), Supergirl sedang berada di bar tersebut. Walau sempat membantu Ruthye, Supergirl menolak untuk membantunya melakukan balas dendam.

Nah, pesawat milik Krem sempat diledakkan oleh keluarga Ruthye. Kebetulan (lagi), mereka menemukan pesawat milik Supergirl. Lebih parahnya lagi, Krem sempat menyuntikkan racun ke Krypto yang akan menewaskannya dalam waktu tiga hari.

Supergirl pun yang awalnya menolak permintaan Ruthye akhirnya mau tidak mau mencari Krem dan dimulailah petualangan mereka berdua. Oh iya, di film ini ada Jason Momoa sebagai Lobo, tapi jujur perannya tidak terlalu signifikan. Hal ini akan Penulis bahas di poin selanjutnya.

Setelah Menonton Supergirl

Semakin dipikirkan, Penulis semakin merasa kalau film ini benar-benar terasa kurang, apalagi jika dibandingkan dengan Superman. Selain terasa fun-nya, film ini begitu generik, penuh klise, villain yang kurang memorable, dan secara overall tidak istimewa.

Sisi Positif Film Supergirl

Ruthye (The Direct)

Mari kita bicarakan dulu dari sisi positifnya. Vibe film ini bagi Penulis mirip Borderlands (salah satu seri game favorit Penulis) yang fun, walau netizen mengatakan film ini perpaduan Guardians of the Galaxy dan Mad Max. Oleh karena itu, Penulis bisa menikmati latar-latar tempatnya.

Penampilan para cast-nya tidak buruk, tapi juga tidak terlalu spesial. Penampilan Alcock yang “kuat di luar, tapi rapuh di dalam” patut diapresiasi. Schoenaerts sebagai villain yang agak sinting juga cukup menarik, walau memang (sekali lagi) kurang memorable.

Bagian akhir film ini juga Penulis suka. Setelah menghentikan keinginan Ruthye untuk membunuh Krem, Supergirl mengotori tangannya sendiri untuk membunuhnya. Ini salah satu hal yang tidak klise di film ini sekaligus membedakan antara Superman dan Supergirl.

Sisi Negatif Film Supergirl

Lobo (Variety)

Nah, sekarang masuk ke kekurangannya. Mungkin ada Pembaca yang notice bagaimana Penulis menuliskan banyak kata “kebetulan” di bagian sinopsis sebelumnya. Itu yang Penulis rasakan karena memang terlalu banyak kebetulan di film ini.

Film ini mungkin bukan tipe film yang banjir plot hole, tapi memang dari sisi cerita seperti kurang eksplorasi dan banyak logika yang tidak masuk. Inti dari film ini memang sebenarnya tentang penerimaan diri, tapi konfliknya sesederhana mencari antidote untuk Krypto yang keracunan. Tidak lebih dari itu.

Banyak adegan yang kadang membuat Penulis mengangkat alis. Ketika awal film misalnya, ketika keluarga Ruthye dibantai. Penyebabnya sederhana sekali, karena kakak Ruthye tiba-tiba mengagetkannya (ia pakai headset sehingga tak sadar rumahnya kedatangan tamu yang berbahaya), lalu tiba-tiba dibunuh oleh Krem karena itu!

Karena anaknya dibunuh, tentu orang tua Ruthye murka dan jadi menyerang Krem dan pasukannya. Tentu saja mereka kalah dengan mudah. Anehnya, Ruthye dibiarkan hidup, padahal kakaknya pun dibunuh karena alasan yang sepele!

Selain itu, di film juga diceritakan kalau Krem dan pasukannya (disebut Brigands) mencari para perempuan untuk melanjutkan keturunan mereka yang terancam punah. Lantas, kenapa Ruthye tidak diculik? Memang dia baru remaja, tapi kalau melihat perempuan-perempuan yang mereka culik, rasanya beda usianya tidak terpaut jauh.

Ketika Supergirl datang ke markas Krem, ternyata planet tersebut mengorbit di dua matahari, yakni matahari hijau dan kuning. Artinya, Krem tahu kalau matahari hijau adalah kelemahan Kryptonian. Lantas, mengapa ia tidak mencari planet yang HANYA mengorbit matahari hijau saja? Pasti ada tata surya seperti itu di semesta DC, Penulis sangat yakin.

Satu hal yang paling mengganggu Penulis bukanlah Ruthye yang terasa sebagai beban sepanjang film, melainkan keberadaan Lobo! Lagi-lagi, “kebetulan” orang yang ia incar merupakan pasukan dari Krem, sehingga bisa berada di satu tempat yang sama dengan Supergirl dan Ruthye.

Namun, keberadaan Lobo di film ini seolah asal tempel. Seandainya tidak ada Lobo pun rasanya tidak banyak hal yang berubah. Kemunculannya menyelamatkan Supergirl di akhir film juga terasa memaksa, apalagi tiba-tiba ia bawa motornya ke tengah-tengah pasukan Brigands!

Skor: 6/10

Akhir dari film ini juga memberikan petunjuk tentang film selanjutnya, yakni Superman: Man of Tomorrow yang dijadwalkan rilis tahun depan. Superman mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan Supergirl untuk menghadapi “musuh yang satu ini”. Semoga saja film ini bisa lebih baik!


Lawang, 6 Juli 2026, terinspirasi setelah menonton Supergirl

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

By

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hรผller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hรผller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Continue Reading

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018