Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Oppenheimer
“We knew the world would not be the same. A few people laughed, a few people cried, most people were silent. I remembered the line from the Hindu scripture, the Bhagavad-Gita. Vishnu is trying to persuade the Prince that he should do his duty and to impress him takes on his multi-armed form and says, ‘Now, I am become Death, the destroyer of worlds.’ I suppose we all thought that one way or another.”
– J. Robert Oppenheimer –
Film yang paling Penulis nantikan di tahun 2023 ini adalah Oppenheimer, sebuah biopik karya sutradara Christopher Nolan mengenai bapak bom atom Amerika Serika, J. Robert Oppenheimer.
Penulis telah “mengenal” beliau karena pidatonya yang terkenal digunakan oleh Linkin Park untuk lagu “The Radiance” dari album A Thousand Suns yang rilis pada tahun 2010 silam. Menjelang filmnya rilis, Penulis juga banyak mengulik tentang Oppenheimer.
Sempat merasa kecewa karena tidak banyak layar bioskop di Malang yang menayangkannya, akhirnya Penulis bisa membeli tiketnya di CGV pada hari Sabtu (22/7/23) kemarin di jam yang cukup pagi, yakni 10:40. Lantas, apakah film ini mampu memenuhi ekspektasi Penulis?
Jalan Cerita Oppenheimer
Sebagai sebuah biopik, kita akan melihat perjalanan Oppenheimer hingga bisa menciptakan sebuah bom atom yang meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dalam sekejap. Pada tulisan kali ini, Penulis hanya akan menuliskan poin-poin pentingnya saja.
J. Robert Oppenheimer (Cillian Murphy) merupakan seorang fisikawan jenius yang sempat mengambil studi di Eropa. Ia sempat hendak membunuh profesornya, Patrick Blacket (James D’Arcy), sebelum akhirnya mengurungkan niatnya.
Setelah studinya selesai, ia pun kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat, dan mengajar di University of California. Sembari berusaha menyebarkan pengetahuan mengenai fisika kuantum, ia bertemu dengan ilmuwan lainnya seperti Ernest Lawrence (Josh Hartnett).
Oppenheimer juga berkenalan dengan Jean Tatlock (Florence Pugh), seorang simpatisan komunis asal Rusia yang akhirnya memilih bunuh diri. Ia sendiri nantinya akan menikah dengan ahli biologi, Katherine “Kitty” Oppenheimer (Emily Blunt).
Saat Perang Dunia 2, Jerman di bawah kepemimpinan Hitler memporakporandakan Eropa dengan pasukannya. Tidak hanya itu, mereka juga sedang menciptakan bom yang sangat dahsyat.
Jenderal Leslie Groves (Matt Damon) lalu mendekati Oppenheimer dan memintanya memimpin Proyek Manhattan, sebuah proyek untuk menciptakan bom atom. Oppenheimer pun mengumpulkan ilmuwan ternama dan memilih Los Alamos sebagai lokasi penelitian.
Proses pembuatan bom atom bisa dikatakan lancar, bahkan Jerman keburu menyerah pada bulan Maret 1945. Target pun diubah ke Jepang, yang kala itu masih berperang melawan Amerika Serikat.
Pada bulan Juli 1945, tes pertama bom atom pun dilakukan, yang diberi nama Trinity Test. Uji coba tersebut berhasil, dan tak lama kemudian pemerintah Amerika Serikat mengirimkan bom tersebut ke Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 8 Agustus 1945.
Setelah Jepang menyerah, Oppenheimer melihat kalau penelitian bom atom sudah tidak diperlukan lagi. Namun, pemerintah Amerika Serikat tidak sependapat dan mulai meneliti bom hidrogen yang lebih berbahaya lagi.
Di sisi lain, Lewis Strauss (Robert Downey Jr.) yang merupakan anggota senior Komisi Energi Atom AS ternyata memiliki dendam pribadi karena pernah dipermalukan oleh Oppenheimer. Ia pun berusaha menjatuhkannya dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah dengan membuat semacam persidangan untuk memberikan penolakan perpanjangan izin keamanan Oppenheimer. Alasannya kuat, karena ia memiliki afiliasi yang kuat dengan komunis, musuh Amerika Serikat di era perang dingin.
Oppenheimer pun seolah diasingkan oleh negaranya sendiri, terlepas dari jasanya yang membantu Amerika Serikat memenangkan perang. Meskipun begitu, ia menerima Penghargaan Enrico Fermi pada tahun 1963.
Di akhir film, kita bisa melihat apa yang diperbincangkan antara Oppenheimer dan Albert Einstein (Tom Conti), yang sempat diperlihatkan di bagian awal film. Ia bertanya, apakah ciptaannya telah membuat “reaksi berantai” untuk kehancuran dunia.
Setelah Menonton Oppenheimer
“Prometheus mencuri api dari para Dewa dan memberikannya kepada manusia. Lalu dia dihukum rantai di batu untuk selamanya.”
Dengan durasi tiga jam, film ini benar-benar terasa padat sekaligus berat. Pace-nya tergolong cepat dan mampu merangkum hampir seluruh aspek kehidupan dari Oppenheimer. Secara visual juga memanjakan mata, termasuk adegan ledakan bom yang tanpa CGI.
Menurut Penulis, film ini mampu memadukan ilmu pengetahuan, sejarah, dan drama dengan apik. Dialog-dialognya terdengar canggih karena banyak unsur-unsur fisika yang dimasukkan. Namun, anehnya Penulis justru menyukainya meskipun tidak benar-benar memahaminya.
Keputusan Nolan untuk tidak memasukkan adegan pengemboman Hiroshima dan Nagasaki juga Penulis rasa tepat, karena tanggung jawab Oppenheimer hanya sampai Trinity Test. Pengeboman ke Jepang adalah sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Amerika Serikat.
Alur Maju Mundur ala Nolan
Sebagaimana film buatan Nolan seperti biasanya, alur film Oppenheimer dibuat maju mundur tidak karuan dan kompleks. Bahkan film ini memiliki dua persepsi, di mana adegan berwarna berarti fokus ke Oppenheimer, dan adegan hitam putih lebih fokus ke dendam Lewis Strauss.
Yang Penulis tangkap, alur cerita film ini terpaku pada persidangan yang harus dialami oleh Oppenheimer. Dari sana, kita akan dibawa flashback secara berurutan hingga akhirnya bom atom berhasil diciptakan, sembari diselingi kisah dari sudut pandang Strauss.
Akting Top Para Top-Tier Aktor
Akting para aktornya juga tidak perlu diragukan lagi, mengingat daftarnya memang dipenuhi oleh para aktor top-tier. Masing-masing mampu memerankan karakternya dengan sangat baik, hingga film ini lebih terasa sebagai dokumenter.
Cillian Murphy yang sudah sering bekerja dengan Nolan berhasil bersinar di film ini. Apalagi, raut wajahnya juga mirip dengan Oppenheimer asli. RDJ pun patut diapresiasi yang berhasil memerankan karakter “musuh di balik selimut” yang paranoid.
Mungkin yang sedikit Penulis sayangkan adalah sedikitnya kemunculan dari salah satu aktor favorit Penulis, Gary Oldman, yang berperan sebagai Presiden Truman. Ia hanya muncul ketika mengundang Oppenheimer hanya untuk mendengar keberatannya atas bom hidrogen.
Scoring yang Juara
Scoring film yang dipimpin Ludwig Göransson juga sangat juara. Awalnya Penulis agak skeptis karena bukan Hans Zimmer yang mengisi scoring-nya, tapi ternyata Göransson juga berhasil melakukannya dengan baik.
Entah itu adegan dialog, isi kepala Oppenheimer, hingga adegan ledakan bom, semuanya terdengar sangat mewah. Penulis pribadi takjub dengan efek sunyi ketika Trinity Test dilakukan. Rasanya ikut hanyut melihat bom tersebut meledak.
Oppenheimer Menjadi Promotheus
Adegan favorit Penulis selain adegan Trinity Test adalah percakapan antara Oppenheimer dan Einstein di akhir film. Ketakutan Oppenheimer benar-benar terjadi, karena ternyata perang tidak berakhir dengan bom ciptaannya.
Hal tersebut membuatnya menjadi Promotheus, sosok mitologi yang mencuri api dari para dewa untuk manusia. Ternyata, api tersebut juga digunakan untuk keburukan. Kurang lebih, itu juga yang terjadi dari bom atom ciptaan Oppenheimer.
Meskipun selama ini belum ada pernyataan maaf resmi dari Oppenheimer atas apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, ia terkesan menyesal dengan ciptaannya tersebut. Banyak yang mengintepretasikan pidatonya yang mengutip Bhagavad Gita sebagai bentuk penyesalan.
***
Sebagai orang yang suka sejarah, Penulis sangat menikmati Oppenheimer, meskipun dirinya baru paham bagaimana alurnya setelah film berakhir. Nolan berhasil memberikan pengalaman menonton yang baru untuk Penulis dengan gaya bercerita yang unik dan tidak membosankan.
Namun, rasanya tidak semua orang bisa menikmati film ini karena ceritanya yang penuh dialog dan alur yang meloncat-loncat. Walaupun begitu, rasanya film ini akan dengan mudah masuk ke dalam nominasi Oscar, bahkan memenangkannya.
Lawang, 23 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton Oppenheimer
Foto Featured Image: Games Radar
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter
Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa.
Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul “Inception/Intro”, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan “Castle of Glass”, “In the End”, hingga “Numb”.
Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film Coyote vs. ACME yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.

Detail Film Linkin Park: Unshatter
- Judul: Linkin Park: Unshatter
- Sutradara: Joe Hahn
- Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain
- Durasi: 110 Menit
Apa Cerita Linkin Park: Unshatter

Linkin Park: Unshatter bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, Chester Bennington, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.
Masing-masing personel berusaha menghadapi grief yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. Mike Shinoda misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa single dan album.
Pada satu titik, Joe Hahn yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. Dave Farrel selaku bassist pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.
Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua member memiliki ide serupa. Gitaris Brad Delson awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur band. Rob Bourdon sebagai drummer bahkan tidak mau terlibat sama sekali.
Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan drummer. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.
Pada akhirnya, Linkin Park pun kembali pada tahun 2024 dengan vokalis baru, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil against all odds dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.
Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Jujur saja, ini adalah kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu “The Catalyst”.
Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi “The Catalyst” bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian lift me up, let me go, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.
Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.
Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar band favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.
Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.
Kita bisa melihat bagaimana dunia para anggota Linkin Park terasa shatter alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi.
Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa related dengan apa yang pernah mereka hadapi.
Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur band sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha “memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat”, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.
Walau begitu, mungkin karena passion mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali alias unshatter. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.
Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan.
Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari sub-part-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park. Contohnya adalah “The Hardest Part of Ending is Starting Again”, yang diambil dari lagu “Waiting for the End”.
Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.
SKOR: 11/10
Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film Linkin Park: Unshatter
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday.
Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari premiere-nya.
Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa deleted scenes yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.
Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film Avengers: Doomsday. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.
Detail Film Avengers: Endgame Encore
- Judul: Avengers: Endgame Encore
- Sutradara: Anthony dan Joe Russo
- Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin
- Durasi: 185 Menit
Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?

Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi ending bagi Endgame, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).
Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.
Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya.
Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi post-credit untuk film Spider-Man: Brand New Day. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.
Ia terlihat sedang membuat video footage mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam glitch yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).
Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk collect Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam rune yang menjadi ciri khas Doom di lantai.
Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke “kantor” Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan “Best Employee of All Time”.
Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.
Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti I love you 3.000 di film Endgame). OB pun mengatakan multiverse is collapsing.
Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat suit Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!
Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini.
Adegan Steve Rogers dan Loki

Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer Doomsday, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.
Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.
Namun, Rogers yang kita lihat di trailer brewokan, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film Endgame Encore dan trailer.
Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.
Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film Endgame juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?
Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di Doomsday mengenai hal ini.
Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom

Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.
Nah, hal ini lantas berubah di serial She-Hulk: Attorney at Law dan film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?
Di film Brand New Day, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.
Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya?
Adegan TVA dan Topeng Doom

Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film Doomsday. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.
Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.
Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan multiverse. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.
Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.
Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan multiverse dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh multiverse.
Kesimpulan
Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film Avengers: Doomsday. Pasalnya, build up film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film Fantastic Four: The First Step dan film ini.
Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi villain utama film Avengers: Infinity Wars (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film Guardians of the Galaxy Vol. 1.
Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film Endgame Encore ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.
Semoga saja Penulis salah dan Avengers: Doomsday tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.
Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton Avengers: Endgame Encore
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.
Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi villain utama di film ini.
Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?

Detail Film Spider-Man: Brand New Day
- Judul: Spider-Man: Brand New Day
- Sutradara: Destin Daniel Cretton
- Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo
- Durasi: 145 Menit
Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?

Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film Spider-Man: No Way Home (2021), ketika Peter Parker (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.
Walau begitu, ia tak benar-benar move-on dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.
Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).
Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah Jean Gray (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.
Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.
Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat Bruce Banner (Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh Frank Castle alias The Punisher (John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.
Namun, di sinilah plot twist terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan abusing kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.
Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May berhasil menenangkan Jean.
Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru sniper dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.
Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan.
Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan action seperti di film No Way Home. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.
Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya

Salah satu adegan paling emosional sekaligus “keterlaluan” di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!
Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.
Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar move on dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, “I don’t love you” secara terang-terangan
Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).
Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi

Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?
Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film No Way Home, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.
Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam shortcut untuk tidak meninggalkan plot holes di dalam film.
Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem

Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.
Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter telepath yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?
Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-No Way Home, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.
Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat badass terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om tsundere yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!
Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak

Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah villain yang sesungguhnya.
Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan overuse, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film Spider-Man: Far from Home (2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.
Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan “tekad” juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar struggling dengan kemampuan barunya tersebut.
Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?
Cameo Yelena yang Terasa Nanggung

Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi cameo yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa “asal tempel” karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.
Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan post-credit Thunderbolts* yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film Thunderbolts*?
Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang “small potato” versus “big potato“. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi street-villain level, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.
Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?
Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?
Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film Avengers: Doomsday. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.
Adegan post-credit di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari mulitverse lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film Doomsday.
Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film Avengers: Doomsday, karena build up-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.
Kesimpulan
Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada action-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.
Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental.
Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang related dengan kita!
SKOR: 7/10
Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: Brand New Day
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login