Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things
Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan Desi Anwar, yakni Hidup Sederhana, Going Offline, dan Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna.
Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul The Book of Everyday Things.
Saat membaca sekilas isinya, Penulis merasa sedikit terkejut karena buku ini membahas literally hal-hal remeh yang sering kita abaikan begitu saja karena telah menjadi bagian dari hidup kita sejak lama. Ternyata, ada banyak sudut menarik dari benda-benda tersebut.
Detail Buku The Book of Everyday Things
- Judul: The Book of Everyday Things
- Penulis: Desi Anwar
- Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Pertama
- Tanggal Terbit: Februari 2024
- Tebal: 300 halaman
- ISBN: 9786020675923
- Harga: Rp149.000
Sinopsis Buku The Book of Everyday Things
Buku, bantal, sepatu, bolpoin, jam tangan, mainan, uang, dan sikat gigiโฆ Ini adalah berbagai benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya begitu biasa sehingga kita menerimanya begitu saja, seolah-olah semua benda itu sudah menjadi bagian hidup kita. Pada kenyataannya, kemampuan untuk membuat benda mungkin adalah cara kita mendefinisikan spesies kita dan membuat kita berbeda dari makhluk hidup lainnya.
Coba tengok keadaan di sekitar kita perhatikan jumlah benda yang ada di sekeliling yang terus bertimbun sepanjang hidup kita. Seorang manusia mungkin mengawali hidupnya hanya dengan tarikan napas pertama, kemudian tidak membawa apa-apa ke dalam kuburnya selain yang dihiaskan orang lain pada jasadnya yang sudah tak bernyawa. Padahal, selama hidupnya, dia bergantung pada berbagai benda, bukan hanya untuk memungkinkannya berfungsi, melainkan juga agar memiliki identitas dan tujuan: Berbagai benda dan barang yang diciptakan dan diproduksi oleh sesama manusia yang dapat digunakan untuk mengendalikan serta memanipulasi lingkungannya dan menentukan takdirnya. Berbagai barang yang mengisi tidak hanya ruang yang ditempatinya, tetapi juga yang pada akhirnya mengacaukan dan menyesakkan seluruh Bumi, yang sekaligus menyisakan semakin sedikit ruang bagi makhluk hidup lainnya untuk berkembang.
The Book of Everyday Things adalah pengingat bahwa terlepas dari kemampuan spesies kita untuk menaklukkan alam dan menciptakan aneka benda menakjubkan untuk membuat hidup kita lebih nyaman, obsesi kita untuk memproduksi dan mengonsumsi beragam benda mungkin justru membuat kita makin tidak memahami tujuan sebenarnya keberadaan kita. Bahwa mungkin kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada berbagai benda buatan manusia, tetapi juga menghargai apa yang diberikan alam kepada kita.
Isi Buku The Book of Everyday Things
Sesuai dengan judulnya, buku ini dibagi menjadi beberapa bab dengan judul benda atau sesuatu yang menemani keseharian kita. Total, ada 30 bab yang awalnya bagi Penulis tak akan menarik untuk dibahas, yakni:
- Buku
- Bantal
- Roti
- Surat
- Pernak-pernik
- Teh
- Uang
- Kucing
- Keluarga
- Sepatu
- Jam Tangan
- Foto
- Televisi
- Sabun
- Mainan
- Alat Tulis
- Mimpi
- Sekolah
- Ingatan
- Seni
- Bendera
- Kematian
- Topeng
- Sikat Gigi
- Rumah
- Kekuatan Adikodrati
- Gula
- Cahaya
- Informasi
- Limbah
Setiap babnya memiliki ketebalan yang bervariasi, tapi tidak ada yang terlalu memonopoli karena cukup seimbang. Dengan ketebalan hingga 300 halaman, setiap bab kurang lebih memiliki 10 halaman.
Mungkin banyak yang kebingungan, apa menariknya membahas bantal? Penulis juga sempat berpikir seperti itu. Namun, setelah membaca, ternyata ada banyak sekali hal menarik yang bisa dibahas dari sebuah bantal.
Di setiap babnya, Desi Anwar menggunakan dua pendekatan, yakni bagaimana pengalaman pribadinya terhadap benda tersebut dan menyisipkan sejarah penggunaan benda tersebut dalam peradaban manusia.
Mengingat Penulis merupakan penggemar sejarah, tentu mengetahui bagaimana sebuah benda yang kerap diabaikan begitu saja memiliki sejarah yang panjang menjadi hal yang sangat menarik.
Kita kadang meremehkan benda-benda ini karena sudah terlalu biasa dengan keberadaannya tanpa pernah bertanya bagaimana benda ini bisa hadir di dunia dan memudahkan kehidupan kita. Ujungnya, hal ini akan membantu kita merasa bersyukur dengan keberadaannya.
Tiga puluh benda (atau hal) yang ada di dalam buku ini tidak terkait satu sama lain, sehingga Pembaca bisa membacanya lompat-lompat tergantung benda mana yang paling membuat penasaran.
Setelah Membaca The Book of Everyday Things
The Book of Everyday Things menjadi bukti bahwa ide itu bisa datang dari mana saja. Siapa yang bisa menyangka kalau bantal bisa menjadi sepuluh halaman tulisan? Jelas buku ini menjadi inspirasi Penulis dalam mengisi blognya, terutama ketika sedang buntu ide.
Untuk gaya kepenulisan, rasanya tak perlu meragukan kemampuan Desi Anwar. Dijamin, walau benda yang dibahas terkesan remeh, pembahasan yang disajikan tetap menarik dan tidak membuat bosan. Buktinya, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat.
Selain itu, buku ini juga dipenuhi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dengan nuansa oranye. Hal ini memang menambah daya tarik buku ini, tapi sekaligus membuat harganya menjadi lebih mahal, yakni Rp149.000.
Ada satu hal yang kurang sreg buat Penulis. Buku ini berjudul The Book of Everyday Things, di mana things diterjemahkan sebagai “benda.” Namun, beberapa bab di buku ini justru membahas hal yang tidak bisa dianggap sebagai benda.
Kucing dan keluarga jelas kurang cocok untuk dianggap sebagai benda, karena mereka makhluk hidup. Mimpi dan kematian lebih cocok dianggap sebagai peristiwa. Bahkan cahaya dan informasi pun bukan sesuatu yang tangible.
Mungkin Desi Anwar memiliki alasan dan penerjemahan sendiri mengapa memasukkan hal-hal tersebut ke dalam buku ini, sehingga Penulis juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, Penulis merasa masih ada benda-benda lain yang layak untuk dibahas olehnya.
Secara keseluruhan, Penulis merasa buku ini adalah bacaan santai yang membuat kita mendapatkan banyak insight menarik sekaligus mengajak kita merenungi keberadaan benda-benda yang ada di keseharian kita.
Penulis merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang mudah merasa penasaran dengan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan orang lain. Buku ini akan sangat cocok untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.
Skor: 8/10
Lawang, 27 November 2024, terinspirasi setelah membaca The Book of Everyday Things karya Desi Anwar
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why
Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.
Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.
Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?
Detail Buku Start with Why
- Judul:ย Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
- Penulis: Simon Sinek
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-23
- Tanggal Terbit: Oktober 2025
- Tebal: 366 halaman
- ISBN: 9786020628837
- Harga: Rp100.000
Apa Isi Buku Start with Why
Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:
- Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
- Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
- Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
- Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
- Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses
Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.
Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.
Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).
Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.
Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.
Setelah Membaca Buku Start with Why
Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!
Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!
Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?
Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.
Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.
Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.
Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.
Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.
Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.
Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.
Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.
Skor: 5/10
Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.
Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory
Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah “The Let Them Theory” untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.
Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.
Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.
Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.
Detail Buku The Let Them Theory
- Judul:ย The Let Them Theory
- Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-3
- Tanggal Terbit: Januari 2026
- Tebal: 328 halaman
- ISBN: 625221049
- Harga: Rp119.000
Apa Isi Buku The Let Them Theory
Inti dari buku The Let Them Theory sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh “kekuasaan” kepada diri sendiri.
Selama ini, jangan-jangan kita menaruh “kekuasaan” tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.
Meskipun judulnya “Let Them” atau “Biarkan Mereka”, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni “Let Me” atau “Biarkan Aku”.
Jadi, selain “Biarkan Mereka” yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang “Biarkan Aku” yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Teori Biarkan Saja, Kau dan Teori Biarkan Saja, dan Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.
Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.
Ada empat bab utama di bagian ini, yakni Mengelola Stres, Takut akan Pendapat Orang Lain, Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain, dan Mengatasi Perbandingan Kronis.
Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.
Bagian ini juga ada empat bab, yakni Memahami Pertemanan Orang Dewasa, Memotivasi Orang Lain untuk Berubah, Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan, dan Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan.
Setelah Membaca The Let Them Theory
The Let Them Theory adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap overthinking seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya “varian” dari konsep Dikotomi Kendali dari stoikisme.
Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan buku yang tepat di waktu yang tepat. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa related dengan dirinya.
Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, “Iya, ya?” ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.
Perkara Menolong Orang Lain
Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah “Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan”. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung extra effort untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.
Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.
Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering overthinking bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).
Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, biarkan saja mereka melewati masalahnya. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.
Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.
Fokus ke Diri Sendiri
Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain
Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.
Perubahan logo whatheFAN pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.
Perkara Perbandingan Kronis
Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian “Mengatasi Perbandingan Kronis”. Penulis yang pada dasarnya punya low esteem kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.
Penulis sering merasa kalau “kemenangan” orang lain berarti “kekalahan” kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena “kemenangan” orang lain ya “kemenangan” mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita “kalah”.
Kekurangan Buku Ini
Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku self-help yang merasa punya satu teori hebat, buku ini juga cenderung repetitif. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya “ini lagi ini lagi”.
Selain itu, isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.
Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.
Walau mengandung kata “teori” di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah memperumit “teori” sederhana yang ingin dijelaskan.
***
Bagi Penulis, The Let Them Theory adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan “pencerahan” ketika membaca isinya.
Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas mood kita sendiri, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.
Skor: 8/10
Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca The Let Them Theory karya Mel Robbins
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!
Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.
Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!
Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.
Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.

Detail Buku Makanya, Mikir!
- Judul: Makanya, Mikir!
- Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta
- Penerbit:
- Cetakan: Ke-7
- Tanggal Terbit: September 2025
- Tebal: 290 halaman
- ISBN: 9786238944026
- Harga: Rp138.000
Apa Isi Buku Makanya, Mikir!
Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (mental models) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.
Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi insight mengenai bagaimana berpikir yang benar.
Ada total delapan bab di buku ini, yakni:
- Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup
- Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi
- Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar
- Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle
- Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan
- Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?
- Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin
Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.
Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.
Setelah Membaca Makanya, Mikir!
Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku self-improvement dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.
Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit.
Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang terasa hanya permukaan saja. Sebenarnya wajar, karena buku ini full color dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.
Memang, dalam podcast bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang full dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).
Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang “hanya” segini.
Penulis adalah tipe reviewer buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan “investasi” yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah “investasi” yang kurang worth it.
Tentu ada banyak insight-insight menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.
Gaya penulisannya yang seperti mendengarkan teman yapping juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang.
Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang “daging”.
Skor: 6/10
Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara10 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga10 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri10 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri10 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Sosial Budaya10 bulan agoPolemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi




You must be logged in to post a comment Login