Connect with us

Film & Serial

Setelah Menonton Spider-Man: No Way Home

Published

on

Di tahun 2021 kemarin, film yang paling Penulis antisipasi tentu saja Spider-Man: No Way Home. Sempat ada ketakutan film ini akan ditunda karena adanya pembatasan-pandemi-entah apalagi-namanya, untungnya film ini tetap tayang di hari yang telah dijadwalkan.

Sama seperti ketika menonton Avengers: Endgame, Penulis memutuskan untuk menonton di hari pertama karena khawatir terkena spoiler. Bedanya, di Malang tidak ada bioskop yang tayang premier jam 5 pagi, sehingga Penulis memutuskan untuk nonton di malam hari sepulang kerja.

Penulis berusaha untuk menurunkan ekspektasinya ketika menonton karena takut kecewa. Untunglah, film ini benar-benar berhasil membawa nostalgia dengan cara yang smooth serta suguhan cerita yang tidak biasa!

SPOILER ALERT!!!

(NB: Artikel ini baru selesai ditulis setelah 24 hari setelah Penulis menonton filmnya karena beberapa alasan)

Jalan Cerita Spider-Man: No Way Home

Film ini terkoneksi langsung dengan akhir film Spider-Man: Far From Home, di mana Mysterio (Jake Gyllenhaal) membocorkan identitas Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man ke publik. Hal ini sontak membuat kehidupannya berubah total.

Masyarakat terbagi menjadi dua kubu, yang mendukung dan membenci Peter. Tuntutan hukum pun membayanginya, di mana ia dibantu oleh (suprise pertama) Matt Murdock a.k.a. Daredevil yang diperankan oleh Charlie Cox!

Tidak hanya membuatnya menderita, MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon) pun harus terkena apesnya karena dianggap orang yang dekat dengan Peter sehingga ditolak oleh MIT dan beberapa kampus lainnya.

Oleh karena itu, Peter pun terpikir untuk meminta bantuan kepada Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) untuk membuat orang melupakan fakta bahwa dirinya adalah Spider-Man. Sayangnya, intervensi Peter ketika Strange merapal mantra membuat kacau multiverse.

Kemunculan Villain dari Masa Lalu

Hello Peter (YouTube)

Kekacauan pertama muncul ketika Peter berusaha bicara dengan orang MIT untuk meminta pihak kampus mempertimbangkan ulang keputusan untuk menolak MJ dan Ned. Tiba-tiba, muncullah villain pertama dari universe lain, Doc Ock (Alfred Molina)!

Kewalahan menghadapi Doc Ock, Peter harus mendapatkan serangan susulan dari Norman Osborn/Green Goblin (Willem Dafoe). Untunglah, Strange memindahkan Peter bersama Doc Ock ke Sanctum dan menjelaskan apa yang tengah terjadi.

Intinya, mantra yang diucapkan Strange menjadi kacau akibat intervensi Peter. Akibatnya, mantra justru menarik orang dari universe lain yang mengetahui fakta kalau Peter Parker adalah sosok di balik Spider-Man.

Strange pun meminta Peter untuk mulai “berburu” villain lain yang masuk ke universe mereka. Peter juga mendapatkan kostum baru berwarna hitam yang akan memudahkannya memindah para villain tersebut.

Setelah berhasil “menangkap” Elektro (Jamie Foxx) dan Sandman (Thomas Haden Church), Peter mengetahui kalau Norman ternyata menghampiri bibinya, May Parker (Marisa Tomei), yang ingin meminta bantuan ke Peter.

Kenaifan Seorang Peter

Spider-Man vs Doctor Strange (Kincir)

Peter pun membawa Norman ke Sanctum, yang di mana Strange langsung memasukkannya ke dalam “kurungan” multiverse. Ia membawa sebuah kotak bernama Machina Dichotomous yang akan memulangkan semua villain tersebut.

Merasa kasihan karena tahu para villain tersebut akan kembali ke universe mereka hanya untuk mati, Peter pun dengan naifnya berusaha menghentikan Strange dan mencuri kotak tersebut.

Strange membawanya ke mirror dimension dan melakukan pertarungan melawan Peter. Lucunya, Peter justru menang dan berhasil menjebak Strange di dimensi buatannya sendiri. Peter pun menawarkan ke semua villain, dirinya ingin membantu mereka semua berubah menjadi lebih baik lagi sebelum kembali ke universe mereka masing-masing.

Kematian Bibi May

Bibi May (Insider)

Semua villain pun dibawa ke apartemen milik Happy (Jon Favreau) untuk membuat alat ataupun serum untuk memulihkan mereka semua. Peter dibantu oleh Norman yang memang something of a scientist himself.

Orang pertama yang berhasil diobati adalah Otto Octavius, yang akhirnya bisa mengendalikan tentakel-tentakelnya lagi. Mereka pun melanjutkan aktivitas tersebut, sebelum Peter menyadarai kalau Norman telah dikuasai kembali oleh Green Goblin.

Pertarungan pun terjadi di apartemen tersebut yang akhirnya memakan korban Bibi May. Sebelum mati, ia mengucapkan kalimat yang sangat terkenal dari franchise Spider-Man dengan sedikit tambahan:

With great power, there must also come great responsibility

Peter II dan Peter III

SUPRISE MADAFAKA!!! (Futurecon)

Berpindah ke MJ dan Ned yang memegang Machina Dichotomous. Mereka mengetahui berita tentang berulahnya para villain tersebut, dan berusaha untuk mencari Peter dengan menggunakan portal ala Strange yang alatnya ada di tangan Ned.

Anehnya, Ned berhasil melakukannya dan memunculkan Peter, tapi versi Andrew Garfield (Peter III)! Sontak isi bioskop pun begitu riuh melihat sosoknya. Apalagi, tak lama kemudian Peter versi Tobey Maguire (Peter II) juga muncul!

Mereka berempat pun memutuskan untuk menghampiri Peter versi Tom Holland (Peter I). Setelah berbicara ini itu, mereka pun memutuskan melanjutkan membuat alat/serum untuk menyembuhkan para villain dan memancing mereka untuk datang ke Patung Liberty.

Pertarungan Akhir

Final Battle (ScreenRant)

Singkat cerita, terjadilah pertarungan antara ketiga Spider-Man menghadapi semua villain tersebut. Banyak momen yang merujuk ke film-film Spider-Man sebelumnya, membuat perasaan nostalgia berkembang begitu besarnya.

Villain pertama yang berhasil disembuhkan adalah Sandman, yang dilanjutkan oleh Elektro di mana Doc Ock membantu para Spider-Man. “Reuni” antara dirinya dan Peter II cukup mengharukan bagi para penonton. Sosok terakhir yang berhasil disembuhkan adalah Lizard.

Di tengah pertarungan, Ned tanpa sengaja membuka portal yang menuju ke Strange, di mana ia terlihat heran karena Ned bisa membuka portal tersebut. Ia pun ingin segera mengembalikan mereka semua ke universe mereka, sebelum Green Goblin melempar bom yang membuat Machina Dichotomous meledak dan mengacaukan multiverse.

Peter I yang ingin membunuh Green Goblin dicegah oleh Peter III, dan pada akhirnya bisa menyembuhkan Norman. Meskipun semua sudah terobati, Strange tampak kesulitan menutup portal multiverse yang sudah kadung terbuka.

Peter I pun meminta ke Strange untuk merapalkan mantra agar semua orang melupakan fakta dirinya adalah Spider-Man, yang artinya MJ dan Ned sekalipun akan melupakannya. Dengan berat hati, Strange pun mengabulkan permintaan tersebut dan Peter berpamitan dengan semuanya.

Akhir Film yang Dark

Kostum Baru Spider-Man (ComicBook)

Setelah krisis dilalui, Peter mencoba untuk menghampiri MJ dan Ned agar mereka mengingat dirinya. Namun, dirinya berubah pikiran dan membiarkan kedua orang yang berharga baginya tersebut menjalani hidup mereka dengan bahagia dan aman dari bahaya.

Peter pun memulai hidupnya yang baru tanpa Bibi May dan teman-temannya, menanggalkan kostum Spider-Man pemberian Tony Stark, serta berperan sebagai Friendly Neighborhood Spider-Man.

Ada dua post-credit di film ini, di mana yang pertama hanya menampilkan Eddie Brock/Venom (Tom Hardy) yang kembali ke universe-nya, tapi meninggalkan secuil symbiote di universe Peter.

Post-credit keduanya, yang sejujurnya lebih mengejutkan dibandingkan filmnya, menampilkan teaser untuk film Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Penulis sudah membuat ulasannya duluan.

Setelah Menonton Spider-Man: No Way Home

Efek yang Penulis terima setelah menonton film ini sama seperti ketika Penulis selesai menonton Avengers: Endgame. Entah berapa lama Penulis terdiam karena terkena damage yang tidak main-main. Bahkan, rasanya film ini lebih terasa damage-nya.

Callback dan Easter Egg

Film Ini Menguji Pengetahuan Fan Marvel (MARCA)

Tidak hanya dari kemunculan beberapa karakter lama yang muncul kembali, nostalgia juga dihadirkan melalui callback yang jumlahnya tidak main-main. Ada beberapa yang Penulis langsung ngeh ketika menontonnya:

  • The power of the sun in the palm of my hand” kembali diucapkan Doc Ock setelah sebelumnya juga pernah ia katakan di film Spider-Man 2
  • Adegan Spider-Man mengenakan jubah Doctor Strange mengingatkan kita pada episode 5 What If…? yang bertemakan zombi
  • I’m something of a scientist myself” dari Norman Osborn yang juga muncul di film Spider-Man pertama
  • Sakit punggung alias “my back” yang pernah diucapkan Tobey di film Spider-Man 2
  • Peter II yang memanggil Peter III dengan sebutan amazing, merujuk kepada judul film yang dibintanginya
  • Beberapa musuh lama Peter II dan Peter III disebutkan ketika semua Peter membahas siapa saja lawan yang pernah mereka hadapi
  • Adengan redemption ketika Peter III menyelamatkan MJ
  • Strange yang terayun-ayun di Grand Canyon selama 12 jam, callback dari I’ve been falling for 30 minutes-nya Loki di film Thor: Ragnarok
  • MJ masih mengenakan kalung dahlia pemberian Peter meskipun dirinya tidak ingat siapa Peter
  • Lego milik Ned yang dipajang oleh Peter I di kamar barunya pernah muncul di Spider-Man: Homecoming.

Selain itu, easter egg yang dimiliki oleh film ini juga banyak sekali. Beberapa di antaranya adalah:

  • Poster Rogers: The Musical yang juga muncul di serial Hawkeye
  • Konfirmasi kalau Nick Fury yang ternyata sudah lama berada di luar Bumi
  • Cerita Peter II yang mengatakan teman baiknya hampir membunuhnya (Harry Osbord yang diperankan James Franco) membuat Ned mendeklarasikan dirinya tidak akan melakukan hal yang sama ke Peter I
  • Meme Spider-Man menunjuk Spider-Man lainnya yang sangat populer, digambarkan ketika Ned memanggil nama Peter
  • Elektro menyebut Black Spider-Man yang merujuk ke Spider-Man versi Miles Morales

Penutup Trilogi yang Bittersweet

Akhir Trilogi yang Cukup Pahit (Den of Geek)

Spider-Man: No Way Home adalah penutup yang manis (atau pahit?) untuk trilogi pertama Spider-Man versei Tom Holland. Bisa dibilang, ini adalah transisi seorang Peter yang bocah menjadi sosok yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.

Kenaifannya telah membuatnya kehilangan banyak, mulai Bibi May hingga teman dan kekasihnya. Tidak ada satupun orang yang mengingat bahwa Peter Parker pernah hadir di dunia. Jika ini terjadi di dunia nyata, mungkin sudah ada dorongan untuk bunuh diri.

Kemunculan dua Peter Parker versi lama dan beberapa villain juga bisa ditampilkan dengan baik dan cukup mulus, tanpa terasa terlalu memaksa. Porsi yang dimiliki juga cukup berimbang, mereka bukan sekadar cameo yang hanya asal tempel.

Akting yang ditampilkan oleh para aktor pun cukup mencuri panggung. Willem Dafoe, Alfred Molina, dan Andrew Garfield menjadi beberapa favorit Penulis. Sayangnya, akting Tobey Maguire terasa sedikit kaku, mungkin karena sudah lama tidak bermain film.

Mungkin ada beberapa plot hole, seperti kenapa Peter tidak meminta Doctor Strange membuat orang melupakan apa yang dikatakan oleh Mysterio saja. Sihir yang dirapalkan oleh Doctor Strange untuk mendatangkan semua karakter pun sebenarnya bisa diperdebatkan.

Tindakan Peter yang mengubah banyak kejadian dengan menyelamatkan para villain sepertinya akan merusak tatanan multiverse, tema utama dari phase 4 ini. Bahkan, Doctor Strange tampaknya akan menanggung konsekuensinya di film solonya nanti.

Jelas film ini masuk ke dalam daftar 5 film Marvel terbaik versi Penulis, jika bukan yang terbaik. Cerita, komedi, akhir yang cenderung dark, nostagia-nostalgia yang diberikan dan tidak terlalu memaksa, menjadi nilai plus dari film ini.


Lawang, 26 Desember 2021, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: No Way Home

Foto: VOI.id

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

By

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hรผller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hรผller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Continue Reading

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Film & Serial

Langkah Frustasi Marvel dalam Menyelamatkan Semestanya

Published

on

By

Pada ajang San Diego Comic Con (SDCC) 2024 yang berlangsung pada akhir bulan Juli kemarin, Marvel berhasil membuat geger para penggemarnya di seluruh dunia gara-gara pengumuman yang mengejutkan.

Bagaimana tidak, Robert Downey Jr. atau RDJ, yang terkenal karena telah memerankan karakter Tony Stark alias Iron Man selama 11 tahun (dari film Iron Man hingga Avengers: Endgame), ia melakukan comeback dengan menjadi karakter fenomenal lainnya, Doctor Doom!

Pengumuman tersebut tentu membuat banyak penggemar Marvel merasa senang karena bisa melihat aktor favorit mereka kembali ke Marvel Cinematic Universe (MCU). Namun, tak sedikit yang justru menyesalkan keputusan tersebut, termasuk Penulis.

Semua Berawal dari Jonathan Majors

Para Kang yang Menjadi Sia-sia (YouTube)

Setelah Infinity Saga yang diakhiri dengan epic melalui film Avengers: Endgame, MCU membuka lembaran baru dengan Multiverse Saga. Tema ini digembar-gemborkan akan membuka “kemungkinan tak terbatas” di semesta Marvel

Awalnya, Kang the Conqueror dipilih menjadi next big bad villain selanjutnya menggantikan Thanos. Sayangnya, sang aktor Jonathan Majors terjerat kasus yang membuatnya dipecat. Ada opsi untuk melakukan recast, tapi Marvel memilih untuk mengganti villain utamanya.

Setelah berbagai spekulasi dan rumor, akhirnya melalui ajang SDCC 2024 Marvel resmi mengumumkan kalau Doctor Doom akan menjadi penggantinya. Hal ini terlihat dari perubahan judul film Avengers: Kang Dynasty menjadi Avengers: Doomsday.

Film ini akan disutradarai kembali oleh sutradara Russo Brothers, yang sebelumnya telah menyutradarai empat film Marvel, termasuk dua film Avengers. Sebagai tambahan, mereka juga akan menjadi sutradara film Avengers: Secret Wars.

Kembali ke Doctor Doom. Sebenarnya, Doctor Doom yang terkenal sebagai nemesis dari Fantastic 4 telah lama santer disebut akan menggantikan Kang. Apalagi, di komik ia juga memiliki sejarah panjang dan kerap bersentuhan dengan multiverse.

Nah, yang membuat terkejut adalah pemilihan RDJ yang menimbulkan polemik di antara penggemar. Sebelumnya, nama yang dianggap cocok untuk memerankan Victor von Doom adalah Cillian Murphy. RDJ, setidaknya bagi Penulis, tak pernah terpikirkan.

Marvel Sudah Frustasi?

Para Tokoh Lama yang Dibawa Kembali (IndieWire)

“You could not live with your own failure. Where did that bring you? Back to me.”

Quote terkenal dari Thanos tersebut tampaknya cocok untuk diucapkan oleh Russo Brothers dan RDJ ke direksi Marvel. Seperti yang kita tahu, MCU pasca-Endgame tampak berantakan dan kerap mendapatkan kritikan tajam.

Dari banyaknya film dan serial yang dirilis dalam rentang waktu 2020-2024, hanya sedikit yang bisa dibilang oke, sedangkan sisanya seolah mengundah hujatan. Banyak menganggap Marvel benar-benar mengalami penurunan kualitas dan berharap MCU cukup berakhir di Endgame.

Marvel pun bukannya tutup telinga atas kritikan-kritikan tersebut. Buktinya, mereka merombak roadmap yang telah disusun untuk meningkatkan kualitas film dan serial mereka. Tahun ini mereka hanya merilis satu film, Deadpool & Wolverine, walau film tersebut juga tidak bisa dibilang bagus.

Nah, untuk bisa membuat MCU tetap menarik minat penonton, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan formula lama. RDJ jelas menjadi salah satu aktor terfavorit penggemar, sedangkan Russo Brothers terbukti selama ini selalu menghasilkan film yang berkualitas.

Masalahnya, RDJ sudah terlalu melekat sebagai Iron Man. Apalagi, ia sudah mati dengan heroik di Endgame. Mengembalikannya ke MCU sebagai villain, bagi sebagian penggemar, menjadi hal yang sulit untuk diterima.

Untuk Russo Brothers sendiri, Penulis memiliki kekhawatiran kalau menggunakan mereka kembali justru akan membuat penonton berekspetasi terlalu tinggi ke film Avengers ke-5 dan ke-6. Padahal, sudah banyak kasus di Marvel sutradara yang sama tidak selalu bisa menghasilkan film yang sama bagusnya.

Siapa Doctor Doom Versi MCU?

Mari Kita Lihat Saja Bagaimana RDJ Memerankan Doctor Doom (The Hollywood Reporter)

Secara teori, ada kemungkinan kalau Doctor Doom versi MCU merupakan varian jahat dari Tony Stark. Karena berpotensi menjadi jahat itulah Doctor Strange “mengarahkan” Stark ke kematiannya, mengingat ia telah melihat banyak masa depan alternatif.

Hingga saat ini, sama sekali belum ada petunjuk mengenai Doctor Doom di semua film dan serial MCU di Phase 4 dan 5. Hal ini wajar mengingat pergantian villain utama juga baru dilakukan akhir-akhir ini. Kalau Kang, ia sudah di-tease sejak serial Loki.

Ini juga akan menjadi kelemahan Multiverse Saga. Seperti yang kita tahu, Thanos sudah di-tease sejak film The Avengers tahun 2012 atau enam tahun sebelum penampilannya di film Avengers: Infinity Wars. Doctor Doom hanya punya waktu dua tahun sebelum tampil sebagai musuh utama.

Kemungkinan besar, Doctor Doom baru diperkenalkan pada film Fantastic Four: First Step yang akan tayang pada tahun 2025 mendatang. Film ini akan berlatar di universe lain, bukan Earth-616 tempat di mana para superhero yang kita kenal selama ini tinggal.

Di film tersebut, harusnya yang menjadi musuh utama adalah Galactus. Doctor Doom mungkin akan muncul, tapi tidak menjadi musuh utama. Dari sana, Penulis memperkirakan kalau entah bagaimana pada akhirnya Doctor Doom akan memicu kejadian yang akan terjadi di film Avengers: Secret Wars.

Kita lihat saja nanti apakah langkah frustasi yang diambil oleh Marvel ini berhasil menyelamatkan semestanya atau justru memperburuk keadaan.


Lawang, 7 Agustus 2024, terinspirasi setelah diumumkannya Robert Downey Jr. sebagai Doctor Doom

Foto Featured Image: GQ

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018