Chapter 1 Panggung Komedi

Aku menatap diriku sendiri melalui cermin di kamarku. Lihatlah, betapa konyolnya penampilanku. Betapa aku harus menjatuhkan harga diriku hanya demi menjadi anak SMA, di mana kata orang-orang adalah masa yang paling menyenangkan. Aku tak terlalu peduli dengan hal itu, yang kupedulikan hanyalah bagaimana aku bisa lulus dari sana secepat mungkin dengan menjadi lulusan terbaik. Dengan kemampuan otakku, hal tersebut bukanlah hal yang susah bagiku.

Kepandaian ditambah ketekunanku dalam belajarlah yang membuatku berhasil memasuki kelas akselerasi di sekolah idamanku, SMA Negeri 1 Lawang. Mengapa aku tidak sekolah di kota saja? Tidak, aku memilih di sini dan mengalahkan anak-anak kota. Lagipula sekolah ini dekat dengan rumahku, faktor kedua aku memilih sekolah ini. Dan faktor yang ketiga, sebagai orang yang hidup tanpa orang tua, murahnya biaya bersekolah menjadi alasan yang penting.

Sejak kemarin malam aku sudah sibuk ini itu hanya untuk mempersiapkan MOS, Masa Orientasi Siswa. Baru kali ini aku diperintah untuk membawa begitu banyak barang-barang aneh, ditambah dengan penampilan dari atas hingga bawah yang seolah mencerminkan anak teladan. Dengan berat hati aku menuruti perintah tersebut, toh hanya beberapa hari aku harus menuruti perintah sekolah. Setelah menatap cermin sekali lagi, aku melangkah keluar rumah tanpa senyum, karena memang aku tak pernah tersenyum.

Sengaja aku berangkat lebih pagi karena aku ingin menjadi yang pertama masuk kelas. Alasannya sederhana, aku tidak pernah mau kalah dari siapapun, bahkan untuk hal sepele seperti ini. Sikap yang membuatku memiliki sifat yang keras dan membuatku dijauhi oleh orang lain. Tidak masalah, aku telah bertahan hidup sejauh ini tanpa bantuan orang tua, aku tak butuh bantuan orang asing. Aku yakin bisa melakukan semuanya sendirian, toh aku tak percaya pada siapapun. Siapapun.

Aku merasa tidak sabar ingin mengetahui bagaimana pelajaran anak SMA karena aku selalu menjadi juara di waktu SMP. Rasanya ingin aku menjadi ilmuwan seperti Isaac Newton atau Albert Einstein. Namun karena senang dengan pelajaran Biologi, mungkin aku akan menjadi Louis Pasteur baru. Intinya, aku akan menjadi seperti mereka untuk membuktikan bahwa aku sama hebatnya dengan mereka.

Sekitar 10 menit kemudian aku sudah sampai di gerbang selatan sekolah ini. Ada dua anggota OSIS yang bersiaga di depan gerbang, laki-laki dan perempuan. Mereka memasang wajah garang, wajah yang dipasang untuk mengintimidasi murid-murid baru. Maaf saja, hal seperti itu tidak akan berhasil menakutiku.

“Cepat masuk dek!” sentak salah satu dari mereka. Tanpa kuhiraukan aku terus masuk ke dalam sekolah tanpa memberi salam

“Kamu enggak beri salam!” sentak yang satu lagi

“Ya, pagi.” kujawab mereka dengan ogah-ogahan. Kulihat mereka kebingungan karena aku sama sekali tidak takut pada mereka.

“Kamu anak baru disini, jadi jangan sok!” ujar perempuan dengan kacamata tebal dan rambut sebahu.

“Saya tidak sok.” jawabku dengan entengnya

“Kamu merasa menjadi jagoan disini?” sekarang laki-laki jangkung itu yang mengajakku bicara.

“Buat apa jadi jagoan di tempat seperti ini?” jawabku sekali lagi dengan entengnya.

Tampaknya laki-laki ini hendak menyerangku lagi dengan kata-katanya, namun dihentikan oleh si peremuan dengan menarik tangannya.

“Sekarang ukur kaus kakinya.” ujar si perempuan.

Dengan sedikit kasar laki-laki itu membuang tangan si perempuan. Lalu diambilnya penggaris yang ada di dekatnya.

“Kurang satu centimeter.” ujarnya dengan nada penuh dengan dendam.

“Tidak mungkin.” jawabku dingin sembari berjalan meninggalkan mereka. Tampaknya mereka memilih untuk diam untuk menahan emosi mereka.

Aku tidak heran pada diriku, bagaimana aku bisa seberani kepada kakak-kakak senior di hari pertamaku ini. Aku memang tidak pernah takut pada siapapun. Aku terlahir sebagai orang yang pemberani, orang yang tidak gentar pada apapun. Gertakan mereka bagiku seperti tangisan bayi yang baru saja lahir. Mungkin di kelas nanti mereka akan balas dendam, tapi aku tidak takut.

Kelasku tidak begitu jauh dari gerbang sekolah, hanya sekitar lima puluh meter. Setelah melewati gerbang, belok kanan melewati tangga -atau lebih tepatnya bekas tangga karena bentuknya sudah tidak karuan- lalu belok kiri. Tertulis di atas pintu kelas “X Akselerasi”. Inilah kelasku, inilah tempatku dimana aku akan memulai kehidupan di sekolah ini.

Sebelum memasuki kelas, aku melihat sekelilingku dulu. Ada aula yang bentuknya sangat jelek, karena masih belum jadi, dua lapangan voli di bawah sana , ada masjid di sebelah aula, taman yang tak terawat, sebelah kelasku ada ruang MPK. Jelas, fasilitas sekolah ini masih sangat kurang dari cukup. Apakah aku menyesal masuk sekolah ini? Tidak, aku bukan tipe orang yang akan menarik kata-katanya sendiri. Seorang lelaki harus berpegang teguh pada pendiriannya.

Lamunanku terpecah oleh suara tawa yang begitu menggelegar dari dalam kelas. Rupanya sudah banyak anak lain yang sudah datang. Aku dikalahkan mereka, kalah datang duluan dibandingkan mereka. Calon teman-teman kelasku, apakah mereka semua bodoh? Mereka anak-anak yang ber-IQ tinggi, namun melakukan hal yang tidak penting seperti tertawa? Penasaran, aku memutuskan untuk masuk ke dalam, bagaimanapun kondisinya aku sudah siap.

Baru sampai di ambang pintu, seorang laki-laki bertampang bodoh sudah menyambutku dengan senyum bodohnya. Memuakkan.

Muhammad Kenji Yasuda, begitu yang kubaca di tanda peserta mosnya, adalah seorang laki-laki yang berpawakan tidak begitu tinggi, dan gemuk. Matanya menyipit karena mungkin dia adalah keturunan Cina, atau Jepang, aku tidak peduli. Gigi yang terlihat mengkilap dan rapi teratur, rambutnya sangat klimis. Pakaiannya sangat rapi, dan sepertinya melaksanakan semua perintah yang dilaksanakan kakak-kakak panitia MOS. Dan yang pasti dia selalu tertawa lebar, hal yang paling kubenci dalam hidup.

Itulah deskripsi awal dari seorang Kenji, jika itu memang panggilannya, begitu aku memasuki kelas ini. Perasaan benci langsung menyelimuti diriku begitu melihat semua anak di kelas tertawa bersamanya. Bukan karena apa-apa, tapi karena perasaan iri. Cemburu akan kebahagiaan yang dirasakannya.

“Hei, ada teman baru lagi.” Kenji menunjukku, dan secara spontan teman-teman lain yang tadi tertawa bersamanya menoleh padaku. Kenji menghampiriku dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Perkenalkan, namaku Kenji dan kamu adalah murid ke 13 yang masuk kelas. Jangan menyalahkan dirimu sendiri kenapa kamu datang pada urutan nomor 13 karena memang kami saja yang kepagian datangnya, haha.” Kenji tertawa diikuti tawa teman-teman yang lain.

“Jadi siapa namamu?” Kenji menambahkan.

Kupandang dia dengan sorot mata dingin penuh dengan kebencian.

“Bukan urusanmu.” aku berkata demikian lalu meninggalkannya dan menuju bangku kosong di pojok belakang.

“Oh, ya baiklah, haha, maaf.” terdengar olehku suara yang bergetar karena ketakutan.

“Hei kamu, kenapa kamu begitu kasar? Dia kan hanya ingin berkenalan denganmu.” seorang perempuan berkulit putih dan berambut lurus panjang memandang diriku dengan kemarahan yang dalam.

`           “Diamlah perempuan. Aku tidak butuh omelan darimu.” jawabku dengan nada dingin

“Sudah Sica, jangan dihiraukan.” kata temannya yang memakai kerudung berusaha menenangkannya.

“Kamu punya masalah dengan kami?” seorang bertubuh atletis dan tinggi juga ikut berdiri

“Masalah? Huh, masalah adalah teman setiaku yang selalu mengikuti ke mana pun langkahku pergi.” jawabku enteng

“Hei cowok enggak punya aturan, kita ini sama-sama murid baru. Jangan sok gitu napa?” teriak perempuan berkulit putih itu lagi.

“Kalau kau sudah selesai bicara silahkan berbalik badan karena nampaknya kau cerewet sekali.”

“Saudaraku, siap berkelahi?” kata seorang perempuan tomboy berambut pendek kepada laki-laki yang duduk di depannya. Tampaknya mereka saudara kembar.

“Kapanpun kamu mau, Dea saudariku.” jawabnya sambil mengepalkan tangan

“Sudah-sudah.” Kenji berusaha mendamaikan kami semua. ”Mungkin teman baru kita ini sedang ada masalah, jadi mohon dimaklumi. Hehe.” kata Kenji diiringi tawa, namun wajahnya masih tampak terguncang atas insiden yang kubuat pagi hari ini.

Suasana menjadi lebih tenang, dan itulah yang aku inginkan. Kedatanganku  seolah-olah membuyarkan kesenangan yang dirasakan semua anak di kelas ini. Suasananya menjadi begitu hening, sepi, dan tidak ada tawa-tawa yang sangat menyebalkan. Semua menjadi sangat murung, atau lebih tepatnya menahan emosi. Kuambil kesempatan ini untuk melihat-lihat kelas dari mejaku. Kulihat semua satu per satu sampai aku terlamun tak karuan.

“Pasti bisa, jangan pesimis. Kalau kita yakin, kita pasti bisa.” kata-kata entah dari siapa memecah lamunanku.

“Bagaimana mungkin bisa jika kondisi kelas ini seperti ini…” aku terdiam sebentar, mencari sumber suara yang ternyata berasal dari si dungu itu, lalu berkata ”…bagaimana kau bisa tahu apa yang kupikirkan?” tanyaku dengan herannya sampai-sampai aku lupa bahwa aku kesal dengan dirinya.

“Aku pernah membaca buku, aku lupa siapa pengarangnya. Dia mengatakan bahwa kita bisa melihat apa yang dipikirkan oleh orang lain dengan melihat tingkah laku dan pandangan matanya.” jawabnya kalem sehingga yang lain hanya terdiam, terpesona mendengar penuturannya. Aku sendiri sempat takjub sesaat, namun segera kuhilangkan perasaan itu.

“Kau hanya mengada-ada.” jawabku dengan cueknya.

“Tidak kawanku, aku tidak mengada-ada. Bahkan mungkin kamu lupa bagaimana kamu memulai lamunanmu.” jawabnya dengan tenang.

“Itu bu . .” kata-kataku berusaha menyanggahnya, namun terpotong dengan penuturannya.

“Pertama kamu melihat lurus ke depan, mungkin kamu memperhatikan papan tulis itu, layar proyektornya dan meja guru. Kamu sedikit lama memperhatikan vas bunga itu karena tampak sudah lama. Lalu matamu keliling melihati kelas ini, memperhatikan tembok-tembok yang baru di cat, lalu kepalamu menengadah ke atas melihat langit-langit. Selanjutnya kamu melihat ke bawah, memperhatikan keramik-keramik yang sama sekali tidak menarik. Setelah puas melihat-lihat kelas, kamu memperhatikan semua teman-teman yang ada di kelas ini. Satu-persatu kamu perhatikan, lalu kamu menunduk ke bawah sambil mengepalkan tangan dan kedua alismu mengerut yang menandakan bahwa dirimu tidak puas dengan apa yang ada di dalam kelas ini. Apakah ada kesalahan?” tanyanya menutup pembicaraannya yang panjang.

Aku hanya terdiam mendengarkan hipotesisnya. Benar-benar tepat, tidak ada yang salah sedikitpun. Yang lainnya begitu terkesima mendengar penuturannya yang mendeskripsikan apa yang kupikirkan. Sepertinya mereka menantikan aku mengatakan ‘ya, semua perkataamu benar’, namun aku memilih diam dan berpura mengecek perlengkapan-perlengkapan yang kubawa di dalam tasku.

“Alismu tadi mengisyaratkan iya kawanku.” katanya, dan aku semakin terdiam dan berusaha menyembunyikan wajahku di balik tas sarungku. Yang lain segera berhamburan menghampiri Kenji untuk menanyai ini itu, bagaimana dia bisa mengetahui pemikiran orang lain hanya dengan melihatnya. Aku berusaha untuk tidak mendengarnya, karena pasti memuakkan. Suasana hening kelas telah berganti dengan suasana yang sama ketika aku belum datang. Kelas ini benar-benar seperti panggung komedi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.