Chapter 44 Kedatangan Paman Anton

Hari yang telah aku dan Gisel nantikan akhirnya datang juga. Paman Anton tadi menelepon, dan ia mengatakan sore ini akan datang dan menginap satu malam. Besok paginya, ia akan langsung kembali ke Solo untuk menyelesaikan transaksi bisnisnya. Entah ia akan mengajak Bondan atau tidak, aku berharap ia tidak ikut. Entah sudah berapa tahun kami tidak bertemu, setidaknya semenjak kematian Ibu, kami belum pernah bertatap muka.

Kenji yang penasaran dengan pamanku ikut menunggu kedatangannya. Hitung-hitung sambil mengajari Gisel. Ia mengatakan bahwa ia penasaran dengan keluargaku. Entah apa yang ia ingin tahu dari pamanku, mungkin sekedar mengetahui apakah beliau secerdas aku dan Gisel. Atau, kemungkinan lain, ia ingin mendapatkan gambaran bagaimana rupa ayahku dari wajah paman Anton.

Ayah dan paman memang sering dianggap sebagai saudara kembar. Wajah, tinggi badan, hingga suaranya mirip. Hanya kelakuannya saja yang berbeda entah berapa derajat. Yang satu suka menyiksa anak, yang satu terlalu sayang ke anak. Yang satu seleweng ke mana-mana, yang satu setia sampai mati. Mereka benar-benar memiliki sifat yang saling bertolakbelakang.

Sewaktu kecil kadang aku berkhayal, bagaimana seandainya paman Anton yang menikahi ibu. Usia mereka hampir sama, ibuku hanya lebih tua beberapa bulan, sedangkan selisihnya dengan ayah tiga tahun. Seandainya itu terjadi, mungkin masa kecilku akan bahagia seperti anak-anak lain pada umumnya. Aku dan Gisel akan disayang sedemikian rupa, dan aku akan bebas berteman dengan siapa saja.

“Le, pamanmu datangnya masih sore, sekarang masih pagi, kenapa kamu terus menunggu di depan ruang tamu?” tanya Kenji, seperti biasa, memecah lamunanku.

“Mungkin saja paman datang lebih cepat.”

“Hahaha, santai saja Le, kamu berdiri di jendela pun pamanmu tidak akan tiba lebih cepat kok.”

“Biarlah, kau sendiri kenapa datang sepagi ini?” tanyaku sengit.

“Aku sudah janji sama Gisel untuk kelas ekstra. Iya enggak Gisel? Hahaha.”

“Kelas ekstra?” tanyaku lagi.

“Iya kak, kak Kenji pengen ngajari Gisel gimana cara bergaul sama temen-temen sekelas. Gisel kan udah berapa tahun enggak punya teman, jadi butuh diajari.” adikku yang menjawab pertanyaanku.

“Oh.” jawabku pendek.

Daripada terus menatap keluar melalui jendela, aku memutuskan untuk mengamati kelas ekstra yang diberikan Kenji kepada Gisel. Mungkin saja aku juga mendapatkan pelajaran yang berharga dari pembicaraan mereka.

***

“Aku boleh tanya sesuatu tentang orangtuamu Le?” tanya Kenji sewaktu kelas ekstranya dengan Gisel telah berakhir.

“Apa?”

“Di awal pertemuan kita dulu, sepertinya kamu, maaf, membenci kedua orangtuamu.”

“Lalu?”

“Akhir-akhir ini, aku lihat kamu sama sekali tidak membenci ibumu. Kamu membaca buku-buku rekomendasinya, kamu menyimpan kotak yang menurutmu miliknya, dan dari Gisel aku tahu kadang kamu memeluk baju milik ibumu.”

“Jadi maksudmu, kenapa aku tiba-tiba tidak lagi membenci ibuku yang memilih untuk gantung diri dan menelantarkan anaknya?”

Kenji menganggukkan kepala dengan tenang, seolah tahu aku tidak akan marah mendengarkan pertanyaannya.

“Entahlah, hanya saja tidak adil membenci ibuku setelah semua yang telah ia lakukan selain menggantung dirinya sendiri. Ia adalah bentengku dari kekejaman ayah. Aku…”

Aku menengadahkan kepalaku ke langit-langit, menghalau tangis yang sudah ingin memberontak keluar dari mataku. Cerita tentang orangtua selalu berat bagiku, selalu menguras segala macam emosi yang aku miliki. Apalagi, makin ke sini aku makin sering merasa rindu kepada Ibu.

“Baguslah kalau kamu sudah mulai bisa berdamai dengan masa lalumu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah mendoakannya.”

“Iya Kenji, terima kasih.” tangisku berhasil aku tahan untuk tidak menyerah kepada gravitasi.

“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan sembari menunggu pamanmu datang?”

Aku berpikir sejenak, hingga tiba-tiba datanglah ide cemerlang yang muncul begitu saja.

***

“Wah paman pasti terkejut sewaktu melihat semua ini kak.” kata Gisel setelah kami selesai mendekorasi ruang tamu.

Aku yang sama sekali bukan tipe lelaki romantis mendapatkan ide untuk membuat semacam kejutan untuk paman, walaupun hanya sekedar ucapan selamat datang. Dengan berbagai peralatan yang tersedia di rumah, kami berhasil membuat ucapan SELAMAT DATANG PAMAN yang kami gantungkan di tembok yang menghadap ke pintu. Untunglah Kenji lumayan terampil dalam hal-hal seperti ini.

“Aku tak menyangka seorang Leon akan kepikiran untuk membuat sesuatu seperti ini.” kata Kenji sambil memandangi karya kami.

“Bahkan aku sendiri pun tak percaya.” jawabku.

“Oh iya Le, aku pulang sebentar ya, aku baru ingat ada beberapa hal yang harus kukerjakan.”

“Apa itu?”

“Berhubungan dengan pekerjaan kok Le. Kamu belum tahu ya kalau pak Sholeh, bosku itu, sangat suka membuat kliping artikel baik dari koran maupun majalah. Aku membantunya membuat kliping, hitung-hitung buat tambahan pemasukan. Nanti sebelum pamanmu datang aku usahakan udah kembali kok.”

“Baiklah Kenji, terima kasih sudah membantu.”

Aku pun melepas kepergian Kenji. Begitu tangguh anak itu. Di tengah kesibukan sekolah dan kerja, ia masih sempatkan waktu untuk mengajari Gisel dan membantuku dalam mengerjakan berbagai hal. Padahal, seharusnya kami yang membantu Kenji karena bagaimanapun kondisi kami masih lebih baik darinya. Muncul sedikit rasa bersalah dalam diriku.

“Kakak.”

Gisel memanggilku yang tengah melamun di depan pintu. Ia nampak gelisah karena memainkan tangannya, mungkin Gisel ingin bercerita sesuatu kepadaku.

“Iya Gisel, ada apa?”

“Gisel boleh cerita sesuatu kak? Tapi kakak enggak boleh marah ya.”

Sebagai jawaban, aku menggandeng Gisel dan mengajaknya duduk di kursi. Buat apa aku marah atas cerita yang ingin disampaikan oleh adikku?

“Gisel cerita aja, kakak dengarkan.”

“Jadi sebenarnya, Gisel, Gisel kangen sama ayah sama ibu.”

Ekspresi wajahku langsung berubah secara drastis. Kangen dengan Ibu bisa aku pahami, tapi kangen Ayah? Buat apa merindukan sosok brengsek yang tak bertanggungjawab itu? Dengan susah payah, aku meredam amarahku agar Gisel tidak merasa tertekan.

“Kenapa Gisel tiba-tiba kangen?” tanyaku dengan sehalus mungkin. Mungkin sedikit kurang halus karena Gisel tetap memasang wajah ketakutan.

“Kakak marah?”

“Enggak!!! Eee, . . maksud kakak, enggak Gisel adikku.”

“Beneran?” kata adikku semakin gemetaran.

“Iya Gisel. Sudah, sini cerita sama kakak.”

Dengan wajah ragu, Gisel mulai menegakkan duduknya dan memulai berbicara.

“Sebenarnya akhir-akhir ini Gisel sering mimpi ayah dan ibu. Gisel seneng banget bisa ketemu sama mereka. Gisel diajak main, digendong, dibeliin boneka, pokoknya mereka berdua melakukan semua yang bikin Gisel seneng.”

Gisel berhenti sebentar, tampaknya menguatkan diri agar tidak sampai menangis

“Terus waktu om Anton bilang mau datang ke sini, Gisel ngomong di dalam hati, gimana seandainya yang datang itu ayah, bukan om. Meskipun Gisel cuma punya sedikit ingatan tentang ayah, Gisel tetep merasa kangen sama ayah. Kakak jangan marah ya.”

Aku mendekap Gisel dengan erat sebagai jawaban. Bagaimana mungkin aku marah akan kerinduan adikku dengan orangtuanya. Ya, mau bagaimanapun, Gisel tetap anak kecil biasa yang membutuhkan kasih sayang orang tua. Apalagi, kasih sayang tersebut telah alfa selama kurang lebih empat tahun.

Tiba-tiba, terdengarlah suara kendaraan berhenti di depan rumah. Aku menengok dari jendela untuk memastikan apakah yang ke luar dari mobil benar-benar paman Anton. Butuh waktu agak lama sebelum penumpang dari mobil sedan berwarna hitam tersebut turun.

Benar saja, memang paman Anton yang turun dari mobil bersama seseorang, mungkin supir atau temannya. Segera saja aku membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya bersama Gisel. Belum sempat mengucapkan selamat datang, mulutku dibungkam oleh satu sosok yang turun dari pintu belakang.

Ayahku kembali, dengan raut muka yang penuh dengan rasa bersalah.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.