Chapter 53 Semua Ada Waktunya

Fajar belum menyingsing ketika aku terbangun dari ruang tamuku. Padahal, baru sekitar jam dua dini hari aku terlelap setelah menyuruh Kenji untuk tidur di kamarku. Seharusnya tubuhku mendapatkan waktu istirahat lebih karena kejadian kemarin, namun apa daya mekanisme tubuhku tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin karena pengaruh banyaknya pikiran juga.

Aku segera beranjak dari kursiku untuk mengambil segelas air putih, kebiasaanku mulai kecil. Begitu memasuki ruang tengah, aku nyaris mengeluarkan suara karena melihat sosok dalam remang-remang sedang duduk di kursi makan. Begitu aku menyalakan lampu, nampaklah seorang Rika yang sedang melamun. Ia sedikit terkejut melihat lampu yang tiba-tiba menyala.

“Kau tidak tidur?” tanyaku kepadanya.

“Aku insom semalaman Le, karena enggak betah di kasur akhirnya aku duduk di sini sambil merenung.”

“Oh begitu.”

Adanya empati dalam diriku membuat aku memutuskan untuk menarik kursi yang berada di seberang Rika dan duduk di atasnya. Jelas Rika sedang butuh seorang pendengar, dan aku sama sekali tidak keberatan mendengarkan cerita Rika. Toh, aku merupakan teman dekatnya.

“Kau mau cerita sesuatu?” tawarku kepada Rika.

Ia tak langsung menjawab, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia akan berbagi denganku. Aku menantinya dengan sabar. Dengan satu tarikan nafas panjang, mulailah ia mengeluarkan isi hatinya.

“Aku mau tahu siapa orangtuaku sebenarnya Le.”

Itu hal yang sangat wajar. Rika tidak pernah tahu siapa orangtua aslinya. Aku sangat memahami apa yang ia rasakan walaupun aku tidak mengalaminya. Mungkin aku perlu bertanya beberapa pertanyaan kepadanya, mungkin bisa membantunya lepas dari segala beban yang sedang menimpa dirinya.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Silahkan Le.”

“Sejak kapan kau tingal bersama om dan tantemu itu?”

“Entahlah, rasanya semenjak aku mulai memiliki ingatan. Tidak ada figur orangtua lain selain mereka. Bertahun-tahun aku menganggap mereka orangtuaku. Jika papa tak kelepasan bicara, mungkin aku akan tetap menganggap mereka orangtuaku.”

“Kau tetap memanggilnya papa?”

“Sudah kebiasaan Le, biarlah. Toh itu hanya panggilan yang tak bermakna.”

“Punya ide bagaimana caranya kau bisa tahu siapa orangtuamu?”

“Sampai saat ini belum Le. Mungkin aku akan bertanya kepada saudaraku yang lain, tapi di mana mereka tinggal pun aku tak tahu.”

“Lalu, apa rencanamu untuk mereka? Maksudku apakah kau akan memperkarakan kasus penganiayaan ini kepada polisi?”

Rika menopangkan kepalanya pada tangan kanannya, matanya memandang ke arah kamar Gisel. Aku tahu, keputusan untuk memenjarakan keluarga sendiri tentu berat untuknya. Bagaimana pun merekalah yang merawat Rika selama ini. Akan tetapi, hukum harus tetap ditegakkan.

“Sebenarnya aku tak ingin mereka di penjara Le, aku hanya ingin keluar dari rumah itu dan memulai hidup baru.” jawab Rika lirih.

Aku sedikit terkejut karena tak menyangka jawaban Rika. Bagaimana bisa ia tidak ingin menghukum orang yang sudah membuatnya menderita bertahun-tahun?

“Kau serius?” aku bertanya lagi, memastikan bahwa aku tak salah dengar.

“Tentu Le.”

“Tapi perlakuan mereka kepadamu selama ini sungguh keterlaluan, harus ada hukuman untuk mereka.”

“Aku sudah memaafkan mereka Le, toh dengan terbongkarnya perlakuan mereka kepadaku sudah menjadi hukuman tersendiri untuk mereka.”

“Bagaimana bisa kau memaafkan secepat itu?”

“Mengapa tidak bisa?” jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke mataku.

Aku terperangah mendengar pertanyaan baliknya. Mengapa tidak bisa memaafkan dengan cepat? Karena mereka sudah membuat kita menderita, karena dia sudah membuat kita merana seumur hidup. Segala jawaban yang berada di dalam benakku tak mampu mengeluarkan dirinya. Mulutku yang sudah setengah terbuka menjadi tertutup kembali.

“Memaafkan adalah hal yang berat Le, apalagi jika orang yang kita maafkan tersebut telah mengukir luka yang dalam. Namun aku memilih untuk melupakan segala kesalahannya dan menatap masa depan yang lebih cerah. Menyimpan dendam seumur hidup tak akan membawa kebaikan untuk kita.”

“Kau wanita yang luar bisa Rika, aku salut padamu.”

Rika hanya tersenyum manis walau matanya masih menyimpan getir. Ketahanan mentalnya mungkin melampauiku. Aku jauh lebih beruntung darinya. Setidaknya aku tahu siapa orangtuaku. Setidaknya ibuku masih menyayangiku walaupun pada akhirnya memilih untuk menyerah. Rasa bersyukur ini aku tunjukkan kepada Rika dengan mengacak-acak rambutnya.

“Aku sudah bilang kan, kalau ada apa-apa cerita ke aku, jangan dipendam sendiri.”

Aku bisa melihat pipinya memerah, lalu bergumam terima kasih dengan pelan.

***

Rika tetaplah Rika. Sewaktu kami bertiga masuk kelas, tentu banyak yang meneriakkan namanya karena kaget. Rika menyahutnya dengan ceria dan mencampuradukkan dunia nyata dengan fantasinya. Seandainya tidak melihat sendiri, aku tidak akan percaya apa yang dialami oleh Rika selama ini.

“Hohoho tenang saja, aku baru saja selesai mengembara untuk mendapatkan air mata naga agar dapat mengalahkan Mata Iblis yang hendak menguasai tubuhku.” jawab Rika sewaktu teman-teman menanyakan ke mana saja Rika selama tiga hari kemarin.

“Serius Rika, kami semua khawatir ke kamu.” tanya Nita sedikit jengkel karena sikap kekanakan Rika.

“Hehehe, aku sakit aja kok Nit, tenang. Orangtuaku sedang dinas ke luar pulau, jadi enggak ada yang bisa bikin surat ijin. Nanti aku bakal ngurus kok masalah absen. Tenang.” jawab Rika sambil membentuk tanda OK dengan jarinya.

“Sakit apa emangnya Rik?” kini Ve meminta detail tentang penyakit Rika.

“Kompilasi bunda, panas, batuk, pilek, sama radang tenggorokan. Tapi aku udah sembuh total kok.” Ve memang sering dipanggil bunda oleh teman sekelas karena sifat keibuan yang dimilikinya.

“Yuk, kembali ke bangku masing-masing, sebentar lagi jam pelajaran ke 0 akan dimulai.” kata Kenji membuyarkan sesi tanya jawab tersebut, yang aku yakini ia lakukan untuk melindungi Rika.

***

“Sarah, bisa ke rumahku sekarang? Ada yang mau kubicarakan denganmu.” kataku kepada Sarah selepas jam tambahan sore.

“Un..untuk apa Le?” jawabnya tergagap, mungkin karena terkejut akan permintaanku yang mendadak.

“Akan kujelaskan di sana. Kenji dan Rika juga ikut.”

Sarah pun menyanggupi permintaanku. Maka kami berempat melangkah bersama menuju rumahku. Ketika telah sampai, nampak Gisel sudah bersiap-siap untuk belajar bersama aku dan Kenji.

“Maaf ya Gisel, belajarnya ditunda dulu, kakak-kakak masih ada urusan.” kata Kenji berusaha menjelaskan situasi kepada adikku tersebut.

“Yaa, ya udah deh Gisel belajar sendiri di kamar.” kata Gisel sembari membereskan tumpukan buku-buku beserta alat tulisnya.

“Terima kasih Sarah karena sudah mau mampir ke rumah Leon, semoga tadi Leon tidak mengajakmu dengan ancaman kan? Hahaha. Aku tadi menemani Rika untuk menghadap wali kelas kita, sehingga aku minta tolong Leon untuk melakukan itu.” ujar Kenji membuka pembicaraan.

“Tidak apa Ken, Leon mengajakku dengan baik.” jawab Sarah dengan melirik sinis ke arahku.

“Kita langsung pada pokok permasalahan saja ya Sar. Jadi kami bertiga, mau minta tolong sesuatu ke kamu, tapi kami akan sangat merepotkanmu dengan permintaan kami ini.” Kenji memulai negosiasi.

“Tidak apa-apa, katakan aja.”

“Rika, yang ngomong aku atau kamu sendiri?” tanya Kenji terlebih dahulu.

“Kamu aja Ken, aku…” Rika membuang mukanya. Segala topeng keceriaan yang ia kenakan sepanjang hari telah ia lepaskan.

“Baiklah, jadi Sar, karena beberapa alasan, Rika harus pergi dari rumahnya. Mungkin suatu saat Rika akan bercerita kepadamu. Nah, kami ingin minta tolong kepada kamu, agar Rika bisa tinggal bersama di rumahmu untuk sementara waktu. Kamu pernah bercerita bahwa kamu kesepian di rumah itu kan, walau dikelilingi banyak pembantu? Oleh karena itu kami menganggap rumahmu adalah tempat yang paling cocok untuk tempat tinggal sementara Rika.”

“Rika, kabur dari rumahnya?”

“Bukan, bukan seperti itu. Rika membutuhkan tempat tinggal sementara sampai semua keadaan kembali normal. Bukan hakku untuk bercerita, biarlah Rika yang akan menceritakannya sendiri jika ia rasa waktunya sudah tepat. Tapi percayalah, kami benar-benar membutuhkan bantuanmu Sar. Tidak ada lagi yang bisa kami mintai tolong untuk permasalahan ini.”

Sarah nampak sedang menimbang-nimbang jawaban yang akan dikeluarkan. Memang, mau sekaya apapun seseorang, menampung orang lain untuk tinggal di rumah kita tentu bukan perkara mudah untuk diputuskan.

“Baiklah Ken, tidak masalah, Rika bisa tinggal bersamaku. Aku akan mengabari orangtuaku nanti, walaupun sebenarnya tanpa bilang pun pasti mereka mengijinkan Rika.” jawab Sarah pada akhirnya.

“Terima kasih Sarah, maaf sudah merepotkanmu.” kata Rika dengan tatapan dengan sejuta makna kepada Sarah.

“Baiklah, terima kasih banyak Sarah. Kalau bisa, rahasiakan hal ini kepada teman-teman yang lain ya, setidaknya untuk sementara.”

“Aku janji.”

“Oke Rika, saatnya mengemas barang-barangmu di kamarnya Gisel. Karena tak terlalu banyak rasanya tidak butuh waktu lama.”

“Tu…tunggu, barang Rika di sini?” tanya Sarah keheranan.

“Ya Sar, Rika menginap di sini semalam karena tidak ada tempat tinggal lain untuknya. Makanya kami segera menghubungimu, karena tidak baik seorang perempuan menginap di tempat laki-laki. Tapi tenang, kami enggak berbuat yang aneh-aneh kok, hahahaha.” jawab Kenji sambil melangkah menuju kamar Gisel, meninggalkan Sarah yang masih dalam kondisi terkejut.

***

“Semua berjalan sesuai rencana Ken?” tanyaku sewaktu melepas kepergian Sarah dan Rika yang pulang menggunakan taksi.

“Untunglah begitu, walaupun masalah belum selesai. Nampaknya kita masih akan disibukkan beberapa hari ke depan untuk menjadi saksi dalam kasus Rika.”

“Tapi kata Rika…”

“Ia tidak ingin melaporkan om dan tantenya bukan? Aku mendengar percakapan kalian berdua tadi pagi. Aku juga hampir tidak tidur Le, sehingga aku memutuskan untuk belajar saja menggunakan buku-bukumu di kamar. Maaf ya aku enggak ijin dulu buat pinjam bukumu, hahaha.”

“Tidak apa-apa Ken.”

“Walaupun memiliki postur anak kecil ditambah wajah imut, Rika memiliki mental sekuat baja. Mungkn lebih kuat dari mentalmu Le.”

“Aku tidak bisa menyangkal itu.”

“Hahaha, yang lebih hebatnya lagi, ia bisa berdamai dengan masa lalu dan memutuskan untuk memaafkan segalanya.”

Aku tahu ke mana pembicaraan ini akan mengarah.

“Bukankah Rika bisa jadi inspirasi untukmu Le untuk memaafkan ayahmu?”

Sudah kuduga.

“Entahlah Ken, rasanya aku masih membutuhkan waktu untuk bisa seperti Rika.”

“Kalau begitu, setidaknya bacalah surat dari ayah dan pamanmu ini. Apakah kamu akan memaafkan mereka, itu urusan nanti, tapi bacalah terlebih dahulu. Tenang, aku bersumpah belum membaca isinya sama sekali.” kata Kenji sambil mengeluarkan surat dari dalam tasnya.

Aku menerima surat itu dan memegangnya dengan bimbang. Apakah hatiku sudah siap untuk membaca isi dari surat ini? Apakah aku akan merasa lebih baik setelah membaca surat ini?

“Aku berjanji tidak akan membakar ataupun menyobek surat ini, tapi aku belum bisa membacanya sekarang. Maaf Kenji.” jawabku pada akhirnya.

“Tenang Le, semua ada waktunya kok.” kata Kenji dengan senyuman khasnya.