Chapter 54 Kepingan yang Dibutuhkan

Kasus yang dihadapi Rika bersama keluarganya berjalan cukup alot. Mediasi yang dilakukan oleh KPAI sedikit mengalami jalan buntu karena bu Toro selaku tante dari Rika meminta ia tetap tinggal bersama mereka. Setelah beberapa pertemuan, terbongkarlah fakta bahwa ternyata selama ini keluarga pak Toro hidup dari warisan kakek Rika dari pihak ibu. Warisan tersebut akan masuk ke rekening mereka setiap satu bulan sekali dengan syarat mereka harus bersedia merawat Rika. Jika sampai Rika keluar dari rumah itu, maka warisan sang kakek akan jatuh secara otomatis ke Rika.

Sarah, yang pada akhirnya tahu tentang kehidupan Rika, dengan baik hati menawarkan bantuan pengacara kenalan keluarganya yang terkenal akan kehebatannya membela klien. Setelah menjalani beberapa pertemuan, akhirnya disepakati bahwa Rika akan tetap keluar dari rumah itu. Rika dengan berani mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan harta warisan itu. Yang ia butuhkan adalah kebebasan. Rika juga berjanji tidak akan melaporkan segala penganiayaan yang selama ini ia terima ke pihak yang berwenang asal ia bisa keluar dari rumah itu.

Pak Toro yang sempat menginap di sel penjara beberapa hari pun dengan senang hati menerima kesepakatan itu. Yang ia dan istrinya butuhkan adalah uang warisan, bukan Rikanya. Mereka tanpa malu menunjukkan sikap rakusnya akan harta di depan banyak orang dan tanpa perasaan bersalah menelantarkan keponakannya sendiri. Aku sempat menanyakan ketidakadilan ini ke Kenji, namun ia berkata ranah ini sudah tidak bisa dicampuri oleh kami lagi.

Lantas darimana Rika mendapatkan uang bulanan? Di sinilah keajaiban terjadi. Semula, Sarah ingin membiayai kehidupan Rika seorang diri dari uang sakunya sendiri. Tentu Rika enggan menerima bantuan dari teman satu kelasnya itu. Saat itulah orangtua Sarah yang sangat jarang pulang karena kesibukannya sedang berkunjung untuk menemui Sarah. Sarah memperkenalkan Rika dan menceritakan alasan mengapa ia tinggal di rumah mereka, walaupun itu sudah dilakukan oleh Sarah melalui telepon.

Entah apa yang dilihat oleh mamanya Sarah, namun ia langsung merasa sayang kepada Rika. Ketika Sarah bercerita kepadaku, ia mengatakan mamanya merasa Rika akan cocok menjadi adiknya walaupun mereka seumuran. Akhirnya, mamanya Sarah usul ke suaminya untuk mengangkat Rika menjadi anak, dan papanya Sarah menyetujuinya tanpa syarat. Untunglah umur Rika belum 18 tahun, usia maksimal untuk mengadopsi anak.

Kebahagiaan yang diterima oleh Rika bukan sampai situ saja. Melalui pengacara kakeknya, ia dapat mengetahui asal usul keluarganya. Kakeknya adalah tuan tanah yang kaya raya. Ketika beliau meninggal, ayah dan ibu Rika telah tiada karena sakit. Seharusnya, semua harta warisan jatuh ke anak satu-satunya, bu Toro. Namun kakek Rika mengetahui tabiat buruknya, sehingga beliau mensyaratkannya untuk mengasuh Rika yang waktu itu masih bayi. Harapan kakeknya, perilaku bu Toro akan berubah ketika mengasuh anak, sesuatu yang tidak akan bisa ia miliki sendiri karena beberapa faktor biologis. Sayang, harapan tersebut tidak pernah terjadi hingga Rika akan berusia 17 tahun.

Diantar oleh pengacara tersebut, Rika berziarah ke makam kedua orangtuanya yang berlokasi di kota. Rika tak kuasa menahan derai air matanya di atas pusara orangtuanya tersebut. Untunglah Sarah ikut menemaninya, sehingga ada seseorang yang bisa menguatkan dirinya. Semua berakhir dengan baik, khususnya untuk Rika.

***

“Tak lama lagi liburan ya Le, sudah punya rencana?” tanya Kenji sewaktu kami mengajar Gisel seperti biasa.

“Hanya belajar kurasa, aku tak pernah punya agenda lain selain itu.”

“Ah, bukankah kamu kadang baca novel juga.”

“Aku menganggap itu termasuk belajar.”

“Jika yang kamu maksud belajar untuk berpikir sistematik dan melakukan analisa dengan matang, aku setuju. Sudah berapa Agatha Christie yang sudah kamu habiskan Le?”

“Dari sepuluh buku favorit milik Ibu, sudah habis sembilan. Novel yang terakhir berlatar belakang Mesir kuno, membuatku tertarik untuk mempelajar sejarahnya.”

“Ah, bagus itu, peradaban Mesir termasuk salah satu yang paling tua Le.”

“Kau punya buku tentang itu?”

“Rasanya ada Le walau tak terlalu detail, nanti aku carikan.”

Setelah perbincangan singkat itu, kami kembali fokus mengajari Gisel. Perkembangannya sangat pesat walaupun itu bukan kejutan karena Gisel memang cerdas. Ia sudah bisa dengan lancar mengerjakan soal-soal anak SMP, bahkan sesekali ia bertanya tentang pelajaran-pelajaran SMA. Memang sayang jika Gisel harus memulai semua dari bangku kelas satu. Aku jadi teringat sesuatu untuk ditanyakan ke Kenji.

“Kenji, kapan kita ke ibunya Ve?”

“Nah, aku baru mau tanya Le. Sebaiknya kita tanya Ve saja dulu, kapan ibunya punya waktu kosong. Mungkin sebaiknya ketika liburan, toh kurang beberapa minggu lagi.”

“Baiklah, besok aku akan menanyakannya kepada Ve.”

***

“Ve, boleh tanya sesuatu?” kataku sewaktu istirahat kedua.

“Iya Le, ada apa?”

“Eh, Kenji sudah pernah bercerita tentang adikku kan?”

“Oh, yang masalah sekolah itu ya? Siapa nama adikmu?”

“Gisel.”

“Iya Gisel. Iya Kenji udah pernah bilang ke aku, aku juga udah bilang ke ibuku.”

“Terus bagaimana tanggapan beliau?”

“Bahasamu formal banget, hahahaha. Ibu sih bisa-bisa aja, tapi menurutku kayaknya kalian perlu ke ibuku langsung deh biar enak.”

“Itu yang mau aku tanyakan kepadamu Ve, kapan aku bisa bertemu ibumu?”

“Waktu liburan ibu pasti di rumah kok, ke rumah aja, nanti aku kasih alamatnya.”

“Terima kasih banyak ya Ve.”

“Sama-sama Le.”

Aku pun kembali ke bangkuku. Saat melewati Rika, aku memutuskan untuk menanyakan kehidupannya bersama Sarah. Sudah beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu, dan aku belum menanyakan lagi tentang keadaannya.

“Rika.”

“Iya pangeran kegelapan, ada yang bisa saya bantu?” jawab Rika dengan ceria seperti biasa.

“Bagaimana? Nyaman tinggal bersama Sarah?”

“Hehehe, akhirnya kamu tanya juga ya Le. Semua baik-baik aja kok, Sarah bener-bener baik sama aku. Semua orang di rumah itu juga baik sama aku.”

Mungkin berkat hobiku membaca novel detektif, kemampuanku untuk membaca wajah semakin terasah. Ada yang mengganjal di pikiran Rika, dan ia ragu untuk mengeluarkannya.

“Ada masalah Rika?”

“Enggak kok Le, tenang aja.”

“Kau tidak akan bisa mengelabuhiku Rik, aku mengenalmu cukup dekat.”

Rika menatap ke arah lain walaupun bibirnya membentuk senyum tipis. Mungkin bukan masalah yang ia hadapi, melainkan dilema.

“Walaupun aku sudah diangat sebagai anak, aku sering merasa tidak enak ke Sarah dan keluarganya. Bagaimana pun, aku tetap orang asing yang menumpang tinggal di rumah orang. Apalagi, aku diberi fasilitas yang lengkap, kamar pribadi yang bagus pula. Mau makan sudah disiapkan, mau nyuci udah dicucikan, bahkan kamarku pun ikut dibersihkan.”

Di saat itulah Sarah masuk ke dalam kelas, mungkin dari kantin karena ia membawa beberapa bungkus makanan. Aku memanggilnya agar ia bisa mendengar sendiri apa yang baru saja Rika katakan kepadaku.

“Sarah, Rika bilang ia merasa enggak enak tinggal di rumahmu.” kataku tanpa basa-basi.

“Kenapa Rika? Ada yang kurang? Bilang aja, pasti aku bantu.”

“Bukan, bukan begitu Sarah, ih Leon bikin orang salah paham aja.” ujar Rika dengan mimik wajah yang menunjukkan kegusaran, walaupun masih nampak imut.

“Ya udah, jelaskan ke Sarah kalau begitu.” kataku dengan tangan mengarah ke arah Sarah.

“Emm, jadi Sar, aku malah merasa terlalu banyak mendapatkan berbagai fasilitas. Setidaknya jika aku menumpang di rumahmu, biarkanlah aku membantu pekerjaan rumah tangga di sana. Pokoknya, aku harus bisa bermanfaat di rumahmu.”

Sarah tidak langsung menjawab. Ia berdiri di hadapan Rika sambil memegang kedua pundak Rika dengan lembut dan memandangnya penuh dengan kasih sayang.

“Aku luruskan beberapa hal ya Rika. Pertama, kamu bukan menumpang di rumah itu, itu udah rumahmu sendiri. Kamu sudah diangkat sebagai keluarga. Jika kamu berpikiran seperti itu, kami akan merasa bersalah karena merasa tidak mampu membuatmu betah tinggal bersama kami.

“Kedua, segala fasilitas yang diberikan kepadamu itu hakmu sebagai anggota keluarga. Orang-orang yang ada di rumah kita dengan senang hati melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka karena orangtuaku juga memperlakukan mereka secara manusiawi.

“Ketiga, kamu sudah aku anggap sebagai saudaraku Rika. Mamaku bilang kamu pantas jadi adikku walaupun aku hanya lebih tua beberapa bulan. Aku menanggapi perkataan mamaku itu dengan serius, sehingga aku berusaha menempatkan diri menjadi kakak yang baik untukmu, selain sebagai sahabat. Tolong buang segala pikiran-pikiran buruk tersebut, kami semua sayang sama kamu Rika.”

Mata Rika yang dari tadi sudah berkaca-kaca akhirnya menumpahkan air matanya. Sarah merespon dengan memberikan pelukan yang hangat. Peristiwa yang mengharukan, bahkan hatiku pun tersentuh dibuatnya. Revolusi diri Sarah benar-benar mencapai tahap yang susah untuk dipercaya. Kematian Sica jelas membawa perubahan yang positif terhadap diri Sarah.

“Siapa yang menyangka Sarah yang begitu angkuh dulu bisa sebaik ini sekarang.” kataku ketika mereka telah selesai berpelukan.

“Omonganmu tetap pedas seperti biasa ya Le, tapi terima kasih atas pujiannya. Aku pun terkadang heran dengan diriku sendiri yang bisa berubah menjadi seperti ini. Kita berdua sama kan, sama-sama diubah oleh Kenji.”

“Benar.”

“Terima kasih untuk kalian semua, untuk Sica juga, yang sudah membantu menyembuhkan aku dari penyakit hati itu. Untuk pertama kalinya aku membuka diri untuk orang lain dan berusaha memperlakukan mereka seperti keluargaku sendiri, sama seperti yang kamu lakukan. Ternyata, aku benar-benar mendapatkan keluarga dalam artian yang sebenarnya.” kata Sarah sambil memegang pundak Rika.

“Kira-kira kenapa mamamu bisa langsung suka dengan Rika?” tanyaku penasaran.

“Kamu belum tahu ya, mamaku dulu pernah keguguran sewaktu mengandung adikku. Mungkin karena kecapekan bekerja. Setelah bertemu Rika, orangtuaku harus segera berangkat lagi ke Manado untuk urusan bisnis. Malamnya, mamaku menelepon bahwa ia pernah bermimpi didatangi adikku yang tak pernah sempat lahir itu. Kata mama, wajah dan posturnya mirip Rika. Mungkin karena itu Le.”

“Luar biasa, aku sampai kehabisan kata-kata.”

“Seharusnya kamu juga berterimakasih sama Leon, Rik. Dia sudah banyak membantumu melewati masa-masa susah kan?”

“Sudah kok Sar, tenang aja.”

Tiba-tiba terdengarlah bunyi bel tanda masuk. Sarah pun berdiri untuk kembali ke bangkunya. Baru satu langkah, ia sudah kembali berbalik menghadap aku dan Rika.

By the way, you two look so cute as a couple.” katanya sambil mengedipkan mata kanannya.

Entah bagaimana dengan reaksi Rika, tapi aku hanya membalas kedipan mata itu dengan satu alis terangkat menandakan kebingungan. Masuknya guru Fisika membuatku berhenti memikirkan kejadian tersebut, dan kembali fokus belajar. Tak lama berselang, aku tersenyum sendiri, merasa bahagia karena melihat teman-temanku bahagia. Itulah yang selama ini tak pernah ada dalam kehidupanku. Inilah kepingan yang aku butuhkan untuk menjadi seorang manusia seutuhnya.