Wanita Bermata Sayu

Bosan seketika melanda diriku yang sedang menunggu panggilan kerja. Sejak dulu menunggu memang bukan sesuatu yang aku sukai. Ingin rasanya segera mengangkat kakiku dari sini dan mencari kesempatan di tempat lain. Toh, aku mendaftar ke perusahaan ini bukan karena keinginanku sendiri.

Sebelum memantapkan hati, aku melempar sekilas pandangan ke sekitar. Lalu, aku menatap wanita itu, wanita bermata sayu yang duduk di belakang meja registrasi. Entah ia mengantuk atau tidak, namun yang jelas matanya tersebut sanggup menarik perhatianku dan menunda kepergianku dari sini.

Apakah sayunya mata tersebut karena ia sering bekerja lembur? Apakah berarti kerja di sini harus mempersiapkan untuk lembur kapan pun juga? Apakah berarti kerja di sini membutuhkan fisik yang harus senantiasa prima?

Apakah sayunya mata tersebut bawaan sejak lahir? Berapa banyak orang yang memperhatikan kesayuan matanya tersebut? Apakah orang lain juga merasa penasaran seperti diriku sekarang? Atau aku saja yang terlalu banyak memikirkan sesuatu yang kurang penting?

Wanita bermata sayu tersebut tidak melakukan apa-apa kecuali mengurus proses registrasi pelamar yang lain, namun mengapa aku begitu penasaran dengannya, terutama matanya? Apakah karena jarang terlihat wanita yang memiliki mata seperti itu?

Wanita bermata sayu itu sibuk membolak-balik berkas dokumen yang dikumpulkan oleh calon karyawan yang melamar, lalu mengapa aku sibuk dengan pikiranku sendiri? Bukankah harusnya aku mempersiapkan diri, minimal membaca referensi untuk wawancara nanti?

Lama aku berpikir hingga akhirnya namaku dipanggil untuk menuju ruang wawancara. Hanya karena wanita bermata sayu tersebut, aku berhasil  membatalkan rencanaku untuk pergi dari tempat ini.

***

Wawancara telah selesai, dan aku merasa cukup lega karena merasa cukup lancar menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan. Apapun hasilnya akan kuterima, karena aku sudah memberikan segala yang bisa aku lakukan.

Ketika kembali ke lobi, aku berusaha untuk mencari wanita bermata sayu tersebut. Ia masih ada duduk di sana, masih melakukan kegiatan yang sama, masih dengan mata sayu yang sama. Aku menuju arahnya, ingin sekedar mengucapkan terima kasih. Setidaknya, aku ingin bertatap mata sekali dengan matanya tersebut.

“Terima kasih ya mbak.” kataku di depan wanita bermata sayu tersebut.

“Oh, iya mas.” jawabnya sambil menatap kebingungan.

Aku langsung meninggalkan lokasi untuk mencari makan, meninggalkan wanita bermata sayu dengan keherannya. Atau, mungkin ia tidak terlalu memusingkan ucapan terima kasihku. Tidak semua orang penuh dengan tanya sepertiku.

Langit Jakarta hujan tipis, aku menembusnya tak peduli karena perut sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.

 

 

Jelambar, 9 Maret 2018, terinspirasi dari panitia wanita Transmedia yang bermata sayu

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.