Connect with us

Sosial Budaya

Kok Bisa, ya, Masih Ada Orang yang Berusaha Membela Israel?

Published

on

Israel kembali memancing amarah banyak warga dunia setelah serangannya ke Rafah, Palestina. Bagaimana tidak, Rafah adalah tempat berlindung para warga Palestina yang harus menyingkir karena agresi yang dilancarkan oleh Israel selama tujuh bulan terakhir.

Melansir dari Tirto, jumlah korban dari serangan tersebut mencapai 66 orang, di mana mayoritas merupakan anak-anak dan perempuan. Serangan ini seolah menegaskan kalau tidak ada lagi tempat aman untuk warga Palestina di wilayahnya sendiri.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan sejak agresi militer dilancarkan oleh Israel di bulan Oktober tahun lalu, total korban jiwa yang sudah diderita Palestina sudah mencapai 36 ribu orang. Kalau ini tidak bisa dianggap sebagai kejahatan perang, entah istilah apa yang patut disematkan.

Israel yang Kebal Hukum

Neraka Menantimu, Benjamin! (CNN)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan entengnya mengatakan bahwa serangan tersebut “sesuatu yang tidak disengaja terjadi secara tragis.” Bagaimana ia dan Israel masih bisa lolos sanksi dari hukum internasional merupakan sesuatu yang mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan.

Mengapa mengejutkan? Coba bandingkan dengan kasus invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, semua negara dengan gercep langsung memberikan berbagai sanksi berat ke Rusia. Bahkan, pemilik Chelsea Roman Abramovic sampai harus menjual klubnya tersebut.

Mengapa tidak mengejutkan? Karena sudah bertahun-tahun Israel melakukan kejahatan dan tidak pernah satu kali pun mendapatkan sanksi. Selama “kakak” mereka yang bernama Amerika Serikat pasang badan untuk mereka, maka Israel akan selalu lolos dari sanksi.

Hal ini tentu terasa tidak adil, bagaimana sebuah negara yang dari awal prosesnya sudah tidak benar bisa begitu semena-mena terhadap bangsa lain. Sebuah negara, yang terus berbuat kejahatan mengerikan, bisa dibiarkan begitu saja.

Bahkan, secara menjijikkan ketika pos “All Eyes on Rafah” menjadi viral di seluruh dunia, tanpa merasa malu Israel membuat pos tandingan dengan tajuk “Where Were Your Eyes on October 7?” yang mengungkit serangan Hamas pada waktu itu.

Sikap yang kekanakan tersebut tentu menggelikan karena membuat Israel terlihat seperti anak kecil yang terus mengungkit satu kejadian. Padahal, serangan Hamas tersebut tidak akan terjadi seandainya Israel tidak pernah menjajah Palestina dari awal.

Serangan tersebut adalah konsekuensi dari apa yang Israel perbuat dari berpuluh-puluh tahun lalu. Kini, Israel justru merengek-rengek seolah mereka adalah korban yang paling tersakiti. Playing victim dari Israel benar-benar membuat Penulis merasa ingin muntah.

Namun, ada satu hal yang juga membuat Penulis merasa ingin muntah: masih adanya orang-orang yang berusaha membela Israel.

Kok Bisa Masih Membela Israel?

Bermasalah Sejak Awal Pendiriannya (Mosaic Magazine)

Di sini, Penulis tidak akan membahas Amerika Serikat dan negara-negara lain yang berada di belakang Israel. Yang Penulis maksudnya di sini adalah netizen, terutama netizen Indonesia, yang masih membela Israel dengan berbagai alasan tidak masuk akalnya.

Argumen yang dikeluarkan pun kurang lebih sama dengan apa yang dikeluarkan Israel: seandainya Hamas tidak melakukan serangan pada 7 Oktober, perang ini tidak akan terjadi. Orang yang berargumen seperti itu artinya tidak pernah belajar sejarah dengan benar.

Penulis sudah pernah membahas pada satu tulisan khusus mengenai sejarah konflik antara Israel dari Palestina. Intinya, sejak didirikan Israel itu sudah bermasalah dan salah. Palestina hanya berusaha mempertahankan tanah airnya yang telah ditempati sejak lama.

Israel selalu berargumen kalau mereka adalah manusia yang telah dijanjikan untuk menempati tanah tersebut. Hal ini tentu konyol, karena bayangkan saja jika suku Indian asli meminta semua orang Amerika Serikat pergi dari tanah mereka. Mana mungkin mereka mau?

Mereka yang masih membela Israel ini merasa kalau konflik ini terjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal, konflik ini sudah berlangsung sejak tahun 1948, sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya di tanah orang seenaknya sendiri.

Yang Dukung Palestina Malah Ribut Sendiri Gara-gara Boikot

Foto M. Shadow, Vokalis Avenged Sevenfold, Mengibarkan Bendera Israel

Selain masih ada yang membela Israel, netizen-netizen yang membela Palestina sendiri pun kadang malah ribut sendiri. Salah satu penyebab utamanya adalah pro-kontra produk yang berafiliasi dengan Israel.

Banyak netizen yang pro boikot terus menyuarakan boikot di berbagai platform. Contoh paling segar adalah ketika Avenged Sevenfold menggelar konser di Jakarta. Ada netizen yang bertanya, “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel?”

Tuduhan tersebut bukannya tanpa dasar. Pada salah satu konsernya, Avenged Sevenfold memang sempat mengibarkan bendera Israel, mungkin ketika mereka menggelar konser di sana. Penulis tidak menemukan info yang cukup untuk hal ini.

Nah, ketika ada yang berkomentar seperti itu, banyak netizen yang membalasnya dengan mengatakan “ngapain pakai Instagram, ini juga buatannya Yahudi” dan semacamnya. Mereka selalu melakukan counter dengan pola seperti itu, seolah menuduh yang boikot itu hipokrit.

Penulis berusaha berpikiran positif dengan menganggap kedua kubu sebenarnya sama-sama mendukung Palestina. Mereka hanya tidak sepakat dengan masalah boikot produk yang berafiliasi dengan Israel karena pertimbangannya masing-masing.

Hanya saja, Penulis merasa sedikit geram dengan cara mereka melakukan counter. Padahal, inti dari gerakan boikot tersebut adalah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggunakan produk yang pro Israel. Kalau ada yang belum bisa ditinggalkan, ya tidak apa-apa.

Analoginya, kalau ada orang Islam terus ditanya “katanya Islam, kok minum alkohol?” atau “katanya Islam, kok enggak pakai hijab?”, tentu akan ada perasaan jengkel, bukan? Ya, sama, boikot juga seperti itu, bertahap dan semampunya dulu, bukan masalah pilih-pilih.

Lantas, kalau belum bisa boikot 100%, apakah dilarang menyuarakan boikot karena dirinya sendiri belum sempurna? Ya, tidak juga, karena di Islam pun ada kewajiban untuk saling mengingatkan. Kalau mau diingatkan ya syukur, kalau enggak ya enggak masalah.

Pertanyaan seperti “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel” mungkin bentuk menyuarakan boikot versi netizen. Hanya saja, memang menurut Penulis kalimat seperti itu bernada nyinyir, sehingga pesan yang ingin disampaikan justru jadi memancing keributan.

Penulis hanya menyayangkan energi yang seharusnya bisa difokuskan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina malah dipakai untuk ribut karena perbedaan pandangan. Yang mau boikot silakan, yang enggak mau juga silakan. Mari kita maksimalkan dukungan untuk saudara-saudara kita di Palestina dengan apapun caranya.

Penutup

Ketika tulisan ini dibuat, ada kabar yang menyebutkan kalau International Criminal Court (ICC) telah mengeluarkan surat penangkapan ke Netanyahu dan beberapa petinggi Israel lainnya. Beberapa orang Hamas pun juga diberi surat penangkapan.

Netanyahu tentu tidak tinggal diam. Seperti biasa, ia mengadu ke “big bro” Amerika Serikat dan memintanya untuk menghukum ICC. Namun, untuk masalah yang satu itu tampaknya enggan dilakukan oleh Amerika Serikat.

Penulis sendiri merasa pesimis kalau Netanyahu dan Israel bisa diberi sanksi oleh siapapun. Apalagi kalau sampai Donald Trump berhasil menjadi presiden Amerika Serikat lagi, Penulis yakin Israel akan semakin semena-mena karena punya backup yang sangat kuat.

Mungkin tidak akan ada hukuman di dunia yang akan diterima oleh Israel. Namun, Penulis yakin kalau hukuman akhirat yang berat telah menanti mereka semua. Dunia memang bukan tempat untuk keadilan.


Lawang, 30 Mei 2024, terinspirasi setelah melihat betapa kejinya serangan Israel ke Rafah dan merasa heran dengan orang-orang yang masih mendukung Israel

Foto Featured Image: TIME

Sumber Artikel:

Sosial Budaya

Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain

Published

on

By

Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.

Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Joki 3-in-1 (Antara News)

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.

Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.

Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.

Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.

Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.

Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.

Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.

Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Contoh Joki Baca Buku (X)

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.

Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.

Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”

Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.

Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.

Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.

Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan

Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.

Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.

Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.

Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.

Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?


Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini

Continue Reading

Sosial Budaya

Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang

Published

on

By

Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.

Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.

Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Harusnya Jadi Budaya Kita (Ludovic Delot)

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.

Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.

Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.

Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.

Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.

Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.

Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.

Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Membaca di Tempat Umum (Ahmet Kurt)

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.

Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.

Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.

Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.

Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.

Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.

Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.

Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!


Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum

Continue Reading

Sosial Budaya

Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)

Published

on

By

Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.

Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.

Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.

Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Hearts2Hearts (X)

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.

Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.

Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.

Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.

Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.

Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.

Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.

Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.

Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Wallpaper Jiwoo (TikTok)

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.

Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,

Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”

Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.

Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”

Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?

Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.

Padahal ya Belum Tentu Benar

Jiwoo dan Carmen (Instagram)

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.

Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.

Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.

Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.

Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).

Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?

Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?

Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?

Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?

Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.

***

Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.

Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.

Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018