Connect with us

Sosial Budaya

Kok Bisa, ya, Masih Ada Orang yang Berusaha Membela Israel?

Published

on

Israel kembali memancing amarah banyak warga dunia setelah serangannya ke Rafah, Palestina. Bagaimana tidak, Rafah adalah tempat berlindung para warga Palestina yang harus menyingkir karena agresi yang dilancarkan oleh Israel selama tujuh bulan terakhir.

Melansir dari Tirto, jumlah korban dari serangan tersebut mencapai 66 orang, di mana mayoritas merupakan anak-anak dan perempuan. Serangan ini seolah menegaskan kalau tidak ada lagi tempat aman untuk warga Palestina di wilayahnya sendiri.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan sejak agresi militer dilancarkan oleh Israel di bulan Oktober tahun lalu, total korban jiwa yang sudah diderita Palestina sudah mencapai 36 ribu orang. Kalau ini tidak bisa dianggap sebagai kejahatan perang, entah istilah apa yang patut disematkan.

Israel yang Kebal Hukum

Neraka Menantimu, Benjamin! (CNN)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan entengnya mengatakan bahwa serangan tersebut “sesuatu yang tidak disengaja terjadi secara tragis.” Bagaimana ia dan Israel masih bisa lolos sanksi dari hukum internasional merupakan sesuatu yang mengejutkan sekaligus tidak mengejutkan.

Mengapa mengejutkan? Coba bandingkan dengan kasus invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu, semua negara dengan gercep langsung memberikan berbagai sanksi berat ke Rusia. Bahkan, pemilik Chelsea Roman Abramovic sampai harus menjual klubnya tersebut.

Mengapa tidak mengejutkan? Karena sudah bertahun-tahun Israel melakukan kejahatan dan tidak pernah satu kali pun mendapatkan sanksi. Selama “kakak” mereka yang bernama Amerika Serikat pasang badan untuk mereka, maka Israel akan selalu lolos dari sanksi.

Hal ini tentu terasa tidak adil, bagaimana sebuah negara yang dari awal prosesnya sudah tidak benar bisa begitu semena-mena terhadap bangsa lain. Sebuah negara, yang terus berbuat kejahatan mengerikan, bisa dibiarkan begitu saja.

Bahkan, secara menjijikkan ketika pos “All Eyes on Rafah” menjadi viral di seluruh dunia, tanpa merasa malu Israel membuat pos tandingan dengan tajuk “Where Were Your Eyes on October 7?” yang mengungkit serangan Hamas pada waktu itu.

Sikap yang kekanakan tersebut tentu menggelikan karena membuat Israel terlihat seperti anak kecil yang terus mengungkit satu kejadian. Padahal, serangan Hamas tersebut tidak akan terjadi seandainya Israel tidak pernah menjajah Palestina dari awal.

Serangan tersebut adalah konsekuensi dari apa yang Israel perbuat dari berpuluh-puluh tahun lalu. Kini, Israel justru merengek-rengek seolah mereka adalah korban yang paling tersakiti. Playing victim dari Israel benar-benar membuat Penulis merasa ingin muntah.

Namun, ada satu hal yang juga membuat Penulis merasa ingin muntah: masih adanya orang-orang yang berusaha membela Israel.

Kok Bisa Masih Membela Israel?

Bermasalah Sejak Awal Pendiriannya (Mosaic Magazine)

Di sini, Penulis tidak akan membahas Amerika Serikat dan negara-negara lain yang berada di belakang Israel. Yang Penulis maksudnya di sini adalah netizen, terutama netizen Indonesia, yang masih membela Israel dengan berbagai alasan tidak masuk akalnya.

Argumen yang dikeluarkan pun kurang lebih sama dengan apa yang dikeluarkan Israel: seandainya Hamas tidak melakukan serangan pada 7 Oktober, perang ini tidak akan terjadi. Orang yang berargumen seperti itu artinya tidak pernah belajar sejarah dengan benar.

Penulis sudah pernah membahas pada satu tulisan khusus mengenai sejarah konflik antara Israel dari Palestina. Intinya, sejak didirikan Israel itu sudah bermasalah dan salah. Palestina hanya berusaha mempertahankan tanah airnya yang telah ditempati sejak lama.

Israel selalu berargumen kalau mereka adalah manusia yang telah dijanjikan untuk menempati tanah tersebut. Hal ini tentu konyol, karena bayangkan saja jika suku Indian asli meminta semua orang Amerika Serikat pergi dari tanah mereka. Mana mungkin mereka mau?

Mereka yang masih membela Israel ini merasa kalau konflik ini terjadi selama beberapa tahun terakhir. Padahal, konflik ini sudah berlangsung sejak tahun 1948, sejak Israel memproklamasikan kemerdekaannya di tanah orang seenaknya sendiri.

Yang Dukung Palestina Malah Ribut Sendiri Gara-gara Boikot

Foto M. Shadow, Vokalis Avenged Sevenfold, Mengibarkan Bendera Israel

Selain masih ada yang membela Israel, netizen-netizen yang membela Palestina sendiri pun kadang malah ribut sendiri. Salah satu penyebab utamanya adalah pro-kontra produk yang berafiliasi dengan Israel.

Banyak netizen yang pro boikot terus menyuarakan boikot di berbagai platform. Contoh paling segar adalah ketika Avenged Sevenfold menggelar konser di Jakarta. Ada netizen yang bertanya, “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel?”

Tuduhan tersebut bukannya tanpa dasar. Pada salah satu konsernya, Avenged Sevenfold memang sempat mengibarkan bendera Israel, mungkin ketika mereka menggelar konser di sana. Penulis tidak menemukan info yang cukup untuk hal ini.

Nah, ketika ada yang berkomentar seperti itu, banyak netizen yang membalasnya dengan mengatakan “ngapain pakai Instagram, ini juga buatannya Yahudi” dan semacamnya. Mereka selalu melakukan counter dengan pola seperti itu, seolah menuduh yang boikot itu hipokrit.

Penulis berusaha berpikiran positif dengan menganggap kedua kubu sebenarnya sama-sama mendukung Palestina. Mereka hanya tidak sepakat dengan masalah boikot produk yang berafiliasi dengan Israel karena pertimbangannya masing-masing.

Hanya saja, Penulis merasa sedikit geram dengan cara mereka melakukan counter. Padahal, inti dari gerakan boikot tersebut adalah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggunakan produk yang pro Israel. Kalau ada yang belum bisa ditinggalkan, ya tidak apa-apa.

Analoginya, kalau ada orang Islam terus ditanya “katanya Islam, kok minum alkohol?” atau “katanya Islam, kok enggak pakai hijab?”, tentu akan ada perasaan jengkel, bukan? Ya, sama, boikot juga seperti itu, bertahap dan semampunya dulu, bukan masalah pilih-pilih.

Lantas, kalau belum bisa boikot 100%, apakah dilarang menyuarakan boikot karena dirinya sendiri belum sempurna? Ya, tidak juga, karena di Islam pun ada kewajiban untuk saling mengingatkan. Kalau mau diingatkan ya syukur, kalau enggak ya enggak masalah.

Pertanyaan seperti “kok masih ada yang nonton band yang pro Israel” mungkin bentuk menyuarakan boikot versi netizen. Hanya saja, memang menurut Penulis kalimat seperti itu bernada nyinyir, sehingga pesan yang ingin disampaikan justru jadi memancing keributan.

Penulis hanya menyayangkan energi yang seharusnya bisa difokuskan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina malah dipakai untuk ribut karena perbedaan pandangan. Yang mau boikot silakan, yang enggak mau juga silakan. Mari kita maksimalkan dukungan untuk saudara-saudara kita di Palestina dengan apapun caranya.

Penutup

Ketika tulisan ini dibuat, ada kabar yang menyebutkan kalau International Criminal Court (ICC) telah mengeluarkan surat penangkapan ke Netanyahu dan beberapa petinggi Israel lainnya. Beberapa orang Hamas pun juga diberi surat penangkapan.

Netanyahu tentu tidak tinggal diam. Seperti biasa, ia mengadu ke “big bro” Amerika Serikat dan memintanya untuk menghukum ICC. Namun, untuk masalah yang satu itu tampaknya enggan dilakukan oleh Amerika Serikat.

Penulis sendiri merasa pesimis kalau Netanyahu dan Israel bisa diberi sanksi oleh siapapun. Apalagi kalau sampai Donald Trump berhasil menjadi presiden Amerika Serikat lagi, Penulis yakin Israel akan semakin semena-mena karena punya backup yang sangat kuat.

Mungkin tidak akan ada hukuman di dunia yang akan diterima oleh Israel. Namun, Penulis yakin kalau hukuman akhirat yang berat telah menanti mereka semua. Dunia memang bukan tempat untuk keadilan.


Lawang, 30 Mei 2024, terinspirasi setelah melihat betapa kejinya serangan Israel ke Rafah dan merasa heran dengan orang-orang yang masih mendukung Israel

Foto Featured Image: TIME

Sumber Artikel:

Sosial Budaya

Artikel pada Tulisan Ini Dibuat Menggunakan AI (ChatGPT)

Published

on

By

Dalam era digital yang semakin maju, kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan kita, termasuk dalam dunia penulisan. Tulisan ini bukanlah hasil dari pikiran manusia, melainkan buatan dari salah satu kecerdasan buatan terkemuka, yaitu GPT-3.5, yang dikembangkan oleh OpenAI.

Mari kita menjelajahi keunikan dan kemampuan luar biasa teknologi ini dalam menciptakan konten tulisan sepanjang 500 kata ini!

Kelebihan yang Dimiliki oleh AI dalam Penulisan

Penting untuk dicatat bahwa kecerdasan buatan bukanlah pengganti kreativitas manusia, melainkan alat yang dapat memperluas dan meningkatkan kapabilitas penulisan. GPT-3.5 menggunakan teknologi deep learning yang memungkinkannya memahami dan merespons teks dengan cara yang menyerupai cara manusia berpikir.

Dengan memanfaatkan model bahasa yang sangat besar, AI dapat menghasilkan tulisan yang nyaris tak terkalahkan dalam segi gramatika dan sintaksis.

Salah satu keunggulan utama kecerdasan buatan dalam penulisan adalah kecepatan. Manusia membutuhkan waktu dan usaha yang cukup untuk menghasilkan tulisan sepanjang 500 kata, sementara GPT-3.5 dapat menciptakan konten serupa dalam hitungan detik.

Ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam menghasilkan berbagai jenis konten, mulai dari artikel blog hingga ulasan produk.

Selain itu, kecerdasan buatan juga memiliki kemampuan untuk mengakses dan memproses informasi dalam jumlah besar dengan cepat.

GPT-3.5 dapat menyusun tulisan dengan merujuk pada basis data besar yang dimilikinya, mencakup berbagai topik dari sumber-sumber terkemuka. Ini membantu memastikan bahwa tulisan yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga akurat.

Artikel Ini Dibuat Menggunakan ChatGPT Versi Gratis (Analytics Insight)

Dilema Penggunaan AI dalam Penulisan

Namun, seiring dengan segala keunggulan, ada juga tantangan dan pertimbangan etika terkait penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan. Seberapa jauh kita boleh mengandalkan AI dalam menyampaikan informasi dan gagasan? Apakah kecerdasan buatan dapat menggantikan nilai-nilai manusiawi seperti kreativitas, empati, dan pengalaman pribadi?

Tentu saja, AI seperti GPT-3.5 tidak memiliki pengalaman pribadi, perasaan, atau pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung. Ini hanya sebuah algoritma yang memproses dan memahami pola dari data yang telah diolah sebelumnya.

Oleh karena itu, sementara kecerdasan buatan dapat menghasilkan tulisan yang mengesankan, mereka tidak dapat memberikan wawasan mendalam yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman manusia.

Penutup

Dalam mengakhiri tulisan ini, kita perlu mengakui bahwa teknologi kecerdasan buatan adalah alat yang kuat yang dapat memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk penulisan.

Namun, kita juga harus menyadari keterbatasannya dan menjaga keseimbangan antara kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan oleh AI dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dapat diabaikan.

Sementara AI dapat membantu dalam banyak hal, daya kreasi dan kedalaman emosi tetap menjadi ciri khas khusus manusia dalam dunia penulisan.


Lawang, 23 April 2024, terinspirasi setelah semakin menyadari kalau kita harus hidup berdampingan dengan AI, bukan merasa terancam

Foto Featured Image: Aberdeen

Continue Reading

Sosial Budaya

Dear Gen Z, Saingan Kerja Kalian Nanti Bukan Manusia, tapi AI

Published

on

By

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) begitu masif hingga ke tahap yang menakutkan. Banyak orang menyuarakan ketakutan bagaimana AI bisa menggantikan peran manusia di berbagai bidang pekerjaan.

Salah satu contohnya adalah bagaimana Writers Guild of America (WGA) dan The Screen Actors Guild-American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) melakukan aksi mogok karena, salah satu alasannya, menentang adanya AI ini di tempat kerja mereka.

Jika menengok ke situs https://www.insidr.ai/, ada begitu banyak tools AI yang bisa digunakan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan, sehingga kebutuhan manpower di sebuah perusahaan bisa dikurangi untuk memangkas biaya.

Pertanyaannya, sebagai generasi yang akan langsung berhadapan dengan AI, apakah para Gen Z sudah siap untuk bersaing?

Baru Mau Kerja, Langsung Lawan AI

Gen Z Sedang Berpacu Melawan AI (Pearson Accelerated Pathways)

Jika mengacu pada pendapat Jean Twenge, Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1995 hingga 2012. Sedangkan menurut Pew Research Center, range tahun lahir Gen Z adalah antara tahun 1997 hingga 2012.

Berdasarkan tahun lahir tersebut, tentu Gen Z yang lahir di tahun 90-an kemungkinan besar sudah merasakan bagaimana persaingan di dunia kerja. Untuk yang lahir di tahun 2000 ke atas, mayoritas baru kerja atau baru lulus dari bangku kuliah.

Nah, apesnya, mereka masuk ke dunia kerja di saat AI sedang booming. Pekerjaan yang dulunya terlihat aman dan tak akan tergantikan oleh mesin nyatanya bisa saja digantikan. Dari bidang Penulis saja, pekerjaan menulis dan mendesain sudah bisa dikerjakan oleh AI.

Artinya, para Gen Z terutama yang lahir di tahun 2000 ke atas harus menghadapi kenyataan kalau saingan mereka di dunia kerja bukan hanya manusia, tapi juga harus melawan AI. Persaingan kerja yang aslinya sudah ketat menjadi jauh lebih ketat lagi.

Para bos perusahaan tentu mempertimbangkan untuk menggunakan AI jika memang terbukti lebih cepat dan murah. Bayangkan jika manusia membutuhkan 1 jam untuk menulis satu artikel pendek, mungkin AI hanya butuh sekian menit atau bahkan detik saja.

Untuk urusan akting saja sudah ada wacana untuk menggunakan AI, sehingga SAG-AFTRA melakukan aksi mogok yang dampaknya begitu luar biasa. Menurut World Economic Forum, tahun 2025 diprediksi akan ada 85 juta pekerjaan yang akan berpotensi diganti oleh AI.

Bahkan sebelum AI ini ramai seperti sekarang, banyak bidang pekerjaan yang telah digantikan oleh mesin. Contoh yang paling mudah adalah pegawai gerbang tol yang diganti Gardu Tol Otomatis (GTO) dan mesin order otomatis di restoran cepat saji.

Penulis belum mendalami secara menyeluruh bidang apa saja yang sangat berpotensi untuk digantikan AI. Namun, contoh yang Penulis sebutkan membuktikan kalau tidak ada bidang yang benar-benar aman untuk digantikan.

Lawan AI, Kita Harus Apa?

Bagaimana Cara Melawan AI? (CU Management)

Pada tulisan Mario Savio dan Pidatonya akan Bahaya Mesin (AI), Penulis sudah menuliskan bahwa salah satu cara untuk bisa survive dari persaingan kerja melawan AI ini adalah dengan terus mengasah skill kita, terutama yang sekiranya tidak tergantikan oleh AI.

Bisa dibilang, hingga saat ini manusia masih unggul untuk masalah kreativitas dan imajinasi. AI masih terasa terbatas untuk kedua hal tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa tahun lagi mereka bisa menyusul kemampuan kita.

Perlu dicatat kalau AI yang ada sekarang baru permulaan saja. Di masa depan, akan terus hadir AI-AI yang lebih canggih. Bahkan, sudah ada istilah Artificial General Intellegence (AGI) yang berusaha meniru konsep berpikir manusia serealistis mungkin. Terdengar seram, bukan?

Kabar baiknya, kemunculan AI kemungkinan besar juga akan melahirkan ladang pekerjaan baru. Masih menurut World Economic Forum, diproyeksikan akan ada 93 juta lapangan pekerjaan baru yang tercipta karena kemunculan AI.

Lho, bukannya tadi katanya kita harus bersaing dengan AI? Iya, itu benar, untuk pekerjaan-pekerjaan yang bisa diotomatisasi dengan AI. Namun, jangan lupa kalau AI masih membutuhkan orang untuk mengoperasikannya.

Iya, AI Masih Butuh Manusia untuk Dioperasikan.

Ilustrasi Pekerjaan Seorang AI Prompter (Generative AI)

Secanggih-canggihnya tools AI, mereka belum bisa mengoperasikan dirinya sendiri. Bahkan, autoblogging.ai yang mampu menghasilkan artikel berkualitas saja masih butuh manusia untuk memasukkan prompt atau perintah agar bisa generate tulisan.

Secanggih-canggihnya tools untuk membuat gambar tertentu, mereka belum bisa membuat gambar berdasarkan imajinasinya sendiri. Mereka membutuhkan imajinasi manusia untuk bisa menghasilkan gambar yang telah diperintahkan.

Oleh karena itu, selain terus melakukan upgrade diri dengan mempelajari skill-skill tertentu, kita juga harus bisa beradaptasi dengan cara belajar untuk menguasai tools-tools AI tersebut. Istilah kerennya adalah AI Prompter.

Secara sederhananya, AI Prompter bertanggung jawab untuk menuliskan sebuah perintah AI agar bisa memberikan hasil terbaik secara spesifik. Untuk bisa menguasainya, dibutuhkan beberapa basic skill seperti kemampuan menulis dan analitikal.

Selain AI Prompter tentu masih banyak ladang pekerjaan di seputar AI. Hanya saja, Penulis belum benar-benar memahaminya, sehingga tidak memasukkannya di tulisan ini. Yang jelas, AI bisa menjadi ancaman sekaligus peluang untuk kita.

Penutup

Bisa menguasai AI, termasuk menjadi seorang AI Prompter, adalah bentuk adaptasi kita sebagai manusia atas perubahan zaman. Kita harus bisa menerima kenyataan untuk hidup berdampingan dengan AI.

Menolak kehadiran AI sama dengan bagaimana pedagang di Tanah Abang menolak TikTok Shop dan ojek pangkalan menolak kemunculan ojek online. Kemunculan AI adalah disrupsi di berbagai bidang industri yang tak terhindarkan.

Maka dari itu, pilihan yang kita miliki sekarang adalah menyerah dengan keberadaan AI atau justru membalikkan keadaan dengan berusaha menguasai AI. Kita harus bisa memanfaatkan AI agar tidak terlindas zaman begitu saja.


Foto Featured Image: LinkedIn

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sosial Budaya

Pro dan Kontra Boikot Produk (Pendukung) Israel

Published

on

By

Semenjak serangan Hamas yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 2023 silam, tensi dunia terhadap konflik yang berkepanjangan antara Palestina dan Israel pun meninggi. Banyaknya korban yang berjatuhan membuat aksi protes terjadi di mana-mana.

Salah satu gerakan yang paling masif dilakukan adalah BDS Movement, yang merupakan singkatan dari Boycott, Divestment, Sanction. Ini sudah terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia sendiri yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.

Namun, boikot yang dilakukan terhadap produk-produk pendukung Israel menuai pro dan kontra. Ada yang menganggap ini sebagai bentuk keberpihakan, ada yang menganggap ini tidak berpengaruh dan hanya menyusahkan tenaga kerja kita sendiri

Dalam tulisan kali ini, Penulis akan memberikan berbagai perspektif yang sudah dirinya pelajari dalam beberapa waktu terakhir ini. Disclaimer, tulisan ini tidak bertujuan untuk menggiring opini para Pembaca sekalian.

Selain itu, Penulis juga tidak akan membahas mengenai penyebab konflik Palestina dan Israel karena sudah pernah menuliskannya di tulisan lain. Untuk Pembaca yang belum sempat membacanya, tautannya Penulis letakkan di bawah ini:

Apa Itu Boikot dan Mengapa Dilakukan?

Aksi Seruan Boikot (The Intercept)

Secara sederhana, boikot adalah sebuah aksi yang dilancarkan oleh sejumlah massa untuk tidak membeli sebuah produk buatan atau yang berafiliasi dengan pihak yang diboikot. Dalam kasus ini, boikot ditargetkan kepada produk-produk buatan Israel dan yang mendukung Israel.

Boikot bisa dikatakan sebagai langkah untuk menekan Israel dari segi ekonomi atas tindakannya yang semakin menekan Gaza setelah serangan Hamas, dengan dalih ingin memberantas pasukan Hamas sampai ke akarnya.

Alhasil, sejumlah produk yang secara terang-terangan mendukung Israel pun mulai terkena dampaknya. Beberapa gerai makanan cepat saji di negara mayoritas muslim seperti Timur Tengah terlihat sepi, bahkan nyaris kosong.

Di Indonesia sendiri, dari yang sejauh Penulis amati baik di sekelilingnya maupun di media sosial, ajakan gerakan boikot ini juga terjadi cukup masif. Apalagi, telah beredar nama-nama produk yang masuk ke dalam daftar boikot.

Apakah Boikot Efektif?

Apakah Boikot Efektif? (Middle East Monitor)

Lantas, apakah boikot benar-benar efektif? Penulis, hingga artikel ini ditulis, belum menemukan data yang menjelaskan berapa kerugian yang diderita oleh Israel semenjak adanya boikot ini.

Namun, sebagian orang berpendapat kalau boikot ini memang sejak awal tidak menargetkan untuk melemahkan ekonomi Israel yang sejatinya cukup kuat dan mendapatkan backing-an dari negara-negara Barat. Boikot ini adalah tentang keberpihakan.

Penulis membuat analogi seperti ini. Misal Penulis memiliki dua orang tetangga, yang satu sahabat Penulis dan yang satu lagi pemilik toko kelontong. Penulis sering membeli di toko tersebut. Akan tetapi, suatu ketika si pemilik toko berkonflik dan menyerang sahabat Penulis.

Merasa tidak terima, Penulis pun memutuskan untuk tidak membeli lagi di toko tersebut. Penulis melakukan boikot karena solidaritas kepada sahabat Penulis yang disakiti. Toko tersebut kehilangan satu konsumennya atas konsekuensi yang dilakukan pemiliknya.

Lantas, apakah toko tersebut akan menjadi bangkrut begitu saja? Tentu tidak, karena masih ada banyak pembeli lainnya yang tetap membeli di sana karena berbagai alasan seperti harganya yang terjangkau. Penulis tidak lagi membeli di sana karena berpihak ke sahabatnya.

Itu pula yang terjadi saat ini di antara konflik Palestina dan Israel. Kaum Pro-Palestina melakukan boikot terhadap produk-produk yang menyatakan dukungan kepada Israel secara terang-terangan dan memberikan bantuan dalam peperangan.

Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk solidaritas kepada Palestina. “Karena kamu mendukung Israel yang merupakan musuh Palestina, maka kami tidak akan membeli lagi produk-produkmu,” kurang lebih seperti itu premisnya.

Kalaupun ada yang berniat ingin melumpuhkan ekonomi Israel, ya tidak apa-apa. Ketika Nabi Ibrahim dibakar, sekelompok semut berusaha memadamkannya dengan tenaganya yang kecil, menyiprat-nyipratkan air ke api tersebut.

Usaha mereka pun ditertawakan oleh burung gagak karena dianggap tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. Namun, semut berkata, “Walaupun upayaku ini tidak terlalu berdampak, setidaknya Allah tahu di mana kami berpihak.”

Boikot kok Pilih-Pilih?

Beberapa Produk yang Kerap Diserukan untuk Diboikot (YouTube)

Bagi mereka yang kontra terhadap boikot, sering muncul pertanyaan, “Kalau begitu, boikot semuanya dong, jangan pilih-pilih!” Sebenarnya ekspresi ini wajar saja, di mana pihak pro-boikot dituntut untuk menunjukkan konsistensinya.

Seperti yang kita tahu, produk-produk teknologi dan digital seperti Google, Microsoft, Meta (Facebook) juga menjadi salah satu pendukung Israel yang paling vokal. Namun, produk-produk mereka masih digunakan untuk mereka yang mengklaim dirinya pro-boikot.

Mengutip dari berbagai ustaz yang Penulis lihat di media sosial (yang merupakan buatan Meta dan Google), pada dasarnya boikot yang dilakukan ini adalah meminimalisir penggunaan produk yang menjadi pendukung Israel.

Harus diakui kalau ada banyak sektor yang di mana kita sangat tergantung padanya. Contoh gampangnya adalah Instagram dan YouTube yang sudah menjadi keseharian kita. Apakah ada media lain yang sebanding dan bisa menggantikannya? Sampai saat ini belum ada.

Contoh lainnya adalah Windows buatan Microsoft atau Android buatan Google. Apakah ada sistem operasi alternatif yang bisa jadi penggantinya? Belum ada. Lantas, apakah kita bisa hidup tanpa produk tersebut? Bagi sebagian orang termasuk Penulis, jawabannya tidak.

Mengutip perkataan kawan Penulis, kita bisa menggunakan produk-produk tersebut untuk menyerukan kebaikan. Kita buat hal yang bermanfaat atau bahkan menyerukan kemerdekaan Palestina menggunakan media-media tersebut.

Nah, kalau sudah ada produk yang sebanding, maka para pro-boikot menganjurkan untuk menggantinya. Lebih baik lagi kalau menggantinya dengan produk-produk lokal, hitung-hitung mendukung produk buatan negeri sendiri.

Lantas, Bagaimana dengan Nasib Pekerja?

Pekerja di Salah Satu Perusahaan yang Sedang Diboikot (Fortune)

Salah satu dilema yang dihadapi oleh pro-boikot adalah dampak yang diterima oleh para pekerjanya, yang notabene menggantungkan hidup melalui produk-produk yang diboikot. Padahal, mereka semua belum tentu menjadi pendukung Israel.

Jika boikot berlangsung masif, bukan tidak mungkin omset perusahaan akan menurun yang akan memicu layoff besar-besaran. McDonald’s di Mesir mengatakan penjualan turun hingga 70%, sedangkan di Malaysia turun di kisaran 20%.

Harus diakui kalau boikot akan memengaruhi kehidupan banyak orang. Penulis pernah menemukan sebuah curhatan dari abang Grab yang mengatakan pendapatannya menurut drastis karena aksi boikot ini, apalagi Grab juga jadi salah satu sasaran boikot.

Namun, ini opini pribadinya, Penulis meyakini kalau rezeki itu diatur Tuhan, bukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Penulis meyakini kalau Tuhan tidak akan diam saja jika boikot ini sampai membuat banyak saudara kita kehilangan pekerjaan.

Ketika kita melakukan boikot terhadap sebuah produk, otomatis kita akan beralih ke produk lain. Jadi, secara hitung-hitungan matematis sebenarnya kebutuhan masyarakat tidak berkurang, hanya berpindah saja.

Idealnya, ketika kita beralih ke produk lain (termasuk produk lokal), maka omset mereka naik. Karena demand naik, maka mereka akan membuka lowongan-lowongan pekerjaan baru. Ini memang too good to be true dan utopis, tapi Penulis meyakini kalau hal ini bisa terjadi.

Mungkin ada yang beranggapakan kalau Penulis bisa ngomong seenteng itu karena tidak bekerja di sana, dan itu ada benarnya. Jika Penulis bekerja di sana dan terancam terkena layoff karena boikot, mungkin Penulis tidak akan berpikir setenang itu.

Namun, sejauh yang Penulis temukan lewat media sosial, justru mereka yang bekerja di sana terlihat lebih legawa. Abang Grab yang Penulis sebutkan tadi justru berkata dirinya ikhlas karena itu bagian dari perjuangannya mendukung Palestina.

Dalam kasus lain, beberapa toko kelontong dan swalayan memutuskan untuk tidak menjual (bahkan membuang) produk-produk yang masuk ke dalam daftar boikot sebagai bentuk dukungan nyata mereka ke Palestina (walau ada yang tidak setuju karena jadi mubazir).

Pasti akan ada yang mengeluh mengapa di saat pekerjaan susah didapatkan seperti sekarang, kita justru membuat mereka kehilangan pekerjaan. Tak sedikit yang menuntut kepada pendukung boikot untuk “bertanggung jawab” atas hilangnya pekerjaan mereka.

Penutup

Jika sudah membaca sampai sini, mungkin para Pembaca akan menyimpulkan Penulis pro-boikot, dan itu memang benar. Jadi Penulis minta maaf jika Pembaca merasa opininya digiring, meskipun di atas sudah ada disclaimer kalau tidak ada niatan ke sana.

Yang perlu Pembaca ketahui, awalnya Penulis pun tidak pro-boikot. Sudah dampaknya tidak seberapa, yang kena getahnya justru masyarakat kita sendiri karena mereka berpotensi kehilangan pekerjaannya.

Hanya saja, semakin Penulis mendalami masalah perboikotan ini, hati nurani Penulis semakin terdorong untuk mendukung boikot yang sebenarnya bisa dianggap sebagai aksi paling damai dibandingkan mengangkat senjata yang belum tentu kita mampu.

Memang masih banyak aksi lain yang bisa kita lakukan untuk mendukung Palestina, seperti bersuara di media sosial dan memberikan sumbangan semampunya. Namun, tidak ada salahnya juga untuk menunjukkan keberpihakan kita dengan mendukung boikot.

Penulis juga berusaha mendengar bagaimana pendapat para ahli agama yang jelas iman dan ilmunya lebih tinggi dari Penulis. Karena mayoritas mendukung boikot, maka Penulis pun semakin mantap untuk pro-boikot.

Lantas, apakah yang kontra dengan boikot itu salah? Jelas tidak sama sekali. Mereka juga punya pertimbangan masing-masing yang Penulis yakini juga didasari atas kebaikan dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, silakan mau pro ataupun kontra terhadap gerakan boikot produk-produk Israel dan pendukungnya. Mari kita saling menghargai pilihan masing-masing tanpa menghakimi dan merasa dirinya yang paling benar.


Foto Banner: Middle East Monitor

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan