Olahraga
Menerka Formasi MU dengan Kedatangan Pemain Baru
Jika dibandingkan dengan bursa transfer sebelumnya, bisa dibilang pembelian Manchester United (MU) musim ini cukup tetap sasaran dan sesuai dengan kebutuhan tim. Celah-celah yang menjadi PR musim lalu berusaha dibenahi dengan mendatangkan pemain berkualitas.
Jadon Sancho didatangkan untuk mempertajam lini depan, sedangkan Raphael Varane seolah menjadi jawaban dari keroposnya pertahanan MU. Setan merah hanya butuh mendatangkan satu pemain defensive midfielder yang mumpuni.
Selain dua nama tersebut, MU juga berhasil “memulangkan” Cristiano Ronaldo dan Tom Heaton. Penulis pun jadi merasa tertantang untuk menerka formasi baru MU dengan kedatangan para pemain baru ini.
Lini Depan Manchester United

Kepulangan Cristiano Ronaldo ini bisa dibilang tidak direncanakan dan terjadi secara mendadak. Lini depan MU seolah surplus pemain. Sebelum kedatangannya, MU sudah punya nama-nama seperti:
- Marcus Rashford
- Edinson Cavani
- Mason Greenwood
- Amad Diallo
- Anthony Martial
- Daniel James
Musim kemarin, pemain yang kerap dimainkan adalah Rashford-Cavani-Greenwood, di mana nama lain menjadi pelapis. Dengan kedatangan Sancho dan Ronaldo secara bersamaan, mau tidak mau akan ada nama-nama yang harus rela menjadi penghangat bangku cadangan.
Kemungkinan besar, Rashford-Ronaldo-Sancho akan menjadi pemain yang akan bermain reguler. Melihat Sancho masih under perform, mungkin posisinya bisa digantikan oleh Greenwood yang semakin menunjukkan kematangannya.
Cavani yang kemarin bermain dengan cukup baik bisa menjadi pengganti yang sepadan untuk Ronaldo. Dirinya yang kerap dilanda cedera memang lebih cocok untuk menjadi cadangan dan menjadi super-sub.
Diallo sendiri sempat diisukan akan dipinjamkan ke klub lain agar mendapatkan jam terbang yang lebih banyak. Kabar terakhir, perpindahan tersebut batal karena Diallo sedang mengalami cedera.
Martial pun begitu. Ia dianggap fans sebagai pemain yang malas dan tidak mampu mencetak gol secara rutin. Apalagi, ia juga kerap cedera, sehingga Penulis benar-benar berharap ia akan dijual musim ini untuk menambah pemasukan klub.
Untuk James, sangat Penulis sayangkan karena permainannya cukup inkonsisten dan cenderung mengalami penurunan sehingga posisinya hanya sebagai pelapis. Kabar terakhir, James akhirnya pindah ke Leeds United.
Lini Tengah Manchester United

Sejak awal bursa transfer dibuka, fans berharap kalau Manchester United akan mendatangkan defensive midfielder (DMF) baru. Posisi tersebut dianggap sebagai lubang yang harus segera ditambal.
Sebenarnya, MU sudah punya beberapa nama yang sayangnya kurang bisa mengisi posisi tersebut dengan baik. Beberapa nama pemain yang mengisi lini tengah MU adalah:
- Bruno Fernandes
- Paul Pogba
- Fred
- Scott McTominay
- Jesse Lingard
- Donny van de Beek (VDB)
- Juan Mata
- Nemanja Matic
Peran Bruno Fernandes tidak perlu dipungkiri lagi. Ia menjadi otak permainan tim. Begitu pula dengan Pogba yang cukup krusial. Meskipun sering dipasang di sayap kiri, permainannya bisa dibilang cukup konsisten.
Nah, posisi DMF yanng dibutuhkan oleh MU kerap diisi oleh Fred dan McTominay. Sayangnya, kedua pemain ini dianggap kurang bisa menampilkan permainan terbaiknya untuk mengisi posisi tersebut.
Lingard Penulis harapkan bisa menjadi “alat tukar” demi mendapatkan gelandang bertahan milik West Ham United, Declan Rice. Sistem tukar pemain menjadi hal yang masuk akal, mengingat MU sudah menggelontorkan dana cukup besar musim ini.
VDB menjadi pemain yang mengalami nasib tragis. Walaupun fans kerap meminta Ole memainkannya, nyatanya ia terus menjadi penghangat bangku cadangan. Mau dipasang sebagai DMF pun kurang cocok karena posisi aslinya sama seperti Bruno.
Untuk Mata dan Matic, mereka adalah (mantan) pemain bagus yang sudah dimakan usia. Kehadiran mereka hanya sebagai pelapis utama jika ada pemain inti yang mengalami cedera maupun akumulasi kartu.
Sayangnya hingga bursa transfer ditutup, tidak ada satu pun pemain DMF yang menandatangani kontrak dengan MU. Nampaknya para fans harus puas dengan pemain yang sudah ada.
Lini Pertahanan Manchester United

Pertahanan MU kerap mendapatkan catatan karena kadang begitu mudah ditembus oleh lawan. Harry Maguire selaku kapten seolah tidak punya pasangan yang cocok untuk menjaga pertahanan.
Masalah tersebut diatasi dengan mendatangan Raphael Varane. Pengalamannya dan banyaknya piala yang berhasil ia raih bersama Real Madrid diharapkan bisa mengubah wajah pertahanan MU.
Berikut adalah daftar nama defender yang dimiliki oleh MU:
- Harry Maguire
- Raphael Varane
- Luke Shaw
- Aaron Wan-Bissaka
- Eric Bailly
- Victor Lindelof
- Diogo Dalot
- Alex Telles
- Phil Jones
Maguire, Varane, Shaw, dan Wan-Bissaka akan menjadi pemain tetap yang susah untuk tergantikan. Melihat daftar nama ini, Penulis sedikit merasa optimis bahwa pertahanan MU akan lebih baik lagi.
Sebagai pelapis ada Telles, Bailly, Lindelof, dan Dalot. Mereka akan mendapatkan waktu bermain yang minim sekali karena kalah saing dengan empat nama sebelumnya. Mereka cukup menjadi back up atau dimainkan di kompetisi semacam FA Cup dan Carabao Cup.
Yang Penulis heran, entah mengapa Phil Jones masih berada di dalam skuad MU. Sejak Januari 2020, ia belum pernah bermain lagi. Penulis juga menyayangkan kepindahan Brandon William ke Norwich City untuk menambah jam bermainnya.
Penjaga Gawang Manchester United

Kalau untuk sektor yang satu ini, Penulis bisa bernapas lega karena ada dua nama yang cukup kompetitif: David De Gea dan Dean Henderson. Penulis sendiri lebih suka jika De Gea yang menjadi penjaga gawang utama, dengan Henderson sebagai pelapisnya.
Selain itu, MU juga masih punya Lee Grant dan Tom Heaton. Mungkin, kedua nama ini lebih berperan dalam staf kepelatihan, Penulis juga kurang tahu kenapa MU punya banyak kiper.
Satu hal yang melegakan adalah akhirnya Sergio Romero bisa keluar dari MU. Entah apa “dosa” yang dimiliki oleh kiper asal Argentina tersebut sehingga seolah terkesan “diasingkan” oleh klub.
Menerka Formasi MU

Dengan daftar pemain seperti itu, bagaimana formasi dan strategi yang akan digunakan oleh Ole? Ada beberapa varian yang bisa digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan tim.
Selama ini, Ole identik dengan pakem 4-2-3-1. Kedatangan Ronaldo bisa membuatnya didaulat menjadi ujung tombak klub. Kurang lebih, seperti inilah susunan pemainnya:
De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Pogba, Fred; Rashford, Bruno, Sancho; Ronaldo
Formasi alternatif yang bisa digunakan adalah 4-3-3, di mana sebenarnya sangat cocok dengan MU yang memiliki pemain depan dengan kecepatan di atas rata-rata. Susunan pemainnya sedikit berubah menjadi seperti ini:
De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Fred, Pogba, Bruno; Rashford, Ronaldo, Sancho
Apakah mungkin MU menggunakan formasi 4-4-2 klasik seperti yang sering diterapkan oleh Sir Alex? Bisa saja, mengingat MU masih punya Cavani. Hanya saja, formasi ini kurang bisa mengakomodir posisi Bruno sebagai playmaker. Apalagi, MU tidak punya DMF yang bagus.
MU jarang menggunakan formasi lima atau tiga bek, kecuali melawan klub besar yang kualitas pemainnya di atas pemain MU. Formasi 3-6-1, 3-4-3, atau 5-4-1 bisa saja diterapkan. Hanya saja, Penulis lebih yakin kalau formasi yang diterapkan antara 4-2-3-1 atau 4-3-3.
Mau formasi manapun yang akhirnya dipakai, semoga saja kedatangan para pemain baru MU bisa membuat klub kesayangan Penulis ini bisa mengangkat tropi lagi.
Lawang, 31 Agustus 2021, terinspirasi setelah Manchester United mendatangkan beberapa pemain berkualitas
Foto: Evening Standard
Olahraga
Menatap Masa Depan Manchester United Bersama Michael Carrick
Penggemar Manchester United (MU) di seluruh dunia tampaknya sedang menjalani pekan-pekan yang selalu berbahagia belakangan ini. Semenjak Michael Carrick menggantikan Ruben Amorim, MU masih tak terkalahkan!
Dalam enam pertandingan terakhir bersama Carrick, MU berhasil mencatatkan lima kemenangan dan satu kali imbang. Memang fans yang itu gagal potong rambut, tapi setidaknya trennya sudah semakin positif.
Catatan ini semakin impresif karena di periode pertama Carrick menjadi pelatih interim, ia juga tak terkalahkan dalam tiga laga (dua kali menang dan satu kali imbang). Artinya, selama melatih MU, ia belum pernah kalah.

Tentu catatan ini membuat banyak penggemar merasa optimis MU akan kembali ke masa jayanya bersama Carrick, walau ada isu kalau ia tak akan diperpanjang setelah musim ini berakhir.
Terlepas dari ketidakpastian itu, mari kita menatap masa depan Manchester United bersama Michael Carrick.
Formasi 4-2-3-1 yang Fluid dan Transisi Cepat

Salah satu alasan mengapa banyak fans MU yang jengkel ke Amorim adalah betapa ngotot dan keras kepalanya ia dalam memaksakan filosofinya ke dalam tim. Seperti yang kita tahu, sejak bergabung ia menggunakan formasi 3-4-2-1 seperti di Sporting Lisbon.
Masalahnya, dalam beberapa pertandingan kita bisa melihat kalau formasi ini kurang sesuai dengan komposisi pemain yang dimiliki oleh MU. Dalam beberapa pertandingan yang Penulis lihat, para pemain terlihat kesulitan menerapkan strategi yang diinstruksikan Amorim.
Memang pembelian di awal musim ini untuk melengkapi strategi yang ia miliki, tapi tetap saja kurang. Menjelang lengser, memang ia terlihat mulai fleksibel dan tidak memaksakan skemanya lagi, tapi ternyata sudah terlalu terlambat.
Carrick pun datang dan menerapkan formasi tradisional 4-2-3-1, yang sebelumnya juga digunakan oleh Ole Gunnar Solkjaer dan Erik Ten Hag. Nah, Penulis melihat kalau Carrick seolah memadukan strategi dari kedua pelatih tersebut.
Di bawah Ole, empat pemain depan bermain dengan cukup fluid dan kerap bertukar posisi. Posisi mereka bisa bergeser-geser sehingga pertahanan lawan pun tampak kesulitan untuk mengantisipasi serangan MU.
Sementara itu di bawah Ten Hag, ia memiliki ambisi untuk menjadikan MU sebagai tim transisi terbaik alias mampu mengonversi counter attack dengan baik. Nah, dua hal tersebut kembali dimunculkan oleh Carrick.
Gol ke Gawang Everton, Rangkuman Strategi Carrick

Dalam enam pertandingan ini, Carrick selalu memasang Bryan Mbuemo di ujung tombak dan ditopang oleh Patrick Dorgu/Matheus Cunha, Bruno Fernandes, dan Amad Diallo. Keempat pemain ini sangat sering terlihat bertukar posisi di lapangan secara fleksibel.
Benjamin Sesko memang belum pernah menjadi starting line-up, tapi ia kerap berhasil menjadi super-sub dan mencetak gol penentu. Terakhir, tentu saja ketika laga melawan Everton kemarin yang merupakan hasil dari counter-attack cepat.
Nah, bicara tentang gol melawan Everton kemarin, bisa dibilang gol tersebut merangkum strategi MU di bawah Carrick. Selain lini depan yang fluid dan counter attack yang cepat, kunci MU adalah di long pass.
Gol tersebut bisa tercipta dari umpan panjang Cunha ke Mbuemo, sebelum akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Sesko. MU di bawah Carrick memang terlihat cukup sering mengirim umpan panjang ke depan maupun untuk switch play.
Oleh karena itu, kehilangan lagi Lisandro Martinez merupakan kehilangan besar bagi MU. Pasalnya, bek tersebut memiliki akurasi umpan panjang yang cukup akurat dan tidak ada bek MU lain yang memiliki kemampuan seperti itu.
Sesko Sebagai Super-Sub

Kembali ke Sesko. Dalam pertandingan di bulan Februari saja, ia sudah berhasil mencetak tiga gol krusial, di mana dua menjadi penentu kemenangan dan menyelamatkan MU dari kekalahan ketika melawan West Ham.
Kekurangan MU di bawah Carrick adalah melawan tim yang menerapkan low block. MU sering terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan yang rapat, apalagi Mbuemo sejatinya bukanlah tipe target man.
Nah, Sesko adalah jawaban dari kekurangan tersebut. Penulis tidak tahu apa alasan Carrick tidak memasang Sesko sejak awal ketika berhadapan dengan tim low block, tapi ketika ia masuk, perubahan bisa langsung terlihat.
Sesko sudah mencetak 3 gol sepanjang bulan Februari ini. Sebagai perbandingan, total golnya dari awal musim hingga Januari 2026 hanya 4 gol. Sesko rasanya cocok dengan skema yang dimiliki oleh Carrick.
Perubahan Peran Pemain Lainnya

Berbicara tentang improvement, kita juga harus melihat Kobbie Mainoo yang sempat “disia-siakan” oleh Amorim karena jarang mendapatkan jam bermain. Di bawah Carrick, ia selalu menjadi langganan lineup.
Karena Carrick menggunakan formasi 4-2-3-1, tentu dibutuhkan double pivot untuk menemani Casemiro. Mengingat Manuel Ugarte kurang sip, tentu Mainoo adalah opsi tersisa dan untungnya ia bisa menjawab tantangan tersebut.
Fernandes juga akhirnya dikembalikan ke posisi aslinya sebagai pemain nomor 10. Di bawah Amorim, ia kerap bermain lebih mundur atau sedikit ke kiri, sehingga terlihat kurang mampu berperan sebagai playmaker.
Jangan lupakan juga performa luar biasa Senne Lammens yang kerap melakukan penyelamatan krusial. Penulis awalnya sempat meragukannya, tapi ia menunjukkan kapabilitasnya sebagai kiper top yang jauh lebih baik dari Andre Onana.
Pemain lain yang berubah posisi adalah Luke Shaw, yang sebelumnya sering dijadikan sebagai CB oleh Amorim. Ia kembali ke posisinya semula sebagai LB, sedangkan Dorgu yang juga berposisi sama dimajukan menjadi LM.
Nah, seandainya Dorgu sudah kembali fit, tentu Carrick akan pusing dalam menentukan pemain utamanya karena Cunha juga menunjukkan performa yang oke. Hanya saja, itu juga patut disyukuri karena artinya MU mulai punya kedalaman skuad yang baik.
***
Jika MU mampu bermain baik terus seperti ini, maka slot Liga Champions seharusnya bisa diamankan setelah musim ini tidak berlaga di turnamen Eropa mana pun.
Tentu masih PR yang harus dikerjakan Carrick apabila ia diperpanjang oleh manajemen MU, terutama mencari pengganti Casemiro yang kontraknya habis. Setidaknya, untuk saat ini, Penulis ingin menikmat masa “bulan madu” MU bersama Carrick.
Lawang, 25 Februari 2026, terinspirasi setelah menonton Manchester United tak terkalahkan selama 10 pertandingan terakhir
Olahraga
“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
Bulan Desember ini rasanya tidak ramah bagi pendukung Manchester United (MU). Pasalnya, banyak sekali pertandingan MU yang dimainkan pukul 3 pagi waktu Indonesia Barat. Iya kalau menang, kalau seri atau kalah jadi terasa sia-sia bangun sepagi itu.
Salah satu pertandingan yang baru saja usai adalah saat menjamu Bournemouth, yang berlangsung pada hari Selasa (16/12) kemarin. Pertandingan yang berlangsung dramatis tersebut harus berakhir imbang dengan skor fantastis, 4-4.
Mungkin banyak pendukung (termasuk Penulis) MU yang merasa bahwa situasi tim saat ini sudah membaik. Setelah mengalami musim neraka sebelumnya, kondisi yang ada sekarang jelas terasa sudah cukup, setidaknya untuk menghindari bully dari pendukung tim lain.

Evaluasi Singkat Pertandingan Melawan Bournemouth

Mengingat MU sekarang sering dianggap sebagai klub papan tengah, Bournemouth adalah salah satu lawan yang membuat kami sering merasa deg-degan. Pasalnya, klub tersebut cukup rajin membobol gawang MU, bahkan pernah dua kali menang 3-0 di Old Trafford di musim 23/24 dan 24/25.
Musim ini, Bournemouth berhasil menjebol empat gol di Old Trafford, yang untungnya MU juga bisa mencetak jumlah gol yang sama. Pertandingan tersebut memang bagaikan sebuah roller coaster, dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 2-3, 3-3, 4-3, hingga akhirnya 4-4.
Terlepas dari hasilnya, sebenarnya Penulis melihat kalau MU memiliki progres yang terlihat. Dalam pertandingan kemarin contohnya, lini penyerangan MU terlihat lebih berbahaya dan berhasil mencatatkan banyak peluang hingga 25 tembakan (17 di antaranya di babak pertama).
Namun, serangan yang banyak tersebut nyatanya jadi sia-sia karena banyak finisihing yang kurang klinis. Mbuemo yang biasanya moncer terlihat agar kurang kemarin, karena beberapa kali membuang peluang emas di depan gawang. MU sejatinya bisa mencetak lebih dari empat gol.
Setidaknya, pola serangan MU jadi lebih jelas dan enak untuk ditonton, beda dengan musim lalu yang kayak enggak jelas mau bermain seperti apa. Set piece MU juga makin tajam, di mana musim ini telah mencetak 11 gol dari kondisi ini.
Sisi pertahanan pun patut disorot. Kebobolan 10 dalam tiga laga terakhir ketika menjamu Bournemouth di kandang jelas bukan raihan yang impresif. Memang, ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kebobolan empat, asal bisa mencetak lima. Masalahnya MU hanya bisa mencetak empat.
Dari sisi kiper, Lammens yang menggantikan Onana berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial terutama di menit-menit akhir. Hanya saja, ia juga melakukan kesalahan ketika telat melompat saat Bournemouth mendapatkan tendangan bebas di depan gawang.
Amorim menurunkan dua bek muda pada pertandingan kemarin, yakni Yoro dan Heaven, karena Maguire dan De Light masih berhalangan untuk tampil. Mereka berdua tampil cukup solid, bahkan mungkin lebih baik dari Shaw yang kemarin sempat kehilangan bola dan berujung kebobolan.
Jika disimpulkan, musim ini para pemain MU tampak sudah mulai nyetel dengan formasi 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim. Tak hanya itu, sang pelatih juga tampaknya mendengarkan masukan dan mulai mengubah sedikit strateginya.
Perubahan Strategi Amorim

Sejak menangani MU, Ruben Amorim dan strateginya kerap disorot. Dengan status sebagai manajer terburuk setelah era Sir Alex Ferguson, banyak yang menganggap formasi 3-4-2-1 yang ia usung tak cocok untuk MU.
Amorim tak menyerah begitu saja pada filosofinya, lantas ia mendatangkan tiga pemain baru agar strateginya bisa lebih jalan. Hal tersebut memang terlihat karena MU jelas lebih moncer dibandingkan setengah musim lalu.
Satu hal yang paling terlihat dari pertandingan kemarin adalah perubahan strategi dari Amorim. Melansir dari tulisan analis Alex Keble, Amorim mencoba bereksperimen dengan empat bek “palsu”, dengan Yoro main di sisi kanan.
Dengan demikian, posisi Diallo yang di atas kertas merupakan bek sayap kanan bisa lebih maju untuk membantu lini penyerangan. Ia bersama Mbuemo, Mount, dan Fernandes menjadi pemain yang menyokong Cunha yang kemarin dipasang sebagai false 9.
Sementara itu, Casemiro diplot sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, alias menjadi penyeimbang. Jadi, walau di atas kertas posisi MU 3-4-2-1, di lapangan bisa berubah seperti 4-1-4-1.
Jika Dalot ikut menyerang, maka formasinya akan bisa berubah menjadi 3-1-1-5, di mana Fernandes yang akan menjadi pengatur serangan dengan memanfaatkan overload pemain di depan. Namun, tentu pola ini sangat rentan terkena serangan balik.
Ketika tertinggal, MU berubah formasi menjadi 4-2-4 di mana Sesko dimasukkan. Strategi ini sempat berhasil karena berhasil membuat MU berbalik unggul. Sayangnya, Amorim tidak segera mengubah formasi menjadi lebih defensif sehingga MU kembali kebobolan.
Perubahan strategi ini memang terlihat berhasil karena MU bisa mencetak gol banyak. Meskipun Sesko masih sering terlihat enggak ngapain-ngapain dan Mount inkonsisten, setidaknya permainan Cunha, Mbuemo, dan Diallo bisa memberikan harapan.
Satu hal lain yang perlu dicatat adalah bagaimana pemain MU tidak terlalu terpatok pada posisinya, sehingga alur serangan terlihat sangat fluid. Dalot tiba-tiba bisa di tengah, Cunha sering turun ke dalam untuk jemput bola, Mount kerap melebar, dan seterusnya.
Di sisi lain, strategi tersebut menimbulkan celah yang cukup lebar di belakang. Selain Casemiro yang harus cover banyak area, jarak antarbek pun cukup lebar dan celah tersebut kerap dimanfaatkan.
Dalam pertandingan kemarin, bisa dilihat ketika situasi bola berhasil direbut ketika sedang build up serangan, pemain MU terlihat kewalahan dalam menjaga pemain lawan sekaligus menutup area agar tidak dieksploitasi. Casemiro bahkan sampai melakukan pelanggaran yang berujung gol.
Memang ada faktor pengalaman, mengingat Yoro dan Heaven bahkan belum berusia 20 tahun. Jika De Ligt dan Maguire telah kembali (dan Martinez telah menemukan kembali performa terbaiknya), strategi ini terlihat sangat menjanjikan.
***
Jika melihat sekarang, memang situasinya terlihat lebih baik. Bertengger di peringkat enam setelah musim lalu finis di peringkat 15 jelas membuat kami merasa senang. Padahal, dalam tujuh pertandingan terakhir, MU hanya bisa menang dua kali. Sungguh keajaiban.
Namun, bukan berarti kondisi tim sudah membaik secara menyeluruh. Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar tim setan merah ini bisa segera kembali ke jajaran tim top Eropa dan agar Frank Ilett segera memotong rambutnya.
Lawang, 18 Desember 2025, terinspirasi setelah menonton pertandingan antara MU vs Bournemouth
Foto Featured Image: Kompas Bola
Sumber Artikel:
- Analisis Banyak Gol & Kebobolan Manchester United | Lubang di Sistem 3 Bek Amorim – Ruang Taktik
- Why Man United Just Had Their Best Performance Under Ruben Amorim – The Adam Clery Football Channel
- Chaos at Old Trafford: Attacks reign in 4-4 draw for the ages – Premier League
- Manchester United football club: record v AFC Bournemouth – 11vs11
- Man Utd Player Ratings vs. Bournemouth: Breathless Goal-Fest Leaves Both Teams Unhappy – Sports Ilustrated
Olahraga
Lando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
Ketika baru dimulai, banyak yang merasa kalau musim Formula 1 (F1) 2025 akan terasa membosankan. Dominasi McLaren dari akhir 2024 berhasil dipertahankan, sehingga siapa yang akan menjadi juara sudah bisa ditebak.
Apalagi, musim ini akan menjadi musim terakhir sebelum tahun depan akan berganti regulasi yang benar-benar baru. Belum ada yang bisa menebak siapa yang akan dominan di musim depan, apalagi dengan jumlah tim yang bertambah menjadi 11.
Namun, siapa sangka kalau ternyata musim ini masih bisa terasa seru bahkan hingga balapan terakhir di Abu Dhabi. Memang, prediksi banyak orang terbukti dengan McLaren dan Lando Norris berhasil menjadi juara. Namun, perjalanan menuju juara tak semulus yang terlihat.

Dominasi McLaren Sejak Awal Musim

Sejak awal musim, kita bisa melihat kalau McLaren tampaknya akan berhasil mempertahankan gelar juara konstruktornya. Dari pra-musim di Bahrain saja, pace mereka sudah terlihat sangat kencang hingga banyak yang menyebut mereka menggunakan mesin roket. Tinggal melihat, siapakah di antara Lando Norris dan Oscar Piastri yang akan menjadi juara.
Di sisi lain, Max Verstappen bersama Red Bull terlihat cukup kesulitan mengimbangi performa duo Mclaren. Julukan “mobil traktor” pun sampai muncul. Bahkan, Liam Lawson yang menjadi pengganti Sergio Perez hanya bertahan dua balapan sebelum turun ke Racing Bulls dan digantikan oleh Yuki Tsunoda.
Buruknya performa Red Bull juga diperparah dengan masalah internal tim. Seperti yang kita tahu, di pertengahan musim, Christian Horner selaku Team Principal Red Bull selama 20 tahun terakhir didepak pada tanggal 9 Juli 2025 dan digantikan oleh Laurent Mekies.
Sementara itu, tim-tim lain juga tampak biasa saja. Mercedes harus kehilangan Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari dan mendebutkan Kimi Antonelli . Ferrari ya begitu-begitu saja, susah untuk diharapkan, walau sudah kedatangan juara dunia tujuh kali.
Pada balapan pertama di Australia, Norris berhasil mengunci kemenangan. Verstappen secara mengejutkan berhasil mengunci posisi kedua, sedangkan Piastri harus kehilangan banyak posisi akibat kesalahan yang ia lakukan.
Walau begitu, Piastri berhasil bangkit dengan meraih kemenangan di China. Bahkan, setelah kemenangan Verstappen di Jepang, ia berhasil mencetak tiga kemenangan beruntun di Bahrain, Arab Saudi, dan Miami. Ia pun berhasil mengudeta Norris di puncak klasemen dan berhasil bertahan selama beberapa bulan.
Setelah itu, praktis Norris dan Piastri bergantian menang hingga Belanda, dengan George Russel berhasil mencuri satu kemenangan di Kanada. Norris berhasil menang di Monaco, Austria, Inggris, dan Hungaria. Sementara itu, Piastri menambah kemenangan di Spanyol, Belgia, dan Belanda.
Bagaimana dengan Verstappen? Bisa dibilang ini adalah fase tersuramnya di musim 2025. Setelah kemenangan di Italia, ia hanya dua kali naik ke podium, yakni di Kanada dan Belanda. Keduanya sama-sama juara dua, tidak ada satu pun kemenangan yang ia raih.
Comeback Epik Verstappen dan Menurunnya Performa Piastri

Dipecatnya Horner terbukti ampuh dalam memperbaiki performa tim. Di bawah arah Mekies, perlahan Verstappen dan Red Bull kembali menunjukkan raihan impresif. Sejak di Belanda, ia berhasil selalu raih podium!
Di pertengahan musim, ketika Piastri sedang menjadi pemuncak klasemen, jarak Verstappen mencapai 104 poin. Oleh karena itu, sebuah raihan yang luar biasa ia berhasil mengejar ketertinggalan tersebut hingga hanya dua poin saja di akhir musim!
Dari 10 balapan terakhir di musim ini, Verstappen juga berhasil meraih enam kemenangan. Bahkan, jumlah kemenangannya di musim ini (8) berhasil mengungguli Norris dan Piastri yang sama-sama mengoleksi 7 kemenangan.
Lantas, apa yang terjadi dengan Piastri? Itu menjadi banyak pertanyaan orang. Sejak juara di Belanda, Piastri gagal meraih satu pun kemenangan. Ia hanya berhasil tiga kali podium di Italia, Qatar, dan Abu Dhabi. Selebihnya, ia hanya finis di peringkat 4-5 saja.
Hal ini makin diperparah dengan kegagalan finisnya di Azerbaijan dan diskualifikasi di Las Vegas. Meskipun ia di paruh awal musim konsisten naik podium, menurunnya performa di musim kedua jelas menjadi alasan utama mengapa ia kehilangan gelar juara dunia.
Banyak yang menganggap penurunan performa Piastri disebabkan oleh adanya kecenderungan tim yang lebih memprioritaskan Norris. Ada juga yang menganggap Piastri belum memiliki mental juara, mengingat ini baru musim ketiganya di F1.
Walau begitu, kita harus bersyukur karena kedua pembalap tersebut telah membuat musim ini menjadi lebih seru. Sudah lama tidak ada penentuan juara hingga balapan terakhir (terakhir musim 2021, Verstappen vs Hamilton), lebih lama lagi tidak ada gelar juara yang direbutkan oleh lebih dari dua pembalap (terakhir 2010, Alonso vs Webber vs Vettel vs Hamilton).
Konsistensi Jadi Kunci Lando Norris Juara Dunia

Bisa dilihat kalau Piastri bagus di paruh musim pertama, sedangkan Verstappen “ngamuk” di paruh musim kedua. Di saat saingan-saingan terdekatnya inkonsisten, Norris berhasil menunjukkan performa konsisten yang membuatnya layak menjadi juara dunia.
Sejatinya, Norris bukan tanpa celah di musim ini. Bahkan, ia gagal finis hingga tiga kali, yakni di Kanada karena kesalahannya, di Belanda karena masalah dengan mobilnya, dan di Las Vegas karena diskualifikasi setelah balapan.
Sebagai perbandingan, Piastri gagal finis dua kali di musim ini, sedangkan Verstappen hanya gagal finis di Austria. Secara matematis, harusnya Norris menjadi pembalap yang paling sering kehilangan poin. Namun, bukan hal itu yang terjadi.
Dari 21 balapan ketika ia berhasil finis, hanya sekali ia terlempar dari empat besar, yakni ketika di Azerbaijan ketika ia hanya finis di posisi 7. Selebihnya, ia selalu konsisten masuk minimal 4 besar, dengan rincian sebagai berikut:
- Juara 1: 7 kali
- Juara 2: 8 kali
- Juara 3: 3 kali
- Juara 4: 2 kali
Bisa dilihat, total ia berhasil naik ke podium hingga 18 kali dari 24 balapan yang ada di musim ini. Piastri hanya 16 kali, sedangkan Verstappen berhasil naih podium 15 kali. Jangan lupa, kedua pembalap juga cukup sering terlempar dari 5 besar.
Oleh karena itu, Penulis tidak sepakat dengan argumen penggemar yang mengatakan kalau Norris tidak layak untuk menjadi juara dunia. Dengan data di atas, berhasil dibuktikan kalau Norris memang menjadi pembalap paling konsisten di tahun 2025 ini.
Sekarang tinggal menantikan, apakah konsistensi ini berhasil ia lanjutkan di musim 2026 mendatang, di mana semua pembalap akan memulai dari nol berkat regulasi baru. Apakah ia berhasil mempertahankan nomor 1 di mobilnya, atau justru direbut oleh pembalap lain?
Enaknya jadi penonton F1 tanpa ada tim atau pembalap yang didukung ternyata seperti ini, mau mengomentari apa pun terasa ringan tanpa beban…
Lawang, 8 Desember 2025, terinspirasi setelah menyaksikan momen ketika Lando Norris menjadi juara dunia
Foto Featured Image: MSN
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #29: Blokus Shuffle: UNO Edition
-
Olahraga12 bulan agoSaya Memutuskan Puasa Nonton MU di Bulan Puasa
-
Olahraga12 bulan agoTergelincirnya Para Rookie F1 di Balapan Debut Mereka
-
Musik9 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara12 bulan agoMau Sampai Kapan Kita Dibuat Pusing oleh Negara?
-
Politik & Negara9 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman10 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban

You must be logged in to post a comment Login