Connect with us

Olahraga

Menerka Formasi MU dengan Kedatangan Pemain Baru

Published

on

Jika dibandingkan dengan bursa transfer sebelumnya, bisa dibilang pembelian Manchester United (MU) musim ini cukup tetap sasaran dan sesuai dengan kebutuhan tim. Celah-celah yang menjadi PR musim lalu berusaha dibenahi dengan mendatangkan pemain berkualitas.

Jadon Sancho didatangkan untuk mempertajam lini depan, sedangkan Raphael Varane seolah menjadi jawaban dari keroposnya pertahanan MU. Setan merah hanya butuh mendatangkan satu pemain defensive midfielder yang mumpuni.

Selain dua nama tersebut, MU juga berhasil “memulangkan” Cristiano Ronaldo dan Tom Heaton. Penulis pun jadi merasa tertantang untuk menerka formasi baru MU dengan kedatangan para pemain baru ini.

Lini Depan Manchester United

Cristiano Ronaldo (USS Feed)

Kepulangan Cristiano Ronaldo ini bisa dibilang tidak direncanakan dan terjadi secara mendadak. Lini depan MU seolah surplus pemain. Sebelum kedatangannya, MU sudah punya nama-nama seperti:

  • Marcus Rashford
  • Edinson Cavani
  • Mason Greenwood
  • Amad Diallo
  • Anthony Martial
  • Daniel James

Musim kemarin, pemain yang kerap dimainkan adalah Rashford-Cavani-Greenwood, di mana nama lain menjadi pelapis. Dengan kedatangan Sancho dan Ronaldo secara bersamaan, mau tidak mau akan ada nama-nama yang harus rela menjadi penghangat bangku cadangan.

Kemungkinan besar, Rashford-Ronaldo-Sancho akan menjadi pemain yang akan bermain reguler. Melihat Sancho masih under perform, mungkin posisinya bisa digantikan oleh Greenwood yang semakin menunjukkan kematangannya.

Cavani yang kemarin bermain dengan cukup baik bisa menjadi pengganti yang sepadan untuk Ronaldo. Dirinya yang kerap dilanda cedera memang lebih cocok untuk menjadi cadangan dan menjadi super-sub.

Diallo sendiri sempat diisukan akan dipinjamkan ke klub lain agar mendapatkan jam terbang yang lebih banyak. Kabar terakhir, perpindahan tersebut batal karena Diallo sedang mengalami cedera.

Martial pun begitu. Ia dianggap fans sebagai pemain yang malas dan tidak mampu mencetak gol secara rutin. Apalagi, ia juga kerap cedera, sehingga Penulis benar-benar berharap ia akan dijual musim ini untuk menambah pemasukan klub.

Untuk James, sangat Penulis sayangkan karena permainannya cukup inkonsisten dan cenderung mengalami penurunan sehingga posisinya hanya sebagai pelapis. Kabar terakhir, James akhirnya pindah ke Leeds United.

Lini Tengah Manchester United

Bruno dan Pogba (BolaSkor)

Sejak awal bursa transfer dibuka, fans berharap kalau Manchester United akan mendatangkan defensive midfielder (DMF) baru. Posisi tersebut dianggap sebagai lubang yang harus segera ditambal.

Sebenarnya, MU sudah punya beberapa nama yang sayangnya kurang bisa mengisi posisi tersebut dengan baik. Beberapa nama pemain yang mengisi lini tengah MU adalah:

  • Bruno Fernandes
  • Paul Pogba
  • Fred
  • Scott McTominay
  • Jesse Lingard
  • Donny van de Beek (VDB)
  • Juan Mata
  • Nemanja Matic

Peran Bruno Fernandes tidak perlu dipungkiri lagi. Ia menjadi otak permainan tim. Begitu pula dengan Pogba yang cukup krusial. Meskipun sering dipasang di sayap kiri, permainannya bisa dibilang cukup konsisten.

Nah, posisi DMF yanng dibutuhkan oleh MU kerap diisi oleh Fred dan McTominay. Sayangnya, kedua pemain ini dianggap kurang bisa menampilkan permainan terbaiknya untuk mengisi posisi tersebut.

Lingard Penulis harapkan bisa menjadi “alat tukar” demi mendapatkan gelandang bertahan milik West Ham United, Declan Rice. Sistem tukar pemain menjadi hal yang masuk akal, mengingat MU sudah menggelontorkan dana cukup besar musim ini.

VDB menjadi pemain yang mengalami nasib tragis. Walaupun fans kerap meminta Ole memainkannya, nyatanya ia terus menjadi penghangat bangku cadangan. Mau dipasang sebagai DMF pun kurang cocok karena posisi aslinya sama seperti Bruno.

Untuk Mata dan Matic, mereka adalah (mantan) pemain bagus yang sudah dimakan usia. Kehadiran mereka hanya sebagai pelapis utama jika ada pemain inti yang mengalami cedera maupun akumulasi kartu.

Sayangnya hingga bursa transfer ditutup, tidak ada satu pun pemain DMF yang menandatangani kontrak dengan MU. Nampaknya para fans harus puas dengan pemain yang sudah ada.

Lini Pertahanan Manchester United

Raphael Varane (We All Follow United)

Pertahanan MU kerap mendapatkan catatan karena kadang begitu mudah ditembus oleh lawan. Harry Maguire selaku kapten seolah tidak punya pasangan yang cocok untuk menjaga pertahanan.

Masalah tersebut diatasi dengan mendatangan Raphael Varane. Pengalamannya dan banyaknya piala yang berhasil ia raih bersama Real Madrid diharapkan bisa mengubah wajah pertahanan MU.

Berikut adalah daftar nama defender yang dimiliki oleh MU:

  • Harry Maguire
  • Raphael Varane
  • Luke Shaw
  • Aaron Wan-Bissaka
  • Eric Bailly
  • Victor Lindelof
  • Diogo Dalot
  • Alex Telles
  • Phil Jones

Maguire, Varane, Shaw, dan Wan-Bissaka akan menjadi pemain tetap yang susah untuk tergantikan. Melihat daftar nama ini, Penulis sedikit merasa optimis bahwa pertahanan MU akan lebih baik lagi.

Sebagai pelapis ada Telles, Bailly, Lindelof, dan Dalot. Mereka akan mendapatkan waktu bermain yang minim sekali karena kalah saing dengan empat nama sebelumnya. Mereka cukup menjadi back up atau dimainkan di kompetisi semacam FA Cup dan Carabao Cup.

Yang Penulis heran, entah mengapa Phil Jones masih berada di dalam skuad MU. Sejak Januari 2020, ia belum pernah bermain lagi. Penulis juga menyayangkan kepindahan Brandon William ke Norwich City untuk menambah jam bermainnya.

Penjaga Gawang Manchester United

De Gea dan Henderson (Detik Sport)

Kalau untuk sektor yang satu ini, Penulis bisa bernapas lega karena ada dua nama yang cukup kompetitif: David De Gea dan Dean Henderson. Penulis sendiri lebih suka jika De Gea yang menjadi penjaga gawang utama, dengan Henderson sebagai pelapisnya.

Selain itu, MU juga masih punya Lee Grant dan Tom Heaton. Mungkin, kedua nama ini lebih berperan dalam staf kepelatihan, Penulis juga kurang tahu kenapa MU punya banyak kiper.

Satu hal yang melegakan adalah akhirnya Sergio Romero bisa keluar dari MU. Entah apa “dosa” yang dimiliki oleh kiper asal Argentina tersebut sehingga seolah terkesan “diasingkan” oleh klub.

Menerka Formasi MU

Formasi Mana yang akan Digunakan Ole? (The Japan Times)

Dengan daftar pemain seperti itu, bagaimana formasi dan strategi yang akan digunakan oleh Ole? Ada beberapa varian yang bisa digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan tim.

Selama ini, Ole identik dengan pakem 4-2-3-1. Kedatangan Ronaldo bisa membuatnya didaulat menjadi ujung tombak klub. Kurang lebih, seperti inilah susunan pemainnya:

De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Pogba, Fred; Rashford, Bruno, Sancho; Ronaldo

Formasi alternatif yang bisa digunakan adalah 4-3-3, di mana sebenarnya sangat cocok dengan MU yang memiliki pemain depan dengan kecepatan di atas rata-rata. Susunan pemainnya sedikit berubah menjadi seperti ini:

De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Fred, Pogba, Bruno; Rashford, Ronaldo, Sancho

Apakah mungkin MU menggunakan formasi 4-4-2 klasik seperti yang sering diterapkan oleh Sir Alex? Bisa saja, mengingat MU masih punya Cavani. Hanya saja, formasi ini kurang bisa mengakomodir posisi Bruno sebagai playmaker. Apalagi, MU tidak punya DMF yang bagus.

MU jarang menggunakan formasi lima atau tiga bek, kecuali melawan klub besar yang kualitas pemainnya di atas pemain MU. Formasi 3-6-1, 3-4-3, atau 5-4-1 bisa saja diterapkan. Hanya saja, Penulis lebih yakin kalau formasi yang diterapkan antara 4-2-3-1 atau 4-3-3.

Mau formasi manapun yang akhirnya dipakai, semoga saja kedatangan para pemain baru MU bisa membuat klub kesayangan Penulis ini bisa mengangkat tropi lagi.


Lawang, 31 Agustus 2021, terinspirasi setelah Manchester United mendatangkan beberapa pemain berkualitas

Foto: Evening Standard

Olahraga

Biasakan Nonton MU Sampai Habis, LOL

Published

on

By

Puasa hari ini (5/4) terasa sangat pahit bagi Penulis. Pasalnya, Penulis harus sahur dengan sesuatu yang sangat menyakitkan: Manchester United (MU) kalah secara menjijikkan ketika “Derby Badut” melawan Chelsea di Stanford Bridge, London.

Bagaimana tidak, MU yang awalnya tertinggal 0-2 berhasil membalikkan keadaan sejak menit 66 menjadi 3-2. Keunggulan tersebut berhasil dipertahankan hanya hingga menit ke-99, ketika Cole Palmer berhasil mencetak gol lewat penalti setelah pelanggaran yang dilakukan Diogo Dalot.

Penulis pun mengira hasil akhir akan menjadi imbang 3-3, sebelum di ujung laga Palmer lagi-lagi mencetak gol lewat tendangannya yang mengenai Scott McTominay. Dibobol menit 90+9 dan 90+11, bagi fans bola manapun, pasti rasanya menyakitkan.

Padahal Dulu Terkenal dengan Fergie Time

Fergie Time (Caught Offside)

Di masa jayanya, injury time atau tambahan waktu ketika berhadapan dengan MU menjadi momok yang menakutkan bagi lawan. Pasalnya, MU kerap berhasil mengonversi waktu yang tinggal sedikit menjadi gol penentu kemenangan.

Contoh paling fenomenal tentu saja kemenangan 2-1 atas Bayern Munich di final Liga Champion tahun 1999, di mana hingga babak tambahan waktu MU masih tertinggal 0-1, sebelum Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solkjaer berhasil mencetak gol.

Karena hal ini, istilah “Fergie Time” pun muncul untuk memberi psywar ke lawan. Apalagi, Sir Alex Ferguson kerap menampilkan gestur menunjuk ke arah jam tangannya untuk memberi lawan tekanan. Bayangkan, gestur sederhana seperti itu bisa membuat lawan ketakutan.

Hal yang berbeda terjadi di era sekarang, karena babak tambahan waktu justru menjadi momok yang menakutkan bagi penggemar MU. Bagaimana tidak, MU sudah beberapa kali terpeleset dan mengakibatkan hasil yang fatal untuk tim.

Selain pertandingan melawan Chelsea semalam, kekalahan paling menyesakkan di babak tambahan waktu adalah ketika berhadapan dengan Copenhagen di Liga Champion musim ini. Kekalahan tersebut menjadi salah satu faktor MU menjadi juru kunci di grup D.

Biasakan Nonton MU Sampai Selesai

Biasa Nonton MU Kalah di Akhir Pertandingan (CNN)

Seperti yang pernah Penulis bahas pada artikel sebelumnya, penggemar MU itu sombong-sombong. Salah satu paramternya adalah terkenalnya satu kalimat “biasakan nonton MU sampai selesai” yang menandakan adanya optimisme di akhir pertandingan.

Mungkin, hal tersebut masih terbawa dari era Sir Alex Ferguson dengan Fergie Time-nya yang “sakti.” Sayangnya, kesombongan tersebut terbawa hingga sekarang, meskipun kesaktiannya sudah berubah dan malah menguntungkan lawan.

Alhasil, semua penggemar MU, termasuk Penulis, yang tidak koar-koar kalimat tersebut pun menjadi terkena getahnya. Kalimat “biasakan nonton MU sampai selesai” berubah menjadi olok-olok yang membuat penggemar MU jadi merasa malu dan ingin masuk ke dalam gua.

Tentu saja, seperti pola-pola yang sudah sering terjadi, kalimat tersebut akan kembali disombongkan ketika MU berhasil menang di babak tambahan waktu. Padahal sudah jarang, sekalinya menang di tambahan waktu sombongnya kumat.

Maka dari itu, jangan heran jika kekalahan yang diderita oleh MU, apalagi dengan kekalahan yang menyakitkan seperti yang terjadi ketika melawan Chelsea semalam, akan ditertawakan oleh banyak penggemar klub sepak bola lainnya.

Penutup

Musim ini bisa dibilang menjadi salah satu musim di mana MU sangat tidak konsisten. Dalam satu pertandingan bisa bermain sangat heroik seperti ketika melawan Liverpool di FA Cup, dalam pertandingan lainnya bisa berantakan seperti ketika ditahan imbang Brentford.

Alhasil, kursi kepelatihan Erik ten Hag pun banyak digoyang oleh para penggemar yang tidak puas dengan performa tim. Ia menjadi target empuk atas amburadulnya penampilan MU yang musim ini benar-benar inkonsisten.

Namun, menurut Penulis pribadi, tentu ini bukan kesalahan ten Hag semata. Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini, termasuk mengapa sekarang babak tambahan waktu justru menjadi sesuatu yang menakutkan bagi penggemar MU.

Semoga saja akan tiba masanya di mana babak tambahan waktu kembali berpihak ke MU, sehingga para penggemarnya yang sombong bisa dengan lepas mengatakan “biasakan nonton MU sampai habis.”


Lawang, 5 April 2024, terinspirasi setelah menonton pertandingan Manchester United vs Chelsea

Foto Featured Image: Man Utd News

Continue Reading

Olahraga

Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?

Published

on

By

Satu minggu terakhir ini bisa dibilang menjadi minggu yang begitu menyenangkan bagi penggemar Manchester United (MU), termasuk Penulis. Pasalnya, MU berhasil menang secara dramatis dengan skor 4-3 melawan rival abadinya, Liverpool, di ajang FA Cup.

Bermain di Old Trafford, MU unggul terlebih dahulu sejak awal babak pertama, tepatnya pada menit ke-10, melalui gol Scott McTominay yang memanfaatkan bola rebound hasil tendangan Alejandro Garnacho.

Namun, menjelang akhir babak pertama, Liverpool berhasil membalikkan keadaan lewat gol Alexis Mac Allister (44) dan Mohamed Salah (45+2). Setelah babak pertama, Penulis sempat tertidur dan baru terbangun ketika mendengar gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Antony melalui kaki kanannya di menit ke-87.

Setelah terbangun gara-gara gol tersebut, Penulis lagi-lagi tertidur dan baru bangun ketika waktu sahur tiba. Hal pertama yang Penulis lakukan adalah mengecek Sofascore, dan ternyata secara mengejutkan MU berhasil menang di babak tambahan waktu!

Liverpool sebenarnya sempat unggul pada menit ke-105 melalui kaki Harvey Elliot, tetapi berhasil disamakan oleh Marcus Rashford pada menit ke-112. Kemenangan berhasil dikunci di menit-menit akhir melalui gol Amad Diallo yang memanfaatkan skema counter attack yang cepat.

Saat melihat highlight-nya, Penulis jadi merasa menyesal kenapa bisa sampai tertidur. Jika pertandingannya seseru ini, tentu akan sangat menyenangkan jika menontonnya secara langsung. Namun, setidaknya Penulis masih bisa sombong keesokan harinya, seperti kebanyakan penggemar MU lainnya.

Mengapa Fans MU Banyak yang Sombong?

Dikenal Sombong oleh Fans Klub Sepak Bola Lain (Manchester Evening News)

Fans MU dan sombong seolah sudah saling terikat satu sama lain. Kesombongan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa fans MU kerap menjadi target bully bagi fans klub lain jika MU sedang melawak, yang sering dilakukan beberapa tahun terakhir ini.

Pertanyaannya, mengapa sampai bisa muncul stereotipe kalau fans MU itu banyak yang sombong? Melalui beberapa observasi yang dilakukan secara mandiri melalui media sosial, ada beberapa jawaban yang berhasil Penulis temukan.

Pertama, tak bisa dipungkiri kalau MU adalah sebuah klub yang memiliki nilai histori tinggi, terutama ketika berada di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Berbeda dengan klub tetangga yang terkesan baru sukses akhir-akhir ini berkat pasokan “oil money“, sejarah MU sangat panjang dan bisa dibilang sebagai salah satu klub bola tersukses di dunia.

Bayangkan, di saat prime Barcelona di bawah asuhan Pep Guardiola menjadi tim terkuat di dunia, hanya MU yang berhasil dua kali bertemu dengan mereka di final Liga Champion, walau hasil keduanya sama-sama kalah. Itu hanya bukti kecil betapa kuat MU dulu.

Kesombongan ini bahkan tidak hanya terjadi pada fans, tapi juga admin media sosial MU! Penulis lupa pada edisi berapa, tapi yang jelas pernah suatu ketika admin media sosial MU tampak agak meremehkan peserta grup Liga Champion yang satu grup dengan MU.

Merasa memiliki histori yang kuat inilah yang menjadikan fans MU kerap merasa jumawa, apalagi jika sedang berdebat dengan penggemar tim yang kurang memiliki histori kuat seperti Manchester City dan Paris Saint Germany.

Alasan kedua, karena MU lebih sering melawak dan kalah daripada bermain bagus dan menang. Benar, itu menjadi alasan lainnya. Karena jarang menang, begitu berhasil menang, maka euforianya menjadi begitu luar biasa, bahkan sampai kelewat batas.

Contohnya bisa dilihat ketika MU berhasil menang melawan Liverpool, gegap gempita (dan kesombongan) fans MU sudah seperti ketika MU berhasil mengangkat trofi Premier League lagi. Padahal, itu hanya pertandingan 8 besar FA Cup.

Tak heran jika banyak penggemar klub lain yang risih melihat sikap ini dan langsung mengingatkan kekalahan 0-7 yang pernah diterima MU dari Liverpool beberapa waktu lalu. Namun, hal tersebut langsung saja dibalas kalau kekalahan tersebut hanya membuat MU kehilangan tiga poin, bukan tersingkir dari suatu turnamen.

Alasan terakhir, ya mungkin memang sifat dasarnya saja yang sombong. Sebuah kemenangan, apalagi melawan rival, tentu harus disombongkan. Nanti kalau kalah, ya tinggal masuk gua seperti biasa, kan sudah jadi pelanggan setia.

Apakah Saya Termasuk Fans MU yang Sombong?

Penulis tentu tidak bisa menilai dirinya termasuk fans MU yang sombong atau tidak, itu semua Penulis kembalikan ke Pembaca. Yang jelas, sejujurnya Penulis justru lebih sering membuat story ketika MU kalah daripada ketika MU menang.

Sejatinya, apapun yang berlebih tidak pernah baik, termasuk euforia berlebihan ketika MU menang yang sampai membuat penggemarnya menjadi sombong. Ada banyak sekali hal yang perlu dibenahi dari tim ini, sehingga kita belum layak untuk sombong.

Nanti, jika level kita sudah setara Manchester City atau Real Madrid, mau sombong silakan saja karena memang sudah layak untuk disombongkan. Untuk saat ini, kita lebih sering masuk gua daripada di luar gua.

Kalau kita sudah jarang masuk ke dalam gua, berhasil memenangkan banyak major trophy (bukan cuma piala chiki), baru tuh layak untuk sombong. Jangan karena cuma karena hal-hal sepele yang seharunya menjadi hal wajar malah jadi sombong!


Lawang, 23 Maret 2024, terinspirasi setelah kemenangan dramatis Manchester United atas Liverpool

Foto Featured Image: Goal

Continue Reading

Olahraga

Mental Baja Ala Harry Maguire

Published

on

By

Manchester United (MU) sampai saat ini masih belum menunjukkan performa yang konsisten. Dalam dua pertandingan terakhir setelah jeda internasional, MU kesulitan ketika meraih kemenangan tipis atas lawan-lawannya yang di atas kertas kemampuannya jauh di bawah.

Namun, on the bright side, kita bisa melihat bagaimana pemain bergelar “Lord” yang kerap di-bully gara-gara blundernya, Harry Maguire, bermain dengan gemilang dalam mengisi pos pertahanan.

Selain menjadi Man of the Match pada pertandingan melawan Sheffield United, ia juga mencetak satu-satunya gol yang mengunci kemenangan atas F.C Copenhagen. Apakah ini tanda-tanda kalau Maguire akan comeback stronger?

Bagaimana Peran Maguire Direduksi di Dalam Tim

Dicadangkan dan Dicopot Sebagai Kapten (TEAMtalk)

Sektor pertahanan MU memang yang paling sering disorot selama beberapa musim terakhir karena terkesan begitu mudah ditembus oleh pemain lawan. Belum lagi masalah blunder yang kerap dibuat, baik oleh kiper maupun bek.

Harry Maguire yang dibeli dari Leicester City dengan harga fantastis diharapkan mampu menjadi benteng tangguh. Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Ia justru lebih sering menampilkan permainan lawak yang memberikan dampak negatif ke klub.

Alhasil, MU pun mendatangkan Raphael Varane di tahun 2021 dan Lisandro Martinez di tahun 2022. Mereka berdua pun menjadi starter utama yang terlihat solid, meskipun sempat dibantai 0-7 saat berhadapan dengan Liverpool.

Sebagai pelapis, pelatih Erik Ten Hag kerap lebih memilih Victor Lindelof sebagai pilihan ketiga. Bahkan jika terpaksa, Ten Hag akan menggunakan Luke Shaw yang posisi aslinya adalah seorang bek kiri.

Sudah dibangkucadangkan, status kapten MU yang ia sandang sejak bergabung pun dicabut dan diserahkan kepada Bruno Fernandez. Masa depan Maguire di MU benar-benar gelap, apalagi banyak fans yang meminta klub untuk menjualnya.

Harapan tersebut sempat terlihat ketika West Ham menunjukkan ketertarikannya. MU sudah sepakat, hanya saja Maguire menolak untuk pindah karena tidak ingin nominal gajinya turun dan menyatakan ingin berjuang untuk mendapatkan tempat utama di MU.

“Kami tidak mencapai kesepakatan. Manchester United senang saya bertahan dan saya senang memperjuangkan tempat saya.”

kata maguire kepada Express.

Tampaknya itu bukan bualan semata jika melihat bagaimana penampilannya di dua match terakhir. Hal ini seolah menunjukkan walaupun ia dihujat sana-sini, harus diakui kalau Maguire memiliki mental baja.

Mental Baja Harry Maguire

Mentalnya Harus Diacungi Jempol (Goal)

Jika mau membandingkan (walaupun agak kurang etis), kita bisa membandingkan mental Maguire dengan Jadon Sancho yang sedang bermasalah dengan klub. Ia yang sedang berperforma buruk justru membuat keributan di internal tim.

Bahkan ia berseteru dengan Erik ten Hag karena merasa “dikambinghitamkan” karena performanya yang buruk, dan menolak untuk meminta maaf hingga saat ini. Alhasil, kemungkinan besar ia akan dilepas pada bursa transfer Januari mendatang.

Maguire jelas pernah berada di posisi yang sama, di mana ia dinilai bermain buruk. Buktinya, ia lebih sering dicadangkan. Namun, ia sama sekali tidak membuat statement kontroversial dan tetap profesional.

Menurut Penulis, harus diakui kalau Maguire ini cukup “badak”. Bagaimana tidak, walaupun kerap mendapat caci maki dari penggemar sendiri, ia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik ketika dipercaya untuk menjadi starter ataupun masuk sebagai pemain pengganti.

“Dia (Ten Hag) menjelaskan alasannya kepada saya dan sementara saya secara pribadi sangat kecewa, saya akan terus memberikan yang terbaik setiap kali saya mengenakan seragam ini”

Ungkap maguire ketika ban kaptennya dicopot

Meskipun kerap dicadangkan bahkan dicopot sebagai kapten, Maguire terlihat legowo dan menerima semua keputusan tersebut dengan lapang dada. Memang ia mengungkapkan kekecewaannya, tapi itu hal yang wajar.

Memang masih terlalu dini untuk menilai apakah Maguire benar-benar bisa melakukan redemption dari segala performa buruknya di masa lalu, mengingat ia baru bermain bagus pada dua match terakhir. Namun, jelas ia memberikan asa kepada para penggemar MU.

Tentu sebagai penggemar MU, Penulis akan merasa senang jika ada pemain di dalam tim yang bisa memberikan performa terbaiknya. Tinggal ditunggu saja, apakah Maguire mampu secara konsisten bermain dengan baik atau justru akan kembali melawak.


Lawang, 26 Oktober 2023, terinspirasi setelah melihat permainan Harry Maguire yang baik di dua match terakhir

Foto Featured Image: Sky Sports

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan