Anime & Komik
Kejahatan Terbesar Serial Boruto
Beberapa hari kemarin, tiba-tiba rekan kerja Penulis mengirimkan sebuah meme tentang manga Boruto. Pada meme tersebut, terlihat kalau Shikamaru sedang terperangah dan heran melihat ada karakter yang bisa melayang.
Sontak saja hal ini langsung menjadi bahan tertawaan oleh penggemar Naruto. Herannya Shikamaru benar-benar tidak masuk akal. Kan, pada era-era Perang Dunia Ninja Keempat, ada Ōnoki yang ke mana-mana melayang bahkan terbang!

Tidak cuma Ōnoki, ada bejibun karakter di Naruto yang bisa melayang dan bertarung di udara. Konan, Pain, Mu, Madara, Obito, hingga Chouji juga bisa terbang. Gai Maito yang tidak punya kemampuan ninjutsu saja bisa “melayang” dengan menginjak udara secara bertubi-tubi.
Sebenarnya, masih banyak sekali hal yang mengganjal dari Boruto, sehingga kerap dijadikan sebagai meme dan dihujat sana-sini. Namun, bagi Penulis, ada satu “kejahatan” terbesar yang dilakukan oleh serial ini.
Mendiskreditkan Para “Pahlawan” Kita

Karena berfokus pada para next generation, Penulis masih bisa memaklumi kalau author dari Boruto melakukan nerf habis-habisan kepada karakter-karakter old generation. Naruto kehilangan Kurama, Sasuke kehilangan mata Rinnegan-nya.
(Walau feeling Penulis, bisa jadi di masa depan mereka berdua akan bisa kembali mendapatkan kekuatan tersebut, entah cara khayal apa yang akan digunakan nanti)
Justru, jika hal tersebut tidak dilakukan, tentu peran Boruto dan kawan-kawannya akan tenggelam karena karakter-karakter old generation terlalu overpowered. Kalau tidak di-nerf, semua masalah tentu bisa diselesaikan dengan cepat.
Hanya saja, terkadang nerf yang diberikan juga sedikit tidak masuk akal demi mendukung bersinarnya Boruto. Kemampuan-kemampuan Naruto, Sasuke, dan karakter lainnya seolah diredam demi kebutuhan plot cerita. Namun, bukan itu kejahatan terbesar Boruto.

“Kejahatan” atau “dosa” terbesar dari serial Boruto adalah bagaimana mereka memperlakukan para karakter favorit kita dari serial Naruto. Mereka yang dulunya terlihat keren, kini terlihat cukup konyol. Penulis akan berikan beberapa contohnya.
Shikamaru, salah satu orang paling cerdas di Konoha, terlihat tidak lagi cerdas dan kerap membuat blunder. Memang masih ada beberapa scene di mana ia terlihat ahli strategi, tapi tidak se-badass di Naruto.
Anko, salah satu hasil labotarium Orochimaru yang dulu terlihat keren, sekarang digambarkan berbadan besar dan hobi makan makanan manis. Yamato, yang menjadi salah satu mentor Naruto, terlihat punya obsesi tidak sehat ke Orochimaru.
Guru Gai yang menjadi salah satu pahlawan Konoha dan hampir membunuh Madara seolah hanya menjadi “badut” yang tidak bisa berjalan. Memang ia aslinya adalah sosok yang konyol dan kocak, tapi seharusnya ia bisa diperlakukan lebih baik lagi di Boruto.
Konohamaru, cucu Hokage Ketiga yang sempat mengalahkan salah satu tubuh Pain, juga terlihat sebagai ninja yang biasa-biasa saja. Penulis ragu kalau ia bisa menjadi hokage selanjutnya setelah Naruto.
Bahkan beberapa ninja yang ikut berperang di era Perang Dunia Ninja Keempat diubah menjadi villain, seperti Ao dari Kirigakure dan Ōnoki yang sempat disebutkan di atas. Mungkin niatnya membuat plot twist, tapi banyak yang merasa kecewa dengan keputusan tersebut.
Mungkin Harusnya Dihentikan Saja

Dalam industri hiburan seperti film dan anime, milking atau memerah franchise tertentu demi keuntungan adalah hal yang biasa. Selama bisa terus menghasilkan cuan, kenapa harus berhenti? Dipanjang-panjangkan saja ceritanya, pasti masih banyak yang nonton.
Ini biasanya berlaku untuk franchise yang sangat populer. Marvel belakangan ini terlihat seperti itu. Francise Fast & Furious juga melakukannya, hingga ceritanya semakin tidak masuk akan dan terus menambah karakter baru.
Anime klasik seperti Dragon Ball pun terkesan melakukan milking dengan merilis seri Dragon Ball Super dan lainnya, yang sayangnya secara kualitas terasa kurang. Semoga saja One Piece tidak akan melakukan hal yang sama.
Penulis melihat Boruto hanya sebagai milking saja dari francise Naruto yang sangat populer. Jika serial itu benar-benar berhenti, dari mana mereka akan mendapatkan uang? Untuk itu, dibuatlah cerita baru yang sayangnya kurang Penulis sukai.

Sejauh ini, dari manga yang Penulis baca, Boruto memiliki alur cerita yang kompleks, villain yang kurang memorable dan kurang menarik, banyak informasi teknis yang susah untuk dimengerti, dan tentu “kejahatan” yang telah Penulis sebutkan di atas.
Naruto memiliki alur cerita yang jelas, di mana Naruto yang memiliki Siluman Rubah Ekor Sembilan di tubuhnya diincar oleh Akatsuki, yang ternyata orang di baliknya adalah Madara Uchiha (dan di baliknya lagi masih ada Kaguya Ōtsutsuki lagi).
Dari awal sampai akhir, ceritanya runtut dan jelas meskipun siklusnya hanya berputar. Boruto, di sisi lain, sampai sekarang belum jelas mau dibawa ke mana. Kita hanya punya satu clue di awal cerita, di mana Boruto bertarung mati-matian melawan Kawaki.
Sama seperti Mick Schumacher di Formula 1 yang terlihat terbebani dengan nama besar ayahnya, tampaknya Boruto pun mengalami hal yang sama. Naruto adalah salah satu serial yang paling populer di dunia, itu tak bisa dipungkiri. Boruto tampak kesulitan meneruskan tongkat estafet tersebut.
Penutup
Jika disuruh memilih, Penulis jelas lebih ingin mengetahui kisah Naruto dkk. setelah Perang Dunia Ninja Keempat berakhir. Apa saja yang dilakukan oleh para ninja-ninja kesukaan kita, bagaimana Kakashi memimpin desa, sepertinya lebih menarik dibandingkan Boruto.
Penulis sampai sekarang masih (berusaha bertahan) untuk tetap membaca manga Boruto. Hanya saja, semakin ke sini rasanya semakin malas saja karena villain yang terlalu “imajinatif” dan benar-benar jauh jika dibandingkan dengan era Akatsuki
Semoga saja setelah serial Boruto berakhir, cerita tidak akan berlanjut ke anak Boruto dan keturunannya. Biarlah Naruto tetap menjadi sebuah masterpiece yang akan terus dikenang oleh para penggemarnya.
Lawang, 28 Oktober 2022, terinspirasi setelah melihat “jokes” di manga Boruto
Foto: Wallpaper Access
Anime & Komik
Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto
Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel, Naruto rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini.
Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai Naruto, entah itu callback cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga membedah chapter yang masih menimbulkan tanda tanya.
Bagi Penulis sendiri, hingga saat ini ada satu hal yang mengganjal dari serial ini, yakni bagaimana Madara Uchiha tidak menjadi final villain-nya. Masashi Kishimoto justru memunculkan karakter yang selama ini hampir tidak pernah disebut, yakni Kaguya Ōtsutsuki.

Alasan Mengapa Madara Lebih Cocok Jadi Final Villain

Bagi Penulis, salah satu yang membuat Naruto bagus adalah para villain-nya. Mulai dari Zabuza, Orochimaru, Gaara, Itachi, Akatsuki, Pain, hingga Obito, semua begitu membekas karena latar belakang maupun motifnya menjadi seorang villain.
Madara Uchiha juga salah satunya. Ia adalah villain yang cukup kompleks. Sebagai rival dari Hashirama Senju, tujuan utamanya sebenarnya adalah menciptakan perdamaian abadi melalui Mugen Tsuyokomi, ketika semua manusia berada di alam mimpi.
Untuk hal itu, ia berkali-kali selamat dari kematian, terutama dalam pertarungan melawan Hashirama. Ia hidup cukup lama hingga bisa memanipulasi Obito untuk mendirikan Akatsuki demi melancarkan rencana Mugen Tsuyokomi-nya.
Kemunculan Madara juga tidak mendadak begitu saja. Sebelum dibangkitkan kembali melalui Edo Tensei dari Kabuto, ia telah beberapa kali disebutkan dalam ceritanya (foreshadowing) sebelum kemunculan perdananya.
Kita bisa melihat patungnya bersama Hashirama Senju di Lembah Akhir di chapter 217. Kyuubi juga pernah menyebutkannya ketika Naruto menyerang markas Orochimaru demi menyelamatkan Sasuke di chapter 309.
Obito sewaktu masih bertopeng juga sempat mendeklarasikan diri sebagai Madara. Hal ini menjadi twist yang menarik setelah Madara yang asli muncul pertama kali, tentu dalam wujud Edo Sensei.
Oleh karena itu, efek plot twist-nya ketika ia menjadi dalang dari semua peristiwa di Naruto terasa masuk akal. Apalagi, ia telah berkali-kali aura farming sejak kemunculannya, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar bahkan sebelum menjadi Jinchuriki Juubi!
Sayangnya, Madara justru menjadi “korban penipuan” dari Zetsu Hitam. Ternyata, semua rencananya selama ini telah diatur oleh mereka demi bisa membangkitkan kembali Kaguya Ōtsutsuki.
Mari Kita Bandingkan dengan Kaguya Ōtsutsuki

Sekarang mari kita bandingkan Madara dengan final villain yang sesungguhnya, Kaguya Ōtsutsuki. Dari motivasinya, Kaguya ingin seluruh chakra manusia di dunia kembali ke dirinya karena merasa bumi ini adalah miliknya.
Dari sisi motivasi, jelas ini lebih pure chaos dibandingkan motivasi “perdamaian” dari Madara. Kaguya sebenarnya adalah “alien” yang datang ke bumi, lalu menamam Pohon Dewa (Shinju) demi bisa memakan Buah Chakra secara ilegal. Dibandingkan dengan Madara, motivasi Kaguya ini jelas lebih egois.
Selain itu, Kaguya benar-benar baru disebutkan menjelang akhir cerita. Madara yang menyebutkan pertama kali ketika menjelaskan tentang Shinju di chapter 646. Namun, kemunculannya sendiri baru terjadi pada chapter 679.
Sebagai analogi, bayangkan Thanos yang telah di-tease sejak film pertama Avengers. Namun, di film Avengers: Infinity War, sewaktu Thanos hendak menjentikkan jarinya, tiba-tiba ia ditikam dari belakang oleh Doctor Doom dan mengatakan rencananya selama ini berhasil!
Oleh karena itu, Penulis sering berprasangka buruk kalau Kaguya dihadirkan hanya agar Naruto bisa dilanjutkan oleh Boruto. Seperti yang kita tahu, klan Ōtsutsuki menjadi pusat konflik di sekuel tersebut.
Penutup
Penulis saat ini sedang mengoleksi ulang komik-komik Naruto versi Bind Up-nya. Saat artikel ini ditulis, Perang Dunia Ninja ke-4 baru saja dimulai. Penulis tak sabar ingin membaca ulang kisah Madara dan Kaguya ini, siapa tahu dulu ada detail yang terlewat.
Hanya saja, Penulis merasa kalau Madara tetap lebih layak menjadi final villain. Kalau memang klan Ōtsutsuki mau menjadi musuh utama di Boruto, ya buat build up-nya di sana, jangan di Naruto.
Bayangkan saja Madara dengan kemampuan dewanya yang berhasil ia dapatkan harus bertarung dengan Naruto dan Sasuke. Bahkan, ia memang terlihat kalah dalam pertarungan tersebut, sebelum akhirnya malah dikhianati oleh Zetsu Hitam.
Seandainya tidak melawan Kagura, mungkin pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke juga akan berlangsung lebih lama dan seru, bukan dalam kondisi kehabisan stamina dan chakra seperti yang kita dapatkan.
Yah, pada akhirnya kita harus tetap menerima keputusan Masashi Kishimoto. Walau agak ngedumel, Penulis tetap menjadikan Naruto sebagai salah satu komik favoritnya setelah Dragon Ball.
Lawang, 30 Agustus 2026, terinspirasi setelah merenungi kalau Madara Uchiha lebih cocok menjadi final villain daripada Kaguya.
Anime & Komik
Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium
Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora.
Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.
Selain Dragon Ball dan Naruto, Penulis juga besar dengan komik Detektif Conan. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.

Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi…

Sama seperti Naruto, Penulis juga “lompat” dalam membaca cerita-cerita Detektif Conan. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah Volume 41, di mana case pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).
Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk Volume 42.
Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik Detektif Conan Premium, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.
Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi Detektif Conan Premium telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.
Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik Detektif Conan Premium, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat.
Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik Conan edisi Selection. Kebetulan, waktu itu Ai Haibara sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul Selection lain yang Penulis miliki.
Hanya saja, meskipun sudah membeli seri Selection, dorongan untuk membeli Detektif Conan Premium masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.
Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis

Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu memorable bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, Jodie Starling, dan Vermouth, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.
Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.
Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.
Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan.
Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.
Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.
Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat arc ini menjadi favorit Penulis hingga kini.
Penutup
Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, Detektif Conan telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:
- Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal
- Motif pembunuhan yang “gitu doang?”
- Timeline yang tidak jelas seolah tidak maju-maju
- Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai smartphone (dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)
- Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat
Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai Detektif Conan, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33.
Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya “maju dan mundur” secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai “perburuan” harta karun.
Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni Naruto, Detektif Conan, Spy x Family, Dragon Ball Super, dan Dragon Ball Ultimate Edition. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.
Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik Detektif Conan-nya
Anime & Komik
Ai Haibara adalah Karakter Favorit Saya di Detective Conan
Sejak kecil, Penulis suka membaca komik, baik itu komik Jepang maupun Barat. Seperti yang sudah sering dibahas pada blog ini, favorit Penulis adalah Dragon Ball dan Naruto. Bahkan, sekarang Penulis kembali mengoleksi komik-komik tersebut.
Selain genre shounen, salah satu komik lain yang suka Penulis baca adalah Detective Conan. Sejak kecil, sudah banyak komiknya yang Penulis baca walaupun tidak yakin pernah membaca semuanya, mengingat hingga kini serinya masih berjalan hingga lebih dari 1.000 chapter.
Ketika komik Detective Conan merilis versi premiumnya, Penulis sempat terpikirkan untuk kembali mengoleksinya, mengingat koleksi Detective Conan Penulis banyak yang hilang dan rusak. Namun, wacana tersebut terganjal budget karena harga per komiknya cukup mahal.
Detective Conan Ai Haibara Selection

“Jalan tengah” muncul ketika Penulis berencana untuk membeli komik Naruto Bind Up Edition Vol. 1. Saat hendak mengambil komik tersebut, mata Penulis menemukan komik spesial Detective Conan Ai Haibara Selection.
Mengingat Ai Haibara merupakan salah satu karakter favorit Penulis di serial Detective Conan, Penulis pun memutuskan untuk membelinya. Apalagi, beberapa bulan setelah membeli volume pertamanya, volume keduanya juga rilis.
Jika di volume pertama lebih membahas perjalanan Ai Haibara sejak pertemuan pertama hingga memanasnya konflik dengan Organisasi Hitam, maka di volume kedua ini lebih membahas hubungan dan petualangan Ai dengan Kelompok Detektif Cilik.
Di kedua komik edisi spesial ini, selalu dilampirkan fakta-fakta seputar Ai secara ringkas, tapi menyeluruh. Hal ini sangat membantu Penulis untuk lebih mengenal karakter yang juga mengecil karena obat APTX 4869 ini.
Untuk kisahnya sendiri, sesuai judulnya, merupakan pilihan editor. Tentu saja cerita yang dipilih melibatkan Ai Haibara cukup banyak, bahkan terkadang ia seolah menggeser Conan Edogawa sebagai tokoh utamanya.
Karena sudah banyak membaca komik Detective Conan, mayoritas cerita yang ada di komik ini sudah pernah Penulis baca sebelumnya. Namun, justru hal tersebut menimbulkan efek nostalgia yang menyenangkan, karena memang sudah cukup lama Penulis tidak membacanya.
Sayangnya, ada beberapa arc yang cukup melibatkan Ai, tapi tidak disajikan secara lengkap. Contohnya adalah arc ketika Conan pertama kali dengan Vermouth, yang sejujurnya tetap menjadi salah satu cerita favorit Penulis di keseluruhan serinya.
Selain itu, Penulis juga masih menantikan cerita The Jet-Black Mystery Train yang hingga dua volume ini masih belum diperlihatkan. Bahkan di volume dua, cerita ini hanya di-mention singkat tanpa ada kisah utuhnya.
Penulis berharap jika ada Detective Conan Ai Haibara Selection volume tiga, kisah tersebut akan dimunculkan. Untuk sekarang, Penulis cukup puas dengan dua komik yang merangkum kisah Ai Haibara ini.
Mengapa Suka Ai Haibara?

Ada banyak hal yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara, yang nama aslinya adalah Akemi Miyano. Pertama, mari kita bahas terlebih dahulu dengan masa lalunya yang cukup kelam dan misterius.
Ai awalnya merupakan ilmuwan yang bekerja untuk Organisasi Hitam, menggantikan peran orang tuanya yang juga ilmuwan, Atsuhi dan Elena Miyano, yang tewas karena “kecelakaan”. Selama di organisasi, ia memiliki codename Sherry.
Ai juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Akemi Miyano, yang tewas di awal-awal cerita di tangan Gin. Conan sempat bertemu dengan Akemi di awal-awal cerita seri, tetapi ketika itu ia belum mengetahui hubungannya dengan Ai.
Kematian seluruh anggota keluarganya inilah yang memicu Ai untuk kabur dari organisasi, dengan menelan pil APTX 4869 seperti Conan. Sejak itu, ia harus hidup sebagai anak kecil dan menghadapi berbagai petualangan dengan Conan dan kawan-kawan.
Latar belakangnya yang seperti itu mungkin membuat Ai menjadi sosok yang bermulut tajam, cenderung dingin, dan sinis. Namun, ia juga seseorang yang dewasa dan mampu berpikiran tenang. Saat tidak ada Conan, kemampuan analisis Ai bisa cukup diandalkan.
Ai juga memiliki kemampuan yang cukup unik, yakni bisa merasakan hawa keberadaan anggota Organisasi Hitam. Kemampuan ini sangat berguna jika ada anggota organisasi yang menyamar, mengingat mereka memiliki Vermouth yang memang ahli di sana.
Walaupun begitu, Ai juga memiliki sisi manis yang jarang terungkap. Ia bisa menjadi fangirl yang sangat bucin ke pemain sepak bola Ryusuke Higo. Terkadang ia juga menunjukkan sisi pedulinya kepada para anggota Detektif Cilik, terutama dalam keadaan genting.
Di sisi lain, Conan juga sering menunjukkan kekhawatiran apabila tiba-tiba Ai menghilang, terutama khawatir jika Ai diculik oleh Organisasi Hitam. Jika Ai dalam keadaan genting, Conan pasti akan mati-matian menyelamatkannya, seperti yang terlihat pada film The Iron Submarine.
Kurang lebih itulah yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara di serial Detective Conan, melebihi karakter-karakter menarik lainnya. Semoga saja di masa depan, akan lebih banyak hal lagi yang terungkap seputar dirinya.
Lawang, 26 November 2024, terinspirasi setelah membaca dua komik spesial Detective Conan yang khusus membahas Ai Haibara
Foto Featured Image: Alpha Coders
-
Permainan12 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara12 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Pengembangan Diri12 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Olahraga12 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri12 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Nonfiksi12 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Produktivitas9 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang


You must be logged in to post a comment Login