Chapter 41 Seorang Ibu Dalam Kehidupan

“Leon!” sapa Rika dengan riang sewaktu ia datang.

Aku memberikan anggukan singkat yang dibarengi dengan senyum tipis. Sekarang Rika duduk di depanku persis karena bangku tersebut kosong ditinggal pemilik sebelumnya, Dea, yang harus turun ke kelas reguler. Penghuni bangku belakang (Rika, Juna, dan aku) disuruh mengisi kekosongan tersebut oleh wali kelas kami yang baru, pak Anto. Juna duduk di depan Rika, menggantikan posisi Andra, saudara kembar Dea.

Atas permintaan teman-teman sekelas, bangku Sica tetap dikosongkan untuk sekedar mengingatnya, dan dikabulkan. Untunglah aku tidak perlu meninggalkan bangku favoritku, yang telah menemaniku selama lebih dari delapan bulan untuk mengarungi kelas akselerasi ini.

Setelah pembagian rapot, tidak ada libur bagi kami. Tanpa jeda, sekarang kami sudah kelas sebelas di ruang kelas yang sama. Kami akan pindah setelah kakak tingkat kami lulus sesaat lagi. Nampaknya komposisi duduk kami tidak akan berubah di kelas yang baru nanti. Perbedaannya, kelas baru nanti akan lebih dekat dengan “kehidupan”, tidak seperti kelasku sekarang yang seolah terpinggirkan dari peradaban.

Sejujurnya, aku lebih menyukai kelas ini. Karena letaknya terpencil, suasana di kelas ini cenderung tenang. Kami tidak memiliki tetangga yang berisik karena ruangan di sebelah kami hanyalah ruang MPK dan UKS. Jika nanti kami pindah kelas, yang terletak di tingkat dua, tentu ketenangan akan susah aku dapatkan. Walaupun demikian, kelas tersebut dekat dengan perpustakaan, sehingga sesekali aku bisa kabur ke sana ketika membutuhkan informasi.

Suasana kelas sudah kembali ceria. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan duka akibat kematian Sica. Aku sendiri tidak mengalami kesulitan meskipun aku merasa banyak kehilangan. Banyak kejadian di masa lalu yang membuat mentalku tangguh. Awalnya aku mengkhawatirkan kondisi teman-teman yang akan kesusahan untuk fokus di ujian kenaikan kelas. Untunglah, kekhawatiranku tidak terjadi. Semua bisa menguasai diri mereka sendiri, termasuk Sarah.

Bicara tentang Sarah, wanita dari Jakarta itu tidak main-main dengan ucapannya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa dirinya bisa berubah dan berguna demi kelas. Dengan sukarela ia menawarkan diri menjadi sekretaris untuk menggantikan Sica. Ia bahkan mengajak kami semua untuk ikut les privat di gurunya, gratis. Sayangnya, kami semua terlanjur nyaman belajar sendiri hingga tawaran tersebut kami tolak. Ia tidak marah, malah akhirnya ikut belajar kami sepulang sekolah. Ia anak yang cukup cerdas, sehingga sangat membantu kami dalam proses belajar.

Akan tetapi, tetap saja aku belum bisa ramah kepadanya. Semenjak pembicaraan kami di rumah Sica, kami belum pernah berbincang empat mata. Kami masih merasa canggung satu sama lain, atau mungkin Sarah yang masih menyimpan takut terhadapku. Entahlah, setidaknya di kelas ini tidak ada lagi keributan-keributan seperti yang terjadi di masa lampau. Kelas ini telah menjadi damai seutuhnya.

***

Ketika kabar kematian Sica menyebar, tentu saja banyak orang yang membicarakan kasus ini. Mereka berbisik di belakang kami, menerka seenaknya untuk mencari penyebab kematian wanita yang kucintai tersebut. Bahkan ada yang menganggap kelas kami dikutuk. Tentu kami menahan diri untuk tidak terprovokasi. Kami tidak pernah sekali pun menyebutkan kematian Sica dipicu oleh pertaruhan yang ia lakukan dengan Sarah. Selain melindungi Sarah dari perasaan bersalah, kami juga tidak ingin memperburuk citra kelas kami. Biarlah fakta itu hanya kami yang mengetahui.

Dari yang aku dengar dari teman-teman, kakak kelas kami makin membenci kelas kami. Kebencian yang mulanya hanya ditujukan kepadaku semata, kini menyebar rata ke satu kelas. Mereka menganggap kelas kami hanya pandai membuat sensasi tanpa prestasi, mencoreng nama baik kelas akselerasi yang selama ini selalu menjadi primadona di mata guru. Kelas lain pun menjadi agak takut mendekati kami, mungkin takut terkena bala. Kami merasa terasingkan dari sekolah kami sendiri. Hanya Malik yang kadang datang ke kelas kami untuk memberikan semangat, yang aku yakin penuh dengan kepalsuan.

Aku tentu tidak terpengaruh dengan keadaan ini, akan tetapi aku memikirkan perasaan teman-teman lain. Tentu berat menghadapi badai cibiran dari orang lain. Belum lagi Sudarwono bersaudara yang harus turun ke kelas reguler. Mereka menjadi orang yang terjun langsung menghadapi berbagai problematika dan stereotip sebagai mantan anak akselerasi. Namun dengan kemampuan sosial yang mereka miliki, aku yakin mereka dapat mengatasinya.

Sebenarnya memang aneh. Orangtua Sica saja tidak pernah menyalahkan Sarah atas kematian anaknya. Mengungkit pun tidak. Lantas mengapa orang-orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Sica menjadi begitu sinis terhadap kami? Mengapa mereka begitu mempedulikan sesuatu yang bukan urusan mereka? Mengapa mereka senang sekali menggunjingkan hal-hal yang bukan termasuk wilayah mereka? Begitu banyak pertanyaan yang berada di dalam pikiranku, membuatku kerap memasang wajah sadis semenjak kejadian itu.

Semoga saja dengan bergulirnya waktu, mereka akan lupa sendiri dengan berbagai kejadian yang terjadi pada kami, anak kelas akselerasi.

***

“Kelas sebelas ini rasanya berlalu dengan cepat ya Le.” kata Kenji selepas mengajar Gisel yang kemajuannya makin pesat.

“Iya.”

“Tidak seperti kelas sepuluh kemarin yang penuh dengan drama, hahaha.” katanya lagi dengan tawa yang membuat Gisel ikut tertawa.

“Itu karena kau Kenji, kau yang membawa perubahan tersebut.” jawabku serius.

“Ah, bukan karena aku aja kok, semua punya andil termasuk kamu Le.”

“Emang kakak ngapain di kelas?” tanya Gisel ikut nimbrung dalam pembicaraan.

“Bukan urusan anak kecil.” jawabku dingin.

“Ih, kakak nyebelin.” adikku cemberut dan bergegas menuju kamarnya.

Aku dan Kenji tertawa melihat protes yang dilancarkan oleh Gisel. Adik perempuanku yang lucu tersebut tidak pernah marah betulan, semua hanya akting untuk mendapatkan perhatianku. Hanya dalam beberapa menit ia akan kembali ceria seperti biasanya.

“Aku kira Gisel bisa langsung lompat masuk kelas enam SD Le.” kata Kenji membuka pembicaraan.”

“Bahkan aku kira ia sudah layak untuk masuk SMP.”

“Iya, hanya saja Gisel tetap membutuhkan ijazah SD, sehingga mau tidak mau ia harus mulai dari sana.”

“Hanya saja, sekolah mana yang mau menerima Gisel? Kau tahu sendiri bagaimana masa lalunya.” tanya dalam bisik, takut didengar oleh adikku.

“Masalah itu aku rasa sudah memiliki solusinya.” jawab Kenji dengan tersenyum lebar.

“Caranya?”

“Nanti kalau sudah tiba saatnya akan kuberitahu. Kamu tahu kan aku suka membuat orang lain penasaran? Hahaha.”

Aku menatapnya dengan senyum getir. Aku merasa Gisel tidak akan punya kesempatan untuk dapat bersekolah normal, meskipun aku harus tetap berusaha mewujudkan impiannya. Tahun ajar baru akan dimulai beberapa bulan lagi, aku sudah mencari beberapa informasi sekolah mana saja yang berpeluang dapat menerima Gisel sebagai murid. Aku menggantungkan asaku kepada Kenji, berharap kata-katanya akan terwujud.

“Omong-omong, apakah kamu sudah menemukan kunci kombinasi dari kotak yang kamu temukan di gudang itu Le?”

Aku menggelengkan kepala. Semenjak aku menemukannya di gudang, belum pernah sekali pun aku berhasil membukanya. Lima kombinasi angka memunculkan ratusan ribu peluang, sehingga mustahil untuk mencobanya satu per satu. Aku tidak ingin merusak kotak tersebut, karena aku mendapatkan firasat bahwa kotak tersebut merupakan milik mendiang ibuku.

“Mungkin cerita fabel yang kamu temukan itu menjadi kuncinya Le.” tambah Kenji.

“Iya, tapi tetap saja aku tidak menemukan apa yang tersembunyi di balik kata-kata tersebut.”

“Hmm, semakin misterius aku semakin merasa tertantang untuk mengetahui kebenarannya, hahaha.”

“Sudah kau salin bukan surat tersebut?”

“Sudah Le, sudah beberapa kali aku baca cerita tersebut. Namun hingga kini belum kutemukan makna yang tersirat dari surat tersebut.”

Kotak tersebut aku letakkan di dalam kamar beserta surat tersebut. Surat itulah yang membuatku merasa yakin bahwa kotak tersebut adalah milik ibu. Tulisan di surat tersebut sangat akrab di mataku, penuh dengan kelembutan di tiap goresan penanya. Aku tidak ingat apakah ibu pernah menceritakan dongeng yang ada pada surat tersebut, aku hanya ingat ibu pernah menceritakan dongeng tentang tiga babi kecil.

“Sudahlah Kenji, mungkin memang tidak berhubungan apa-apa. Isi kotak ini juga belum tentu penting.” kataku menyudahi pembicaraan yang buntu ini.

“Hahaha, iya juga sih Le, tapi aku tahu kamu pasti penasaran.”

Memang benar, tapi bukan berarti aku akan berlarut-larut dalam penasaran. Biarlah ia menjadi pajangan di kamarku, sebagai pengingat bahwa pernah ada seorang ibu yang hadir di dalam kehidupanku.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.