Chapter 42 Urusan yang Belum Selesai

Kurang dua minggu lagi sebelum ujian nasional anak kelas dua belas. Sebenarnya bukan gayaku untuk mempedulikan kelulusan orang lain, hanya saja aku masih terpikirkan belum diterimanya maafku oleh si alis tebal. Semenjak penolakan di kelasnya tersebut, aku belum pernah mencoba sekalipun untuk meminta maaf lagi. Akan tetapi, dengan hampir lulusnya dia, aku rasa waktu yang kumiliki semakin tipis.

Aku mencoba membicarakan masalah ini kepada Kenji waktu istirahat. Kebetulan hari ini ia membawa bekal, sehingga ia tidak keluar kelas untuk membeli makanan di kantin.

“Ah, kamu masih kepikiran ya Le.”

“Iya, belum lega rasanya jika belum mendapatkan maaf darinya.”

“Hmm menurutku sebenarnya ada satu cara, tapi aku yakin kamu enggak akan suka.”

“Apa itu?”

“Mas Aan dekat dengan Malik, kamu bisa meminta bantuan kepadanya sebagai mediator.”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku sebagai penolakan ide yang Kenji ajukan. Mana mungkin aku minta tolong kepadanya, setelah berbagai peristiwa yang kami alami. Lagipula, aku membenci orang yang selalu memakai topeng itu.

“Tidak ada jalan lain lo Le, hehe.” kata Kenji sambil menyantap telur gorengnya.

Tidak, aku tidak akan minta tolong ke Malik, bagaimanapun mendesaknya permasalahanku. Pasti ada cara lain yang lebih baik.

***

“Tentu Leon, tentu. Senang bisa membantumu.” kata Malik waktu aku menceritakan masalahku.

Pulang sekolah, aku menebalkan mukaku untuk berjalan ke kelasnya kakak tingkat. Aku sudah menyiapkan mental untuk menghadapi tatapan-tatapan sinis yang pasti mengarah kepadaku. Kenji benar, aku tidak punya pilihan lain. Di kelas tidak ada yang dekat dengan kakak OSIS beralis tebal itu kecuali Sudarwono bersaudara. Ini adalah pil pahit yang harus kutelan demi kebaikanku.

Benar saja, sewaktu memasuki kelas Malik, banyak yang terkejut melihatku berdiri di ambang pintu. Mereka seorang berpikir “berani-beraninya biang kerok ini menjejakkan kakinya di kelas terhormat ini”. Tanpa mempedulikan mereka, aku dengan lantang memanggil nama Malik, dan dengan senyum ramah ia menghampiriku. Setelah bercerita dengan singkat perihal masalahku, ia menyanggupi untuk membantuku.

“Aku pikir kamu tipe orang yang akan melupakan sesuatu begitu saja, ternyata aku salah ya, hahaha.” kata Malik lagi, seolah sedang mengejekku.

“Terima kasih Malik.”

Setelah itu, aku kembali ke kelas untuk melanjutkan belajar bersama yang telah menjadi rutinitas kami. Hari ini pesertanya adalah aku, Kenji, Yuri, Sarah dan Ve. Kenji cukup bijaksana untuk tidak menanyakan pertemuan dengan Malik di depan teman-teman yang lain. Pasti ia menyimpan pertanyaan sepulang dari kegiatan ini.

***

“Apa Malik menyanggupinya Le?” tanya Kenji sewaktu kami melewati gerbang sekolah.

“Iya, dia bilang akan mengusahakannya.”

“Baguslah, bisa dibilang semua orang takhluk di hadapan Malik. Kecuali kamu sih, hahaha.”

Ketika akan memasuki rumah, aku menatap rumah kosong yang berada tepat di depan rumahku. Ini adalah rumah lama Malik dan almarhum Ucup, teman bermain di masa kecilku. Sebenarnya tidak bisa dibilang begitu karena aku tidak pernah boleh bermain bersama mereka. Aku bisa mengingat Ucup, tetapi ingatan tentang Malik hampir tidak ada di kepalaku.

Rumah itu kini terbengkalai, rusak di berbagai tempat. Rumput liar tumbuh dengan bebasnya, menambah kesan kumuh dari rumah ini. Kenapa rumah ini tidak dijual saja oleh keluarga Malik? Tiba-tiba aku teringat cerita Malik tentang kematian Ucup. Mungkin orangtua Malik memutuskan untuk pindah untuk melupakan kematian anak bungsunya dan menjual rumahnya. Akan tetapi, karena pernah ada orang yang meninggal di sana, tidak ada satupun yang berminat untuk membelinya. Aku rasa itu teori yang paling masuk akal.

“Leon, kamu dicari Gisel tuh.” panggil Kenji membuyarkan lamunanku. Aku segera membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah, penasaran mengapa adikku mencari diriku.

“Kak, tadi ada telepon dari paman, tapi belum Gisel angkat.” katanya sembari memberikna handphoneku yang berwarna biru muda.

Aku memberikan nomer teleponku kepada paman beberapa bulan yang lalu melalui surat. Harapanku, dengan telepon tersebut akan memudahkan komunikasi kami. Benar saja, terkadang paman menelepon untuk menanyakan kabar kami. Meskipun paling cepat dilakukan satu bulan sekali, itu sudah merupakan kebahagiaan bagiku dan Gisel.

Aku mengecek daftar miscall. Rupanya paman menelpon jam tiga. Pasti ia tidak tahu bahwa jam itu aku memiliki jadwal belajar bersama di kelas, sehingga paman mengira aku telah pulang. Tidak ingin membuat khawatir beliau, aku segera menelepon balik.

“Halo assalamualikum, tadi paman telepon?”

“Wa’alaikumsalam, ya Le tadi paman telepon.”

“Ada apa paman?”

“Jadi dua minggu lagi paman ada acara di Malang, rencana paman mau mampir ke rumah. Mungkin juga paman mau tidur di sana satu malam. Boleh ya?”

“Tentu boleh paman, kami tunggu ya.”

“Oh iya, sama paman mau kasih kartu atm buat kamu. Dulu kan kamu nolak karena takut enggak bisa pakainya, sekarang pasti bisa kan.”

Aku tertawa ringan mendengar perkataan paman. Setelah tragedi itu, paman memang menawariku kartu atm supaya ia gampang mengirimkan uang bulanan untuk kami. Waktu itu aku menolak karena aku belum pernah tau seperti apa ATM itu, sehingga memutuskan untuk menggunakan jalur konvensional, melalui kantor pos. Aku akrab dengan kantor pos karena sering diajak ibuku ke sana, entah apa tujuannya aku lupa. Paman benar, sekarang aku sudah hampir 17 tahun, tentu ke ATM bukan lagi menjadi hal yang menakutkan.

“Terima kasih paman kalau begitu, paman juga jadi tidak terlalu repot nantinya. Sekali lagi terima kasih paman.”

Telepon pun ditutup. Beliau adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki selain Gisel. Walaupun ia jauh dari kami, rasa kepeduliannya dengan kami begitu besar. Aku tidak perlu lagi memikirkan masalah finansial berkat kiriman uangnya tiap bulan. Jika saja bukan karena sepupuku, mungkin kami sudah hidup bahagia dengannya.

“Kalau tidak salah, pamanmu itu punya satu anak yang enggak akur sama kamu kan?” tanya Kenji setelah aku meletakkan handphoneku.

“Bondan? Iya, gara-gara dia pamanku tidak bisa menampung kami di keluarganya.”

“Kira-kira kenapa Le?”

“Entahlah, mungkin ia menganggap Gisel sebagai aib keluarga.”

“Ah begitu, aku paham. Kalau gitu, ayo kita mulai saja pelajarannya Gisel. Ia sudah cukup lama menunggumu, hehehe.”

***

Keesokan harinya sewaktu istirahat, Malik datang ke kelas kami dan menghampiriku. Ia melaporkan bahwa dirinya berhasil melobi mas Aan dan bersedia untuk bertemu nanti sepulang sekolah, tentu pulang sekolahnya anak reguler. Aku mengucapkan terima kasih hingga lupa bahwa aku membenci orang ini. Mungkin saja selama ini persepsiku tentangnya salah. Ia benar-benar orang yang baik.

Ketika jam yang sudah ditentukan tiba, aku keluar kelas untuk menuju tempat yang telah diberitahukan Malik tadi. Aku memutuskan untuk menghampirinya sendirian karena ini menyangkut masalah pribadi, sehingga kurang bijak jika aku mengajak orang lain. Malik berkata bahwa mas Aan akan menunggu di kelasnya.

Benar, Aan memang sedang menunggu di kelasnya, tetapi tidak sendirian. Tidak kurang dari 20 pelajar berwajah seram berada di kelas IPS V tersebut. Sewaktu ia melihatku berada di pintu, Aan menyeringai puas dan dengan pura-pura ramah ia mintaku masuk.

“Ah ini dia kawan lama kita, masuk-masuk. Siapa namamu? Napoleon ya? Kayak di pelajaran sejarah ya, hahaha.”

Semua yang ada di kelas tersebut ikut tertawa, kecuali aku. Aku masih meraba-raba situasi, apa yang akan terjadi di kelas ini. Apa yang lebih buruk dari sebuah pengeroyokan? Selain itu, kelas ini terlalu dekat dengan ruang guru, berbeda dengan aula. Tidak mungkin mereka bertindak senekat itu, apalagi menjelang ujian nasional.

“Kok diam aja, katanya Malik mau minta maaf? Ayo minta maaf.”

“Mas Aan, aku minta maaf.”

“Loh ya enggak bisa gitu dong.”

“Maksudnya?”

“Kamu udah bikin kita susah waktu MOS, minta maafnya harus spesial.”

“Caranya?”

Ia turun dari meja yang ia duduki dan berdiri di hadapanku persis. Yang lainnya mengikuti, sehingga aku berada di tengah-tengah lingkaran manusia yang nampaknya bermasa depan suram ini.

“Minta maaf sambil cium sepatu kami satu per satu.”

Tawa menggelegar langsung terdengar satu kelas, mungkin hingga ruang guru di lantai 1 sana. Kurang ajar sekali, harga diriku mau diinjak-injak oleh geng yang tak jelas ini.

“Aku menolak.”

“Wah wah wah, katanya mau minta maaf, kok kamu plin plan ya. Ini kita udah baik hati lo mau nerima maafmu, masa’ disuruh hal kecil aja enggak mau.” katanya dengan wajah paling menyebalkan yang bisa ia buat.

“Aku hanya ingin meminta maaf, bukan dipermalukan. Selain itu, aku hanya pernah menghajarmu, aku tidak pernah menghajar teman-temanmu, untuk apa aku minta maaf?”

Mereka bergumam satu sama lain, memprotes perkataanku barusan. Aku tetap berusaha tenang, tidak terpancing dengan provokasi mereka.

“Asal kamu tahu ya bocah sial, gara-gara ngeroyok kamu, kami semua dapat teguran keras dari guru BP. Beberapa dari kami diskors. Itu semua gara-gara kamu!” kata Aan dengan suara meninggi, suasana makin tidak kondusif.

Aku mulai didorong dari berbagai penjuru, berusaha mengintimidasiku. Aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tersulut emosinya, mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Sebesar apapun rasa bersalahku, aku tidak akan mau bersujud di hadapan mereka. Lebih baik aku dihajar beramai-ramai hingga babak belur.

Kericuhan tersebut tiba-tiba berhenti ketika ada suara seorang wanita memanggil nama Aan. Mereka semua reflek melihat ke arah pintu, membuka celah untukku keluar dari kerumunan. Respon mereka terlalu lambat untuk menahanku. Ternyata, suara tersebut berasal dari kakak OSIS perempuan yang menurutku tidak terlalu jahat ketika MOS. Aku lupa siapa namanya.

“Kamu dek? Ngapain di sini?”

“Saya hanya ingin minta maaf ke mas Aan.”

“An, jelasin ke aku.”

Aan berjalan mendekati kami, melewati semua anak buahnya. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, ia menjelaskan situasinya kepada perempuan ini.

“Jadi begitu ceritanya Nan, aku enggak salah kan? Anak kurang ajar ini minta maaf, kami cuma kasih syarat ringan.”

“Kelakuanmu enggak berubah ya An dari dulu, selalu hobi ngerendahin orang lain. Kamu tuh udah mau lulus An, tobat dikit napa?”

“Kok jadi kamu yang sewot sih, ini bukan urusanmu. Minggir sana, kamu cuma ngganggu aja.”

Aan berusaha menarik tanganku yang kutangkis dengan mudah. Ia nampak terkejut dengan gerakanku, dan itu membuat emosinya mulai naik. Aku tetap berdiri di posisiku, berkata dengan tegas kepadanya.

“Dengan segala kerendahan hati, aku minta maaf atas semua perbuatanku selama ini. Maaf, aku tidak sudi melakukan apa yang kalian perintahkan. Ini adalah terakhir kalinya aku berusaha meminta maaf, terserah Anda mau menerimanya atau tidak. Permisi.”

Aku menundukkan tubuhku 90 derajat, meniru yang dilakukan Bejo dan Sarah dulu. Tanpa banyak kata, aku berjalan meninggalkan mereka semua yang masih terperangah mendengar perkataanku barusan. Aku sudah tidak peduli mereka memberiku maaf atau tidak, aku sudah muak dengan perbuatan mereka.

“Dek, dek tunggu.”

Aku menoleh sumber panggilan, ternyata perempuan yang menolongku tadi. Karena sibuk berkutat dengan emosiku sendiri, aku jadi lupa mengucapkan terima kasih.

“Maaf kak, saya lupa mengucapkan terima kasih karena sudah membukakan peluang untuk pergi dari kerumunan tersebut.”

“Ah iya enggak apa-apa dek, tadi aku denger suara rame-rame, aku pikir ada apa. Eh ternyata gengnya Aan lagi kumpul. Aku tadi enggak ngelihat kamu lo gara-gara ketutupan mereka.”

“Iya kak, sekali lagi terima kasih. Maaf, nama kakak siapa?”

“Nani, kamu Leon kan?”

“Iya kak.”

“Semenjak kejadian di MOS itu, kayaknya kamu enggak pernah berantem lagi ya.”

“Iya.”

“Baguslah kalau begitu, aku tinggal dulu ya, mau les.”

Setelah itu, aku pun kembali ke kelasku karena jam pelajaran tambahan akan segera dimulai. Aku harus bisa mengontrol emosi diriku agar teman-teman sekelas tidak mengetahui bahwa urusanku dengan si alis tebal belum juga selesai.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.