Chapter 47 Di Balik Tawa Seorang Rika

Aku merasa Kenji sengaja memancingku dengan satu pertanyaan kecil, mengapa Rika selalu memakai lengan panjang ketika di sekolah, seolah-olah ia tanpa sengaja mengutus diriku untuk mencari jawabannya. Bagaimana caranya? Ya bertanya langsung kepada orangnya. Untunglah Rika sudah kembali ceria seperti biasanya, sehingga aku tidak terlalu canggung untuk bertanya kepadanya.

“Rika.” panggilku ketika jam istirahat telah berbunyi.

“Iya pangeran kegelapan, ada yang bisa saya bantu?”

“Aku punya pertanyaan untukmu.”

Sekilas terlihat ketegangan pada wajahnya, walau berusaha ia tutupi dengan senyumnya. Aku sudah memutuskan maju, tidak boleh ragu karena melihat ketegangan tersebut.

“Mengapa kau selalu menggunakan lengan panjang.”

Lagi-lagi ekspresi hampa itu nampak pada wajah imutnya, bagaikan ada yang menekan tombol pause. Tidak terlalu lama, tapi itu cukup untuk meyakinkan aku bahwa ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh Rika. Aku merasa aku berkewajiban untuk menolong Rika, apapun masalahnya.

“Enggak apa-apa kok Le, suka aja, hahaha.” jawabnya dengan tertawa yang terdengar dipaksakan dengan jelas.

“Perlihatkan lenganmu padaku Rika.”

“Hahaha, buat apa Le, enggak ada apa-apa.”

Aku mencoba untuk memberikan sedikit paksaan dengan memegang lengannya, hanya sekedar gertakan, dan responnya sangat mengejutkan.

“JANGAN!!!”

Sontak seluruh kelas menoleh ke arah kami dengan terkejut. Rika yang selama ini selalu ceria belum pernah berteriak sehisteris itu. Bahkan untuk sekedar bersuara keras pun tidak pernah. Ia selalu berbicara dengan nada yang unik dan lembut, sehingga wajar jika anak-anak yang berada di kelas bertanya-tanya apa yang kulakukan sehingga Rika seperti itu.

“Jangan rebut buku sihirku wahai pangeran kegelapan, ini adalah peninggalan nenekku, aku tidak akan memberikannya kepadamu.”

Usaha yang sia-sia Rika, kami semua tahu, atau setidaknya aku tahu, bahwa kalimatmu yang terakhir hanya digunakan untuk menutup-nutupi fakta yang kau simpan di dalam relung hatimu yang terdalam.

***

“Kau sengaja ya Kenji, bertanya seperti itu untuk memancingku menanyakannya kepada Rika.” kataku ketika waktu pulang sekolah telah tiba. Rika langsung pulang tanpa berpamitan kepadaku seperti biasa, membuatku dilanda rasa bersalah yang luar biasa.

“Ah, iya dan tidak.”

“Maksudmu?”

“Iya, aku bertanya seperti itu untuk mengusik rasa tahumu juga. Tidak, karena aku tidak berharap kamu akan melakukan tindakan seperti tadi.”

“Mengapa kau lakukan itu?”

“Memancingmu? Hahaha, karena aku pernah berusaha sendiri dan tidak berhasil.”

“Tidak berhasil bagaimana?”

“Aku sebenarnya setuju dengan perkataanmu sebelumnya, keceriaan Rika ia gunakan untuk menutupi suatu fakta yang berusaha ia sembunyikan. Bukannya ingin ikut campur, tapi aku khawatir jika Rika semakin lama menumpuk deritanya, akan terjadi hal yang mengerikan.”

“Contohnya?”

“Ya, anggap saja bunuh diri karena depresi.”

“Kau serius Kenji berkata seperti itu?”

“Itu adalah kemungkinan terburuk Le, semoga saja tidak pernah terjadi. Akan tetapi, kita harus bisa menolongnya sebagai teman.”

“Bagaimana caranya?”

“Mendengarkan ceritanya hanya salah satunya. Membuat ia merasa bahwa ia tidak sendirian menjadi salah satu cara yang paling manjur menurutku.”

“Apakah ia tidak punya teman dekat?”

“Bukankah ia pernah bercerita bahwa ia sering dianggap aneh oleh teman-temannya? Aku rasa ia tidak punya teman dekat di kelas akselerasi ini. Menurutku, justru kamu lah yang menjadi teman terdekatnya. Kalian sering berinteraksi dan cukup akrab.”

“Aku? Bukankah dia juga dekat denganmu?”

“Tentu Le, aku dekat dengan semua teman sekelas. Hanya saja, menurutku Rika merasa nyaman ngobrol denganmu karena kamu adalah tipe orang yang apa adanya, yang tidak menutup-nutupi apa yang sedang dirasakan. Jika suatu kejadian buruk, maka kamu akan berkata itu buruk, bukan berkata sebaliknya hanya untuk sekadar menyenangkan perasaan orang lain.”

“Jadi itu alasanmu memancingku?”

Kenji menganggukkan kepala dengan semangat. Bocah kecil ini selalu saja mempunyai alasan rasional mengenai segala tindakan dan keputusan yang ia ambil. Baiklah, karena Rika termasuk salah satu temanku yang paling dekat, aku akan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Rika. Bukan kebiasaanku untuk ikut campur masalah orang, tetapi lagi-lagi aku merasa bertanggungjawab atas kebahagiaan teman-temanku satu kelas.

***

Sayangnya, setelah dua minggu lewat, belum ada perkembangan yang berarti. Kami berdua seperti sedang melakukan perang dingin, tidak bertegur sapa satu sama lain. Ia tetap ceria seperti biasa kepada teman-teman yang lain, akan tetapi berubah 180 derajat ketika berhadapan denganku. Jika mata kami tak sengaja bertemu, ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Rika seolah-olah ingin berusaha menghilangkan keberadaanku dari pikirannya.

Beberapa kali aku mencoba untuk menyapanya terlebih dahulu, namun entah mengapa mulutku sangat susah untuk mengeluarkan suara. Perasaan bersalah mungkin masih hinggap di pikiranku, sehingga untuk sekadar menyapa pun ragu. Tidak ada satu teman pun yang bersedia menjadi mediator membuat perang ini semakin panjang.

Untunglah, pada hari ini, kami dipaksa untuk berbicara karena kami dipasangkan ketika pelajaran kewarganegaraan. Awalnya, kami hanya saling diam dengan canggung. Aku yakin teman-teman yang lain berusaha mencuri pandang ke arah kami, penasaran apakah akhirnya perang dingin antara kami akan berakhir. Karena Rika nampaknya tidak akan bersuara duluan, aku menguatkan diri untuk memulai pembicaraan.

“Tugas terkait pelanggaran hak asasi manusia ini ada baiknya kita mencari contoh kongkritnya terlebih dahulu, sehingga kita bisa dengan menjabarkan akar permasalahan terjadinya pelanggaran tersebut.”

Rika hanya mengangguk perlahan, sembari membaca-baca materi yang tercantum pada literatur. Usaha pertama belum berhasil, saatnya melancarkan usaha berikutnya.

“Apakah kau punya contoh pelanggaran hak asasi manusia?”

Ia hanya menggelengkan kepala. Strategi untuk bertanya secara langsung ternyata juga belum berhasil. Saatnya melancarkan serangan terakhir yang beresiko.

“Apakah tindakanku dua minggu yang lalu termasuk pelanggaran hak asasi manusia?”

Rika menatapku dengan tajam, tapi bibirnya bergetar menahan geram. Aku balas memandangnya tanpa rasa takut, berharap tatapanku bisa melunakkan hatinya. Namun yang terjadi kemudian, justru ia tertawa terbahak-bahak sampai menangis. Guru kewarganegaraan yang terkenal sabar sampai memberi kami peringatan untuk tidak bercanda sendiri, namun Rika seolah tidak bisa berhenti tertawa hingga ia harus menutup mulutnya sendiri. Rika benar-benar anak yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya.

***

Sepulang sekolah, aku menemukan gagasan yang menarik. Aku akan akan bercerita tentang sejarah keluargaku, tentang berbagai kekelaman yang aku alami. Mungkin dengan aku mulai bercerita, ia akan menjadi terbuka dan mau berbagi denganku.

“Rika, bisa kita bicara sebentar?”

“Mau apa Le.” jawabnya dengan intonasi yang seperti biasa.

“Aku mau memberitahumu sesuatu. Anggaplah sebagai permohonan maafku.”

“Kamu enggak salah apa-apa kok Le, aku aja yang lagi bad mood.”

Bad mood kok dua minggu.”

“Daripada kamu bad mood bertahun-tahun.”

Aku terkekeh mendengar ucapannya.

“Aku serius Rika, tapi sebelumnya aku ingin bertanya, kenapa kau tertawa tadi?”

Rika yang dari tadi masih memunggungiku akhirnya membalik badannya. Tatapan mata yang seolah tidak mengenalku telah berangsur-angsur menghilang. Dengan menghela nafas panjang, ia menjawab pertanyaanku.

“Entahlah Le, rasanya lucu saja mendengar pertanyaanmu.”

“Kau marah dengan sikapku dua minggu kemarin?”

“Iya, tapi pertanyaanmu tadi sewaktu pelajaran benar-benar bisa meredakan marahku.”

“Syukurlah kalau begitu, maukah kau mendengarkan ceritaku?”

“Oke, aku dengarkan Le.”

Maka mulailah aku bercerita tentang diriku dan keluargaku, di awali dengan masa kecilku yang penuh dengan tekanan dan tuntutan dari ayahku. Setelah itu aku melanjutkannya dengan adikku yang menyebabkan terjadinya perpecahan antara kedua orangtuaku, hingga ayahku memutuskan untuk pergi dari rumah dan ibuku memutuskan untuk bunuh diri. Selain itu aku juga menceritakan betapa sendirinya aku selama SD dan SMP karena tak punya teman. Bahkan tak jarang aku menjadi korban bully sebelum aku memutuskan untuk melawan.

Aku melanjutkan ceritaku dengan memberitahu Rika tentang kedatangan ayahku ke rumah.

“Setelah semua kejadian tersebut, ia dengan santainya datang ke rumah seolah-olah tidak ada yang terjadi apa-apa, bisa kau bayangkan?”

Rika dari tadi hanya diam dalam keseriusan yang jarang ia tampakkan. Ekspresi yang ia berikan tidak bisa dijelaskan, seolah ada enskripsi yang rumit untuk dipecahkan. Aku pun tidak melanjutkan ceritaku karena reaksi Rika yang tak bersuara sedikit pun ini.

“Kenapa kau hanya diam Rika?” tanyaku pada akhirnya karena tak tahan dengan situasi ini.

“Setidaknya kamu tahu siapa ayahmu Le.”

“Maksudmu?”

Rika tidak menjawabnya dengan suara, melainkan dengan membuka kancing lengan bajunya. Di balik lengan seragamnya yang panjang itu, terdapat banyak sekali bekas goresan-goresan luka pada lengan putihnya, baik tangan kanan maupun kiri. Itulah yang tersembunyi di balik tawa seorang Rika.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.