Chapter 46 Fakta Kecil yang Tidak Disadari

Masa liburan yang singkat telah berakhir, aku pun kembali masuk sekolah seperti biasa. Kejadian tempo hari masih menggantung di pikiranku, dan itu mempengaruhi ekspresi yang kupasang hari ini. Teman-teman merasakan hal tersebut dan memandangku dengan keheranan, mungkin juga kekhawatiran aku sedang kumat. Beberapa berusaha mengorek informasi ke Kenji, namun aku yakin Kenji cukup bijak untuk tidak menyebar apa penyebab dari kemuraman wajahku.

Tidak banyak yang terjadi hari ini, kami menjalani pelajaran seperti biasa. Yang tidak biasa adalah ketidakmampuanku untuk mengendalikan fokusku kepada guru yang mengajar di depan kelas. Pikiranku sedang bising, seolah ingin keluar dari kelas untuk menenangkannya. Ketika pelajaran matematika yang diajar oleh guru tergalak di sekolah berakhir, aku segera bangkit dari bangkuku untuk mencari angin segar.

“Leon mau keluar? Tumben banget.” kata Rika sembari membetulkan lengan seragam panjangnya.

“Iya.”

“Hmmm, mau curhat sama aku Le? Siapa tahu bisa membantu.”

“Tidak, terima kasih.”

“Ah Leon, aku kan jadi penasaran, hehehe.”

Jika saja bukan Rika, mungkin aku sudah menghadiahkannya tatapan pembunuh berdarah dingin. Tapi, dengan kepolosan yang ia miliki, siapa yang akan tega berbuat jahat kepadanya? Orangtuanya pasti merasa senang memiliki anak yang selalu berpikir positif. Lagipula Rika bermaksud baik dengan ketulusan yang kentara. Mungkin, dia bisa membantuku dengan cara lain, sehingga aku membatalkan niatku untuk mencari angin.

“Rika, ceritalah sesuatu tentang dirimu, tentang keluargamu mungkin.” kataku setelah memutuskan kembali duduk di bangkuku.

Ia tidak langsung menjawab, bahkan seperti berada dalam keadaan kosong selama beberapa detik. Setelah itu, ia tertawa hampa, seolah berusaha menggunakan topeng untuk menutupi perasaannya. Aku terkejut ketika melihat ekspresi Rika yang seperti itu, seolah aku sudah mengusik sesuatu yang telah ia sembunyikan dalam-dalam.

“Ah, tidak ada yang menarik kok Le, sama seperti keluarga-keluarga pada umumnya, hahaha.” jawabnya setelah berhasil mengusai diri.

Aku memandangnya dengan penuh selidik. Ia tak berani menatap mataku, padahal biasanya ia yang suka melakukan hal tersebut. Aku mengamatinya lebih lanjut dalam diam, dan Rika pun seolah tak tahu harus berbuat apa menghadapi rasa penasaranku. Apakah aku telah memasuki area pribadinya terlalu dalam dengan bertanya seperti itu? Hingga guru mata pelajaran berikutnya masuk, tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut kami berdua.

***

Malam di hari ketika paman membawa ayah ke rumah, sepulang dari rumah Kenji, aku menemukan sepucuk surat yang aku yakini ditulis oleh ayah atau paman. Tanpa banyak berpikir panjang, aku segera mengambil korek dan membakarnya di belakang rumah. Waktu itu, aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka berdua, aku tidak ingin tahu alasan-alasan apa yang akan mereka kemukakan.

Sayangnya, semenjak hari itu muncul rasa sesal yang tumbuh karena rasa penasaran tak terobati. Aku jadi menerka-nerka apa isi surat tersebut. Permohonan maafkah, alasan mengapa paman membawa ayahkah, dan lain sebagainya. Siapa yang menyangka, semakin berusaha untuk tidak peduli, rasa kepedulian tersebut justru semakin membesar. Kertas telah menjadi abu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membunuh rasa penasaran tersebut secara perlahan.

Kenji, yang mampir ke rumah setelah pulang sekolah, bisa membaca apa yang aku pikirkan dengan sangat tepat.

“Kamu sudah baca surat yang ditulis oleh ayah dan pamanmu Le?”

Aku hanya menggelengkan kepala secara perlahan.

“Kamu masih simpan surat itu?”

Sekali lagi aku mengulang pergerakan yang sama.

“Lalu kamu apakan surat itu?”

“Bakar.”

“Hahaha, sudah kuduga.” respon Kenji dengan tertawa ringan.

“Mengapa kau tertawa?”

“Karena reaksimu persis dengan hipotesis yang aku buat. Aku sudah tahu watakmu Le, sehingga bisa membuat prediksi langkah-langkah apa yang akan kamu ambil. Membakar surat adalah prediksiku nomer satu dan terbukti benar kan.”

Aku tidak memberikan tanggapan apapun atas kalimat yang barusan meluncur. Kualihkan fokusku melihat Gisel yang sedang serius mengerjakan latihan soal yang kami berikan. Sama seperti diriku, adikku ini jika sudah fokus tidak akan memedulikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Aku yakin ia tidak mendengar percakapanku dengan Kenji, seperti biasanya. Karena itulah Kenji sering mengajakku berbicara ketika Gisel sedang mengerjakan tugas yang kami berikan.

“Apa pamanmu berusaha menghubungimu melalui handphone?”

“Entah, handphoneku mati beberapa hari.”

Semenjak kematian Sica, aku menjadi jarang menggunakan handphoneku. Aku hanya menggunakannya untuk menghubungi paman sewaktu-waktu, kadang juga untuk bertanya seputar sekolah kepada teman-teman walau sangat jarang. Mereka yang lebih sering bertanya kepadaku tentang tugas maupun pelajaran. Sayangnya aku bukan tipe yang cepat memberi balasan, sehingga lama kelamaan juga semakin sedikit yang bertanya kepadaku.

“Kamu menyesal Le sudah membakar surat tersebut?”

Lagi-lagi aku tidak merespon apa yang diucapkan Kenji. Mana mungkin seorang Leon akan mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya menyesal dengan tindakan yang sudah dilakukan. Harga diriku terlalu tinggi untuk melakukan hal tersebut, sehingga diam adalah pilihan yang terbaik.

“Sebelumnya aku minta maaf karena sudah bertindak secara kurang ajar. Aku sudah memprediksi bahwa kamu akan membakar surat tersebut, sehingga aku menukar isinya. Surat paman dan ayahmu masih utuh, dan sekarang tersimpan di dalam tasku.”

Aku menatap Kenji dengan perasaan yang tercampur dengan sempurna. Marah, karena aku mengganggap Kenji telah berbuat kurang ajar. Senang, karena rasa penasaranku bisa terobati. Perasaan yang bercampur itu membuatku semakin terdiam, tak tahu bagaimana harus bertindak. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi dan mengurung diri di kamar. Sebelum membaca surat-surat tersebut, aku harus menyiapkan mental terlebih dahulu. Selain itu, hati kecilku terus berusaha merayuku untuk berdamai dengan masa lalu, seperti yang sudah kulakukan sebelumnya dengan ibu.

Masalahnya, ini tentang ayah, tak semudah itu untuk memaafkannya.

***

Setelah dua jam berada di kamar, terdengar suara ketukan pintu. Kenji menanyakan apakah dia boleh masuk ke dalam kamarku. Aku memutuskan untuk mempersilahkannya masuk, toh mengurung diri lebih lama tidak akan membantu apa-apa. Mungkin pembicaraan dengan Kenji justru akan mencerahkan diriku yang sedang mendung pekat ini.

“Walaupun sering ke rumahmu, aku jarang sekali masuk ke kamar ya Le.” kata Kenji membuka percakapan.

“Tidak ada yang menarik di sini.”

“Ah, justru banyak hal yang menarik di sini.”

“Contohnya?”

“Bukan terkait dengan benda apa yang ada di sini, melainkan kepribadianmu yang tercermin melalui kamarmu ini.”

“Bagaimana bisa?”

“Baiklah akan kujabarkan satu persatu. Pertama tingkat kerapianmu yang di atas rata-rata, menunjukkan bahwa kamu orang yang butuh merasakan kenyamanan dalam beraktivitas, di samping menunjukkan bahwa kamu orang yang rajin.”

Aku tidak memberikan tanggapan apapun, tapi Kenji melanjutkan analisanya.

“Lalu tumpukan buku yang dibuat urut berdasarkan tingkat ketinggiannya, menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang suka akan keteraturan, selain pola makan tentunya, hahaha. Selain itu kamu adalah tipe orang yang sistematik, juga peduli dengan urutan. Aku yakin kamu mulai membaca novel warisan ibumu dengan urutan nomer kan? Hahaha.”

Aku mulai tertarik. Bagaimana bisa seseorang menilai kepribadian hanya berdasarkan tata ruang kamarnya?

“Sifat perfeksionis juga tergambarkan dari tumpukan buku tersebut. Selain itu berbagai bingkai foto yang ada di kamarmu juga tidak ada satupun yang miring. Kamu kan yang memasang ini semua?”

Memang lumayan banyak bingkai foto yang terpasang di kamarku. Bukan foto diri maupun foto keluarga, melainkan foto para ilmuwan untuk membangkitkan semangat. Aku mencetaknya sendiri dan mengambil berbagai pigura yang tersebar di rumah, di mana aku membuang foto yang terdapat wajah ayah di sana.

“Tapi mungkin aku bisa menebak itu semua karena aku tahu betul karaktermu, walaupun kita belum sampai satu tahun saling kenal, hahaha.” katanya menutup analisanya terhadap kamarku.

“Itu tetap hal yang luar biasa Kenji, aku tetap terkesima dengan segala penuturanmu.”

“Hahaha, terima kasih. Kamu tadi ngobrol sama Rika ya?”

“Iya, kenapa?”

“Enggak ada apa-apa sih. Omong-omong kamu sadar enggak kalau Rika selalu memakai seragam lengan panjang? Aku belum pernah melihat ia mengenakan seragam lengan pendek. Bahkan ketika jam olahraga, ia memakai manset walau tak berkerudung.”

“Aku tidak menyadarinya.”

“Kira-kira kenapa ya? Hehehe.”

Siapa yang menyangka, fakta kecil yang tidak kusadari ini bisa membawa perubahan besar untukku.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.