Chapter 55 Pertanyaan Tak Terjawab

Beberapa hari ini aula yang letaknya dekat dengan kelas kami disibukkan dengan berbagai persiapan wisuda anak kelas 12. Tahun ini sekolah kami berhasil meluluskan semua muridnya, dengan nilai tertinggi dipegang oleh Malik, yang nilainya nyaris sempurna. Aku tak terlalu peduli dengan itu, tapi setidaknya aku jadi memiliki satu hari libur yang akan kugunakan untuk mendalami stoikiometri larutan dan hidrolisis pada pelajaran Kimia.

Satu hari sebelum wisuda, Malik datang berkunjung ke kelas kami. Datang pula teman-teman kelasnya, dengan tatapan penuh kesinisan. Kenji lah yang berusaha mencairkan suasana dengan menyambut mereka seolah tidak terjadi apapun di antara kami. Inti dari kedatangan mereka adalah, mereka ingin berpamitan dengan kelas lama mereka. Aku memantau mereka dari bangkuku yang berada di pojok, berharap mereka tidak menyadari kehadiranku.

Sayangnya, tentu Malik akan menyadari kehadiranku. Ia memanggil namaku dengan semangat, dan aku hanya membalasnya dengan sorot mata yang dingin. Dengan langkah ringan ia berjalan menuju arahku, duduk di bangku kosong yang ada di sampingku.

“Kita habis ini berpisah le Le, masa kamu tetap dingin seperti itu?”

“Aku tidak peduli.”

“Oh ya? Akan ada saatnya kamu akan sangat peduli denganku, bahkan memohon agar aku menjelaskan sesuatu.”

“Apa maksudmu?”

Malik menjawabnya dengan seringai tipis yang disamarkan dalam senyum, lalu berdiri dan keluar dari kelas. Aku tidak terlalu memikirkan perkataannya, aku hanya menganggap ia sengaja membuatku penasaran. Memang apa yang diketahui oleh Malik sehingga aku harus menanyakan sesuatu padanya?

“Leon, kamu enggak apa-apa?” tanya Rika sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahku.

“Iya Rika, aku baik-baik saja.”

“Hmm, kamu itu orangnya pemikir banget ya.”

“Iya. Sangat.”

“Hidup itu yang santai Le, jangan terlalu tegang. Memang kadang hidup pedih, tapi kita harus tetap melangkah maju bukan?” ujar Rika berusaha memotivasi diriku. Aku memberinya satu senyuman penuh terima kasih kepadanya.

***

Sebelum liburan panjang, kami ujian akhir semester sama seperti anak kelas reguler. Bedanya, ujian kami merupakan ujian semester ganjil, sedangkan kelas reguler ujian semester genap untuk kenaikan kelas. Kombinasi dari pelajaran di kelas, belajar bersama sepulang sekolah, dan lamanya aku belajar di rumah tentu sangat membantuku dalam menghadapi ujian. Dengan tujuan yang jelas untuk mengalahkan Kenji dan menjadi nomor satu, aku bisa belajar seharian tanpa butuh istirahat.

“Kakak belajar sendiri terus, kapan ngajari Gisel?” protes Gisel sewaktu aku sedang sibuk mencari nilai limit pada soal yang aku kerjakan.

“Hahaha, maaf ya Gisel, kakak juga harus belajar karena sedang ujian. Sabar ya, sebentar lagi kamu juga udah mulai sekolah kok.”

Sebenarnya ada kecemasan dalam diriku, bagaimana jika ibu Ve menolak untuk memberikan kesempatan untuk Gisel? Bagaimana jika Gisel tetap tidak bisa sekolah tahun ini? Kenji selalu berusaha meyakinkanku bahwa rencananya akan berhasil, tapi tetap saja terselip keraguan dalam diriku. Aku berusaha mengalihkan pikiran tersebut dengan mengobrol ringan dengan Gisel.

“Gisel udah dapat bayangan bagaimana nanti di sekolah?”

“Emm, ya biasa sih kak, enggak ada yang spesial.”

“Nanti Gisel bakal jadi yang paling tua di kelas lo.”

“Iya kak, tapi tubuh Gisel kan kecil, jadi enggak ketahuan juga.”

“Gisel mau punya teman seperti apa?”

“Seperti teman-teman kakak! Mereka semua baik, aku berharap bisa dapat teman kayak gitu juga.”

“Hahaha, iya.”

Tapi bukankah Kenji mengatakan bahwa Gisel nantinya akan mendapatkan rekomendasi agar naik kelas lebih cepat? Jika naik kelas dengan cepat, bagaimana ia bisa mendapatkan teman? Apalagi, rata-rata teman kelasnya nanti akan lebih muda tiga sampai empat tahun. Apakah ketika Gisel sudah duduk di kelas di mana ia seharusnya berada, barulah ia akan mendapatkan teman? Semoga saja.

“Kalau kakak boleh tahu, apa pelajaran favorit Gisel?”

“Matematika kak, Gisel suka menghitung. Selain itu Gisel juga suka IPA sama IPS. Gisel suka semuanya kok kak.”

“Hahaha, bagus.”

“Gisel juga udah hafal ibukota dunia lo kak.”

“Masa? Coba kakak tes.”

“Boleh, siapa takut.”

“Perancis?”

“Paris.”

“Jepang?”

“Tokyo. Yang agak susah dong kak.”

“Hahaha, baiklah. Swedia?”

“Oslo.”

“Mesir?”

“Kairo, duh kok gampang-gampang sih kak. Gisel deh yang ngasih tebakan ke kakak.”

Aku pun tertawa lepas mendengar perkataan polosnya. Masa iya anak kecil bisa memberi tebak-tebakan yang susah. Untuk menyenangkan hatinya, aku pun mengiyakan tantangannya.

“Federated States of Micronesia?”

“Eh, negara apa itu?”

“Masa enggak pernah denger kak? Itu negara kecil di Samudera Pasifik, ibukotanya Palikir.”

“Apa, terkilir?”

“Pal-ki-rir kak. Baru satu aja kakak enggak bisa jawab, hahaha.”

“Coba yang lain.”

“Saint Vincent and the Grenadines?”

“Eh?”

“Seychelles?”

“Belum pernah dengar.”

“Tajikistan?”

“Pernah dengar tapi enggak tahu ibukotanya.”

“Liechtenstein?”

“Apanya Albert Einstein?”

“Hahaha, kakak kalah sama Gisel.”

Hehehe, aku hanya terkekeh karena kesombonganku baru saja dipermalukan oleh Gisel. Untunglah ia adikku sendiri. Jika bukan, aku tak tahu apa yang akan aku perbuat terhadapnya. Aku bangkit dari kursiku dan menggendong Gisel dalam posisi terbalik untuk menggodanya. Aku sangat jarang bergurau seperti dengannya, dan rasanya aku perlu lebih sering melakukannya agar aku bisa hidup lebih santai, seperti kata Rika.

***

Hari pertama liburan langsung kami manfaatkan untuk bertemu dengan ibunda Ve. Berbekal alamat yang Ve berikan, aku, Kenji, dan tentunya Gisel berangkat bersama-sama menggunakan kendaraan umum. Rumah Ve terletak di pinggir jalan raya, sehingga bisa dicapai dengan menggunakan angkot. Tentu akan merepotkan jika kami harus menyewa tiga ojek sekaligus.

Ve sendiri yang menyambut kedatangan kami. Rumahnya bergaya minimalis dan berlantai dua dengan kombinasi beberapa warna cerah. Garasinya kosong, namun jejak ban yang tersisa di lantainya membuat aku tahu bahwa mobil yang dimiliki oleh keluarga Ve sedang digunakan keluar. Kami melepas alas kaki di teras dan melangkah menuju ruang tamu Ve yang dilengkapi dengan perabot yang bergaya minimalis pula.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, datanglah ibu Ve dengan tersenyum ramah. Nampaknya tebakan Kenji terkait kemiripan sifat baik antara Ve dan ibunya benar. Aku membalas senyum dan mengulurkan tangan. Tak lupa meminta Gisel untuk melakukan hal yang sama.

“Ini Leon dan Kenji ya? Vanya sering cerita tentang kalian, tentang duo terpintar di sekolah. Vanya juga cerita dia sering dibantu sama Kenji, terima kasih ya.”

“Iya bu sama-sama, dengan senang hati saya membantu Vanya dan teman-teman lainnya.”

“Vanya, minumnya udah nak?”

Berhubung tak kunjung mendapat respon, ibunya Ve permisi sebentar untuk mengecek keadaan dapur. Jeda waktu itu aku gunakan untuk bertanya kepada Kenji.

“Ken, Vanya itu Ve ya?”

“Astaga, udah hampir satu tahun satu kelas kamu tak tahu nama aslinya? Hahaha.”

“Aku hanya tahu kalian memanggilnya Ve.”

“Nama lengkapnya Virginia Vanya Valora, semuanya berawalan V bukan? Karena itu ia dipanggil Ve.”

“Oh begitu.”

“Namanya bagus ya kak.” Gisel yang dari tadi diam karena gugup akhirnya ikut berbicara.

“Namamu kan juga bagus Gisel.”

“Iya deh, kakak yang enggak bisa menjawab pertanyaan dari adiknya yang belum sekolah.” katanya sambil tersenyum jahil.

Semenjak kejadian tebak-tebakan ibukota, Gisel sering menggodaku dengan sebutan yang tak karuan panjangnya itu. Tentu aku tidak menganggapnya serius, Gisel hanya ingin menggodaku. Biasanya, kalau di rumah, aku sudah menarik pipinya ke kanan ke kiri hingga ia minta ampun. Berhubung kami sedang di rumah orang, hal tersebut urung aku lakukan.

“Memang pertanyaan apa yang enggak bisa kamu jawab Le?” tanya Kenji penasaran.

“Tebak saja dengan analisamu seperti biasa.” jawabku ketus.

“Hmm, ibukota negara?”

“Sial, seandainya hidup di abad pertengahan kau pasti sudah dibakar Ken karena dianggap penyihir.”

“Hahaha, aku mengajari Gisel Le, aku tahu kira-kira mata pelajaran yang Gisel suka, tapi kamu tidak. IPS adalah salah satu mata pelajaran yang kau serahkan ke aku untuk diajarkan ke Gisel, dan dari situlah aku bisa menyimpulkan.”

“Tapi IPS luas sekali kan, bagaimana kau bisa menebak setepat itu dengan sekali jawab?”

“Kapan-kapan aku jelaskan, itu ibunya Ve sudah kembali.”

Ve dan ibunya datang, dengan Ve membawa senampan minuman berwarna merah yang mungkin es sirup. Kenji berbasa-basi dengan ibu Ve sebelum masuk ke pokok pembicaraan. Aku, seperti biasa, hanya diam mengamati pembicaraan orang lain.

“Jadi, Gisel adik kami ini sering dikeluarkan dari sekolah karena dianggap tidak fokus pada pelajaran dan selalu bertanya hal lain. Selama satu tahun ini, kami berdua telah mengajarinya secara privat dan membimbingnya agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kelasnya. Nah, Gisel pada tahun ini berusia 10 tahun, sehingga kami minta agar diberikan kesempatan agar Gisel bisa melakukan tes seperti anak-anak lainnya.” jelas Kenji kepada ibu Ve.

“Masih 10 tahun kan?”

“Iya bu benar.”

“Ya enggak masalah, kan usia maksimal masuk SD 12 tahun, kalian enggak tahu peraturan itu?”

Aku dan Kenji saling menatap satu sama lain. Kami berdua tidak tahu jika ada peraturan seperti itu.

“Maaf bu, kami benar-benar tidak tahu. Terima kasih untuk infonya.”

“Santai, tidak perlu minta maaf. Coba ya Gisel ibu tes di sini, yang gampang-gampang aja dulu.”

“Gisel tahu tentang negara Saint Vincent and Grenade bu, jadi mungkin bisa langsung diberi yang susah saja.” kataku menyela, sedikit menyombongkan kepintaran Gisel.

“Yang benar Saint Vincent and Grenadines kak, bukan Grenade.” kata Gisel mengoreksiku.

Ibunya Ve tertawa melihat kami, lalu mengajukan beberapa pertanyaan yang memang diperuntukkan untuk anak kelas satu SD. Tentu saja dengan mudah Gisel menjawab itu semua. Ibunya Ve tersenyum melihat kepintaran Gisel, bahkan ia nampak penasaran. Semakin lama pertanyaan yang diberikan semakin susah, namun Gisel tetap bisa menjawabnya dengan sempurna.

Sesi tanya jawab tersebut berlangsung kurang lebih selama setengah jam. Rona wajah ibunya Ve menampakkan kepuasan luar biasa, seolah telah menemukan anak ajaib yang akan membanggakan sekolahnya. Setelah selesai, Kenji bertanya perihal rekomendasi naik kelas lebih cepat.

“Bu, apakah mungkin Gisel mendapatkan rekomendasi agar naik kelas lebih cepat? Sayang jika kemampuannya ini harus disia-siakan untuk belajar hal yang sudah ia kuasai.”

“Bisa, nanti ibu usahakan. Kemampuan Gisel sudah setara dengan anak kelas enam SD, bahkan SMP. Yang jelas, jangan lupa mendaftar ketika pembukaan siswa baru. Kalau guru-guru lain sepakat, Gisel bisa naik kelas lebih cepat.”

Kami pun bernafas lega mendengarkan penjelasan ibunya Ve. Sampai sejauh ini semua lancar tanpa ada masalah. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menunggu, dan tentu belajar. Jangan sampai ada lagi pertanyaan-pertanyaan dari Gisel yang tak bisa kujawab.