Chapter 71 Telepon dari Rika

Tak lama berselang setelah kesehatanku pulih, aku segera memberi kabar kepada paman. Aku yakin, ia pasti khawatir sekali karena meninggalkan aku dengan kondisi yang kacau. Entah bagaimana ceritanya ia dan ayah pada akhirnya memutuskan untuk pergi ketika itu. Melalui telepon, Paman memberitahu bahwa ia baru bisa datang berkunjung dua minggu lagi karena telah membuat janji terlebih dahulu dengan rekan bisnisnya. Aku bisa memaklumi hal tersebut dan mengatakan akan menunggu kedatangannya.

Bukan hanya menunggu paman, aku juga menunggu ayah. Walaupun paman tidak mengatakan apapun, aku yakin ia akan membawa laki-laki itu bersamanya.  Aku tak tahu apakah laki-laki tersebut peduli dengan kondisiku, yang jelas aku masih punya segudang pertanyaan yang harus dijawabnya. Secara perlahan, aku akan menguak semua misteri yang telah mengekangku sejak lama, bahkan sejak aku belum dilahirkan ke dunia ini.

Semenjak mendengar cerita tentang ibu -kedua ibuku- dan perlawanan mereka melawan rezim, aku jadi giat membaca buku tentang sejarah terutama yang terkait dengan Orde Baru. Tidak hanya buku dari perpustakaan sekolah, buku koleksi Kenji pun aku pinjam. Pada dasarnya aku tidak terlalu tertarik dengan sejarah, karena bagiku belajar masa lalu tidak terlalu berguna. Dengan terkuaknya masa lalu keluargaku, mau tidak mau aku harus banyak membaca literasi agar lebih memahami bagaimana suasana, kebijakan politik, penegakan hukum, dan lain sebagainya di saat itu. Aku yakin hal-hal tersebut akan banyak membantuku.

“Aku masih ada kumpulan kliping koran, seandainya kamu ingin baca-baca Leon,” kata Kenji sewaktu aku kembali mampir ke rumahnya untuk kembali meminjam buku.

“Simpan itu untuk nanti, aku perlu memahami hal-hal yang bersifat umum terlebih dahulu. Kau tahu, aku tidak terlalu tertarik dengan sejarah sehingga banyak yang harus kupelajari.”

“Baik Le, akan kusimpan itu untukmu. Omong-omong, apa kamu enggak ngerasa kalau kamu terlalu banyak mengalokasikan waktu buat baca-baca sejarah?”

Pertanyaan dari Kenji membuatku yang sedang sibuk memilah buku menoleh ke arahnya. Aku melemparkan pandangan yang kebingungan ke arahnya.

“Maksudmu?”

Kenji, tetap dengan wajahnya yang senantiasa meneduhkan, berusaha menjelaskan maksudnya tanpa perlu menyakiti perasaanku.

“Kalau aku perhatikan, akhir-akhir ini kamu sering melamun ketika guru sedang menerangkan di kelas. Ketika punya waktu kosong, kamu lebih memilih untuk membaca buku-buku sejarah hingga mengabaikan teman-teman yang lain. Bahkan Rika sampai mengkhawatirkanmu, loh.”

Tak satu kata pun yang meluncur keluar dari bibirku. Aku segera kembali menyibukkan diri dengan menelusuri buku-buku milik Kenji. Memang benar, aku sering melamun akhir-akhir ini baik ketika di kelas ataupun di rumah. Walaupun tak bermaksud seperti itu, pikiranku selalu melayang ke berbagai teori seputar misteri yang ada di hadapanku saat ini. Aku tahu aku telah berjanji ke Kenji untuk fokus ke Ujian Nasional yang tinggal beberapa bulan lagi, namun terkadang otak kita mengkhianati pemiliknya. Aku menyadari kesalahan ini, namun belum tahu bagaimana cara mengatasinya.

“Percaya sama aku Le, setelah kita menyelesaikan kewajiban kita sebagai pelajar, kita akan bongkar tuntas misteri yang menyangkut orangtua kita. Kamu kira aku enggak penasaran? Aku juga sering kepikiran, Le, biasanya sebelum tidur aku akan merenungkannya sejenak. Akan tetapi, aku masih bisa mengendalikan diriku agar tidak terlalu larut dan mengabaikan hal penting lain dalam hidup ini,” tambah Kenji setelah menyadari bahwa aku tak tertarik untuk membalas perkataannya. Setelah memutuskan untuk meminjam beberapa buku, aku pamit untuk pulang ke rumah.

***

Sehari sebelum bertemu dengan paman dan ayah, hatiku tiba-tiba merasa gelisah. Ada kekhawatiran kalau aku kembali kesulitan mengendalikan emosi seperti kemarin. Memang aku sudah meminta Kenji untuk sekali lagi menemaniku, namun tetap saja rasa cemas tersebut menggantung begitu saja. Gisel menyadari hal ini dan berusaha untuk meyakinkan aku kalau semua baik-baik saja. Aku pun berusaha menenangkan adikku dengan mengusap kepalanya seperti biasa, walaupun di dalam hatiku sendiri belum ada ketenangan.

Akibatnya, aku kesulitan untuk tidur. Sudah sekitar satu jam aku mengguling-gulingkan badanku ke berbagai arah. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengambil ponselku dan mencari kontak Rika. Aku mengiriminya pesan singkat yang menanyakan apa ia sudah tidur. Tak lama berselang, ponselku bunyi memecah heningnya malam karena Rika tiba-tiba menelepon.

“Halo Leon, kamu pasti lagi kepikiran sesuatu kan makanya sampai chat aku malam-malam?” sapa Rika sewaktu aku mengangkat telepon.

“Hehe, iya Rika, kau benar. Aku sudah satu jam baring di kasur tanpa bisa terlelap sedikit pun. Kau sendiri belum tidur?”

“Belum nih, tadi lagi dapet ide buat bikin cerita baru. Eh, keterusan sampai sekarang.”

“Oh iya? Cerita tentang apa?”

“Rahasia, hehehe. Kayaknya ini bakal jadi cerita terpanjangku yang pertama deh, Le. Biasanya kan aku cuma bikin cerita pendek yang cuma beberapa lembar.”

“Tentang dunia sihir milik Pangeran Kegelapan?” kataku sedikit menggodanya, mengingat ia sering memanggiku dengan sebutan itu.

“Hehehe, bukan kok. Yah, walaupun ada unsur fantasinya, novel ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis yang ingin kabur dari kehidupannya.”

“Tuh, kau kelepasan.”

“Eh, iya. Aduh, jadi enggak surprise dong!”

“Enggak apa-apa Rika, toh aku juga belum tahu kelanjutan ceritanya seperti apa.”

“Iya sih, kamu bener juga. Sekalian deh, aku lagi bingung sama nama karakter utamanya. Kamu ada usul enggak?”

“Perempuan, ya? Sebentar coba aku pikir. Dia seperti apa?”

“Yang jelas dia anak kaya raya yang kesepian karena orangtuanya sibuk bekerja. Ia tipikal gadis yang memendam semuanya begitu saja. Ia juga pinter banget karena papanya menuntut seperti itu.”

“Jadi kayak ada kesan misteriusnya gitu, ya.”

“Iya, Le. Aku udah kepikiran judulnya nanti akan berawalan kata distopia.”

“Distopia?”

“Iya, kebalikan dari utopia. Artinya kurang lebih seperti tempat yang kacau kayak neraka dunia gitu, lah.”

“Kalau gitu, nama belakangnya juga pakai kata ‘ia’ aja Rika. Mungkin Lia atau Tia gitu.”

“Bagus juga usulmu Le, tapi yang kamu sebutkan terlalu pasaran. Coba aku tulis satu persatu kali ya, dari A sampai Z.”

Rika pun meletakkan ponselnya, mungkin untuk mengambil catatan dan bolpoin. Sembari menunggu, aku pun mencoba untuk mengurutkannya dan mencari mana yang paling cocok untuk nama karakter dari novel Rika.

“Aia, Bia, Cia, Dia, Eia, Fia, hmm Fia lumayan menarik kayaknya. Gia, Hia, Iia, Jia, Kia, wah Kia juga bagus, terdengar anggun. Lia…,” Rika nampak bergumam sendiri di telepon, membuatku ingin memotong kesenangannya.

“Halo Rika?”

“Eh, maaf Leon aku malah jadi sibuk sendiri, ehehe. Nanti aku lanjutin aja, kan tadi kamu bilang lagi ada pikiran, eh malah aku yang ngomongnya ke mana-mana. Maaf ya, kebiasaan burukku ya gini ini Leon kalau udah asyik sama cerita sendiri.”

“Enggak apa-apa kok, aku cuma mau bilang kayaknya Kia yang paling cocok. Aku tadi udah ngurutin dari A sampai Z, itu yang paling cocok.”

“Gitu ya menurutmu? Aku juga setuju sih. Tapi kalau Kia aja kurang deh kayaknya.”

“Gimana kalau Zaskia?”

“Kamu jenius, Le! Aku langsung sreg denger nama itu dari kamu.”

“Terima kasih Rika.”

“Oke, berarti nama karakter utamanya Zaskia, panggilannya Kia. Udah, nanti aku lanjutin lagi. Sekarang kamu yang cerita ke aku.”

Aku pun menarik napas panjang sebelum memulai cerita ke Rika.

“Besok aku akan bertemu dengan ayah lagi.”

“Oh begitu. Terus terus?”

“Gimana ya, aku khawatir akan lepas kendali lagi. Ketika berhadapan dengan laki-laki itu, aku kesulitan untuk mengendalikan emosiku. Selalu terbayang betapa buruk perlakukannya kepadaku di masa kecil.”

“Iya, aku paham Leon. Kamu sudah mengalami masa kecil yang cukup sulit.”

“Di sisi lain, aku merasa butuh bertemu dengannya untuk mendapatkan jawaban. Ada banyak sekali pertanyaan yang menggantung di pikiranku akhir-akhir ini.”

“Makanya kamu sering ngelamun ya akhir-akhir ini.”

Aku mengambil jenak sejenak sebelum mengiyakan pernyataan yang dilontarkan Rika. Jika sampai dua orang terdekatku mengatakan sesuatu yang sama, artinya aku memang sedang tidak baik-baik saja.

“Gini ya Leon,” kata Rika setelah aku cukup lama diam, “kamu kemarin dengan berani sudah memutuskan cerita tentang kehidupanmu ke teman-teman. Salah satu tujuanmu adalah untuk berdamai dengan masa lalumu sendiri, bukan? Bertemu dengan ayahmu bahkan memaafkannya adalah salah satu cara lain yang harus lakukan.”

“Iya Rika, kau benar.”

“Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik aja. Aku yakin banget kamu bisa ngendaliin emosimu kali ini. Mungkin masih akan ada fakta-fakta lain yang mengejutkan, tapi aku yakin kamu akan lebih siap kali ini.”

“Begitu ya, Rik.”

“Bahkan kalau perlu, aku akan ikut ke rumahmu besok agar Kenji enggak sendirian seandainya kamu kembali mengamuk. Tapi aku yakin kalau kejadian seperti itu enggak akan terulang lagi. Aku percaya sama kamu, Le.”

Kata-kata yang kudengar dari Rika, entah bagaimana caranya, bisa membuatku lebih tenang dan merasa yakin. Semua yang ia katakan masuk akal dan begitu mencerahkan, mungkin karena ia pun pernah mengalami permasalahan yang serupa. Siapa yang menyangka, gadis yang seolah hidup di dunia fantasi ini bisa memiliki pemikiran sedewasa ini.

“Terima kasih Rika, aku benar-benar bersyukur bisa kenal dan dekat denganmu.”

“Ih, Leon malem-malem nggodain. Genit amat, mas?”

“Bu…bukan seperti itu maksudku, Rik. Aku…aku cuma menyampaikan apa yang kurasakan,” timpalku dengan sedikit gagap, merasa perkataanku barusan sedikit kurang ajar kepada lawan jenis.

“Hahaha, kamu ini lucu ya, Le, gemes banget deh. Aku bercanda kok Leon, jangan dianggap serius.”

“Oh, begitu, baiklah.”

“Iya iya, aku juga bersyukur udah kenal sama kamu. Makasi ya udah betah sama aku yang aneh ini.”

“Aku tak pernah menganggapmu aneh, Rika.”

Maka pembicaraan kami pun berlanjut membahas hal-hal lain yang tidak begitu penting. Mungkin ada satu jam kami saling bertukar cerita melalui telepon, dan ini menjadi durasi terlamaku. Selalu menyenangkan untuk ngobrol dengan Rika, ia selalu punya cara untuk membuat pembicaraan tidak membosankan. Apalagi, aku termasuk tipe orang yang gampang kehabisan topik pembicaraan.

Ketika jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, barulah kami mengakhiri percakapan kami dan saling memberi ucapan selamat tidur. Setelah meletakkan handphone di meja, aku berbaring di kasur orangtuaku. Karena kamarku belum juga direnovasi, beberapa hari ini aku tidur di sini walaupun kadang lebih memilih untuk tidur di ruang tamu ataupun ruang tengah. Tidur di sini selalu membuat pikiranku mengembara tanpa arah yang jelas. Samar-samar terkadang aku mencium aroma ibu -ibu angkatku-, walau aku yakin itu hanya buah imajinasiku semata. Tapi jika memang benar, mungkin ia sedang mengamati anaknya yang sedang gamang karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuanya.

Sekitar 45 menit aku melamun, mataku akhirnya terlelap tanpa tahu apa yang akan menanti keesokan harinya.