Connect with us

Olahraga

Haruskah Ole Out? Iya, Ole HARUS Out!

Published

on

Seperti biasa, setiap performa Manchester United (MU) sedang anjlok, tagar #oleout kembali berkumandang dengan lantangnya hingga menjadi trending topic. Kolom komentar di media sosial milik MU pun dibanjiri dengan kata-kata Ole Out.

Dalam 9 pertandingan terakhir di semua kompetisi, MU harus menelan lima kekalahan dari Young Boys (Liga Champion), West Ham United (EFL Cup), serta Aston Villa dan Leicester City (Premier League).

Yang paling memalukan tentu kekalahan 0-5 melawan rival abadinya, Liverpool, di kandang sendiri. Pertandingan berlangsung kemarin (24/10) dan mendapatkan respon keras dari penonton yang melakukan walkout setelah Paul Pogba mendapatkan kartu merah.

MU hanya mampu mendapatkan 3 kemenangan tipis dan dramatis ketika melawan West Ham United (Premier League), Villareal, dan Atalanta (Liga Champion). Bahkan, mereka hampir kalah ketika menjamu Everton di Old Trafford jika saja gol Yerry Mina tidak dianulir karena offside.

Benarkah Ole harus keluar dan berhenti menjadi pelatih Manchester United?

Alasan Ole Harus Keluar dari Manchester United

Ole Harus Keluar (Sky Sports)

Posisi Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih MU memang sangat sering goyang. Selain belum pernah menghadirkan trofi sama sekali, permainan yang dimiliki timnya terkadang begitu buruk hingga ia dicap sebagai pelatih yang miskin taktik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

MU mengusung formasi utama 4-2-3-1 dan Ole termasuk pelatih yang jarang mengganti pakemnya. Strategi yang kerap digunakan adalah memanfaatkan transisi lawan dari menyerang ke bertahan dengan cepat, atau bahasa mudahnya memanfaatkan counter attack.

Masalahnya, MU kerap kesulitan untuk menerobos lawan yang bermain bertahan, terutama tim yang menggunakan blok rendah. Jika sedang buntu, Ole sering terlihat kebingungan dan kurang pandai mengganti strategi dengan mengganti pemain.

Attitude yang dimiliki Ole juga kerap dikecam fan. Jika pelatih lain akan berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan, Ole sering terlihat hanya duduk manis sembari melihat layar yang ada di hadapannya. Parahnya lagi, ia kerap terlihat tetap bisa tersenyum meskipun timnya mengalami kekalahan.

Cristiano Ronaldo (Detik Sport)

Padahal, skuad yang dimiliki MU bisa dibilang cukup bertabur bintang. Apalagi, musim ini mereka berhasil memulangkan Cristiano Ronaldo ke Old Trafford dan mendatangkan pemain baru berkualitas seperti Raphael Varane dan Jadon Sancho.

Permasalahan lain yang sering diprotes fan adalah Ole yang terlihat sangat “mencintai” Fred. Padahal, menurut mereka permainan Fred begitu buruk. Sebagai gelandang, ia kerap kehilangan bola dan salah passing.

Meskipun banyak sekali yang kontra, ada minoritas yang tetap mendukung Ole. Mereka membandingkan era awal Ole dengan era awal Sir Alex Ferguson yang juga terseok-seok. Namun, hal ini langsung dibantah karena skuad yang dimililiki Fergie saat itu tidak begitu bagus, berbeda dengan era Ole sekarang.

Kenapa Ole Begitu Susah untuk Keluar?

Conte (Kiri) dan Zidane (TikTak)

Keinginan untuk segera mendepak Ole bisa jadi dipicu oleh banyaknya pelatih berkualitas yang saat ini sedang menganggur. Contoh mudahnya adalah Antonio Conte dan Zinadine Zidane yang sudah terbukti mampu meraih trofi bergengsi bersama timnya.

Ibaratnya, skuad MU sekarang ini adalah mobil Formula 1, tapi kemampuan mengemudi Ole hanyalah sebatas angkot. Mau sekencang apapun mobilnya, kalau yang mengemudi tidak mampu, mobil tersebut tidak akan pernah menang balapan.

Apalagi, pelatih-pelatih sebelum Ole juga tidak diberi kesempatan sepanjang ini. Mulai Louis van Gaal hingga Jose Mourinho, meskipun mereka berhasil menghadirkan trofi untuk MU, pada akhirnya tetap didepak juga.

Jika dari presentase kemenangan, Ole memang lebih tinggi (55.21%) jika dibandingkan dengan van Gaal (52.43%) dan David Moyes (52.94%). Namun, Mourinho memiliki presentase yang lebih tinggi (58.33%) dan berhasil memberikan tiga piala untuk MU.

Keluarga Glazer sebagai pemilik MU pun nampak tenang-tenang saja melihat performa Ole. Fan sampai curiga, mereka tidak ingin mencari pengganti karena harus membayar pesangon untuk Ole dan tidak ingin membayar pelatih yang gajinya lebih tinggi.

Fan sudah muak dengan yang namanya “percaya pada proses”. Yang mereka percaya adalah Ole tidak mampu untuk menangani tim sebesar MU. Apalagi, pengalamannya hanyalah sebatas melatih klub seperti Cardiff City, itupun timnya terdegradasi.

Penutup

Pertandingan melawan Liverpool kemarin seolah menjadi puncak “hancurnya” permainan Manchester United di bawah kepelatihan Ole. Koordinasi pemain belakang yang sangat buruk memang menjadi penyebab utama, tetapi fan tetap menyalahkan Ole sebagai pelatih utama.

Menurut pendapat Penulis pribadi, Ole memang kurang punya kapasitas sebagai pelatih untuk klub sebesar Manchester United. Status awalnya di klub ini hanya caretaker yang menggantikan Jose Mourinho. Penulis tidak menyangka kalau ia akan diperpanjang selama ini.

Kalau Penulis cenderung lebih memilih Zidane daripada Conte yang terkenal lebih suka bermain defensif. Melihat kualitas pemain belakang MU, Penulis ragu strategi Conte cocok untuk tim.

Hingga tulisan ini terbit, Penulis terus melakukan refresh di Instagram dan berita, berharap ada berita kalau Ole akan mengundurkan diri ataupun dipecat oleh direksi klub. Semoga saja rentetan hasil buruk ini bisa membuat klub membuat keputusan yang tegas.


Lawang, 24 Oktober 2021, terinspirasi setelah kerap gusar melihat permainan Manchester United beberapa tahun terakhir

Foto: Sky News

Sumber Artikel:

Olahraga

Menatap Masa Depan Manchester United Bersama Michael Carrick

Published

on

By

Penggemar Manchester United (MU) di seluruh dunia tampaknya sedang menjalani pekan-pekan yang selalu berbahagia belakangan ini. Semenjak Michael Carrick menggantikan Ruben Amorim, MU masih tak terkalahkan!

Dalam enam pertandingan terakhir bersama Carrick, MU berhasil mencatatkan lima kemenangan dan satu kali imbang. Memang fans yang itu gagal potong rambut, tapi setidaknya trennya sudah semakin positif.

Catatan ini semakin impresif karena di periode pertama Carrick menjadi pelatih interim, ia juga tak terkalahkan dalam tiga laga (dua kali menang dan satu kali imbang). Artinya, selama melatih MU, ia belum pernah kalah.

Tentu catatan ini membuat banyak penggemar merasa optimis MU akan kembali ke masa jayanya bersama Carrick, walau ada isu kalau ia tak akan diperpanjang setelah musim ini berakhir.

Terlepas dari ketidakpastian itu, mari kita menatap masa depan Manchester United bersama Michael Carrick.

Formasi 4-2-3-1 yang Fluid dan Transisi Cepat

Michael Carrick, Mantap! (Bola)

Salah satu alasan mengapa banyak fans MU yang jengkel ke Amorim adalah betapa ngotot dan keras kepalanya ia dalam memaksakan filosofinya ke dalam tim. Seperti yang kita tahu, sejak bergabung ia menggunakan formasi 3-4-2-1 seperti di Sporting Lisbon.

Masalahnya, dalam beberapa pertandingan kita bisa melihat kalau formasi ini kurang sesuai dengan komposisi pemain yang dimiliki oleh MU. Dalam beberapa pertandingan yang Penulis lihat, para pemain terlihat kesulitan menerapkan strategi yang diinstruksikan Amorim.

Memang pembelian di awal musim ini untuk melengkapi strategi yang ia miliki, tapi tetap saja kurang. Menjelang lengser, memang ia terlihat mulai fleksibel dan tidak memaksakan skemanya lagi, tapi ternyata sudah terlalu terlambat.

Carrick pun datang dan menerapkan formasi tradisional 4-2-3-1, yang sebelumnya juga digunakan oleh Ole Gunnar Solkjaer dan Erik Ten Hag. Nah, Penulis melihat kalau Carrick seolah memadukan strategi dari kedua pelatih tersebut.

Di bawah Ole, empat pemain depan bermain dengan cukup fluid dan kerap bertukar posisi. Posisi mereka bisa bergeser-geser sehingga pertahanan lawan pun tampak kesulitan untuk mengantisipasi serangan MU.

Sementara itu di bawah Ten Hag, ia memiliki ambisi untuk menjadikan MU sebagai tim transisi terbaik alias mampu mengonversi counter attack dengan baik. Nah, dua hal tersebut kembali dimunculkan oleh Carrick.

Gol ke Gawang Everton, Rangkuman Strategi Carrick

Laga Melawan Everton (Detik)

Dalam enam pertandingan ini, Carrick selalu memasang Bryan Mbuemo di ujung tombak dan ditopang oleh Patrick Dorgu/Matheus Cunha, Bruno Fernandes, dan Amad Diallo. Keempat pemain ini sangat sering terlihat bertukar posisi di lapangan secara fleksibel.

Benjamin Sesko memang belum pernah menjadi starting line-up, tapi ia kerap berhasil menjadi super-sub dan mencetak gol penentu. Terakhir, tentu saja ketika laga melawan Everton kemarin yang merupakan hasil dari counter-attack cepat.

Nah, bicara tentang gol melawan Everton kemarin, bisa dibilang gol tersebut merangkum strategi MU di bawah Carrick. Selain lini depan yang fluid dan counter attack yang cepat, kunci MU adalah di long pass.

Gol tersebut bisa tercipta dari umpan panjang Cunha ke Mbuemo, sebelum akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Sesko. MU di bawah Carrick memang terlihat cukup sering mengirim umpan panjang ke depan maupun untuk switch play.

Oleh karena itu, kehilangan lagi Lisandro Martinez merupakan kehilangan besar bagi MU. Pasalnya, bek tersebut memiliki akurasi umpan panjang yang cukup akurat dan tidak ada bek MU lain yang memiliki kemampuan seperti itu.

Sesko Sebagai Super-Sub

Benjamin Sesko (Goal)

Kembali ke Sesko. Dalam pertandingan di bulan Februari saja, ia sudah berhasil mencetak tiga gol krusial, di mana dua menjadi penentu kemenangan dan menyelamatkan MU dari kekalahan ketika melawan West Ham.

Kekurangan MU di bawah Carrick adalah melawan tim yang menerapkan low block. MU sering terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan yang rapat, apalagi Mbuemo sejatinya bukanlah tipe target man.

Nah, Sesko adalah jawaban dari kekurangan tersebut. Penulis tidak tahu apa alasan Carrick tidak memasang Sesko sejak awal ketika berhadapan dengan tim low block, tapi ketika ia masuk, perubahan bisa langsung terlihat.

Sesko sudah mencetak 3 gol sepanjang bulan Februari ini. Sebagai perbandingan, total golnya dari awal musim hingga Januari 2026 hanya 4 gol. Sesko rasanya cocok dengan skema yang dimiliki oleh Carrick.

Perubahan Peran Pemain Lainnya

Kobbie Mainoo (The People’s Person)

Berbicara tentang improvement, kita juga harus melihat Kobbie Mainoo yang sempat “disia-siakan” oleh Amorim karena jarang mendapatkan jam bermain. Di bawah Carrick, ia selalu menjadi langganan lineup.

Karena Carrick menggunakan formasi 4-2-3-1, tentu dibutuhkan double pivot untuk menemani Casemiro. Mengingat Manuel Ugarte kurang sip, tentu Mainoo adalah opsi tersisa dan untungnya ia bisa menjawab tantangan tersebut.

Fernandes juga akhirnya dikembalikan ke posisi aslinya sebagai pemain nomor 10. Di bawah Amorim, ia kerap bermain lebih mundur atau sedikit ke kiri, sehingga terlihat kurang mampu berperan sebagai playmaker.

Jangan lupakan juga performa luar biasa Senne Lammens yang kerap melakukan penyelamatan krusial. Penulis awalnya sempat meragukannya, tapi ia menunjukkan kapabilitasnya sebagai kiper top yang jauh lebih baik dari Andre Onana.

Pemain lain yang berubah posisi adalah Luke Shaw, yang sebelumnya sering dijadikan sebagai CB oleh Amorim. Ia kembali ke posisinya semula sebagai LB, sedangkan Dorgu yang juga berposisi sama dimajukan menjadi LM.

Nah, seandainya Dorgu sudah kembali fit, tentu Carrick akan pusing dalam menentukan pemain utamanya karena Cunha juga menunjukkan performa yang oke. Hanya saja, itu juga patut disyukuri karena artinya MU mulai punya kedalaman skuad yang baik.

***

Jika MU mampu bermain baik terus seperti ini, maka slot Liga Champions seharusnya bisa diamankan setelah musim ini tidak berlaga di turnamen Eropa mana pun.

Tentu masih PR yang harus dikerjakan Carrick apabila ia diperpanjang oleh manajemen MU, terutama mencari pengganti Casemiro yang kontraknya habis. Setidaknya, untuk saat ini, Penulis ingin menikmat masa “bulan madu” MU bersama Carrick.


Lawang, 25 Februari 2026, terinspirasi setelah menonton Manchester United tak terkalahkan selama 10 pertandingan terakhir

Continue Reading

Olahraga

“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”

Published

on

By

Bulan Desember ini rasanya tidak ramah bagi pendukung Manchester United (MU). Pasalnya, banyak sekali pertandingan MU yang dimainkan pukul 3 pagi waktu Indonesia Barat. Iya kalau menang, kalau seri atau kalah jadi terasa sia-sia bangun sepagi itu.

Salah satu pertandingan yang baru saja usai adalah saat menjamu Bournemouth, yang berlangsung pada hari Selasa (16/12) kemarin. Pertandingan yang berlangsung dramatis tersebut harus berakhir imbang dengan skor fantastis, 4-4.

Mungkin banyak pendukung (termasuk Penulis) MU yang merasa bahwa situasi tim saat ini sudah membaik. Setelah mengalami musim neraka sebelumnya, kondisi yang ada sekarang jelas terasa sudah cukup, setidaknya untuk menghindari bully dari pendukung tim lain.

Evaluasi Singkat Pertandingan Melawan Bournemouth

Pertahanan Masih Banyak PR (via Metro Daily)

Mengingat MU sekarang sering dianggap sebagai klub papan tengah, Bournemouth adalah salah satu lawan yang membuat kami sering merasa deg-degan. Pasalnya, klub tersebut cukup rajin membobol gawang MU, bahkan pernah dua kali menang 3-0 di Old Trafford di musim 23/24 dan 24/25.

Musim ini, Bournemouth berhasil menjebol empat gol di Old Trafford, yang untungnya MU juga bisa mencetak jumlah gol yang sama. Pertandingan tersebut memang bagaikan sebuah roller coaster, dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 2-3, 3-3, 4-3, hingga akhirnya 4-4.

Terlepas dari hasilnya, sebenarnya Penulis melihat kalau MU memiliki progres yang terlihat. Dalam pertandingan kemarin contohnya, lini penyerangan MU terlihat lebih berbahaya dan berhasil mencatatkan banyak peluang hingga 25 tembakan (17 di antaranya di babak pertama).

Namun, serangan yang banyak tersebut nyatanya jadi sia-sia karena banyak finisihing yang kurang klinis. Mbuemo yang biasanya moncer terlihat agar kurang kemarin, karena beberapa kali membuang peluang emas di depan gawang. MU sejatinya bisa mencetak lebih dari empat gol.

Setidaknya, pola serangan MU jadi lebih jelas dan enak untuk ditonton, beda dengan musim lalu yang kayak enggak jelas mau bermain seperti apa. Set piece MU juga makin tajam, di mana musim ini telah mencetak 11 gol dari kondisi ini.

Sisi pertahanan pun patut disorot. Kebobolan 10 dalam tiga laga terakhir ketika menjamu Bournemouth di kandang jelas bukan raihan yang impresif. Memang, ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kebobolan empat, asal bisa mencetak lima. Masalahnya MU hanya bisa mencetak empat.

Dari sisi kiper, Lammens yang menggantikan Onana berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial terutama di menit-menit akhir. Hanya saja, ia juga melakukan kesalahan ketika telat melompat saat Bournemouth mendapatkan tendangan bebas di depan gawang.

Amorim menurunkan dua bek muda pada pertandingan kemarin, yakni Yoro dan Heaven, karena Maguire dan De Light masih berhalangan untuk tampil. Mereka berdua tampil cukup solid, bahkan mungkin lebih baik dari Shaw yang kemarin sempat kehilangan bola dan berujung kebobolan.

Jika disimpulkan, musim ini para pemain MU tampak sudah mulai nyetel dengan formasi 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim. Tak hanya itu, sang pelatih juga tampaknya mendengarkan masukan dan mulai mengubah sedikit strateginya.

Perubahan Strategi Amorim

Jadi Lebih Menyerang (via Bola)

Sejak menangani MU, Ruben Amorim dan strateginya kerap disorot. Dengan status sebagai manajer terburuk setelah era Sir Alex Ferguson, banyak yang menganggap formasi 3-4-2-1 yang ia usung tak cocok untuk MU.

Amorim tak menyerah begitu saja pada filosofinya, lantas ia mendatangkan tiga pemain baru agar strateginya bisa lebih jalan. Hal tersebut memang terlihat karena MU jelas lebih moncer dibandingkan setengah musim lalu.

Satu hal yang paling terlihat dari pertandingan kemarin adalah perubahan strategi dari Amorim. Melansir dari tulisan analis Alex Keble, Amorim mencoba bereksperimen dengan empat bek “palsu”, dengan Yoro main di sisi kanan.

Dengan demikian, posisi Diallo yang di atas kertas merupakan bek sayap kanan bisa lebih maju untuk membantu lini penyerangan. Ia bersama Mbuemo, Mount, dan Fernandes menjadi pemain yang menyokong Cunha yang kemarin dipasang sebagai false 9.

Sementara itu, Casemiro diplot sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, alias menjadi penyeimbang. Jadi, walau di atas kertas posisi MU 3-4-2-1, di lapangan bisa berubah seperti 4-1-4-1.

Jika Dalot ikut menyerang, maka formasinya akan bisa berubah menjadi 3-1-1-5, di mana Fernandes yang akan menjadi pengatur serangan dengan memanfaatkan overload pemain di depan. Namun, tentu pola ini sangat rentan terkena serangan balik.

Ketika tertinggal, MU berubah formasi menjadi 4-2-4 di mana Sesko dimasukkan. Strategi ini sempat berhasil karena berhasil membuat MU berbalik unggul. Sayangnya, Amorim tidak segera mengubah formasi menjadi lebih defensif sehingga MU kembali kebobolan.

Perubahan strategi ini memang terlihat berhasil karena MU bisa mencetak gol banyak. Meskipun Sesko masih sering terlihat enggak ngapain-ngapain dan Mount inkonsisten, setidaknya permainan Cunha, Mbuemo, dan Diallo bisa memberikan harapan.

Satu hal lain yang perlu dicatat adalah bagaimana pemain MU tidak terlalu terpatok pada posisinya, sehingga alur serangan terlihat sangat fluid. Dalot tiba-tiba bisa di tengah, Cunha sering turun ke dalam untuk jemput bola, Mount kerap melebar, dan seterusnya.

Di sisi lain, strategi tersebut menimbulkan celah yang cukup lebar di belakang. Selain Casemiro yang harus cover banyak area, jarak antarbek pun cukup lebar dan celah tersebut kerap dimanfaatkan.

Dalam pertandingan kemarin, bisa dilihat ketika situasi bola berhasil direbut ketika sedang build up serangan, pemain MU terlihat kewalahan dalam menjaga pemain lawan sekaligus menutup area agar tidak dieksploitasi. Casemiro bahkan sampai melakukan pelanggaran yang berujung gol.

Memang ada faktor pengalaman, mengingat Yoro dan Heaven bahkan belum berusia 20 tahun. Jika De Ligt dan Maguire telah kembali (dan Martinez telah menemukan kembali performa terbaiknya), strategi ini terlihat sangat menjanjikan.

***

Jika melihat sekarang, memang situasinya terlihat lebih baik. Bertengger di peringkat enam setelah musim lalu finis di peringkat 15 jelas membuat kami merasa senang. Padahal, dalam tujuh pertandingan terakhir, MU hanya bisa menang dua kali. Sungguh keajaiban.

Namun, bukan berarti kondisi tim sudah membaik secara menyeluruh. Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar tim setan merah ini bisa segera kembali ke jajaran tim top Eropa dan agar Frank Ilett segera memotong rambutnya.


Lawang, 18 Desember 2025, terinspirasi setelah menonton pertandingan antara MU vs Bournemouth

Foto Featured Image: Kompas Bola

Sumber Artikel:

Continue Reading

Olahraga

Lando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025

Published

on

By

Ketika baru dimulai, banyak yang merasa kalau musim Formula 1 (F1) 2025 akan terasa membosankan. Dominasi McLaren dari akhir 2024 berhasil dipertahankan, sehingga siapa yang akan menjadi juara sudah bisa ditebak.

Apalagi, musim ini akan menjadi musim terakhir sebelum tahun depan akan berganti regulasi yang benar-benar baru. Belum ada yang bisa menebak siapa yang akan dominan di musim depan, apalagi dengan jumlah tim yang bertambah menjadi 11.

Namun, siapa sangka kalau ternyata musim ini masih bisa terasa seru bahkan hingga balapan terakhir di Abu Dhabi. Memang, prediksi banyak orang terbukti dengan McLaren dan Lando Norris berhasil menjadi juara. Namun, perjalanan menuju juara tak semulus yang terlihat.

Dominasi McLaren Sejak Awal Musim

Verstappen vs McLaren (via Planet F1)

Sejak awal musim, kita bisa melihat kalau McLaren tampaknya akan berhasil mempertahankan gelar juara konstruktornya. Dari pra-musim di Bahrain saja, pace mereka sudah terlihat sangat kencang hingga banyak yang menyebut mereka menggunakan mesin roket. Tinggal melihat, siapakah di antara Lando Norris dan Oscar Piastri yang akan menjadi juara.

Di sisi lain, Max Verstappen bersama Red Bull terlihat cukup kesulitan mengimbangi performa duo Mclaren. Julukan “mobil traktor” pun sampai muncul. Bahkan, Liam Lawson yang menjadi pengganti Sergio Perez hanya bertahan dua balapan sebelum turun ke Racing Bulls dan digantikan oleh Yuki Tsunoda.

Buruknya performa Red Bull juga diperparah dengan masalah internal tim. Seperti yang kita tahu, di pertengahan musim, Christian Horner selaku Team Principal Red Bull selama 20 tahun terakhir didepak pada tanggal 9 Juli 2025 dan digantikan oleh Laurent Mekies.

Sementara itu, tim-tim lain juga tampak biasa saja. Mercedes harus kehilangan Lewis Hamilton yang hijrah ke Ferrari dan mendebutkan Kimi Antonelli . Ferrari ya begitu-begitu saja, susah untuk diharapkan, walau sudah kedatangan juara dunia tujuh kali.

Pada balapan pertama di Australia, Norris berhasil mengunci kemenangan. Verstappen secara mengejutkan berhasil mengunci posisi kedua, sedangkan Piastri harus kehilangan banyak posisi akibat kesalahan yang ia lakukan.

Walau begitu, Piastri berhasil bangkit dengan meraih kemenangan di China. Bahkan, setelah kemenangan Verstappen di Jepang, ia berhasil mencetak tiga kemenangan beruntun di Bahrain, Arab Saudi, dan Miami. Ia pun berhasil mengudeta Norris di puncak klasemen dan berhasil bertahan selama beberapa bulan.

Setelah itu, praktis Norris dan Piastri bergantian menang hingga Belanda, dengan George Russel berhasil mencuri satu kemenangan di Kanada. Norris berhasil menang di Monaco, Austria, Inggris, dan Hungaria. Sementara itu, Piastri menambah kemenangan di Spanyol, Belgia, dan Belanda.

Bagaimana dengan Verstappen? Bisa dibilang ini adalah fase tersuramnya di musim 2025. Setelah kemenangan di Italia, ia hanya dua kali naik ke podium, yakni di Kanada dan Belanda. Keduanya sama-sama juara dua, tidak ada satu pun kemenangan yang ia raih.

Comeback Epik Verstappen dan Menurunnya Performa Piastri

Verstappen dan Piastri (via F1)

Dipecatnya Horner terbukti ampuh dalam memperbaiki performa tim. Di bawah arah Mekies, perlahan Verstappen dan Red Bull kembali menunjukkan raihan impresif. Sejak di Belanda, ia berhasil selalu raih podium!

Di pertengahan musim, ketika Piastri sedang menjadi pemuncak klasemen, jarak Verstappen mencapai 104 poin. Oleh karena itu, sebuah raihan yang luar biasa ia berhasil mengejar ketertinggalan tersebut hingga hanya dua poin saja di akhir musim!

Dari 10 balapan terakhir di musim ini, Verstappen juga berhasil meraih enam kemenangan. Bahkan, jumlah kemenangannya di musim ini (8) berhasil mengungguli Norris dan Piastri yang sama-sama mengoleksi 7 kemenangan.

Lantas, apa yang terjadi dengan Piastri? Itu menjadi banyak pertanyaan orang. Sejak juara di Belanda, Piastri gagal meraih satu pun kemenangan. Ia hanya berhasil tiga kali podium di Italia, Qatar, dan Abu Dhabi. Selebihnya, ia hanya finis di peringkat 4-5 saja.

Hal ini makin diperparah dengan kegagalan finisnya di Azerbaijan dan diskualifikasi di Las Vegas. Meskipun ia di paruh awal musim konsisten naik podium, menurunnya performa di musim kedua jelas menjadi alasan utama mengapa ia kehilangan gelar juara dunia.

Banyak yang menganggap penurunan performa Piastri disebabkan oleh adanya kecenderungan tim yang lebih memprioritaskan Norris. Ada juga yang menganggap Piastri belum memiliki mental juara, mengingat ini baru musim ketiganya di F1.

Walau begitu, kita harus bersyukur karena kedua pembalap tersebut telah membuat musim ini menjadi lebih seru. Sudah lama tidak ada penentuan juara hingga balapan terakhir (terakhir musim 2021, Verstappen vs Hamilton), lebih lama lagi tidak ada gelar juara yang direbutkan oleh lebih dari dua pembalap (terakhir 2010, Alonso vs Webber vs Vettel vs Hamilton).

Konsistensi Jadi Kunci Lando Norris Juara Dunia

Memang Layak untuk Juara (via The Independent)

Bisa dilihat kalau Piastri bagus di paruh musim pertama, sedangkan Verstappen “ngamuk” di paruh musim kedua. Di saat saingan-saingan terdekatnya inkonsisten, Norris berhasil menunjukkan performa konsisten yang membuatnya layak menjadi juara dunia.

Sejatinya, Norris bukan tanpa celah di musim ini. Bahkan, ia gagal finis hingga tiga kali, yakni di Kanada karena kesalahannya, di Belanda karena masalah dengan mobilnya, dan di Las Vegas karena diskualifikasi setelah balapan.

Sebagai perbandingan, Piastri gagal finis dua kali di musim ini, sedangkan Verstappen hanya gagal finis di Austria. Secara matematis, harusnya Norris menjadi pembalap yang paling sering kehilangan poin. Namun, bukan hal itu yang terjadi.

Dari 21 balapan ketika ia berhasil finis, hanya sekali ia terlempar dari empat besar, yakni ketika di Azerbaijan ketika ia hanya finis di posisi 7. Selebihnya, ia selalu konsisten masuk minimal 4 besar, dengan rincian sebagai berikut:

  • Juara 1: 7 kali
  • Juara 2: 8 kali
  • Juara 3: 3 kali
  • Juara 4: 2 kali

Bisa dilihat, total ia berhasil naik ke podium hingga 18 kali dari 24 balapan yang ada di musim ini. Piastri hanya 16 kali, sedangkan Verstappen berhasil naih podium 15 kali. Jangan lupa, kedua pembalap juga cukup sering terlempar dari 5 besar.

Oleh karena itu, Penulis tidak sepakat dengan argumen penggemar yang mengatakan kalau Norris tidak layak untuk menjadi juara dunia. Dengan data di atas, berhasil dibuktikan kalau Norris memang menjadi pembalap paling konsisten di tahun 2025 ini.

Sekarang tinggal menantikan, apakah konsistensi ini berhasil ia lanjutkan di musim 2026 mendatang, di mana semua pembalap akan memulai dari nol berkat regulasi baru. Apakah ia berhasil mempertahankan nomor 1 di mobilnya, atau justru direbut oleh pembalap lain?

Enaknya jadi penonton F1 tanpa ada tim atau pembalap yang didukung ternyata seperti ini, mau mengomentari apa pun terasa ringan tanpa beban…


Lawang, 8 Desember 2025, terinspirasi setelah menyaksikan momen ketika Lando Norris menjadi juara dunia

Foto Featured Image: MSN

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018