Connect with us

Sepak Bola

Drama Ala Cristiano Ronaldo

Published

on

Bisa dibilang, transfer windows musim ini bisa dibilang paling gila sepanjang sejarah sepakbola. Banyaknya perpindahan pemain yang tidak terduga menjadi penyebabnya.

Yang paling heboh tentu saja kepindahan Lionel Messi dari Barcelona ke Paris St. Germany secara gratis. Kehebohan tersebut begitu menggemparkan penggemar sepakbola, terutama fans Messi dan Barcelona.

Terbaru, ada “drama” baru yang dibuat oleh rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo. Beda dengan balada Messi yang membuat Penulis merasa sedih, kepindahan Ronaldo ini mampu put a smile on my face.

Pulangnya Ronaldo ke Old Trafford

Ronaldo Berseragam Juve (Sports Illustrated)

Drama ini dimulai setelah secara tiba-tiba Ronaldo mengatakan kalau dirinya sudah tidak ingin bermain untuk klubnya saat itu, Juventus. Ia telah berpamitan dengan rekan satu timnya dan sang pelatih, Massimiliano Allegri, juga telah mengeluarkan statement resminya.

Yang membuat Penulis panik dan ketar-ketir adalah mencuat isu bahwa Ronaldo akan pindah ke Manchester City, yang notabene adalah rival satu kota dari klub yang Penulis dukung, Manchester United (MU).

Meskipun Penulis bukan penggemar Ronaldo secara personal, kepindahan mantan pemain legenda MU ke klub yang Penulis kurang sukai jelas menyakitkan perasaan. Fans MU yang lain pun akan merasakan sakit yang sama.

Sepanjang hari Penulis pun mantengin berita transfer Ronaldo, terutama lewat media sosial milik Fabrizio Romano, wartawan yang terkenal karena akurasinya dalam menyampaikan berita transfer.

Setelah dag-dig-dug sepanjang hari, muncul kabar bahwa MU akhirnya ikut bergerak mendekati Ronaldo dan mendekati agennya, Jorge Mendes. Bahkan, City sampai memutuskan untuk mundur untuk mendapatkan tanda tangan Ronaldo.

Akhirnya sekitar jam 11 malam, di Instagram Manchester United mengumumkan bahwa legenda mereka resmi pulang ke OId Trafford.

Pindah karena Messi?

Insecure karena Messi? (The Japan Times)

Tidak ada yang menyangka bahwa musim ini, dua pemain yang dijuluki sebagai GOAT pindah ke klub dalam waktu yang sama. Messi pindah ke PSG dan Ronaldo kembali ke Manchester United.

Banyak yang berspekulasi kalau kepindahan Ronaldo yang dramatis ini dipengaruhi oleh kepindahan Messi yang menggegerkan jagad sepakbola. Ronaldo dianggap merasa insecure dengan spotlight yang didapatkan oleh rivalnya tersebut.

Kepindahan Messi memang sangat mengegerkan publik dan disambut dengan antusias oleh penggemar PSG. Bahkan, jersey-nya terjual habis dalam waktu singkat. Mungkin seminggu lebih, media olahraga memberitakan Messi tanpa henti.

Nah, karena Messi mendapatkan perhatian yang begitu besarnya, Ronaldo selaku rival abadinya pun merasa tidak tenang. Agar mendapatkan perhatian yang sama, ia pun membuat “drama” yang diawali dengan rumor kepindahannya ke City.

Apakah ini benar? Tentu tidak bisa dipastikan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kepindahan Ronaldo dan Juventus ke Manchester United. Kita tunggu saja pernyataan resmi darinya, mungkin ketika perkenalan nanti.

Apakah Ronaldo Mampu “Menggendong” MU?

Mampu Bikin MU Angkat Piala Lagi? (Goal)

Ronaldo tidak perlu diragukan lagi sebagai salah satu pemain sepakbola terbaik sepanjang masa. Torehan yang ia raih sepanjang karirnya sangat susah untuk ditiru oleh siapapun.

Pertanyaan besarnya, apakah kepulangan Ronaldo mampu membawa MU berjaya kembali seperti di periode pertamanya?

Ronaldo di usianya yang ke-36 terlihat masih cukup garang di depan gawang lawan. Torehan golnya bersama Juventus musim kemarin menyentuh angka 44 di semua kompetisi. Apalagi, ia menjadi top score Euro 2020 bersama timnas Portugal.

MU, walau kadang bisa menang dengan margin gol yang besar, terkadang kerap menemui kebuntuan saat menghadapi tim yang bermain bertahan. Selain Cavani, mental para pemain depan juga terkadang masih naik-turun.

Kedatangan Ronaldo ke MU tentu menjadi angin segar. Sebagai legenda hidup klub, kehadirannya diharapkan mampu membuat perubahan yang signifikan. Bukan hanya dari jumlah gol, melainkan dari sisi mental.

Ya, Ronaldo adalah pemain bermental juara. Skuad MU saat ini, sayangnya, tidak banyak yang memiliki mental juara sebesar Ronaldo. Tentu Penulis berharap kedatangan Ronaldo kali ini mampu “menggendong” MU, terutama menularkan mental juara yang ia miliki.

Selain itu, kepindahan Ronaldo juga akan berpengaruh terhadap strategi dan formasi yang akan diterapkan oleh pelatih Ole Gunnar Solskjær. Penulis akan membahasnya di tulisan selanjutnya.


Lawang, 30 Agustus 2021, terinspirasi setelah mendengar kembalinya Ronaldo ke Manchester United

Foto: Transfermarkt

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Sepak Bola

Jadi Pendukung Manchester United Itu Harus Ekstra Sabar

Published

on

By

Ketika mengetahui Manchester United (MU) harus menghadapi Liverpool, Penulis sudah merasa pasrah duluan. Jika di Old Trafford saja skornya 0-5, entah berapa skornya jika bermain di Anfield.

Apalagi, Cristiano Ronaldo harus absen karena baru kehilangan anaknya dan Raphael Varane harus menepi karena cedera. Rasa was-was semakin menjadi karena Ragnick menurunkan duo “Lord“: Harry Maguire dan Phil Jones.

Benar saja, feeling buruk Penulis menjadi kenyataan. Manchester United dibantai lagi dengan skor 0-4. Jika melihat cuplikan pertandingannya, pertahanan klub setan merah ini benar-benar amburadul dan bisa dianggap memalukan.

Harusnya Penggemar yang Frustasi, Bukan Anda (Goal.com)

Para legenda MU seperti Roy Keane dan Gary Neville sudah menunjukkan sisi frustasi mereka. Penulis pun begitu, apalagi kalau mengingat dulu kami punya Ferdinand dan Vidic, sedangkan sekarang klub terus memainkan pemain seperti Maguire.

Sebenarnya menerima hasil buruk seperti ini sudah biasa untuk kami para penggemar MU. Tidak hanya itu, ejekan dan perundungan dari berbagai penggemar tim bola lain juga sudah menjadi makanan sehari-hari hingga sampai mati rasa.

Ini seolah mempertegas kenyataan kalau jadi penggemar MU itu harus ekstra sabar dan punya mental tangguh.

Kenapa Manchester United Jadi Sebobrok Ini?

Erik ten Hag (Eurosport)

Salah satu alasan mengapa banyak yang menyerang MU tentu saja karena kejatuhannya setelah ditinggal Sir Alex Ferguson. Entah sudah berapa kali ganti pelatih, tetap saja prestasi MU makin ke sini makin nihil.

Ole yang sudah diganti Ralf Ragnick pun tak membawa perubahan yang signifikan. Manchester United telah menunjuk Erik ten Hag sebagai pelatih mulai musim depan, menggantikan Ragnick yang akan berpindah jabatan.

Seperti biasanya, pendukung klub setan merah memiliki optimisme tinggi setiap ada pergantian pelatih. Penulis tidak. Melihat permainan yang ditunjukkan oleh para pemain, rasanya tidak ada semangat untuk bisa menjadi seorang juara.

Ragnick memang mengatakan pada konferensi pers setelah melawan Liverpool, bahwa akan ada revolusi besar-besaran. Bahkan, bisa saja ada 10 pemain yang akan didatangkan dan beberapa nama tampaknya akan hengkang dari klub.

Jika revolusi ini benar-benar terjadi dan ten Hag bisa memimpin tim, perubahan ke arah yang lebih baik mungkin memang bisa benar-benar terjadi. Apalagi, jika ia berani untuk mencadangkan (atau bahkan menjual) pemain beban seperti sang kapten, Harry Maguire.

Harry Maguire, si Paling Menyusahkan

Harry Maguire (Bola.com)

Harry Maguire memang kerap menjadi “kambing hitam” atas penurunan performa MU beberapa tahun terakhir. Sebagai pemain dengan harga mahal dan menyandang ban kapten, permainannya kerap patut ditertawakan dan tak jarang membuat blunder yang menyusahkan.

Penulis pun tak habis pikir, mengapa pemain dengan kualitas seperti itu bisa terus bermain secara reguler dan menyandang ban kapten? Jika pemain underperform, sudah sewajarnya jika ia diganti oleh pemain lain.

Penulis memiliki dua teori mengapa Maguire masih terus dimainkan. Pertama, tidak ada pemain lain yang bisa menggantikan posisinya. Selain Raphael Varane, MU hanya punya Victor Lindelof, Eric Bailly, dan Phil Jones.

Kedua, dan Penulis curiga inilah alasan yang sebenarnya, adalah karena direksi MU ikut campur untuk terus memainkan Maguire. Bisa karena gengsi karena harganya, bisa karena ada kontrak yang menyebutkan Maguire harus bermain sejumlah pertandingan.

Jika mau berpikiran negatif, mungkin ada semacam denda yang harus dibayarkan direksi jika Maguire bermain dengan jumlah sedikit. Sebagai pebisnis, mungkin para direksi tersebut lebih memilih untuk memainkan si paling menyusahkan, terutama menyusahkan David De Gea.

Kenapa Pendukung Manchester United Jadi Sasaran Ejekan Pendukung Tim Lain?

Contoh Twit Sombong (Suara.com)

Jika ada tim yang digdaya lantas mengalami penurunan performa, ejekan pasti datang terutama dari penggemar tim rival. Mudahnya, jika klub seperti Norwich City atau Southampton dibabat oleh lawannya, apakah penggemar tim lain akan merundung mereka?

Rasanya sangat jarang sekali terdengar atau terlihat di media sosial. Apalagi di Indonesia, yang notabene sangat jarang ada penggemar sepak bola yang memilih tim tersebut sebagai favoritnya.

Loh, bukannya masih klub hebat lain yang performanya juga menurun? Katakanlah Arsenal yang tak setangguh era awal 2000-an atau Barcelona pasca ditinggal Messi (walau akhir-akhir ini Barca mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik sejak dilatih Xavi).

Nah, alasan lain kenapa MU jadi sasaran empuk adalah admin dan beberapa oknum penggemar yang shombonk amat. Kalau MU sedang berada di atas angin, mereka akan banyak bersuara dan merasa klubnya paling hebat di dunia.

Contoh mudahnya adalah twit “gini doang grup neraka” dan “senggol dong” yang dilakukan oleh admin medsos MU. Akibatnya, seluruh penggemar MU pun harus menerima getahnya dan harus belajar ekstra sabar.

Jadi Pendukung Manchester United Memang Harus Ekstra Sabar

Pendukung MU (Manchester United)

Kalau sedang berada di posisi yang sulit, kenapa tetap menjadi pendukung MU?

Justru di saat-saat sulit seperti inilah kesetiaan penggemar kepada timnya sedang diuji. Mungkin mirip dengan penggemar Liverpool di era sebelum Jurgen Klopp masuk, di mana prestasi klub dan performanya bisa dianggap terjun bebas.

Jika ditanya apa solusinya, Penulis pun merasa bingung. Menendang keluar Harry Maguire dan beberapa pemain yang menyusahkan mungkin bisa menjadi solusi, tapi rasanya belum tentu hal tersebut akan membereskan semua permasalahan yang ada.

Masuknya pelatih baru pun belum menjadi jaminan nasib klub akan berubah menjadi lebih baik. Adanya revolusi yang dicanangkan oleh Ragnick mungkin bisa menjadi awal yang baik, tapi tetap saja semua tergantung dari eksekusinya.

Direksi tim pun disorot oleh penggemar untuk bisa mendatangkan pemain yang tepat. Jika melihat beberapa tahun terakhir, sering sekali MU melakukan pembelian flop, berbanding terbalik dengan Liverpool yang rekrutannya lebih murah tapi efektif.

Oleh karena itu, kami para penggemar MU pun harus belajar bersabar lagi dari segala bentuk ejekan dan perundungan. Tabah saja menghadapi berbagai “serangan” dari para penggemar tim lain.

Anggap saja ini akan membantu kita menjadi orang yang lebih tabah dalam menghadapi ujian hidup. Seorang pendukung Manchester United, di masa-masa sulit seperti sekarang, memang harus belajar ekstra sabar.


Lawang, 21 April 2022, terinspirasi setelah melihat kekalahan telak (lagi) dari Manchester United ketika bertamu ke Liverpool

Foto Banner: The Telegraph

Continue Reading

Sepak Bola

Mason Greenwood, Bukti Pentingnya “Educate Your Son”

Published

on

By

Akhir-akhir ini, Penulis merasa agak malas mengikuti berita sepak bola. Selain karena mainnya Manchester United yang begitu-begitu saja, ada perasaan jenuh dan merasa butuh agak menjauh sedikit.

Rasa malas tersebut semakin bertambah ketika kasus Mason Greenwood mencuat ke publik. Tidak main-main, tuduhan yang diberikan kepadanya adalah pemerkosaan dan penganiayaan kepada pacarnya sendiri, Harriet Robson.

Pada tulisan kali ini, Penulis akan merangkum kasus yang menimpa Greenwood dan Robson, serta mengaitkannya dengan kampanyeEducate Your Son yang akhir-akhir ini cukup sering didengungkan.

Kasus Greenwood dan Robson

Harriet Robson (SportMob)

Bukti kasus ini cukup kuat. Selain foto dan video yang menunjukkan luka-luka yang dialami Robson, ada bukti rekaman suara Greenwood yang memaksa Robson untuk berhubungan badan dengannya. Padahal, Robson sudah menolaknya.

Greenwood pun sempat ditahan selama tiga hari oleh pihak kepolisian, sebelum akhirnya dibebaskan dengan jaminan. Namun, kasusnya belum berhenti sampai di sana saja karena proses penyelidikan masih terus berlanjut.

Semua pihak mengecam hal yang dilakukan oleh Greenwood. Klub membekukannya dari segala aktivitas hingga proses hukumnya tuntas. Semua merchandise yang terkait dengannya pun dihentikan penjualannya. Fan yang sudah memiliki jersey-nya dapat menukarkannya secara gratis ke store.

Ia juga ditinggalkan oleh para sponsornya. Nike membekukan Greenwood, gim FIFA 22 menghilangkannya dari gim. Teman-teman satu klubnya diketahui telah melakukan unfollow akun Instagram-nya. Gareth Southgate selaku pelatih timnas Inggris menutup pintu untuknya.

Mason Greenwood (Sky Sports)

Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat Greenwood digadang-gadang sebagai bintang masa depan bagi Manchester United dan timnas Inggris. Karirnya bisa dibilang tamat jika melihat respon publik dan berbagai pihak.

Rasanya, tidak akan ada klub yang mau menampung dirinya. Dengan kata lain, ia telah terkena cancel cultured akibat perbuatan bejatnya. Mungkin masih ada peluang untuk membersihkan namanya dan melanjutkan karirnya, tetapi sangat kecil mengingat betapa tingginya awareness masyarakat terhadap pelecehan terhadap perempuan.

Kasus yang dialami oleh Greenwood dan Robson seolah menjadi bukti nyata, kalau kampanye Educate Your Sonmemang harus disebarluaskan agar kasus serupa tidak menimpa orang-orang dekat kita.

Educate Your Son

Educate Your Son (Kaskus)

Kampanye ini, setahu Penulis, bermula untuk menggantikan kata-kata Protect Your Daughter. Alasannya, sudah seharusnya jangan menimpakan beban kepada korban, tetapi pelakulah yang harus diberi pengertian untuk tidak melakukan pelecehan kepada perempuan.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, kasus pelecehan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki masih marak terjadi. Mau pakai pakaian terbuka maupun tertutup, perempuan tetap rentan terkena pelecehan seksual.

Daripada menekankan orang tua untuk melindungi anak perempuannya dari pelecehan, seharusnya orang tua harus bisa mengedukasi anak laki-lakinya untuk tidak melakukan pelecehan kepada perempuan.

Ada yang lebih ideal lagi menurut netizen, yakni Educate Your Children“. Hal ini masuk akal karena walaupun lebih sedikit, kenyataannya ada juga laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual oleh perempuan.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagi para orang tua untuk bisa mendidik anaknya dan memahami kalau pelecehan, apapun bentuknya, itu dilarang. Selain itu, orang tua juga harus melatih anaknya agar bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak tergantung orang lain.

Penutup

Kasus yang menimpa Greenwood seolah menjadi bukti kalau laki-laki memang harus diedukasi. Pemaksaan dan kekerasan yang ia lakukan kepada pacarnya sendiri seharusnya tidak terjadi jika dirinya memahami kalau hal tersebut adalah salah.

Di usianya yang masih muda (bahkan lebih muda dari adik bungsu Penulis), sangat disayangkan ia sudah melakukan kekejaman seperti itu. Orang tuanya pun menjadi sorotan, mengapa tidak mampu mengedukasi anaknya untuk tidak melakukan pelecehan.

Semoga kasus ini membuka mata kita semua kalau pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menangani permasalahan ini, salah satunya adalah mengedukasi anak-anak kita nanti.


Lawang, 5 Februari 2022, terinspirasi setelah mencuatnya kasus Mason Greenwood

Foto: Marca

Continue Reading

Sepak Bola

Haruskah Ole Out? Iya, Ole HARUS Out!

Published

on

By

Seperti biasa, setiap performa Manchester United (MU) sedang anjlok, tagar #oleout kembali berkumandang dengan lantangnya hingga menjadi trending topic. Kolom komentar di media sosial milik MU pun dibanjiri dengan kata-kata Ole Out.

Dalam 9 pertandingan terakhir di semua kompetisi, MU harus menelan lima kekalahan dari Young Boys (Liga Champion), West Ham United (EFL Cup), serta Aston Villa dan Leicester City (Premier League).

Yang paling memalukan tentu kekalahan 0-5 melawan rival abadinya, Liverpool, di kandang sendiri. Pertandingan berlangsung kemarin (24/10) dan mendapatkan respon keras dari penonton yang melakukan walkout setelah Paul Pogba mendapatkan kartu merah.

MU hanya mampu mendapatkan 3 kemenangan tipis dan dramatis ketika melawan West Ham United (Premier League), Villareal, dan Atalanta (Liga Champion). Bahkan, mereka hampir kalah ketika menjamu Everton di Old Trafford jika saja gol Yerry Mina tidak dianulir karena offside.

Benarkah Ole harus keluar dan berhenti menjadi pelatih Manchester United?

Alasan Ole Harus Keluar dari Manchester United

Ole Harus Keluar (Sky Sports)

Posisi Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih MU memang sangat sering goyang. Selain belum pernah menghadirkan trofi sama sekali, permainan yang dimiliki timnya terkadang begitu buruk hingga ia dicap sebagai pelatih yang miskin taktik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

MU mengusung formasi utama 4-2-3-1 dan Ole termasuk pelatih yang jarang mengganti pakemnya. Strategi yang kerap digunakan adalah memanfaatkan transisi lawan dari menyerang ke bertahan dengan cepat, atau bahasa mudahnya memanfaatkan counter attack.

Masalahnya, MU kerap kesulitan untuk menerobos lawan yang bermain bertahan, terutama tim yang menggunakan blok rendah. Jika sedang buntu, Ole sering terlihat kebingungan dan kurang pandai mengganti strategi dengan mengganti pemain.

Attitude yang dimiliki Ole juga kerap dikecam fan. Jika pelatih lain akan berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan, Ole sering terlihat hanya duduk manis sembari melihat layar yang ada di hadapannya. Parahnya lagi, ia kerap terlihat tetap bisa tersenyum meskipun timnya mengalami kekalahan.

Cristiano Ronaldo (Detik Sport)

Padahal, skuad yang dimiliki MU bisa dibilang cukup bertabur bintang. Apalagi, musim ini mereka berhasil memulangkan Cristiano Ronaldo ke Old Trafford dan mendatangkan pemain baru berkualitas seperti Raphael Varane dan Jadon Sancho.

Permasalahan lain yang sering diprotes fan adalah Ole yang terlihat sangat “mencintai” Fred. Padahal, menurut mereka permainan Fred begitu buruk. Sebagai gelandang, ia kerap kehilangan bola dan salah passing.

Meskipun banyak sekali yang kontra, ada minoritas yang tetap mendukung Ole. Mereka membandingkan era awal Ole dengan era awal Sir Alex Ferguson yang juga terseok-seok. Namun, hal ini langsung dibantah karena skuad yang dimililiki Fergie saat itu tidak begitu bagus, berbeda dengan era Ole sekarang.

Kenapa Ole Begitu Susah untuk Keluar?

Conte (Kiri) dan Zidane (TikTak)

Keinginan untuk segera mendepak Ole bisa jadi dipicu oleh banyaknya pelatih berkualitas yang saat ini sedang menganggur. Contoh mudahnya adalah Antonio Conte dan Zinadine Zidane yang sudah terbukti mampu meraih trofi bergengsi bersama timnya.

Ibaratnya, skuad MU sekarang ini adalah mobil Formula 1, tapi kemampuan mengemudi Ole hanyalah sebatas angkot. Mau sekencang apapun mobilnya, kalau yang mengemudi tidak mampu, mobil tersebut tidak akan pernah menang balapan.

Apalagi, pelatih-pelatih sebelum Ole juga tidak diberi kesempatan sepanjang ini. Mulai Louis van Gaal hingga Jose Mourinho, meskipun mereka berhasil menghadirkan trofi untuk MU, pada akhirnya tetap didepak juga.

Jika dari presentase kemenangan, Ole memang lebih tinggi (55.21%) jika dibandingkan dengan van Gaal (52.43%) dan David Moyes (52.94%). Namun, Mourinho memiliki presentase yang lebih tinggi (58.33%) dan berhasil memberikan tiga piala untuk MU.

Keluarga Glazer sebagai pemilik MU pun nampak tenang-tenang saja melihat performa Ole. Fan sampai curiga, mereka tidak ingin mencari pengganti karena harus membayar pesangon untuk Ole dan tidak ingin membayar pelatih yang gajinya lebih tinggi.

Fan sudah muak dengan yang namanya “percaya pada proses”. Yang mereka percaya adalah Ole tidak mampu untuk menangani tim sebesar MU. Apalagi, pengalamannya hanyalah sebatas melatih klub seperti Cardiff City, itupun timnya terdegradasi.

Penutup

Pertandingan melawan Liverpool kemarin seolah menjadi puncak “hancurnya” permainan Manchester United di bawah kepelatihan Ole. Koordinasi pemain belakang yang sangat buruk memang menjadi penyebab utama, tetapi fan tetap menyalahkan Ole sebagai pelatih utama.

Menurut pendapat Penulis pribadi, Ole memang kurang punya kapasitas sebagai pelatih untuk klub sebesar Manchester United. Status awalnya di klub ini hanya caretaker yang menggantikan Jose Mourinho. Penulis tidak menyangka kalau ia akan diperpanjang selama ini.

Kalau Penulis cenderung lebih memilih Zidane daripada Conte yang terkenal lebih suka bermain defensif. Melihat kualitas pemain belakang MU, Penulis ragu strategi Conte cocok untuk tim.

Hingga tulisan ini terbit, Penulis terus melakukan refresh di Instagram dan berita, berharap ada berita kalau Ole akan mengundurkan diri ataupun dipecat oleh direksi klub. Semoga saja rentetan hasil buruk ini bisa membuat klub membuat keputusan yang tegas.


Lawang, 24 Oktober 2021, terinspirasi setelah kerap gusar melihat permainan Manchester United beberapa tahun terakhir

Foto: Sky News

Sumber Artikel:

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan