Chapter 12 Mengikat Tali Persahabatan

Aku terlamun di kelas hari ini setelah pelajaran Kewarganegaraan berakhir. Tidak ada yang peduli karena memang biasanya aku hanya berdiam diri di kelas. Kenji selalu mengajakku keluar, namun aku selalu menolaknya dengan alasan tidak lapar. Jika sudah demikian, maka ia akan mengajak teman-teman yang lain. Satu per satu teman kelasku keluar untuk istirahat, hingga akhirnya hanya tinggal aku, Juna dan Rika yang ada di kelas. Dari Kenji, aku sudah mengetahui semua nama panggilan teman-teman satu kelas. Bahkan untuk memudahkanku menghafal, aku membuat sketsanya di atas selembar kertas.

“Hei Juna, kau sedang apa?”Juna dan Rika sama-sama seperti sedang menulis sesuatu di bangkunya masing-masing. Karena kemarin aku sudah bertekad untuk berubah menjadi orang yang lebih friendly, tidak ada salahnya untuk memulainya dari Juna. Dengan awalan ‘ehem’ aku memulai percakapan dengannya.

Ia butuh tiga detik untuk merespon kata-kataku, lalu balik bertanya, ”Aku?”

“Iya, kau sedang apa? Apa yang kau tulis?” tanyaku tak sabar.

Tiga detik berlalu, lalu ia berkata,”Tulis?”

Tidak ingin gagal pada percobaan pertama, maka aku bangkit meninggalkan Juna yang lambat responnya, dan mendekat ke bangku Rika.

“Rika, apa yang sedang kau tulis?” tanyaku tiba-tiba.

Ia tidak menjawab pertanyaanku, seolah-olah tidak merasakan keberadaanku. Aku ulangi pertanyaanku sedikit keras, ia tetap tidak bergeming. Akhirnya pada pengulangan ketiga, ia baru menyadari bahwa dari tadi aku duduk di hadapannya.

“Ah, pangeran kegelapan dari desa Vlatovic yang terletak di gunung nun jauh disana datang menghampiriku, ada apa gerangan?” Rika malah balik bertanya dengan kalimat yang aneh.

“Maaf?” aku berharap, aku salah mendengarkan.

“Pangeran kegelapan sampai rela turun gunung hanya untuk menghampiri rakyat jelata sepertiku, pasti ada keperluan yang sangat penting kan? Anda tidak bisa bertahan lama di bawah sinar matahari karena kegelapan adalah kekuatan Anda, sedang sinar matahari akan memperlemah Anda.”

Aku menatap Rika dengan tatapan kebingungan yang tidak dibuat-buat. Segala kicauan panjangnya yang sangat berbau fantasi membuatku kehilangan kata-kata untuk diucapkan.

“Hahaha, maafkan aku Leon, aku hanya bercanda.”

               Sudah kuduga.

“Aku memang suka berkhayal seperti itu, bagus sebagai inspirasi novelku. Kamu yang biasanya duduk di sudut sana tiba-tiba menghampiriku, merupakan hal yang luar biasa bukan? Makanya aku langsung dapat ide dialog seperti itu.”

Terserah, aku tidak peduli, kataku dalam batin yang urung kuucapkan karena takut membuatnya tersakiti. Maka aku berusaha untuk menyambung percakapan ini.

“Jadi, kau jadikan aku inspirasi menulis begitu?” tanyaku kepada Rika yang sudah meletakkan pensilnya.

“Bukan hanya kamu sih, tapi hampir semua orang yang aku temui dalam hidupku. Inspirasi itu bisa didapat dari mana saja, termasuk teman sekelas. Tapi ya begitu, aku jadi sering dianggap aneh, hahaha.”

Kau memang aneh, kata batinku lagi.

“Omong-omong ada apa nih Leon? Sampai “turun gunung” menghampiri aku? Kamu naksir aku ya?”

Sudah aneh, kepedean pula.

“Bukan, aku hanya ingin mengenal semua teman satu kelasku lebih dekat.” aku memberikan pada kata semua untuk menghilangkan kepercayaan dirinya.

“Ih, enggak asyik, bilang aja iya, nanti aku buat inspirasi novel romantis.”

Jangan jadikan aku sebagai obyekmu terus, wahai kau wanita yang selalu nampak ceria.

“Maaf Rika, tapi itu memang apa adanya.”

“Hahaha, kamu lucu ya Leon, jadi gemes aku. Santai kok, aku emang gini orangnya, ceplas-ceplos asal ngomong. Kamu tadi tanya aku ngapain kan ya? Aku sedang nulis novel.”

“Tentang pangeran kegelapan?” tanyaku balik tanpa mempedulikan kalimat pertamanya.

“Bukan, itu belum kutulis, baru juga kepikiran waktu kamu datang. Ini novel tentang persahabatan, bagaimana seorang pendiam berteman dengan seorang cerewet, bagaimana perbedaan yang kontras tidak menghalangi mereka untuk berkawan.”

Lalu ia memandangku dengan wajah polos penuh dengan keingintahuan, seperti tatapan Gisel kepadaku. Jantungku sama sekali tidak berdebar, walaupun Rika sebenarnya memiliki paras wajah yang cukup imut. Aku akan percaya jika diberitahu bahwa ia masih SMP, mungkin wajahnya terlihat awet muda karena ia selalu nampak ceria.

“Kalau aku pikir-pikir lagi, kok novelku ini mirip kamu sama Kenji ya?” ia bertanya setelah sekitar 2 menit memandang wajahku.

“Memang Kenji cerewet?”

“Bukan cerewet sih, tapi kalian mempunyai kepribadian yang berbeda, namun terlihat sangat akur.”

“Oh.”

“Kayaknya aku akan lebih sering memperhatikan kalian berdua buat sumber inspirasiku deh.”

Aku hanya tersenyum mendengar kalimat terakhirnya, lalu terdengar suara seseorang memanggilku. Ternyata Juna.

“Maaf Leon, aku ingin memanggilmu dari tadi, tapi kalian sepertinya sedang asyik mengobrol. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu, aku sedang belajar materi pelajaran kita selanjutnya.”

Aku hanya terdiam sambil berusaha menganggukkan kepala mendengar jawaban pertanyaanku yang sempat delay tadi. Rika hanya tertawa cekikikan melihat peristiwa ini.

***

Setidaknya hari ini aku sudah melakukan percakapan dengan beberapa teman di kelas, total sudah tiga orang yang sudah pernah aku ajak bicara termasuk Kenji. Bisa dihitung delapan jika pertengkaran dengan Sudarwono bersaudara Jessica, Gita, dan Bejo diikutsertakan. Namun di kelas ini ada lima belas anak, dan aku ingin berbincang-bincang dengan mereka semua. Karena kebetulan yang ada di dekatku -selain Juna dan Dea- adalah Gita, maka aku memutuskan untuk bertanya apapun yang ada di pikiranku. Selain itu, semenjak insiden pelemparan air kepadaku, aku belum pernah berbicara dengannya.

“Hei Gita.” panggilku.

Ia menoleh kepadaku dengan tatapan penuh selidik. Wanita dengan alis tebal ini nampak merasa agak canggung untuk berbicara denganku, mungkin karena insiden tersebut.

“Iya Leon, ada apa?”

“Eh, apa kau punya saudara?”

Dari sekian banyak daftar pertanyaan yang bisa dilontarkan, entah mengapa malah ini yang keluar. Aku pun merasa sangat aneh mendengar pertanyaanku sendiri.

“Kenapa kamu tanya itu?” ia bertanya balik, wajahnya menjadi penuh curiga.

“Eh, karena itu yang terlintas.”

“Aku enggak paham Leon.”

Aku bingung mendengar pertanyaan itu, maka kualihkan mataku ke sebelah kiri, dan terlihat Rika yang nampak sedang mendengarkan percakapan canggung antara kami. Semoga Rika bisa menjelaskan maksudku ini, karena ia sudah kuberitahu tadi.

“Wahai ratu dari negara Stolkom, sang pangeran kegelapan berusaha untuk mengubah tabiat buruknya yang kejam, dengan cara berusaha membuat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar kastil hitamnya. Terimalah perjanjian ini.”

Sudah kuduga, seharusnya aku tidak berharap pada anak yang mencampuradukkan dunia nyata dengan fantasi ini. Gita pun kebingungan mendengar kalimat dari Rika.

“Hahaha, maksudnya, Leon ingin berusaha dekat dengan kita semua, jadi ia berusaha untuk bercakap dengan teman-temannya satu per satu. Kamu jelasin ke Gita ya Leon, kenapa aku kayak gini, hahaha.”

Gita pun berbalik menghadapku, masih memancarkan kebingungan. Aku pun menjelaskan apa yang Rika jelaskan kepadaku, dan Gita mengangguk-angguk tanda ia memahami.

“Sebenarnya, aku punya satu kakak laki-laki, dan ia sama menyebalkannya dengan dirimu. Karena kesamaan itulah aku menyirammu dengan air waktu MOS itu. Maaf ya Leon.”

“Tidak apa-apa Git, aku juga salah kan karena…”

Aku tidak meneruskan kalimatku karena tiba-tiba jawaban Gita memberikan sebuah gagasan baru. Jika aku seperti kakaknya Gita, jangan-jangan Gisel merasakan apa yang Gita rasakan? Tapi selama ini tidak pernah sekali pun Gisel mengungkapkan kekesalannya terhadapku. Ia selalu menerima diriku apa adanya.

“Kamu kenapa Leon, kok tiba-tiba bengong?” tanya Gita sembari mengayun-ayunkan tangannya di depan wajahku.

“Ah, tidak Gita. Aku hanya teringat adikku.”

“Adikmu usia berapa memang?”

“Sekarang 10 tahun, dan selama ini ia mendapatkan perlakuan buruk dariku, sehingga ketika kamu bilang kakakmu menyebalkan, aku langsung teringat dengannya. ”

“Benarkah? Berarti ia perempuan juga?”

“Iya, namanya Gisella, lengkapnya Gisella Margaret Spencer.”

“Astaga, orangtua kalian kalau kasih nama bagus-bagus ya, hahaha.”

Gita tertawa, namun aku tidak. Ia sudah menyebutkan kata tabu untukku, orangtua. Aku langsung mengeluarkan aura permusuhan, dan Gita merasakan aura ini, mungkin terlihat dari raut wajahku.

“Eh Leon, apa aku salah bicara?”

Pertanyannya mengingatkanku untuk tidak bertindak bodoh. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui masalah keluargaku, sehingga aku berusaha untuk mereduksi emosiku.

“Tidak kok Git, tidak apa-apa.”

“Hmmm, jadi bagaimana sikap Gisel ke kamu ketika kamu bersikap menyebalkan seperti kemarin?”

“Gisel selalu nampak ceria, tetap berusaha berbuat baik meskipun aku sudah jahat kepadanya, bagaikan air tuba dibalas dengan air susu.”

“Kok bisa ya? Mungkin nanti aku perlu bicara dengannya, tanya kiat-kiat menghadapi kakak yang membuat kita mengelus dada, hahaha.”

Pembicaraan kami berakhir dengan cair, dan bertambah satu lagi teman yang berhasil aku ajak bicara. Satu persatu, aku akan mengikat tali persahabatan dengan semua teman di kelas ini.

***

Setelah pelajaran kimia berakhir, kami bersiap-siap untuk pulang. Aku memutuskan berjalan sambil membaca catatanku hari ini, karena ada beberapa poin yang membuatku sangat bersemangat untuk mempelajarinya lebih dalam. Karena tidak fokus melihat jalan, aku menabrak seseorang. Yang kutabrak adalah wanita yang telah menyentakku di hari pertama, Sica.

“Ah, maaf Sica, aku tidak sengaja.”

Dengan satu senyum, iya menjawab.

“Ah, tidak apa-apa kok Leon, santai saja.”

Berbeda dengan Rika ketika menatapku dua menit, Sica menatapku dua detik dan jantungku pun berdetak lebih kencang bagaikan piston mesin mobil yang sedang dipacu untuk balapan.

***

“Kamu siap menjalani hari pertamamu mendapat pelajaran tentang apa yang kita bicarakan kemarin Leon?” tanya Kenji sewaktu kami berdua berada di rumahku.

Aku tidak mendengar perkataan Kenji karena masih melamunkan kejadian sepulang sekolah tadi. Senyumnya itu, entah mengapa terasa berbeda.

“Leon?”

“Ah, maaf, aku melamun. Ada apa?

“Aku tadi tanya, apa kamu siap buat pelajaran yang kemarin aku sampaikan?”

“Ya.”

“Baiklah Le, pertama keluarkan semua apa yang ada di dalam hatimu. Jangan biarkan ada secuil paku ada di dalam hatimu.”

“Di hatiku tidak ada paku.”

“Kiasan Le, kiasan! Kamu tahu aku sangat senang menggunakan kata kiasan. Sekarang jawablah pertanyaanku tadi.”

Aku tidak begitu suka akan pertanyaan ini. Malah bisa dibilang aku benci dengan pertanyaan yang seperti ini. Tapi aku berusaha untuk menjaga perasaan Kenji.

“Tidak ada.”

“Kamu yakin?”

“Ya.”

“Kalau begitu biarlah aku yang bercerita.”

Kenji bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Dia mengatakan bahwa dalam kondisi keluarga lain, mungkin saja kakaknya yang mengalami kelainan mental akan dikirim ke rumah sakit jiwa. Namun itu tidak di lakukan, karena orang tua Kenji merasa bertanggung jawab atas anaknya sendiri. Mereka tidak ingin tanggung jawab mereka diambilalih oleh orang lain. Aku jadi teringat, bagaimana tidak bertanggung jawabnya orang tuaku. Yang satu memilih mati, yang satu memilih pergi. Aku merasa sedih akan perbedaan ini. Mengapa perbedaannya begitu jauh? Mengapa orang tuaku tidak bisa merawat aku dan Gisel? Apa salah kami berdua hingga ditelantarkan seperti ini?

“Oi Leon, halo? Aku cerita kok malah melamun? Nanti kerasukan lo, hehe” potong Kenji terhadap lamunanku.

“Maaf, aku tidak sengaja.”

“Ya sudahlah Le, tak apa. Kamu tetap tidak mau membagi sesuatu denganku?”

“Tidak.”

“Baiklah Leon jika tidak ada, mungkin lain waktu. Omong-omong, dimana Gisel?”

“Belajar di kamarnya.”

“Boleh kutengok?”

“Silahkan. Kamarnya ada dibalik tembok ini.”

Begitu Kenji pergi untuk menengok Gisel, muncul pertanyaan besar dalam benakku. Apakah aku benar-benar bisa menjadi anak baik? Benarkah aku bisa berubah? Sekali lagi terngiang pertanyaan, sejak kapan aku seperti ini? Kuingat kembali memori masa laluku. Memori dimana aku masih menjadi anak baik-baik.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.