Chapter 13 Mesin Waktu

“Ayah ayah! Leon rangking satu!” teriakku dengan girang ketika pulang dari acara penerimaan rapot catur wulan pertama kelas satu berakhir. Aku berlari-lari kecil, karena ingin segera menunjukkannya kepada ayahku.

“Itu biasa. Terus tingkatkan, dan awas kalau sampai turun.”

Hanya ancaman yang keluar dari bibirnya. Tidak ada ucapan selamat ataupun pujian yang terlontar. Ini sangat berbeda dengan temanku yang lain. Bahkan yang rangking sepuluh pun bercerita bahwa sebagai hadiah dia diajak jalan-jalan.

“Wah, enak sekali ya.” kataku tertegun mendengar cerita temanku.

“Kalau Leon dapat hadiah apa? Kan Leon rangking satu, pasti hadiahnya lebih bagus lagi.” tanya Sinta, teman perempuan di kelasku yang lebih sering berkumpul dengan teman laki-laki dibanding teman perempuan.

“Tidak dapat apa-apa.” jawabku dengan mengandung unsur kasihan.

“Kenapa?”

“Kata ayahku itu biasa.”

“Padahal rangking satu itu hebat lo. Aku aja cuma bisa rangking tiga.” bela temanku yang berambut botak, Udin.

“Menurutnya itu biasa.”

“Ya mungkin karena ayahmu biasa rangking satu sewaktu sekolah dulu.”

“Iya mungkin, aku enggak tahu.”

“Oh iya, habis ini Sinta ulang tahun. Kalian datang ya ke acaraku.” ajak Sinta ke kami semua.

“Ok Sinta! Aku akan datang!” seru Ahmad, temanku yang sepertinya menyukai Sinta.

Hampir semua mengiyakan ajakan ini. Hanya aku yang terdiam. Aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.

“Aku belum tahu, aku belum dapat ijin.”

“Ayolah Leon, usahakan dulu.”kata Udin sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Tapi . . . “

“Kalau begitu, biar Sinta sendiri yang akan bicara sama ayah Leon.”

“Semua saja yang mengijinkan supaya ayah Leon percaya.”

Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Aku sangat ingin datang ke acara ulang tahun Sinta. Aku merasa senang memiliki teman seperti mereka. Karena mereka begitu baik kepadaku, aku akan juga berusaha menjadi teman yang baik untuk mereka.

“Om, Sinta sebentar lagi ulang tahun. Karena itu Sinta mau mengajak Leon datang, boleh ya Om?” Sinta memulai membujuk ayahku agat mengijinkan aku. Aku tak berani memandang ayahku, jadi kuputuskan untuk menatap lantai rumahku saja untuk menghindari tatapannya.

“Tidak boleh.”

“Tapi om . . .”

“TIDAK BOLEH!!”

Semua temanku, termasuk aku, tercekat mendapat bentakan seperti ini. Sinta sudah setengah menangis, sedangkan para lelaki hanya menunduk menatap lantai persis seperti yang sudah kulakukan dari tadi.

“Kalian ini hanya memikirkan bermain, bermain dan bermain. Tidak bisakah kalian semua memikirkan masa depan kalian? Sana belajar, kalau mau main, main saja sana sendiri!”

Sejak hari itu, aku dijauhi teman-temanku di kelas. Disinilah untuk pertama kali, aku merasa kesepian.

***

“Hei Leon, ayo kita main!” ajak teman satu kampungku, Rudi. Dia mengajak bermain kelereng di lapangan.

“Tidak, terima kasih.”

“Kenapa? Kamu enggak mau?” kata Ucup, teman sekampungku yang tinggal di depan rumah.

“Bukan, sudahlah, kalian bermain saja sendiri. Aku mau bantu ibu.”

Sebenarnya aku sangat ingin ikut bermain dengan mereka. Tapi apa daya, ayah melarangku untuk bermain di luar. Toh aku juga tidak memiliki kelereng. Ayah juga tak akan mungkin mau membelikan aku walau hanya sebutir kelereng.

Suatu hari, aku memberanikan diri untuk memintanya. Ketika itu aku berpikir bahwa aku juga memiliki hak untuk bermain dengan teman sebayaku.

“Ayah, aku ingin kelerang.” mohonku kepada ayahku dengan wajah sangat memelas.

“Tidak boleh.” kata ayahku tanpa meminggirkan koran yang dibacanya.

“Tapi, teman-teman yang lain punya kelereng semua yah, aku juga ingin bermain dengan mereka.”

“Kalau ayah bilang tidak, ya tidak!” kini koran telah dipinggirkannya dan matanya dengan tajam menatap kedua mataku. Aku berusaha tetap tegar dan tetap memohon.

“Leon tidak pernah bermain dengan teman-teman Leon, setiap hari Leon hanya belajar terus. Leon bosan yah.”

“Dasar anak bandel! Sini ikut ayah.”

Tanganku ditarik paksa. Apa daya, aku hanyalah bocah berusia delapan tahun dan ayahku adalah orang dewasa. Sekeras apapun memberontak, kekuatanku tidak sebanding dengan kekuatan ayahku.

Ternyata aku dibawa ke kamar mandi. Dan tanpa berbicara sedikitpun, terasalah dinginnya air bak mengguyur diriku. Terus menerus seolah bak kamar mandi kami adalah sebuah danau. Aku terus menjerit minta ampun, memohon belas kasihan. Namun permohonanku tak dikabulkan oleh ayah. Terus saja guyuran air berjatuhan di tubuhku.

“Ayah! Hentikan! Kasihan Leon!” ibuku datang dan berusaha menahan tangan ayahku dengan tangannya.

“Diam! Kau tak perlu ikut campur! Anak bandel seperti dia harus diberi pelajaran!”

“Tapi tak perlu sampai seperti ini. Tadi ibu juga mendengar pembicaraan kalian, biarkanlah Leon bermain dengan teman-temannya. Toh Leon juga selalu rangking satu di kelasnya.” kini Ibuku ikut memelas, memohon belas kasihan kepada orang yang tidak meiliki belas kasihan.

“Kalau dibiarkan bermain, nanti bisa keterusan, dan berhenti belajar! Ayah tidak mau adia tidak menjadi nomer satu! Pokoknya tugas Leon hanya belajar! Tidak ada kata bermain di rumah!”

“Memang kalau pintar saja cukup? Ayah buktinya! Percuma IP-nya coum loude tapi sampai sekarang tidak dapat pekerjaan!”

Praak! Sebuah tamparan mendarat di pipi ibuku. Tampak dengan jelas olehku bekas merah di pipinya.

“Kamu itu jadi istri jangan kurang ajar sama suami! Toh meskipun aku tidak kerja, kita masih bisa hidup dari pemberian Anton!” bentak ayahku tepat di depan wajah ibu.

Anton adalah nama adik ayah. Dialah yang menjadi sumber penghasilan keluarga kami karena dia adalah pengusaha yang sukses dan memiliki rasa empati yang tinggi, sehingga beliau tidak pernah menghitung berapapun biaya yang dibutuhkan kami. Tapi, selalu hanya ayah yang meminta dan memegang uangnya. Tidak pernah sekalipun ibu memegang uang tersebut. Ibu hanya mendapat uang belanja yang jumlahnya sedikit. Aku yakin, sebagian besar uang disimpan sendiri oleh ayah.

“Mau sampai kapan mau jadi pengemis? Aku malu punya suami pemalas seperti kamu!”

“Diam!!!”

Pertengkaran ini terpotong oleh tangisan Gisel. Walaupun masih kecil, Gisel seolah-olah sudah bisa merasakan kesedihan, sama seperti yang kualami. Ibu menatap ayah lekat-lekat, menggandeng tanganku, dan meninggalkan ayah yang masih melotot kepada kami semua.

“Ibu, kenapa ayah seperti itu?”

Ibu hanya diam saja. Tidak merespon pertanyaanku. Tapi aku paham akan beban yang ditanggungnya. Maka aku memutuskan untuk berdiam diri.

“Nanti kalau sudah waktunya, ibu akan cerita semua ke Leon, tapi Leon sekarang sabar ya. Ibu akan berusaha melindungimu dari ayahmu, Ibu akan berusaha melindungimu sampai kamu bisa menjaga dirimu sendiri.” kata Ibuku dengan memberikan senyuman yang membuat hati tenang.

Aku meneteskan air mata, lalu memeluk ibuku seerat mungkin. Mungkin aku tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah, tapi setidaknya aku mendapatkan kasih sayang dari Ibu.

***

Meskipun aku tidak punya teman, aku tetap bisa berprestasi di kelas. Karena itu, aku sering menjadi murid kesayangan guru, dan itu membuatku senang karena mendapatkan perhatian dari orang lain, sesuatu yang tidak aku dapatkan dari ayahku sendiri. Kedekatanku dengan guru membuatku semakin dijauhi dengan teman-teman, mungkin mereka menganggap aku penjilat. Aku sedih menerima kenyataan ini, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Setiap aku berusaha berbicara dengan mereka, hanya jawaban yang singkat aku terima, lalu mereka buru-buru meninggalkan aku. Mungkin salah satu diantara Sinta, Udin, atau Ahmad telah menyebarkan kabar tentang betapa mengerikannya ayahku. Semenjak kejadian itu, aku tidak berani menegur mereka bertiga, dan mereka pun tampaknya enggan mendekatiku. Aku hanya bisa menghibur diri dengan belajar, karena itu adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Sempat aku beberapa kali melihat ibuku membaca buku dan ingin ikut membacanya, namun ia bilang bahwa belum saatnya aku membaca buku-buku tersebut.

Selain itu, anak-anak di kampungku yang dulu sering berusaha mengajakku ikut bermain pun akhirnya tidak pernah lagi ke rumah. Mungkin pernah ketika mereka mengajakku, ayahku menyemprot mereka dan mengusir mereka dari rumah. Anak kecil mana yang tidak takut dibentak oleh orang tua? Sama seperti di sekolah, tampaknya kabar itu pun menyebar di kampung dengan cepatnya, sehingga bisa dibilang aku tidak kenal dengan teman-teman sebayaku yang tinggal berdekatan denganku.

Hingga akhirnya aku lulus dari SD, tidak ada satu temanku yang memberi ucapan kepadaku yang berhasil meraih nilai tertinggi sekabupaten.

***

Aku sudah masuk SMP tahun 2006 dengan mudah karena aku selalu rangking satu, mulai sistem pendidikan berbentuk catur wulan hingga berubah menjadi sistem semester. Ketika di kelas, pikiranku sering melayang ke rumah. Kini ayah sudah jarang pulang. Uang yang diberikan ke Ibu semakin sedikit. Gisel yang berusia enam tahun pun harusnya sudah masuk ke sekolah tingkat SD. Namun sayang, sudah dua kali ia dikeluarkan dengan alasan yang sama, tidak bisa menangkap pelajarang yang diberikan.

Aku jadi sering kepikiran Ibu yang kini semakin kurus. Meskipun ia selalu berusaha terlihat tegar di hadapan kami, aku tahu ia sedang menyimpan luka yang begitu dalam. Aku selalu menantikan kapan ia akan menceritakan alasan mengapa ayah begitu kejam kepada kami. Aku sebagai anak kecil tidak bisa membantu apa-apa, hanya bisa ikut prihatin.

Hari ini, seperti biasa aku pulang sekolah sendirian. Tidak ada yang mau berjalan denganku karena mereka tahu betapa mengerikannya ayahku. Mereka mengucilkan aku karena ayahku, hal yang menurutku tidak seharusnya terjadi.

Ketika aku sampai di depan rumah, perasaanku menjadi tidak enak dan gelisah. Kenapa jantungku berdegub dengan kencang? Ragu hinggap di benakku, mungkin sebaiknya aku tidak masuk rumah dulu. Namun semakin aku mengulurnya, maka perasaan ini akan semakin menjadi-jadi. Maka kuputuskan untuk masuk, apapun yang terjadi didalam.

Begitu aku masuk rumah, terlihat olehku Gisel sedang tidur di ruang tamu yang berantakan. Kaca yang menutupi meja pecah. Di lantai tergeletak sebuah surat, nampaknya Gisel kembali ditolak masuk ke Sekolah Dasar. Penasaran, aku segera mencari ibu. Ke kamar, ke ruang keluarga tidak ada. Ke mana ibu?

Akhirnya aku menemukan Ibu di dapur. Bukannya sedang memasak, melainkan dalam keadaan tergantung. Secara pribadi aku belum bisa menerima keadaan ini. Aku harus melakukan sesuatu, mungkin Ibu masih hidup.

“Ibu, ibu! Bangun Ibu, jangan tergantung seperti itu! Ibu bisa mati!” kataku bercampur dengan tangis yang mulai mengalir. Aku masih belum percaya Ibu akan meninggal dengan cara seperti ini. Aku berusaha mengangkat tubuh Ibuku agar terlepas dari ikatan tali. Namun percuma, tenagaku terlalu lemah untuk mengangkat tubuh Ibu.

“Ibu, bangun, Ibu sudah janji akan melindungi Leon, tapi mengapa Ibu memilih bunuh diri dan meninggalkan . .” aku sudah tidak bisa meneruskan kata-kataku. Aku sudah menangis sekencang mungkin. Dalam keadaan menangis, mataku menangkap sesuatu. Ada secarik kertas. Dalam keadaan mata berlinang air mata, kubaca isi kertas tersebut. Ini tulisan Ibu.

Anakku tersayang, Leon,

Maafkan keegoisan Ibu nak. Ibu sudah tidak kuat menjalani hidup, Ibu ingin meninggalkan dunia ini secepatnya. Sebenarnya ibu sudah lama merencanakan ini, namun karena ada kamu dan Gisel, Ibu bisa menahan keinginan itu. Tapi sekarang perlakuan Ayah semakin brutal. Kamu lihatkan ruang tamu sangat berantakan? Tadi Ayah mengamuk karena Gisel untuk yang ketiga kalinya Gisel dikeluarkan dari sekolah. Ibu dipukuli dan ditendang, bahkan diludahi. Ayah juga bilang, kalau Ayah akan pergi dari sini untuk selamanya dan akan menikah dengan orang lain.

Maafkan Ibu nak, Ibu tidak bisa melaksanakan janji Ibu untuk melindungi kamu. Tolong jaga Gisella baikbaik ya. Ibu sudah mengirimkan surat untuk Om Anton, supaya beliau mau menampung kalian berdua. Maafkan Ibu nak harus pergi meninggalkan kamu. Ibu sayang kamu.

Sejak saat itu, aku membenci kedua orang tuaku.

***

Aku terus menerus menangis setelah pemakaman ibuku. Om Anton yang datang berusaha untuk menghibur kami. Dialah satu-satunya kelurga yang kami miliki, dan aku berharap ia mau merawat kami. Sayangnya, om hanya memberikan kata-kata penghiburan, dan berkata ia tidak bisa membawa kami ke Solo karena beberapa alasan. Aku yakin alasannya adalah permintaan anaknya, si cebol Bondan. Kami adalah sepupu, tapi tidak pernah sekalipun kami akur. Ia yang merupakan anak orang kaya memandang rendah kami yang tidak memiliki harta. Lebih-lebih ia membenci Gisel, yang dicapnya tak berotak karena tidak bisa masuk ke sekolah. Om Anton orang baik, sayangnya ia sangat memanjakan anak semata wayangnya itu karena ibunya telah tiada.

Sejak itu, kami hidup sendiri ditemani oleh seorang pembantu. Uang kiriman paman setiap bulannya aku yang memegang, dan beberapa kuberikan kepada pembantuku tersebut. Semula aku masih bisa bersikap normal, hingga ketika teman-teman di sekolah mulai melakukan perundungan atau bullying kepadaku. Mereka menganggap aku anak buangan, anak yang tidak diinginkan oleh orangtuaku, dan lain sebagainya. Aku tidak tahu persis alasan mereka membenciku, mungkin karena beberapa dari mereka yang satu SD denganku merasa iri karena aku selalu rangking satu dan jadi anak kesayangan guru.

Aku hanya bisa diam mendapat perlakuan seperti ini, bahkan tidak ada teman-teman lain yang berupaya membantuku. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk melawan, bukan hanya pasrah menerima penghinaan ini. Aku lawan mereka dengan kekerasan, karena anak-anak macam mereka tidak akan paham dengan ucapan. Aku tunjukkan kepada mereka bahwa aku tidak takut kepada mereka, dan aku punya kekuatan untuk menghajar mereka. Kekuatan tekad memberikanku kekuatan, meskipun aku juga sering berlatih dengan peralatan olahraga yang ada di rumah.

Akhirnya, satu persatu mereka berhenti mem-bully­-ku, namun itu tidak mengubah apapun. Semua temanku di SMP menjauhi diriku, takut dengan segala reputasi burukku. Itu membuatku membenci semua orang, membuatku memutuskan bahwa aku tidak butuh teman. Aku tetap bisa berprestasi tanpa teman, akan kubuktikan kepada mereka semua bahwa aku lebih baik dari mereka semua. Aku bertekad ketika masuk SMA nanti, aku akan masuk kelas akselerasi agar bisa cepat-cepat meninggalkan sekolah. Meskipun dalam hati kecilku, aku merasakan kesepian yang sangat nyata, tidak berdarah namun perih.

Rentetan peristiwa ini membuatku menyalahkan Gisel sebagai penyebab semua yang terjadi. Aku mulai berlaku kasar kepadanya, tidak segan main tangan. Pembantuku beberapa kali berusaha untuk menghentikannku ketika akan menyakiti Gisel, tapi karena ia perempuan, tentu saja tenaganya kalah. Mungkin karena tidak kuat menghadapi tabiat burukku, secara tiba-tiba ia menghilang begitu saja. Ketika memikirkan berbagai perbuatan burukku ke Gisel, aku merasa bersalah sekali, dan menyesal sedalam-dalamnya. Ia tidak salah apa-apa, orangtua kamilah yang salah. Kami adalah korban, kami tidak salah apa-apa. Tidak salah apa-apa…

***

“Kakak, kenapa Kakak menangis?” suara Gisel tiba-tiba terdengar di telingaku. Rupanya tanpa sadar aku menitikan air mata sewaktu sedang mengingat ingat masa laluku dulu. Segera kuhapus air mataku dengan kedua tanganku.

“Kamu kenapa Le?” tanya Kenji dengan penuh kecemasan.

“Tidak, tidak apa-apa. Aku baru saja pulang dari masa lalu.”

“Bagaimana caranya kak?”

“Mesin waktu.” jawabku dengan tersenyum kepada adikku tersayang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.