Chapter 17 Sejarah yang Dimiliki oleh Kenji

Dari semua mata pelajaran yang diajarkan, aku sering terheran dengan pelajaran sejarah. Keheranan ini berdasarkan materi yang diberikan, mulai SD hingga SMA sekarang, selalu mirip atau hanya diberi pengembangan sedikit. Selalu berawal dari kerajaan Hindu-Budha pertama, kerajaan Islam, penjajahan Belanda hingga kemerdekaan Indonesia. Padahal aku percaya bangsa kita memiliki sejarah yang lebih luas dari materi-materi ini. Sayang, aku tidak terlalu tertarik mendalami sejarah.

Namun keherananku hari ini menimbulkan pertanyaan baru. Ayah Kenji keturunan Jepang, lalu apakah peran keluarga Kenji ketika negara ini dijajah oleh negeri matahari terbit tersebut? Membuang rasa penasaran, istirahat jam kedua aku menghampiri bangkunya, sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.

“Kenapa kamu tiba-tiba tertarik dengan hal itu Le?” tanya Kenji ketika aku memberi pertanyaan yang terngiang tadi.

“Hanya penasaran.”

“Iya, aku juga penasaran lo Kenji.” seseorang bergabung dalam percakapan, yang ternyata adalah Nita.

“Bukankah kamu lebih tertarik untuk belajar bahasa denganku Nita? Hahaha.” Kenji melontarkan leluconnya.

“Ya itu juga sih, tapi mengetahui sejarah keluargamu juga tidak kalah menarik kok.”

Aku duduk di bangku milik Ve, yang ditinggal pemiliknya ke kantin entah bersama siapa. Di kelas hanya tersisa kami bertiga ditambah Juna yang juga sama dengan diriku, jarang keluar kelas ketika istirahat.

“Baiklah jika kalian memaksa, aku akan menceritakan sejarah singkat keluargaku yang asli Jepang, hehe.”

Kenji baru saja akan memulai ceritanya, masuklah sang ratu drama, Rika, dan partner-ku dalam drama bahasa Inggris, Sica, ke dalam kelas. Semenjak drama itu, aku belum pernah lagi melakukan pembicaraan yang berarti dengannya. Atau memang aku tidak mengharapkannya?

“Wah, lagi-lagi pangeran kegelapan turun dari kastilnya, pasti ada sesuatu yang menarik di sini.” Rika langsung membaur dengan mulusnya.

“Si pangeran ingin mengetahui silsilah keluarga kerajaanku, wahai putri.” Kenji meladeni permainan drama dari Rika.

“Oh tidak, aku bukanlah putri, aku hanyalah rakyat jelata yang suka mengembara ke berbagai wilayah, wahai pemilik kekuatan yang tak terhingga.”

“Hihihi, kalian kok lucu sih? Jadi Kenji mau cerita apa nih?” tanya Sica kepada kami, mungkin merasa geli dengan adegan yang ada di depan matanya.

“Leon penasaran dengan keluargaku Sica, dan aku akan menceritakannya sekarang, atau Leon akan kehilangan kesabaran, hahaha.”

Maka dimulailah cerita Kenji.

***

“Kakekku sebenarnya adalah intel Jepang untuk daerah jajahan di wilayah Asia Tenggara. Ia sangat handal dalam melakukan tugasnya, hingga ia dapat meraih tanggung jawab yang besar di usianya yang masih muda. Sebelum perang Asia Pasifik, ayah sering bercerita kalau kakek beberapa kali membongkar kejahatan Yakuza di Jepang, sehingga ia dijuluki sebagai Yakuza Kujo-sha “Pembasmi Yakuza”. Karena kehebatan itulah ia dikirim ke Asia Tenggara untuk memberi informasi terkait bagaimana kondisi rakyat Indonesia.

“Kakek sebenarnya menolak tugas ini karena ia benci peperangan. Ia tidak ingin kemampuannya disalahgunakan untuk membunuh orang lain. Tapi kekaisaran Jepang berhasil membujuknya dengan mengatakan rakyat Jepang akan menderita apabila ia menolak tugas ini karena musuh bisa menyerang kapan saja, apalagi Amerika Serikat telah mendeklarasikan perang setelah serangan Pearl Harbour. Jepang membutuhkan banyak sumber daya untuk melindungi rakyatnya, dan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memiliki itu.

“Akhirnya dengan terpaksa kakekku, Takahashi Yasuda, berangkat menuju Indonesia, sekitar satu bulan setelah Jepang pertama kali mendarat di Tarakan. Ia ditempatkan di Surabaya, salah satu tempat strategis untuk dikelola. Berawal dari sanalah ia sering berkeliling Jawa, mencari segala informasi yang bisa membantu Jepang mempertahankan diri dari serangan musuh dan meraih simpati dari rakyat Indonesia.

“Namun semakin sering ia berkeliling, semakin ia yakin bahwa tujuan Jepang menjajah Indonesia tidak hanya sekedar mempertahankan diri dari musuh, melainkan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, melebihi kebutuhan sumber daya yang dibutuhkan Jepang. Selain itu, di mana-mana ia melihat penyiksaan oleh tentara-tentara Jepang kepada pribumi. Setelah banyak mempertimbangkan, ia memutuskan untuk berbalik arah melawan negaranya sendiri. Ia akan berhenti menjadi intel untuk Jepang dan berjanji akan membantu Indonesia meraih kemerdekaannya, entah bagaimana caranya.

“Hal yang pertama ia lakukan adalah kabur dari markas. Ia merekayasa agar para tentara Jepang percaya bahwa ia telah diculik oleh tentara Belanda yang masih tersisa di Indonesia, karena ia tidak ingin tentara Jepang menginterograsi rakyat Indonesia. Setelah itu, ia menuju suatu tempat di Kediri, bersembunyi di dalam hutan, hingga menemukan desa yang agak terpencil. Di sana, meskipun terkendala bahasa, kakek bisa diterima.”

“Daerah tersebut, yang sayangnya aku tidak tahu namanya, bisa dibilang hampir tidak tersentuh selama penjajahan Jepang. Mungkin karena pendudukan Jepang hanya berlangsung sekitar tiga tahun. Penduduk di sana rata-rata bekerja sebagai petani dan maaf, kurang berpendidikan. Namun ada satu orang wanita yang diam-diam pernah belajar bahasa Belanda. Kakek juga pernah belajar bahasa Belanda karena penugasannya di Indonesia. Karena itu mereka berdua menjadi dekat dan akhirnya menikah. Kakekku pun juga mengucap kalimat syahadat agar dapat meminang nenekku. Ia juga mengubah namanya menjadi Arif, meskipun wajah Jepangnya tidak bisa ia ubah.

“Menjelang tahun 1945, kakekku memutuskan untuk membantu perjuangan Indonesia meraih kemerdekaannya. Akhirnya ia pun banting setir menjadi mata-mata untuk Indonesia. Ia keluar dari persembunyiannya, meninggalkan nenek di Kediri. Secara gerilya ia berusaha untuk bertemu dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dan memberikan berbagai informasi yang dapat membantu Indonesia meraih kemerdekaannya. Memang pada awalnya tidak banyak yang percaya dengan ucapannya, tapi semenjak banyak hal yang terbukti, ia mendapatkan kepercayaannya. Kakek berani melakukan ini karena seandainya ia ketahuan memberikan informasi kepada pihak musuh, ia bisa berkata bahwa ia dipaksa untuk melakukannya.

“Hal ini kakek lakukan terus hingga akhirnya Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Kakek sangat senang karena bisa membantu Indonesia, meskipun hanya sedikit. Setelah mendengar kabar tersebut, ia kembali ke Kediri dan membawa pindah nenek ke Malang agar lebih dekat dengan peradaban. Kakek kembali sibuk membantu Indonesia ketika Belanda memulai agresinya dan sibuk ke sana ke mari untuk membantu negara kita mempertahankan kedaulatannya. Karena kesibukannya tersebut, kakek baru memiliki anak ketika usia pernikahan hampir mencapai 20 tahun, ketika ayahku lahir.

“Jadi, seperti itulah cerita bagaimana klan Yasuda bisa sampai tiga generasi hingga sekarang, hehe.” Kenji mengakhiri ceritanya yang luar biasa.

Kami semua terpana mendengar cerita Kenji barusan, seolah-olah sedang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Kenji memang sangat pandai bercerita, menyajikan kisah yang sangat mudah divisualisasikan dalam bentuk imajinasi. Bahkan Rika yang sangat gemar berfantasi pun terlihat terperangah, seakan tak percaya cerita yang disampaikan adalah kisah nyata.

“Ceritamu bagaikan film Kenji, seperti mustahil untuk terjadi.” Sica yang pertama membuka mulut untuk memberikan respon.

“Haha, memang betul, tapi aku adalah bukti nyatanya Sica.”

“Aku rasa aku bisa mendapatkan inspirasi untuk novel baruku dari ceritamu Ken. Aku juga butuh belajar sejarah lebih banyak lagi.” Rika juga memberikan tanggapannya.

“Silahkan, aku akan siap menjadi narasumber.”

“Untunglah nenekmu bisa bahasa Belanda, bayangkan jika tidak, bisa-bisa kamu tidak ada.” Nita berkelakar dari sudut pandang bahasa yang menjadi perhatian utamanya.

Aku hendak memberikan tanggapanku ketika bel sekolah berbunyi sebagai tanda masuk, sehingga aku membatalkan apa yang mau kukatakan. Toh sebenarnya komentar dari tiga orang lainnya sudah cukup mewakili.

***

Pulang sekolah, aku menceritakan sejarah Kenji ke Gisel. Ia terlihat sangat antusias mendengar ceritaku, padahal aku tidak bisa bercerita sebaik Kenji. Tapi setidaknya, Gisel bisa memahami apa yang aku sampaikan.

“Kalau kakek dan nenek kita kira-kira ikut membantu Indonesia enggak ya kak?” tanya Gisel ketika aku selesai.

Aku terdiam mendengar pertanyaan ini karena memang aku kurang tahu mengenai hal itu. Seingatku sejak aku kecil, semua kakek dan nenekku baik dari pihak ayah maupun ibu sudah meninggal. Mungkin aku pernah bertemu ketika kecil, namun aku tidak ingat. Mungkin suatu saat aku akan menanyakan hal tersebut ke om Anton. Bisa saja sejarah keluargaku di masa lalu memiliki keterkaitan dengan sejarah yang dimiliki oleh Kenji.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.