Chapter 23 Analisa Seorang Kenji

Setelah beberapa penjelasan dari Pierre waktu istirahat pertama, aku sudah menguasai penggunan handphone mungilku ini. Tidak salah jika aku sering membanggakan kemampuan otakku ini. Meskipun menunya tidak bisa diatur menggunakan bahasa Indonesia, hal tersebut bukan masalah besar karena kemampuan bahasa Inggrisku juga lumayan. Bisa menggunakan handphone merupakan satu lompatan besar bagiku yang bagai lahir ketika manusia masih menggosokkan dua batang kayu untuk membuat api.

Masalahnya, setelah selesai dengan Pierre, Sarah masuk ke kelas dan melihat handphoneku. Tatapan sinis sangat jelas tergambar dari kedua matanya itu. Ia yang biasanya suka berbicara dengan lantang itu memutuskan untuk mengumbar senyum tipis yang bertujuan untuk menghina. Mungkin ia agak segan dengan diriku yang dirasanya tidak bisa dihina dengan terang-terangan. Aku tidak sempat merespon Sarah karena Sica keburu masuk.

“Le, sudah beli handphone?”

“Eh, iya sudah.”

“Boleh lihat?”

Aku pun menyodorkan handphone ke Sica. Ia mengamati barang tersebut dengan seksama. Aku heran, apa yang menarik dari alat komunikasi bekas yang punya cahaya lemah di sudutnya ini.

“Oke Le, terima kasih, nomerku sudah aku save di kontakmu?”

“Benarkah? Terima kasih Sica.”

Ekspresi Sica sedikit terlihat aneh, antara canggung dan merasa bersalah. Daripada penasaran, aku pun bertanya kepadanya, apa ada yang salah dengan handphoneku ini.

“Maaf ya Le, tadi sekilas aku merasa familier dengan handphone itu. Ternyata benar, itu handphone lamaku yang belum lama aku jual.”

***

Selama sisa jam pelajaran, aku berusaha untuk menebalkan mukaku setebal-tebalnya. Berusaha bersikap normal, padahal dalam hati malu tak karuan. Sesekali aku melihat Sica melirik ke arahku, mungkin karena merasa bersalah karena telah memberitahu fakta tersebut. Seharusnya dia tidak perlu merasa bersalah, toh ia tidak menyebarkan kabar tersebut ke orang lain.

Ketika akhirnya pelajaran telah berakhir, kami semua bergegas keluar dari sekolah. Sepengetahuanku semua anak di kelas aksel ini, selain aku dan Kenji, punya jadwal les yang begitu padat untuk menyeimbangkan ritme pelajaran yang kami terima di sekolah. Aku tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa tahan belajar non-stop seperti itu. Aku yang memiliki otak cerdas ini pun butuh istirahat, yang biasa aku lakukan sepulang sekolah. Barulah ketika malam menjelang aku memulai kegiatan belajarku kembali hingga merasa penat. Entah bagaimana pola Kenji belajar, tetapi aku yakin pola belajar kami tidak terlalu berbeda.

Seperti biasa, aku dan Kenji akan pulang bersama seperti yang sudah kami lakukan akhir-akhir ini. Namun Kenji nampak sedang berbincang dengan teman sekelas kami yang begitu pendiam, Yuri. Bahkan seingatku aku belum pernah berbicara dengannya barang satu kali pun. Penasaran, aku pun menghampiri mereka berdua.

“Kenji, tidak pulang?” tanyaku memecah percakapan mereka.

“Ah sebentar Le, teman kita satu ini membutuhkan bantuanku. Atau lebih tepatnya bantuan kita.” jawab Kenji sambil mengedipkan satu matanya.

“Bantuan?”

“Mungkin lebih baik kamu sendiri yang cerita Yu.” Kenji mengalihkan pandangannya ke Yuri.

Yuri nampak gugup ketika akan berbicara denganku. Masa laluku sebagai pembuat onar mungkin membuatnya agak takut berbicara denganku. Maka, aku berusaha membuka percakapan dengan seramah mungkin.

“Kau butuh bantuan apa?”

“Hahaha, ayolah Le, dia justru akan makin diam kalau kamu tanya macam memalak seperti itu.” kata Kenji sambil tertawa ringan. Heran, padahal aku sudah berusaha untuk seramah mungkin.

“Baiklah biar aku saja ya yang bercerita.” lanjut Kenji sambil membenarkan posisi duduknya.

“Tu…tunggu Ken, aku akan cerita ke Leon ju…juga.” Yuri akhirnya membuka mulutnya untuk bersuara walaupun agak tergagap.

“Nah, itu lebih bagus.”

“Ja…jadi begini Leon, aku merasa kesulitan di kelas ini, terutama menjelang UAS ini. Materi yang harusnya dibagi untuk tiga tahun dimampatkan menjadi dua tahun. Walaupun kelas kita datang lebih pagi dan pulang lebih sore dari kelas reguler, aku tetap merasa kurang dan butuh kelas tambahan. Namun…” Yuri tidak melanjutkan kata-katanya, namun aku bisa menebak kelanjutannya.

Waktu dan faktor ekonomi menjadi penghalangnya untuk mengambil kursus seperti teman-teman lainnya. Sedikit-sedikit aku mengetahui tentang Yuri, mayoritas berasal dari Kenji. Ia adalah anak yang secara ekonomi kurang mampu meskipun lumayan cerdas. Ayahnya telah meninggal, dan ia hidup bersama ibu dan dua adiknya. Selama ini ibu Yuri memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuka usaha cathering kecil-kecilan. Karena tidak memiliki uang untuk merekrut orang, maka Yuri sebagai anak tertua pun harus membantu ibunya, termasuk bangun dini hari, sesuatu yang membuat ia sering mencuri-curi waktu untuk tidur di dalam kelas.

“Nah, Le, mungkin kamu bisa menangkap arah pembicaraan ini.” Kenji memotong lamunanku.

“Belajar bersama? Kita bertiga?” jawabku menebak.

“Seperti yang kuharapkan darimu Le. Kita bertiga sama-sama tidak mengambil les di luar jam sekolah. Nah, kenapa kita tidak belajar bersama sepulang sekolah? Bisa di salah satu rumah kita atau bisa juga di kelas.”

Sebenarnya aku kurang setuju dengan usul ini, dengan alasan sore adalah waktuku untuk mengistirahatkan otakku. Namun melihat kondisi Yuri yang membutuhkan pertolongan, nampaknya aku bisa menurunkan egoku.

“Se..sebenarnya bukan belajar bersama Ken, a…aku minta diajari beberapa materi yang aku kurang paham. Aku tidak akan bisa mengajari kalian berdua, kepintaran kalian di atasku.” jawab Yuri dengan kepala yang tetap menunduk dari tadi.

“Ah sama saja, hanya beda istilah, iya enggak Le? Hahaha.”

Dengan anggukan pelan, aku menyetujui usulan ini.

***

“Jadi, sebenarnya siapa yang punya ide? Kau atau Yuri?” tanyaku sewaktu Kenji mampir rumahku setelah kami bertiga setuju dan akan memulainya besok.

“Tentu saja aku Le, tidak mungkin anak sediam Yuri akan memintaku secara langsung.  Kamu tahu aku suka sekali mengamati orang, apalagi teman sekelas. Aku sering bertukar pikiran dengan mereka, sehingga banyak informasi yang aku dapatkan tentang mereka.”

“Ya, ketika aku bertanya tentang teman kelas, kau selalu tahu.”

“Jika kita mengingat banyak detail tentang seseorang, maka orang tersebut akan merasa dihargai. Bukan berarti aku hobi mengorek aib orang lo ya, hahaha.”

“Bagaimana kau bisa menebak Yuri butuh belajar bersama kita?”

“Bukan itu sebenarnya yang kutebak, melainkan apa yang Yuri butuhkan. Aku hampir mengetahui semua tempat les teman-teman, kecuali Yuri karena dia memang tidak les dimanapun. Dengan latar belakang Yuri yang seperti itu, aku bisa menarik kesimpulan bahwa ia hampir tidak memiliki waktu untuk mengambil les. Yang namanya pesanan makanan tidak bisa ditebak kapan datangnya bukan? Oleh karena itu, ia tidak mengambil les dengan jadwal yang tetap. Tidak ada tempat les yang jadwalnya tidak tetap bukan, kecuali guru privat seperti yang dilakuan oleh Sarah, dan itu mahal.”

“Jadi, kau usul untuk belajar bersama dengan kita, karena kita bisa membuat jadwal yang fleksibel?”

“Tepat sekali Le.”

Aku memandang langit-langit rumahku untuk mencerna apa yang Kenji katakan kepadaku. Memang bijaksana sekali keputusannya untuk mengajak Yuri belajar bersama kami, apalagi kami berdua sering dianggap duo terpintar di kelas karena sering mendapatkan nilai tertinggi ketika ulangan. Semenjak aku bertemu Kenji, aku menyadari betapa pentingnya berbagi ilmu yang dimilki.

“Apakah kamu setuju dengan ide ini? Maaf aku tidak memberitahukan ide ini sebelumnya.” tanya Kenji setelah kami cukup lama berdiam diri.

“Tentu, tidak ada masalah.”

Tiba-tiba terbesit satu pertanyaan di kepalaku, pertanyaan yang sebenarnya dari tadi mengusik rasa penasaranku.

“Kenji, aku paham bagaimana kau bisa memperoleh informasi tentang teman-teman, tapi bagaimana kau bisa memperoleh informasi tentang Sarah?

“Hahaha, pertanyaan bagus Le. Aku heran kenapa kamu baru menanyakannya sekarang.”

“Karena baru kepikiran.” jawabku enteng.

“Agak susah mengumpulkan informasi tentang Sarah karena ia berasal dari Jakarta. Tidak ada satu orang pun yang mengenalnya. Lagipula, mendapatkan informasi dari orang ketiga bukanlah tipeku.”

“Tidak mungkin kan kau bertanya kepadanya secara langsung?”

“Justru itu yang aku lakukan.”

“Bagaimana caranya?”

“Pertama, buat prediksi jawaban terlebih dahulu. Kumpulkan sebanyak mungkin data yang tersedia, seperti barang bawaannya, tingkah laku, dan lain sebagainya. Lalu, ajukan pertanyaan yang berkebalikan dari prediksi jawaban tersebut.”

“Bisa kau beri contoh?”

“Ambil saja contoh tentang guru privat Sarah. Aku sudah memprediksi bahwa anak seperti Sarah tidak akan mau les bersama orang lain yang dianggapnya, maaf, lebih rendah dari dirinya. Apa solusinya? Tentu saja guru privat. Maka aku bertanya kepadanya ‘Sarah les di mana?’. Kamu bisa tebak seperti apa jawabannya?

Seolah ada film yang diputar di kepalaku, aku bisa menerka apa jawaban Sarah.

“Les? Enak aja, gue gak bakal mau les satu tempat sama kalian. Gue kan kaya, jelaslah gue panggil guru privat yang profesional.” jawabku meniru gaya bicara Sarah.

“Kurang lebih seperti itu jawabannya Le. Dengan cara seperti itulah aku bisa mendapatkan informasi tentang Sarah.”

Sungguh luar biasa analisa kawanku yang satu ini.

***

Menjelang tidur, setelah belajar berjam-jam ditambah melayani berbagai pertanyaan Gisel, aku memutuskan untuk mencoba mengirimkan sms ke Sica. Sempat aku bingung ketika aku mencari namanya di daftar kontak, yang ternyata ia ketik sebagai ‘Kakak Cantik’. Mungkin adikku sempat memangilnya seperti itu ketika ia berkunjung ke rumahku. Tidak mungkin salah nomor, karena memang baru nomer Sica yang aku simpan, selain nomer operator yang tersimpan otomatis.

Aku bingung bagaimana memulai percakapan, sehingga aku kirimkan saja pesan standar.

  • Selamat malam kakak cantik

Setelah terkirim, barulah terpikirkan olehku, bagaimana jika Sica marah karena aku memanggilnya seperti itu. Kami belum terlalu dekat, bagaimana jika ternyata ia sudah memiliki seorang pacar, atau setidaknya bagaimana jika orangtuanya menemukan anaknya digoda oleh teman sekelasnya. Banyak sekali bagaimana-bagaimana lainnya yang terus mengambang di pikiranku.

Lama aku menunggu balasannya hingga hampir tertidur, mungkin Sica benar-benar merasa tersinggung dengan panggilan tersebut. Ketika kesadaranku tinggal dua persen, akhirnya bunyi notifikasi yang disertai kerlap-kerlip lampu di ujung handphoneku ini menarikku kembali ke alam sadar. Bukan dari operator, melainkan dari Sica.

  • Malam Le, ternyata kamu genit juga ya 😉

Merasa bersalah, aku pun membalas dengan permintaan maaf.

  • Maaf Sica, aku memanggil seperti itu karena kau menyimpan namamu seperti itu

Aku belum tahu bagaimana cara menampilan ekspresi pada sms ini seperti yang Sica lakukan. Jika saja aku tahu, akan akan mencari ekspresi bersalah yang paling bersalah.

  • Ah, tidak apa-apa kok Le, aku cuma bercanda saja 😊

Belum sempat membalas, masuklah sms keduanya.

  • Gisel apa kabar? Pernah nanyain aku enggak? Hihihi

Setelah itu, kami saling membalas sms kami hingga larut. Topik yang dibicarakan pun banyak, mulai Gisel hingga masalah sekolah. Tidak butuh analisa seorang Kenji untuk mengetahui betapa bahagianya diriku sekarang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.