Olahraga
Kenapa Saya Suka Formula 1?
Max Verstappen berhasil mengukuhkan dirinya sebagai juara dunia Formula 1 (F1) back-to-back setelah kemenangan yang ia raih di GP Suzuka, balapan yang bisa dibilang cukup membingungkan penonton, panitia, bahkan pembalapnya sendiri.
Terlepas dari itu, performa Verstappen musim ini memang cukup luar biasa. Rasanya semua penonton F1 sepakat kalau ia memang layak untuk menyandang gelar tersebut, bahkan memprediksi kalau Verstappen dan Red Bull akan mendominasi F1 beberapa tahun ke depan.
Nah, Penulis jadi ingin sedikit berbagai mengenai bagaimana dirinya bisa menjadi penggemar F1, olahraga yang notabene tidak terlalu populer di Indonesia dan kalah pamor dari Moto GP yang lebih digandrungi oleh masyarakat kebanyakan.
Awal Mula Suka F1 dan Michael Schumacher

Pada tulisan “Idola Bernama Michael Schumacher“, Penulis sudah pernah membahas sedikit mengenai awal mula bisa jatuh cinta dengan F1. Salah satu alasan utamanya adalah di rumah ada beberapa majalah yang membahas tentang F1 (yang sayangnya sudah hilang).
Dari sana, Penulis jadi mengetah beberapa hal tentang F1, termasuk tentang sosok Michael Schumacher dan Ferrari yang begitu mendominasi di awal tahun 2000-an. Penulis yang punya kebiasaan “memilih yang terbaik” pun menjadikannya sebagai idola.
Bahkan, Penulis lebih tahu dulu F1 daripada sepak bola. Ketika kelas 2 SD, teman-teman Penulis saling menyebutkan nama klub bola favoritnya. Penulis dengan polosnya menyebut nama Schumacher, hanya karena pernah melihatnya bermain sepak bola di laga amal.
Sebagai pendukung Schumi, nama panggilan Schumacher, tentu Penulis merasa senang karena ia berhasil menang terus. Bagi penggemar lain, mungkin F1 akan menjadi begitu membosankan karena adanya satu sosok yang terlalu dominan. (NB: Ini yang Penulis rasakan ketika melihat dominasi Hamilton di kemudian hari)
Lantas, dominasi tersebut dipatahkan oleh Fernando Alonso bersama Renault di tahun 2005-2006. Tentu saja Penulis merasa sedih karena idolanya tidak juara, apalagi Schumacher memutuskan untuk pensiun di akhir musim 2006 karena masalah politik di Ferrari.
Siapa Idola Pengganti Schumacher?

Karena tidak ada Schumacher, tentu Penulis harus menemukan idola baru untuk didukung. Pilihan tersebut jatuh ke Kimi Raikkonen, yang kebetulan juga merupakan pengganti Schumacher di Ferrari.
Penulis tentu merasa bahagia ketika ia berhasil menjadi juara dunia di tahun 2007. Bayangkan, berhasil menjadi juara di musim debutnya bersama Ferrari. Lebih serunya lagi, ia berhasil menjadi juara hanya dengan jarak 1 poin dari rookie Mclaren, Lewis Hamilton.
Sayangnya, Raikkonen tidak bertahan lama di Ferrari. Setelah musim 2008, kontraknya diputus karena Ferrari ingin merekrut Fernando Alonso. Nah, Alonso kan mantan rival Schumacher, jadi susah untuk Penulis memilihnya sebagai pengganti idola.
Di tahun 2009, ada tim baru yang berhasil mencuri perhatian: Brawn GP. Berasal dari tim Honda yang akan segera meninggalkan F1, siapa yang sangka kalau tim tersebut bisa meraih gelar juara lewat Jenson Button.
Penulis tidak lantas menjadi penggemar Button, hanya saja Penulis mendukung tim ini untuk bisa menjadi jaura dunia. Hanya saja, Brawn GP juga tidak bertahan lama karena keburu dibeli oleh Mercedes, yang kelak akan mendominasi F1.
Masa-Masa Meninggalkan F1

Tahun 2009, semua mata tertuju pada Brawn GP. Padahal, ada satu tim baru yang juga cukup mencuri perhatian: Red Bull. Bagaimana bisa merek minuman energi bisa memiliki mobil F1 yang kompetitif? (Ini akan Penulis bahas khusus nanti)
Salah satu alasannya adalah mereka memiliki pembalap handal, Sebastian Vettel. Penulis pun menjagokan Vettel bersama Red Bull. Ternyata, pilihan Penulis tidak salah karena kombo Vettel-Red Bull berhasil membuahkan juara dunia empat kali berturut-turut (2010-2013).
Selain itu, Schumacher secara mengejutkan juga melakukan comeback dan bergabung dengan Mercedes untuk balapan selama 3 musim. Raikkonen juga comeback untuk bergabung dengan Lotus pada tahun 2012.
Sayangnya, ketika mulai kuliah (sekitar tahun 2012), entah mengapa Penulis mulai meninggalkan F1. Apalagi, setelah Vettel juara di tahun 2013, Hamilton bersama Mercedes (sempat terselip nama Nico Rosberg) begitu mendominasi F1 di era hybrid.
Jadi, kemungkinan besar Penulis berhenti mengikuti F1 adalah karena tidak adanya lagi sosok idola dan dominasi Hamilton yang membuat F1 terasa membosankan. Barulah di (akhir) musim 2021, gairah Penulis untuk kembali mengikuti F1 muncul.
Kembali Mengikuti F1

Salah satu alasan mengapa Penulis tertarik untuk kembali mengikuti F1 adalah karena ada sosok yang terlihat bisa merusak dominasi Hamilton: Max Verstappen dari Red Bull. Bahkan, poin keduanya berada di angka yang sama hingga GP terakhir di Abu Dhabi.
Penulis yang tidak mengikuti dari awal musim memutuskan untuk menonton balapan terakhir di situ. Sebuah keputusan yang benar, karena balapan tersebut menyajikan drama gila yang tidak akan dilupakan oleh semua penggemar F1!
Penulis tidak akan membahas kontroversi tersebut. Yang jelas, balapan tersebut berhasil membangkitkan kembali kesukaan Penulis terhadap F1. Selain mengikuti secara penuh musim 2022 ini, Penulis juga banyak menonton video-video F1 di YouTube.
Selain dari kanal resmi F1 untuk “mengejar ketertinggalan”, Penulis juga merupakan penonton setia dari BoxBoxNowIndonesia dan F1 Speed Indonesia. Banyak sekali pengetahuan yang Penulis dapatkan dari 2 kanal tersebut.
Bahkan, Penulis sampai membuat sheet yang menjelaskan mengenai sejarah tim dan pembalap-pembalap yang pernah turut serta di F1. Mungkin, suatu hari nanti Penulis akan coba share tentang itu di blog ini.
Penutup
Dengan keluarnya Verstappen sebagai juara dunia musim 2022, Penulis pun tak sabar untuk menantikan musim 2023 yang tentu diharapkan semakin seru. Apalagi, akan ada beberapa sirkuit baru seperti Las Vegas yang tentunya menarik untuk ditonton.
Penulis sendiri bukan penggemar Verstappen, meskipun Penulis bisa dibilang condong ke tim Red Bull sekarang. Oleh karena itu, Penulis berharap akan ada juara baru di tahun 2023 nanti. Apalagi, ada banyak nama potensial yang bisa menjadi penantang juara.
Bagi Penulis, F1 adalah ajang balap yang paling seru dibandingkan yang lain, bahkan jika dibandingkan Moto GP yang kesannya lebih banyak menyajikan aksi salip-menyalip. Apalagi, sekarang F1 telah meninggalkan kesan eksklusivitasnya dan bisa diakses oleh banyak orang.
Selain itu, bentuk mobil dan livery F1 kerap tampil dengan desain yang elegan dan mewah. Apalagi di tahun 2022 ini, banyak sekali desain mobil yang terlihat luar biasa sehingga Penulis sangat ingin memiliki miniaturnya. Sayang, harganya mahal tidak karuan.
Jadi, kurang lebih itulah alasan mengapa Penulis bisa suka dengan Formula 1. Ada “sejarah panjang” di baliknya, meskipun Penulis sempat bersikap apatis selama bertahun-tahun karena berbagai alasan. Mungkin, setelah ini Penulis akan terus intens dalam mengikuti F1.
Foto: Ikbariyasport
Olahraga
Menatap Keseruan Musim F1 2026 Setelah GP Australia
Setelah lama dinanti, akhirnya Formula 1 (F1) musim 2026 resmi dimulai. Seperti biasa, tahun ini pun juga dibuka di GP Australia, tepatnya di sirkuit Albert Park, Melbourne.
Salah satu alasan utama mengapa musim ini banyak dinanti adalah karena adanya perubahan regulasi besar-besaran yang membuat peta persaingan menjadi sedikit berubah. Walau sudah sedikit terlihat ketika pra-musim, tentu hasil balapan menjadi hal yang lebih ditunggu.
Lantas, setelah GP Australia resmi berakhir beberapa menit lalu, apakah sudah terlihat tim mana yang akan dominan dan siapa yang akan menjadi juara dunia? Yup, sudah sedikit terlihat walau tentu potensi kejutan masih ada.
Dominasi Mercedes, Ferrari Kembali Lawak

Regulasi 2026 menjanjikan akan menyajikan lebih banyak aksi overtake dan hal tersebut memang langsung terlihat, setidaknya di 1/3 awal balapan. Duel antara George Russell vs Charles Leclerc benar-benar seru.
Leclerc memang berhasil langsung tancap gas merebut posisi satu dengan menyalip tiga pembalap sekaligus (termasuk Kimi Antonelli dan Isack Hadjar), tapi Russell juga tidak mau menyerahkan kemenangannya begitu saja.
Di awal-awal balapan, terlihat mereka berduel sengit dan saling gantian menyalip. Hal semacam ini rasanya sudah lama tidak terlihat di beberapa musim terakhir F1. Sayangnya, hal seru tersebut berhenti setelah Virtual Safety Car (VSC) pertama keluar.
VSC keluar setelah Hadjar yang mengalami trouble pada mesinnya, yang membuatnya harus DNF. Mercedes membuat keputusan untuk pit, sedangkan Ferrari memutuskan untuk stay out untuk kedua pembalapnya.
Keputusan ini memang agak gambling karena tampaknya Ferrari mengincar satu kali pit stop. Apalagi, tak lama berselang, VSC kembali keluar setelah Valterri Bottas dari Cadillac juga mengalami permasalahan pada mobilnya.
Nah, harusnya begitu VSC keluar lagi, Ferrari harusnya pit, bukan? Apalagi beberapa pembalap juga memanfaatkan VSC kedua ini. Hanya saja, ini kan Ferrari, jadi ya kadang suka melawak.
Alih-alih langsung pit, mereka justru tidak langsung masuk ke dalam pit. Saat mau masuk ke pit, pintu masuknya malah ditutup karena digunakan untuk mengevakuasi Bottas. Alhasil, Leclerc dan Lewis Hamilton pun harus pit saat VSC telah usai.
Hal ini pun berhasil dimanfaatkan oleh Mercedes dengan baik dan mereka mampu mengunci podium 1-2. Sementara itu, Leclerc harus puas berada di podium ketiga. Walau apes, setidaknya Ferrari berhasil mengunci posisi 3-4 dan menunjukkan mereka adalah salah satu kandidat juara.
Verstappen Kembali Unjuk Kebolehan, McLaren agak Was-was

Selain duel seru antara Mercedes vs Ferrari, hal menarik lainnya dari balapan kemarin adalah Max Verstappen yang mampu bangkit. Start dari posisi 20 karena insiden saat kualifikasi, ia berhasil merangkak naik hingga finis di peringkat ke-6.
Red Bull memang disebut sebagai mobil tercepat ketiga di musim ini setelah Mercedes dan Ferrari. Bahkan seandainya Hadjar tidak mengalami kerusakan pada mobilnya, bisa jadi ia berhasil meraih podium perdana bersama tim barunya.
Verstappen tampaknya akan kembali menunjukkan anomalinya seperti tahun kemarin. Meskipun tidak berada di mobil tercepat, ia tetap merupakan salah satu kandidat juara musim ini.
Sementara itu, McLaren tampaknya agak kewalahan di musim ini. Setelah dominasi dua musim terakhir, tampaknya mereka bukan lagi kandidat juara di musim ini. Lando Norris memang hebat karena mampu menahan Verstappen, tapi tak cukup cepat untuk menjadi penantang juara.
Nasib apes juga kembali menghampiri pembalap tuan rumah, Oscar Piastri. Setelah musim kemarin terpelintir di akhir balapan dan hanya finis di peringkat 9, musim ini ia malah gagal start setelah mobilnya mengalami insiden bahkan sebelum balapan dimulai.
(Sebagai tambahan, Hadjar juga lagi-lagi gagal finis di GP Australia seperti tahun kemarin)
Regulasi Baru: Makin Oke atau Makin Payah?

Sejak pra-musim, sudah banyak pembalap yang komplain tentang regulasi baru. Penulis tidak akan menjabarkan detail teknisnya, tapi intinya mobil yang sekarang bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling cerdik melakukan manajemen.
Jika di regulasi sebelumnya manajemen ban menjadi kunci, maka musim ini kita diperlihatkan bagaimana pembalap juga harus semakin pandai dan perhitungan dalam melakukan manajemen baterai.
Mengingat misi FIA yang ingin semakin go green, maka mobil F1 pun dibuat semakin ramah lingkungan. Bahkan, tak sedikit yang menyebut kalau F1 sekarang adalah Formula E versi premium.
Kecepatan mobil pun menjadi hal yang paling sorot. Dari hasil lap tercepat kualifikasi misalnya, fastest lap musim ini ternyata lebih lambat sekitar 3 detik dibandingkan dengan musim kemarin.
Di balapan tadi, top speed-nya sendiri menyentuh angka 344 km/jam yang berhasil diraih oleh Franco Colapinto dari Alpine. Sebagai perbandingan, rekor di tahun kemarin adalah 360 km/jam.
Meskipun lebih lambat, janji FIA tentang lebih banyak aksi overtake memang terbukti. Selain duel antara Russell vs Leclerc, di belakang pun ada banyak aksi overtake walau memang 1/3 akhir balapan sudah seperti Sunmori.
Dari sisi suara mesin, jujur saja suaranya memang semakin lama semakin tidak enak didengar. Karena Penulis besar dengan suara mesin V10, suara mobil saat ini seperti (mengutip F1 Speed Indonesia) suara mesin fogging.
Memang terlalu dini untuk menilai apakah F1 musim 2026 akan membosankan dengan regulasi baru. Namun, dari GP Australia hari ini, tampaknya kita memang diberi harapan kalau balapan akan jadi lebih seru.
Siapa yang Berpeluang Juara?
Lantas, siapa yang berpeluang juara? Seperti hasil di pra-musim, Mercedes memang menjadi tim yang paling kompetitif dan itu terbukti dari hasil GP Australia. Russell juga menjadi kandidat terkuat karena dirinya juga semakin matang.
Sementara itu, Ferrari juga tidak boleh dicoret dari daftar kandidat juara. Selama mereka tidak sering melawak seperti biasanya, bisa jadi tahun ini benar-benar akan menjadi tahun mereka setelah juara terakhir kali pada tahun 2007 silam (nyaris 20 tahun lalu).
Tentu saja jangan lupakan Verstappen, yang tetap menjadi anomali bersama Red Bull. Rasanya ia (bersama Leclerc) akan tetap jadi penantang paling serius dari Russell. Sayang, sang juara bertahan tampaknya tak akan mampu mempertahankan gelar juaranya.
Lawang, 8 Maret 2026, terinspirasi setelah menonton GP Australia
Olahraga
Menatap Masa Depan Manchester United Bersama Michael Carrick
Penggemar Manchester United (MU) di seluruh dunia tampaknya sedang menjalani pekan-pekan yang selalu berbahagia belakangan ini. Semenjak Michael Carrick menggantikan Ruben Amorim, MU masih tak terkalahkan!
Dalam enam pertandingan terakhir bersama Carrick, MU berhasil mencatatkan lima kemenangan dan satu kali imbang. Memang fans yang itu gagal potong rambut, tapi setidaknya trennya sudah semakin positif.
Catatan ini semakin impresif karena di periode pertama Carrick menjadi pelatih interim, ia juga tak terkalahkan dalam tiga laga (dua kali menang dan satu kali imbang). Artinya, selama melatih MU, ia belum pernah kalah.
Tentu catatan ini membuat banyak penggemar merasa optimis MU akan kembali ke masa jayanya bersama Carrick, walau ada isu kalau ia tak akan diperpanjang setelah musim ini berakhir.
Terlepas dari ketidakpastian itu, mari kita menatap masa depan Manchester United bersama Michael Carrick.
Formasi 4-2-3-1 yang Fluid dan Transisi Cepat

Salah satu alasan mengapa banyak fans MU yang jengkel ke Amorim adalah betapa ngotot dan keras kepalanya ia dalam memaksakan filosofinya ke dalam tim. Seperti yang kita tahu, sejak bergabung ia menggunakan formasi 3-4-2-1 seperti di Sporting Lisbon.
Masalahnya, dalam beberapa pertandingan kita bisa melihat kalau formasi ini kurang sesuai dengan komposisi pemain yang dimiliki oleh MU. Dalam beberapa pertandingan yang Penulis lihat, para pemain terlihat kesulitan menerapkan strategi yang diinstruksikan Amorim.
Memang pembelian di awal musim ini untuk melengkapi strategi yang ia miliki, tapi tetap saja kurang. Menjelang lengser, memang ia terlihat mulai fleksibel dan tidak memaksakan skemanya lagi, tapi ternyata sudah terlalu terlambat.
Carrick pun datang dan menerapkan formasi tradisional 4-2-3-1, yang sebelumnya juga digunakan oleh Ole Gunnar Solkjaer dan Erik Ten Hag. Nah, Penulis melihat kalau Carrick seolah memadukan strategi dari kedua pelatih tersebut.
Di bawah Ole, empat pemain depan bermain dengan cukup fluid dan kerap bertukar posisi. Posisi mereka bisa bergeser-geser sehingga pertahanan lawan pun tampak kesulitan untuk mengantisipasi serangan MU.
Sementara itu di bawah Ten Hag, ia memiliki ambisi untuk menjadikan MU sebagai tim transisi terbaik alias mampu mengonversi counter attack dengan baik. Nah, dua hal tersebut kembali dimunculkan oleh Carrick.
Gol ke Gawang Everton, Rangkuman Strategi Carrick

Dalam enam pertandingan ini, Carrick selalu memasang Bryan Mbuemo di ujung tombak dan ditopang oleh Patrick Dorgu/Matheus Cunha, Bruno Fernandes, dan Amad Diallo. Keempat pemain ini sangat sering terlihat bertukar posisi di lapangan secara fleksibel.
Benjamin Sesko memang belum pernah menjadi starting line-up, tapi ia kerap berhasil menjadi super-sub dan mencetak gol penentu. Terakhir, tentu saja ketika laga melawan Everton kemarin yang merupakan hasil dari counter-attack cepat.
Nah, bicara tentang gol melawan Everton kemarin, bisa dibilang gol tersebut merangkum strategi MU di bawah Carrick. Selain lini depan yang fluid dan counter attack yang cepat, kunci MU adalah di long pass.
Gol tersebut bisa tercipta dari umpan panjang Cunha ke Mbuemo, sebelum akhirnya diselesaikan dengan baik oleh Sesko. MU di bawah Carrick memang terlihat cukup sering mengirim umpan panjang ke depan maupun untuk switch play.
Oleh karena itu, kehilangan lagi Lisandro Martinez merupakan kehilangan besar bagi MU. Pasalnya, bek tersebut memiliki akurasi umpan panjang yang cukup akurat dan tidak ada bek MU lain yang memiliki kemampuan seperti itu.
Sesko Sebagai Super-Sub

Kembali ke Sesko. Dalam pertandingan di bulan Februari saja, ia sudah berhasil mencetak tiga gol krusial, di mana dua menjadi penentu kemenangan dan menyelamatkan MU dari kekalahan ketika melawan West Ham.
Kekurangan MU di bawah Carrick adalah melawan tim yang menerapkan low block. MU sering terlihat kesulitan menembus pertahanan lawan yang rapat, apalagi Mbuemo sejatinya bukanlah tipe target man.
Nah, Sesko adalah jawaban dari kekurangan tersebut. Penulis tidak tahu apa alasan Carrick tidak memasang Sesko sejak awal ketika berhadapan dengan tim low block, tapi ketika ia masuk, perubahan bisa langsung terlihat.
Sesko sudah mencetak 3 gol sepanjang bulan Februari ini. Sebagai perbandingan, total golnya dari awal musim hingga Januari 2026 hanya 4 gol. Sesko rasanya cocok dengan skema yang dimiliki oleh Carrick.
Perubahan Peran Pemain Lainnya

Berbicara tentang improvement, kita juga harus melihat Kobbie Mainoo yang sempat “disia-siakan” oleh Amorim karena jarang mendapatkan jam bermain. Di bawah Carrick, ia selalu menjadi langganan lineup.
Karena Carrick menggunakan formasi 4-2-3-1, tentu dibutuhkan double pivot untuk menemani Casemiro. Mengingat Manuel Ugarte kurang sip, tentu Mainoo adalah opsi tersisa dan untungnya ia bisa menjawab tantangan tersebut.
Fernandes juga akhirnya dikembalikan ke posisi aslinya sebagai pemain nomor 10. Di bawah Amorim, ia kerap bermain lebih mundur atau sedikit ke kiri, sehingga terlihat kurang mampu berperan sebagai playmaker.
Jangan lupakan juga performa luar biasa Senne Lammens yang kerap melakukan penyelamatan krusial. Penulis awalnya sempat meragukannya, tapi ia menunjukkan kapabilitasnya sebagai kiper top yang jauh lebih baik dari Andre Onana.
Pemain lain yang berubah posisi adalah Luke Shaw, yang sebelumnya sering dijadikan sebagai CB oleh Amorim. Ia kembali ke posisinya semula sebagai LB, sedangkan Dorgu yang juga berposisi sama dimajukan menjadi LM.
Nah, seandainya Dorgu sudah kembali fit, tentu Carrick akan pusing dalam menentukan pemain utamanya karena Cunha juga menunjukkan performa yang oke. Hanya saja, itu juga patut disyukuri karena artinya MU mulai punya kedalaman skuad yang baik.
***
Jika MU mampu bermain baik terus seperti ini, maka slot Liga Champions seharusnya bisa diamankan setelah musim ini tidak berlaga di turnamen Eropa mana pun.
Tentu masih PR yang harus dikerjakan Carrick apabila ia diperpanjang oleh manajemen MU, terutama mencari pengganti Casemiro yang kontraknya habis. Setidaknya, untuk saat ini, Penulis ingin menikmat masa “bulan madu” MU bersama Carrick.
Lawang, 25 Februari 2026, terinspirasi setelah menonton Manchester United tak terkalahkan selama 10 pertandingan terakhir
Olahraga
“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
Bulan Desember ini rasanya tidak ramah bagi pendukung Manchester United (MU). Pasalnya, banyak sekali pertandingan MU yang dimainkan pukul 3 pagi waktu Indonesia Barat. Iya kalau menang, kalau seri atau kalah jadi terasa sia-sia bangun sepagi itu.
Salah satu pertandingan yang baru saja usai adalah saat menjamu Bournemouth, yang berlangsung pada hari Selasa (16/12) kemarin. Pertandingan yang berlangsung dramatis tersebut harus berakhir imbang dengan skor fantastis, 4-4.
Mungkin banyak pendukung (termasuk Penulis) MU yang merasa bahwa situasi tim saat ini sudah membaik. Setelah mengalami musim neraka sebelumnya, kondisi yang ada sekarang jelas terasa sudah cukup, setidaknya untuk menghindari bully dari pendukung tim lain.

Evaluasi Singkat Pertandingan Melawan Bournemouth

Mengingat MU sekarang sering dianggap sebagai klub papan tengah, Bournemouth adalah salah satu lawan yang membuat kami sering merasa deg-degan. Pasalnya, klub tersebut cukup rajin membobol gawang MU, bahkan pernah dua kali menang 3-0 di Old Trafford di musim 23/24 dan 24/25.
Musim ini, Bournemouth berhasil menjebol empat gol di Old Trafford, yang untungnya MU juga bisa mencetak jumlah gol yang sama. Pertandingan tersebut memang bagaikan sebuah roller coaster, dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2, 2-3, 3-3, 4-3, hingga akhirnya 4-4.
Terlepas dari hasilnya, sebenarnya Penulis melihat kalau MU memiliki progres yang terlihat. Dalam pertandingan kemarin contohnya, lini penyerangan MU terlihat lebih berbahaya dan berhasil mencatatkan banyak peluang hingga 25 tembakan (17 di antaranya di babak pertama).
Namun, serangan yang banyak tersebut nyatanya jadi sia-sia karena banyak finisihing yang kurang klinis. Mbuemo yang biasanya moncer terlihat agar kurang kemarin, karena beberapa kali membuang peluang emas di depan gawang. MU sejatinya bisa mencetak lebih dari empat gol.
Setidaknya, pola serangan MU jadi lebih jelas dan enak untuk ditonton, beda dengan musim lalu yang kayak enggak jelas mau bermain seperti apa. Set piece MU juga makin tajam, di mana musim ini telah mencetak 11 gol dari kondisi ini.
Sisi pertahanan pun patut disorot. Kebobolan 10 dalam tiga laga terakhir ketika menjamu Bournemouth di kandang jelas bukan raihan yang impresif. Memang, ada yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kebobolan empat, asal bisa mencetak lima. Masalahnya MU hanya bisa mencetak empat.
Dari sisi kiper, Lammens yang menggantikan Onana berhasil melakukan beberapa penyelamatan krusial terutama di menit-menit akhir. Hanya saja, ia juga melakukan kesalahan ketika telat melompat saat Bournemouth mendapatkan tendangan bebas di depan gawang.
Amorim menurunkan dua bek muda pada pertandingan kemarin, yakni Yoro dan Heaven, karena Maguire dan De Light masih berhalangan untuk tampil. Mereka berdua tampil cukup solid, bahkan mungkin lebih baik dari Shaw yang kemarin sempat kehilangan bola dan berujung kebobolan.
Jika disimpulkan, musim ini para pemain MU tampak sudah mulai nyetel dengan formasi 3-4-2-1 yang menjadi andalan Amorim. Tak hanya itu, sang pelatih juga tampaknya mendengarkan masukan dan mulai mengubah sedikit strateginya.
Perubahan Strategi Amorim

Sejak menangani MU, Ruben Amorim dan strateginya kerap disorot. Dengan status sebagai manajer terburuk setelah era Sir Alex Ferguson, banyak yang menganggap formasi 3-4-2-1 yang ia usung tak cocok untuk MU.
Amorim tak menyerah begitu saja pada filosofinya, lantas ia mendatangkan tiga pemain baru agar strateginya bisa lebih jalan. Hal tersebut memang terlihat karena MU jelas lebih moncer dibandingkan setengah musim lalu.
Satu hal yang paling terlihat dari pertandingan kemarin adalah perubahan strategi dari Amorim. Melansir dari tulisan analis Alex Keble, Amorim mencoba bereksperimen dengan empat bek “palsu”, dengan Yoro main di sisi kanan.
Dengan demikian, posisi Diallo yang di atas kertas merupakan bek sayap kanan bisa lebih maju untuk membantu lini penyerangan. Ia bersama Mbuemo, Mount, dan Fernandes menjadi pemain yang menyokong Cunha yang kemarin dipasang sebagai false 9.
Sementara itu, Casemiro diplot sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, alias menjadi penyeimbang. Jadi, walau di atas kertas posisi MU 3-4-2-1, di lapangan bisa berubah seperti 4-1-4-1.
Jika Dalot ikut menyerang, maka formasinya akan bisa berubah menjadi 3-1-1-5, di mana Fernandes yang akan menjadi pengatur serangan dengan memanfaatkan overload pemain di depan. Namun, tentu pola ini sangat rentan terkena serangan balik.
Ketika tertinggal, MU berubah formasi menjadi 4-2-4 di mana Sesko dimasukkan. Strategi ini sempat berhasil karena berhasil membuat MU berbalik unggul. Sayangnya, Amorim tidak segera mengubah formasi menjadi lebih defensif sehingga MU kembali kebobolan.
Perubahan strategi ini memang terlihat berhasil karena MU bisa mencetak gol banyak. Meskipun Sesko masih sering terlihat enggak ngapain-ngapain dan Mount inkonsisten, setidaknya permainan Cunha, Mbuemo, dan Diallo bisa memberikan harapan.
Satu hal lain yang perlu dicatat adalah bagaimana pemain MU tidak terlalu terpatok pada posisinya, sehingga alur serangan terlihat sangat fluid. Dalot tiba-tiba bisa di tengah, Cunha sering turun ke dalam untuk jemput bola, Mount kerap melebar, dan seterusnya.
Di sisi lain, strategi tersebut menimbulkan celah yang cukup lebar di belakang. Selain Casemiro yang harus cover banyak area, jarak antarbek pun cukup lebar dan celah tersebut kerap dimanfaatkan.
Dalam pertandingan kemarin, bisa dilihat ketika situasi bola berhasil direbut ketika sedang build up serangan, pemain MU terlihat kewalahan dalam menjaga pemain lawan sekaligus menutup area agar tidak dieksploitasi. Casemiro bahkan sampai melakukan pelanggaran yang berujung gol.
Memang ada faktor pengalaman, mengingat Yoro dan Heaven bahkan belum berusia 20 tahun. Jika De Ligt dan Maguire telah kembali (dan Martinez telah menemukan kembali performa terbaiknya), strategi ini terlihat sangat menjanjikan.
***
Jika melihat sekarang, memang situasinya terlihat lebih baik. Bertengger di peringkat enam setelah musim lalu finis di peringkat 15 jelas membuat kami merasa senang. Padahal, dalam tujuh pertandingan terakhir, MU hanya bisa menang dua kali. Sungguh keajaiban.
Namun, bukan berarti kondisi tim sudah membaik secara menyeluruh. Masih ada banyak PR yang harus diselesaikan agar tim setan merah ini bisa segera kembali ke jajaran tim top Eropa dan agar Frank Ilett segera memotong rambutnya.
Lawang, 18 Desember 2025, terinspirasi setelah menonton pertandingan antara MU vs Bournemouth
Foto Featured Image: Kompas Bola
Sumber Artikel:
- Analisis Banyak Gol & Kebobolan Manchester United | Lubang di Sistem 3 Bek Amorim – Ruang Taktik
- Why Man United Just Had Their Best Performance Under Ruben Amorim – The Adam Clery Football Channel
- Chaos at Old Trafford: Attacks reign in 4-4 draw for the ages – Premier League
- Manchester United football club: record v AFC Bournemouth – 11vs11
- Man Utd Player Ratings vs. Bournemouth: Breathless Goal-Fest Leaves Both Teams Unhappy – Sports Ilustrated
-
Musik10 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara10 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman11 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
-
Sosial Budaya10 bulan agoBeda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu
-
Sosial Budaya11 bulan agoBelajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?
-
Permainan7 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara7 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…



You must be logged in to post a comment Login