Permainan
Koleksi Board Game #2: Ticket to Ride: London
Ketika memutuskan untuk membeli Monopoly, ada unsur sentimentil di sana karena Penulis sering memainkannya sejak kecil. Sama sekali tidak ada niatan untuk mulai terjun ke hobi board game seperti sekarang.
Namun, seiring dengan seringnya Penulis bermain board game koleksi Mas Pandu, akhirnya muncul keinginan untuk membeli board game lain yang lebih tidak populer jika dibandingkan Monopoly. Tentu Penulis melakukan “riset” agar tidak salah membeli board game baru.
Pada akhirnya, Penulis memutuskan untuk membeli Ticket to Ride: London. Ada dua alasannya. Pertama, ada unsur London-nya. Kedua, harganya relatif masih terjangkau (300 ribuan) jika dibandingkan dengan versi aslinya yang hampir 900 ribu.
Detail Board Game
- Judul: Ticket to Ride: London
- Desainer: Alan R. Moon
- Publisher: Days of Wonder
- Tahun Rilis: 2019
- Jumlah Pemain: 2 – 4 pemain
- Waktu Bermain: 15 – 30 menit
- Rating BGG: 7.1
- Tingkat Kesulitan: 1.33/5
Cara Bermain Ticket to Ride: London
Ticket to Ride: London memiliki konsep permainan yang sama dengan Ticket to Ride, hanya ada sedikit perbedaan minor, ukuran peta yang lebih kecil, dan tentu saja ada unsur kota London yang kuat, termasuk kehadiran pion bus double decker yang London banget.
Objektif dari permainan ini adalah mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya, yang bisa didapatkan melalui berbagai cara. Penulis akan menjelaskannya nanti, setelah menjelaskan apa saja komponen yang dimiliki oleh board game ini.
Selain peta yang menggambarkan kota London (di mana ada sentuhan Sherlock Holmes yang Penulis sukai), ada 68 bus yang dibagi ke empat warna (masing-masing 17), 44 kartu transportasi, 20 kartu destinasi, dan 4 penanda skor untuk mempermudah tracking.
Bus yang ada digunakan untuk mengklaim rute yang ada di peta. Untuk bisa mengklaim rute, kita harus memiliki kartu transportasi dan menyesuaikan dengan warnanya. Jadi jika di peta mensyaratkan tiga kartu merah, maka kita harus memiliki (atau ditambah Wild Card).
Perlu diingat setiap rute yang diklaim akan menghasilkan poin. Semakin panjang, semakin banyak poin yang akan ditambahkan. Rute dengan satu atau dua bus akan bernilai sesuai dengan jumlahnya, sedangkan rute 3 bus akan bernilai 4 dan rute 4 bus akan bernilai 7.
Kartu rute adalah misi yang harus diselesaikan untuk mendapatkan poin tambahan. Jika tidak mampu menyelesaikannya, maka poin yang tertera di kartu tersebut akan mengurangi total poin kita. Jadi, kita harus cermat dalam memiliki rute yang ingin diselesaikan.
Di awal permainan, masing-masing pemain akan mendapatkan dua kartu transportasi dan dua kartu rute, yang bisa dikembalikan salah satu jika merasa terlalu sulit untuk diselesaikan. Setelah itu, pemain harus memilih satu di antara tiga pilihan aksi yang bisa diambil, yakni:
- Mengambil dua kartu transportasi atau satu jika mengambil Wild Card (bergambar bus)
- Mengambil dua kartu rute dan minimal menyimpan satu
- Mengklaim rute di peta jika memiliki kartu transportasi yang disyaratkan
Permainan akan terus berjalan hingga salah satu pemain hanya menyisakan dua bus saja. Setelah itu, perhitungan skor pun akan dilakukan dan pemain dengan skor tertinggi akan menjadi pemenangnya.
Selain dua cara di atas (dari jumlah bus dan kartu rute yang selesai), pemain yang mampu menyambungkan semua titik dengan angka yang sama (ada 1-5) juga akan mendapatkan tambahan poin sesuai dengan angka yang berhasil disambungkan tersebut
Jika di versi aslinya, pemain dengan rute terpanjang tanpa terputus akan mendapatkan tambahan 10 poin. Sayangnya, dalam rulebook tidak dijelaskan apakah peraturan tersebut juga berlaku di sini.
Setelah Bermain Ticket to Ride: London

Jika dibandingkan dengan Monopoly yang cenderung mengandalkan luck dan sangat terasa senggol-senggolannya, Ticket to Ride: London lebih memerlukan strategi dan kecermatan, bahkan terasa terlalu “damai”.
Walau secara logika kita bisa memblokir rute lawan, pada kenyataannya itu sangat sulit dilakukan karena kita tidak tahu rute mana yang dibutuhkan lawan untuk menyelesaikan kartu rutenya.
Selain itu, jika kita hanya berfokus untuk menutup jalan lawan, kita juga akan menjadi kesulitan untuk mengumpulkan poin untuk diri kita sendiri. Penulis pernah mencobanya, dan hasilnya bisa dibilang failed.
Memang masih ada unsur luck di dalam board game ini, mengingat kita tidak akan pernah tahu kartu transportasi apa yang akan muncul di sebelah peta. Hanya saja, memang game ini terasa kurang menarik bagi yang suka dengan genre push-your-luck.
Penulis pribadi cukup senang dengan board game ini. Namun, karena tidak ada teman mainnya, Penulis jadi lebih sering bermain Ticket to Ride versi digital yang bisa dimainkan secara gratis di Board Game Arena.
Setelah membeli board game ini dan melihat kurangnya antusiasme dari teman-teman, Penulis sempat berpikir untuk tidak lagi membeli board game lagi. Buat apa punya board game, tapi tidak ada yang mau memainkannya?
Namun, ada satu board game yang terus terngiang-ngiang. Penulis mengenalnya dari Pandu, lantas memainkan versi digitalnya juga. Harganya cukup mahal waktu itu, Rp860 ribu, alasan lain yang membuat Penulis ragu.
Pada akhirnya, Penulis memutuskan untuk membuatnya dulu melalui peralatan seadanya, dan mencoba memainkannya bersama teman terlebih dahulu. Penulis mendesain sendiri, menggunting sendiri, dan memanfaatkan komponen dari board game lain.
Ternyata, mereka menyukainya, sehingga Penulis memutuskan untuk membelinya, menjadikannya board game ketiga Penulis, sekaligus menjadi board game favorit Penulis: Catan.
Selanjutnya -> Catan
Lawang, 2 Maret 2023, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri board game di blog ini
Permainan
Koleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
Ketika mengoleksi sesuatu, kita tidak hanya mengincar barang-barang baru yang menarik perhatian. Terkadang, kita berburu barang-barang lama yang melekat pada memori kita, entah untuk nostalgia ataupun memenuhi inner child yang belum terpenuhi.
Begitu pun dalam mengoleksi board game. Penulis memulai koleksi ini dari membeli Monopoly, yang sejak kecil Penulis mainkan. Setelah itu, Penulis lebih sering membeli board game–board game baru yang lebih modern.
Nah, salah satu board game jadul yang telah lama Penulis incar adalah Scrabble, karena ketika kecil Penulis beberapa kali memainkannya. Untungnya ketika mampir ke Toys Kingdom, board game ini sedang diskon!
Detail Board Game Scrabble/Scrabble Together
- Judul: Scrabble/Scrabble Together
- Desainer: Alfred Mosher Butts
- Publisher: Mattel, Inc.
- Tahun Rilis: 2024
- Jumlah Pemain: 2-4 pemain
- Waktu Bermain: –
- Rating BGG: 7,1
- Tingkat Kesulitan: 2,00/5
- Harga: Rp339.900
Cara Bermain Scrabble/Scrabble Together
Rasanya Penulis tidak perlu terlalu banyak menjelaskan bagaimana cara bermain Scrabble, karena sepertinya sudah banyak yang tahu. Intinya adalah kita mendapatkan beberapa balok huruf (masing-masing pemain tujuh huruf) untuk dijadikan kata di papan permainan.
Permainan akan dimulai dengan meletakkan kata pertama di tengah papan permainan. Setelah itu, pemain harus merangkai kata dengan menggunakan huruf-huruf yang sudah ada di papan dan ditambah dengan huruf yang kita miliki.
Huruf-huruf hanya bisa diletakkan secara vertikal atau horizontal, tidak boleh secara diagonal. Di papan, ada beberapa multiplier apabila ada pemain yang bisa meletakkan huruf di atasnya. Ada tambahan 50 poin apabila berhasil menggunakan semua tujuh huruf yang dimiliki.
Permainan akan berakhir apabila sudah tidak ada pemain yang bisa meletakkan huruf di papan permainan. Proses scoring pun dilakukan dengan menjumlahkan semua poin kata berdasarkan angka yang ada di hurufnya beserta multiplier di bawahnya jika ada.
Varian Scrabble Together
Untuk versi Scrabble Together, perbedaannya ada di Goal Card, di mana ada quest yang harus diselesaikan oleh pemain. Karena ada kata “Together”, maka di versi ini semua pemain harus bekerja sama untuk menyelesaikan semua quest yang ada (total tiap permainan ada 20 Goal).
Dalam satu waktu, akan ada tiga Goal Card yang terpampang di sebelah papan permainan. Ketika ada satu atau lebih Goal Card yang telah selesai, maka akan di-refill dengan kartu selanjutnya. Untuk pemula, ada 20 kartu yang “ramah pemula” dengan quest yang lebih manusiawi mudah.
Selain itu, sistem scoring dari varian klasik dihilangkan dari versi ini. Fokus semua pemain adalah menyelesaikan semua quest yang terdapat pada Goal Card. Karena terlihat sulit, ada enam kartu bantuan yang bisa digunakan satu kali oleh siapapun.
Keenam kartu bantuan tersebut adalah Menyelesaikan Sebuah Kartu Bantuan, Menukar Huruf, Huruf Bantuan, Menggunakan Huruf Kosong, Mengulang Kartu Target, dan Menukar Huruf. Permainan berakhir apabila Goal Card berhasil diselesaikan semua atau sudah tidak ada kata lagi yang bisa diletakkan di permainan.
Setelah Bermain Scrabble/Scrabble Together

Yah, apa yang bisa dikomentar dari sebuah board game klasik yang hampir diketahui oleh banyak orang? Scrabble/Scrabble Together bisa dianggap sebagai cara Penulis untuk bernostalgia karena pernah memainkannya sewaktu masih kecil.
Tentu saja sebagai board game bahasa Inggris, pengetahuan vocabulary kita sangat penting, terutama ketika dihadapkan dengan huruf-huruf yang terbatas di hadapan kita. Selalu ada ambisi untuk membuat kata sepanjang mungkin dan menghindari kata pendek yang mainstream.
Tidak ada unsur senggol-senggolan, yang ada hanya adu vocabulary dan strategi penempatan huruf di papan agar bisa mendapatkan multiplier yang menggandakan skor kita. Jangan kaget kalau otak kita sampai ngebul karena dipakai berpikir terlalu keras.
Sayangnya, Penulis belum pernah mencoba bermain versi Scrabble Together-nya. Penulis hanya pernah bermain versi klasiknya bersama teman-teman, sehingga tidak bisa berkomentar banyak. Mungkin nanti tulisan ini akan Penulis update jika sudah mencobanya.
Dari sisi komponen, bisa dibilang biasa saja. Papannya termasuk tipis jika dibandingkan dengan Monopoly ataupun Chinatown. Tempat untuk menaruh balok hurufnya juga lumayan tipis. Kualitas kartu-kartu untuk Scrabble Together pun tergolong tipis.
Untuk replaybility-nya sendiri ya oke-oke saja jika sedang ingin bermain board game bahasa Inggris. Namun, tentu jangan berharap board game ini akan mampu memecahkan suasana, karena ini bukan tipe party game (kecuali party-nya di perpustakaan).
Skor: 6/10
Setelah membeli board game ini, ada jeda yang cukup panjang hingga Penulis membeli board game selanjutnya. Itu pun karena Penulis sedang berjalan-jalan di Grand Indonesia dan menemukan dua board game untuk dua pemain. Salah satunya adalah Splendor Duel!
Lawang, 4 Desember 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
Werewolf bisa dibilang tetap menjadi salah satu board game favorit yang paling sering dimainkan, apalagi waktu dulu anak-anak Karang Taruna atau teman-teman kuliah masih sering kumpul.
Penulis lebih sering menjadi moderator daripada ikut bermain, karena bagi Penulis memang lebih enak menjadi orang yang “mengendalikan” permainan. Namun, apa jadinya jika kita bermain Werewolf tanpa moderator?
Itulah yang akan kita temukan dalam Deception: Murder in Hong Kong. Semua bisa ikut bermain dan kebagian peran masing-masing tanpa perlu ada moderator yang mengarahkan permainan. Kok bisa?

Detail Board Game Deception: Murder in Hong Kong
- Judul: Deception: Murder in Hong Kong
- Desainer: Tobey Ho
- Publisher: Jolly Thinkers
- Tahun Rilis: 2014
- Jumlah Pemain: 4-12 pemain
- Waktu Bermain: 20 menit
- Rating BGG: 7,4
- Tingkat Kesulitan: 1,58/5
- Harga: Rp700.000
Cara Bermain Deception: Murder in Hong Kong
Ada satu perbedaan besar antara Werewolf dan Deception: Murder in Hong Kong, yaitu tidak adanya pemain yang tewas di tengah jalan. Jadi, orang yang tewas di permainan ini bersifat fiktif, dan semua pemain berkesempatan untuk menangkap pelakunya.
Sama seperti Werewolf, hal pertama yang dilakukan dalam permainan ini adalah membagikan role untuk masing-masing pemain. Nantinya, pemain yang kebagian Forensic Scientist akan membuka identitas dirinya, karena selanjutnya ia akan menjadi kunci untuk menemukan siapa Murderer-nya.
Nah, akurasi petunjuk dari Forensic Scientist menjadi kunci permainan ini. Jika sampai tiga babak para Investigator gagal menemukan siapa Murderer-nya, maka Murderer akan memenangkan permainan.
Selain Forensic Scientist yang role-nya langsung terungkap di awal permainan, role yang dimiliki oleh board game ini ada:
- Murderer (x1): Tersangka utama yang harus ditemukan agar Investigator menang.
- Investigator (x8): Detektif yang harus bisa menemukan siapa Murderer di antara para pemain berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.
- Accomplice (x1): Rekan pembunuh Murderer, harus bisa membantu melindungi Murderer secara diam-diam tanpa ketahuan.
- Witness (x1): Saksi pembunuhan yang tahu siapa Murderer-nya, tapi harus hati-hati karena ia tidak boleh berhasil ditebak oleh Murderer. Jika Murderer siapa Witness, maka dia tetap menang.
Setelah masing-masing peman mendapatkan role-nya, maka mereka akan mendapatkan empat Clue Card (berwarna merah) dan Means Card (berwarna biru). Clue Card merupakan petunjuk yang tertinggal di TKP, sedangkan Means Card adalah cara membunuh korban.
Nah, Clue Card dan Means Card ini ada banyak sekali macamnya, mulai dari barang umum sampai absurd ada semua. Cara membunuhnya pun macam-macam, mulai dari yang sederhana sampai rumit kayak di Detective Conan ada semua..
Di awal permainan, Murderer akan memilih satu Clue Card dan satu Means Card, yang diketahui oleh Forensic Scientist. Berdasarkan kartu yang dipilih oleh Murderer, Forensic Scientist harus bisa memberikan petunjuk melalui Scene Tiles yang ada.
Setiap permainan, akan ada enam Scene Tiles yang akan membantu Investigator menebak siapa Murderer-nya. Scene Tiles ini macam-macam, mulai dari kondisi mayat, waktu pembunuhan, lokasi pembunuhan, dan masih banyak lagi lainnya.
Total akan ada tiga ronde sampai permainan berhasil. Di setiap awal ronde, pemain bisa mengganti satu Scene Tiles yang dianggap paling tidak membantu. Masing-masing pemain selain Forensic Scientist punya satu kali kesempatan menebak siapa Murderer.
Nah, ini yang agak sulit. Untuk bisa menangkap Murderer, pemain harus bisa menebak dengan tepat apa Clue Card dan Means Card yang dipilih. Kalau hanya benar satu, Murderer tidak akan bisa ditangkap.
Kurang lebih seperti itu jalannya permainan Deception: Murder in Hong Kong. Pemain bisa melakukan beberapa variasi agar lebih menantang, seperti menambah jumlah Clue Card dan Means Card untuk masing-masing pemain.
Selain itu, ada juga Event Tiles yang akan memberikan keuntungan tambahan bagi pemain. Event Tiles ini sifatnya opsional, sehingga tidak wajib digunakan. Komponen lainnya di board game ini ada:
- Badge Token (x11): Digunakan ketika pemain ingin menebak siapa Murderer beserta Clue Card dan Means Card-nya.
- Wooden Bullet Marker (x6): Digunakan oleh Forensic Scientist untuk menandai petunjuk di Scene Tiles.
Setelah Bermain Deception: Murder in Hong Kong

Sebagai orang yang menyukai Werewolf, tentu Deception: Murder in Hong Kong menjadi board game yang sangat menarik untuk dimainkan. Mengingat Penulis lebih sering moderator ketika bermain Werewolf, board game ini menjadi cara Penulis ikut bermain secara aktif.
Cara bermainnya yang sederhana juga membuat board game ini bisa dimainkan dengan siapa saja. Kita benar-benar dituntut untuk memiliki imajinasi ala detektif untuk bisa memecahkan petunjuk yang diberikan oleh Forensic Scientist.
Nah, Forensic Scientist adalah kunci permainan. Apabila ia pintar memberikan petunjuk, maka Murderer akan lebih mudah ditemukan. Kalau memberi petunjuknya ngaco, maka Murderer akan tertawa dalam hati karena merasa aman.
Banyaknya opsi Clue Card dan Means Card juga membuat replaybility permainan ini cukup tinggi. Tidak ada permainan yang benar-benar sama, apalagi role pemain juga akan terus berubah-ubah. Kalau tidak puas, bahkan masih ada kartu ekpansinya.
Mungkin kekurangan terbesar board game ini sama seperti Werewolf, yakni membutuhkan banyak pemain agar terasa lebih seru. akan memiliki banyak celah untuk mengamankan dirinya dengan menggiring opini pemain.
Apalagi, role Accomplice dan Witness baru bisa digunakan kalau jumlah pemain lebih dari lima. Jika yang bermain hanya empat-lima orang, maka permainan cenerung akan terasa hambar. Makin banyak pemain, maka adu bacotnya pun akan semakin chaos.
Untuk komponen board game-nya sendiri bisa dibilang biasa saja, tidak ada yang istimewa. Namun, perlu dicatat bahwa kotaknya sudah memiliki sekat-sekat sehingga kita bisa menyimpan semua komponennya dengan rapi.
Yang jelas, Deception: Murder in Hong Kong adalah sebuah board game yang sangat cocok untuk dimainkan ketika ada banyak orang. Sebagai board game yang membutuhkan adu bacot, Deception: Murder in Hong Kong jelas bisa menimbulkan kegaduhan!
Skor: 8/10
Setelah membeli Deception: Murder in Hong Kong, Penulis membeli sebuah board game klasik di Toys Kingdom karena sedang diskon. Board game yang pernah Penulis mainkan waktu kecil ini membuat kita mempertanyakan seberapa banyak sebenarnya vocabulary yang kita miliki?
Yups, board game selanjutnya yang akan Penulis bahas tidak lain tidak bukan adalah Scrabble!
Lawang, 14 September 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutnkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #29: Blokus Shuffle: UNO Edition
Saat ke Jakarta, Penulis menyempatkan diri untuk mampir ke apartemen Pandu. Alasannya jelas: ingin melihat koleksi board game-nya yang pasti sudah bertambah sejak terakhir kali bertemu.
Penulis pun mencoba bermain beberapa board game ketika di sana, salah satunya adalah Blokus Shuffle: UNO Edition. Board game ini cukup sederhana, tapi membutuhkan strategi untuk bisa memenangkannya.
Karena tertarik, Penulis pun membelinya sendiri sewaktu sedang berjalan-jalan di Kidz Station Pakuwon Mall di Surabaya. Apalagi, waktu itu sedang ada diskon, di mana harganya turun menjadi sekitar 200 ribuan saja!
Detail Board Game Blokus Shuffle: UNO Edition
- Judul: Blokus Shuffle: UNO Edition
- Desainer: Nick Hayes, Bernard Tavitian
- Publisher: Mattel, Inc.
- Tahun Rilis: 2021
- Jumlah Pemain: 2-4 pemain
- Waktu Bermain: 30-45 menit
- Rating BGG: 6,5
- Tingkat Kesulitan: –
- Harga: Rp350.000
Cara Bermain Blokus Shuffle: UNO Edition
Blokus Shuffle: UNO Edition merupakan variasi dari Blokus klasik, yang telah ada sejak tahun 2000. Sekilas, board game ini akan mengingatkan kita dengan Tetris, meskipun bentuk pattern dari balok-baloknya lebih rumit.
Di awal permainan, para pemain akan mendapatkan balok yang jumlah dan jenisnya identik, masing-masing 21 buah. Ada empat warna yang tersedia dalam permainan ini, yakni merah, biru, kuning, dan hijau.
Para pemain harus dengan pandai menempatkan balok-balok tersebut di papan permainan sebanyak mungkin, di mana ronde pertama masing-masing harus menempati sudut papan permainan.
Penempatan balok hanya memiliki syarat harus menempel ujung dari balok milik kita yang telah ada di papan permainan. Untuk jenis balok yang diletakkan terserah strategi pemain, yang penting ujung ketemu ujung dan tidak menabrak balok lawan.
Permainan akan berakhir jika tidak ada pemain yang bisa meletakkan baloknya lag idi papan permainan. Pemain dengan jumlah sisa kotak paling sedikit di balok-baloknya akan menjadi pemenang. Sudah, sesederhana itu.
Lantas, apa perbedaan Blokus ini dengan versi aslinya? Pada kartu-kartu yang memiliki efek khusus seperti permainan UNO yang telah kita kenal. Masing-masing pemain akan mendapatkan 14 kartu yang bisa digunakan di awal giliran mereka sebelum meletakkan balok.
Ada delapan jenis kartu action yang bisa digunakan pemain, yakni:
- SKIP: Membuat pemain berikutnya kehilangan giliran
- REVERSE: Memutar arah permainan
- DRAW 2: Menarik dua kartu dari deck, pilih satu dan kembalikan kartu satunya ke bagian bawah deck
- WILD: Membuat pemain bisa meletakkan baloknya ke balok milik lawan dengan menyebutkan warnanya
- EDGE TO EDGE: Membuat pemain tidak harus meletakkan baloknya ujung ke ujung alias bisa bersisian
- RECYCLE: Mengambil satu balok di permainan dan bisa menggantinya dengan balok lainnya
- WARP: Pindahkan balok lawan ke tempat lain selama masih memenuhi persyaratan Blokus
- DOUBLE PLAY: Memainkan dua balok sekaligus dalam satu permainan
Di awal permainan, kita akan langsung menarik dua kartu action. Setiap selesai meletakkan balok kita ke papan permainan, pemain akan menarik satu kartu lagi dari deck, sehingga kartu tangan akan selalu berisi dua kartu kecuali deck telah habis.
Setelah Bermain Blokus Shuffle: UNO Edition

Blokus Shuffle: UNO Edition (Board Game Geek)
Dari awal, Penulis memang telah menyadari kalau board game ini memang untuk keluarga karena relatif mudah untuk dijelaskan. Paling yang ribet adalah menjelaskan efek-efek kartunya. Kalau merasa kesulitan untuk itu, setidaknya kita bisa bermain Blokus versi aslinya.
Seperti yang sudah Penulis singgung di awal, board game ini membutuhkan kedalaman strategi terlepas dari kesederhanaan yang dimiliki. Kita tidak bisa menempatkan secara asal karena bisa membuat kita kesulitan untuk menempatkan balok selanjutnya.
Untuk senggol-senggolan, board game ini lumayan karena kita bisa mengacaukan strategi lawan dengan menempatkan balok kita menghalangi balok mereka. Namun, sekali lagi, strategi penempatan balok menjadi kunci untuk bisa memenangkan permainan ini.
Adanya kartu action menurut Penulis bisa meningkatkan dinamika permainan karena pemain jadi memiliki kesempatan untuk bisa membalikkan keadaan. Ini tidak bisa dilakukan di Blokus versi orisinal, karena balok yang telah ditempatkan tidak bisa diutak-atik lagi.
Idealnya permainan ini harus dimainkan oleh empat orang. Memang ada variasi untuk dua atau tiga orang, tapi sayangnya cukup membingungkan karena keempat warna harus tetap dimainkan.
Selain itu, ya bisa dibilang board game ini tentu saja terasa monoton. Memainkan board game ini beberapa kali akan menimbulkan rasa bosan. Blokus jelas bukan tipe board game yang memiliki tingkat replaybility tinggi.
Mengingat harganya yang diskon ketika membelinya, Penulis tidak banyak protes ke board game ini. Hanya saja, Penulis hanya mengeluarkan board game ini jika jumlah pemainnya exact empat orang.
Skor: 6/10
Setelah membeli Blokus Shuffle: UNO Edition, cukup lama Penulis akhirnya membeli board game lagi karena merasa koleksinya sudah cukup. Ternyata, Penulis masih belum merasa cukup. Bahkan ketika tulisan ini terbit, sudah ada lima board game baru.
Ada satu board game yang membuat Penulis ingin menambah koleksinya karena unsur deduksi yang dimilikinya. Mirip dengan Werewolf, tapi tidak ada yang mati. Board game tersebut adalah Deception.
Lawang, 13 April 2025, terinspirasi setelah ingin melanjutnkan seri board game ini
-
Fiksi9 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Sang Alkemis
-
Permainan9 bulan agoKoleksi Board Game #29: Blokus Shuffle: UNO Edition
-
Olahraga11 bulan agoSaya Memutuskan Puasa Nonton MU di Bulan Puasa
-
Olahraga10 bulan agoTergelincirnya Para Rookie F1 di Balapan Debut Mereka
-
Politik & Negara11 bulan agoMau Sampai Kapan Kita Dibuat Pusing oleh Negara?
-
Musik7 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Pengalaman11 bulan agoIni adalah Tulisan Pertama Whathefan di 2025
-
Politik & Negara7 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat



You must be logged in to post a comment Login