Pengalaman Naik Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Dalam rangka mengikuti tes Asian Games, maka penulis merantau lagi ke Jakarta. Seperti biasa, penulis akan menginap di rumah tante yang terletak di Jelambar, Grogol Petamburan.

Tahun lalu, penulis menggunakan bus Damri jurusan Gambir, lalu turun di Menara Penisula. Setelah itu, penulis memesan taksi online untuk menuju Jelambar.

Tiket busnya sendiri tetap 40.000, walaupun tidak sampai di terminal akhir. Belum termasuk ongkos taksi onlinenya. Oleh karena itu, penulis ingin mencoba fasilitas kereta bandara yang terhitung baru.

Begitu tiba di bandara dan mengisi perut yang belum terisi, penulis bertanya kepada petugas di mana stasiun bandaranya. Ternyata, untuk menuju stasiun kita harus naik Kalayang alias Skytrain. Ini merupakan kereta layang yang memfasilitasi penumpang yang hendak ke stasiun bandara maupun bepindah ke Terminal 2 dan 3.

Awalnya penulis kira untuk naik Kalayang itu kita perlu membeli tiket. Ternyata tidak, fasilitas tersebut GRATIS. Ditambah lagi, kita bisa merasakan naik kereta layang sembari menikmati pemandangan di sekitar bandara.

Kalayang (https://www.kompasiana.com/irwanrinaldi/5a2e5baaf133446ba74290c3/menjajal-kalayang-di-bandara-soekarno-hatta)

Pembelian tiket menggunakan mesin otomatis, kurang lebih mirip dengan vending machine-nya KRL. Bedanya, kita bisa membayar menggunakan kartu debit.

Untuk saat ini, baru terdapat dua stasiun pemberhentian, yakni stasiun Batu Ceper dan Sudirman Baru. Penulis membeli tiket kereta menuju Sudirman Baru, harganya Rp. 70.000. Cukup mahal, tapi tak apalah untuk pengalaman baru.

Begitu masuk, penulis merasa masuk ke dalam gerbong kereta kelas bisnis, karena posisi duduknya yang tidak berhadapan. Maklum, selama ini penulis hanya pernah merasakan kelas ekonomi jika berpergian menggunakan kereta api.

Ternyata memang enak naik kereta macam ini, apalagi kondisinya sepi, belum ramai penumpang. Mungkin karena fasilitas baru, sehingga belum banyak orang yang memanfaatkannya.

Serasa Kelas Bisnis (https://venuemagz.com/news/menhub-budi-karya-sumadi-uji-kereta-bandara/)

Ketika kereta sampai di stasiun Batu Ceper, penulis baru menyadari satu kebodohan yang sangat fatal. Bahkan hingga sekarang, penulis merasa kesal dengan diri sendiri, kenapa bisa melakukan kesalahan seperti itu.

Perlu diketahui, rumah tante penulis terletak di dekat stasiun Grogol. Seharusnya, penulis berhenti di stasiun Batu Ceper saja karena tidak perlu transit. Selain itu, biayanya pasti lebih murah karena jaraknya yang lebih pendek.

Jika berhenti di stasiun Sudirman Baru, penulis masih harus jalan kaki ke stasiun Sudirman yang lama. Setelah melewati stasiun Karet dan Tanah Abang, penulis harus transit di stasiun Duri untuk naik kereta jurusan Tangerang. Nanti, barulah turun di stasiun Grogol, lalu pesan ojek online untuk menuju rumah tante penulis.

Untuk memudahkan pembaca agar dapat membayangkan apa yang penulis alami, bisa dilihat di peta KRL berikut:

Rute KRL (https://jakartabytrain.com/the-maps/commuter-line-route-map/)

Semua kejadian selalu memiliki hikmah yang tersimpan. Setidaknya, penulis jadi sadar bahwa kita harus teliti sebelum membeli sesuatu, termasuk tiket perjalanan. Kita harus cermat dalam melihat situasi yang dihadapi, dan jangan biarkan lengah membuat kita melakukan kesalahan yang tidak perlu.

 

 

Jelambar, 13 Mei 2018, terinspirasi setelah mencoba kereta bandara

Sumber Foto: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3187191/diresmikan-11-desember-berapa-harga-tiket-kereta-bandara-soetta

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.