Sosial Budaya
Dunia Gelap di 2023, Kita Harus Apa?
Pada akhir bulan September kemarin, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat pernyataan yang cukup membuat masyarakat merasa was-was. Bagaimana tidak, di saat situasi tahun ini belum kunjung membaik, beliau mengatakan kalau tahun depan prospek perekonomian secara global akan semakin gelap.
“Dunia sekarang ini dalam posisi yang tidak gampang, posisinya betul-betul pada posisi yang semua negara sulit. Lembaga internasional sampaikan tahun ini, tahun 2022 sangat sulit. Tahun depan (2023) mereka menyampaikan akan lebih gelap,” kata Jokowi dalam acara BUMN Startup Day minggu lalu (27/9/22).
Kata “gelap” yang digunakan Jokowi tersebut digunakan untuk merujuk ke kondisi perekonomian yang berada dalam posisi yang tidak baik-baik saja, bahkan diramalkan akan memburuk. Banyak lembaga internasional yang sudah menyampaikan “dalam posisi yang tidak baik”.
Jokowi menambahkan kalau krisis perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung reda juga menyebabkan krisis pangan dunia benar-benar terjadi. Menurutnya, ada ratusan juta orang yang mengalami masalah kelaparan di seluruh dunia.
“330 juta orang kelaparan dan mungkin 6 bulan lagi bisa 800 juta orang akan kelaparan dan kekurangan makan akut karena tidak ada yang dimakan,” kata Jokowi.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva juga memberikan pernyataan yang senada dengan Jokowi. Ia menyebutkan kalau 2023 akan “gelap gulita” karena adanya risiko resesi dan ketidakstabilan pasar keuangan. Penyebabnya tentu saja karena pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, serta bencana iklim di semua benua.
Bahkan, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, China, serta negara di Eropa juga mengalami perlambatan ekonomi. Rusia yang mengalami embargo (larangan lalu lintas barang antarnegara) dari berbagai negara membuat banyak negara, terutama di Eropa, mengalami krisis energi di penghujung tahun.
Di Inggris, harga gas dan listrik melonjak gila-gilaan. Krisis yang terjadi di sana diprediksi bisa separah krisis ekonomi di tahun 2008. Regulator energi di Jerman mendesak konsumennya untuk segera menghemat lebih banyak gas menjelang musim dingin ini.
Sebenarnya, apa yang saja yang menyebabkan dunia berada di posisi sulit seperti sekarang?
Mengapa 2023 Dunia akan Semakin Gelap?

Ned Davis Research dari Amerika Serikat menyatakan bahwa Model Probablitas Resesi saat ini berada di angka 98.1%. Ini angka yang sangat tinggi semenjak masa-masa awal pandemi Covid-10 dan Great Financial Crisis 2008-2009.
Sejak awal pandemi, kata “resesi” memang sangat sering terdengar. Tersendatnya roda perekonomian di awal masa pandemi Covid-19 jelas memengaruhi banyak sektor, bahkan hingga sekarang.
Bahkan, Amerika Serikat mencetak uang sangat banyak untuk rakyatnya demi membuat roda perekonomiannya tetap berputar. Bayangkan, mereka mencetak sekitar 3,3 triliun dolar! Dengan banyaknya uang yang beredar, inflasi pun menjadi ancaman nyata untuk Amerika Serikat.
Akibatnya, pemerintah Amerika Serikat pun memutuskan untuk menaikkan suku bunga untuk menarik orang menyimpan uangnya di bank. Masalahnya, hal ini menyebabkan banyak investor yang lebih memilih uangnya untuk disimpan di bank saja karena lebih aman dan bunganya tinggi.
Nah, startup yang termasuk investasi dengan risiko tinggi pun seolah kehilangan daya tariknya dan ditinggal oleh para investor. Alhasil, banyak startup yang melakukan PHK. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa yang terkena imbasnya seperti Shopee Indonesia dan Zenius.
Hal ini diperparah dengan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan krisis energi dan pangan. Bukti mudahnya seperti yang sudah terlihat di Inggris, bagaimana biaya hidup dan sewa rumah di sana melonjak tinggi sehingga banyak orang yang menjadi homeless.
Housing Bubble akan Pecah di 2023?

Salah satu hal yang paling ditakutkan di tahun 2023 adalah pecahnya housing bubble atau real estate bubble yang dampaknya tidak main-main. Penulis akan coba jelaskan secara sederhana mengenai fenomena tersebut.
Istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan fenomena ketika harga rumah/properti melonjak karena tingginya permintaan dari masyarakat. Permintaan banyak, pasokan pun menjadi berkurang. Maka developer properti pun akan segera menambah pasokannya.
Masalahnya, pada titik tertentu permintaan pasar akan menurun yang akan berakibat pada anjloknya harga properti. Gelembungnya pecah, industri properti pun babak belur. Contoh yang bisa kita lihat terjadi pada perusahaan properti Evergrande di China, yang meninggalkan banyak bangunan hantu di sana karena kena imbas dari hal ini.
Saat pemerintah AS memberikan uang untuk rakyatnya di masa pandemi, banyak yang menginvestasikannya ke properti. Ini membuat harga properti di sana menjadi naik karena tingginya permintaan.
Nah, rumah itu kan nyicilnya lama, bisa puluhan tahun. Jika resesi semakin parah, kemungkinan akan banyak orang kehilangan pekerjaan, yang membuatnya kehilangan pendapatan. Artinya, mereka tidak akan mampu melunasi kredit rumahnya. Ini bisa membuat harga properti terjun bebas.
Sampai saat ini, belum ada kasus housing bubble di Amerika Serikat yang separah kasus Evergrande di China. Di Indonesia pun belum terdengar banyak beritanya. Namun, kita perlu tetap merasa waspada dan melakukan antisipasi agar tidak terkena dampaknya terlalu berat.
Dunia Makin Gelap, Kita Harus Apa?

Mungkin banyak masyarakat yang beranggapan kalau pernyataan Presiden Jokowi dan pemberitaan di media massa hanya untuk menakut-nakuti. Padahal, jika mau lapang dada dan menerima informasi ini dengan kepala dingin, kita bisa melakukan antisipasi dan bersiap diri jika sampai hal-hal buruk sampai terjadi.
Banyak yang menyebutkan kalau dalam masa-masa sulit seperti ini, cash is king. Bukan dalam artian kita harus punya uang tunai sebanyak mungkin, tapi kita menaruh uang di aset-aset investasi yang relatif aman dan mudah dicairkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dengan adanya peringatan dini ini, kita jadi bisa lebih bijak dalam mengeluarkan uang. Pengeluaran yang bersifat sekunder bahkan tersier bisa ditunda dulu, kita alihkan untuk menabung terlebih dahulu. Jadi jika dalam kondisi sulit, kita masih punya pegangan hidup.
Mungkin Pembaca pernah tahu kalau dalam kondisi krisis, orang kaya justru makin kaya. Kenapa? Karena mereka bisa membeli aset-aset investasi yang harganya sedang jatuh seperti saham. Istilahnya, mereka akan “menyerok” di kala orang lain melepas saham mereka karena butuh cash.

Nah, nanti uang cash yang kita simpan bisa digunakan beberapa untuk membeli aset-aset investasi yang harganya sedang turun. Ini tentu butuh banyak belajar secara mendalam, bukan hanya sekadar ikut kata orang. Jadi, kita harus berhati-hati jika ingin melakukan hal ini.
Selain itu, sebisa mungkin hindari hutang baik ke bank maupun pinjaman online (pinjol). Kalau tidak benar-benar mendesak, benar-benar tahan diri. Ini sebagai antisipasi jika bunga hutang juga ikut naik mengikuti kenaikan suku bunga.
Jika penghasilan bulanan kita dirasa kurang dan ada waktu luang, tidak ada salahnya untuk memiliki tambahan pendapatan dengan mencari kerja sampingan. Untuk itu, selalu belajar hal dan skill baru mutlak dibutuhkan untuk menghadapi era yang serba tidak pasti seperti sekarang ini.
Penulis paham tidak semua orang memiliki privilege untuk melakukan semua hal di atas. Boro-boro untuk nabung, untuk makan besok aja belum tentu ada. Untuk itu, Penulis berdoa agar kita selalu dilindungi oleh Tuhan diberi kecukupan untuk bisa menghadapi masalah-masalah yang ada di depan mata ini.
Penutup
Dari lubuk hati yang paling dalam, tentu Penulis berharap bahwa tahun 2023 dunia tidak akan benar-benar gelap dan kita bisa melewatinya dengan baik. Semoga saja prediksi-prediksi di atas salah dan tidak terjadi.
Namun, tidak ada salahnya juga untuk prepare for the worst untuk berjaga-jaga. Toh, seandainya yang dikhawatirkan tidak terjadi, dana yang sudah kita siapkan pun nantinya bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Setidaknya, kita bisa menjadi lebih hemat dalam beberapa bulan ke depan.
Mungkin dampaknya ke Indonesia hingga saat ini belum terlalu terasa. Harga BBM dan beberapa hal lain memang naik, tapi setidaknya krisis yang kita alami tidak seperti negara-negara lain yang terlihat lebih gila lagi.
Sekali lagi, semoga saja dengan adanya peringatan ini, kita bisa jadi lebih siap jika hal-hal buruk benar-benar terjadi.
Lawang, 8 Oktober 2022, terinspirasi setelah membaca dan menonton beberapa informasi mengenai prediksi 2023 yang tampaknya akan gelap
Foto: Pinterest
Sumber Artikel:
- Gejalanya Mulai Terihat! Jokowi: Dunia Gelap 2023 Itu Nyata! (cnbcindonesia.com)
- Jokowi Ingatkan Ekonomi Dunia Semakin Gelap, Apa Maksudnya? (kontan.co.id)
- Bos IMF Beri Peringatan: Ekonomi Global 2023 akan Gelap Gulita! (bisnis.com)
- Gelapnya Dunia, Orang Kelaparan Kini Ada di Mana-mana (cnbcindonesia.com)
- Krisis Inggris Makin ‘Mencekik’, Ini Skenario Terburuknya! (cnbcindonesia.com)
- Alert! Seluruh Dunia Sudah Dilanda Krisis, Ini Daftarnya (cnbcindonesia.com)
- Evergrande dan Housing Bubble (beritasatu.com)
- With 7% Mortgage Rates, It’s Game Over For The Housing Bubble (BATS:ITB) | Seeking Alpha
- 2023: Menuju KEHANCURAN DUNIA – YouTube
- Makin Banyak! Ini Daftar Perusahaan yang PHK Karyawan 2022 (cnbcindonesia.com)
- Miris! Gelandangan di Inggris Makin Bertebaran Gegara Krisis (detik.com)
- Finfolk | Media Finance on Instagram
- Ikuti The Fed, BI Naikkan Suku Bunga BI-7 Day pada September 2022 (katadata.co.id)
Sosial Budaya
Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)
Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.
Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.
Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.
Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.
Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.
Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.
Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.
Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.
Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.
Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.
Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.
Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.
Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,
Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”
Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.
Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”
Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?
Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.
Padahal ya Belum Tentu Benar

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.
Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.
Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.
Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.
Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).
Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?
Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?
Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?
Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?
Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.
***
Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.
Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.
Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.
Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo
Sosial Budaya
Ketika Kebenaran Relatif Dianggap Sebagai Kebenaran Absolut
Sebagai orang yang bekerja secara remote, salah satu keistimewaan yang Penulis rasakan adalah bisa bekerja di mana saja. Nah, kalau sedang bosan bekerja dari rumah, biasanya Penulis memilih untuk bekerja di kafe, entah itu sendirian ataupun bersama teman.
Nah, salah satu teman Penulis yang sering work from cafe (WFC) bersama adalah Dio, teman sejak semester satu kuliah yang sekarang menjadi dosen Binus Malang. Kami berdua sering bertukar pikiran di sela-sela menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
Belum lama ini, kami berdua WFC di salah satu kafe Malang yang sudah menjadi langganan. Pada saat itu, Dio share bahwa dirinya baru menonton video dari Rumah Editor di YouTube tentang seorang matematikawan bernama Kurt Gödel.
Gödel terkenal karena berusaha membuktikan keberadaan Tuhan dengan menggunakan logika dan matematika. Namun, bukan pembahasan mengenai keberadaan Tuhan yang akan menjadi inti tulisan kali ini.
Yang ingin Penulis bahas adalah topik lain tentang Necessary Truth vs. Contingent Truth, yang juga dibahas dalam video tersebut. Jika penasaran, pembaca bisa menonton video selengkapnya melalui tautan berikut ini.
Kebenaran Absolut vs Kebenaran Relatif

Secara sederhana (oversimplified), Necessary Truth adalah kebenaran yang bersifat mutlak dan tidak mungkin salah. Contoh mudahnya adalah perhitungan 1 + 1 pasti 2, mau di multiverse mana pun pasti jawabannya 2.
Contoh lain, semua segitiga pasti memiliki tiga sisi. Tidak mungkin sebuah segitiga memiliki empat sisi, karena namanya akan berubah menjadi segiempat. Nah, keberadaan Tuhan menurut Gödel juga termasuk Neccesarry Truth.
Di sisi lain, Contingent Truth adalah kebenaran yang bisa saja berubah. Contoh, untuk saat ini ibu kota Indonesia masih Jakarta. Akan tetapi, bisa saja tahun 2029 nanti akan diresmikan kalau ibu kota Indonesia adalah IKN. Siapa yang tahu, kan?
Contoh lain, kita menganggap kalau tokoh A adalah orang jahat karena kita mengetahui rekam jejaknya di masa llau. Namun, bisa saja besok dia tobat dan benar-benar berubah menjadi lebih baik.
Nah, di tulisan ini, Penulis akan menerjemahkan secara bebas Necessary Truth menjadi Kebenaran Absolut dan Contingent Truth menjadi Kebenaran Relatif untuk memudahkan penulisan. Penulis hanya meminjam istilah di atas untuk membahas topik yang kemarin Penulis singgung: polarisasi.
Alasan Mengapa Kita Mudah Diadu Domba

They’ll conquer us if we divide
Mereka akan menaklukkan kita kalau kita terpecah belah
Delusion:All by ONE OKE ROCK
Ketika kita masih di bangku sekolah, tentu kita familier dengan istilah devide at impera atau yang sering disebut juga sebagai politik adu domba. Intinya adalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa dibuat justru saling memusuhi satu sama lain, bukannya bersatu.
Seperti penggalan lirik lagu “Delusion:All” dari ONE OK ROCK di atas, ketika kita terpecah belah, maka “mereka” akan dengan mudah menakhlukkan kita. Musuh tahu, kita akan sulit untuk dikalahkan apabila bersatu.
Meskipun kita sudah merdeka selama 80 tahun, rasanya strategi politik zaman kolonial ini masih terasa hingga sekarang. Bukan oleh bangsa Belanda maupun bangsa lain, tapi oleh bangsa kita sendiri dan membuat kita terpolarisasi dengan mudahnya.
Contoh yang masih hangat tentu saja polemik Brave Pink Green Hero yang diributkan oleh netizen. Bukannya mempersatukan, simbol tersebut justru semakin memperparah polarisasi masyarakat yang semakin parah selama 10 tahun terakhir ini.
Nah, menurut Penuis, salah satu alasan mengapa kita begitu mudah terpolarisasi yang berujung mudah diadu domba adalah karena kita menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut.

Contohnya begini. Anggaplah Pihak A menganggap kinerja Presiden Prabowo Subianto sangat buruk dan banyak catatan negatif tentangnya. Ditambah dengan algoritma media sosial yang cenderung hanya menampilkan apa yang kita suka, kita semakin menganggap hal tersebut sebagai Kebenaran Absolut.
Karena menganggap apa yang ia yakini sebagai Kebenaran Absolut, maka ia tidak peduli jika ada data yang membantah kalau kinerja Prabowo 100% buruk. Mau ada data penangkapan para koruptor, mau ada data terbongkarnya kasus oplosan, Prabowo tetap jelek.
Sebaliknya juga begitu, ada Pihak B yang menganggap kalau presiden pilihannya 100% baik, tidak mungkin salah. Mau dikasih bukti beberapa hal buruk tentangnya pun, Prabowo tetap yang terbaik, titik.
Mau Prabowo memilih wakil presiden yang mengacak-acak konstitusi, mau Prabowo mengeluarkan pernyataan yang tone deaf, mau Prabowo mengeluarkan kebijakan yang dirasa banyak ahli kurang tepat, Prabowo tetap baik. Keyakinannya telah berubah menjadi Kebenaran Absolut.
Padahal, Prabowo itu baik maupun Prabowo itu buruk sama-sama merupakan Kebenaran Relatif. Prabowo bisa baik dan buruk secara bersamaan, mong namanya juga manusia, bukan nabi. Kebenaran tentang Prabowo bisa berubah, tergantung konteksnya.
Namun, kebencian dan fanatisme berlebih memang bisa membutakan manusia. Kalau sudah benci, benci sekali. Kalau sudah suka, suka sekali. Alhasil, kita pun jadi mudah terpolarisasi dan sering berdebat tak penting di media sosial tanpa ada yang mau merasa kalah.
***
Kalau kita sudah bersikeras menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut, ya susah. Semua yang bertentangan dengan apa yang kita yakini sebagai kebenaran dianggap salah. Alhasil, diskusi yang sehat pun mustahil tercipta karena kita jadi menutup persepsi lain.
Manusia memang cenderung hanya ingin melihat apa yang ingin dilihat, mendengar apa yang ingin didengar. Jika terus begini, maka kita akan terus mudah terpolarisasi dan diadu domba. Pertanyaannya, mau sampai kapan seperti ini?
Lawang, 10 September 2025, terinspirasi setelah teringat dengan pembicaraan bersama seorang teman tentang teori yang dikemukakan oleh Kurt Gödel
Sumber Featured Image: Andrea Piacquadio
Sosial Budaya
Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi
Salah satu “buah” yang dihasilkan dari panasnya akhir bulan Agustus hingga awal September adalah munculnya gerakan 17+8, yang intinya adalah tuntutan-tuntutan untuk Presiden, DPR, Kepolisian, dan pihak-pihak lainnya.
Sebanyak 17 tuntutan diberi deadline hingga tanggal 5 September kemarin, yang tentu saja pada akhirnya mayoritas yang belum dipenuhi. 8 sisanya diberi deadline satu tahun atau “dikumpulkan” pada bulan September 2026.
Gerakan tersebut diprakarsai oleh banyak tokoh anak muda seperti Jerome Polin, Andovi da Lopez, Fathia Izzati, Andhyta ‘Afu’ Utami, Salsa Erwina, dan Abigail Limuria. Isi tuntutannya pun macam-macam, yang intinya merangkum apa yang selama ini menjadi keresahan masyrakat.

Bersamaan dengan adanya tuntutan tersebut, muncul gerakan Brave Pink Green Hero sebagai bentuk dukungan dan solidaritas atas tuntutan tersebut. Banyak netizen berlomba-lomba untuk ikut mengubah foto profilnya menjadi duo-tone kombinasi kedua warna tersebut, termasuk Penulis.
Munculnya Gerakan Brave Pink Green Hero

Brave Pink dipilih karena keberanian yang ditunjukkan oleh Ibu Ana, yang sempat terpotret berani menghadapi barisan kepolisian sendirian hanya dengan membawa bendera. Sementara itu, Green Hero dipilih untuk mengenang almarhum Affan Kurniawan.
Masalahnya, pemilihan warna tersebut ternyata justru diributkan oleh netizen. Pasalnya, beredar video Ibu Ana yang berteriak secara kasar “Prabowo Anjing, Prabowo Turun, Ganti Anies,” yang diteriakkan di tengah-tengah aksi.
Gara-gara hal tersebut, banyak yang menolak untuk ikut mengganti foto profilnya. Ada yang karena tidak ingin orang bermulut kasar menjadi simbol, ada yang menilai pemilihan warna tersebut bersifat politis, dan lain sebagainya.
Yang membela Ibu Ana pun tak sedikit. Ada yang bilang pemilihan warna pink tersebut karena keberanian yang ditunjukkan Ibu Ana, bukan mewakili pendapat pribadinya. Ada yang bilang pemilihan warna tersebut melambangkan woman empowerment secara keseluruhan.
Penulis menemukan analogi yang menarik di X, di mana ada yang mengomparasi Brave Pink ini dengan slogan “Just Do It” dari Nike dan V Sign sebagai tanda damai. Inspirasi dari keduanya juga berasal dari hal yang tidak 100% baik, bahkan cenderung kontroversi.
Selain itu, ada yang membuat analisis kalau video yang beredar tersebut sebenarnya buatan AI. Banyak kejanggalan yang ditemukan pada foto tersebut, yang sering menjadi ciri video buatan AI. Penulis tidak akan mendebat hal tersebut, karena tidak punya kapabilitas juga untuk menilai.
Terlepas dari pro kontra pemilihan Brave Pink Green Hero ini, Penulis justru merasa ini menjadi bukti lain betapa kita mudah terpolarisasi, yang ujungnya membuat kita mudah diadu domba dan melupakan hal yang substansial.
Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi dan Melupakan Hal yang Substansi?

Secara umum, orang mengganti foto profilnya dengan duo-tone tersebut adalah bentuk dukungan dan solidaritas terhadap gerakan 17+8, yang bisa dianggap sebagai aksi nyata dari kita sebagai masyarakat kepada para pemangku kekuasaan yang mengatur negara ini.
Akan tetapi, sebenarnya yang mendukung 17+8 tapi menolak mengganti foto profil juga ada. Yang cuma FOMO ikut mengganti foto padahal tidak mendukung 17+8 juga ada. Yang tidak mendukung 17+8 dan tidak FOMO pun juga ada.
Menariknya, Anies Baswedan yang namanya terseret karena disebut Ibu Ana pun tidak ikut-ikutan mengganti foto profilnya. Mantan capres lainnya, Ganjar Pranowo, juga mengambil langkah yang sama. Tampaknya mereka tidak ingin disangkutpautkan dengan isu ini.
Sebenarnya silakan saja mau memilih yang mana, toh itu hak masing-masing individu. Yang membuat Penulis geram adalah ketika ada pihak yang merasa lebih baik dari pihak lain karena pilihannya. Mereka menyalahkan pihak yang berseberangan dengan berbagai alasan.
Kalau memang tidak srek dengan pemilihan Brave Pink karena sosok Ibu Ana, ya enggak perlu ikut ganti foto profil. Masalahnya, ada saja pihak-pihak ini yang menggiring opini kalau orang-orang yang mengganti foto profilnya adalah A B C D blablabla.
Yang memilih untuk mengganti foto profil juga begitu. Jangan mentang-mentang ganti foto profil, terus jadi merasa yang paling nasionalis dan menghakimi yang tidak melakukannya. Jangan-jangan yang ganti foto profil tidak pernah ikut aksi secara langsung, cuma koar-koar di media sosial (seperti Penulis misalnya).
Salah satu alasan utama mengapa kita begitu mudah terpolarisasi adalah karena terkadang kita menganggap Kebenaran Relatif sebagai Kebenaran Absolut. Penulis akan menjabarkan hal ini lebih detail di tulisan besok.
Lebih parahnya lagi, polarisasi yang terjadi ini justru membuat kita melupakan substansinya, yakni tuntutan masyarakat kepada pemerintah. Harusnya kita sebagai sesama rakyat harus bekerja sama untuk memantau agar tuntutan yang telah diajukan telah terlaksana.
Terserah mau pakai warna pink, hijau, biru, cokelat, merah, nggak pakai warna karena buta warna, bebas. Yang penting, di momen-momen penting seperti saat ini kita harus saling jaga agar suara kita didengar oleh mereka.
***
Jujur, Penulis geram karena ada saja yang meributkan Brave Pink Green Hero ini. Kenapa justru menyorot Ibu Ana-nya, bukan inti dari gerakannya. Ibarat meributkan klub sepak bola bukan karena performa atau permainannya, tapi dari logo klubnya.
Selain itu, Penulis juga merasa heran karena ketika pemimpin negara yang berkata kasar, hal tersebut justru berusaha dinormalisasi. Ketika pemimpin negara mengacak-acak konstitusi agar bisa ikut pemilu, eh malah dipilih. Double standard-nya kok agak kebangetan.
Terlepas dari itu semua, Penulis berharap kejadian yang berlangsung sejak akhir Agustus bisa menjadi momentum kita sebagai bangsa menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kita lihat saja tahun depan, apakah tuntutan yang ada di dalam 17+8 ada yang berhasil dikerjakan atau tidak.
Lawang, 9 September 2025, terinspirasi dari netizen yang meributkan masalah brave pink hero green
Foto Featured Image: Tribun
-
Musik10 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara10 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman11 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
-
Sosial Budaya10 bulan agoBeda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu
-
Sosial Budaya11 bulan agoBelajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?
-
Permainan7 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara7 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…



You must be logged in to post a comment Login